Part 3
Cukup lama Anggraini menatap sinenek. Matanya sebentar-sebentar melempar bara panas ke arah Andika. Meski begitu, ada sesuatu yang lain ditangkap mata Andika. Pancaran mata yang menyeruak di antara kebencian, yang berasal dari hati terdalamnya. Ya! Andika menangkap rasa cinta di antara sinar kebencian pada pandangan mata Anggraini!
"Baiklah kalau begitu," putus Angraini.
"Bisakah kau menjelaskan padaku duduk permasalahannya? Terus terangsaja, aku sama sekali tidak mengenalimu."
Kata-kata Anggraini tetap mempertahankan kesopanan pada perempuan tua di depannya.
"Kau ingat pertempuran dengan Ratu Lebah?" tanya si nenek.
Anggraini mengangguk.
"Orang yang melarikan Ratu Lebah adalah aku. Ada lagi yang perlu kau tahu, aku adalah guru perempuan itu...," papar si nenek tegas dan mantap. Kalau bisa busungkan dada, tentu dia akan membusung. Sayang, punggungnya sudah bungkuk.
"Ya! Sekarang aku paham," lanjut Anggraini.
"Nah, bagus!"
"Lalu, apa maumu denganku, Nek?" tanya Anggraini.
"Lho? Katanya paham? Bagaimana ini?" si nenek menggerutu seraya menoleh pada Andika. Andika membalasnya dengan mengangkat bahu.
"Begini," lanjut si nenek memulai lagi.
"Aku mau meminta pertanggung jawabanmu...."
"Kau tak bisa semena-mena begitu, Nek,", selak Andika.
"Dalam hal ini, muridmulah yang bersalah...."
"Diammm! Aku tak perlu pendapatmu!" bentak si nenek geram sekali. Bibirnya sampai terpuntir-puntir sewaktu membentak.
"Sudahlah, Nek," putus Anggraini.
"Menurutku, aku tak perlu mempertanggung jawabkan tindakanku terhadap muridmu...."
"Apa?!" mata si nenek mendelik besar-besar.
"Kau ingin menyangkal perbuatanmu?!"
"Aku tidak menyangkal. Kuakui, aku memang telah melukai muridmu. Tapi kalau kau katakan bersalah, jelas aku tak akan mengakuinya...."
"Eee! Anak gadis slompret! Nih, kuberi sedikit pelajaran, biar kau tahu adat!"
Tangan keriput perempuan pertapa itu meraih daun-daun kering penutup auratnya. Dalam sekerdipan mata saja, si nenek bisa sekaligus melemparkan dedaunan kering ke arah Anggraini.
Wes! Wes! Wes!
Beberapa lembar daun berwarna coklat berkelebat deras, dan nyaris tak tertangkap mata Andika dan Anggraini. Mata Andika yang terlatih untuk bersiaga pada setiap sambaran lidah petir di Lembah Kutukan, sempat melihat kehebatan lain pada kelebatan daun-daun yang dilempar si nenek. Masing- masing daun, ternyata telah diisi tenaga dorong menyamping. Pada saat meluncur, daun yang satu dengan daun yang lain akan saling mendorong. Sehingga, dapat bergerak mengembang untuk mengurung seluruh ruang gerak Anggraini bila menghindar. Jika gadis itu mencoba menghindar, maka malah akan terkena sambaran salah satu daun.
"Jangan menghindar!" seru Andika, secepat kelebatan dedaunan yang dilempar si nenek.
Sayang, peringatan Andika terlambat. Anggraini dengan amat sigap telah lebih dahulu bergerak menghindar. Akibatnya....
Des!
Daun yang ringan itu kontan melabrak tubuh Anggraini bagai palu raksasa sebesar kerbau. Kontan saja tubuh gadis itu melayang deras ke belakang, seolah-olah bobotnya tak lebih berat dari daun yang menghajarnya.
Grusak!
