Part 2
“Kenapa kau?” usik Purwasih, manakala menyaksikan pemuda idamannya tersenyum-senyum sendiri. Dia pun telah bangkit di sisi Andika.
“Yak, aku tahu!” sentak Andika, mendadak. Satu tangannya meninju telapak tangan yang lain.
“Hey hey hey! Tahu apa kau?” Pendekar Dungu ikut terheran-heran dengan mata mengerjap-
ngerjap menahan kantuk.
“Aku tahu, bagaimana membebaskan kalian dari totokan rahasia Hakim Tanpa Wajah! Sesungguhnya dia menempatkan semua totokan rahasianya pada jaringan saraf yang berhubungan dengan pusat kesadaran dan keseimbangan kita. Dan bila kita kehilangan kesadaran lalu siuman, maka secara tidak sengaja totokan itu ikut terbebas seiring kembalinya kesadaran kita,” papar Pendekar Slebor panjang lebar.
Andika memang cukup banyak tahu tentang jaringan tubuh manusia, setelah membaca kitab pusaka menyamar yang diwariskan Raja Penyamar kepadanya.
“Haaah, aku bingung! Jangan harap aku bisa memahami kalimat membingungkanmu itu!” sergah Pendekar Dungu sambil mencium bekas liur di tangannya.
“Kalau begitu, kenapa kita tak cepat-cepat membebaskan mereka?” usul Purwasih cepat.
“Usul bagus! Bagaimana, Pak Tua Bulu Hitam?” aju Andika pada Lelaki Berbulu Hitam.
“Ya, cepatlah! Aku pada dasarnya sudah tak sabar ingin meremukkan kepala tua bangka jelek bermuka rata itu!” timpal Lelaki Berbulu Hitam tegas.
Andika mengangguk.
“Kalau begitu, sebelumnya aku minta maaf karena harus kurang ajar padamu....”
Lalu...
Dugkh!
Mendadak saja, bogem mentah Andika mendarat telak di dagu lelaki keturunan serigala itu. Sengaja Andika hanya menggunakan tenaga luar. Karena bila disertai pengerahan tenaga dalam, dia takut malah akan mencelakakan lelaki itu. Tapi, apa yang terjadi? Lelaki Berbulu Hitam tetap berdiri kekar tanpa bergeming sedikit pun. Hanya bibirnya saja yang meringis-ringis. Rupanya ada gigi gerahamnya yang patah akibat tonjokan Andika.
“Kau ini ingin menolongku, apa hendak menyiksaku!” hardik Lelaki Berbulu Hitam setelah mengeluarkan sebutir giginya dari mulut.
“E-eh...,” Andika ikut meringis.
“Maaf, Pak Tua Bulu Hitam. Kupikir aku cukup menggunakan tenaga luar saja,” ucap Andika
serba salah.
Dugh!
Sekali lagi Pendekar Slebor melepas hajaran. Kali ini tidak dengan bogem dan tenaga luar, melainkan dengan tebasan punggung tangan yang disertai penyaluran tenaga dalam. Maka....
Gedubrak!
Lagi-lagi nasib sial Lelaki Berbulu Hitam bukannya berkurang, malah bertambah. Tubuhnya kontan terjengkang ke belakang. Matanya mendelik dengan bola hitam ke atas. Tak begitu lama kemudian, Andika sudah bisa menyadarkannya kembali.
“Lain kali, lebih baik aku tak kau bebaskan!” maki Lelaki Berbulu Hitam, tepat di muka Andika.
Pendekar Slebor itu hanya bisa tersenyum-senyum seadanya.
“Biar aku yang membebaskan si bebal itu!” selak Lelaki Berbulu Hitam, ketika Andika hendak mendekati Pendekar Dungu.
“Hey, apa-apaan ini?! O-o! Tak usah, ya.... Aku tak mau dipukul-pukul!” tolak Pendekar Dungu, kelimpungan. Giginya yang ompong terlihat manakala bibirnya terangkat-angkat karena ngeri.
“Aaah! Banyak mulut kau!” bentak Lelaki Berbulu Hitam.
Das!
Tanpa permisi lagi, tangan besar Lelaki Berbulu Hitam langsung mendarat di wajah keriput Pendekar Dungu. Wajah menjengkelkan milik tua bangkotan itu untuk beberapa saat mengejang. Matanya terjuling-juling. Sesaat kemudian tubuhnya ambruk.
