- Beranda
- Stories from the Heart
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat
...
TS
alishba
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat


(TRUE STORY)
"- Setelah melalui proses editing, maka tulisan ini akhirnya berhasil di publikasikan melalui penerbit Clover (M&C) Gramedia dan berubah judul menjadi JEJAK- "
- Alishba
Spoiler for TOP Threads:
Spoiler for Cover Design:

PROLOG
Uda Andre (Bang Andre), dan Uda Nopeng (Bang Nofan), merupakan narasumber sekaligus aktor utama dalam kisah yang sempat menggemparkan beberapa stasiun televisi selama kurang lebih 7 (tujuh) hari, beberapa puluh tahun silam.
Dalam informasi berita yang tersiar, mungkin mereka dikabarkan sudah hilang selama 6 (enam) hari, karena mereka dinyatakan hilang satu hari setelah Firman, Uncu dan Iwan melapor. Sedangkan perjalanan tak tentu arah yang sebenarnya mereka alami adalah 7 (tujuh) hari.
Sudah lama ingin berbagi, sharing dengan mereka untuk membahas penggarapan Buku, namun selalu terbentur kesibukan masing-masing, alhasil, skrip lamanya dulu yang pernah Andre tulis kembali ia kirimkan padaku. Semoga kisah ini bisa menjadi pedoman dan Menambah wawasan kita, sekaligus menyadarkan kita bahwa "Tuhan tak Tidur!".
(*)
PADA TAHUN 2001, ada 7 hari dalam perjalanan hidupku yang membuat aku harus berhadapan dengan maut. Meski ada sedikit hal yang terlupa dari rentetan kronologis waktu tersesat tersebut, itu karena aku pernah berkeinginan mengubur kenangan pahit itu sedalam mungkin. Hingga tak ada salah seorangpun yang tahu, kecuali Nopeng. Tapi, akan ku usahakan untuk mengingat keras, sekaligus akan disempurnakan dalam bentuk buku dengan mengambil “cerita” dari teman-temanku yang juga ikut dalam petualangan tersebut. Tentu saja aku takkan lupa melibatkan sahabat yang menemaniku selama 7 hari dalam pencarian jalan pulang. Mengitari Pegunungan hingga keluar dari cengkeraman maut Gunung Merapi yang berada di Sumatera Barat, dan inilah versiku:
Spoiler for Awal Naskah:
TUHAN, BERI AKU KESEMPATAN
Namaku Andre, ayahku bekerja di sebuah perusahaan BUMN, beliau termasuk orang yang keras dalam mendidik anak terutama anak lelaki. Namun demikian, menurutku beliau sungguh sangat demokratis.
Malangnya, ketika kelas 1 SMP aku pernah mengecewakannya, karena aku terpaksa di-DO (Drop Out) dari sekolah karena aku adu jotos dengan salah seorang guruku, yang menurutku seorang penjilat sejati. Akibat dari kenakalanku inilah aku harus menerima konsekwensi harus pindah ke Padang, Sumatera Barat, agar bisa naik ke kelas 2, tanpa harus mengulang. Di padang aku menyelesaikan masa SMP ku dengan lancar hingga kelas 2 SMU.
Aku dan noviandi yang seterusnya kupanggil -Nopeng, pernah membuat geger satu sekolah dan jadi pemberitaan di beberapa media massa, itu karena sepupu papaku ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dimana pemberitaan tersebut sangat rutin memberitakan kami yang tersesat selama 7 hari di gunung merapi.
Mencintai dunia mendaki dan bergiat di alam bebas kumulai sejak kelas 1 SMA, dan aku telah mendaki gunung Singgalang sebanyak dua kali. Kegilaanku dengan hobi ini semakin menjadi-jadi sejak aku tergabung dalam salah satu ekstra kurikuler Siswa Pencinta Alam (SISPALA). Hobi yang sangat ditentang oleh Tanteku dan keluarganya. Setiap kali aku meminta izin untuk mendaki gunung, aku tak pernah mendapatkan izin. Namun, aku tetap mendaki, karena aku cinta Alam rimba, mencium bau tanah hutan, sejuknya udara yang menusuk kulit, suara alunan gemericik air, sambil menikmati kopi susu di puncak gunung, nikmatnya.
