Part 4
Karena tak ingin dianggap kurang ajar, Andika akhirnya melepaskan juga kuncian itu. Kalau lebih lama, akan menjadi kian risih. Selagi melepas kuncian, pendekar muda kesohor itu melenting ringan kebelakang, untuk mengambil jarak. Ia berniat membujuk Anggraini sekali lagi.
"Anggraini, sabar.... Mestinya kau berpikir, kenapa aku tidak membunuhmu selagi aku tahu, kau akan menuntut balas terhadap kematian ayahmu," jelas Andika dengan tangan terangkat ke depan, mencoba menyabarkan Anggraini.
Sembilan tombak dari tempatnya, Anggraini mulai maju selangkah demi selangkah. Matanya menusuk lurus, amat mengancam. Sementara tangannya bergerak- gerak memainkan kembangan jurus yang pernah diajarkan ibunya.
"Aku pernah berpikir seperti itu," geram Anggraini.
"Lalu?" tanya Andika tersurut-surut, seperti tikus selokan tertangkap basah oleh kucing betina.
"Aku tak peduli pada hal itu la-gi!"
"Itu artinya kau tak mau mendengar suara hatimu, Anggraini. Sadarlah. Apakah kau tak tahu, suara hati kerap kali membawa kebenaran?"
"Kukatakan sekali lagi, aku tak peduli!"
"O, Tuhan...," keluh Andika.
Kepala Pendekar Slebor menengadah ke angkasa.
"Apa duniaMu ini sudah terbalik? Mengapa orang yang ingin menegakkan
kebenaran seperti diri hamba harus dituding bagai orang hukuman?" bisik Pendekar Slebor, seperti menggugat.
Sang Maha Tunggal pasti mendengar keluh Andika. Tapi apa Anggraini sudi mendengarkan juga? Tidak! gadis itu menerkam Pendekar Slebor manakala jarak mereka tinggal empat tombak lagi.
"Hiaaah!"
Sepuluh jari indah gadis itu seketika menegang, memperlihatkan kesan kebengisan. Setelah bersalto, tubuhnya meluruk di udara dengan sepasang tangan mencabik udara.
Srah! Srah! Srah!
Tiba di dekat Andika, cabikan tangan Anggraini yang hanya dimaksudkan untuk mengumpulkan tenaga ketelapak tangan, mengembang lebar dan mengepak indah bagai sepasang sayap kupu-kupu. Angin besar tercipta dari kepakannya, pertanda kekuatan yang tersimpan pada serangan tak bisa dianggap main-main. Kupu-kupu Merah, Ibunya, memang telah mewariskan ilmu 'Kepakan Sang Kupu-kupu' yang dahsyat kepada anak tunggalnya!
Tindakan Anggraini tersebut me-maksa Andika mengeluarkan pula satu jurus yang cukup diandalkan. 'Guntur Selaksa'!
"Heaaa!"
Deb! Deb! Deb!
* * *
Wajar saja kalau Andika terheran-heran terhadap si nenek pertapa, guru Ratu Lebah yang sebenarnya bernama Nyai Silili-lilu. Satu nama aneh yang entah didapat dari mana. Dia adalah seorang pertapa berusia amat uzur. Bahkan untuk ukuran seorang nenek sekalipun. Dia telah hidup lebih dari tiga keturunan. Dunia persilatan sudah menganggapnya sebagai siluman perempuan, karena tabiatnya sulit dipahami dengan kesaktian yang demikian tinggi.
Nyai Silili-lilu kini kembali ketempat persembunyiannya. Seperti biasa, dia masuk ke dalam satu wilayah pemakaman tua. Melalui pintu rahasia pada pohon besar di tengah kuburan, perempuan tua itu masuk ke ruang bawah tanah. Dan akhirnya si nenek pertapa tiba di ruangan, tempat tubuh Mayangseruni atau Ratu Lebah terbaring.
Kini si nenek menghampiri satu sudut ruangan, tempat penyimpanan segala perabotannya. Beberapa saat, diaduk-aduknya barang-barang yang sudah bagai tumpukan loak itu. Seisi ruangan jadi bising tak karuan. Kalau saja ada orang yang melihat, tentu orang itu akan bingung. Sebenarnya, si nenek sedang mencari sesuatu atau sedang uring-uringan?
