Part 7
Sebuah tempat terpencil dikungkung kegelapan malam. Disana, ada candi kuno terbengkalai yang berdiri kaku dan bisu. Bangunannya tak begitu besar, terbuat dari susunan batu yang seluruhnya nyaris diselimuti lumut. Sebagin batu sudahgompal disana sini. Tepat di bawah anak tangga gapura masuk, terdapat dua patung ‘kala' memanggul ‘gada’. Karena sudah begitu tua, satu patung telah kehilangan kepala.
Empat sosok kini tiba di tempat itu. Mereka adalah Rase Tua Kembar, si Perut Gendang, dan Purwasih. Gadis itu kini terkulai tidak berdaya di bahu lelaki berperut buncit. Merekapun menaiki anak tangga candi satu persatu. Bulan sepotong di langit menyiram cahayanya, sehingga tercipta bayangan samar mereka terlekuk di anak tangga.Kehebatan ilmu meringankan tubuh, membuat para tokoh sesat itu tidak menghasilkan suara ketika menaiki tangga batu yang merapuh. Mereka berjalan ringan seperti melangkah di timbunan awan.
Saat itu, malam hanya dibelah oleh suara satwa. Jangkrik memainkan tembang tak teratur, ditingkahi nyanyian katak-katak yang tak mau kalah. Ditambah satu suara yang begitu mengusik malam, suara perut si lelaki buncit.
Dung, dung, dung!
“Buncit! Apa kau tak bisa sebentar saja meliburkan suara perutmu yang menjengkelkan itu?” gerutu si buta, satu dari Rase Tua Kembar.
Dengan kebutaannya, si Buta telah melatih telinganya menjadi demikian tajam. Suara yang dihasilkan perut si lelaki buncit tentu saja amat mengganggu telinganya yang memang peka.
“Tentu saja aku bisa membuang suara ini, asal perutku juga dibuang. Tapi, mana aku sudi membuang perutku, Buta,” sahut si Perut Gendang.
“Kalau begitu, biar kubantu dengan senang hati membuang perutmu!” kata si nenek buta gusar.
“Berhentilah kalian bertengkar!” sergah si nenek berkaki kutung.
“Kalian bukan anak kecil yang pantas ribut-ribut!”
Si Perut Gendang terbahak. Sedangkan si nenek buta cemberut. Tepat di mulut pintu masuk candi, si pemuda hitam menyambut.
“Kenapa untuk membawa kelinci cantik seperti dia kalian begitu lama?” sambut si pemuda hitam. Sedikit pun sambutannya tak menyenangkan ketiga tokoh sesat yang baru tiba. Sambil berkata, mulutnya tak pernah lepas dari senyum lebar. Barisan gigi putihnya tampak terjilat siraman bulan.
“Banyak manusia yang hanya bisa bicara, tanpa melakukan apa-apa,” sindir si nenek berkaki kutung.
Pemuda berkulit hitam hanya menanggapi sindiran itu dengan senyum lebar khasnya.
“Kalian sudah ditunggu Sang Angkara di dalam,” kata pemuda gundul berkulit hitam kemudian.
Mereka bersama-sama memasuki candi.
***
Manusia Dari Pusat Bumi tampak duduk menunggu di atas undakan batu persegi yang sebenarnya digunakan untuk meletakkan sesajian, sewaktu candi itu masih dimanfaatkan ratusan tahun lalu. Di depannya, api unggun besar menjilat langit-langit ruangan.Panasnya menggapai ke mana-mana. Dan cahayanyamenyapu dinding ruangan menjadi kemerahan terang.
“Kami sudah berhasil membawa gadis yang kau maksud, Sang Angkara,” lapor si Perut Gendang. Dikedikkannya bahu tempat Purwasih terkulai, seolah ingin menunjukkan hasil kerja mereka.
Manusia Dari Pusat Bumi alias Sang Angkara mengangguk.
“Rantai wanita itu di ruang sayap kiri candi!” perintah Sang Angkara kemudian.
Si Perut Gendang melirik si pemuda hitam yang mengaku pada mereka bernama Gulili. Nama yang asing bagi telinga para tokoh sesat itu. Bagi mereka, nama itu seperti mirip-mirip nama asal tanah India. Boleh jadi, Gulili memang berasal dari sana.
“Sekarang giliranmu, Gulili,” ucap si Perut Gendang.