Tiga hari sebelum kejadian tersebut, aku dengan 4 orang kawanku, Nopeng, Uncu, Firman, dan Iwan yang juga tergabung dalam Sispala di sekolahku, berencana akan mendaki gunung merapi. Gunung yang memilki ketinggian 2891 Mdpl(meter dari permukaan laut). Gunung merapi ini adalah gunung kedua yang sangat ingin kudaki setelah dua kali berhasil mendaki Gunung Singgalang, yang rutenya lebih berat dibandingkan gunung merapi. Segala persiapan untuk mendakipun mulai dikumpulkan, hingga tibalah harinya, kami berangkat dari padang ketika matahari mulai terbenam, dengan naik bus menuju koto baru yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan, rute normal untuk mendaki gunung merapi. Setelah tiba di koto baru, udara dingin mulai menusuk tulang, kami makan dulu untuk mengumpulkan energi, dilanjutkan dengani shalat Isya di masjid Koto baru.
Sesudah shalat kami mulai melakukan pendakian. Baru 15 menit perjalanan, salah satu kawanku menanyakan kaca mata yang kukenakan, dan aku tersadar kalau kaca mata itu telah tertinggal di masjid tempat kami shalat tadi, dan salah satu dari kami pergi mencek ke mesjid tersebut, dan anehnya sudah tidak ada lagi...!
Dan perjalananpun dilanjutkan, kami juga mendaftarkan nama dipos pasanggrahan, tempat memulai pendakian gunung tersebut sekaligus membayar retribusi kepada penjaga pos, perjalananpun dilanjutkan. Sebenarnya sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam perjalanan tersebut. Ketika aku berada di barisan paling belakang, seperti ada suara-suara yang berisik di belakangku, dan setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa dan hal tersebut juga dirasakan kawanku Firman, dan dia langsung menemaniku berjalanan beriringan di posisi belakang. Ketika menempuh jalan sempit dia yang mengantikan posisiku di belakang, kawanku ini punya kelebihan seperti ---indra keenam, tapi dia tidak membahasnya dalam perjalanan tersebut.
Matahari pagi mulai bersinar, kami sudah sampai di batas vegetasi atau cadas, puncak merapi pun telah kelihatan, Iwan dan aku yang pertama kali sampai di cadas tersebut, disusul Nopeng, Firman dan Uncu, yang selama perjalanan aku terus perang mulut dengan mereka. Kami beristirahat, masak dan mengisi energi, aku sendiri saat itu merasa tidak bisa mengontrol emosiku, aku lupa penyebabnya, hingga aku membuang salah satu periuk yang kami gunakan untuk memasak. Kemudian membawa tas sandang yang agak kosong, karena perlengkapan logistik kami sudah di keluarkan semuanya, aku membawa beberapa batang rokok. Kukatakan pada keempat kawanku kalau aku mau ke puncak, aku mulai menapaki jalan yang lebih kurang setengah jam menuju puncak merapi, kemudian terdengar Nopeng memanggilku, “Ndre aku ikutlah, *taik lah kau pergi sendiri-sendiri aja”
aku jawab ”hussst, mulut peng, di gunung ini, jaga mulutmu”
“Astaghfirullah” nopeng menjawab sambil menutup mulutnya, diapun kemudian menyusulku yang baru setengah jalan menuju puncak.
Kami tiba di kawasan puncak gunung tersebut, aku takjub, dan bahagia hilang segala penat, letih setelah berjalan hampir sepuluh jam. Aku melihat ada tugu salah seorang pendaki yang meninggal di gunung merapi namanya “Abel Tasman”. Menurut cerita dari pendaki-pendaki lain dia meninggal karena menyelamatkan seseorang yang terjebak di kawah gunung tersebut, secara reflek aku mencium tugu tersebut. Banyak pendaki-pendaki lain yang tersenyum kecil melihat ekspresi berlebihan ku saat itu.
