Part 5
Sudah menjadi semacam cerita didunia persilatan, bahwa bila seseorang memakan buah mukjizat itu, maka akan sanggup menyerap tenaga petir ke dalam seluruh serat tubuhnya. Bahkan sekaligus dapat memanfaatkan tenaga petir itu menjadi sebentuk pukulan maha dahsyat berkekuatan geledek raksasa!
Kejadian sebenarnya, nyata-nyata bukan sekadar cerita. Andika kerap kali mengalami hal ini, setelah memakan buah 'inti petir'. Dalam saat-saat genting menghadapi musuh yang terlampau tangguh, Pendekar Slebor bisa melancarkan pukulan maut sekuat petir setelah terlebih dahulu menyerapnya dari angkasa.
Sayangnya, kehebatan itu tak selalu bisa diwujudkan, selama tak ada arakan awan hitam pekat. Dan Andika lebih suka menganggapnya sebagai suatu bukti kekuasaan Tuhan. Tanpa kehendak dan kodratNya, segala hal yang mungkin terjadi tidak mungkin. Sebaliknya, hal yang terkadang mustahil, mendadak bisa terjadi.
Saat ini, kemukjizatan buah 'inti petir' yang sudah menyatu dengan darah dan daging Andika, hendak dicoba dimanfaatkan oleh Nyai Silili-lilu demi kesembuhan murid tunggalnya. Sewaktu ditanya caranya, jawaban Nyai Silili-lilu mengejutkan Andika. Katanya, untuk bisa memulihkan simpul-simpul saraf dalam jaringan otak Mayangseruni yang terganggu, Pendekar Slebor harus mencoba menyerap sambaran petir.
Andika berpikir, itu pun gila. Kalau sebelumnya tubuhnya menyerap kekuatan petir, itu semata-mata di luar kehendaknya. Petir tiba-tiba menyambar. Dan dia merasakan penderitaan luar biasa bagai disayat-sayat sejuta kuku hewan buas.
Maka jika sekarang harus menanti disambar petir di atas sebuah bukit gundul, itu sama artinya menyiksa diri. Padahal setiap kali mengalami penyerapan kekuatan petir, Andika selalu berharap hal itu tak akan terjadi lagi padanya, untuk seumur hidupnya!
"Kalau begitu, kau bukanlah ksa-tria sejati!" rutuk Nyai Silili-lilu menerima penolakan Andika.
"Ini sama saja bunuh diri!" kilah Andika.
Bukannya Pendekar Slebor gentar, tapi hanya agak ragu. Apakah pada saat dia sengaja membiarkan dirinya disambar petir, nyawanya tetap utuh di badan? Itu berarti dirinya telah melakukan kebodohan andai benarbenar tewas. Lagi pula, sengaja menentang kekuatan alam, seperti hendak menjajal-jajal kekuasaan Tuhan. Dan dia tak mau jadi manusia durhaka!
"Kau tak perlu menganggapnya bunuh diri, Tolol! Kau harus menganggapnya usaha menolong sesama!" kilah Nyai Silili-lilu, tak mau kalah bersikeras.
"Aku tak mau menentang kekuasaan Tuhan dengan sengaja!"
"Anak bandel! Apa kau pikir Tuhan tak tahu hatimu? Dia itu mengetahui apa-apa yang dilahirkan atau disembunyikan hati manusia. Kalau niatmu ikhlas untuk menolong orang lain, tentu tindakanmu tergolong tugas suci!"
Andika diam dengan wajah terlipat. Pemuda itu duduk melengkung dibangku batu milik si nenek pertapa. Kedua tangannya menopang dagu. Melihat Andika duduk bertopang dagu seperti itu, lama kelamaan Nyai Silili-lilu menjadi sebal.
"Huh! Tak kukira aku akan punya cicit kemenakan sepengecut kau!"
Andika terusik. Telah dua kali telinganya mendengar si nenek menyebut dirinya 'cicit kemenakan'. Benar-benar mengundang keingintahuannya.
"Siapa kau ini sebenarnya, Uwak? Sudah dua kali kau menyebutku cicit kemenakan...?" tanya Andika penasaran.
