- Beranda
- Stories from the Heart
REAL HOROR STORY "Rel Kereta Api Angker"
...
TS
tyazscream
REAL HOROR STORY "Rel Kereta Api Angker"
WELCOME TO MY THREAD
REL KERETA API ANGKER
REAL HOROR STORY
REL KERETA API ANGKER
Quote:
Quote:
Quote:
AGAN MINTA UPDATE!!! ANE CUMA MINTA
DAN
BIAR ANE SEMANGAT GANSIS
DAN
BIAR ANE SEMANGAT GANSISBAGI YANG SUDAH TAHU TKP PLEASE UNTUK DIAMTAATILAH RULES SFTH!!! NO KEPO!!! AGAN KEPO ANE KENTANG
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
DISINI TIDAK ADA BUMBU PENYEDAP, GARAM, FORMALIN DAN SEBAGAINYAKARENA INI ADALAH SEBUAH THREAD KISAH NYATA... BUKAN MASAKAN!!!NO ALAY LANGUAGE!!!
PROLOG
Quote:
Diubah oleh tyazscream 18-03-2017 15:22
Dhekazama dan 109 lainnya memberi reputasi
106
3.8M
10K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•3Anggota
Tampilkan semua post
TS
tyazscream
#189
PART 8: PENAMPAKAN DAN SUARA TANGIS ANAK KECIL
(Sebenarnya ane update malam kalau dengar klakson dan suara kereta api lewat suka masih merinding)
Ane dan tedy akhirnnya memutuskan untuk pulang, ane sengaja telp adik ane untuk jemput ane di rumah warga, karena ane yakin dalam hati ane, teror ini bakalan berlanjut, apalagi tedy kencing di jasad tewasnya korban kecelakaan kereta api. Yang lebih ngenes lagi, telp ane gak diangkat sama adik ane, ane anggap wajar karena hari sudah malam, dan pasti adik ane udh tidur.
Dengan muka temboknya ane minta dianter sama warga dengan alasan masih shock dengan kejadian tadi. Akhirnya pak roni dan 2 orang warga lainnya pun ikut mengantar ane. ane seneng banget pada waktu itu, tapi ternyata pak roni dan 2 warga lainnya hanya mengantar sampai di gang desa. Untuk sampai ke jalan sekitar 300 meter, dan apesnya ane harus genjot sepeda dengan diboncengi tedy.
“Ya sudah mas, sana hati2” ujar pak roni dan warga lainnya,
“Ohh... ehmmm iya pak.” Kata ane sedih.
“Gimana ted kita pulangnya?” tanya ane mangkel.
“Ya sudahlah kalau emang kayak gini acaranya. Semoga gak reunian lagi kayak tadi.” Jawab tedy pasrah
Dalam hati ane, coba kalau ane pake motor mungkin ane gas polll dalam 300 meter gak sampai 5 menit sampai dijalan. Ini naik sepeda? Boncengan lagi, pasrah.. pasrah..
“Yang penting kamu jangan sampai pingsan ted, kalau liat lagi penampakan lagi.” Pinta ane
“Iyah.. Santai aja” jawab tedy (Ternyata siasat tedy bonceng ke ane dengan mata merem gan)
Ane pun mulai menggenjot sepeda dan berdoa semoga gak ada apa, hingga tibalah lewat kebon kosong dan itu tandanya rel pun sudah dekat.
Dan apa yang terjadi gan,
“Ted, kok diem?” tanya ane
“Ted, ngomong donk!!” tambah ane
“Iya ini, udah sampai ya?” Jawab tedy (Ane langsung tahu kalau tedy ini tutup mata alias merem agar dia gak takut)
“Iya udah sampai.” Jawab ane bohongin tedy... (Jreeeeng ketipulah tedy)
Ane melihat penampakan yang tedy lihat sebelumnya, sosok anak kecil, sekitar 4 SD an yang menangis di bawah lorong rel kereta api, kurang lebih sekitar 4 meter dari ane. Seketika kaki yang tadinya kuat menggenjot pedal sepeda menjadi loyo, lemes.
Dengan sisa tenaga yang ada, ane ngelos tuh sepeda dan gak ane genjot. Wajah anak itu bener2 kasihan, seperti pengemis kecil, sosok itu tidak memperlihatkan wajah penampakan seperti sebelum-sebelumnya ane liat. Wajah rusak, berdarah ataupun mata melotot. Dia tampak kasihan. Tapi yang namanya penampakan tetep aja ane takut.
Malam itu bener2 dingin, sunyi, sepi, cahaya bulan yang tadinya menyinari tertutup oleh awan. Bener2 gelap (bahkan ane naik sepeda jalannya pun gak kelihatan)
Hingga beberapa saat kemudian tedy lari mendahului ane yang naik sepeda,
“Ted, tungguin ted.” Pinta ane..
