Part 7
"Aku akan mencarinya ke timur. Kau mencarinya ke barat. Bagaimana?" kata Andika, menanggapi usul Mayangseruni.
Gadis itu mengangguk.
"Dan kalau terjadi sesuatu, kau harus segera menghubungiku. Kau punya caranya?"
Mayangseruni berpikir sejenak.
"Aku akan melepas lebah-lebah keangkasa," jawab Mayangseruni cepat.
"Pikiran jitu!" puji Andika.
Lalu keduanya pun segera berpisah. Seperti rencana, Andika mulai menyusuri lembah bagian timur, Sedangkan Mayangseruni, si Ratu Lebah, akan menyusuri arah yang berlawanan. Dengan berpisahnya Andika dengan
Mayangseruni, Anggraini yang menguntit mesti membuat keputusan. Hendak mengikuti Andika atau Mayangseruni. Gejolak kebencian yang diwarnai rasa cemburu, tanpa disadari telah mendorongnya untuk mengikuti Mayangseruni.
Anggraini pun menuju lembah bagian barat. Sepeminum teh kemudian, Mayangseruni sampai di sebuah bukit yang membentang di bagian barat lembah Pintu Sorga dan Neraka Dunia. Tak seperti di tempat semula, tempat ini ditumbuhi pepohonan cemara besar yang berbaris seperti gerombolan pendaki.
Mayangseruni sejenak melepas lelah. Tubuhnya bersandar di batang sebuah pohon cemara. Rasa sejuk ditariknya ke dalam dada, untuk mengusir penat setelah mencari cukup lama.
"Apa mungkin gadis yang dicari Kang Andika masih berada di daerah ini?" gumam Mayangseruni, pelan.
Dalam benak, Mayangseruni tetap saja digerayangi pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan gadis yang sedang dicarinya dengan Andika. Yang pasti, dia ingin langsung mempercayai perkataan Andika, bahwa pemuda itu tak memiliki hubungan khusus dengan Anggraini. Namun, keresahan dan kekhawatiran tetap saja melingkupi benaknya.
Mayangseruni cukup sadar. Perasaan seperti itu lahir dalam dirinya, mungkin karena berharap banyak terhadap pemuda pujaannya. Seperti pernah diungkapkan langsung pada Andika, Mayangseruni memang memuja Andika yang sebelumnya hanya diketahui dari seliweran kabar burung. Tentang Pendekar Slebor yang muda, tampan, dan gagah. Pendekar Slebor yang banyak mengecoh bahkan memberantas tokoh-tokoh atas golongan sesat.
Belum lagi bertemu, Mayangseruni sudah begitu mengagumi. Apalagi kini telah bertemu langsung tokoh muda pujaannya itu?
Memikirkan semua itu, Mayangseruni jadi tak memiliki semangat lagi untuk meneruskan pencarian. Mendadak sontak, Mayangseruni dikejutkan suara mendesir yang datang dari sebelah kiri. Lamunannya koyak seketika. Meski belum tahu suara apa, namun gadis berjuluk Ratu Lebah itu serta merta berjungkir balik ke depan.
Wesss!
Blar!
Firasat pekanya terbukti. Sebentuk bahaya maut baru saja luput! Manakala mata Mayangseruni menemukan tempatnya berdiri tadi, pohon cemara yang dijadikan sandaran telah hancur lantak bagai baru tersambar petir. Batangnya tumbang, menciptakan suara bergemuruh. Pada bagian yang terhajar desiran tadi, mengepulkan asap tipis. Bahkan bagian atasnya membara! Bukan orang sembarangan yang bisa melakukan pukulan jarak jauh seperti itu. Maka murid tunggal Nyai Silili-lilu itu langsung saja bersiaga.
"Jangan beraninya main bokong! Keluar kau!" tantang Ratu Lebah pada si penyerang gelap.
Di ujung kalimat Mayangseruni, sesosok tubuh berkelebat keluar dari semak-semak. Pakaiannya sewarna dengan Mayangseruni. Merah-merah. Begitu juga panjang rambutnya. Sepintas saja, penampilan mereka sulit
dibedakan.