"Janji dulu padaku, kau harus menolong Mayangseruni. Setelah itu, baru kau kuceritakan siapa aku sebenarnya!" elak si nenek, menuntut satu perjanjian tak tertulis.
"Baik..., baiklah!" putus Andika akhirnya.
"Tapi bukan karena aku ingin tahu siapa kau sebenarnya. Aku merenungi kata-katamu barusan. Sepertinya, ucapanmu ada benarnya, Uwak," tutur Andika jujur.
"Hik hik hik! Itu baru cicit kemenakanku!"
"Sekarang ceritakanlah?" pinta Andika.
Nyai Silili-lilu pun memulai ceritanya.
***
Dua hari berlalu sudah. Kuburan tua tempat tinggal Nyai Silili-lilu tampak lengang. Kabut pagi bergentayangan lamban. Hujan yang sejak semalam mengguyuri hebat, pagi itu tinggal tersisa rintik-rintik gerimis saja.
Dalam rinai gerimis halus, dua sosok tubuh berjalan beriringan. Salah seorang berbadan gagah dan tegap, membopong tubuh sintal seorang wanita. Disisinya, tertatih-tatih melangkah nenek tua bungkuk berpakaian ganjil. Keduanya adalah Andika dan Nyai Silili-lilu. Sedangkan wanita yang dibopong Pendekar Slebor tentu saja Mayangseruni.
Semalam, ketika hujan badai merangsek bumi keduanya membawa segera Mayangseruni kebukit terdekat. Sebuah bukit yang gundul kerontang, tanpa ada sebatang pohon menjulang. Tempat itulah yang amat tepat bagi orang yang hendak menyudahi hidup, dalam hujan menggila. Petir setiap saat akan mencari perantara ke bumi. Jika tidak ada sebatang pohon pun, maka setiap benda yang sudi berdiri tegak di sana akan menjadi sasarannya. Termasuk, manusia.
Dan tempat itu pula, sangat tepat untuk melaksanakan rencana pengobatan Mayangseruni menurut Nyai Silili-lilu. Andika pun berpikir begitu, setelah niatnya benar- benar bulat untuk meno-long si gadis malang. Maka, malam itu juga mereka berangkat. Tebing-tebing terjal yang memagari bukit tak menjadi halangan bagi kedua tokoh sakti berbeda usia itu.
Tak juga badai yang mengamuk, tak juga jurang-jurang yang siap menelan tubuh mereka. Begitu tiba di ubun-ubun bukit, Nyai Silili-lilu bergegas menjauhi Andika yang tegak menentang angkasa, serta tubuh Mayangseruni yang rebah didekatnya. Meski dalam hal kesaktian, sinenek berada beberapa tingkat ilmu atas Andika, namun tak akan sudi hangus diterjang lidah petir. Hanya orang-orang yang beruntung memakan buah 'inti petir' saja yang bisa menaklukkan gejala alam dahsyat itu.
Belum lagi tubuh bungkuk Nyai Silili-lilu mencapai jarak yang cukup jauh, sejulur lidah petir menyalak, membelah langit.
Glar!
Tubuh Andika yang menjadi ujung puncak bukit, tak ayal lagi disambarnya. Pada kejap yang berselang begitu tipis, tubuh si jejaka bergetar dan tersentak-sentak. Yang terjadi selanjutnya, siksaan tak terhingga dialami Andika. Penderitaannya lebih hebat, dibanding tubuhnya ditarik seratus ekor kuda liar. Atau lebih menyakitkan dari sayatan sejuta sembilu.
Tak ada satu benteng diri yang sanggup menahan penderitaan itu. Tak juga milik pemuda berhati baja Pendekar Slebor. Alam memang terkadang bisa ditaklukkan. Tapi, manusia tetap tak kuasa mengaturnya. Maka, mulut Andika pun melempar teriakan melengking bagai hendak menyaingi salakan guntur merobek angkasa! Tangan Andika mengejang serta membentang tinggi-tinggi ke atas. Kepalanya menengadah, seakan hendak merobek lehernya sendiri. Seluruh otot-otot di tubuhnya meregang, dialiri tegangan petir alam raksasa.
