Kaskus

Story

natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.

Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.


I Am (NOT) Your Sister

Big thanks to quatzlcoatlfor cover emoticon-Smilie

Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
imamarbaiAvatar border
pulaukapokAvatar border
itkgidAvatar border
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
464.8K
3K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
natashyaaAvatar border
TS
natashyaa
#2151
F Part 72
Hari itu pun tiba juga. Untuk pertama kalinya gue makan malam bersama keluarga gue. Eh apa mesti gue sebut itu keluarga ya (?) dia (burhan) dan dia (Ani) memang menurut hukum sudah menjadi keluarga yang sah yang tinggal di rumah gue. Bukanya gue gak mau mengakui ya, tapi rasanya aneh saja ketika kita makan malam di luar dan bisa duduk berempat di meja. Orang mungkin melihat kita seperti keluarga normal pada umumnya dengan sepasang suami istri dan dua orang anak gadis remaja. Namun bagi gue rasanya jika di luar seperti ini, terasa aneh karena gue menganggap laki-laki yang duduk bersama ibu gue ini cuman sebatas om-om saja. Tapi bagaimanapun harus diakui sekarang ini kehadiran Ani tidak terlalu menjadi masalah buat gue, dia selalu hadir di setiap hari gue dan ada banyak hal juga yang gue lakukan bersama dia. Tapi, perasaan untuk mengakui dia sebagai saudari, entahlah, gue gak tau. Karena gue sendiri sebelumnya belum pernah punya saudara/i. Jadi gue hanya bisa memperlakukan Ani menurut cara gue.

“Felisha gimana, sudah mutusin mau kuliah dimana?” Tanya si Burhan malam itu.

“UI”

“Sayang udah di Bandung aja jangan jauh-jauh kuliahnya.” Kata ibu.

“Kalau aku ingin masuk ITB bu.” Kata Ani dengan gaya khas anak kecilnya memotong topik pembicaraan.

“Haha Ani.. ani, rangkingmu aja belum masuk sepuluh besar.” Kata si Burhan

“Belajar aja dulu yang rajin sayang..” Lanjut ibu.

Pait ya Ni? Diketawain orang tua sendiri seperti itu. Tapi, bagi gue, gue baru pertama kali ngerasa ada niatan yang kuat dari si Ani dalam menginginkan sesuatu. Gue juga gak bisa ngejelasin apa yang gue rasakan ketika Ani berkata seperti itu. Gue merasa iba saja dan ingin membantunya untuk mewujudkan hal itu, terlepas itu hanya keinginan sesaat atau bukan, yang jelas, entah kenapa gue ngerasa perlu untuk membantu dia dalam hal belajar, setidaknya dia tidak menjadi anak bodoh di sekolah. Karena selama ini gue lihat hasil belajar dia memang belum maksimal. Gue tau itu karena gue rajin mengecek buku-buku punya dia ketika dia sedang tidur ataupun sedang tidak berada di kamarnya. Oleh karenanya, kali ini gue yang kesambet malaikat ini dengan senang hati ingin mengajari dia.

“Oh.. begitu ya.. Yauda, kamu tiap malam ke kamar gue aja, kita belajar bareng.” Kata gue pas makan malam itu.

***

“Ni, tapi ada syaratnya jika mau belajar bareng gue.”

“Apa itu kak?”

“Harus serius”

“Pasti kak”

“Dan juga kamu harus cerita tentang kehidupan kamu di sekolah setiap harinya.”

“Iya kak, ada lagi syaratnya?”

“No more lies”

***

Mungkin inilah yang dinamakan kepedulian, gue ngajak belajar bareng karena gue peduli dengan hal akademis dia, terus alasan gue nyuruh Ani supaya dia cerita segala hal terutama kehidupanya di sekolah karena gue sekarang mulai peduli dengan hidup dia. Kejadian-kejadian sebelumnya dimana dia sering dikecewakan, ditipu, dibodohi, bahkan dikasari di sekolah membuat gue jadi lebih memikirkan dirinya. Gue ngerasa harus merubah sifat dia yang begitu polos dan juga kekanak-kanakannya itu.