"Siapa kau?!" tanya Mayangseruni gusar.
Gadis itu sama sekali tidak mengenali kalau wanita yang berdiri di hadapannya adalah Anggraini, orang yang pernah bertarung dengannya beberapa waktu lalu.
"Jangan banyak basa-basi, Perempuan Lacur!" maki Anggraini amat kasar dan menyakitkan telinga.
Mayangseruni tak begitu terpengaruh mendengar makian Anggraini. Malah diamatinya penampilan gadis di hadapannya dengan kelopak mata agak menyipit. Penampilan perempuan ini amat mirip dengan gambaran yang diberikan Andika.
"Apakah kau Anggraini?" tanya Mayangseruni hati-hati.
"Apa pedulimu menanyakan namaku?!" balas Anggraini, tetap kasar.
Sehingga, membuat Mayangseruni jadi ragu apakah telah menemukan wanita yang dimaksud Andika atau bukan.
"Kalau kau Anggraini, kenapa kau menyerangku?" tanya Mayangseruni kembali, berusaha tetap menjaga kesabaran.
"Karena kau perempuan bejat yang patut kukirim ke neraka!"
Selesai itu, Anggraini langsung membuka jurusnya.
"Terimalah kematianmu, Perempuan Keparat! Hiaaa!"
"Tunggu!" tahan Mayangseruni.
Usaha Mayangseruni sudah terlambat. Anggraini telah menggempurnyadengan serangkai tusukan anak panah yang baru saja diloloskan dari tempatnya.
Jep! Jep! Jep!
Tampaknya, gadis dari Tanah Buangan itu tidak ingin lagi melihat lawannya hidup dalam keadaan utuh. Cemburu dan benci telah menjadi satu, menghasutnya untuk merobek-robek tubuh Ratu Lebah. Seakan Anggraini tidak sudi melihat kecantikan Mayangseruni melebihi dirinya.
Dalam segebrakan, tiga tusukan mengancam bagian-bagian mematikan di tubuh Mayangseruni. Sementara, Ratu Lebah sendiri sudah pasti tidak ingin dijadikan satai hidup-hidup. Dengan lincah tanpa kehilangankegemulaiannya, tubuhnya berkelit cepat dalam tiga kali menyempongkan tubuh.
Karena tak mungkin untuk terus menghindar, Mayangseruni pun melancarkan serangan balasan. Satu anak panah Anggraini yang hendak menembus dada kanannya, segera dihantam dengan bacokan tangan. Maksudnya, tentu saja hendak mematahkan senjata itu.
Namun betapa tersentaknya Mayangseruni, tatkala tangannya berbenturan dengan anak panah yang hanya terbuat dari kayu. Sekujur tangan hingga kebagian rusuknya terasa tersengat api. Bagaimana mungkin panas yang demikian tinggi, bisa disalurkan dalam sebatang kayu tipis tanpa terbakar?
Di lain pihak, Anggraini tak memberi kesempatan pada Mayangseruni, walau sekadar untuk terheran.
"Heaaa!"
Swing!
Mata panah di tangan kiri Anggraini membabat udara menuju perut Mayangseruni. Hendak dirobeknya perut gadis cantik itu. Jika perlu, sampai isi perutnya bobol keluar! Sekali lagi Mayangseruni terkesiap. Gesekan mata panah dari baja dengan udara, menimbulkan bunga api di sepanjang jalur babatan! Kini makin yakinlah Mayangseruni. Ternyata, lawannya benar-benar tidak ingin memberinya kesempatan untuk hidup. Padahal, murid si nenek pertapa semula hanya menganggap Anggraini ingin memberinya pelajaran, karena kecemburuan pada sikap akrab Andika padanya. Paling tidak, begitu dugaannya.
Tak ada pilihan lain bagi Mayangseruni kini. Dia pun harus melakukan perlawanan seimbang. Maka tanpa ragu lagi, gadis yang lebih dikenal sebagai Ratu Lebah itu langsung saja memainkan jurus-jurus andalannya.