“Biar tahu rasa kau!” dengus Lelaki Berbulu Hitam.
Sementara itu, Andika mendekati lelaki lain dalam barisan.
“Sekarang giliranmu, Ketua Pengemis!” ujar Pendekar Slebor pada Penggerutu Berkepang.
“Kutu busuk sial! Siapa yang mau dibebaskan dengan cara itu. Kau pikir aku ini siapa. Huh, ngngng....”
Penyakit lama Penggerutu Berkepang kambuh. Lelaki compang-camping itu menggerutu panjang-panjang.
“Kalau itu maumu, ya terserah.... Biar kau tetap tinggal disini sampai ruangan besar ini ambruk dan menguburmu hidup-hidup,” kata Andika santai.
“Yayaya! Baiklah!”seru Penggerutu Berkepang bcrgegas melihat Andika hendak meninggalkannya.
“Tapi kau harus ingat, ‘Bor’! Sedikit saja tubuhku memar, akan kusikat kau!”
Andika jadi sedikit jengkel.
Dugh!
Tanpa sungkan-sungkan lagi, Andika menghajar pelipis lelaki setengah baya yang mendongkolkan itu, dengan tenaga dalam lebih tinggi dari sebelumnya.
“Wadouuu!” Penggerutu Berkepang sempat berteriak. Pada saat yang sama, tubuhnya terpuntir ke belakang, dan terjengkang.
“Biar tahu rasa kau!” serapah Andika, mengikuti kalimat Lelaki Berbulu Hitam barusan. Setelah itu, bibirnya tersenyum-senyum sendiri.
Di bagian lain ruang seluas alun-alun itu, Hakim Tanpa Wajah dan murid murtadnya telah mencapai puncak pertarungan. Keduanya sedang terlibat adu kesaktian. Di satu sisi, Manusia Dari Pusat Bumi mengempos seluruh kesaktian siluman dalam dirinya, hingga tubuhnya berubah menjadi seperti bola api besar. Sementara di lain sisi. Hakim Tanpa Wajah mati-matian mempertahankan diri dari terjangan api sepanas bara neraka yang menjulur panjang dari tubuh berkobar murid murtadnya, dengan ilmu Tenaga Sakti Pembelah Bumi Pengoyak Langit’.
Waktu terus merangkak dalam erangan dan keringat darah sepasang manusia terkutuk itu. Dan pada saatnya....
Blarrr!
Ledakan amat dahsyat seketika tercipta. Dinding ruangan langsung runtuh berbongkah-bongkah. Tubuh Manusia Dari Pusat Bumi terlempar ke belakang laksana anak panah. Lalu, tubuhnya melesak di dinding ruang dari batu. Demikian pula yang terjadi terhadap Hakim Tanpa Wajah. Tapi, tampaknya tua bangka itu mengalami luka lebih parah.
Kiamat seakan terjadi dalam ruangan besar kebanggaan si Hakim Tanpa Wajah. Bongkahan-bongkahan batu dinding kian deras berguguran. Tiang-tiang besar di sepanjang sisi ruangan mulai retak. Dan sesaat kemudian, tiang-tiang itu ikut berguguran. Sebagian malah runtuh begitu saja.
Andika, Purwasih, dan para tawanan lain yang sejak tadi hanya menjadi pcnonton jadi kalang-kabut. Berbeda dengan para tawanan dari golongan putih dibarisan kanan ruang, para tawanan dari golongan sesat di barisan kiri ruang begitu terkesiap setengah mati. Di samping belum terbebas dari totokan, mereka juga masih terbelenggu rantai baja satu sama lain.
“Hey! Bebaskan kami! Kami tak ingin cepat-cepat mati!” teriak salah seorang pada para tokoh golongan putih.
Orang-orang golongan putih yang sudah pula memutuskan rantai baja pembelenggu kaki dan tangan, bukannya tidak mau menolong membebaskan golongan sesat. Betapapun jahatnya, mereka toh berhak mendapat kesempatan hidup. Siapa tahu, mereka akan sadar nantinya. Sayangnya para tokoh golongan putih belum bisa menolong membebaskan orang-orang itu. Pendekar Slebor dan yang lain sedang disibuki oleh batu-batu sebesar kerbau yang berguguran di sekitarnya. Bahkan terkadang harus berkelit ke sana kemari, tak jarang harus menghantam batu-batu itu dengan tangan jika kepala tak ingin pecah tertimpa.
