Part 1
Tak seorang pun tahu kalau di bawah naungan sebuah pohon besar yang lebat telah duduk bersila sebuah sosok gaib selama berhari-hari. Tubuh laki-laki kasat mata yang duduk terpejam itu sedikitpun tak bergerak. Jenggotnya yang putih lebat, menguncup di ujungnya. Kepalanya ditutup kain batik seperti belangkon Sunda. Seluruh tubuhnya diselubungi serat-serat cahaya berwarna putih.
Dialah si Raja Penyamar. Tokoh golongan atas yang sudah berupa roh itu mati beberapa puluh tahun lalu. Sejak kepergian Pendekar Slebor menelusup Pengadilan Perut Bumi, roh Raja Penyamar berusaha masuk pula ke sana. Namun, niatnya gagal. Karena Pengadilan Perut bumi ternyata telah dilindungi benteng gaib yang dibuat Manusia Dari Pusat Bumi. Sebab itu, Raja Penyamar pun mencoba menjebolnya dengan melakukan tapa batin (Untuk mengetahui tentang Raja Penyamar, baca serial Pendekar Slebor dalam episode : “Pengadilan Perut Bumi”)
Sejauh itu, usaha tokoh gaib ini nihil. Hanya karena tekadnya dalam membantu Andikalah yang membuat dia tetap bertahan untuk melakukannya. Padahal usahanya menjebol dinding gaib Pengadilan Perut Bumi, tak beda dengan beratnya seseorang yang bertarung mati-matian selama berhari-hari. Semakin keras usaha Raja Penyamar dalam menembus dinding gaib itu, maka semakin terang semburat sinar putih di sekujur tubuhnya. Padahal hari kesembilan, serat-serat cahaya itu mulai tampak bergelombang dalam gerak melingkar. Warna ditepinya mulai berubah kemerahan.
Hari kesebelas, gelombang cahaya itu makin menghebat. Tubuh halus Raja Penyamar seperti timbul tenggelam dalam amukannya. Percik-percik kecil pun mulai tercipta, pertanda kalau usahanya sudah mencapai titik paling berbahaya.
Sraaat!
Pada puncaknya, sehimpun percikan cahaya biru menyatu membentuk lidah api. Gempuran kekuatan Raja Penyamar pada benteng gaib Pengadilan Perut Bumi mulai berbalik ke arahnya. Sedikit demi sedikit, Raja Penyamar tertelan cahaya biru yang membesar. Keadaan menjadi genting. Artinya, nyawa Raja Penyamar seperti telur di ujung tanduk. Dia memang telah mati. Namun jika gempurannya kalah, bukan tidak mungkin jasad halusnya terlempar ke alam lain yang sama sekali tidak dikehendaki. Itu artinya, nyawanya akan terpenjara sampai malaikat menjemput. Hal itu tak boleh terjadi. Tugasnya di dunia persilatan belum lagi selesai. Apalagi, Pendekar Slebor masih amat membutuhkan bantuannya untuk mengenyahkan angkara murka yang dibawa Manusia Dari Pusat Bumi.
Dengan segenap kemampuan, Raja Penyamar mengerahkan kembali perlawanannya. Tubuhnya memang tetap tak bergeming. Wajahnya memang tetap setenang permukaan telaga. Sebaliknya, serat-serat cahaya di sekujur tubuhnya kian hebat bergelombang. Sampai akhirnya....
Plap!
Tumbukan cahaya putih, merah, dan biru itu pupus seketika, bagai ditelan kelengangan pagi buta.
“Aneh...,” bisik Raja Penyamar.
“Semestinya aku harus mati-matian melakukan gempuran. Dan tak akan semudah ini aku menghancurkan benteng gaib itu. Hm.... Apa yang sesungguhnya terjadi di Pengadilan Perut Bumi sana? Kenapa benteng gaibnya tiba-tiba menghilang?”
Mata lelaki yang hanya berbentuk roh halus itu terbuka. Bola matanya bergerak-gerak, memperlihatkan rasa keheranan dalam hati. Tak ada lagi gempuran balik dirasakan. Semuanya tiba-tiba terasa begitu lega. Badannya pun kini sudah terlihat mengenakan baju coklat berkerah pendek dengan celana pangsi hitam, seperti dikenakan jasadnya yang terkaku bisu di Kampung Kelelawar nun jauh di sana. Raja Penyamar bangkit dari bersilanya.
