Part 6
“Tangan lancangmu harus membayarnya!” ancam Beruang Betina Kutub Utara, nyaris terdengar seperti geraman seekor beruang betina.
“Maaf, aku tak punya persediaan tangan lain. Hanya ini yang aku punya,” ledek Kuntum Mawar seraya mengangkat sepasang tangannya.
“Kutung tanganmu!” Sekarang, giliran Beruang Betina Kutub Utara memulai serangan.
Pertarungan dua wanita yang memiliki pesona wajah menarik itu pun tak bisa dihindari lagi.
***
Pada saat yang sama, Anggraini tiba pula di sekitar dermaga. Dari kejauhan, dara berpakaian merah-merah itu sudah bisa menduga ada pertarungan seru berlangsung. Telinganya bisa menangkap angin pukulan yang berderu kencang sampai ke lempatnya. Demikian pula teriakan-teriakan penuh gejolak nafsu membunuh dari kedua wanita yang terlihat pertarungan.
Anggraini mempercepat langkahnya. Tak begitu lama kemudian. matanya sudah bisa menyaksikan medan laga di sisi dermaga timur. Bibirnya mengembangkan senyum tipis melihat salah seorang wanita yang sedang bertarung. Si wanita berkebaya beberapa waktu lalu, sempat dipermainkan Anggraini karena sikap pongahnya. Kalau sekarang dia sudah mendapat musuh kembali, Anggraini tidak begitu heran.
“Dasar perempuan usil,“bisik Anggraini mencela wanita berkebaya.
Medan laga rupanya tak begitu menguras perhatian Anggraini. Karena, ada hal lain yang membuatnya lebih tertarik. Yakni seorang pemuda perkasa bersorban dan beraut wajah tampan, namun asing.
“Itukah pangeran yang dimaksud orang tua yang kutemui?” tanya Anggraini, membatin.
Tak bisa dibayangkan, kalau dirinya yang sedang dicari sang pangeran untuk dijadikan istri. Mungkin itu bukan lagi sekadar kejutan, namun lebih dari itu. Apa iya, ya? Anggraini berbisik tak yakin. Seorang anak raja dari negeri di seberang lautan, tampan, perkasa, dan dari sinar matanya tampak memiliki kelembutan, mencari wanita bertanda tubuh berbentuk kembang Wijayakusuma di punggung kanannya?”
Ketika dua bola mata lentik menawan milik Anggraini memperhatikan lekat-lekat Pangeran Husein, mendadak saja membersit sinar amat menyilaukan dari dalam tanah, tepat di tempat pangeran itu berdiri.
Slas!
Sinar itu bagai bunga raksasa aneh yang memancar ke segenap penjuru, merangsek kegelapan malam. Begitu menyilaukannya sinar itu, sampai-sampai tubuh pangeran tak tampak lagi. Anggraini kontan mengangkat tangan ke depan wajah. Matanya tak sanggup lagi menerima terjangan sinar tadi. Bahkan, Beruang Betina Kutub Utara dan Kuntum Mawar yang sedang berbaku jurus pun tak luput melakukan hal yang sama. Seperti juga Perwira Thariq serta beberapa awak kapal kerajaan negeri Parsi.
Kemudian, menyusul ledakan amat gempita menerpa seluruh kawasan dermaga....
***
Malam ini Pendekar Slebor bermimpi amat menakutkan. Dalam mimpi, Anggraini yang sudah amat dikenalnya ditelan sekawanan mambang bersosok menyeramkan yang keluar dari seberkas cahaya amat menyilaukan. Andika sendiri saat itu seperti berusaha menggapai-gapaikan tangannya untuk menolong Anggraini. Seluruh tenaganya terkuras untuk meraih tangan Anggraini. Tapi, si gadis tetap tak tergapai. Wajah jelita Anggraini memucat dan dirasuki ketakutan teramat sangat. Mulutnya menjerit pada Andika, tanpa suara. Anggraini menggapai-gapai dalam jarak yang semakin jauh dari Andika. Sampai akhirnya, tubuhnya hilang tertelan oleh rongga mulut para mambang.
“Bang! Bang, bangun! Bang Andika!”
Andika terjaga. Sekujur tubuhnya dibanjiri peluh. Napasnya turun naik tak teratur, seakan baru saja menempuh perjalanan panjang melelahkan tanpa batas.
