- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Pencuri (Share Pengalaman Mistis)
...
TS
kiayu
Teror Pencuri (Share Pengalaman Mistis)
Dear Kaskuser se Dunia 
disini aku mencoba menuliskan sedikit kisah-kisah mistis ku selama ini, dan yang iseng2 terjadi, yang dimulai dari sebuah kisah yang terjadi setahun yang lalu di sebuah daerah bernama Tegal.
Rules :
- No Kepo ya
- bagi yg mengetahui tempat terjadinya peristiwa dimohon utk tidak share, hanya konsumsi pribadi.
diusahakan update sesempetnya disela-sela pas kerja atau ga ada kerjaan
cerita ? real 100% terjadi, tapi kalau ada beberapa hal yang mungkin terasa lebay, yaa mohon maap, karena sering lupa jadi ta tambahin seingetku, tapi ga melenceng jauh kok
nama ? disamarkan. demi kesejahteraan semua pihak yg terlibat
thanks udah mau baca~ ^^v
mulustrasi ? di cerita awal ini pengalaman aku dgn sepupuku yg ada di DP kok
jadi udah bisa bayangin yaa.
ayok kita mulai~!
Aku sedang asyik membaca Sphere karya Michael Crichton sambil duduk berleha-leha menikmati semilir angin di sebelah sungai kecil di sebelah rumah.
'Yu, kamu lihat orang bawa brankas ga lewat sini ?!'
Omku berteriak keras, keringat bercucuran di dahinya.
Aku terperanjat kaget dari kursi.
'Hah ??? Brankas ? Ga, Om. Kenapa ?'
'Masa ga lihat ? Beneran ga lihat ??'
Omku melihatku dengan rasa tidak percaya.
'Ga beneran, Om. Lagian aku dari tadi disini gak ada yang aneh'.
Tanteku yang tadi sedang berada di belakang rumah bagian samping langsung menghampiri omku yang kelihatan kacau.
'Ada apa, Di ?', dengan suara agak keras kepada adiknya itu.
Omku memandang tanpa kata-kata, hanya dengan tampang putus asa, langsung masuk ke rumah, aku mengikuti karena penasaran.
'Uangku hilang, brankasnya dibawa'.
Kata-kata Omku mengejutkan kami berdua, aku dan tanteku.
'Lah, Om. Dari tadi gak ada yang bawa kayak gitu, yang lewat juga cuma orang-orang kita. Coba cek dulu yang bener'. Aku berusaha menenangkan omku.
'Beneran gak ada, aku udah ngecek berkali-kali'.
Waduh, gawat, pikirku. Pas aku lagi 'jaga depan' malah ada ginian.
Om dan tanteku yang panik langsung masuk ke rumah dan mengecek ke kamar omku yang ada di ruang utama.
Aku yang kebingungan langsung mencari kontak sepupuku, Lina, di bbm.
Ki : Lin, uang Om Budi hilang.
Lina : Hus, beneran ???!!!!!!
Ki : Beneran, ini baru aja kejadian. Makanya aku langsung kasih tahu kamu.
Tanteku, (mamahnya Lina, Tante Ina), memanggilku.
'Yu, kabari Lina, uang Om Budi kecurian'.
'Udah, te. Ini lagi BBM-an sama Lina'
'Iya, kasih tahu, kali aja kudu ke Azmi'.
Dalam hati aku bingung, Azmi siapa ?
Lina : PING!
Lina : Mba, uang Om Budi yang kecurian berapa ?
Ki : Ga tahu, Lin. Ini katanya semua uangnya.
Lina : Huh ! Om dibilangin susah sih suruh nyimpen di bank. Yaudah ntar nunggu aku balik.
Ki : Oke.
Aku, Om dan Tanteku masih cek-cek kamar juga perhatiin orang-orang. Ada satu karyawan, sebut saja Om Yadi, (masih saudara).
'Yang nyuri si Avin kali ? Kemaren aku liat dia sama temen-temennya duduk-duduk di kuburan.'
Om ku memandang Om Yadi, 'masa ??? Lah kamu kemaren ga bilang-bilang, tahu gitu kan aku jaga-jaga', katanya kesal.
'aku juga dari kemaren liatin, tapi cuma sehari itu doang, besoknya dia udah gak ada', Om Yadi membela diri.