Akhirnya aku dan Nopeng berjalan-jalan mengitari puncak yang terdapat banyak kawah-kawah hingga menuju puncak merpati, salah satu puncak yang top di gunung merapi. Beberapa menit kami diatas puncak sambil menikmati suasana merapi sejauh mata memandang terdampar permadani hijau, betul-betul menenangkan. Setelah menghabiskan rokok, aku dan nopeng melanjutkan perjalanan ke ladang Bunga Eidelweis, disinilah awal kisah nyata yang membuktikan bahwa Tuhan punya rencana sendiri terhadap kami berdua…
Kami mulai menuruni puncak Merpati, dan menuju ladang Eidelweis, tumbuhan misterius yang tumbuh di kawasan puncak gunung, dan setiap gunung menampilkan bentuk dan ciri khas masing-masing. Aku dan Nopeng dengan sigap dan penuh antusias memetik bunga abadi tersebut. Pada saat itu ada beberapa pendaki lainya yang juga memetik bunga tersebut, kami memetiknya seperti lupa waktu, setiap mata memandang kearah bunga tersebut, bunga tersebut terus memikat kami.
“Peng sudahlah cuma tinggal kita yang ada diladang ini” kataku pada Nopeng yang tetap semangat memetik bunga, hingga bunga tersebut penuh hampir setengah tas kami. Ketika kami ingin kembali turun, turunlah awan gelap yang membuat kami sulit mengingat kembali jalan kembali tersebut, kami berputar di sekitar kawasan puncak gunung merapi.
Perasaanku mulai tidak enak, Nopeng yang berada paling depan sibuk berputar-putar mencari jalan keluar, dan aku yang berada di belakang memanggilnya untuk berhenti dan tenang. ”Peng berhenti dulu, ayo kita berpikir dan menenangkan diri, kita sedang panik saat ini, Peng!"
Nopeng pun akhirnya menungguku dan kami duduk terdiam, “gimana selanjutnya Ndre?”
“Aku pun tak tahu, kita coba tunggu saja, mudah-mudahan kabut ini menghilang,” jawabku pasrah.
KABUT MULAI HILANG sedikit, nopeng kembali memimpin perjalanan. Kami berputar mencari jalan untuk turun ke bawah. Sampai suatu ketika kami melihat ada sekelompok pendaki jumlahnya aku lupa, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Akupun bertanya pada mereka, ”Pak (panggilan khas ala pendaki) mau kemana?! kami juga lagi kehilangan arah” sambungku lagi,
“Kami mau turun Pak, lewat jalur Simabur, kalau Bapak mau ikut, boleh gabung bersama kami” tawarnya.
Jalur simabur merupakan jalur yang naik melewati daerah Simabur, Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, sementara kami naik lewat koto baru daerah Padang Panjang. Kemudian aku menayakan pendapat si Nopeng ”gimana peng kita gabung aja?” tanyaku,
“gak usah ndre perasaanku tidak enak” jawab nopeng yang berdiri di belakangku.
Aku melihat ke kelompok tersebut, aneh juga, aku liat satu persatu pendaki itu yang laki-laki seperti tersnyum-senyum, sementara yang perempuan menangis sesenggukan, dan dengan berat hati aku mengikuti keputusan nopeng, untuk tidak ikut bergabung turun gunung bersama kelompok tersebut.
Perjalanan mencari jalan keluar kembali dipimpin oleh Nopeng, setelah lebih kurang 4 atau 5 jam (aku tak bisa memberi tahu waktu pasnya, meski si Nopeng memakai jam, tapi aku, dan dia pun tak ingat lagi perihal waktu, Karena panik) Nopeng menemukan satu jalan turun, yang menyerupai jalan cadas seperti waktu kami naik tadi. Meskipun kami sadar bahwa itu bukan jalannya, tapi aku ikuti saja.
Setelah penuh perjuangan dan beberapa kali aku terjatuh, kami tiba di sebuah jurang yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja kalau langsung lompat kaki bisa cedera. Nopeng yang turun pertama berhasil sampai kebawah. Dalam hatiku terbersit "kuat sekali anak ini", aku bingung tidak tahu mau turun lewat jalan mana, akhirnya Nopeng menunjukkan jalan mana yang harus kulewati, disaat itu timbul keisengan si Nopeng, di dalam tas yang kami ambil ada tustel, dia mengeluarkan tustel dan membiarkan ku tergantung di bibir jurang,
“Ndre ku poto kau dulu , ayo senyumlah”
kujawab ”Peng, udahlah gak usah becanda, kita udah hilang di gunung gini kau masih sempat becanda!”
