Part 6
Pak.!!
Dengan tinjunya, Anggraini menghajar lantai kayu pondok. Hantaman itu membuat lubang cukup besar, Pertanda kegeraman dan kebenciannya telah terbakar cepat!
Bureksa menepuk-nepuk bahu Anggraini. Wajahnya ditampakkan seprihatin mungkin, terhadap keadaan hati gadis kemenakannya.
"Sudahlah...," bujuk Pangeran Neraka.
"Lupakan pemuda itu. Lupakan pula dendammu. Kembalilah ke Tanah Buangan menemani ibumu. Tentu beliau kesepian di sana...."
"Aku tak akan kembali ke Tanah Buangan sebelum membunuh pemuda itu, Paman!" tandas Anggraini. Matanya memerah penuh.
"Dia telah membuat Ibu kesepian dengan tewasnya Ayah!"
Kepala Bureksa menggeleng-geleng perlahan. Sementara, raut wajahnya tetap mempertahankan kesan prihatin. Sedang benaknya sendiri melantunkan tawa puas. Tawa tersembunyi penuh kemenangan!
Pada saat yang sama, Mayangseruni sedang berbincang- bincang dengan gurunya, Nyai Silili-lilu dalam tempat rahasia. Beberapa saat waktu lalu, gadis menawan itu telah siuman. Sementara keduanya berbicara hilir-mudik, melepas kerinduan setelah tak berjumpa demikian lama, Andika masuk melalui tangga batu. Dia baru saja keluar untuk mencari pengganti pakaian, atas saran Nyai Silili-lilu.
Begitu Andika hendak memasuki sebuah pintu yang menghubungkan ruang bawah tanah dengan anak tangga, kakinya tertahan untuk melangkah lebih lanjut. Andika tertarik oleh pembicaraan dua perempuan yang usianya terpaut jauh itu. Telinganya mendengar namanya disebut-sebut.
"Pemuda yang menolongmu bernama Andika," terdengar suara Nyai Silili-lilu sayup.
"Andika? Rasanya aku pernah mendengar selentingan nama pemuda itu," susul suara Mayangseruni yang halus terdengar.
"Tentu saja kau pernah mendengarnya, 'Nduk'. Apa kau lupa kalau Andika adalah nama asli Pendekar Slebor.... Hik hik hik!"
Si nenek tertawa pada akhir kalimat. Padahal, tidak ada yang lucu untuk ditertawakan.
"Pendekar Slebor, Guru?! Jadi pendekar muda terhormat itu yang telah membantuku menawarkan racun dalam tubuhku?!"
Suara Mayangseruni terdengar meninggi. Tampaknya, gadis ini demikian terperanjat.
"Ya! Apa telingamu tuli, 'Nduk'?"
"Ya, Tuhan.... Ini benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga, Guru!"
"Eh, eh! Apa kau tahu, anak muda itu mati-matian dalam usaha menolongmu. Kupikir, kalau ada pemudayang paling cocok denganmu, ya dia orangnya!"
Andika tersenyum sendiri mendengarnya.
"Ah, Guru...!" desah Mayangseruni malu-malu.
"Eee! Bagaimana kalau dia naksir kau. Dan kau harus tahu malu pada Andika. Dia sudah mempertaruhkan nyawa demi kesembuhanmu!"
Tak terdengar tanggapan Mayangseruni. Mungkin hatinya begitu risih mendengar celoteh guru ceriwisnya yang terlalu memojokkan.
"Bayangkan saja, dia harus membiarkan dirinya disambar petir!"
"Untuk menolongku?"
"Iya! Apa kau belum tahu, racun Perusak Saraf hanya bisa dilumpuhkan dengan menyalurkan sebagian kekuatan petir ke dalam tubuhmu? Dan hanya orang yang pernah memakan buah 'inti petir' saja yang bisa melakukannya...."
"Uggg, sekarang mmm, Kang Andika di mana, Guru?"
"Weit, weit! Belum apa-apa sudah panggil-panggil 'Kang'. Mesra sekali kedengarannya.... Hik hik hik!"
"Guru kenapa terus menggodaku!"