"Bagus! Keluarkan semua ilmu andalanmu! Agar aku puas membunuhmu!" geram Anggraini, Pendekar Wanita dari Tanah Buangan.
Pertarungan hebat yang kedua kali bisa dipastikan akan segera tercipta kembali. Namun....
"Tahan...!"
Satu bentakan lantang, tiba-tiba menggetarkan pepohonan dan merontokkan dedaunan. Dua lelaki berkepala gundul tahu-tahu telah berdiri di dekat arena pertarungan. Keduanya berpenampilan amat mirip. Dari pakaian sampai ke wajah mereka. Anggraini mengenali mereka sebagai Kembar Dari Tiongkok.
"Paman Chia Kuo.... Paman Chia Jui! Kenapa kalian menghentikan pertarunganku?" tanya Anggraini terheran-heran. Kemarahannya yang sudah memuncak menjadi surut kembali.
Sementara Kembar Dari Tiongkok tak bergemik dari tempat berdiri.
"Pamanmu menyuruh kau untuk segera kembali," ucap Chia Jui.
"Dan kau harus kembali, begitu kata pamanmu," timpal Chia Kuo memberi tekanan pada kata 'harus'.
Anggraini tidak bisa terima. Kenapa pada saat harus menumpas perempuan jahat seperti dikatakan pamannya, dia harus berhenti menggempur lalu pulang begitu saja.
"Tapi, Paman...."
"Tak ada tetapi, Anggraini! Kau harus menuruti perintah pamanmu!"
Anggraini ingin menolak perintah kedua lelaki dari tanah Tiongkok itu, tapi secepatnya Chia Jui memotong. Meski memendam perasaan tak menentu, benturan perasaan antara penasaran ingin menghabisi Ratu Lebah dengan keheranan terhadap perintah pamannya, Anggraini akhirnya meninggalkan sang lawan.
"Kita akan segera bertemu lagi, Perempuan Laknat!" ancam Anggraini pada Mayangseruni yang masih berdiri dengan kuda-kuda siap tempur.
Tak beda dengan Anggraini, Mayangseruni pun dibuat heran atas tindak-tanduk mereka semua. Menurut cerita Andika, paman Anggraini adalah Pangeran Neraka. Bila lelaki itu tahu kalau kemenakannya bertarung dengan Mayangseruni, tentunya tak akan memerintah untuk menghentikan pertarungan. Apa mungkin Pangeran Neraka tidak tahu, dengan siapa kemenakannya bertarung?
Sebelum benar-benar pergi, seorang dari dua lelaki kembar itu melesatkan sebuah tabung bambu ke arah Mayangseruni. Amat cepat meluncur, namun tidak begitu berarti bagi gadis murid Nyai Silili-lilu. Tanpa menemui kesulitan, tangannya menyergap benda itu.
Pada dasarnya, tabung bambu sepanjang jengkalan tangan itu memang tidak dimaksudkan untuk menyerang. Buktinya, setelah meneliti sebentar, Mayangseruni menemukan secarik surat. Dan Mayangseruni membacanya.
"Pendekar Slebor! Tunggu aku dipenginapan, sebelah utara Bukit Cemara jajar - Pangeran Neraka"
Sepeninggalan gadis yang diyakini sebagai Anggraini dan dua lelaki Tiongkok tadi, Mayangseruni segera pula meninggalkan tempat ini. Hendak disusulnya Andika ke arah timur.
***
Tanpa kesulitan berarti, Mayangseruni cepat menemukan Andika. Lalu, segera diceritakannya kejadian yang terjadi secara singkat dan gamblang. Usai mendengar penuturan gadis itu, Andika terdiam sambil mengetuk-ngetuk siku tangan yang disilangkan kedepan dada. Sedangkan matanya menerawang jauh.
"Aku merasa ada yang ganjil dengan peristiwa itu," ucap Pendekar Slebor samar, namun cukup jelas ditangkap telinga Mayangseruni.
"Ya! Entah bagaimana, aku pun merasakan hal yang sama," timpal Mayangseruni.
