- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#157
Part 6
Pengadilan Perut Bumi. Sebuah tempat tersembunyi, tak terjangkau manusia lain. Seperti namanya, terletak jauh di bawah permukaan bumi. Untuk tiba di sana, harus melalui rawa-rawa dalam yang penuh binatang buas melata dari buaya hingga ular. Di dasar rawa, ada lorong air berliku yang sesungguhnya adalah aliran sungai di perut bumi. Setibanya di ujung lorong panjang, akan ditemui sebuah dunia lain yang biasa dipakai si Hakim Tanpa Wajah.... Sebuah kolam besar dalam ruang di dasar bumi, menjadi gerbang masuk yang menghubungkan lorong aliran sungai bawah tanah dengan tempat ini.
Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi telah tiba di sana. Mereka muncul di permukaan kolam dengan membopong tubuh dua lelaki pada bahu masing-masing. Dari tepi kolam, mereka memasuki salah satu mulut lorong yang banyak terdapat di sekeliling tepian kolam. Setelah berjalan menempuh lorong yang tak begitu panjang, mereka akhirnya tiba di ruang lain. Ruang amat luas yang memiliki banyak kamar. Setiap kamar ditutup pintu besi berjeruji baja. Dalam kamar-kamar itulah, orang-orang yang diculik dari dunia persilatan ditawan. Dan mereka berasal dari beberapa wilayah dan dari golongan berbeda. Pada setiap pintu kamar, terdapat tulisan di atasnya. Satu kamar bertuliskan; ‘Kamar Ular’. Yang lain diberi nama ‘Kamar Buaya’. Ada juga ‘Kamar Katak’ dan ‘Kamar Rajawali’. Serta, beberapa tulisan lain.
Di dalam sebuah kamar yang bertuliskan ‘Kamar Rajawali’, ada dua lelaki dari kalangan tua yang pernah mengibarkan panji kejayaan masing-masing pada masa delapan puluh tahun silam. Mereka tak lain, Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu. Memang, setelah berhasil diperdayai dengan menguras kekuatan mereka melalui tubuh Pendekar Slebor, Hakim Tanpa Wajah dan muridnya akhirnya bisa juga membawa dua tokoh tak tertandingi itu ke Pengadilan Perut Bumi. Sebuah mimpi delapan puluh tahun milik Hakim Tanpa Wajah, kini baru terwujud.
“Kau akan merasakan balasanku, Hakim Jelek!” ancam Lelaki Berbulu Hitam manakala guru dan murid itu sedang melewati kamar tahanannya.
“Akan kurencah-rencah seluruh tubuhmu seperti makanan anjing geladak!”
Hakim Tanpa Wajah hanya terkekeh mendengar ungkapan kemurkaan Lelaki Berbulu Hitam. Diliriknya lelaki tinggi besar yang berdiri mencengkeram jeruji baja itu dengan mata mencemooh. Ketika tangan besar Lelaki Berbulu Hitam hendak menggapainya, Hakim Tanpa Wajah hanya melompat sedikit lalu terkekeh lagi. Suara tawa buruknya menghilang di sebuah tikungan lorong, bersama menghilangnya tubuh bangkotan berkafan itu yang diiringi sang Murid.
“Siapa mereka, Hitam?” tegur Pendekar Dungu di belakang Lelaki Berbulu Hitam.
Lelaki keriput itu tampak tenang-tenang saja bersandar pada dinding batu dengan mata terkantuk-kantuk.
“Kalau aku sudah berteriak mengkelap seperti tadi, pada siapa kau pikir aku berteriak?” sahut Lelaki Berbulu Hitam kasar, masih dibawa kegusaran pada Hakim Tanpa Wajah.
“Ah! Yang kutahu, selalu mengkelap pada siapa saja. Dan berbicara dengan berteriak, bagimu sama saja!”
“Kau meledekku?!” bentak manusia berdarah serigala itu dengan wajah memerah. Dihampirinya Pendekar Dungu bersungut-sungut.