Dia lari sangat ketakutan gan, sedangkan posisi ane pada waktu itu belum melewati penampakan sosok anak kecil itu. Sedangkan jarak untuk sampai ke jalan sekitar 120 an meter, tapi ane merasa kalau jarak itu benar-benar jauh.
Note: Ternyata setelah tedy ketipu dan membuka matanya, dia melihat penampakan yang sama seperti sebelumnya, yaitu sosok mahluk yang terpotong badannya,
(Sebenarnya ane update malam kalau dengar klakson dan suara kereta api lewat suka masih merinding)
Ane dan tedy akhirnnya memutuskan untuk pulang, ane sengaja telp adik ane untuk jemput ane di rumah warga, karena ane yakin dalam hati ane, teror ini bakalan berlanjut, apalagi tedy kencing di jasad tewasnya korban kecelakaan kereta api. Yang lebih ngenes lagi, telp ane gak diangkat sama adik ane, ane anggap wajar karena hari sudah malam, dan pasti adik ane udh tidur.
Dengan muka temboknya ane minta dianter sama warga dengan alasan masih shock dengan kejadian tadi. Akhirnya pak roni dan 2 orang warga lainnya pun ikut mengantar ane. ane seneng banget pada waktu itu, tapi ternyata pak roni dan 2 warga lainnya hanya mengantar sampai di gang desa. Untuk sampai ke jalan sekitar 300 meter, dan apesnya ane harus genjot sepeda dengan diboncengi tedy.
“Ya sudah mas, sana hati2” ujar pak roni dan warga lainnya,
“Ohh... ehmmm iya pak.” Kata ane sedih.
“Gimana ted kita pulangnya?” tanya ane mangkel.
“Ya sudahlah kalau emang kayak gini acaranya. Semoga gak reunian lagi kayak tadi.” Jawab tedy pasrah
Dalam hati ane, coba kalau ane pake motor mungkin ane gas polll dalam 300 meter gak sampai 5 menit sampai dijalan. Ini naik sepeda? Boncengan lagi, pasrah.. pasrah..
“Yang penting kamu jangan sampai pingsan ted, kalau liat lagi penampakan lagi.” Pinta ane
“Iyah.. Santai aja” jawab tedy (Ternyata siasat tedy bonceng ke ane dengan mata merem gan)
Ane pun mulai menggenjot sepeda dan berdoa semoga gak ada apa, hingga tibalah lewat kebon kosong dan itu tandanya rel pun sudah dekat.
Dan apa yang terjadi gan,
“Ted, kok diem?” tanya ane
“Ted, ngomong donk!!” tambah ane
“Iya ini, udah sampai ya?” Jawab tedy (Ane langsung tahu kalau tedy ini tutup mata alias merem agar dia gak takut)
“Iya udah sampai.” Jawab ane bohongin tedy... (Jreeeeng ketipulah tedy)
Ane melihat penampakan yang tedy lihat sebelumnya, sosok anak kecil, sekitar 4 SD an yang menangis di bawah lorong rel kereta api, kurang lebih sekitar 4 meter dari ane. Seketika kaki yang tadinya kuat menggenjot pedal sepeda menjadi loyo, lemes.
Dengan sisa tenaga yang ada, ane ngelos tuh sepeda dan gak ane genjot. Wajah anak itu bener2 kasihan, seperti pengemis kecil, sosok itu tidak memperlihatkan wajah penampakan seperti sebelum-sebelumnya ane liat. Wajah rusak, berdarah ataupun mata melotot. Dia tampak kasihan. Tapi yang namanya penampakan tetep aja ane takut.
Malam itu bener2 dingin, sunyi, sepi, cahaya bulan yang tadinya menyinari tertutup oleh awan. Bener2 gelap (bahkan ane naik sepeda jalannya pun gak kelihatan)
Hingga beberapa saat kemudian tedy lari mendahului ane yang naik sepeda,
“Ted, tungguin ted.” Pinta ane..
Dia lari sangat ketakutan gan, sedangkan posisi ane pada waktu itu belum melewati penampakan sosok anak kecil itu. Sedangkan jarak untuk sampai ke jalan sekitar 120 an meter, tapi ane merasa kalau jarak itu benar-benar jauh.
Note: Ternyata setelah tedy ketipu dan membuka matanya, dia melihat penampakan yang sama seperti sebelumnya, yaitu sosok mahluk yang terpotong badannya,
Diubah oleh tyazscream 03-10-2016 09:29
disya1628 dan 13 lainnya memberi reputasi
14