Gedumbrang... gedumbreng! Prak!
Cit, cit, cit!
Seekor tikus kurus lari terbirit-birit, ketika tangan luput si nenek menggapai satu baki rombeng dari tuang laut.
"Selalu saja kau susah ditemukan kalau sedang dibutuhkan! Dasar baki kentut!" maki perempuan tua ini, sebal.
Tertatih-tatih, Nyai Silili-lilu membawa baki yang disebutnya sebagai Baki Penerawang itu ke sebuah meja, setelah sebelumnya diisi air dari gentong di satu sudut. Tak cuma baki yang menempati meja. Tubuh kurusnya pun ambil bagian di atas meja batu.
Kini Nyai Silili-lilu bersila tepat di depan baki. Baki dan pemiliknya sudah mirip penghias meja. Mata Nyai Silili-lilu terpejam. Tangannya menyentuh sisi kening.
"Nyam..., nyammm.... Khoekchuih!" perempuan tua itu memulai mantera-manteranya.
“Dal del dol perkedel nonjol... Pak tani ketiban papan.... Matinya jam delapan.... Kuburnya tahun depan.... Ngik! Nyam... nyam"
Dari balik rompi kulit pohonnya, perlahan-lahan tangan Nyai Silili- lilu mengeluarkan selembar kecil sobekan kain berwarna hijau muda dari sobekan baju Andika. Sengaja sobekan kain itu disembunyikan, sewaktu Andika sedang mandi di sungai kecil beberapa waktu yang lalu,
Dengan lemah gemulai, sobekan kain bau apek itu dilemparkan ke dalam baki berisi air hingga menjadi basah. Beberapa saat mengapung, lalu tenggelam ke dasar baki. Kelopak mata Nyai Silili-lilu pun menyusul membuka. Cukup lama matanya melirik-lirik ke seluruh bagian baki. Alisnya yang putih sampai-sampai melengkung hebat. Sesuatu yang diharapkannya belum juga muncul.
Perempuan tua ini mulai mangkel. Bibirnya maju mundur tak teratur, lebih jelek dari-pada mulut mujair.
"Baki slomprettt! Jangan cobacoba mogok kerja, ya?!" maki Nyai Silili-lilu dengan segenap semburan liur.
Setelah dimaki, terjadi perubahan pada baki. Dan wajah keriput sinenek pun ikut berubah. Cerah ceria, gemah ripah dan sebagainya....
"Mmm emmm emmm...," gumam Nyai Silili-lilu sambil mengangguk-angguk kepala berirama.
"Ya ya ya. Sudah kuduga sebelumnya. Anak muda itu memang masih ada hubungan denganku. Dia itu cucunya si Sapta Cakra buduk, adikku yang ileran sewaktu masih kecil. Iik hik hik! Her... iler...."
Inilah satu tabir rahasia yang sampai saat ini belum terbuka untuk Pendekar Slebor. Sesungguhnya, Nyai Silili-lilu kakak perempuan dari Ki Saptacakra, buyut Andika sendiri. Seperti juga Ki Saptacakra yang lebih dikenal sebagai Pendekar Lembah Kutukan, Nyai Silili-lilu juga sudah menjadi cerita rakyat.
Jika nama Pendekar Lembah Kutukan besar karena ksatriaannya, maka Nyai Silili-lilu besar karena sifatnya yang ganjil. Namun begitu, tetap ada satu kejelasan kalau perempuan tua itu tak akan pernah sudi memihak pada golongan sesat. Meski, tak juga memerangi kalau benar-benar tak terpaksa. Dengan begitu, orang sering juga menyebutnya si Nenek pertapa rendah hati. Karena, dianggap tak mau memamerkan kesaktiannya.
Nyai Silili-lilu kini menepuk-nepuk dengkul sebentar. Lalu mulai bergumam lagi. Suara gumamannya terdengar seperti orang berkumur.