“Giliranku apa?” tanya si pemuda hitam, berpura-pura tak mengerti.
“Kau dengar tadi, Sang Angkara menyuruh merantai gadis ini di ruang sayap kiri!” tandas lelaki buncit itu, agak membentak.
“Kau yang diperintah, bukan aku,” tolak Gulili tegas, mengetahui maksud si Perut Gendang di balik kalimatnya.
Si Perut Gendang mendelik pada pemuda berkulit hitam itu. Dia sungguh tak senang diremehkan Gulili yang jauh lebih muda. Apalagi, anak muda itu dianggap masih bau kencur karena di dunia persilatan namanya tak pernah muncul. Gulili tampaknya tak gentar dengan ancaman mata si Perut Gendang. Dengan senyum lebarnya, lagi-lagi dia meremehkan tokoh kelas atas golongan sesat itu.
“Sepertinya kau hendak menantangku, Pemuda Hitam?!” ucap si Perut Gendang, mulai terusik sikap Gulili.
“Apa pun sebutannya, yang jelas aku tak suka kau perintah seenaknya!” Gulili pun mulai terang-
terangan menantang si Perut Gendang.
Rase Tua Kembar senang menyaksikan keduanya bersitegang. Bibir kedua nenek kembar itu mulai memunculkan senyum tipis. Barangkali, mereka berharap si Perut Gendang dan Gulili segera terseret dalam pertarungan. Manusia Dari Pusat Bumi pun tampaknya tidak berniat cepat-cepat meredam perselisihan itu. Matanya terus mengawasi kedua lelaki jauh bertaut usia itu. Tahu kalau Manusia Dari Pusat Bumi tak menggubris, si Perut Gendang segera menurunkan tubuh Purwasih dari bahunya.
“Kau ingin menjajalku, ya?!” ucap si Perut Gendang padat tekanan.
“Kalau itu maumu, aku tak akan menghindar,” balas Gulili mantap.
“Baik,” tandas si Perut Gendang datar. “Akan kita lihat, apakah kau sudah pantas bersekutu dengan kami, Pemuda Bau Kencur!”
Dengan senyum khasnya, Gulili seolah menyetujui. Dari balik bajunya, si Perut Gendang mengeluarkan sabuk dari kulit ular yang selama ini hanya melilit perutnya yang kasar.
“Aku punya sabuk kulit ular. Sabuk ini adalah benda pusaka yang memiliki kekenyalan luar biasa. Tak akan terputus oleh tarikan seribu ekor banteng!” papar si Perut Gendang.
“Jelaskan saja, apa maumu dengan sabuk itu?!” selak Gulili.
“Aku akan mengikat satu ujung sabuk ini ke leherku. Ujung yang lain diikatkan ke lehermu. Dengan begitu, kita akan menguji ketangguhan. Kita akan tarik menarik ke depan dengan arah berlawanan. Siapa yang tak memiliki cukup kekuatan, akan mampus dengan leher tercekik. Atau..., terputus!” papar si Perut Gendang melanjutkan.
“Aaa! Permainan yang menarik!” seru Gulili, seolah kehilangan nyawa bagi dirinya hanya soal sepele.
“Ayo kita mulai!”
Tanding kesaktian pun siap berlangsung. Gulili telah mengikat satu ujung sabuk ke lehernya. Begitu juga si Perut Gendang. Kini, mereka berdiri saling membelakangi. Keduanya dihubungkan sabuk sepanjang dua tombak pada leher masing-masing. Tangan mereka pun sudah diturunkan ke belakang punggung.
“Kau sudah siap, Pemuda Bau Kencur?” tanya si Perut Gendang.
“Aku telah lebih siap darimu, Orang Tua Buncit,” sahut Gulili.
“Satu..., dua..., tiga, mulai!” kata si Perut Gendang, memberi aba-aba.
Srat!
Sabuk pun menegang sekejapan mata Rentangannya bergetar halus sesaat, kemudian getaran menghilang. Baik Gulili maupun si Perut Gendang sudah sama-sama mengerahkan tenaga dalam masing-masing. Leher mereka sebagai daerah yang paling rawan, menjadi pusat penyaluran tenaga dalam. Dengan cepat wajah mereka memerah.