Fyi, rumah yang kami tempati ini peninggalan Kakek, dan terletak di depan kuburan keluarga.
'Assalamu'alaikum !'
Aku kaget, dan langsung menuju ruang toko. Lina sudah sampai, dia sedang memarkir motornya di depan garasi.
Dia langsung masuk dan memberondong dengan pertanyaan.
'Mba, udah tahu belum berapa uang Om Budi yang ilang ? Trus tadi kejadiannya jam berapa ? Tadi siapa aja yang keluar masuk?'.
Aku gelagapan.
'Loh kamu dateng-dateng langsung tanya-tanya, istirahat dulu. Kamu juga tahu-tahu balik, udah ijin Om belum ?' (Lina kerja di tempat omku yg satu lagi beliau mempunyai toko variasi mobil di daerah perbatasan T dan Brebes).
'Yah aku mana tenang di toko kalau disini lagi pada ribut ginian. Makanya buru-buru balik.'
'Kejadiannya tadi pas aku bbm kamu itu Om Budi nanyain aku ada orang bawa brankas gak ? Belom nyampe setengah jam. Yang keluar masuk ya cuma orang-orang kita aja'.
Mamanya Lina keluar, menghampiri Lina.
'Ke Azmi aja sana, Lin. Biar cepet ketangkep, mumpung belum lama.'.
'Yaudah, yuh, Mba. Kita ke Azmi. Cepetan ga usah dandan. Diburu waktu ini'.
Aku cuma melongo, dan cepat-cepat ambil tas NG favoritku.
Dan kami berdua melesat ke Banjaran.
Siapa Azmi ???
I N D E X

disini aku mencoba menuliskan sedikit kisah-kisah mistis ku selama ini, dan yang iseng2 terjadi, yang dimulai dari sebuah kisah yang terjadi setahun yang lalu di sebuah daerah bernama Tegal.
Rules :
- No Kepo ya
- bagi yg mengetahui tempat terjadinya peristiwa dimohon utk tidak share, hanya konsumsi pribadi.
diusahakan update sesempetnya disela-sela pas kerja atau ga ada kerjaan

cerita ? real 100% terjadi, tapi kalau ada beberapa hal yang mungkin terasa lebay, yaa mohon maap, karena sering lupa jadi ta tambahin seingetku, tapi ga melenceng jauh kok

nama ? disamarkan. demi kesejahteraan semua pihak yg terlibat

thanks udah mau baca~ ^^v
mulustrasi ? di cerita awal ini pengalaman aku dgn sepupuku yg ada di DP kok
jadi udah bisa bayangin yaa.ayok kita mulai~!
Aku sedang asyik membaca Sphere karya Michael Crichton sambil duduk berleha-leha menikmati semilir angin di sebelah sungai kecil di sebelah rumah.
'Yu, kamu lihat orang bawa brankas ga lewat sini ?!'
Omku berteriak keras, keringat bercucuran di dahinya.
Aku terperanjat kaget dari kursi.
'Hah ??? Brankas ? Ga, Om. Kenapa ?'
'Masa ga lihat ? Beneran ga lihat ??'
Omku melihatku dengan rasa tidak percaya.
'Ga beneran, Om. Lagian aku dari tadi disini gak ada yang aneh'.
Tanteku yang tadi sedang berada di belakang rumah bagian samping langsung menghampiri omku yang kelihatan kacau.
'Ada apa, Di ?', dengan suara agak keras kepada adiknya itu.
Omku memandang tanpa kata-kata, hanya dengan tampang putus asa, langsung masuk ke rumah, aku mengikuti karena penasaran.
'Uangku hilang, brankasnya dibawa'.
Kata-kata Omku mengejutkan kami berdua, aku dan tanteku.
'Lah, Om. Dari tadi gak ada yang bawa kayak gitu, yang lewat juga cuma orang-orang kita. Coba cek dulu yang bener'. Aku berusaha menenangkan omku.
'Beneran gak ada, aku udah ngecek berkali-kali'.
Waduh, gawat, pikirku. Pas aku lagi 'jaga depan' malah ada ginian.
Om dan tanteku yang panik langsung masuk ke rumah dan mengecek ke kamar omku yang ada di ruang utama.
