Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#53
PART 24 (II)


Kami pun pindah dari sana. Di jalan, Mita nyerahin ke aku soal tujuan selanjutnya. Aku tiba-tiba keingat tempat biasa aku ngajakin Wiwid. Mita pun sepakat dan kami langsung menuju ke sana.

Secara kami naiknya motor, otomatis aku bisa ngerasa kalo boncenganku geraknya berlebihan. Iya, Mita ini perasaan nggak ada diamnya dari tadi. Pas aku ngecek dari spion, rupanya dia terus-terusan ngelihatin belakang.

“Mit, kamu ini kenapa sih?!”

“Nggak apa-apa! Udah jalan aja! Ngebut!” serunya. Gila, gimana aku nggak tambah khawatir coba.

“Oh ya! Yo!”

“Apa?!”

“Kayaknya aku juga mau deh kayak teman-teman kelasmu!”

“Apanya?!”

“Kita ke puncak yuk!”

Eh?!

“Serius kamu?!”

“Iya! Beneran!”

“Kamu kayak gini nggak kedinginan ntar?!”

“Enggak! Udah tenang aja!”

“Mit kamu kenapa sih?! Kamu jadi aneh gitu!”

“Nggak apa-apa kok! Yuk jalan!”

“Mit aku serius Miiit!!”

“Aku juga serius kali Yoo!!”

“Ya udah,” jawabku. Terpaksa aku menurut. Kami pun langsung melaju ke arah puncak. Waktu itu masih sekitar jam setengah delapan. Dan ada tiga hal yang tengah kupikirkan saat itu. Pertama soal villa. Aman. Ini bukan malam tahun baru, jadinya pasti dapat. Kedua soal pakaian. Si Mita ini apa memang tahan dingin ya? Ketiga.....jelas. Masih sama. Mita kok aneh banget ya? Apa alasannya sampe dia tiba-tiba ngajakin ke puncak? Terus terang aku masih bingung.

“Kamu nggak laper?!” tanyaku beberapa lama kemudian. Saat itu Mita udah tenang beneran. Nggak parno lagi. Bersamaan, udaranya juga mulai terasa dingin. Malah dia nggak bawa jaket lagi.

“Laper sih!”

“Ayo makan dulu! Mau makan apa?!”

“Ah! Iya,” Mita teringat sesuatu. “Kamu suka pedes nggak?”

“Mmmmm.....suka kok!” jawabku. Bohong.

“Oke deh. Ntar kita singgah aja ke supermarket.”

“Ya udah!”

Kami udah singgah di supermarket terdekat. Setelahnya kami masuk. Aku yang awalnya nggak banyak nerka-nerka akhirnya paham. Mita nggak bilang apa-apa memang. Tapi dari belanjaannya, aku yakin kalau Mita pingin masak di Villa nanti. Aku ya jelas kaget bin kagum. Baru tau aku kalo dia punya hobi masak. Kami berdampingan dengan aku yang ngedorong trolly. Kalau perasaanku sendiri jangan ditanya. Gimana coba rasanya belanja sama perempuan yang kalian sukain? Perempuan mana sih yang nggak kelihatan anggun waktu milihin bahan-bahan masak? Apalagi rautnya waktu ngebaca kemasan itu lho emoticon-Genit. Serius, tapi manis. Maut. Aku mesam-mesem terus tapi dia nggak tau. Momen ini benar-benar menyenangkan. Tuhan, aku ini hambamu yang beriman. Terimakasih Tuhan. Terimakasih. Aaaah, rasanya udah kayak pasutri aja kalo belanja bareng kayak gini.

Mama, lamarin Mita buat Yohan Ma. emoticon-Hammer

Kami udah selesai belanja. Sekilas info, Mita juga sekalian beli jaket di lantai atas. Gila, praktis juga ya hidup si Mita, kupikir. Barang bawaan kami lumayan banyak. Repot sih, tapi aku nggak akan ngeluh. Apalagi memang daerah puncak udah kian dekat. 45 menit paling udah nyampe.

Kami udah sampai di daerah puncak. Mondar-mandir sebentar, kami pun memilih villa yang kami rasa pas. Benar. Kosong. Tapi ya itu, bagian dapurnya kosongan. Dan dengan kesepakatan ‘tambahan’, dapur pun langsung jadi lengkap. Dari rumah yang masih satu halaman itu, si pemilik langsung mengangkut peralatan masaknya ke villa. Kami jadinya bisa masak dan ngapain aja.