Sehebat-hebatnya seseorang, adu kekuatan tenaga dalam dengan cara itu memang amat sulit dilakukan. Di samping dipusatkan pada bagian tubuh yang berbahaya, juga karena jeratan pada leher akan sangat mengganggu dalam memusatkan pengerahan tenaga dalam. Dengan begitu, sebenarnya mereka tak sekadar menguji kekuatan, tapi sekaligus menguji kemampuan dalam memusatkan perhatian. Sedetik saja perhatian mereka goyah, maka lawan akan punya kesempatan menarik sabuk. Satu-satunya akibat adalah; mati!
Dengan keadaan tubuh condong ke depan, keduanya terus berkutat. Seluruh urat di sekujur tubuh mengejang penuh. Sementara itu, tanpa diketahui Gulili, Rase Tua Kembar diam-diam menyalurkan tenaga dalam membantu si Perut Gendang. Pada dasarnya, mereka memang tak suka pada si pemuda hitam. Selaku tokoh seangkatan, nenek kembar itu merasa dihina oleh sikap Gulili terhadap si Perut Gendang. Terlebih, sewaktu Rase Tua Kembar teringat pada keberhasilan Gulili mengirim serangan balasan pada Manusia Dari Pusat Bumi, saat uji tanding waktu itu.
“Biar kau mampus, Pemuda Besar Kepala!” rutuk si nenek buta dalam hati.
Pertarungan tak berimbang pun berlangsung. Gulili kini tidak hanya menghadapi kekuatan si Perut Gendang, tapi juga menghadapi kekuatan dua nenek yang segolongan dengan si Perut Gendang. Artinya, dia menghadapi tiga tokoh sesat kelas atas sekaligus! Anehnya, tatkala tenaga Rase Tua Kembar mulai tersalur pada sabuk, pemuda berkulit hitam itu malah melepas senyum lebar-lebar. Sepertinya, dia tahu ada yang tak beres dengan terlipatnya tenaga tarikan menjadi beberapa kali lebih kuat.
Di lain sisi, Rase Tua Kembar cukup terperanjat pada hasil yang terjadi. Mereka mengira, Gulili akan langsung tercekik lalu terseret kebelakang. Atau lebih parah lagi, kepalanya terputus dari badan. Kenyataan yang terlihat malah sebaliknya. Perlahan-lahan sabuk milik si Perut Gendang bergeser sedikit demi sedikit ke arah Gulili. Kuda-kuda pemuda itu pun sudah bergeser satu tindak kedepan.
Rase Tua Kembar kian terperanjat. Sedangkan si Perut Gendang harus mati-matian mempertahankan tenaga yang terpusat di lehernya agar tak tercekik. Wajahnya sudah demikian matang. Bahkan otot- otot di wajahnya menonjol keluar.
“Gila! Tak pernah aku mendengar nama pemuda bau kencur ini. Tapi, kekuatannya ternyata sanggup memperdayai tenaga dalam kami,” ucap si nenek kutung membatin.
Kemudian dengan penuh rasa penasaran, Rase Tua Kembar menambah penyaluran tenaga dalamnya. Sabuk memang sempat berhenti bergeser beberapa saat. Tapi, selanjutnya pergeseran itu terjadi kembali. Lebih edan lagi, Gulili malah melontarkan sebaris ejekan pada saat yang sudah tak mungkin lagi baginya untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
“He he he! Apa kalian sejenis serigala-serigala ompong yang sudah kehilangan tenaga?!”
Rase Tua Kembar tak bisa lagi menahan keterpanaan. Mata mereka terbelalak, meski salah satu di antara mereka buta. Kasihan si Perut Gendang. Matanya terbelalak bukan karena terperanjat, tapi karena lehernya kini benar-benar tercekik rapat. Jalan napasnya langsung terhambat. Lidahnya sudah menjulur keluar.
“Heeek!” jeritnya tertahan.
Pada saat paling berbahaya bagi si lelaki buncit itu, tenaga tarikan lawan mengendur, mengendur, dan akhirnya, sabuk itu tak lagi menegang. Gulili tersenyum lebar. Dengan tenang, dilepasnya ikatan sabuk di leher, lalu dicampakkannya begitu saja ke lantai candi.
“Kini, biar aku saja yang akan merantai gadis ini ke ruang sayap kiri,” kata Gulili seraya menghampiri tubuh lunglai Purwasih.
“Lagi pula, aku suka pada gadis cantik seperti dia.”
Si Perut Gendang hanya bisa menatapnya dengan dada terengah dan perut turun naik.