“Kalau gak mau kau senyum gak kupegang kakimu supaya kau bisa turun”
aku ikuti saja kemauan si nopeng, dengan tersenyum kecut dengan gaya memelas, “klik”, dan aku pun di bantu turun sama si Nopeng, kemudian gantian, kini giliran dia yang meminta di foto olehku,
“nah sekarang gantian aku lagi yang kau poto ndre” lagi-lagi aku ikuti kemauanya, dan sesi poto-poto pun selesai.
Perjalanan pun di lanjutkan berkali-kali kami temui jalan curam namun mampu kami lewati, hingga kami bertemu lagi jurang kebawah yang lumayan tinggi. Nopeng yang pertama kali mencoba untuk turun, berhasil melewati jurang tersebut. Aku terdiam, kali ini sepertinya aku benar-benar tak mampu melewati jurang ini.
Saat mencoba berpikir bagaimana agar bisa turun, ketika itu tepat di sebelah kananku, di sebuah pohon tinggi, entah ilusi atau nyata, aku melihat sesosok tubuh hitam, awalnya aku tidak mengira kalau itu adalah sebangsa makhluk halus. Aku melihat ke arahnya, dia kemudian berdiri (aku menulis ini sambil bulu kudukku berdiri, inilah alasannya aku mau mengubur kenangan ini dalam-dalam, meskipun akhirnya kucoba untuk menulis ini, tidak lebih hanya karena ingin berbagi pengalaman),
nopeng yang awalnya senang karena mendengar informasiku bahwa ada orang di sana, “peng ada orang di atas pohon tingginya sama seperti manusia normal: ”ya udah panggil ndre”
belum selesai dia menyuruhku memanggil, aku langsung melanjutkan ”peng badannya hitam semua, dia menunjuk-nunjukku, seolah-olah ingin menyuruhku berbalik arah,”
nopeng langsung menjawab “ndre jangan dengar kan orang itu turunlah kau segera, dia bukan makhluk baik”.
Ditengah kepanikanku, “aku tidak tahu mau turun, dari mana peng? cepatlah dia mau turun seperti ingin menyusul kita, dia marah peng!!!” tambahku lagi.
Nopeng yang sudah di bawah tak bisa melihat si makhluk hitam tersebut, langsung menjawab ”lewat sini ndre”. Jalan yang ditunjuk Nopeng di sisi kiri jurang tersebut ada rumput dan tanaman-tanaman yang tumbuh menjalar ke bawah, tanpa banyak berfikir, aku nekat turun melewati jalan yang ditunjukkan Nopeng tersebut. Karena gravitasi, aku meluncur turun dengan tangan yang terus berpegang pada tanaman yang menjalar tersebut, entah bagaimana kejadiannya, posisiku langsung terbalik, kepalaku arah kebawah dan kakiku keatas.
Nopeng dengan sigap menyambutku dan sampailah aku di bawah dengan tangan lecet dan seluruh tubuhku dipenuhi tanah dan rerumputan yang menempel di tubuhku, “syukurlah kau masih selamat, ayo kita lanjutkan perjalanan ini,” kata nopeng yang langsung berjalan di depanku.
Akupun mengikutinya, tak lama berjalan, lagi-lagi kami bertemu jurang, kali ini nopeng mencoba turun ke bawah untuk melihat kondisi jurang tersebut, kemudian nopeng kembali sambil mengucapkan Ayat Kursi (ayat dalam kitab suci Al Qur’an), “Ada apa Peng?” tanyaku,
Nopeng, mulutnya sambil berkomat-kamit, menyebutkan bahwa dia baru saja melihat (Ya Allah, kembali bulu kudukku berdiri) "ada sesosok tubuh perempuan rambutnya keriting ndre, dia pakai rok tidak pakai baju, tidur tengkurap di dasar jurang”, aku pucat, dan terpaku, dalam hatiku “ya Tuhan, apa lagi ini?!”
(*)
Spoiler for Bersambung:

Diubah oleh alishba 17-09-2019 18:25
johny251976 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
268.1K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alishba
#352

Spoiler for Sambungan - Part 13:
Setelah kita membaca beberapa versi dari teman-temanku (Andre, Firman & Nopeng), kini giliranku berbagi pengalaman diluar dari konflik hilangnya dua diantara kami berlima. Aku memang bukan korban, namun, aku sungguh merasakan keresahan teramat dalam atas peristiwa itu. Saat kedua temanku terpisah dengan kami, saat aku menyadari mereka hilang, hingga saat mereka di vonis telah "Tiada" oleh tim SAR.