“Aku yakin telah terjadi sesuatu di Pengadilan Perut Bumi sana,” bisik orang tua itu lagi.
Sementara itu, jauh di bawah perut bumi sana, memang telah terjadi sesuatu, tepat seperti dugaan Raja Penyamar. Pertarungan besar telah meletus antara Manusia Dari Pusat Bumi disatu pihak, melawan Hakim Tanpa Wajah di lain pihak. Dengan berseterunya antara guru dan murid itu, maka benteng gaib yang dibangun Manusia Dari Pusat Bumi pun tak berguna lagi.
Setelah mendapat titah langsung dari Siluman Berperut Buncit melalui Cermin Alam Gaib, Manusia Dari Pusat Bumi langsung menarik kembali kekuatan miliknya yang membentengi Pengadilan Perut Bumi. Di ruang utama Pengadilan Perut Bumi sendiri, saat itu digetarkan erangan tinggi mendirikan bulu roma. Si manusia jelmaan siluman ini telah terang-terangan hendak melenyapkan gurunya sendiri. Bahkan dia telah membuka jurus yang begitu asing di mata Hakim Tanpa Wajah. Padahal, gerakan itu tak pernah diajarkan sama sekali.
Tangan Manusia Dari Pusat Bumi tampak berkejaran satu sama lain dalam putaran tak teratur. Kecepatannya begitu tinggi, menyebabkan tangannya terlihat begitu banyak, seperti belalai gurita Iaut.Tak lama berikutnya, tangan manusia jelmaan si luman itu mulai memendarkan cahaya kemerahan, yang kemudian berubah menjadi kobaran api melalap sekujur tangannya. Dalam kecepatan gerak tangan, jilatan api itu kini mengelilingi tubuhnya.
Wrrr! Wrrr!
Menyaksikan semua itu, tak ayal lagi Hakim Tanpa Wajah mengerahkan ilmu andalan yang sempat disembunyikan. ‘Tenaga Sakti Pembelah Bumi Pengoyak Langit’! Ilmu olah kanuragan sakti hasil pengembangan ‘Tenaga Sakti Pembelah Bumi’ itu memang sengaja tidak diturunkan pada muridnya. Dan memang sudah menjadi aturan tak tertulis para tokoh golongan hitam, untuk tidak menurunkan seluruh ilmu pada seorang murid. Dalam dunia kaum sesat, pengkhianatan setiap saat bisa saja terjadi. Itu sebabnya, harus ada ilmu simpanan yang tak diwariskan. Jika suatu saat sang murid berkhianat, maka si guru bisa mempergunakan ilmu simpanan tersebut untuk menghadapinya.
“Hiaaa...!”
Mulut Hakim Tanpa Wajah mengumandangkan teriakan mengguncang, seiring jejakan-jejakan kakinya yang jauh lebih mengguncang. Ruangan besar itu sampai bergetar hebat, seolah terjadi tumbukan dua kekuatan raksasa. Tangan si tua bangka itu sudah pula menghentak-hentak kedepan. Kini, kain kafan yang semula mengikat kakinya, sudah tak karuan lagi bentuknya.
Tak lebih dari dua kerdipan mata, murid murtad Hakim Tanpa Wajah ini menerjang gurunya sendiri dalam kecepatan penuh. Diterkamnya laki-laki tua itu seperti seekor macan lapar menerkam mangsa. Sepasang tangannya yang berselimut jilatan api menegang ke depan, siap melalap wajah sang guru.
“Arrrgh!”
Karena begitu yakin kehandalan ilmu ‘Tenaga Sakti Pembelah Bumi Pengoyak Langit’ yang sanggup menahan panas api di tangan Manusia Dari Pusat Bumi, Hakim Tanpa Wajah tak ragu-ragu lagi menyambut terkaman itu. Berbareng jejakan kakinya ke bumi, sepasang tangannya menadah tinggi ke atas. Maka, tangan keduanya pun berbenturan.
Blammm...!