"E e e! Rupanya dia juga pernah makan buah 'inti petir'! Wih! Rakus juga anak muda itu, ya? Dan... lho? kok gambarnya hilang?!" sentak Nyai Silili-lilu.
Matanya terbelalak, mulai mau mengamuk lagi dia. Sebelum semburan mulutnya terjadi, bayangan di baki muncul lagi.
"Lho? Anak muda ini sedang bertempur dengan kawan wanitanya. Kok, bisa begitu ya? Wah! Mesti cepat-cepat kulerai. Kalau tidak, bisa ada yang celaka....'
Nyai Silili-lilu bergegas bangkit dari meja batunya
Gedumprang!
Nyai Silili-lilu tiba di tempat pertempuran, saat sepasang anak muda itu sedang terlibat pertukaran jurus hebat. Debu menyelimuti arena pertempuran, Kehebatan tenaga dalam yang di-miliki masing-masing menciptakan gulungan debu tinggi serta pusaran angin yang menghempas batuan ke mana-mana saat terjadi benturan. Sebagian padang tanaman bunga matahari pur sudah tak jelas lagi bentuknya.
"Boleh juga ilmu mereka," puji Nyai Silili-lilu.
Nenek itu berdiri cukup jauh. Jarak yang cukup untuk bisa menikmati pertempuran.
"Iya, ya. Kalau cepat-cepat kulerai, aku bisa kehilangan tontonan seru," gumam Nyai Silili-lilu.
"Lebih asyik kalau. kunikmati dulu dua muda-mudi itu baku hantam. Setelah mereka mulai tak terkendali, baru kulerai. Hik hik hik! Gagasan yang bagus!"
Maka, Nyai Silili-lilu yang semula hendak melerai Andika dan Anggraini, sekarang malah duduk santai mengguncang-uncang kaki dibawah serumpun bambu kuning. Tingkahnya yang sudah berlipat seperti gombal, mencoba bersiul. Yang dihasilkan malah suara sember seperti kaleng rombeng ditiup angin!
"Hiaaa!"
Des! Deb! Deb!
Biar bagaimanapun, Pendekar Slebor tetap berada atas angin. Sekian puluh jurus tangguh dikerahkan Anggraini, tetap tidak bisa menjatuhkannya. Bahkan untuk sekadar membuat terdesak sekalipun.
Jurus-jurus ciptaan Andika di Lembah Kutukan memang bukanlah tandingan gadis yang masih hijau di dunia persilatan ini. Kalaupun Anggraini telah mengeluarkan beberapa tingkat ilmu Kekuatan Kembarnya, tetap tak menjamin bisa mengungguli Andika.
Setiap kali telapak tangan Anggraini melepas pukulan 'Kekuatan Kembar', Pendekar Slebor meredamnya dengan selubung kekuatan sakti warisan Ki Saptacakra yang sanggup menahan gempuran petir!
Sampai satu ketika....
Tap!
Kecepatan tangan Andika yang sering membuat Warga persilatan kagum, mencekal pergelangan tangan gadis itu. Sekali terkena, tangan Pendekar Slebor langsung lekat bagai bertemunya dua besi sembrani. Dalam serangkai gerakan yang sulit diikuti mata wam, Andika langsung memutar tubuh Anggraini hingga membelakangi. Pada jarak berhimpitan itu, sebelah tangan Andika lain dengan tangkas meraih pinggang gadis itu dari belakang.
Tap!
Pendekar Slebor pun langsung mengunci tubuh Anggraini dalam pelukannya. Gadis itu berusaha meronta sepenuh tenaga. Tapi tetap tak berhasil melepaskan diri. Tentu saja, tenaga Pendekar Slebor jauh lebih unggul darinya.
"Lepaskan aku, Pengecut! Apa kau hanya bisa berbuat seperti ini?!" maki Anggraini dalam rontaannyayang sia-sia.
"Kalau kau terus meronta, aku akan terus mendekapmu," kata Andika, tepat di belakang telinga Anggraini.
Kata-katanya diucapkan tanpa amarah dan berkesan dalam. Ternyata tak sekadar telinga Anggraini yang menangkap kalimat Andika barusan. Hati wanitanya pun menangkapnya. Ada getaran yang tercipta di dada gadis ini. Gemuruh yang sejuk.
