Part 6
“Siapa kau?!” bentak Agungcakra penuh selidik. Tanpa berkedip, diawasinya Pangeran Neraka lekat- lekat.
Pangeran Neraka beringsut ke arah Agungcakra lebih dekat. Mulutnya mengumbar senyum mengejek.
“Aku? Hu hu hu! Pertanyaanmu terlalu menyedihkan. Itu pertanda, kau tak banyak tahu tentang dunia persilatan yang keras ini. Kau terlalu hijau, Anak Muda....”
Pangeran Neraka memenggal kalimat, seiring terangkatnya dagu.
“Akulah Pangeran Neraka. Dunia persilatan sudah kenal baik dengan namaku,” lanjut laki-laki tua itu, menyombong.
“Apa hubunganmu dengan bibiku?!” tanya Agungcakra penuh menyelidik.
Pemuda itu yakin, segala sesuatu yang terjadi tentu ada penyebabnya. Jika bibinya jadi tampak ganjil dimatanya, tentu pula tak luput dari penyebabnya. Agungcakra pun yakin, lelaki yang baru kali ini dilihatnya tentu tersangkut dalam perkara yang membuat bibinya menjadi begitu tak dimengerti seperti sekarang.
“Aku tak suka cara kau menatapku, Anak Muda.”
Bukannya menjawab, Pangeran Neraka malah melempar kalimat lain.
“Jawab pertanyaanku!” sentak Agungcakra, diburu kegusaran.
“Nyalimu cukup besar. Atau, kau memang terlalu bodoh sehingga tidak tahu dengan siapa berbicara.”
“Aku tak peduli, dengan siapa aku bicara. Dengan tokoh sakti atau iblis durjana sekali pun! Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku,” tandas Agungcakra, setengah mengancam.
“Hu hu hu! Ternyata nyalimu jauh lebih besar daripada dugaanku,” cemooh Pangeran Neraka.
“Keparat! Tentu kau ikut andil dalam perkara bibiku!” tuding Agungcakra tak bisa lagi membendung kecurigaannya.
“Kalau kujawab, ya, kau mau berbuat apa?” tantang Pangeran Neraka melecehkan. Sengaja dia memancing terus kegusaran anak muda di depannya.
“Bajingan busuk!” maki Agungcakra berat terseret.
“Akan kuhabisi nyawamu sebagai bayaran atas kesalahan yang telah kau perbuat terhadap bibi kesayanganku!”
Pangeran Neraka memperdengarkan tawa khasnya.
“Kenapa tak segera kau lakukan? Apa mungkin kau hanya berani mengancam, dan tak mau menerima akibat jika mengancam orang seperti aku?” Lagi-lagi Pangeran Neraka melecehkan Agungcakra.
“Pergilah kau ke dasar neraka, Manusia Keparat!”
Sampai di situ, Agungcakra tak bisa lagi menahan kemurkaan yang meledak-ledak di dalam dada. Kalau saja persoalannya lain, tentu dia tak akan seberingas itu. Tapi, ini menyangkut diri orang yang begitu disayanginya. Orang yang terdekat setelah kedua orangtuanya. Itu tentu saja perasaannya bagai diluluh-lantakkan.
Sarat kemurkaan pada wajahnya, Agungcakra melepas satu serangan dahsyat. Kelima jari kirinya yang tajam, mengancam leher Pangeran Neraka sepenuh kekuatan. Tampaknya, Agungcakra tak peduli lagi, bagaimana harus melabrak lawan. Hanya satu yang dikehendakinya saat itu. Lelaki di depannya harus mati secepatnya!
Bet!
“Putus lehermu, Keparat!”
Lelaki yang diserang masih sempat mengejek dengan sebaris senyum memuakkan. Sekejap kemudian, tubuhnya berkelit enteng. Maka, luputlah terjangan Agungcakra. Dorongan kemarahan yang sudah mendaki hingga kepuncak kepala, mendorong Agungcakra untuk melakukan serangan susulan. Sikunya yang cukup dekat dengan Pangeran Neraka, segera menghujam ke ulu hati.
Deb!
Pangeran Neraka tak mau ambil bahaya. Apalagi tingkat kepandaian lawan bisa diukurnya. Maka segera ditangkisnya tohokah siku Agungcakra dengan satu tangan terangkat ke atas dalam gerakan menyapu keluar.
Tak!
Lalu disusul satu serangan balasan. Tinju Pangeran Neraka yang terkenal selalu mengandung racun amat kuat, langsung melayang lurus ke rahang pemuda tampan yang sedang kalap itu.