“Kak… ajarin ini dong, aku gak paham tentang soal ini..” Kata dia manja. Gue sendiri sebenernya gregetan ama dia, karena soal semudah ini mesti nanya ke gue, tapi gue menahan ego gue untuk memarahi dia dalam hal pembelajaran karena menurut gue jika gue marahi dia karena masalah pelajaran takutnya bakal menurunkan minat dia terhadap belajar, makanya gue harus sabar menghadapi dia kali ini.

“Jadi gini ya… “ bla bla bla, gue menjelaskan panjang lebar ke dia sambil tiduran di kasur kamar gue.

“Wuihhh kakak hebat ya..”

Setiap harinya gue menyisihkan waktu untuk belajar sekitar 1-2 jam di rumah. Dari dulu gue selalu melakukan itu, setiap malam gue selalu mereview kembali materi pelajaran yang diajarkan di sekolah dan juga mempelajari materi pelajaran yang akan dipelajari di sekolah keesokan harinya. Terkadang gue juga kepalang rajin, beberapa pelajaran seperti sejarah ataupun bahasa, buku pelajarannya gue udah gue baca tamat jauh-jauh hari.

Kebiasaan baru yang mulai dilakukan adalah sebelum tidur Ani selelau bercerita tentang kesehariaannya di sekolah. Gue terkadang ketawa mendengar cerita-cerita dari dia, terutama cerita di kelas dia tentang si Reza yang dianggap sebagai kepala suku kelasnya, belum lagi dia menceritakan si Rahmi sebagai ratu gosip di kelasnya. Gue gak nyangka sama yang namanya Rahmi ini, ternyata dia punya banyak gosip tentang diri gue. Terkadang gue juga harus membenarkan gosip-gosip miring yang diceritakan Rahmi ke Ani, soalnya ada beberapa gosip yang bohong. Seperti halnya:

1. Kak Felisha itu angkuh suka pilih-pilih teman dan bergaul.
2. Cari perhatian ke guru, terutama ke Pak Umarto biar dapat nilai bagus.
3. Selain Susi, kak Felisha benci banget sama Anisa di kelas IPS.
4. Cuma punya mantan 2
5. Digosipin lesbi
6. dll

Aslinya ketika mendengar gosip-gosip seperti itu, gue bingung harus bagaimana, gue pengen sedih, ketawa, sekaligus marah. Ternyata banyak juga ya yang ngegosipin sampai segitunya.

“Ani…. Kata siapa gue pilih-pilih dalam bergaul? Itu masa om iwan, mang atik, mang mamat, bi ida, kan teman gue juga, terus lagi siapa sih yang gak kenal gue di sekolah.”

“Ani, lo tau gak ? Gue pernah dapet nilai 6 di Fisika. Dan yang ngasih itu pak Umarto.”

“Iya Ani, gue dulu pas kelas 11 punya masalah sama Anisa waktu itu gue sama dia masih di eskul futsal, gue gak setuju waktu itu ketika dia jadi ketua futsal cewek, makanya gue gak ikutan futsal lagi. Tapi, gue lebih benci banget sama Susi daripada dia, lagian gue sama Anisa sekarang udah baikan kok, masih saling bertegur sapa.”

“Ah… Ni itu gosip darimana coba.. no komen deh gue ..”

Ya begitulah gue mencoba meluruskan beberapa hal yang menurut gue gak bener tentang diri gue.

“Ni, kapan-kapan Rahmi ajak main ke rumah dong, gue pengen ketemu.” Kata gue ke Ani. Asli gue pengen ketemu sama Rahmi, dia bisa tau darimana aja sih tentang kehidupan gue, sial banget tuh anak.

***

Selain mendengar cerita kehidupan Ani di sekolah, gue juga sesekali jadi menceritakan diri gue di sekolah selama ini. Ya, itung-itung transfer pengalaman juga buat dia. Gue pun menceritakan diri gue ketika awal sekolah sampai bertransformasi menjadi salah satu cewek badas di sekolah.
khodzimzz
itkgid
itkgid dan khodzimzz memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.