Kekokohan poros hati pemuda ini memang patut dikagumi. Meski dalam penderitaan yang bisa melempar kesadarannya, Andika ternyata mampu mempertahankan tekad untuk menolong Mayangseruni. Dia bertahan untuk tidak jatuh pingsan. Dan kesadarannya meronta-ronta, untuk segera melakukan tindakan terhadap gadis di dekat tempatnya berdiri.
Perjuangan antara hidup dan mati dimulai. Andika berusaha menahan tegangan lidah-lidah petir raksasa dalam tubuhnya, agar tak langsung terserap bumi. Sesuai nasihat Nyai Silili-lilu, Andika harus menyalurkan sebagian tenaga petir ketubuh Mayangseruni melalui keningnya.
Dalam cucuran hujan dan terpaan badai, dalam gelombang siksaan yang tak kunjung henti, dan dalam getaran tubuh, Andika perlahan-lahan menurunkan dua jari telunjuknya ke pelipis gadis itu. Begitu kedua jari telunjuk Pendekar Slebor menyentuh pelipis Mayangseruni, gelombang hebat tenaga petir raksasa dalam tubuhnya mengalir liar
menuju tubuh gadis ini.
Srrrt!
Tubuh basah kuyup Mayangseruni tersentak-sentak seperti dialami Andika sebelumnya. Dada montoknya terangkat-angkat cepat, bagai dirasuki makhluk halus buas. Pada kala itulah Pendekar Slebor harus segera memenggal aliran lidah petir raksasa yang menjadikan tubuh gadis itu sebagai perantara ke bumi. Jika tidak, Mayangseruni bukannya bisa disembuhkan. Malah, justru nyawanya akan melayang!
Namun, tindakan itu bukanlah hal yang mudah buat Andika. Tubuh halus gelombang lidah petir raksasa yang sudah mendapat perantara menuju bumi, akan sulit diputuskan manakala telanjur menemukan jalan. Untuk
itu, Andika harus mengempos seluruh kekuatan dalam setiap jengkal dirinya.
"Heeeaaakh!" teriak Andika serak mengerikan.
Di akhir teriakan, jari Andika dapat diangkat dari pelipis Mayangseruni. Berbarengan dengan itu, tubuh Pendekar Slebor terlempar jauh ke belakang terhempas tenaganya sendiri. Pemuda berhati baja itu baru bisa bangkit, setelah hujan mereda. Itu pun telah dibantu Nyai Silili-lilu dengan menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya.
"Kira-kira, kapan dia akan siuman, Uwak?" tanya Andika ketika mereka tiba di pintu masuk yang terdapat di tubuh pohon besar.
Pakaiannya tampak koyak-moyak, seperti dicabik-cabik sekawanan serigala. Wajahnya yang basah masih tampak pucat, setelah mengalami perjuangan antara hidup dan mati di atas bukit.
"Kenapa kau bertanya begitu, Bocah Slompret?" Nyai Silili-lilu malah balik bertanya. Bibirnya tersungging kecil, penuh arti.
"Apa kau sudah tak sabar ingin mengenal lebih dekat gadis yang telah kau tolong? Kau punya pamrih sewaktu berniat menolong, ya?"
Andika tentu saja tahu kalau nenek tua yang telah diketahui sebagai kakak kandung buyutnya, Pendekar Lembah Kutukan, hanya ingin bergurau.
Sewaktu melewati anak tangga batu menuju ruang bawah tanah, mata Andika memperhatikan seluruh anak tangga yang aneh menurutnya.
"Uwak! Boleh kutanya sedikit?" aju Pendekar Slebor pada si nenek.
"Ah! Kau selalu saja bertanya!" tukas Nyai Silili-lilu.
"Kenapa tangga batu ini aneh se-kali? Beberapa anak tangga diwarnai
merah. Sebagian lain kuning, dan sisanya hijau. Apa maksudnya?"