Gulili berlalu dari ruang itu, diikuti pandangan Manusia Dari Pusat Bumi penuh selidik.
***
Malam semakin larut. Kesunyian meniduri alam. Kepekatan berkuasa, manakala arakan mega hitam menggumpal menutupi angkasa. Purwasih masih dalam keadaan taksadarkan diri. Gadis itu dirantai dalam keadaan tegak di dinding. Kaki dan tangannya terbelenggu rantai baja, membuatnya setengah tergelantung lunglai dengan kepala tergolek lemah ke bahu kiri. Sesaat kemudian, gadis itu siuman.
“Hhh....,” Ienguh Purwasih beriring bergeraknya kepala.
Kelopakmata indahnya mulai membuka perlahan.
”Di mana aku?”
Sesaat gadis itu memandang ruangan dengan mata mengabur. Dan ketika tangannya bergerak tak disengaja, terdengar bunyi rantai baja. Bunyi itu segera menyadarkannya bahwa suatu Yang buruk telah terjadi pada dirinya. Cepat tangannya dihentak. Setelah itu, dia makin sadar keadaan dirinya benar-benar tak menyenangkan.
“Rupanya aku telah ditahan manusia-manusia keparat itu,” bisik Purwasih manakala ingat kejadian terakhir, saat dikeroyok Rase Tua Kembar dan si Perut Gendang.
“Apakah kau menikmati mimpimu, Kisanak?” sapa seseorang dari pintu masuk di sebelah kiri Purwasih. Orang itu adalah Gulili. Purwasih menoleh.
“Siapa kau?” tanya gadis itu. Sepanjang pengetahuannya, orang yang menahannya adalah nenek tua kembar dan seorang lelaki gemuk.
Gulili tidak menyahut. Didekatinya Purwasih. Seperti biasa, senyum lebarnya tetap terkembang.
“Kau memang belum pernah melihatku, Nisanak. Aku tidak turut dalam usaha penculikanmu,” kata Gulili.
“Aku tahu itu. Yang ingin kutahu, apa maumu ke sini?!” tanya Purwasih kasar.
“Aku?” Gulili tertawa terkekeh.
Sambil tertawa, mata Gulili tak kunjung lepas memperhatikan lekuk-Iekuk tubuh Purwasih. Bajunya yang sudah koyak-moyak tak karuan memunculkan sebagian kulit halus di baliknya.
“Kau pikir, apa yang hendak diperbuat seorang pemuda dengan seorang dara cantik menggoda sepertimu, Nisanak?!” ucap Gulili, nyaris berdesis seperti ular sanca yang begitu berselera melihat seekor kelinci tak berdaya.
“Jangan coba berani-berani kurang ajar padaku!” ancam Purwasih geram.
“Kalau aku berani kurang ajar, apa yang akan kau lakukan? Bukankah untuk menggerakkan tangan ke bawah saja sudah sulit?” cemooh Gulili, makin memuakkan Purwasih.
Pemuda berkulit hitam itu kian dekat. Selangkah demi selangkah, terus dihampirinya Purwasih. Matanya berkilat-kilat kurang ajar.
“Berhenti kau, Keparat! Jangan coba dekati aku!” hardik Purwasih, mulai kalap. Tubuhnya meronta-ronta liar. Tapi justru dengan begitu, dia makin terlihat menggiurkan.
“He he he! Kau rupanya sudah tak sabar untuk merangkulku, Cah Ayu,” goda Gulili.
“Tutup bacot busukmu itu! Kau pikir aku sudi melayanimu?! Chuih!”
“Ah! Percayalah, Nisanak. Kau akan segera memelukku erat-erat setelah tahu aku....”
Gulili bertambah dekat. Jaraknya dengan Purwasih tinggal tiga langkah lagi. Dan tiba-
tiba..
Srat!
Didepan Purwasih, pemuda berkulit hitam dan berkepala gundul itu menguliti kulit kepalanya! Perbuatannya benar-benar membuat mata Purwasih terbelalak lebar. Nyaris saja, dia menjerit karena begitu ngeri.
Selanjutnya, keterperangahan gadis itu bertambah. Kali ini bukan karena ngeri, tapi karena luapan kegembiraan yang membludak. Setelah kulit kepala dan wajah Gulili terlepas, muncullah wajah seorang pemuda yang amat dekat di hati Purwasih..., wajah Andika!
“Kau...,” desis Purwasih.