"Kau kenal dua lelaki yang menyusul Anggraini?" tanya pemuda sakti dari Lembah Kutukan ini.
"Tidak," jawab Mayangseruni.
"Kalau menilik gambaran yang kau berikan, aku yakin mereka adalah Kembar Dari Tiongkok. Kau tentu pernah mendengar dua kaki tangan Begal Ireng, bukan? Merekalah orangnya. Pasti mereka telah bersekongkol dengan Pangeran Neraka...."
Kepala Mayangseruni mengangguk-angguk. Dia ingat sekarang tentang Kembar Dari Tiongkok yang menjadi orang kepercayaan Begal Ireng, sewaktu mengadakan makar jahat terhadap kerajaan Alengka.
Andika tak berhenti berpikir sampai di situ. Otaknya yang encer, berjalan lagi. Kalau Kembar Dari Tiongkok bergabung cukup lama dengan Pangeran Neraka, tentunya sudah mengenal Mayangseruni sebagai Ratu Lebah yang kejam, pendamping Pangeran Neraka. Kalau kini kedua lelaki itu tak menggubris Mayangseruni, berarti pula Pangeran Neraka tahu kalau Mayangseruni sudah sembuh dari pengaruh racun Perusak Syarafnya.
Begitulah yang dipikirkan pendekar muda buyut Pendekar Lembah Kutukan ini. Bukankah menurut Nyai Silili-lilu, Pangeran Neraka adalah lelaki yang memiliki kelicikan serigala dan licin bagai belut? Kalau tiba-tiba dia tak mempedulikan kehadiran Ratu Lebah, sudah pasti ada satu rencana licik pula dalam benaknya....
"Hmmm.... Apa maumu, Setan Gundul!" bisik Andika geram, mengumpat lelaki sesat yang kini merongrong pikirannya.
"Kang...," tegur Mayangseruni, melihat pemuda itu mondar-mandir tak karuan seperti mandor perkebunan jengkol!
Andika tak memperhatikan teguran gadis didekatnya. Otaknya masih sibuk teraduk-aduk.
"Kang Andika...," panggil Mayangseruni sekali lagi.
Barulah Andika tersadar.
"E, apa?" tanya Andika.
"Ternyata dugaanku benar."
"Benar apa?"
"Gadis itu memang cantik."
"Gadis apa? Eh..., gadis yang mana?" tanya Andika acuh tak acuh. Kembali kebingungannya dilanjutkan memikirkan rencana licik Pangeran Neraka.
"Anggraini, Kang. Siapa lagi?" ucap Mayangseruni, sungkan. Gadis itu masih malu-malu menghadapi Andika yang sifatnya berlawanan sama sekali dengannya.
"Iya.... Anggraini.... Siapa lagi...," gumam Andika, tak sadar mengulang ucapan Mayangseruni.
"Eh, tunggu dulu! Anggraini?!" sentaknya tiba-tiba. Kalau ada cecurut jantungan di dekatnya, tentu binatang itu akan tewas seketika!
"Oh, ya! Ada pesan untukmu, Kang!" kata Mayangseruni lagi. Disodorkannya secarik surat pada Andika.
"Surat ini kudapat dari Kembar Dari Tiongkok itu."
Andika segera membaca. Dan seketika air mukanya berubah, setelah membaca. Ada satu hal yang baru saja disimpulkan pemuda itu. Kini kepalanya mengangguk-angguk.
"Rasanya sekarang aku mulai bisa membaca niat busuk lelaki itu," ujar Andika meletup-letup.
"Ayo, kita segera tinggalkan tempat ini, Mayang!"
Seketika Pendekar Slebor menyambar tangan gadis cantik rupawan itu semena-mena, lalu membawanya lari.
***
Penginapan yang dimaksud dalam surat Pengeran Neraka, terletak tepat di kaki Bukit Cemarajajar. Sesuai namanya, bukit itu dikepung jajaran pepohonan cemara yang tumbuh rapat tak teratur hingga merambahi kakinya. Panoramanya memikat. Barisan cemara yang tumbuh pada dataran miring, akan terlihat seperti payung-payung kuncup dari kejauhan.