Maka perlahan-lahan tenaga rontaannya memupus, lalu hilang sama sekali. Anggraini tergugu dalam dekapan tangan kekar pemuda yang menitipkan cinta pertama baginya. Di antara tarikan napas Anggraini
yang masih terhela, Andika mendekatkan mulutnya.
"Kau bisa memusuhiku. Bahkan kau bisa membunuhku. Tapi asal kau tahu, aku tak akan mungkin membunuh dan memusuhimu...," bisik Andika.
Anggraini bisa menikmati selenting rasa damai dalam kalimat Andika. Dan itu membuatnya seperti makin tertawan dalam sangkar cinta yang mendadak menyembul, manakala tak berdaya di dada bidang sang jejaka.
"Kau tahu sebabnya? Karena kau tak pantas mendapatkan sikap permusuhanku. Kau gadis yang berhati pualam. Rasa sayangmu terhadap orang tua, membuktikannya. Jadi, kau tak bisa memaksaku memusuhimu," desah Andika, seraya mengendurkan cekalannya pada tangan Anggraini.
Dengan hati-hati pula, Andika melepas pelukan sebelah tangannya pada pinggang Anggraini. Kakinya lantas mundur beberapa langkah, membiarkan Anggraini terpaku merenungi kata-kata tadi. Tak lama kemudian, bahu gadis itu tampak berguncang-guncang kecil. Kepalanya merunduk. Sementara, sebelah tangannya menutup bibir.
"Anggraini!" panggil Andika, ketika gadis menawan berlari membawa isak tertahannya.
Plok! Plok! Plok...!
"Weleh..weleh..weleh! Sebuah adegan yang mengharukan," ceracau Nyai Silili-lilu sepeninggalan Anggraini.
Dihampirinya Andika. Sementara pemuda itu masih terpaku menatap hilangnya Anggraini di kejauhan.
"Heh, sudah jangan sedih! Nanti! Uwak belikan gasing dari kulit jengkol...," tegur Nyai Silili-lilu, sambil menepuk pundak Andika.
Mendengar seloroh si nenek, Andika menoleh Meski dengan kalimat menggoda, Andika tahu ucapan Nyai Silili-lilu ditujukan untuk menghibur kegalauan hatinya terhadap sikap Anggraini.
"Kau lagi, Nek. Ada perlu apa lagi?" tanya Andika.
Tak seperti sebelumnya, kali ini pendekar muda itu bersikap lebih ramah.
"Aku butuh pertolonganmu," kata Nyai Silili-lilu singkat. Lalu tanpa banyak mulut, tangan Andika langsung ditariknya.
"Mau ke mana kita, Nek?"
"Nanti juga kau tahu!"
"Asal jangan dibawa ke neraka saja...."
"Kalau banyak tanya, kau bakal sampai ke neraka!”
Andika meringis ngeri.
* * *
Pendekar Slebor begitu terbawa pesona, menatapi sosok yang terbaring di depannya. Berkelopak mata lembut, diperindah sebaris bulu lentik nan legam. Matanya terkatup. Di bawah sepasang mata berbulu lentik, mencuat hidung tipis dan bangir. Sisi-sisi pangkalnya mempertegas cekung kelopak mata, mempersarat kesan menggoda. Di bawah cuping hidung yang melancip, ada terbentang bibir merah menggemaskan. Bagian atasnya tipis, sedang bagian bawahnya merekah. Dalam keadaan setengah terbuka, bibir itu seperti mengundang birahi setiap pria. Semuanya ada dalam sebentuk wajah bulat telur, dipermanis kulit kuning langsat bercahaya.
Sosok itu diam dalam kedamaian yang dimilikinya. Dalam kedamaian, dia seperti terbebas dari sebuah belenggu.
"Dhuarrr...!"
Andika kontan tersentak dari keterpesonaannya terhadap wajah Mayangseruni yang masih tak sadarkan diri. Sementara itu, Nyai Silili-lilu berada di belakangnya. Tampak cengar-cengir, memergoki Andika yang tadi tengah menikmati mana karya Tuhan yang terbentang diam di meja batu.