Aku yang kebingungan langsung mencari kontak sepupuku, Lina, di bbm.
Ki : Lin, uang Om Budi hilang.
Lina : Hus, beneran ???!!!!!!
Ki : Beneran, ini baru aja kejadian. Makanya aku langsung kasih tahu kamu.
Tanteku, (mamahnya Lina, Tante Ina), memanggilku.
'Yu, kabari Lina, uang Om Budi kecurian'.
'Udah, te. Ini lagi BBM-an sama Lina'
'Iya, kasih tahu, kali aja kudu ke Azmi'.
Dalam hati aku bingung, Azmi siapa ?
Lina : PING!
Lina : Mba, uang Om Budi yang kecurian berapa ?
Ki : Ga tahu, Lin. Ini katanya semua uangnya.
Lina : Huh ! Om dibilangin susah sih suruh nyimpen di bank. Yaudah ntar nunggu aku balik.
Ki : Oke.
Aku, Om dan Tanteku masih cek-cek kamar juga perhatiin orang-orang. Ada satu karyawan, sebut saja Om Yadi, (masih saudara).
'Yang nyuri si Avin kali ? Kemaren aku liat dia sama temen-temennya duduk-duduk di kuburan.'
Om ku memandang Om Yadi, 'masa ??? Lah kamu kemaren ga bilang-bilang, tahu gitu kan aku jaga-jaga', katanya kesal.
'aku juga dari kemaren liatin, tapi cuma sehari itu doang, besoknya dia udah gak ada', Om Yadi membela diri.
Fyi, rumah yang kami tempati ini peninggalan Kakek, dan terletak di depan kuburan keluarga.
'Assalamu'alaikum !'
Aku kaget, dan langsung menuju ruang toko. Lina sudah sampai, dia sedang memarkir motornya di depan garasi.
Dia langsung masuk dan memberondong dengan pertanyaan.
'Mba, udah tahu belum berapa uang Om Budi yang ilang ? Trus tadi kejadiannya jam berapa ? Tadi siapa aja yang keluar masuk?'.
Aku gelagapan.
'Loh kamu dateng-dateng langsung tanya-tanya, istirahat dulu. Kamu juga tahu-tahu balik, udah ijin Om belum ?' (Lina kerja di tempat omku yg satu lagi beliau mempunyai toko variasi mobil di daerah perbatasan T dan Brebes).
'Yah aku mana tenang di toko kalau disini lagi pada ribut ginian. Makanya buru-buru balik.'
'Kejadiannya tadi pas aku bbm kamu itu Om Budi nanyain aku ada orang bawa brankas gak ? Belom nyampe setengah jam. Yang keluar masuk ya cuma orang-orang kita aja'.
Mamanya Lina keluar, menghampiri Lina.
'Ke Azmi aja sana, Lin. Biar cepet ketangkep, mumpung belum lama.'.
'Yaudah, yuh, Mba. Kita ke Azmi. Cepetan ga usah dandan. Diburu waktu ini'.
Aku cuma melongo, dan cepat-cepat ambil tas NG favoritku.
Dan kami berdua melesat ke Banjaran.
Siapa Azmi ???
I N D E X
- Part 1 [update 5/9/16]
- Part 2 - Siapa Azmi? [update 5/9/16]
- Part 3- Terawangan Pertama [update 6/9/16]
- Denah TKP [update 7/9/16]
- Part 4- Terawangan Kedua [update 8/9/16
- Part 5 - Terawangan Kedua-2 [update 8/9/16
- Part 6 - The War Begin
- Part 7 - Teror Part 1
- Part 8 - Teror Part 2
- Part 9 - Ending
- Teror Miss K - Part 1
- Kontrakan - Part 2
- Kontrakan - Part 3
- Kontrakan - Part 4
- Rumah Tusuk Sate
Diubah oleh kiayu 28-01-2020 22:29
al.galauwi dan 20 lainnya memberi reputasi
17
73.4K
361
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kiayu
#219
Part 8
Teror Part 2
Sepanjang perjalanan bolak-balik Lina mengecek ke belakang, sebenarnya tidak mengharap bertemu, tapi takut sesuatu terjadi selama perjalanan.
--------++++++----------------------------------
Aku dan Tante setelah mendengar cerita tersebut merasa khawatir dan cemas. Khawatir akan keselamatan kami, terutama Lina yang menjadi target, serta cemas akan teror yang justru terjadi kepada kami dari pihak yang kami cari.