"Kakangmu itu sekarang sedang sembunyi seperti cecurut di balik pintu itu!" tukas Nyai Silili-lilu, mengejutkan Andika.
Andika benar-benar tak menyangka kalau uwaknya mengetahuikehadirannya. Padahal, dia sudah begitu hati-hati.
"Alah, tidak usah pura-pura segala! Ayo masuk!" bentak si nenek dari dalam.
Dengan wajah merah padam, Andika terpaksa masuk juga. Perempuan bangkotan itu memang paling hebat menangkap basah seseorang!
"Nah! Inilah Pendekar Slebor, 'Nduk'! Sudah lama kau ingin kenal dengannya, bukan?" cerocos Nyai Silili- lilu, seolah hendak menelanjangi Andika di tempatnya.
Untuk pertama kalinya, Andika bisa menyaksikan pribadi Mayangseruni sesungguhnya. Tak ada lagi kesan keji pada wajah gadis ayu luar biasa ini. Mata lentiknya kini memancarkan keanggunan serta kesungkanan, sekaligus manakala bentrok dengan mata elang Andika. Hati pemuda ini terasa sejuk dibuatnya.
"Ayo! Ke sini, Anak Muda Slompret!" maki Nyai Silili-lilu semena-mena, mendapati Andika terdiam di mulut pintu masuk ruang bawah tanah.
Andika tersentak. Matanya mengerjap- ngerjap layaknya bocah kampung cacingan. Sewaktu pendekar muda itu melangkah lebih dekat ke arah dua perempuan berbeda usia yang duduk bersandingan di meja batu, Mayangseruni tampak tertunduk-tunduk. Wajah halusnya tampak bersemu merah. Nyai Silili-lilu bangkit dari meja batu. Lalu dia berjalan terbungkuk-bungkuk menuju ruang semadinya.
"Ajak anak gadisku cari angin! Terserah kalian, di luar mau berbuat apa! Mau main petak umpet, kek. Atau apa, kek! Masabodoh! Asal jangan berbuat yang macam-macam! Bisa kusunat dua kali kau Andika!" kata Nyai Silili-lilu.
Pendekar Slebor menarik napas sedalam mungkin. Untung dia hanya punya satu uwak seperti Nyai Silili-lilu. Kalau lebih sedikit saja, bisa-bisa mati berdiri.
"Heh, tunggu apa lagi?!" sentak Nyai Silili-lilu di belakang Andika.
"Ayo, gandeng tangan Mayangseruni! Ajak dia keluar! Kalian hanya membuat tempat tinggalku sumpek!"
Puas berkoar-koar, nenek pertapa itu menghilang di balik dinding ruang semadinya. Tinggal Andika dan Mayangseruni yang masih terdiam, menikmati keterpesonaan masing-masing.
* * *
"Kita akan ke mana, Kang Andika?" tanya Mayangseruni pada pemuda di sisinya.
Mereka kini berjalan beriringan. Pagi tadi, mereka baru saja pamit pada Nyai Silili-lilu. Sebenarnya, Andika tak berniat pergi bersama-sama murid tunggal uwaknya. Berhubung Nyai Silili-lilu mendesaknya terus untuk mengajak Mayangseruni, Andika akhirnya mengizinkan juga gadis itu pergi bersamanya.
Mayang sendiri memang sudah lama merindukan bisa berjalan beriringan bersama pendekar besar macam Andika. Biarpun masih agak risih, hatinya tentu saja gembira mendengar desakan gurunya pada Pendekar Slebor.
"Kang Andika...," tegur Mayangseruni. Pertanyaannya tadi belum dijawab Andika.
"Eh, apa?" gagap Andika tersadar.
"Kakang melamun, ya?" goda Mayang, sungkan-sungkan.
"Ah, tidak...! Eh, iya!"
"Melamun apa?"
Andika tersenyum kecil.
"Kau tadi tanya apa padaku?" Andika mengalihkan pembicaraan.
Merasa Andika tak mau membicarakan isi pikirannya, Mayangseruni tidak ingin memaksa.
"Aku tanya, kita akan ke mana...?" ulang Mayangseruni.