“Hey, apa kau tuli?! Aku tanya tadi, apa kau meledekku?”
Tapi orang yang diajak berdebat menyahutinya dengan dengkuran panjang.
“Dasar tua bangka keropos!” maki Lelaki Berbulu Hitam kesal.
Sementara itu, dua lelaki di bahu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi telah dilemparkan ke dalam ‘Kamar Kutu Busuk’ bersama empat orang lain, yang sudah lama berada di dalam sana.
Bruk! Bruk!
“Tenang-tenanglah kalian menunggu saat pengadilan nanti!” ujar Hakim Tanpa Wajah penuh kepuasan.
Setelah itu, dia memerintahkan Manusia Dari Pusat Bumi untuk mengunci pintu besi kembali.
Krang!
Kini keduanya meninggalkan kamar itu. Begitu mereka menghilang di satu tikungan, dua lelaki yang menjadi warga baru ‘Kamar Kutu Busuk’ siuman. Mereka adalah si Pemimpin Partai Pengemis Timur bersama kawannya yang dipanggil Borok.
“Heee, sialan! Di mana aku sekarang?!” tanya laki-laki berjuluk Penggerutu Berkepang sambil mengurut-urut kening. Lalu disusul dengan kebiasaannya menggerutu.
“Uuuh...,” keluh Borok, ikut menegakkan tubuh dalam keadaan duduk.
“Apa ini neraka? Kenapa neraka bau pesing, ya?”
Empat orang lain yang berada dalam ruang itu, lebih dulu segera menyambut. Wajah mereka begitu terkejut ketika melihat siapa orang yang baru datang. Tentu saja Penggerutu Berkepang sangat dikenal, karena mereka adalah empat anggota dari Lima Gembel Busuk. Kamasetya, Guruhdadi, Kamajaya, dan Dartasa. Sedangkan yang bernama Damarsuta, telah tewas sesaat setelah ditemukan Andika beberapa waktu lalu (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
“Sialan was-wis-wus ng-ng.... Rupanya kalian ada di sini! Aku sudah susahpayah kian kemari mencari, kalian malah enak-enakan!” balas Penggerutu Berkepang, menanggapi sambutan mereka.
“Kami bukan enak-enakan di sini, Ketua!” sangkal Kamajaya, lelaki yang paling berpengaruh diantara mereka.
“Kami diculik Hakim Tanpa Wajah seperti beberapa tokoh persilatan lain!”
“Aku tahu...,” tukas Penggerutu Berkepang.
Padahal, laki-laki itu juga yang tadi memancing perdebatan. Dia berdiri sambil menepuk-nepuk pakaian yang masih basah dan kotor.
“Sekarang di mana kita?” tanya Penggerutu Berkepang kemudian.
“Bukankah kau sudah tahu, Ketua?” sahut Kamajaya, tak bermaksud meledek atau menyindir.
“Aku memang bilang begitu tadi! Aku memang sudah tahu tempat ini, kok! Tapi, apa salahnya kalian menjawab pertanyaanku selaku ketua kalian!” hardik Penggerutu Berkepang bersungut-sungut.
“Sialan....”
Kamajaya mengangkat bahu. Dia memang tak bisa menang berdebat dengan ketua sendiri.
“Kita ada di Pengadilan Perut Bumi,” jawab Kamajaya kemudian.
“Aku tahu! Sudah kubilang bukan? Aku tahu!” bentak Penggerutu Berkepang serba salah.
Selagi Penggerutu Berkepang melempar pandangan keluar dari jeruji baja seperti seorang pengawas kurang kerjaan, Kamajaya mengusiknya lagi.
“Ketua, boleh aku bertanya sedikit?”
“Ya.... Sedikit saja...,” kata Penggerutu Berkepang.
“Siapa kiranya anak muda yang bersama Ketua ini? Kalau dia anggota kita, kenapa aku belum mengenalnya?”