Setelah melayang hampir sepuluh tombak, Anggraini jatuh menimpa gerombolan bunga matahari.
"Kau sudah sinting, Nenek Moyang Gendoruwo!" maki Andika murka, menyaksikan kesewenang-wenangan si nenek didepan matanya.
"Eee! Memaki orang tua, ya?! Mau kualat kau?!" Salak sinenek tak ambil pusing dengan kegusaran pemuda berambut gondrong itu.
"Kau tak pantaskuhormati! Kau lebih pantas kuhajar!" cecar Andika lagi.
Beriring makiannya, Andika menghentak pergelangan tangan yang masih digenggam si nenek. Tak lepas! Padahal, si nenek tak tampak sungguh-sungguh mencekalnya. Andika mencoba lagi. Kali ini disertai penyaluran kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan sampai tingkat kedelapan. Tapi tetap tak bisa! Cekalan tangan si nenek hanya tersentak sedikit, tanpa terlepas dari pergelangan tangan Andika.
"Ayo! Kerahkan tenaga saktimu sampai tingkat kesembilan belas!" leceh si nenek, memanas-manasi.
Begitu mendengar penuturan perempuan tua yang mencekalnya, Andika kontan terdiam.
"Tingkat kesembilan belas, katanya?" bisik hati Andika.
"Bagaimana dia bisa tahu kalau tenaga sakti warisan buyutku mencapai kekuatan pamungkas pada tingkat kesembilan belas?"
"Wah! Masih muda sudah sering linglung! Hik hik hik!"
* * *
Sementara itu Pangeran Neraka tengah mengadakan pembicaraan rahasia dengan dua sekutu barunya, Kembar Dari Tiongkok. Di sebuah pondok di kaki bukit Neraka Dunia, ketiganya ber-kumpul.
"Aku tak mengerti, kenapa Mayangseruni tiba-tiba menghilang tanpa terlebih dahulu meminta izin padaku?" kata Pangeran Neraka, membuka percakapan.
Lelaki berkulit cacat itu berjalan hilir mudik dalam ruangan. Tangannya terlipat di depan dada.
"Sebelum menghilang, apa ada kejadian ditempat kita ini, Ketua?" tanya Chia Jui yang bersila bersebelahan dengan saudara kembarnya, Chia Kuo.
Dua lelaki Cina itu memang telah mengangkat Pangeran Neraka sebagai 'ketua'. Di samping karena tingkat ilmu Pangeran Neraka lebih tinggi, mereka juga membutuhkan pelindung. Paling tidak bisa membantu mereka jika suatu hari harus berhadapan dengan orang-orang kerajaan yang hendak mereka tumbangkan dulu hersama Begal Ireng. Khususnya, jika harus berhadapan dengan seseorang yang begitu mereka taku-ti.... Pendekar Slebor.
"Ya! Memang telah terjadi sesuatu, sebelum Mayangseruni menghilang," gumam Bureksa alias Pangeran Neraka. Sekali lagi, disebutkannya nama asli Ratu Lebah.
Chia Jui dan Chia Kuo menunggu uraian Bureksa lebih lanjut.
"Menurut keterangan kemenakanku yang bernama Anggraini, Mayangseruni bertempur dengannya. Dan... ah! Baru aku ingat sekarang! Anggraini juga bercerita kalau ada seseorang melarikan Mayangseruni, ketika Anggraini berhasil melukainya!" cetus Bureksa.
"Kira-kira, berada di pihak mana orang yang telah melarikan Mayangseruni?" tanya Chia Kuo.
Pertanyaan itu wajar saja diajukannya. Dia maupun saudara kembarnya memang khawatir jika ada orang lain yang berdiri di pihak lawan. Malah, kesempatan mereka untuk mencari perlindungan di bawah ketiak Pangeran Neraka, menjadi semakin tak bisa diharapkan. Sebaliknya, jika ada orang lain yang memihak mereka, tentu dengan begitu akan lebih banyak memiliki kesempatan lolos dari tangan pihak kerajaan.