"Ooo, itu. Kita akan ke lembah Pintu Sorga dan Neraka Dunia," jawab Andika.
"Apa Kakang ada urusan di sana?" tanya Mayangseruni lagi.
Sementara kesadarannya pulih, Mayangseruni tak lagi ingat tentang tempat tersebut. Termasuk, tentang dirinya yang diperalat Pangeran Neraka. Andika maklum akan hal itu.
"Aku punya sobat baru. Dia masih hijau dalam dunia persilatan. Karena suatu hal, aku harus mengenyahkan ayahnya. Lalu, dia pun mencari pembunuh ayahnya. Ketika tahu dari pamannya kalau akulah pembunuh ayahnya, dia pun mulai memusuhiku. Aku hendak mencarinya di sana, karena khawatir terhadap kelicikan si paman," tutur Andika gamblang.
"Entah kenapa, aku sepertinya merasa pernah mendengar tentang tempat itu...," kata Mayangseruni, seperti bergumam sendiri.
Karena merasa yakin Mayangseruni sudah siap, Andika memutuskan untuk menceritakan kejadian yang telah menimpa Mayangseruni.
"Apa kau ingat dengan seorang tokoh golongan sesat berjuluk Pangeran Neraka?" pancing Andika, memulai membuka ingatan si gadis.
Beberapa ayunan langkah, gadis berparas amat mempesona itu mengingat-ingat nama yang disebutkan Andika. Kening halusnya sedikit terlipat.
"Ya, aku ingat kini...," ucap Mayangseruni kemudian.
"Sebenarnya, ada urusan apa antara kau dan lelaki itu?" tanya Andika lagi.
Kali ini, pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk memancing ingatan Mayangseruni. Andika hanya ingin tahu lebih jelas duduk persoalan antara gadis itu dengan Pangeran Neraka, hingga melibatkan diri Mayangseruni jauh ke lembah kaum sesat.
"Apa Kakang tak tahu kalau lelaki itu adalah kakak kandung Begal Ireng?" Kelopak mata teduh Mayangseruni sedikit membesar. Ditatapnya mata Andika, meminta jawaban.
"Aku baru mengetahuinya belakangan ini. Tapi, apa hubungan perkaramu dengan urusan antara aku dan Begal Ireng?" Andika balik tanya. Caranya melempar pertanyaan berkesan menyudutkan gadis berpakaian merah-merah disisinya.
Tetap dengan kesungkanan yang menyertainya, Mayangseruni akhirnya membuka satu rahasia yang selama ini disimpannya sendiri.
"Sebenarnya, aku tak ada urusan apa-apa dengan Pangeran Neraka," aku Mayangseruni.
"Tapi, kenapa kau bisa sampai terlibat jauh dengan lelaki itu?" tanya Andika, dengan alis legam bertaut rapat, pertanda mulai terbawa arus keingintahuannya.
"Sewaktu Kakang hendak menumpas gerombolan Begal Ireng, namamu jadi kesohor ke seantero penjuru angin. Aku kerap kali mendengar nama harum Kakang disebut-sebut di mana-mana. Banyak kudengar tentang diri Kakang, tentang pribadi. Juga...." Mayang tersipu.
"Juga, tentang ketampanan Kakang." Mendengar hal itu, Andika kontan terbahak.
"Lalu?" tanya Pendekar Slebor penasaran. Bibirnya masih menyisakan senyum lebar.
"Suatu hari, aku juga mendengar desas-desus kalau Pangeran Neraka hendak membantu Begal Ireng. Dia merencanakan pembunuhan licik terhadap diri Kakang. Lalu...." Anggraini kembali memenggal cerita. Ada sesuatu yang membuatnya malu mengutarakan kelanjutan cerita.
"Lalu apa? Ayo, lanjutkanlah! Aku toh, bukan siapa-siapa bagimu. Maksudku, aku toh, masih cicit kemenakan gurumu sendiri. Nyai Silili-lilu sudah mengatakannya padamu, bukan?" desak Andika, halus.
"Lalu, aku berusaha menggagalkan rencana licik Pangeran Neraka...," tambah Mayangseruni, hampir-hampir berbisik karena diusik kesungkanan.
