Part 1
Angkasa malam ini dikekang kemuraman. Berjuta bintang yang biasa membagi kerdipan cahaya, kali ini sirna oleh timbunan awan hitam kelam. Sementara sinar temaram rembulan hanya mengintip malu-malu di antara arakan awan yang merayap-rayap. Rona langit malam seperti mati. Denyut benda-benda angkasa bagai dibungkam para makhluk gaib. Alam tampak lengang. Detak waktu terasa begitu lamban bagai langkah-langkah para pengantar jenazah.
Suatu saat, semua itu bagai dihancurkan satu kelebatan cahaya menyilaukan membelah langit. Cahaya yang sanggup membutakan mata manusia, meluncur deras bagai tak berpenghalang menuju satu tempat di wajah bumi....
***
Seorang gadis cantik jelita terlihat berjalan di sebuah dataran berumput kering. Pakaiannya merah, menantang hari yang sebenarnya sudah cukup panas. Rambutnya yang hitam, memantulkan cahaya lembut. Tergerai hingga sebatas pinggang. Jika angin bertiup kecil, anak rambutnya meliuk-liuk menggemaskan. Kalau melihat busur di punggungnya, bisa diduga kalau gadis itu seorang pendekar. Apalagi bila mengamati cara berjalannya yang cukup gagah, meski kegemulaiannya sebagai wanita tak hilang. Di bagian pinggang ramping gadis itu, terbelit seutas cemeti. Sehingga penampilannya terlihat begitu angker.
Banyak tokoh dunia persilatan mengenal, siapa pemilik cemeti itu dulu. Memang, pemilik cemeti adalah seorang tokoh kelas atas kaum sesat. Begal Ireng! Lalu, siapakah gadis ini? Dialah anak satu-satunya. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan ayahnya. Begal Ireng adalah manusia berdarah dingin yang cukup tega menghirup darah manusia lain. Sedang gadis ini adalah wanita yang memiliki kelembutan hati. Meskipun sifatnya judes dan ketus dalam berbicara.
Anggraini, namanya. Seorang gadis berilmu tinggi yang namanya mulai merambah dunia persilatan belakangan ini, dengan julukan Pendekar Wanita Tanah Buangan. Mata Anggraini tampak kehilangan cahaya. Akhir-akhir ini pikirannya memang sedang terganggu sesuatu masalah. Khususnya, tentang seorang pendekar muda sakti nan tampan berkepribadian menarik, yang membuat hatinya terpesona. Pendekar itu tak lain adalah.... Pendekar Slebor.
Di samping itu, Anggraini menjadi banyak tahu, tentang pemuda yang telah mencuri sekeping hati dari dasar lubuk hatinya. Seolah gadis ini makin dekat dengan bayangan Pendekar Slebor. Malah makin tak berdaya diombang-ambingkan cinta. Namun, ada sebongkah dendam bagai karat yang sulit dihilangkan. Bagaimanapun juga, Pendekar Sleborlah yang telah membuatnya tak bisa berjumpa dengan ayahnya, Begal Ireng.
Pertentangan dalam diri inilah yang membuat mata Anggraini tampak kehilangan cahaya selama ini. Gadis ini bagai disiksa dari dalam. Satu siksaan yang tak kunjung padam. Disatu sisi dirinya terus menuntut untuk melaksanakan hasrat dendam. Sedang di sisi lain, dia kian dilenakan oleh bayangan jejaka sakti itu.
“Berhenti kau! Aku ingin tanya padamu!”
Segala kemelut batin Anggraini pupus seketika, begitu tiba-tiba dari arah belakang terdengar bentakan keras, kasar, dan tak sopan. Kepalanya cepat menoleh. Tampak seorang wanita telah berdiri angkuh tak begitu jauh di belakangnya. Untuk dikatakan tua, wanita itu tidak begitu pantas. Baik dari perawakan ataupun wajahnya. Dilihat dari usianya sebenarnya wanita ini masih muda. Cuma, penampilannya saja yang tak sesuai. Rambutnya dikonde kecil dengan arnel perak, seperti kebanyakan perempuan tua. Begitu juga pakaiannya. Amat tak sedap dipandang mata. Karena, biasa dikenakan wanita berusia lanjut. Kebayanya berwarna muram dengan paduan kain wiron berwarna suram. Namun kalau menilik wajahnya. setiap lelaki pasti akan terpana tanpa kedip. Kematangan usia yang sekitar tiga puluhan, membawa kematangan pula pada wajahnya.