“Ya, aku. Sekarang, kau benar-benar akan memelukku, bukan?” goda Andika.
Pemuda dari Lembah Kutukan menghampiri Purwasih lebih dekat. Sehingga, gadis itu bisa merebahkan kepala di dadanya.
“Sayang tanganmu dirantai, ya? Kalau tidak, tentu aku akan bisa sedikit menikmati pelukan hangatmu,” oceh Pendekar Slebor, tepat di sisi telinga Purwasih.
“Kau...,” ucap Purwasih, gemas.
“Adaouw!” teriak Andika tertahan dan tiba-tiba.
Rupanya, Purwasih menggigit keras-keras dada Andika. Gadis itu gemas mendengar ucapan Andika barusan.
“Cepat bebaskan aku!” hardik Purwasih.
“Baik. Tapi, biasanya untuk perbuatan baik seperti ini, orang selalu mengharapkan upah....”’
“Sudah tutup mulutmu, Andika!”
“He... he... he!’
Pendekar Slebor pun membebaskan Purwasih tanpa kesulitan sama sekali. Dengan sekali tebasan tangan, rantai baja yang membelenggu Purwasih terputus.
“Sekarang, bebaskan totokanku!” perintah Purwasih.
“Tentu saja. Aku toh, tak sudi membopong-bopongmu keluar dari tempat ini.... Adouw!” Andika menjerit tertahan lagi.
Rupanya, Purwasih menjitak kepalanya keras-keras. Tak berapa lama kemudian, Andika dan Purwasih sudah terlihat mengendap-endap keluar dari candi tua. Dengan ilmu meringankan tubuh mereka yang telah tinggi, usaha mereka pergi dari tempat itu bisa cukup lancar.
Benarkah semuanya lancar? Tanpa diketahui keduanya, dua orang mengawasi di kejauhan. Di balik sebuah pohon besar, mereka mengintai sejak tadi. Bahkan sempat tahu penyamaran yang dilakukan Pendekar Slebor.
***
“Hendak ke mana kita?” tanya Purwasih pada Andika yang sudah mengenakan topengnya kembali.
Kalau memperhatikan wajah palsu yang demikian sempurna itu, Purwasih jadi ingin meledak menahan tawa. Sulit dibayangkan kalau Andika, pemuda tampan dan mempesona, memiliki wajah yang menggelikan.
“Lebih baik kau segera menyingkir jauh-jauh dari candi itu,” kata Andika.
“Apa maksudmu? Kenapa bukan kita berdua? Kenapa hanya aku?” seruntun pertanyaan diajukan Purwasih.
“Karena aku masih mempunyai urusan yang belum terselesaikan,” jawab Andika.
“Lalu, kau pikir aku takut sehingga perlu disuruh menyingkir?”
“Bukan begitu. Mmm.... Maksudku, kau bisa mengacaukan penyamaranku.” dalih Andika.
Padahal sebenarnya hatinya khawatir terhadap keselamatan gadis manis itu. Purwasih baru hendak melontarkan sanggahan, ketika tiba-tiba saja tangan pemuda di sisinya mendekap mulutnya.
“Ssst,” bisik Andika.
“Rasanya kita kedatangan tamu.”
“Tepat! Kalian memang kedatangan tamu!” seru seseorang yang tiba-tiba muncul menyeruak dedaunan pohon besar.
“O! Kau, Perut Gendang!” sambut Andika yang telah berubah menjadi Gulili kembali.
“Tak usah berbasa-basi lagi, Gulili! Dari semula aku sudah curiga padamu!” bentak si Perut Gendang.
Purwasih maupun Andika mulai was-was. Kalimat lelaki buncit itu sepertinya hendak memojokkan Andika. Mungkinkah dia sudah mengetahui penyamaran Andika?
“Apa maksud kata-katamu, Perut Gendang?” tanya Andika, pura-pura tak paham.
“Kau pikir aku tak tahu kau berbicara sesuatu dengan gadis itu? Secara kebetulan, aku melintasi daerah ini. Dan kutemukan kau bersama gadis itu!” kata si Perut Gendang meledak-ledak.
“Kau pasti orang dari golongan putih! Bisa jadi juga, kau adalah kawan Pendekar Slebor!”
“O, begitu. Biar kujelaskan....”
“Tak perlu dijelaskan!” terabas seseorang, memenggal ucapan Andika.