Seketika tercipta ledakan keras disertai semburat pancaran api yang menjilati angkasa. pada saat tubuh pemuda siluman itu masih di udara, tangan Hakim Tanpa Wajah menyodok dalam-dalam ke dua sisi dadanya.
Derrr!
Dengan telak, dada Manusia Dari Pusat Bumi terhajar telapak tangan bekas gurunya. Tubuhnya kontan meluncur balik ke belakang. Sebelum tiba di dinding ruangan, tubuh manusia siluman itu jatuh berdebam.Seandainya tubuh Manusia Dari Pusat Bumi adalah lempengan baja setebal satu depa, tentu akan jatuh dalam keadaan ringsek, karena tak sanggup menahan kekuatan dahsyat pukulan Hakim Tanpa Wajah tadi. Tapi kenyataannya, terlalu jauh dari gambaran itu. Tubuh Manusia Dari Pusat Bumi tak mengalami pcngaruh apa-apa. Entah bagaimana, tubuhnya ternyata jauh lebih kuat daripada lempengan baja setebal satu depa. Sehingga, kedahsyatan ilmu bekas gurunyapun tak berarti apa-apa!
“Makan kesombonganmu, Tua Bangka Jelek!” ejek Lelaki Berbulu Hitam yang terus memantau jalannya pertarungan.
Betapa girangnya laki-laki berbulu lebat itu melihat guru dan murid sesat itu saling baku hantam (Untuk mengetahui tentang Lelaki Berbulu Hitam baca serial Pendekar Slebor dalam episode : “Pengadilan Perut Bumi”)
“Hitam! Bukankah mereka mestinya menunggu giliran untuk bertarung di panggung itu?” tanya Pendekar Dungu, amat lugu. Sepertinya dia tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.
Lelaki Berbulu Hitam mendelik.
“Kau mau pertandingan antara Tuan Penolong dengan kawan wanitanya itu segera berakhir dengan matinya salah seorang di antara mereka?!” bentak laki-laki berbulu hitam seraya menunjuk Andika dan Purwasih yang masih bertarung di panggung batu Kematian.
.
“Kau bicara padaku? Atau masih berbicara dengan si tua bangka jelek itu?”
“Ah, sudahlah!”
Sementara itu di lain arena, Andika berada di atas angin dalam pertempuran melawan Purwasih. Jurus-jurus tangguh dari Lembah Kutukan gencar sekali dalam mendesak wanita itu. Dari segala arah, gerakan Pendekar Slebor yang sering terlihat ngawur, mengurung seluruh tubuh pendekar wanita yang terkenal berjuluk Naga Wanita. Suatu ketika, kaki Andika oleng ke samping di luar sasaran. Sedangkan kaki yang lain masih berada di atas. Dan kini Naga Wanita merasa mendapat peluang besar. Maka, secepatnya, Andika yang hendak berpijak dengan satu babatan pedang dihadangnya.
Bet!
Saat itulah terlihat, bagaimana ketangguhan jurus Pendekar Slebor. Keseimbangannya yang demikian sempurna, mampu membuat kakinya menjejak di atas pedang lawan. Padahal, kecepatan babatan pedang Naga Wanita begitu tinggi. Bahkan yang terlihat hanya bentuk kelebatan bayangan saja! Tetapi jurus-jurus yang tercipta di Lembah Kutukan memang begitu mengandalkan pengerahan keseimbangan. Malah pada waktu diciptakan, Pendekar Slebor harus meniti patok-patok batu dalam hujanan petir. Sedikit saja keseimbangannya tak terjaga,
makatubuhnya pasti lantak dipapas puluhan lidah petir.
Maka tak heran bila dalam menguasai keseimbangan membuat Pendekar Slebor mampu pula mengikuti kecepatan pedang saat hinggap di atasnya! ketika sekejap saja pedang Purwasih tiba di sisi tubuhnya sendiri yang kosongdari pertahanan, Pendekar Slebor langsung mengirim sepakan dengan kaki yang tak ikut dijejakan di gagang pedang. Dan....
Dug!