“Siapa kau?!” tanya Anggraini setengah membentak. Dia tak suka pada orang yang tak bersikap ramah pada orang lain.
“Ah! Pakai tanya siapa aku segala! Cepat kasih tahu, ke mana arah kotapraja?!” balas wanita berkebaya ini.
Lagi-lagi suaranya tak sedap masuk ke telinga Anggraini. Diperlakukan demikian, terang saja Anggraini makin panas. Bukannya lebih dulu minta maaf karena telah lancang mengusik lamunannya, eee..., kini berani pula dia berbicara kasar! Tanpa ingin menanggapi pertanyaan wanita asing di belakangnya, Anggraini melanjutkan langkahnya.
“Hey, apa kau tuli?!” hardik perempuan berkebaya ini berang, merasa diacuhkan Anggraini.
Anggraini tetap saja melangkah acuh. Hardikan tadi tak dianggapnya sama sekali. Diperlakukan semacam itu, tak ayal lagi kegusaran wanita berkebaya ini bertambah dua kali lipat. Seraya mendengus, urat-urat lehernya mengejang. Dan....
“Berhenti kau!”
Terdengar mengguntur teriakan wanita cantik berkebaya itu, saat terlepas dari kerongkongannya. Bumi bagai digebah gempa. Rerumputan kering berterbangan, seperti dibabat topan. Tak cuma itu. Batu-batu sebesar kepala manusia terangkat bersamaan ke udara. Beberapa saat seluruh batu itu melayang. Dan setelah kekuatan teriakan tadi menyusut, barulah semuanya berjatuhan kembali.
Suatu pamer kesaktian yang cukup mengagumkan. Tapi kejadian ini sedikit pun tidak membuat nyali gadis berselempang busur di punggung ini menjadi tergetar. Tanpa menoleh, Anggraini melecehkan perbuatan wanita berkebaya tadi.
“Permainanmu sudah cukup hebat. Tapi, belum benar-benar hebat kalau hanya batu-batu itu yang dibuat melayang di udara....”
Selesai berkata, sebelah kaki dara cantik berpakaian merah itu menghentak keras ke bumi.
Dukh!
Seketika, batu-batu sebesar kepala manusia yang telah berjatuhan, kini terangkat kembali. Bahkan lebih tinggi dari semula dan lebih lama melayang diudara. Itu pun masih tambah gerakan berputar setiap batu, sehingga terlihat seperti puluhan gasing ajaib. Sebelum batu-batu itu berjatuhan, sebelah kaki Anggraini yang lain cepat dihentakkan lagi ke bumi.
Dukh!
Tak ada sekedip mata berselang dari suara hantaman kaki Anggraini ke bumi, tubuh wanita berkebaya turut terangkat ke udara, menyusul bebatuan yang masih berputar tak karuan.
“Genderuwo perempuan keparat!” maki wanita berkebaya ini. Sementara tubuhnya masih terapung.
“Jangan kau pikir aku kagum dengan permainan tengikmu ini!”
Selesai melepaskan makian, tangan wanita berkebaya ini bertepuk.
Plok!
Pada tepukan pertama, seluruh batu mendadak berhenti berputar. Semuanya diam di udara, tak beda barisan area tanpa bentuk.
Plok!
Tepukan kedua terdengar. kini, tubuh wanita berkebaya perlahan turun ke permukaan bumi dalam gerak berkesan wibawa. Dua jengkal lagi, kaki wanita berkebaya ini akan menyentuh tanah. Namun tiba-tiba, kaki Anggraini untuk yang kesekian kali dihentakkan lagi ke tanah.
Dugkh! Wesh!
Begitu bunyi hentakan kaki terdengar, tubuh wanita berkebaya itu mencelat kembali ke atas. Bahkan lebih deras dan lebih cepat.
“Genderuwo perempuan siaaal!” maki wanita berkebaya dengan geram.