Wus!
“Hiah!”
Berbarengan hentakan suara, Agungcakra berusaha menghindar sejauh-jauhnya. Meski Tergolong hijau, pemuda itu bisa merasakan hawa maut yang disebar oleh angin pukulan Pangeran Neraka.
“Hu hu hu! Terbukti ucapanku tadi, bukan? Kau memang terlalu hijau, terlalu bau kencur. Lebih baik, kembalilah ke ibumu dan minta diteteki!” sembur Pangeran Neraka.
“Kau boleh memiliki ilmu tinggi. Tapi, aku tak akan surut dari pertarungan ini. Kau harus mati di
tanganku, walaupun aku harus membayarnya dengan nyawa!”
“Lalu, kenapa kau harus menghindar sejauh itu? Ayo, ke sini kau! Biar tinjuku ini sedikit memanjakanmu!”
“Hiaaa!”
Agungcakra memulai pertarungan kembali. Tubuhnya mencelat tinggi. Satu kakinya membentang lurus ke depan, sedang yang lain terlipat. Tendangan terbangnya kini mengancam dada kekar Pangeran Neraka! Seperti sebelumnya, meski serangan Agungcakra sudah hampir tiba, Pangeran Neraka kembali memperlihatkan senyum yang lebih mirip seringai. Tingkat kepandaian Pangeran Neraka memang terlalu tinggi, meskipun Agungcakra di dunia persilatan cukup bisa mengandalkan kemampuannya. Itulah sebabnya, Pangeran Neraka seperti tak terancam oleh serangan-serangannya.
Sesaat sebelum kaki Agungcakra benar-benar tiba, Pangeran Neraka membuat satu gerakan tangan. Telunjuk kanannya teracung lurus pada arah tendangan terbang pemuda itu.
Tas!
Entah bagaimana caranya, hanya dengan jari telunjuk tadi. Pangeran Neraka ternyata sanggup Menahan tendangan terbang berkekuatan milik Agungcakra. Tubuhnya tak terlihat bergoyang, bahkan sekadar getaran pada pakaiannya. Sementara di lain pihak, Agungcakra malah terpental balik. Anak muda berwajah tampan dan berkesan jantan itu seperti baru saja menerjang bukit karet yang kenyal!
Tak hanya itu. Ketika kakinya menjejak bumi, Agungcakra merasakan nyeri yang luar biasa pada bagian kaki yang bertumbukan dengan jari telunjuk Pangeran Neraka. Rasa nyeri terus merangsek kedalam serat-serat tubuhnya bagai terikut dalam aliran darah. Urat-urat wajah Agungcakra menampakkan kesakitan.
“Kenapa, Anak ‘Menak’? Apa di tempat tinggalmu yang nyaman kau tak pernah merasakan sakit? Kau tentu terlalu dimanja para inangmu.... Hu hu hu!”
Agungcakra diam dengan rahang mengatup rapat-rapat, hingga otot-otot sekitarnya terlihat menonjol keluar. Ejekan-ejekan lawan telah keterlaluan. Bahkan untuk ukuran orang yang paling sabar sekali pun. Tekat Agungcakra untuk memberangus nyawa Pangeran Neraka kian meledak-ledak Maka, tanpa menimbang lebih lama, Agungcakra segera mempersiapkan ilmu pamungkasnya. Hanya cara itulah dia bisa punya kesempatan untuk menghabisi Pangeran Neraka.
Sebelum serangan si pemuda kalap terlepas kembali, Pangeran Neraka telah lebih dulu melepas satu isyarat mata pada Ratu Lebah alias Mayangseruni. Gerak kecil matanya, seakan hendak memerintah si wanita cantik yang bernasib malang itu dengan satu kalimat pendek. Habisi dia!
Begitu Mayangseruni mengeluarkan suara ganjil yang tertangkap telinga Agungcakra, pemuda itu cepat menoleh. Hatinya jadi terkesiap melihat bibinya siap melesatkan ludah berkekuatan dahsyat, seperti pernah disaksikannya dulu sewaktu bersama Andika dan Anggraini.
“Bibi jangan!” tahan Agungcakra.
Sayang, usaha Agungcakra untuk menahan kebengisan yang kini menguasai seluruh pikiran bibinya, tak berarti apa-apa di telinga Mayangseruni.
“Chuih!”
Wesss!
Sebisa-bisanya, Agungcakra menghindar.
“Heaaa...!”