Penginapan itu dibentengi pagar tembok tak terlalu tinggi. Di halaman depan dan belakangnya yang luas, beberapa batang cemara dibiarkan tumbuh pada setiap sudut dan tepian jalan masuk. Rumput jarum tumbuh subur di seluruh taman, bak permadani hijau terhampar luas. Pada beberapa bagian taman, ditempatkan patung-patung kayu ukir bernilai seni tinggi. Di tambah sebuah kolam buatan berisi ikan berwarna-warni serta tanaman bunga di sisinya. Sehingga menyempurnakan taman menjadi tempat yang menawarkan kenyamanan.
Tampaknya, si pemilik penginapan tak mau tanggung-tanggung dalam mengelola penginapannya, agar benar-benar menarik pengunjung. Terbukti bangunannya dirancang sedemikian rupa. Sebagian mengambil rancangan seni leluhur, bagian lain mengambil gaya bangunan Cina. Meski sipemilik tahu, tempatnya agak terpencil.
Andika dan Mayangseruni tiba disana. Mereka masuk sambil mengagumi taman dan bangunannya. Dalam hati, Pendekar Slebor jadi berseloroh sendiri.
"Selera Pangeran Slompret itu rupanya tinggi juga....?"
Melalui jalan setapak dari susuran batuan sungai halus, dua anak muda itu melangkah terus sampai memasuki bangunan penginapan. Di ruang penerimaan tamu yang tak begitu besar, keduanya disambut lelaki yang tampaknya berdarah campuran Melayu Cina.
"Ada yang bisa hamba bantu?" tanya penerima tamu ramah, layaknya pemilik penginapan lain.
"Kami hendak memesan kamar," kata Andika, menanggapi sambutan penerima tamu.
Tanpa banyak tanya, si penerima tamu berjalan menuju meja berukir di sudut ruangan. Dari lacinya, diambilnya dua anak kunci.
"Kamarnya terletak agak berjauhan," kata penerima tamu yang sekaligus pemilik penginapan, setibanya di dekat Andika dan Mayangseruni.
"Satu kamar berada disayap timur, sedang yang lain berada di sayap kanan. Aku harap, Tuan-tuan dapat mengerti. Karena hanya kamar-kamar itu yang belum terisi."
Ketajaman otak Andika menangkap suatu yang mencurigakan dengan sambutan yang berkesan tergesa-gesa itu. Bukan Pendekar Slebor kalau tak bisa mencium gelagat aneh, meski hanya sekelebatan. Tak percuma orang-orang persilatan sering membicarakannya sebagai pendekar yang memiliki otak lebih encer dari pada bubur bayi!
"Dari mana lelaki ini tahu kalau aku dan Mayangseruni hendak menginap dengan dua kamar terpisah?" tanya Andika.
"Padahal, lazimnya pemilik penginapan selalu menanyakan berapa kamar yang hendak dipesan, jika kedatangan tamu lebih dari satu orang...."
Tanpa hendak memperlihatkan kecurigaan, Pendekar Slebor menerima sodoran anak kunci dari lelaki berdarah campuran itu. Satu hal lagi keganjilan yang ditangkap mata Andika. Ketika memberi kunci, lelaki itu seperti tahu hendak menyerahkan kunci yang mana pada Andika, dan yang mana pula untuk Mayangseruni.
"Terima kasih," tutur Andika datar.
Menurut dugaan, lelaki pemilik penginapan tentu telah terlibat dalam rencana busuk Pangeran Neraka. Kalau melihat sinar matanya, tampaknya tak ada sifat-sifat jahat dalam dirinya. Barangkali, dia terpaksa terlibat karena diancam.
Setelah Mayangseruni menyusul pula kata terima kasih, keduanya lalu menuju kamar masing-masing. Kedua kamar itu terletak sama-sama dilantai atas. Tapi, jaraknya berjauhan. Kira-kira, terpisah jarak dua puluh lima tombak.
Andika masuk ke dalam kamarnya. Hampir berbarengan, Mayangseruni pun masuk.