Seluruh wajah cantiknya saat itu juga menjadi merah matang. Malah, lebih matang dari panggangan kambing guling! Bibirnya yang berlekuk menantang, berkelok-kelok kian kemari. Agaknya dia berusaha menahan kejengkelannya pada Anggraini. Mata berbulu hitam dan lebat milik wanita berkebaya itu terbelalak, tepat ketika tangannya bertepuk yang sarat kegeraman memuncak.
“Hih!”
Tampaknya, wanita berkebaya ini tak sudi lagi setengah-setengah dalam adu kesaktian. Seketika tiga tepukan sekaligus dibuatnya.
Plok! Plok! Plok!
Berturut-turut bebatuan sebesar kepala yang terpaku di udara, menjadi hancur seperti diledakkan suatu kekuatan dari dalam. Butiran-butirannya berhamburan ke segenap penjuru. Begitu halus, sampai-sampai desah angin lembut pun dapat melibasnya. Dan saat itu pula tubuh wanita berkebaya ini meluncur turun dengan deras, menentang kekuatan Anggraini yang tetap mencoba mengungkitnya dari bawah.
Dua tombak bisa dilalui. Selanjutnya, luncuran tubuh sintal wanita berkebaya itu tersendat. Anggraini tampaknya tak mau mengalah begitu saja. Tanpa kentara, tenaga dalamnya yang disalurkan ke bumi melalui kaki ditambahkan. Kalau Anggraini tak mau kalah, wanita berkebaya itu pun semakin kalap. Maka tekanan tenaga dalamnya ditambah pula. Akibatnya, pengerahan yang mulai berlebihan membuat wajahnya makin berkerut.
“Ekh.... Ekh. . Ekh...”
Wanita berkebaya ini terpejam-pejam, menekan tenaga dalamnya agar bisa tiba kembali di tanah. Dahinya sudah dibanjiri butiran peluh. Rona wajahnya pun lebih matang dari semula. Bahkan mulai tampak membiru. Kasihan dia. Sepertinya. wanita itu lebih tersiksa daripada orang yang sulit buang air besar!
“Ekh... ekh... ngekh....”
Di tengah seru-serunya wanita berkebaya itu mejan di udara tanpa peduli lagi pada sekitarnya, tiba-tiba saja tenaga dorongan dari bawah Ienyap bagai ditelan dedemit rakus. Wajah wanita berkebaya ini terkesiap. Matanya terbuka Iebar-lebar. Sayang, kebodohannya terlambat disadari....
Gedubrak!
Anggraini rupanya telah meninggalkan begitu saja wanita itu tanpa pamit lagi....
***
Panas mentari siang ini memanggang bulat-bulat kotapraja Kerajaan Alengka. Debu jalan amat ringan. Tatkala angin bertiup menyapu jalan, debu menjengkelkan itu berterbangan. Biar pun s uasana dikatakan tak nyaman, kotapraja tetap ramai. Kotapraja ibarat ‘lumbung gula yang mengandung semut’. Tempat yang memiliki daya pikat berkumpulnya banyak manusia. Bagi hampir setiap orang di tempat ini, kotapraja adalah pusat kegiatan mencari penghidupan. Berdenyut terus dengan berbagai usaha memburu nafsu para penghuninya.
Seorang pemuda berpakaian hijau pupus tiba di sana. Rambutnya sepanjang bahu tak teratur. Wajahnya tampan menawan. Alisnya melengkung tajam bagai kepak sayap elang. Di bawah alis, terpancar kesan tegar perkasa dari sorot matanya yang tajam. Begitu juga garis rahangnya. Sementara di bahunya tersampir kain bercorak catur. Pemuda itu memasuki pusat kotapraja dengan lenggangan santai. Matanya terlempar kian kemari, menikmati segala denyut kehidupan kotapraja. Sesekali bibir tipisnya mengembang. Namun sedang enak-enaknya mengagumi pemandangan disana, tiba-tiba....
“Cooopeeettt...!”