"Aku masih belum bisa memastikan. Yang jelas, orang itu memiliki kepandaian sulit diukur. Begitu menurut Anggraini yang sempat melihat cara orang itu melarikan Mayangseruni," jawab Bureksa gamang, karena merasa kehilangan seorang kaki tangan setangguh Ratu Lebah.
Chia Kuo dan Chia Jui tak suka mendengarnya. Mungkinkah dengan begitu mereka akan digerayangi rasa was was, karena belum bisa mengetahui orang itu berada di pihak mana?
"Bagaimana dengan rencanamu membalas hutang nyawa Begal Ireng?" tanya Chia Jui kemudian.
Pangeran Neraka mengambil tempat duduk didepan lelaki gundul kembar itu. Pembicaraan makin sungguh-sungguh baginya, jika sudah membahas soal rencana balas dendam terhadap Pendekar Slebor.
"Justru itu yang hendak kubicarakan pada kalian. Aku punya rencana cemerlang untuk mengirim pemuda itu ke neraka! Hu hu hu!" Bureksa mengekori kalimatnya dengan tawa anehnya.
Kembar Dari Tiongkok langsung menampakkan wajah penasaran mendengar penuturan Pangeran Neraka. Mata keduanya pun tampak berbinar-binar penuh luap. Dengan membantu membalaskan dendam Bureksa, mereka bisa sekaligus memetik keuntungan. Selamat dari buruan Pendekar Slebor! Dan hal itu memang yang amat diharapkan.
"Kalian tahu," kata Pangeran Neraka, seraya mengangsurkan wajah kedekat Kembar Dari Tiongkok. Cara bicaranya penuh tekanan, memancing keingintahuan Kembar Dari Tiongkok.
"Pendekar keparat itu akan mati, tanpa aku mesti turun tangan sedikit pun!" Chia Jui dan Chia Kuo menatap sungguh-sungguh mata Bureksa. Kelopak mata mereka tak berkedip. Jangan tanya, bagaimana rasa penasaran mereka.
"Bagaimana cara kau melakukan itu, Ketua?!" ujar! Chia Jui tak sabar menanti penuturan Bureksa selanjutnya.
"Huhuhu!"
Bureksa melempar tawa khasnya kesegenap ruangan, hingga memadati pondok kecil itu. Alis matanya yang tebal dan lebat diungkit-ungkit.
"Kalian tunggu saja hari kematian anak sial itu!" bisik Bureksa, mendesis.
* * *
Apa yang sebenarnya dialami Anggraini setelah terhajar daun yang dilempar nenek pertapa? Andika tidak tahu jawabannya. Sejauh yang diketahuinya, Anggraini terpental jauh, lalu jatuh menyeruak gerombolan bunga matahari. Dan sampai sejauh itu, pemuda urakan ini tak habis fikir, siapa sesungguhnya nenek aneh itu. Sewaktu bertemu untuk yang kedua kalinya didekat sungai kecil, perempuan tua itu meninggalkannya begitu saja. Padahal, Andika mengira akan dilabrak atas luka-luka yang diderita Ratu Lebah. Lalu pada waktu yang bersamaan ini, si nenek dengan telengas melabrak Anggraini. Sekaligus, membuat suatu kejutan dengan mengetahui tingkat pamungkas tenaga sakti Andika.
"Katakan padaku! Siapa kau sebenarnya, Nenek jelek?!" maki Andika, usai terbebas dari ketertegunannya.
"Jangan sebut-sebut aku nenek jelek! Kalau tak salah, di antara nenek-nenek, akulah yang paling cantik! Hik hik hik!"
"Kau tak lebih dari tukang sihir kampung! Aku tak akan takut menghadapimu, meski ilmumu jauh lebih tinggi dariku. Bagiku, mengadu jiwa dengan manusia-manusia zalim adalah kehormatan!"