Aku : Tapi Azmi udah beneran ngelindungi kita kan, Lin ?
Lina : Iya mba, Azmi sih bilang udah kasih pagaran buat rumah. Tapi aku takute kalau lagi jalan, ada kenapa-napa, dia ganggu gitu.
Tante : Yaudah ga usah dipikirin, semoga Allah SWT melindungi kita aja.
Aku : Iya, Lin. Udah tenang aja, ada Abdi juga kan ?
Abdi : Iya yang, tenang aja, ada aku. Azmi juga yang lain udah banyak bantu kita.
Lina mulai tenang, kami pun membiarkan Abdi dan Lina berduaan agar Lina tidak merasa cemas lagi.
Aku kembali memandangi sekitar, membayangkan dimana 'si Nenek' tengah mengawasi kita sekarang. Tapi aku percaya, selama kita tidak berbuat aneh-aneh, Tuhan akan selalu melindungi.
Malam seakan berjalan lambat, aku masuk kamar dan mengeratkan selimut. Cukup dingin. Semoga bisa tidur nyenyak malam ini. Walau dalam hati mengakui, teror itu masih berada di luar sana selama pencuri itu belum tertangkap.
----------------++++++++-----------------------
Hari Minggu.
Aku dan Lina pagi-pagi main kerumah Mama. Kami berniat menghabiskan hari dengan main ke Pasar Kaget yang ada di depan Balaikota Lama bersama keponakan-keponakan kami, Shinta dan Ani.
Cukup berjalan 5 menit, kami sampai di lokasi.
Kami berjalan berdua-duaan, aku dengan Shinta dan Lina dengan Ani, Mba Fitri sibuk dengan Mama menawar barang di penjual kelontong, sementara kami sibuk membeli cemilan, cilok dengan bumbu kacang, dan olos (Aci yang digoreng berisi kubis dan cabe rawit, ada juga yang memberi tambahan daging ayam, sapi, sosis, telur dkk dsb dst).
Tidak lama kemudian, setelah pusing muter-muter dan mencoba berbagai permainan, kami beristirahat dan makan di salah satu warung lontong sayur.
Mba Fitri : Mba, Gimana prosesnya kemarin ?
Lina : Maksudnya yang soal uang Om Budi itu ?
Mba Fitri : Iya.
Lina : Serem tahu mba, aku sampe diikutin.
Mba Fitri : Hah ?! Diikutin siapa, Lin ? Masa pencurinya udah berani nongol sih ?
Lina : Bukan pencurinya mba, tapi peliharaannya, kemarin aku kerumah Azmi eh dia ngikut.
Mba Fitri : Ya ampun, serem banget ya Lin.
Lina : Pastilah, mba. Untung Azmi udah ngusir, cuma katanya masih mata-matain rumah.
Mba Fitri : Ya ampun ...
Aku : Itu Mas Awin gimana, mba ?
Mba Fitri : Ga tahu tuh, kemarin seih ke Comal, belum balik. Lagi Nyepi kali.
Aku dan Lina tertawa.
Lina : Yaa kali aja mas Awin nemuin duluan, atau kudu 'ngajeni' gurunya duluu
Mba Fitri : Iya kali. Yaudah Lin, Yu, kalian hati-hati, kita gak tahu apa yang bisa mereka lakuin ke kita.
Aku : Iya, mba. Sante aja, daripada dipikirin malah bikin sakit. Mending dibawa jalan-jalan gini.
Mba Fitri : Iya. Yaudah, nanti kalau Mas e udah pulang, kalian ta kabari.
Aku & Lina : Iya, mba.
Mba Fitri : Kemarin juga sebenarnya ada orang neror ibu.
Aku : Hah ?! Neror Mama gimana, mba ?
Mba Fitri : Iya, ada orang telpon, ngakunya polisi, bilang kalau Mas Awin lagi di kantor polisi, lagi ditangkap, kalau ga mau kena pasal berlapis, harus transfer berapa juta gitu.
Aku : Hah ???!!! trus gimana mba ? Itu penipuan kali.
Mba Fitri : Iya, aku juga tahune yang kayak gitu itu penipuan, tapi Ibu khawatiran banget, hampir mau nyiapin uang e. Pas banget ada kejadian gini.