Pada saat-saat yang membahayakan jiwanya sendiri, Andika sama sekali tidak kehilangan rasa kemanusiaannya. Ada yang harus diperbuat untuk me-nolong para tawanan golongan sesat.
“Pak Tua Bulu Hitam! Lindungi aku dari hujanan batu! Aku akan mencoba membebaskan mereka!” seru Andika, sepenuh tenaga. Suaranya yang sudah dialiri tenaga dalam pun, masih timbul tenggelam ditengah gemuruhnya ruangan besar yang mulai runtuh.
“Apa kau gila, Anak Muda! Biarkan saja mereka mati! Dunia pun akan berterimakasih jika aku tak menolong mereka!” bentak Lelaki Berbulu Hitam.
“Aku tak pernah memilih-milih, siapa orang yang harus ditolong!” balas Pendekar Slebor tak peduli.
Lalu Andika mulai berkelebat gesit ke sana kemari. berusaha menembus hujanan batu-batu besar yang menggila.
“Dasar keras kepala!” maki Lelaki Berbulu Hitam jengkel.
Mau tak mau, manusia keturunan serigala itu mengawasi Pendekar Slebor juga. Sambil tetap berusaha menyelamatkan diri dari runtuhan ruangan, tangannya sesekali melepas hantaman jarak jauh ke arah batu yang mencoba menghambat gerakan Andika. Dengan sungsang-sumbel, Pendekar Slebor akhirnya bisa tiba di dekat orang-orang golongan hitam. Seketika itu pula hendak dilepaskannya tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan dari jarak jauh untuk melebur rantai baja pembelenggu kaki dan tangan mereka. Namun, niatnya tak kesampaian. Karena tiba-tiba saja, lengkung kubah ruangan di sayap kiri ambruk.
“Andika menyingkir! Ruangan ini akan segera runtuh!” teriak Purwasih memperingatkan dari jauh.
Tanpa perlu diperingatkan pun, Pendekar Slebor terpaksa akan menyingkir dari sana. Reruntuhan sayap kiri kubah terlalu berbahaya untuk ditembus. Kalaupun mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghantami reruntuhan itu, tetap akan sia-sia.
Sekejap setelah Andika menyingkir, orang-orang golongan sesat yang hendak ditolongnya langsung tertelan timbunan bebatuan ruangan. Suara mereka tak terdengar. Bisa saja karena tak sempat berteriak, atau mungkin terlalu lemah dibanding kedahsyatan gemuruh reruntuhan.
Sementara itu, puncak kubah ruangan kian rapuh. Retakan besar tampak dirembesi air. Lama kelamaan, rembesan itu berubah menjadi cucuran. Bahkan akhirnya berhamburanlah air bah raksasa berbareng terkuaknya puncak kubah bagai moncong naga bumi. Seisi ruangan langsung dilahap air, membuat mereka yang ada di sana terombang-ambing kian kemari tanpa daya. Kekuatan dorongan air bah itu sekarang menghantam satu sisi dinding yang paling rapuh. Maka, terciptalah lobang besar yang berhubungan dengan lorong aliran sungai bawah tanah.
Bagi setiap orang yang masih hidup di sana, terkuaknya dinding ruangan adalah awal dari kehilangan kesadaran. Semuanya tiba-tiba gelap. Begitu juga Andika dan Purwasih yang sempat berpegangan tangan erat-erat. Andika sendiri, pada saat hampir kehilangan kesadaran, sempat mendengar sebuah suara yang lamat-lamat berseru langsung ke relung benaknya....
“Pendekar Slebor! Aku akan datang lain kali untuk membunuhmu!”
***
Andika siuman, begitu rasa sejuk merambahi wajah hingga ke bagian lehernya. Kelopak matanya terbuka. Yang pertama dilihatnya adalah hamparan langit-langit berbatu-batu menonjol tajam, seperti susunan gigi tak beraturan. Pada setiap ujung runcing tonjolan batu, menetes butir-butir air. Sebagian tetesan air itu jatuh di wajahnya. Itu sebabnya, Andika merasakan kesejukan.