Tak jauh di depan jalan tempat si pemuda berdiri, terdengar teriakan keras yang menyeruak di antara kebisingan lain. Menyusul dua orang berlari seperti dikejar setan, menyeruak keramaian tanpa peduli. Orang yang mengejar, adalah lelaki setengah baya berpakaian perlente. Dilihat dari bahan bajunya yang terbuat dari sutera halus, serta kancing-kancing cmas berukir menandakan bahwa dia termasuk orang kaya. Namun, wajahnya demikian berang tak tertolong.
Sambil mengejar, tangannya berusaha menggapai orang yang sedang diburunya. Sedangkan yang dikejar, adalah bocah berusia sekitar dua belas tahun. Pakaiannya lusuh dan rombeng. Tubuhnya kurus, pertanda kehidupannya dalam keprihatinan yang bcrlebihan. Rambutnya pun kelihatan tak terawat. Kemerahan dan panjang. Juga kotor, karena jarang dicuci. Di tangan bocah itu tergenggam erat sekantung uang milik lelaki perlente yang mungkin telah dicurinya.
“Copeeeth! Copeeeth...! Tangkap bocah itu! Hoi, Anak Dedemit! Berhenti kau...!”
Kejar-kejaran makin dekat ke arah pemuda berbaju hijau pupus yang masih saja berjalan santai dengan arah berlawanan. Selain kedua orang yang sedang berkejaran tadi, tentu banyak orang lain di sana. Tapi, tak ada satu pun yang peduli pada kejadian itu. Sebagian besar sibuk dengan urusan masing-masing. Bagi mereka, urusan perut sendiri lebih diutamakan meskipun ada yang teraniaya sampai kehilangan nyawa.
Sebagian dari warga kotapraja memang tahu, keadilan di kotapraja tidak bisa diharapkan. Untuk me-nyambung hidup sehari-hari, seorang bocah lemah mungkin harus berebut bungkusan nasi bekas dengan seekor anjing di tempat sampah. Jadi kalau suatu saat ketidak adilan harus menerima ganjarannya, bukanlah hal aneh. Maka tak heran, banyak bocah disalahkan, karena hanya butuh makan untuk hari ini. Tapi. yang sering diterima hanyalah caci maki dari para hartawan kotapraja. Rupanya, para hartawan lebih suka memberi makan anjing peliharaan, daripada....
Pada saatnya, si bocah pencopet dengan wajah ketakutan tiba tepat di depan pemuda ganteng berpakaian hijau pupus tadi. Dengan sigap, pemuda ini menahan laju tubuh kurusnya dengan tangan.
“Kenapa terburu-buru, Adik kecil?” tanya pemuda berbaju hijau pupus ini, pura-pura tak tahu.
“Lepaskan aku, Bang! Lelaki lintah darat itu akan menginjak-injakku kalau sampai tertangkap!” teriak si bocah ketakutan. Kepalanya menoleh ke belakang, mewaspadai lelaki yang mcmburunya.
“Kena kau!” sergah lelaki setengah baya berpakaian perlente, ketika tiba di dekat pemuda berbaju hijau pupus.
Tangan kirinya cepat meraih belakang baju anak kurus itu. Tanpa peduli pada siapa pun. tangannya yang lain terangkat tinggi-tinggi.
“Biar mampus kau!”
Laki-laki perlente ini hendak mengirim bogem mentah ke arah bocah pencopet. Tindakan itu membuat bocah pencopet ini merengket dalam rangkulan pemuda berpakaian hijau pupus. Matanya dipejamkan rapat-rapat, pasrah.
“Ampun...!”
Sekejap lagi tangan kasar lelaki setengah baya itu tcntu akan telak menimpa sasarannya. Namun....
Tap!
Sebuah tangan menghadang tindakan laki-laki perlente. Memang, pemuda berbaju hijau pupus itu yang melakukannya. Gerakannya sungguh mengagumkan. Begitu cepat, sehingga nyaris tak terlihat. Sementara, tangan yang lain membuat bocah pencopet kini telah berada di belakang si pemuda.
“Kenapa kau bengis sekali terhadap bocah lemah?” tanya pemuda tampan ini dengan tatapan dingin.
Karena tangannya ditahan secara begitu menakjubkan, lelaki setengah baya berpakaian perlente agak tergetar hatinya. Apalagi ketika matanya bertumbukan dengan tatapan dingin pemuda bermata setajam sembilu itu.