Sentakan suara terlempar keluar, untuk mengimbangi pangerahan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuh pemuda itu. Selagi tubuhnya masih di udara, Ratu Lebah sudah melepas lagi semburan ludahnya. Kali ini, tak cukup sekali.
“Chuih! Chuih! Chuih!”
Wess.. ssss. . sss!
Tiga kelebatan serangan ganjil Ratu Lebah melesat ke arah tiga kedudukan yang amat menyulitkan Agungcakra. Satu menyergap bagian atas, sedang yang lain melesat ke bagian kiri dan kanan.
Untuk menyelamatkan kepala agar tak tertembus, Agungcakra harus membuang tubuhnya kesamping di udara. Namun begitu, dia harus berjudi dengan ludah maut yang lain. Jika bergerak lebih cepat, tentu selamat. Namun kalau terlambat sedikit saja, maka ludah yang meluruk di sisi-sisinya akan merencah tubuhnya.
Karena keadaan sudah begitu mendesak, Agungcakra tak bisa lagi berpikir lama-lama. Langsung saja dia melempar tubuh ke sisi kanan sekuat tenaga. Sayang....
Srat!
Seketika itu juga, bagian pinggang Agungcakra tersayat dalam oleh ludah Ratu Lebah. Tubuhnya kontan jatuh ters ungkur tanpa sempat berpijak. Sambil memegangi pinggang yang mengucurkan darah, Agungcakra menatap nanar wajah dingin dan kejam Mayangseruni yang dulu dikenalnya sebagai seorang bibi yang lembut dan welas asih.
“Bibi! Kenapa kau tega melakukan ini padaku?” lirih si pemuda tampan dalam kalimat putus asa.
Saat berkata, sehimpun kepedihan lain yang berasal dari dasar hatinya mengusik benteng kelelakian si pemuda. Matanya mulai berkaca-kaca. Tali kasih sayang tulus telah terputus oleh kepedihan yang tak terperi diantara semua kepedihan. Sebuah kekecewaan yang terlalu berat untuk ditanggung.
“Apakah..., apakah kau memang sudah melupakan sama sekali cerita kita waktu kecil dulu?” lanjut Agungcakra tertahan-tahan.
“Tentang cerita kita di taman bunga kadipaten? Tentang bibi yang berlari riang mengejar kupu-kupu kecil, lalu aku mengikutimu karena takut kau celaka? Apa Bibi lupa dengan semua itu?”
Dingin! Hanya dingin yang bisa ditemukan Agungcakra di wajah Mayangseruni. Semenjak Pangeran Neraka ada di dekatnya, sisa-sisa rasa kasih sayang di kalbunya bagai terbelenggu pengaruh jahat. Hati Agungcakra kian tercabik-cabik. Kalau saja dia bukan lelaki, tentu akan menangisi semua itu dengan dada sesak.
“Kau tak tahu, Bibi! Bagaimana sulitnya aku mencarimu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hujan dan terik tak kupedulikan. Badai pun tak bisa menahan tekadku untuk menemukan orang yang kucintai,” ucap Agungcakra lamat, seperti berkata pada diri sendiri.
“Tapi, tak kuduga sama sekali. Ternyata aku telah kehilangan Bibi untuk selama-lamanya. Bibi telah binasa dalam kemungkaran....”
Agungcakra senyap. Entah putus asa entah sudah kehilangan kata.
“Kalau kau mau butuh aku, bunuhlah! Sudah terlanjur kusia-siakan hidup, untuk mencari Bibi yang sebenarnya tak mungkin kutemui lagi...,” bisik pemuda itu lemah dengan kepala terjatuh.
Detak-detak degup jantungnya melangkah pasrah.
“Chuih! Chuih! Chuih!”
Seruntun kelebatan ludah berkekuatan dahsyat menuju tubuh kuyu si pemuda. Dalam sekejap, tubuhnya dikoyak-koyak bagai sehelai daun kering tak berarti.
Tangan-tangan maut sepertinya adalah jalan terbaik menuntas hidup Agungcakra yang diberangus kecewa. Bersama darah yang membasahi sekujur tubuhnya, seiring keluh panjang atas kekecewaan, Agungcakra mengatupkan mata perlahan. Sebentang garis bening mengalir lembut di antara warna merah yang membasahi pipinya.
***
“Urusan Cakra sudah beres. Dia sudah bertemu bibinya kembali,” cetus Anggraini pada Andika setelah kepergian Agungcakra dan Ratu Lebah.
“Kini tinggal urusanku denganmu....”