Nyai Silili-lilu berhenti pada satu anak tangga. Andika mengikuti. Jari telunjuk nenek itu lalu menotok-notok kening Andika keras-keras. Sampai- sampai, kepalanya melengak-lengak.
"Pikir..., pikir! Anak muda bebal! Sepanjang pengetahuanku, keturunanku memiliki otak yang encer!"
***
Gubuk kecil tempat kediaman Pangeran Neraka dan anteknya, Kembar Dari Tiongkok kelihatan sepi. Tak ada suara seorang pun di dalamnya. Sementara, Anggraini tiba di anak tangga masuk. Dan saat itulah Pangeran Neraka muncul bersama Kembar Dari Tiongkok.
"Anggraini!" panggil Pangeran Neraka.
Anggraini menoleh. Langkahnya untuk menaiki tangga gubuk diurungkan.
"Dari mana saja kau?" tanya Bureksa, setelah dekat.
"Kami sudah mencari-cari kau belakangan ini. Aku khawatir kalau terjadi apa-apa terhadap dirimu...."
Kata-kata Bureksa seolah penuh perhatian. Padahal dalam hatinya ada rencana busuk yang akan melibatkan kemenakannya sendiri. Itu sebabnya dia mencari-cari Anggraini.
"Aku hanya berkeliling-keliling," jawab Anggraini berbohong. Dihindarinya tatapan mata si paman berjiwa bejat, namun belum diketahuinya sampai saat itu.
"Kau tak apa-apa, bukan?" tanya Bureksa lagi.
"Kelihatannya kau murung sekali?"
"Aku tak apa-apa, Paman. Hanya lelah...."
Anggraini membalikkan tubuh, lalu mulai meniti anak tangga.
"Aku ingin istirahat dulu Paman," pamit gadis itu dengan suara tak bergairah.
Tubuh Anggraini menghilang di balik pintu gubuk beberapa saat. Setelah itu, Bureksa melirik Chia Jui dan Chia Kuo dengan pandangan licik.
"Hari ini, kita harus mematangkan rencana," desis Bureksa perlahan.
Chia Jui dan Chia Kuo mengangguk berbarengan.
"Kalian lihat pandangan gadis itu barusan? Apa kalian bisa melihat ada sesuatu yang terjadi padanya. Kuyakini, ini ada hubungannya dengan Ratu Lebah, atau Andika. Sore nanti, kalian berpura-pura hendak keluar. Aku akan mengorek keterangan dari gadis itu yang nantinya akan bisa mempermulus rencana kita...."
"Menyingkirkan Pendekar Slebor keparat!" tambah Chia Jui diiringi seringai.
"Ya!" timpal Bureksa mantap.
Lalu, ketiganya segera masuk ke dalam gubuk.
***
Tanpa terasa, sore pun tiba. Sesuai rencana Pangeran Neraka, Kembar Dari Tiongkok pamit keluar gubuk. Mereka hendak mencari bahan makanan di kotapraja. Begitu alasan mereka.
Di dalam gubuk, kini tinggal Bureksa dan Anggraini. Kepura-puraan Pangeran Neraka saat itu diumbar lagi. Dengan penuh kepalsuan, dibuatkannya teh hangat untuk Anggraini. Agar dianggap kalau dirinya menaruh rasa sayang pada kemenakan sendiri.
Benar kata Nyai Silili-lilu pada Andika beberapa waktu lalu. Bureksa memang selicik serigala dan selicin belut. Dia mampu bersandiwara dengan sempurna di hadapan Anggraini. Dalam benaknya sendiri, tak pernah ada rasa sayang pada kemenakannya. Yang ada hanya kelicikan dengan memanfaatkan Anggraini, untuk mengenyahkan Pendekar Slebor. Sebab, lelaki itu amat jeli membaca pikiran Anggraini yang ayahnya dibunuh Andika. Dendam pasti sedang bergelora dalam hati gadis itu. Begitu pikir Bureksa. Dendam itulah yang akan dipicunya, sehingga Anggraini akan mengenyahkan Andika!
"Kau perlu meminum teh hangat ini, untuk menyegarkan tubuh," kata Bureksa dengan tata krama yang manis. Diletakkannya cangkir teh di depan Anggraini.