"Apa?" mata Andika kontan membesar seperti hampir tak percaya.
"Jadi, kau bertaruh nyawa menghadapi Pangeran Neraka hanya karena ingin menyelamatkanku?!"
Anggraini tertunduk. Gadis yang berkepribadian agak pemalu itu memainkan ujung-ujung kukunya. Tak berani matanya menatap langsung mata jantan Andika. Seolah-olah, takut ada sinar mencemooh di sana. Kepala Andika menggeleng-geleng.
"Aku harus bilang apa padamu? Rupanya, kau terlalu termakan desas-desus tentang diriku. Kau tertarik padaku, sementara orangnya belum lagi kau kenal. Padahal, aku ini, ya hanya begini...," ucap Andika tanpa tedeng aling-aling.
Sifat acuhnya membuat ingatannya terlupa kalau sedang berbicara dengan gadis yang agak pemalu. Sebentar saja, Andika menyadari kebodohan ucapannya. Sambil mengumpati diri dalam hati, keningnya ditampar
gemas-gemas.
"Tapi, terus terang. Terima kasih saja, rasanya belum cukup kuberikan untukmu. Karena, kau telah begitu berani menentang Pangeran Neraka..." hatur Andika, seperti hendak meralat kesalahan ucapannya barusan.
Mayangseruni tetap diam. Pandangannya masih saja terjatuh mengawal langkah-langkah kakinya.
"Terima kasih, Mayang.... Dengan berbuat itu, berarti kau telah membantuku dalam menegakkan kebenaran!"
"Aku malu, Kang...," kata Mayangseruni, seperti berbisik.
"Kenapa harus malu dalam melaksanakan hal yang baik?"
"Aku malu karena alasanku mencoba menggagalkan rencana Pangeran Neraka, hanya karena ingin menyelamatkanmu...."
"Apa itu perbuatan dosa? Bukankah tugas kita untuk saling bahu membahu dalam kebaikan dan kebenaran?" hibur Andika kembali.
Bibir ranum Mayangseruni memperlihatkan senyum sejuk.
"Nah, begitu! Jadi, pada dasarnya kita telah lunas, bukan? Kau telah berusaha menyelamatkanku, dan aku pun telah berusaha menyelamatkanmu." tambah Pendekar Slebor seraya menggandeng bahu gadis itu. Dan seketika wajah Mayangseruni mendadak matang.
Sementara kedua anak muda itu melanjutkan langkah begitu akrab, sepasang mata terus mengawasi dari kejauhan. Mengawasi terus, dan terus. Melihat keakraban Andika dan Mayangseruni, matanya perlahan namun pasti, mulai menyimpan bara kebencian....
Anggraini. Gadis itulah yang menguntit Andika dan Mayangseruni selama ini. Api kebencian yang berhasil disulut Pangeran Neraka, makin berkobar-kobar melihat bagaimana mesranya Andika dengan Mayangseruni. Paling tidak, begitulah dalam pandangan Anggraini.
Masih teringat kalimat-kalimat yang diutarakan Bureksa, pamannya, manakala menanyakan tentang Ratu Lebah atau Mayangseruni.
"Kau tahu, perempuan itu sesungguhnya adalah kekasih Iblis Pemetik Bunga," tutur Pangeran Neraka waktu itu. Disebutnya Andika dengan julukan karangannya sendiri.
"Jangan heran kalau suatu saat nanti, kau akan melihat mereka berjalan beriringan dengan mesra. Terus terang saja Paman katakan, kau telah dikelabui mereka mentah-mentah, Anakku...."
Tentu saja Bureksa bisa menduga demikian, karena begitu tahu siapa Mayangseruni. Seorang pendekar wanita yang begitu menyanjung Andika. Setelah mendengar dari Anggraini kalau Ratu Lebah alias Mayangseruni dibawa seorang nenek ceriwis yang diyakini Bureksa sebagai gurunya, maka lelaki itu yakin, cepat atau lambat Andika akan dekat dengan Mayangseruni. Apalagi, Bureksa tahu. Hanya Andika yang bisa membantu menyembuhkan Mayangseruni dari racun miliknya.