Tak ayal lagi, pelipis Naga Wanita menjadi sasaran empukpunggung kaki Pendekar Slebor. Purwasih atau si Naga Wanita kontan melintir di udara seperti gasing raksasa. Kalau beruntung, gadis itu tak akan mengalami patah leher yang begitu parah. Lalu, apakah keberuntungan lain mengikuti? Karena di bawah, telah siap menyambut permukaan panggung yang dipasangi pisau-pisau tajam.
Pada saat tubuh Purwasih nyaris dimangsa permukaan panggung, Pendekar Slebor yang gelap mata memburunya kembali penuh nafsu.
“Heaaa!”
Namun, pada saat yang bersamaan, satu pukulan jarak jauh milik Hakim Tanpa Wajah tersasar kearah Pendekar Slebor.
Des!
Pukulan nyasar itu membentur tinju PendekarSlebor. Akibatnya. tinju itu luput dari tubuh Purwasih. Namun karena sudah telanjur menerjang, tubuh Andika tetap meluncur dan menabrak Purwasih. Sehingga dua anak muda itu akhirnya terlempar keluar panggung. Dengan begitu, selamatlah Purwasih dari hujaman permukaan panggung yang bergerigi mengerikan tadi. Tubuh kedua pendekar muda itu jatuh tepat di antara kaki para tawanan pada barisan kanan. Pendekar Slebor dan Purwasih langsung kehilangan kesadaran.
“Kalian inimacam-macam! Kalau bertarung, ya bertarung sajalah. Jangan pakai acara mesra-mesraan segala!” oceh Pendekar Dungu ketika menyaksikan Pendekar Slebor dan Purwasih terjatuh saling tindih.
Setelah itu, Pendekar Dungu menguap lebar-lebar. Rupanya sejak tadi dia sedang tertidur dalam keadaan berdiri. Andai kata tubuh kedua anak muda itu tak jatuh di dekat kakinya, tentu kepalanya masih tertunduk-tunduk dengan mata terpejam.
Ketika mata sayu Pendekar Dungu sudah mulai menguncup kembali, Lelaki Berbulu Hitam menyikutnya dengan kasar.
“Hey! Jangan tidur saja! Kau yang paling dekat, cepat bantu dua anak muda itu!” perintah Lelaki Berbulu Hitam.
Dengan bersungut-sungut, tua bangka berotak kerbau itu berjongkok untuk meneliti keadaan Andika dan Purwasih.
“Bagaimana?” tanya Lelaki Berbulu Hitam. Dia agak khawatir dengan keadaan Andika dan Purwasih.
“Huaaah! Aku masih ngantuk.” jawab Pendekar dungu ngaco.
“Aku tidak menanyakan kau. Dungu! Maksudku, bagaimana keadaan dua anak muda itu?!” dengus Lelaki Berbulu Hitam.
“Ooo,” Pendekar Dungu memancungkan bibir.
“Mereka hanya pingsan,” sahutnya sambil mengusap-usap mata yang penuh tahi mata. “Sebentar lagi tentu ikan siuman.”
“Sok tahu! Kalau tak segera disadarkan, bagaimana mungkin mereka cepat siuman?!” ujar Lelaki Berbulu Hitam keras, tepat di depan telinga Pendekar Dungu.
Pendekar Dungu hanya menarik napas. Lain halnya si Lelaki Berbulu Hitam. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah malang kehijau-hijauan. Matanya tak berkedip. Hidungnya bergerak-gerak, seperti mencium bau sesuatu. Setelah itu, tangannya cepat menutup lobang hidung.
“Sial! Kau kentut sembarangan, ya!” bentak Lelaki Berbulu Hitam pada Pendekar Dungu.
Ajaibnya, Andika dan Purwasih langsung siuman setelah mengisap udara busuk itu. Tubuh mereka bergeming, dan kepala terangkat.
“Nah, kan! Kubilang juga apa!” seru Pendekar Dungu, penuh kemenangan.
***
Pertama kali Andika membuka mata, yang didapatinya adalah wajah ketolol-tololan Pendekar Dungu. Laki-laki tua bangka itu memang sedang memperhatikannya.
“Wah! Baru aku tahu kalau penjaga kubur wajahnya mirip si tua bangkotan Pendekar Dungu,” gumam Andika, nyaris tak kentara.