"Terima kasih, Paman," hatur Anggraini.
Saat ini gadis itu sedang duduk menekuk lutut di lantai beralas tikar pandan. Baru saja Anggraini selesai bersemadi.
"Kau tampaknya sedang ada masalah, Anakku," kata Bureksa memulai kembali.
"Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Anggaplah aku sebagai
pengganti Ayahmu...."
Anggraini menoleh sejenak. Bibirnya menyembulkan senyum tawar. Beberapa saat, dia hanya menimbang.
"Paman benar. Aku memang sedang memiliki masalah," kata gadis itu.
"Ceritakanlah...," bujuk PangeranNeraka. Matanya berbinar-binar culas, mengetahui Anggraini mulai mau membuka mulut.
"Kau tentu tahu pemuda yang bersamaku dulu, Paman...."
"Yang berpakaian hijau itu?"
"Ya."
"Kau masih berhubungan dengan pembunuh ayahmu itu?" kata Bureksa, berpura-pura tersentak kaget.
Anggraini menggeleng.
"Aku justru menemuinya untuk menuntut balas atas kematian Ayah...," tutur Anggraini datar.
"Lalu?"
"Kurasa aku tak sanggup membunuhnya...."
"Dia memang terlampau sakti untukmu."
"Bukan itu, Paman," sergah Anggraini.
"Melainkan, aku tak bisa melakukannya. Hatiku menolak setiap kali aku berusaha membunuh pembunuh itu."
Bureksa mengangguk-angguk dengan wajah dibuat sebijak mungkin.
"Kalau kau merasa tak sanggup, kenapa tak lupakan saja dendammu padanya? Dendam itu selamanya tak baik, Anakku...," tutur Bureksa halus.
"Kalaupun aku melarangmu berhubungan dengan pemuda itu, bukan berarti menganjurkan untuk membunuhnya karena luapan dendam kesumat."
Bureksa tampaknya berusaha memancing keingintahuan Anggraini, dengan membuat tekanan kalimat. Sementara Anggraini kemudian menyeruput teh. Diletakkannya kembali cangkir tanah liat di tempatnya.
"Kenapa Paman melarangku berhubungan dengan pemuda itu?" tanya gadis itu kemudian, terpancing gaya bicara Bureksa.
Bureksa tertawa ringan. Ditariknya napas dalam-dalam, seakan begitu berat menjelaskan hal yang akan diutarakannya.
"Ayolah, Paman...," desak Anggraini, lagi-lagi terpancing sikap Bureksa.
"Kularang kau mencintai pemuda itu, bukan karena telah membunuh adik kandungku, ayahmu. Aku tidak sepicik itu, Anggraini. Sebabnya karena...." Sengaja Bureksa memenggal kalimat.
"Katakan saja, Paman!"
"Kau yakin siap mendengarnya?"
Angraini mengangguk, meski agak ragu.
"Kau tak akan kecewa?"
Kini kepala gadis itu menggeleng lamban.
"Baiklah...," desah Bureksa, langsung diam sesaat.
"Sebenarnya, pemuda itu adalah seorang hidung belang. Didunia persilatan, dia dikenal sebagai Iblis Pemetik Bunga. Banyak gadis yang sudah menjadi korbannya. Setiap gadis akan mengalami kematian mengenaskan, setelah digauli pemuda itu. Dia memiliki ilmu yang menuntut tumbal kehormatan gadis suci seperti kau. Setiap kali seorang gadis dikorbankan, ilmunya bertambah beberapa tingkat...," papar Pangeran Neraka dengan sandiwaranya yang sempurna.
Selesai mendengar penuturan Bureksa, mata Anggraini berkaca-kaca. Tampak tersirat rasa kegeraman di sana. Giginya terdengar bergeletuk dihantam kekecewaan mendalam.
"Pantas saja dia tak segera membunuhku, sementara mengetahui aku hendak menuntut balas padanya. Rupanya, pemuda keparat itu ingin menjadikan aku tumbal ilmu iblisnya!"
Pak!