Lina : waduh mba, trus gimana ?
Mba Fitri : Aku Ya bingung, mas mu itu kalau lagi ke gurunya susah banget dihubungi. Tapi, sama aku hape ibu ta matiin seharian kemarin, sekarang udah ga ada telpon lagi tuh. Trus tadi berhasil hubungi Mas e, gapapa.
Aku : Alhamdulillah, mba.
Lina : Pas banget ya ada kejadian gini.
Aku : Iya, ga tahu tuh kok bisa gini ya, apa orang itu tahu nomer Mama ?
Mba Fitri : Aku juga heran. Darimana tahu. Tapi ya ibu emang banyak kenalan sih.
Aku : Tapi kalau kejadian gini kan kaya e kebangetan banget mba. Bikin parno orang. Apa mereka sampe tega teror orang lain.
Lina : Yah semoga ga ada kejadian yang aneh-aneh lagi deh, mba. Capek lama-lama ngadepinnya.
Aku : Iya yah, kita yang kecurian, kita yang malah diteror. Semoga pencurinya ketangkep deh.
Lina & Mba Fitri : Aamiin.
Kami menghabiskan hari dengan main-main sampai ke alun-alun. Dan hari itu berlangsung damai. Belum ada kabar terbaru, karena kami tidak ke rumah Azmi hari ini. Yah, setidaknya kami ingin sehari ini, tidak memikirkan masalah ini.
[sebenarnya hari ini, Lina tadinya mau main kerumah brg sepupu yg lain, tapi karena satu dan lain hal, malah ga jadi kesini
yowes, padahal aku mau konfirmasi tentang beberapa bagian lanjutan, jadi, maapkan saya kalau selanjutnya agak lama update, karena kudu konfirmasi peristiwa ini)
btw, pete's dragon mengharukan, lagunya baguusss...
]
Sepanjang perjalanan bolak-balik Lina mengecek ke belakang, sebenarnya tidak mengharap bertemu, tapi takut sesuatu terjadi selama perjalanan.
--------++++++----------------------------------
Aku dan Tante setelah mendengar cerita tersebut merasa khawatir dan cemas. Khawatir akan keselamatan kami, terutama Lina yang menjadi target, serta cemas akan teror yang justru terjadi kepada kami dari pihak yang kami cari.
Aku : Tapi Azmi udah beneran ngelindungi kita kan, Lin ?
Lina : Iya mba, Azmi sih bilang udah kasih pagaran buat rumah. Tapi aku takute kalau lagi jalan, ada kenapa-napa, dia ganggu gitu.
Tante : Yaudah ga usah dipikirin, semoga Allah SWT melindungi kita aja.
Aku : Iya, Lin. Udah tenang aja, ada Abdi juga kan ?
Abdi : Iya yang, tenang aja, ada aku. Azmi juga yang lain udah banyak bantu kita.
Lina mulai tenang, kami pun membiarkan Abdi dan Lina berduaan agar Lina tidak merasa cemas lagi.
Aku kembali memandangi sekitar, membayangkan dimana 'si Nenek' tengah mengawasi kita sekarang. Tapi aku percaya, selama kita tidak berbuat aneh-aneh, Tuhan akan selalu melindungi.
Malam seakan berjalan lambat, aku masuk kamar dan mengeratkan selimut. Cukup dingin. Semoga bisa tidur nyenyak malam ini. Walau dalam hati mengakui, teror itu masih berada di luar sana selama pencuri itu belum tertangkap.
----------------++++++++-----------------------
Hari Minggu.
Aku dan Lina pagi-pagi main kerumah Mama. Kami berniat menghabiskan hari dengan main ke Pasar Kaget yang ada di depan Balaikota Lama bersama keponakan-keponakan kami, Shinta dan Ani.
Cukup berjalan 5 menit, kami sampai di lokasi.
Kami berjalan berdua-duaan, aku dengan Shinta dan Lina dengan Ani, Mba Fitri sibuk dengan Mama menawar barang di penjual kelontong, sementara kami sibuk membeli cemilan, cilok dengan bumbu kacang, dan olos (Aci yang digoreng berisi kubis dan cabe rawit, ada juga yang memberi tambahan daging ayam, sapi, sosis, telur dkk dsb dst).