Lagi-lagi, hidup si Mita ini memang praktis.

“Jadi, Chef Mita.....masak apa kita sekarang?” kugoda dia. Waktu itu kami masih ngeluarin semua belanjaan kami dari kantong plastik.

“Hmmm,” Mita mengangkat sebuah kemasan.

“Oh, mi rebus ya?” godaku lagi. Aku ya tau kalo itu bacaannya pasta.

“Spagettiiii. Belum pernah makan ya?”

“Udah, kalo sarapan deket kos.”

Mita bingung. “Keren banget kamu, sarapannya pake spaggetti. Ngalah-ngalahin aku tau nggak.”

“Lagian murah juga Mit. 8 ribu doang.”

“Hah? Spaggetti apaan itu murah banget?”

“Ya iyalah Mit. Lontong kalo pake telor itu ya 8 ribu, kalo nggak pake...”

“Iiiiiih!” langsung dilemparnya aku pake pasta. “Udah serius-serius juga.”

“Eh, makanan kok dibuang-buang? Chef apaan kamu ini,” aku sambil mungut pastanya di lantai.

Kami pun mulai memasak. Malam itu, Mita ngakunya mau bikin Aglio Oglio. Kami bekerja begitupun sama rice cooker. Dan tadi aku sempat diketawain habis-habisan. Gimana enggak? Bentar lagi, dia bakal ngelihat untuk pertamakalinya, ada orang yang makan pasta pake nasi.

“Bakal kangen deh sama sekolah,” tanggapnya di sela-sela obrolan kami. Saat itu Mita baru aja berdiri di belakang kompor gas. Aku sendiri duduk di kursi makan sambil motongin cabe sama bawang. Banyak jedanya. Motong dikit ngobrol, motong dikit ngobrol.

“Iya Mit. Aku juga.”

“Kamu bisa berantem juga ya ternyata. Aku kira kamu itu pendiem lho.”

Sial, harus jawab apa ini?

“Yaa.....mau gimana lagi Mit. Namanya juga ngebela temen.”

“Aku juga suka lucu kalo keingat surat itu. Kamu sih yakin banget kalo itu aku yang nulis.”

“Ya kenapa nggak mungkin juga? Lagian kan aku udah bilang, kalo aku nggak datang padahal suratnya asli, pasti aku dikira sombong. Nah, itu yang aku nggak mau.”

Mita terkekeh. “Bisa aja deh ngelesnya. Malah udah dandan lagi.”

Eh?

“Enggak ya. Sok tau deh kamu.”

Mita terkekeh. “Ya ampun Yoo, temen-temenku juga bisa lihat kali. Kamu itu rapi banget coba waktu itu. Lagian kalo aku perhatiin nih ya, selama ini kalo pagi pun, kamu kayaknya nggak pernah serapi itu deh. Segitunya ya yang mau ketemu sama aku,” Mita tersenyum menang.

“Udah sih. Puas banget ngeledekin aku terus,” jawabku lagi..Eh?!! Tunggu, tunggu, tunggu. Kayaknya tadi ada semacam kata kunci deh.

Perhatiin? Selama ini?

YEEESSSS!!!!!! emoticon-Ultah

“Kamu jadi pulang besok?” Mita menyinggung rencanaku lagi. Tadi sempat kami bahas waktu masih di cofeeshop.

“Mungkin. Kalo nggak ya lusa.”

“Kasihannya yang bakal ditinggal.”

“Cuma bentar kok Mit. Paling cuma dua hari. Jangan sedih gitu.” emoticon-Smilie

“Maksudnya pacar kamu lho.”

Kiraain emoticon-Frown

“Kamu kenapa gitu mukanya?” Mita heran. Aku pun sama. Terus terang aku kaget. Awal aku menghubunginya sampai sekarang memang aku nggak ada mbahas soal Wiwid.

“Satu sekolah juga tau kamu pacarannya ama siapa. Kamu itu terkenal kali,” katanya lagi. Mita ini antara nyanjung sama nyindir aku yang udah nggak jujur sama dia. Tapi sumpah, saat itu juga aku langsung ngerasa canggung.

“Maaf ya Mit.”

“Lho, kenapa?”

“Ya......itu. Harusnya kan dari awal aku ngomong.”