“Di mana aku?” tanya Andika, dengan tatapan nanar.
“Memang, Kakang kira ada di mana? Di sorga? Aduh.... Sudah jadi pendekar kesohor, kok masih bisa linglung! Kita kan masih di penginapan!” jawab Tompel yang baru saja membangunkan Andika.
Andika membuang napas lega.
“Fhuiih.... Kukira, aku benar-benar mengalaminya...,” ucap Andika terseret. Dia bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di tepinya.
“Mengalami apa. Bang?!”
“Mimpi itu,” singkat Andika.
“Mimpi, ya mimpi.... Bukan kenyataan!” sergah Tompel, sok tahu.
Andika menautkan alis. Matanya menerawang.
“Tapi mimpi yang baru saja kualami seperti kenyataan. Pel...,” kata Pendekar Slebor sungguh-sungguh.
“Ah, sudahlah Bang! Ini tengah malam. Tidur saja lagi!”
Kemudian bocah tanggung yang belum lagi akil balig itu ngeloyor keluar kamar.
“Mau ke mana, kau?” tanya Andika.
“Ada pagelaran wayang semalam suntuk di alun-alun, mau ikut?” sahut Tompel acuh.
Sepeninggalan Tompel, pendekar muda dari Lembah Kutukan itu berdiri termenung di sisi jendela kamar penginapan sederhana yang berada di sisi jalan kotapraja. Pikiran Pendekar Slebor kembali merayapi mimpi yang baru saja dialaminya. Cahaya? Bisik hatinya. Sepertinya, dia juga pernah menyaksikan cahaya dalam mimpi.... Tapi, di mana? Dan para mambang itu, mengingatkannya pada satu hal.
Rahang Andika bergemeletuk.
“Kutu buduk.... Monyel gundul! Kenapa otakku jadi buntu seperti ini!”
Andika menyumpah-nyumpah sambil menyapu udara dengan tangannya. Mulailah Andika mondar-mandir seperti mandor kehilangan pekerjaan.
“Aku harus dapat mengingatnya,” desis pemuda itu berketad.
“Akuyakin ini bukan sekadar mimpi kosong tak berarti. Mimpi itu pasti berhubungan erat dengan ‘bayangan’ yang didapat Walet!”
Langkah Andika terhenti sejenak.
“Aku yakin, Anggraini dalam bahaya. Tapi... sialan! Bahaya apa yang sebenarnya mengancam gadis itu?! Dan siapa pula dalang semuanya?”
Merasa yakin pengaruh mimpi itu masih membekas di alam bawah sadarnya, hingga sulit untuk memusatkan pikirannya, Andika segera memusatkan untuk melakukan semadi. Kini Pendekar Slebor mengambil sikap semadi. Dan dia melakukannya di atas tempat tidur. Tak begitu lama, Andika sudah membuka mata kembali. Dia bangkit dari silanya dengan wajah lebih segar.
“Ya! Sekarang aku bisa ingat.... Kapan dan di mana aku pernah melihat cahaya semacam itu. Yang ketika aku berhasil menumpas Manusia Dari Pusat Bumi beberapa waktu silam! Dan mambang yang ada dalam cahaya tentu perlambang kekuatan alam kegelapan yang dimiliki Manusia Dari Pusat Bumi! Kalau begitu, manusia laknat jelmaan siluman itu telah muncul kembali!”
Untuk beberapa lama Andika memutar-mutar pikirannya. Setahu Andika, tubuh Manusia Dari Pusat Bumi telah hancur lebur terhajar kekuatan petir yang tersalur melalui tubuh Andika. Kalau begitu, tentu manusia jelmaan siluman ini tak muncul dengan jasad aslinya. Rohnya yang menyatu dengan Cermin Alam Gaib, tentu telah melanglang buana mencari wadah untuk ditempati.
“Ya, Tuhan...,” desis Pendekar Slebor tiba-tiba.
Andika teringat pada pangeran yang mencari seorang gadis bertanda bunga Wijayakusuma di Punggung kanannya. Pada saat yang hampir bersamaan, dia pun teringat cerita Walet. Menurut ‘bayangan’ yang dilihat bocah ajaib itu, ada seorang wanita cantik berpakaian merah yang bertanda sama tengah berada dalam keadaan bahaya.