Tidak lama kemudian, setelah pusing muter-muter dan mencoba berbagai permainan, kami beristirahat dan makan di salah satu warung lontong sayur.
Mba Fitri : Mba, Gimana prosesnya kemarin ?
Lina : Maksudnya yang soal uang Om Budi itu ?
Mba Fitri : Iya.
Lina : Serem tahu mba, aku sampe diikutin.
Mba Fitri : Hah ?! Diikutin siapa, Lin ? Masa pencurinya udah berani nongol sih ?
Lina : Bukan pencurinya mba, tapi peliharaannya, kemarin aku kerumah Azmi eh dia ngikut.
Mba Fitri : Ya ampun, serem banget ya Lin.
Lina : Pastilah, mba. Untung Azmi udah ngusir, cuma katanya masih mata-matain rumah.
Mba Fitri : Ya ampun ...
Aku : Itu Mas Awin gimana, mba ?
Mba Fitri : Ga tahu tuh, kemarin seih ke Comal, belum balik. Lagi Nyepi kali.
Aku dan Lina tertawa.
Lina : Yaa kali aja mas Awin nemuin duluan, atau kudu 'ngajeni' gurunya duluu
Mba Fitri : Iya kali. Yaudah Lin, Yu, kalian hati-hati, kita gak tahu apa yang bisa mereka lakuin ke kita.
Aku : Iya, mba. Sante aja, daripada dipikirin malah bikin sakit. Mending dibawa jalan-jalan gini.
Mba Fitri : Iya. Yaudah, nanti kalau Mas e udah pulang, kalian ta kabari.
Aku & Lina : Iya, mba.
Mba Fitri : Kemarin juga sebenarnya ada orang neror ibu.
Aku : Hah ?! Neror Mama gimana, mba ?
Mba Fitri : Iya, ada orang telpon, ngakunya polisi, bilang kalau Mas Awin lagi di kantor polisi, lagi ditangkap, kalau ga mau kena pasal berlapis, harus transfer berapa juta gitu.
Aku : Hah ???!!! trus gimana mba ? Itu penipuan kali.
Mba Fitri : Iya, aku juga tahune yang kayak gitu itu penipuan, tapi Ibu khawatiran banget, hampir mau nyiapin uang e. Pas banget ada kejadian gini.
Lina : waduh mba, trus gimana ?
Mba Fitri : Aku Ya bingung, mas mu itu kalau lagi ke gurunya susah banget dihubungi. Tapi, sama aku hape ibu ta matiin seharian kemarin, sekarang udah ga ada telpon lagi tuh. Trus tadi berhasil hubungi Mas e, gapapa.
Aku : Alhamdulillah, mba.
Lina : Pas banget ya ada kejadian gini.
Aku : Iya, ga tahu tuh kok bisa gini ya, apa orang itu tahu nomer Mama ?
Mba Fitri : Aku juga heran. Darimana tahu. Tapi ya ibu emang banyak kenalan sih.
Aku : Tapi kalau kejadian gini kan kaya e kebangetan banget mba. Bikin parno orang. Apa mereka sampe tega teror orang lain.
Lina : Yah semoga ga ada kejadian yang aneh-aneh lagi deh, mba. Capek lama-lama ngadepinnya.
Aku : Iya yah, kita yang kecurian, kita yang malah diteror. Semoga pencurinya ketangkep deh.
Lina & Mba Fitri : Aamiin.
Kami menghabiskan hari dengan main-main sampai ke alun-alun. Dan hari itu berlangsung damai. Belum ada kabar terbaru, karena kami tidak ke rumah Azmi hari ini. Yah, setidaknya kami ingin sehari ini, tidak memikirkan masalah ini.
[sebenarnya hari ini, Lina tadinya mau main kerumah brg sepupu yg lain, tapi karena satu dan lain hal, malah ga jadi kesini
yowes, padahal aku mau konfirmasi tentang beberapa bagian lanjutan, jadi, maapkan saya kalau selanjutnya agak lama update, karena kudu konfirmasi peristiwa ini)btw, pete's dragon mengharukan, lagunya baguusss...
]Diubah oleh kiayu 18-09-2016 21:19
JabLai cOY dan 3 lainnya memberi reputasi
4