“Di mana aku?” tanya Pendekar Slebor agak mengerang.
Seluruh tubuh pemuda itu serasa luluh lantak. Mungkin akibat benturan berkali kali dengan dinding lorong sungai bawah tanah selama diseret arus. Dari rebahnya, Andika beringsut tegak. Suasana baru, menitah dia untuk mencari tahu ke sekeliling tempat. Pandangannyapun beredar sesaat, dan baru berhenti ketika menemukan tubuh Purwasih tergeletak lunglai tiga tombak dari tempatnya.
“Mana yang lain ?” gumam Andika lagi.
Pertanyaan itu wajar saja tersembul dari benaknya. Bukankah sewaktu di Pengadilan Perut Bumi mereka bersama-sama? Tapi, kini yang ditemukan hanya tubuh Purwasih. Sebelum menghampiri Purwasih, Andika memperhatikan lagi suasana sekelilingnya. Dia berada di satu sisi lorong. Sepanjang sisi lorong yang lain, terdapat aliran air jernih selebar dua kaki, dan sedalam betis. Tempat dirinya dan Purwasih tergeletak, tampaknya adalah pinggiran sungai bawah tanah yang sudah mengendap selama ratusan tahun, sehingga mengeras kini.
Cukup memperhatikan semua itu, Andika segera menghampiri Purwasih. Wanita berjiwa ksatria itu juga hanya pingsan. Di beberapa bagian tubuhnya, terdapat goresan yang mengeluarkan darah. Bagian yang paling parah adalah kaki kirinya. Bengkak dan membiru. Andika yakin, ada tulang yang remuk akibat benturan hebat dengan sisi lorong.
Tak berpikir lama-lama lagi, segera ditotoknya jalan darah di bagian kaki kiri Purwasih. Tindakan itu memang perlu dilakukan, agar Purwasih tak begitu menderita jika siuman nanti. Setelah itu, pendekar muda dari Lembah Kutukan ini mengerahkan hawa murni melalui telapak tangan, ke bagian dada Purwasih. Agak sungkan, memang. Tapi Andika tak punya pilihan lain. Dengan begitu, Purwasih dapat cepat siuman dan sedikit menyegarkan tubuhnya yang sudah banyak kehilangan tenaga. Purwasih tersadar sekian saat kemudian.
“Uuuh.”
Dara cantik itu melenguh seraya menggoyang-goyangkan kepala perlahan.
“Di mana kita, Andika?” tanya Purwasih lirih, ketika mendapati Pendekar Slebor di sisinya.
Purwasih berusaha duduk berselonjor. Kepalanya yang masih begitu berat, disandarkan di bahu bidang pemuda yang selama ini begitu menawan perasaannya.
“Tepatnya, aku tak tahu. Tapi aku yakin kita telah berada jauh dari Pengadilan Perut Bumi,” jawab Andika.
“Kau tak apa-apa, Purwasih?”
“Kurasa aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”
Purwasih balik bertanya, seolah ingin membayar perhatian barusan. Bibir Andika tersungging. Bahunya mengedik kecil.
“Hanya luka-luka kecil. Seperti kau juga. Aku hanya lecet di sana-sini,” sahut Andika, sambil memutar tangan kanan untuk memperlihatkan sikunya yang terkoyak pada Purwasih.
“Aku tak melihat luka di sikumu,” kata Purwasih, memaksa Andika tertegun sejenak.
“Apa maksudmu?” tanya Andika heran, kembali melihat siku kanannya.
Benar kata Purwasih. Tak ada lagi koyakan kulit di sana. Hanya warna hitam yang melintang tipis.
“Aneh...,” desis Andika.
“Aneh bagaimana?” tanya Purwasih seraya bangkit seperti tak terlalu tertarik pada pertanyaan Andika tadi.
“Sumpah mampus, barusan aku menyaksikan sendiri sikuku ini terkoyak. Kau lihat ini...,” Andika menunjukkan bercak-bercak darah yang tersisa di bawah sikunya.
“Bercak-bercak darahnya pun masih ada....”
“Mungkin kau salah lihat tadi,” sangkal Purwasih, seraya mengedarkan pandangan kesekeliling.