"Suaramu masih lumayan keras untuk membuat copot jantungku, Nek," seloroh Andika, berusaha berkelit dari tatapan mata Nyai Silili-lilu yang menggoda.
"Tertangkap basah?" cecar Nyai Silili-lilu.
"Iya, Nek. He he he," sahut Andika, mati kutu.
"Apa kubilang. Kau akan terpesona setelah memperhatikan muridku...," tukas nenek pertapa itu seraya membenahi perabotannya yang lupa dibereskan.
"Aku tak mengira wanita yang kejam bisa memancarkan kedamaian dalam ketidak sadarannya," kata Andika agak bergumam.
"Slompret kau! Dia bukannya gadis jahat! Jangan coba-coba lagi kau sebut dia begitu!" hardik Nyai Silili-lilu gemas.
"Tapi..."
"Ya..., ya! Kau akan mengatakan tentang tindak-tanduknya di lembah Pintu Sorga dan Neraka Dunia, bukan?" serobot Nyai Silili-lilu sambil terus sibuk meletakkan barang-barangnya ketempat semula.
"Sebenarnya, itu bukan sifat asli Mayangseruni, Anak Muda. Dia berubah sifat, karena terkena racun 'Perusak Saraf milik Bureksa!"
"Bureksa?" tanya Andika. Jangankan nama Bureksa, julukan lelaki itu pun Andika belum tahu.
"Itu, lho.... Pangeran Neraka," tambah Nyai Silili-lilu, menegaskan.
"Pangeran Neraka?"
Mata perempuan tua itu memelototi Andika.
"Kau ini bagaimana? Malang melintang di dunia persilatan, tapi belum tahu kalau musuh yang telah kau tumpas punya seorang kakak lelaki. Maksudku, si Bureksa itu adalah kakaknya Begal Ireng, Tolol!" dengus Nyai Silili-lilu.
Andika tak memberi tanggapan apa-apa. Pemuda itu diam dengan kelopak mata menyipit. Ada sesuatu yang dipikirkannya, setelah mendengar penjelasan Nyai Silili-lilu.
"Pantas saja Anggraini cepat tahu kalau aku adalah pembunuh ayahnya," gumam pemuda berambut gondrong ini.
"Pasti, lelaki itu yang telah memberitahu. Dia pula tentu yang menghasut-hasut Anggraini, dengan memutarbalikkan kenyataan sebenarnya.... Li-cik!"
"Betul!" sambut perempuan tua ini seraya menuding telunjuk di depan wajah Andika.
"Lelaki slompret itu memang licik! Cepat atau lambat, kau pasti akan menghadapinya juga. Untuk itu, aku peringati. Hati-hati terhadap Bureksa! Dia selicik serigala dan selicin belut!"
Kepala Andika mengangguk-angguk.
"Bagus! Sekarang kau harus membantuku menolong anak gadisku yang malang ini," ujar Nyai Silili-lilu.
Segera perempuan tua itu mendekati meja batu tempat Mayangseruni tergeletak.
"Oh, iya! Ada satu hal lagi, sebelum kita berusaha menolong anak gadisku. Kau harus memanggilku 'Uwak'!" sambung si nenek, sama sekali membuat Andika tak mengerti.
"Kenapa aku harus memanggilmu 'Uwak'?" tanya Andika.
"Karena kau adalah cicit kemenakanku..."
"Maksudmu bagaimana, Nek?"
"Uwak!"
"Eh, iya! Maksudmu bagaimana..., Uwak?"
"Aaah, slompret kau! Sudah kubilang jangan banyak tanya! Telingaku sudah terlalu tua untuk menerima pertanyaanmu yang tak habis-habisnya!"
Andika hanya bisa menggaruk-garuk kepala, meski tak gatal. Untuk menyembuhkan Mayangseruni, memang dibutuhkan bantuan seseorang yang sudah pernah memakan buah 'inti petir'. Salah seorang yang beruntung
memakan buah langka itu adalah Andika. Ki Saptacakra telah memberi buah itu, ketika Andika menyelesaikan penyempurnaannya di Lembah Kutukan.