"Hush! Hush! Jangan terus sewot begitu! Yang zalimitu siapa, Pemuda Tolol?!" dalih si nenek seraya mengacung-acungkan jari.
"Kau telah berlaku keji pada gadis itu!" bentak Andika lagi. Jarinya menunjuk ke arah Anggraini terjerembab.
Gadis itu belum tampak muncul dari gerombolan pohon bunga matahari yang jangkung.
"Kau yakin aku telah berbuat keji pada gadis ayu tadi?" kelit si nenek tenang.
Andika tak melanjutkan caci makinya. Matanya yang mulai memerah karena marah, menatap si nenek lurus-lurus.
"Jangan main-main padaku, Nenek Jelek! Apa maksud perkataanmu?" tanya Andika, masih dengan nada tinggi.
"Dasar anak muda! Selalu saja terburu nafsu dalam segala hal. Hik hik hik! Coba sana, kau lihat ke tempat gadis ayu tadi jatuh," ujar sinenek.
Pemuda pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan itu ragu-ragu melirik tempat jatuhnya Anggraini. Ajaib! Saat itu, si gadis berpakaian merah-merah muncul tanpa luka sedikit pun. Anggraini tampak sedang mengebut-ngebutkan pakaian dari dedaunan pohon bunga matahari yang menempel.
"Nah, kan.... Kubilang juga apa...," seloroh si nenek penuh kemenangan.
"Sudah, ya! Aku akan pergi dulu! Urusanku dengan kalian sudah beres. Menurutku, kalian anak muda yang jujur...."
Si nenek pun berkelebat dan hilang. Sepeninggalannya, Andika menggaruk- garuk kepala. Ingin rasanya dia menganggap semua kejadian dengan sinenek hanya mimpi. Semuanya begitu membingungkan!
"Jadi hanya begitu saja?" gumam Andika, seperti orang bodoh.
"Aku punya urusan yang belum terselesaikan denganmu, Andika!" sentak Anggraini, mengejutkan pemuda itu.
Gadis berambut panjang itu sudah berdiri empat tombak di depannya. Sikapnya begitu kaku, sarat ancaman.
"Ada apa lagi ini?" tanya Andika, melihat sikap tak bersahabat Anggraini.
"Aku ingin menuntut hutang nyawa!"
Pandangan Andika terjatuh.
"Sudah kuduga, akhirnya kau akan tahu juga...," desah Pendekar Slebor.
"Kuakui, memang aku telah ......membunuh Begal Ireng, ayahmu. Tapi..."
"Aku tak butuh alasanmu!" penggal Anggraini dengan wajah merah penuh kemarahan.
"Kau harus dengar aku dulu, Anggraini!"
Andika berusaha menjelaskan pada Anggraini kembali Sia- sia. Gadis itu tampaknya sudah sampai pada ambang batas kemurkaan. Sebuah gejolak dendam membunuh siap tertumpah.
"Aku paham, bagaimana rasanya tak memiliki orangtua," bujuk pemuda itu tak menyerah begitu saja.
"Aku tak peduli!"
Anggraini langsung memasang jurus pembuka.
"Anggraini, tunggu!" cegah Andika. Tapi....
"Hiaaat!"
Sudah tak ada kesempatan lagi bagi Pendekar Slebor menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Dan ketika satu tusukan jari Anggraini lurus-lurus mengancam keningnya, Andika dengan sigap menahannya dengan himpitan telapak tangan.
Tap!
Tepat di depan wajah Pendekar Slebor, gerakan jemari halus namun berkekuatan milik Anggraini tertahan karena himpitan telapak tangan Andika.
Gadis dari Tanah Buangan ini sudah gelap mata Serangan susulan membabi buta pun segera dilancarkan. Sebelah tangannya yang bebas, menerabas dari samping kiri, menuju pelipis Pendekar Slebor.
Wuk!