“Kau pikir aku sudah tidak waras? Aku jelas-jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri!” Andika ngotot.
“Ah, sudahlah. Itu hanya persoalan kecil, bukan?”
“Tunggu..., tunggu dulu!” sergah Andika.
“Sepertinya kita mendapat persoalan yang tidak kecil. Ini tidak remeh, Purwasih!”
Langsung Pendekar Slebor menatap pinggul menantang Purwasih yang begitu gempal berisi.
“Apa-apaan kau ini! Kenapa matamu jadi tak senonoh begitu!” omel Purwasih. Wajahnya karuan menjadi merah matang.
“Sial! Aku bukannya sedang memperhatikan pinggulmu. Meskipun kuakui memang indah, dan....”
“Tutup mulut kotormu!” Purwasih makin bertingkah takkaruan. Lebih-lebih, warna wajahnya.
”Maksudku.... sewaktu kau belum siuman. kulihat ada luka agak menganga di bagian itu!” tegas Andika.
“Ah, sudahlah! Lelaki memang punya seribu satu alasan untuk berbuat kurang ajar!” penggal Purwasih, malu bukan main.
Dikira, Andika hanya sedang mengolok-oloknya. Masalahnya, selama ini gadis itu tahu bagaimana urakannya Pendekar Slebor. Dalam keadaan apa pun, bahkan dalam kegentingan, pemuda brengsek itu tetap tak pernah sembuh dari sitat urakannya.
“Biar kulihat sebentar!” ujar Andika mendadak.
Dan mendadak pula Pendekar Slebor menarik tangan Purwasih. Cepat dan tak terduga. Tahu-tahu, tubuh Purwasih sudah merapat ke dadanya. Sedangkan tangannya mendekap pinggang Purwasih dari belakang.
“Andika! Apa-apaan ini!” Gadis berkulit kecoklatan nan manis itu meronta-ronta. Antara risih dan rasa berbunga-bunga. Dadanya berdebar-debar cepat, bagai ada badai hebat dalam dirinya.
“Nah, betul bukan?!” seru Andika.
Dari belakang tubuh Purwasih, mata jantan pemuda itu sibuk mengamati bagian pinggul Purwasih. Di bagian itu, pakaian Purwasih tampak terkoyak. Sehingga, memunculkan kemulusannya.Purwasih menepak keras-keras tangan pemuda ini yang hinggap semena-mena di pinggang rampingnya. Dia pun meronta sampai lepas. Hendak ditinjunya perut pemuda urakan itu. Tangannya siap melayangkan kepalan.
“Tunggu-tunggu!” tahan Andika mendelik-delik. Tubuhnya tersurut-surut mundur di bawah ancaman kepalan Purwasih.
“Kalau kau tak percaya mulutku, coba lihat sendiri bagian tubuhmu yang aduhai i... ugh!”
Pendekar yang begitu slebor ini tak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena tinju Purwasih lebih dulu bersarang telak di ulu hatinya. Purwasih berjalan meninggalkan Andika dibelakangnya. Sedikit pun kepalanya tak berani menoleh. Takut wajahnya yang kian tak karuan diketahui Andika.
“Mau ke mana, kau?!” cegah Andika.
“Sungguh mati, aku tak main-main. Tampaknya ada suatu yang luar biasa di tempat ini.”
Suara Andika terdengar penuh tekanan, agar Purwasih tahu kalau dia bersungguh-sungguh. Purwasih akhirnya mau juga menoleh, setelah terlebih dahulu berdiri diam sekian lama.
“Baik. Sekarang, jelaskan padaku dengan singkat. Apa maksudmu sebenarnya?” desak Purwasih.
“Kau perhatikan lagi bagian pinggulmu. Aku tak bohong. Sebelumnya aku memang melihat luka di situ. Tapi kini, yang tinggal hanya pakaianmu yang terkoyak di bagian itu, dan bercak-bercak darah di sekitarnya. Sementara di bagian yang kulihat terluka, hanya ada bekas yang agak menghitam,” papar Andika.
Tak terlihat kesan bergurau di wajah pemuda itu. Sewaktu bicara, bahkan matanya agak menyipit-nyipit, tanda benar-benar menaruh perhatian penuh pada perkara itu.