Mungkin kisahku tidak begitu menarik, tak pula horor, namun aku akan sedikit berbagi keadaan saat itu, saat kita semua yang ada disini berada di Posisiku, dan ini versiku.
(*)
Aku mengenal Nopeng sejak kecil, kami berdua sudah akrab sejak kecil. Sekolah bersama, mengaji, mengejar layangan di atas genteng rumah, mandi di kali, memanjat pohon "karambia" atau orang biasa menyebutnya pohon kelapa.
Nopeng memang memiliki jiwa petarung, dari kecil kegigihan dan jiwa yang terpatri dari dirinya sudah terlihat. Terbukti ketika kami bersama mengejar layangan putus, saat itu layangan itu hampir mendarat di sebuah persawahan. Dengan semangat ksatria, Nopeng berlari menerobos setiap semak-semak, ranting-rantingnya yang halus tetap akan melukai kulit kami yang masih lemah saat itu. Tapi, temanku ini tak perduli, goresan ranting itu bisa digantikan dengan senyuman ketika kami berhasil mendapatkan sebuah layangan. Hingga kami tiba di ladang padi seorang petani, karena terlampau semangat akhirnya padi-padi itu tertidur karena patah terinjak-injak kaki kami yang imut.
"Hoiiiiii, kalian....!!!! Rusak padi dennnn!!!"
(Hoiiiii, kalian.....!!!! Rusak padi kuuuuu!!!")
Seorang pemilik sawah berteriak sambil menunjukkan -celuritnya keatas.
Melihat teriakan itu, spontan kami berdua lari terbirit-birit, dan bersembunyi di rimbunan pohon -rimbang. Layangan tak dapat, malah kami jadi tak bisa keluar rumah karena pemilik sawah masih berkeliling-keliling mencari keberadaan kami, sungguh lucu saat itu.
Akhirnya, kami berpisah setelah SMP, dan kami bersekolah di sekolah yang berbeda. Namun, diluar jam sekolah kami tetap bermain bersama.
Dijamanku, tak seperti saat ini. Kami sungguh sangat merasakan detik demi detik perjalanan hidup menuju dewasa.
Ada sesuatu hal yang kami takutkan saat itu. Walau Nopeng dan aku terkenal dengan kebengalannya, dulu, ketika SD kami sangat takut di Sunat, karena, kami selalu di hantui oleh cerita-cerita pemuda yang sering nongkrong di warung, kalau sunat itu mengerikan.
"Oiyy, yuang! hati-hati kalian kalau sunat nanti..., burung kalian tu nanti ditarik, dijepit pake tang, trus di gunting sampe batangnya habis, hahaha"
Setiap bertemu, kami selalu ditakut-takuti dengan hal itu, mereka selalu tertawa terbahak-bahak setelah mengarang cerita itu dan berhasil membuat kami menunda-nunda untuk di sunat.
Tapi ternyata, setelah Nopeng mencobanya, ia tersenyum,
"Yop, gak sakit kok cuma seperti digigit semut..."
Melihat ekspresi dan perkataan temanku, akhirnya aku semangat untuk di sunat. Ketika hendak memakai sarung, Nopeng menyambung kalimatnya,
"Maksud aku Yop, seperti digigit semut, tapi semutnya sebesar gajah.....Sakkkiikk bana Yop!!! Sakikkk!! (Sakit kali Yop!!! Sakit!!).
Langsung saja aku meloncat dari tempat tidur mantri tersebut, aku berlari terpontang panting, tanpa celana. Sarungku terpaksa tertingga di tempat mantri tersebut Praktek.
Tapi pada akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka aku harus di -Sunat.
(*)
Ketika SMA, Akhirnya Aku dan Nopeng dipertemukan kembali. Kami kini berada di Sekolah yang sama. Di Sekolah inilah Aku dan Nopeng mengenal -SISPALA. Karena saat itu ini masih baru, kami penasaran dan mendaftar untuk mencobanya.