Suara santer yang tercipta menyadarkan Pendek Slebor, kalau pelipisnya terancam sebentuk tenaga dalam yang bukan hanya meremukkan, melainkan mampu membuat keningnya hancur lebur! Pendekar Slebor sadar. Dia harus memapaki tebasan tangan Anggraini jika tak ingin pelipisnya jadi sasaran empuk. Untuk melakukannya, yang dibutuhkan ialah tangan. Tapi, kedua tangannya masih menghimpit satu tangan lain Anggraini. Kalau sedikit saja himpitan telapak tangan dikendurkan, maka jari Anggraini akan langsung menusuk kening!
Kedudukan sulit itu dengan cerdik dipecahkan Pendekar Slebor. Seluruh kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan segera disalurkannya kesepasang telapak tangannya. Kekuatan sakti itu dalam sekejap menekan
tenaga dalam yang berada dalam tangan Anggraini yang telah dihimpit. Maka tak ada sekerdipan mata, sebelah tangan Anggraini langsung bisa dikuasai Andika. Lalu dengan amat cepat, tangan Anggraini digiring untuk ditusukkan dengan sebelah tangan gadis itu yang lain.
Aaagh!
Selamatlah pelipis Andika dari tebasan tangan gadis kalap ini. Yang menjadi sasarannya malah tangan Anggraini yang sebelah lagi. Ketikabertumbukan, Anggraini merasakan tulang-tulang tangannya seperti diloloskan dari daging.
Bagai singa betina terluka, Anggraini tak peduli akan rasa menyiksa di bagian tangannya. Sesaat setelah sepasang telapak tangan Pendekar Slebor melepaskan himpitan, dikirimkannya tendangan cepat bertubi-tubi
ke beberapa bagian tubuh Pendekar Slebor.
"Hiaaa!"
Deb!
Satu tendangan pertama dilepaskan dengan mantap. Sasarannya tulang rusuk kiri Pendekar Slebor. Masih dengan mudah, Andika mementahkan serangan Anggraini. Gerakannya yang kesohor amat cepat, mementahkan
tendangan gadis itu dengan satu kelitan manis.
Deb!
Anggraini memburu. Tendangan berikutnya mendarat lurus kedada bidang Andika. Untuk tendangan kali ini, Pendekar Slebor tak hanya mengelak. Satu siasat tempur diterapkannya. Tangan Anggraini yang terangkat tinggi segera disambut angsuran tangan kebawah kaki. Berbarengan dengan itu Andika menyalurkan sebagian kekuatan warisan buyutnya yang sanggup menahan serudukan banteng jantari sekali pun. Dan jari tangannya pun menjepit bagian bawah kaki Anggraini.
Tap!
"Aaaw!" pekik Anggraini saat itu juga.
Jepitan jari Andika, tanpa sengaja rupanya mengenai bagian bawah pahanya. Tak terlalu sakit. Hanya karena daerah itu cukup peka, Anggraini seketika jadi menjerit kaget. Sementara Andika sudah mengunci gerak Anggraini dengan menekan kaki bagian atas dengan tangannya yang lain. Kuncian yang demikian kuat bagai himpitan batu karang, membuat Anggraini tidak bisa bergerak. Walaupun tangannya masih bebas, tetap tidak bisa menjangkau Andika.
"Kurang ajar kau!" maki gadis itu.
Andika tersenyum serba salah.
"Aaa..., aku tak sengaja!" kilah pemuda itu, gagap.
"Lepaskan aku! Kita bertarung mengadu jiwa!"
"Jangan bernafsu begitu, Anggraini! Tak baik menyelesaikan persoalan dengan kepala mendidih," ujar Andika, menasihati.
"Aku tak perlu menyelesaikan persoalan hanya dengan bicara. Persoalan ini akan tuntas kalau kau sudah masuk liang kubur!" tandas Anggraini bergejolak.
"Tenanglah dulu...," ucap Andika, kehabisan kata menghadapi amukan dendam gadis ini.
"Lepaskan aku pengecut!" hardik Anggraini.