Seperti tak berniat menggubris, Pendekar Slebor melangkah acuh menghampiri sisa api unggun yang masih melepas lenggokan asap putih tipis diusik angin malam. Dijemputnya panggangan daging kelinci. Hampir dingin, tapi tak dipedulikan. Perut yang begitu lapar membuatnya begitu lahap menyantap.
“Kau jangan berpura-pura bodoh! Sudah sejak tadi kau menjengkelkanku. Kalau tak sabar-sabar, sudah kuhajar kau. Sekarang, cepat ceritakan padaku tentang cemeti itu!” desak Anggraini.
Si dara ketus itu berdiri bertolak pinggang. Raut wajahnya sudah matang. Andika melirik enggan pada Anggraini. Ditariknya napas dalam-dalam. Agak berat baginya menceritakan hal sebenarnya tentang cemeti itu. Bukannya tak mau berterus terang. Dalam hal ini, dia berada dalam keadaan selaku pembunuh pemilik cemeti tersebut. Bisa jadi, si pemilik cemeti, Begal Ireng, adalah ayah Anggraini. Kalau benar, tentu akan menjadi perkara hutang nyawa. Dan Anggraini bisa-bisa memusuhinya habis-habisan.
“Padahal, aku tak mau bermusuhan dengannya. Aku tahu, dia bukan gadis sesat. Meski, sifatnya agak ketus,” gumam Andika tak sadar, terbawa arus pikiran sendiri.
“Hey, apa katamu tadi?” sergah Anggraini.
“Ah, tidak.... Tidak apa-apa,” elak Andika.
“Nah! Kalau begitu, tunggu apa lagi? Aku ingin cepat-cepat membereskan urusanku....”
“Begini saja,” putus Andika akhirnya.
“Sebaiknya, kau mencari dua orang dari Tiongkok. Karena mereka kembar, keduanya dijuluki Kembar Dari Tiongkok.”
“Apa hubungannya dengan aku?”
“Pokoknya, cari mereka. Dan, korek keterangan dari keduanya!” tandas anak muda dari Lembah Kutukan itu.
“Apa hubungannya denganku?!” Si dara berpakaian merah mengotot.
“Sial!” maki Andika jengkel.
Pendekar Slebor memang tidak suka dipojokkan seperti itu. Apalagi oleh perempuan pula.
“Yah.... Mereka itu amat kenal pada pemilik cemeti yang kau bawa!” jelas Andika, menyerah. “Mungkin kau bisa mengorek keterangan dari mereka, tentang kakak kandung si pemilik cemeti. Sebab menurut kabar burung, pemilik cemeti itu mempunyai seorang kakak lelaki....”
“Kalau begitu, terimakasih!” ucap Anggraini ketus.
Dijumputnya cemeti yang terjatuh di sisi sisa api unggun, lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
“Kau mau ke mana?” tanya Andika.
“Ke neraka!”
Andika menggeleng-gelengkan kepala.
“Bagaimana dengan jatah panggangan kelincimu ini?!” seru Pendekar Slebor lagi.
“Makan saja sendiri. Bukankah kau memang rakus?” cemooh Anggraini di kejauhan.
“Perempuan slompret!”
***
Tiga hari telah berlaku, Anggraini sudah terlihat di satu sudut kotapraja. Malam sudah tiba. Lampu- lampu minyak bertebaran semarak di daerah itu. Tempat yang paling sering dan paling banyak menjadi sumber berita adalah kedai. Di sana, desas-desus marak di antara bau arak dan panganan. Dan Anggraini kini memasuki salah satu kedai. Dia berharap bisa mencuri-curi keterangan dari obrolan par pengunjung tentang Kembar Dari Tiongkok.
Gadis itu mengambil tempat, tepat di tengah tengah ruangan. Tempat yang bagus untuk bisa mendengar ke segenap penjuru kedai. Sambil terus memasang kuping, dipesannya makanan. Ketika makanan datang, gadis itu pun menyantapnya. Harapan Anggraini terkabul sebelum sempat menghabiskan santapan malam. Dua lelaki yang tampaknya dari dunia persilatan, sedang santai membicarakan sesuatu sambil menikmati tuak keras. Mereka rupanya sudah cukup mabuk, sehingga lancar saja mengobral ucapan.
“Kau tahu, dua lelaki dari Tiongkok yang pernah membual kegemparan tiga tahun lalu bersama Begal Ireng?” tanya laki-laki bertopeng kasar, dengan bauk memenuhi wajahnya