“Hey! Aku memang Pendekar Dungu,” sergah tua bangka bebal itu cepat, tak sudi dianggap penjaga kubur oleh Andika.
“Jadi, aku belum mampus?” tanya Pendekar Slebor seraya melepas senyum yang mirip ringisan.
Matanya beredar. Tampak Lelaki Berbulu Hitam tengah berdiri menjulang. Sementara beberapa orang lain, termasuk Lima Gembel Busuk dan Penggerutu Berkepang, juga tengahmemperhatikannya.Tiba-tiba anak muda itu ingat sesuatu.
“Purwasih.. Mana Purwasih?” cetus Andika cepat
Jangan tanya betapa khawatirnya Andika terhadap keselamatan wanita berwajah manis itu. Biar bagaimanapun, Pendekar Slebor masih memiliki pertalian darah dengan wanita yang lebih tua darinya beberapa tahun itu.
“Dia tak apa-apa.” kata Lelaki Berbulu Hitam. Ditunjuknya Purwasih yang mulai bergerak pula di sisi Andika.
“Kau tak apa-apa?” tanya Andika, setelah me-noleh ke arah Purwasih.
Purwasih menggeleng dengan mata mengerjap-ngerjap. Dan Andika pun menjadi lega mendapat jawaban Purwasih. Dia takut telah mencelakakan dara itu selama terkena totokan rahasia Hakim Tanpa Wajah yang membuatnya gelap mata.
“’Bor’! Kita harus bagaimana lagi ini?!” tukas Penggerutu Berkepang yang sejak tadi bungkam memperhatikan pertempuran dua manusia sesat yang makin menggila.
“Coba tengok ke belakang sana! Dua manusia sinting itu sedang gontok-gontokan. Kekuatan mereka bisa menghancurkan tempat ini Siapa yang sudi terkubur di tempat bau ini,” gerutu lelaki setengah baya pemimpin para pengemis di wilayah timur.
Andika cukup terkejut sewaktu menoleh ke arah yang ditunjuk Penggerutu Berkepang. Dari tadi dia memang mendengar gemuruh bagai gempa. Tapi tak pernah disangka kalau itu akibat pertarungan Manusia Dari Pusat Bumi dengan gurunya sendiri.
“Sedang apa mereka? Sedang latihan?” tanya Andika, tak mempercayai penglihatannya sendiri.
Tepat ketika Andika hendak bangkit karena rasa penasaran, sebongkah batu besar yang runcing runtuh dari langit-langit ruangan. Arahnya tepat menuju punggung Purwasih yang masih tengkurap di lantai.
Grrr...!
Gemuruh yang dihasilkan reruntuhan batu, amat mengejutkan mereka yang berada didekatnya. TerIebih, pemuda dari Lembah Kutukan yang memang begitu dekat dengan si Naga Wanita.
“Purwasih, awas!” seru Andika keras.
Bersaman dengan itu tangan Pendekar Slebor berkelebat cepat, mengirim tinju geledek ke arah batu sebesar kerbau yang meluncur tepat di depannya. Gerakan itu dilakukan begitu saja karena begitu khawatir akan keselamatan Purwasih. Hasilnya....
Blarrr!
Batu besar seruncing mata tombak itu kontan lantak berkeping-keping. Serpihannya berhamburan ke segala arah bagai pasir disapu angin ribut. Lelaki Berbulu Hitam terheran-heran. Pendekar Dungu, Penggerutu Berkepang, dan lelaki lain yang berada dalam barisan juga ikut terpana. Siapa yang tak heran? Setahu mereka, Pendekar Slebor masih dalam pengaruh totokan rahasia milik Hakim Tanpa Wajah yang menyebabkan seluruh kekuatannya hilang terkunci di dalam.
Pendekar Slebor pun tak kalah heran.
”Aneh! Kenapa aku sudah terbebas dari totokan rahasia si Hakim Tanpa Wajah?” bisik Andika, bergumam sendiri.
Otak Pendekar Slebor yang terkenal encer, tak memberi kesempatan terjebak dalam kebingungan seperti orang bodoh. Otaknya segera bekerja, membuat kesimpulan-kesimpulan cepat.