“Kalau mimpiku benar, berarti gadis yang berada dalam ‘ bayangan’ Walet dan gadis yang dicari pangeran itu adalah Anggraini! Dan..., astaga! Tentu pangeran asing itu telah dirasuki roh Manusia Dari Pusat Bumi!” simpul Pendekar Slebor nyaris tercekat.
Tanpa banyak mengumbar waktu lebih lama, Andika segera mengempos seluruh kemampuan Ilmu meringankan tubuhnya. Tujuannya sudah pasti ke pesisir pantai! Bukankah dalam bayangannya Walet melihat tempat yang dibatasi air sejauh mata memandang, dan di atasnya purnama membulatpenuh?
Andika yakin, tempat yang digambarkan Walet adalah pesisir pantai. Sedangkan purnama membulat penuh, jatuh tepat pada malam ini!
***
Dermaga di pesisir pantai ditelan kebisuan mencengkam. Tak ada suara. Bahkan sekadar desir angin atau kecipak gelombang kecil sekali pun. Laut begitu tenang.
Andika yang telah tiba di sana, merasakan ketenangan laut seperti gambaran sebuah kematian. Di sebelah tenggara dermaga, terlihat kapal layar kerajaan dari negeri Parsi tertambat, sebisu suasana.
“Aku merasakan hal yang aneh,” bisik Andika.
Seketika bulu di sekujur tengkuknya meremang hebat.
“Tak seperti biasanya. alam semati ini....”
Dengan langkab satu-satu, pemuda sakti yang tersohor sebagai Pendekar Slebor mendekati lambung kapal. Begitu sampai ditempat yang dituju, matanya tertumbuk pada beberapa sosok Mayat yang bergelimpangan, nyaris tersamar karena tertutup pasir pantai.
Begitu mega gelap membiarkan cahaya purnama jatuh pada bibir pantai, tubuh-tubuh mayat itu terlihat jelas. Dua lelaki berpakaian khas negeri Parsi tertelungkup tanpa gemik. Begitu juga dua wanita di sisi lain sudah tidak bernapas lagi. Wanita yang satu mengenakan mantel bulu beruang salju. Sementara yang satu lagi berkebaya ketat dengan kain wiron ketat pula. Dari kedua wanita itu, tak seorang pun yang dikenal Andika.
Sewaktu anak muda sakti itu sedang berjongkok di sisi tubuh perempuan bermantel bulu beruang, tanpa disadari dua pasang mata memendarkan sinar menatapnya di kegelapan. Mata itu demikian liar, memendam dendam. Dalam kesunyian tempat persembunyiannya, tersembul suara geraman berat. Rupanya, sesosok makhluk besar berbulu itu adalah beruang kutub milik Beruang Betina Kutub Utara.
Tepat pada saat Andika di dekat tuannya, beruang itu pun melihat Andika. Entah bagaimana. Naluri binatang itu menganggap Andikalah yang telah membunuh majikannya. Dengan menggeram di kejauhan, beruang itu menjauhi dermaga.
Sementara itu, Andika mencoba meneliti dua lelaki yang telah meninggal di sisi lain. Udara di sekeliling tercium bau anyir dari darah yang mengering. Mayat lelaki yang satu berbadan gempal, tapi bagian dada dan perutnya sobek. Seperti habis di cabik-cabik binatang buas.
Mayat itu adalah Thariq, Perwira Kerajaan Parsi. Mayat yang lain memiliki luka yang sama. Begitu mengenaskan keadaannya. Andika mau tak mau harus mengerutkan dahi dalam-dalam. Lelaki itu Pangeran Husein, seorang yang dicurigainya sebagai Manusia Dari Pusat Bumi.
“Kalau begitu, aku telah salah duga. Rupanya, pangeran dari seberang lautan ini tampaknya tidak bersalah. Tapi, kenapa dia mendapat wangsit dalam mimpinya untuk mencari Anggraini sebagai calon istri?”
Andika kembali berbisik, bertanya pada diri sendiri. Tiba-tiba....
“Dia telah diperalat, Kang,” ucap seseorang di belakang Andika.
Andika menoleh. Ternyata di belakangnya berdiri, si bocah ajaib titisan seorang pangeran sakti yang mati ratusan tahun lalu. Walet!