Dapat dibayangkan, betapa liciknya tokoh sesat ini. Semua kenyataan diputarbalikkan, agar Anggraini terperangkap ke dalam tipu dayanya. Tak lagi dipedulikannya hubungan darah antara dirinya dengan Anggraini. Baginya, yang terpenting adalah mencapai tujuan yang diinginkan. Tanpa mempedulikan, apakah cara mencapai tujuan itu mengorbankan orang lain atau tidak. Tidak juga kemenakannya sendiri!
"Jika kau telah berhasil dijadikan tumbal ilmu sesat pemuda itu, maka mereka akan menertawai bangkaimu, Anggraini.... Bangkaimu!" tandas Bureksa, memberi pengulangan pada kata terakhirnya. Hal itu akan mengendap rekat-rekat di dasar benak Anggraini. Dan Bureksa tahu itu.
* * *
Lembah Pintu Sorga dan Neraka Dunia. Andika dan Mayangseruni akhirnya tiba di sana. Tanpa diketahui keduanya, Anggraini yang terpedaya mentah-mentah semua hasutan pamannya, terus mengikuti.
"Ke mana kira-kira aku harus men-cari gadis itu?" tanya Andika pada diri sendiri. Matanya mencari-cari ke segenap lembah yang berbukit-bukit.
"Jadi, sobat barumu itu wanita, ya Kang Andika?" usik Mayangseruni.
Andika hanya menjawab dengan anggukan kecil. Dia masih sibuk mengedarkan pandangan kesekitar lembah yang luas.
"Cantik, Kang?"
"Apa?"
"Apa gadis itu cantik?" ulang Mayangseruni.
"Mmm, yah.... Bisa dibilang begitu."
"Boleh tanya sedikit yang sifat-nya agak pribadi, Kang?"
Pendekar muda itu menghentikan kesibukan matanya. Sekarang sepasang mata perkasanya ditujukan langsung ke bola mata Mayangseruni yang selalu tak punya daya untuk membalas tatapan itu. Timbul semacam kerikuhan apabila mencobanya. Mata Andika terlalu menelusupkan pesona ke dalam dirinya. Itu sebabnya kepalanya menunduk.
"Tanya soal apa?" ucap Andika.
"Apa.... Kang Andika tertarik pa-da gadis itu?"
Pertanyaan Mayangseruni memaksa Andika tergelak.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Pendekar Slebor, di antara derai tawa lepasnya.
"Tidak apa-apa, Kang...," kilah Mayangseruni, seraya mengangkat bahu.
"Tak mungkin. Tak mungkin kau tak punya alasan menanyakan hal itu," sanggah Andika, main-main.
Tapi siapa nyana kalau ucapan main-main Andika, justru ditanggapi sungguh-sungguh oleh gadis itu. Pendekar Slebor melihat wajah ayu gadis itu berubah. Kedua belah pipinya bersemu merah menggemaskan.
"Ah! Sudahlah, Mayang.... Tak perlu dipersoalkan lagi. Aku memperhatikan gadis itu, karena akulah yang membuatnya kehilangan seorang ayah. Meski tak merasa berdosa, aku tetap merasa bersalah padanya. Kau paham?"
Mayangseruni mengangguk perlahan.
"Sekarang, kita harus secepatnya menemukan gadis itu. Aku tak ingin Pangeran Neraka yang licik menguasainya. Dia masih terlalu hijau untuk menyadari kebusukan dunia persilatan...," tambah Andika.
"Bagaimana kalau kita berpencar, Kang. Biar bisa lebih cepat menemukannya," usul Mayangseruni.
"Kau yakin?" tanya Andika.
Pendekar Slebor hanya agak khawatir terhadap keselamatan Mayangseruni. Namun karena Andika percaya Mayangseruni dapat menjaga dirinya sendiri, akhirnya disetujuinya. Bukankah dia pernah melihat sendiri kehebatan murid uwaknya itu, ketika bertarung melawan Anggraini? Dan kalaupun dulu pernah dipecundangi Pangeran Neraka, tentu karena lawannya memperdayai gadis itu dengan tipu muslihat licik....