“Ngomong apa?”

“Ya itu. Soal aku yang masih.....”

“Masih pacaran sama dia?”

“Aku sebenernya nggak ada rasa sama dia Mit, aku serius, aku tau kelakuanku salah, tapi aku bakal ngelurusin semuanya, aku bakal lepasin dia Mit, dan kamu harus tau kalau aku belum ada ngapa-ngapain dia, aku suka sama kamu Mit, udah lama malah, tapi aku nggak ada kesempatan buat ngedeketin kamu.”

Mita terdiam ngelihat aku nyerocos. Kata-kataku barusan memang keluarnya nggak pake saringan.

“Yo, kamu nggak perlu minta maaf gitu.”

“.................................”

“Aku pun sama Yo. Aku juga masih punya pacar.”

Hah? emoticon-Mewek

“Oh. Gitu ya,” sebisa mungkin aku menyamarkan hatiku yang kalut. Asli makjleb. Perih-perih gimana gitu rasanya. baik. Kenapa aku begitu egois? Aku sendiri udah jahat sama Wiwid. Tapi aku nggak terima kalau Mita ternyata punya pacar. Pantaslah dia nggak masalah kalo aku masih pacaran sama Wiwid. Apa ini cuma sebatas senang-senang aja buatnya? Iya juga, ya? Pantesan. Hendro rupanya bukan jalan di tempat. Mita memang masih punya cowok. Tapi siapa? Apa dia yang tadi udah ngejer-ngejer Mita?

Siaal! Lemes gini aku rasanya.

“Kami LDR-an. Udah dua tahun kami jalan.”

“Oh. Gitu ya,” kataku lagi. Aslinya aku nggak pingin dengar.

“......................”

“......................”

“.....................”

“KENA DEH!!” emoticon-Wkwkwk

Sial, ni anak udah kayak Yesi aja lama-lama. emoticon-Nohope

“Apaan sih.” emoticon-Malu

“Nggak ikhlas gitu mukanya.”

“Udah ah Mit.”

“Kecewa ya?” Mita menggodaku lagi.

“Apaan sih. Udah ah.”

“Eh, Yo, lihatin pastanya ya. Kayaknya bentar lagi mateng deh. Aku mau ke kamar mandi dulu. Bisa dipercaya, kan?”

“SIAP CHEF!!” aku menghormat. Mita geli sendiri melihat tingkahku.

Mita udah ke dalam. Aku sendiri melanjutkan kerjaanku yang sebenernya cuma sedikit. Aku senyum-senyum sendiri. Mita punya selera humor juga rupanya. Aaaah, nggak apalah dikerjain. Yang penting itu dia belum punya pacar. Dan yang paling penting lagi, dia udah denger langsung perasaanku gimana. Biarpun momennya nggak romantis, yang penting aku lega.

“AAAAAA!!!!”

Sial! Mita kenapa itu?! Teriaknya kenceng banget!

Aku yang panik langsung berlari ke asal suara. Di depan, aku mendapati pintu salah satu kamar lagi ketutup. Iya, dia pasti ke toilet yang ada di dalam kamar ini.

“MITA!?? KENAPA KAMU?!’ langsung kugedor-gedor pintu kamarnya. Mita nggak ngejawab. Iya, asalnya dari sini. Dan, anj#ng! Mita nangis-nangis itu di dalam.

“MITA!!’ kugedor-gedor lagi dengan lebih keras.

‘BRAK!’.

Hah?!! Siapa itu?!!

‘BRAK!!!!”

Aku kaget nggak karuan. Pintu depan didobrak dan sekelompok orang tiba-tiba masuk. Siapa mereka ini? Apa mereka yang tadi udah ngejar-ngejar Mita? Anj#ng! Aku panik. Langsung kuacungkan pisau yang rupanya masih kupegang.

“SIAPA KALIAN?!!”

Salah satu dari mereka rupanya ngebawa sebilah balok. Sekejap aja kayunya udah terbang berputar-putar. Refleksku kebetulan tepat. Aku yang jatuh membuat kayunya hanya membentur pintu. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku yang masih terduduk langsung disergap. Kepalaku diterjang, tanganku yang memegang pisau pun langsung diinjak. Setelahnya aku habis.

Benar-benar habis.

***

Diubah oleh kawmdwarfa 19-09-2016 20:00
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.