“Apa yang telah kau ketahui lagi, Walet?” tanya Andika, tanpa mau banyak basa-basi.
“Selama beberapa hari belakangan, aku berusaha menembus medan kekuatan gaib dari alam kegelapan yang datang berupa cahaya dalam ‘bayangan’ku. Meski susah payah, akhirnya aku dapat sedikit menguaknya,” lapor si bocah ajaib seraya melangkah menuju Pendekar Slebor.
“Pangeran ini rupanya telah diperalat roh jahat....”
“Manusia Dari Pusat Bumi?” duga Andika cepat.
“Ya! Roh manusia siluman itu telah mengirim wangsit palsu dalam mimpi sang pangeran. Dengan begitu, pangeran akan berusaha mencari Anggraini, gadis yang memiliki tanda tubuh di punggung kanannya. Setelah pengumuman dibuat sang pangeran, tentu Anggraini akan tertarik. Lalu, dia pun mendatangi tempat ini, tempat dimana kapal layar pangeran tertambat sekaligus sebagai satu-satunya tempat bagi Manusia Dari Pusat Bumi untuk bisa melaksanakan niatnya menculik Anggraini.”
“Aku masih belum paham dengan tujuan roh laknat itu dalam menculik Anggraini?” ujar Andika, masih diliputi rasa penasaran.
“Untuk dijadikan tumbal, Kang,” sahut Walel. Saat berucap, kelopak matanya menyipit.
“Gadis itu memiliki tanda khusus di tubuhnya. Hanya dialah yang bisa menjadi syarat kembalinya Manusia Dari Pusat Bumi ke dunia kasar.”
Andika bergidik mendengar penuturan si bocah ajaib di depannya.
“Kalau begitu, aku harus segera menyelamatkan Anggraini sebelum semuanya terlambal. Tapi, aku tak tahu ke mana harus pergi...,” kata Pendekar Slebor, seperti mengeluh.
“Rasanya aku sudah bisa menemukan tempat Manusia Dari Pusat Bumi yang kini sedang menggunakan wadah sescorang untuk melaksanakan niatnya...,” kata Walet lagi, dengan gaya berkesan orang tua.
“Cepat katakan, di mana?” desak Andika.
Walet pun memberitahukan Pendekar Slebor tempat yang dimaksud. Selelah itu, segera Pendekar Slebor berlari bagai mengejar waktu ke arah yang dituju.
***
Sebuah pohon besar berusia ratusan tahun yang menjulang seperti hendak meraih langit, menjadi tempat untuk melaksanakan rencana Manusia Dari Pusat Bumi. Dia memang bermaksud menyempurnakan dirinya kembali agar dapat muncul di alam kasar. Tempat ini sangat tepat, karena sama sekali tidak mengundang minat orang untuk mendatanginya. Letaknya memang persis di pusat hutan yang terkenal paling angker. Rimba Selaksa Mambang!
Untuk yang kedua kalinya, Andika tiba di sana. Pertama ketika berusaha mengambil Cermin Alam Gaib. Kini untuk yang kedua kalinya, bertujuan untuk menyelamatkan Anggraini.
Saat ini, hari makin ditelan malam. Dini hari kian suntuk. Kabut merayap-rayap di segenap penjuru hutan, bagai segerombolan dedemit mencari mangsa. Pandangan yang terhalang kabut pekat, tak bisa menahan Pendekar Slebor untuk terus menembus hutan menuju jantung Rimba Slaksa Mambang. Bahkan udara dingin yang serasa hendak meretakkan tulang-tulang di sekujur tubuhnya tak mampu menahan langkah pemuda itu.
Sambil berjalan, Andika mengerahkan seluruh panca indranya, juga hawa murni dalam tubuhnya diatur agar dapat mengenyahkan rasa dingin. Kalau tidak begitu, dia bisa kehilangan kesadaran akibat siksaan dingin.
Menurut kabar angin, banyak orang persilatan menjadi hilang ingatan, manakala terjebak dalam hutan itu pada saat malam. Beruntung kalau kebetulan mereka memiliki kepandaian cukup tinggi. Kalau tidak, biasanya esok hari mereka akan ditemukan mati dalam keadaan membiru.
Sementara Andika terus berjalan tersuruk-suruk, para satwa malam memperdengarkan rintihan. Suasana jadi kian menggidikkan.