Ternyata, SISPALA justeru banyak memberi kami Ilmu. Kami banyak menggali ilmu-ilmu Alam, Camping, dlsb. Hingga pada suatu hari kami diikutkan untuk mengikuti pendidikan diluar SISPALA demi memperdalam Ilmu 'Kecintaan Kami Terhadap Alam'. Dalam program inilah Aku menjadi lebih dekat dengan Iwan, Firman, dan Andre. Kami dipertemukan disini, hingga membentuk jiwa kami menjadi petarung-petarung yang boleh dikatakan -Siap dilepas dihutan belantara sekalipun. Mengikuti program ini membuat jiwa kekeluargaan kami menjadi lebih kuat, rasa persaudaraan dan persahabatan menjadi lebih kental kurasakan.
Mereka biasa memanggilku -Uncu, karena dari segi perawakan, mereka mengatakan aku terlihat lebih dewasa, Mungkin.
Setiap ada sebuah event yang berkaitan dengan Pecinta Alam, Firman, Nopeng, Iwan, Andre, selalu kami ikutkan, dan Alhamdullillah selalu menang. Kami cukup memegang kendali dalam oranisasi SISPALA di sekolah, walau masih ada senior satu tingkat diatas kami, kami tetap menjadi orang yang berpengaruh. Hingga saat senior-senior ku tamat, kami berlima lah yang meneruskan serta menguasai -Tahta dan -Kerajaan mereka.
Sebenarnya, niat ke Merapi timbul karena, dua minggu lagi kami akan mengadakan pelatihan dan pembekalan Anggota SISPALA baru. Namun, saat itu dari kami berlima, hanya aku yang sudah pernah ke Merapi, mereka belum pernah sama sekali.
"Uncu, kita kan ada rencana mau mengadakan pembekalan Anggota ncu, gimana kalau kita minggu depan Mempelajari medannya dulu, kita kan belum pernah ke Merapi. Lucu banget kalau nanti junior bertanya pada kita, kita gak tau medannya.."
Mendengar teman-teman berbicara seperti itu, akhirnya kami sepakat pergi ke Merapi sabtu depan dengan mempersiapkan segala perlengkapan dari sekarang. Termasuk meminta izin kepada orang tua masing-masing.
(*)
Aku sangat sulit mendapat izin untuk pergi mendaki, setiap meminta izin, selalu terkena marah oleh orang tua ku. Namun, pada akhirnya aku tetap pergi dan orang tua ku tetap memberi bekal. Berbeda halnya dengan Andre dan Nopeng, kalau aku tak salah, saat itu Nopeng minta izin dengan Alasan "Menghadiri Acara Pernikahan" Kakak temannya, sedangkan Andre "Menghadiri Acara Perpisahan Teman" yang kebetulan Menggunakan Sound System milik Adik sepupunya di -MALIBO. Rencananya, setelah mendaki, Andre ingin menyempatkan diri dalam Acara itu dan Nopeng tak mau kalah ingin ikut juga.
Setelah sabtu tiba, sehabis pulang sekolah kami berkumpul di Camp. Saat itu, kamar pribadiku lah yang kami jadikan Camp tempat kami berkumpul. Setelah memastikan persiapan pendakian, kami pun mulai bergerak menuju Koto Baru. Saat itu, kami hanya anak sekolah, dan berusaha meminimalisir pengeluaran, sehingga kami hanya menumpang di Bus Lintas Sumatera menuju Koto Baru. Itupun kami naik dijalan, sehingga bisa nego harga dengan stokar bus tersebut. Saat itu yang hendak ke Koto Baru cukup banyak, hingga kami harus berdiri sepanjang perjalanan. Sesekali duduk di lantai bus, berdiri lagi, duduk di pinggir kursi, bermacam-macam gaya pun kami lakukan untuk mencari posisi enak untuk duduk. Terkadang Nopeng memulai leluconnya, bercanda-canda, sambil menggoda seorang wanita yang juga hendak menaiki Merapi saat itu.
Sepanjang perjalanan, kadang sesekali mataku berat, tertidur, terbangun, tersentak, dlsb. Hingga setelah beberapa jam didalam bus, kamipun berhasil sampai di Terminal Koto Baru dengan selamat.
Bersambung
Diubah oleh alishba 20-09-2016 21:22
piaupiaupiau dan sayabaik46 memberi reputasi
2
Kutip
Balas