Mendadak Penggerutu Berkepang berbalik. Wajahnya memberang.
“bodoh...! Eh, sialan!” umpat Ketua Partai Pengemis Timur sambil menghampiri Kamajaya tergesa.
“Kau harus memberi hormat pada dia! Ayo!”
Penggerutu Berkepang segera menekan punggung Kamajaya untuk menjura.
“Kalian juga!” sambung laki-laki pada tiga lelaki lain.
Meski tak mengerti-sama sekali, terpaksa keempat lelaki itu menjura juga.
“Nah, sialan...! Eh, bagus!” puji Penggerutu Berkepang berbareng anggukan puas.
Kamajaya dan tiga rekannya menatap, seolah hendak bertanya kembali. Siapa anak muda itu sebenarnya?
“Jangan menatap begitu padaku! Apa kalian tidak kenal, siapa dia?” lanjut Penggerutu Berkepang lagi.
Ditunjuknya pemuda berwajah tak karuan yang sedang tersenyum-senyum penuh arti itu.
“Dia itu pendekar yang amat disegani..., Pendekar Slebor!”
“Ah, masa’?” gumam keempat lelaki itu, serempak.
“Jangan masa’-masa’!”
Lalu Ketua Partai Pengemis Timur melirik anak muda yang selama ini dipanggil Borok olehnya.
“Bor! Coba kau buka topeng jelek itu!” ujarnya acuh, pada Borok.
Pemuda itu pun mempreteli perangkat penyamarannya. Termasuk, kaki palsu yang bengkak. Maka, tampaklah sekarang oleh semua orang yang ada dalam ruang itu. Wajah seorang pemuda tampan yang berperawakan gagah. Memang benar! Dia adalah Pendekar Slebor!
“Nah, kan.... Kubilang juga apa...,” gerutu Penggerutu Berkepang.
Pemuda yang kini mengenakan pakaian hijau-hijau dengan selembar kain bercorak catur tersampir di bahu itu mendekati keempat lelaki yang masih menjura padanya. Mereka disalami satu persatu.
“Ketuamu benar. Aku memang Pendekar Slebor. Kalian bisa memanggilku Andika. Dan kurasa, tak perlu acara penghormatan seperti ini.... Bukan begitu, Penggerutu Berkepang?” kata Andika.
“Bukan!” jawab Penggerutu Berkepang, tak mau tahu.
Andika tertawa. Juga empat dari Lima Gembel Busuk. Kecuali, si Penggerutu Berkepang. Lelaki setengah baya itu masih menekuk wajah di dekat jeruji baja.
Sebenarnya, apa yang Andika rencanakan?
Memang, waktu itu, setelah mendapat pesan dari Raja Penyamar untuk menyelesaikan bagian akhir kitab penyamaran yang diberikannya, maka Andika pun menjalankannya. Dan tepat, apa kata Raja Penyamar. Bagian akhir kitab itu berisi inti dari seluruh ilmu ‘Menyamar’. Dengan mempelajari bagian itu, Andika bukan saja mampu menipu mata seseorang. Tapi juga mampu menipu penciuman seekor anjing pelacak sekali pun.
Dengan melakukan semadi beberapa lama dengan cara-cara tertentu, maka pemuda itu bisa mengubah zat-zat dalam tubuhnya, sehingga mampu merubah pula bau tubuhnya. Kalau dulu penyamarannya dapat dibongkar oleh penciuman serigala milik Lelaki Berbulu Hitam di kaki Gunung Merapi menuju Kampung Kelelawar, maka sekarang tak akan terjadi lagi (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
Bukan hanya itu. Dengan semacam sugesti dalam semadi, Andika mampu mengubah warna pribadinya. Menghilangkan untuk sementara pribadi aslinya, lalu memunculkan pribadi baru. Itu sebabnya, Manusia Dari Pusat Bumi yang memiliki indera siluman pun mampu ditipunya mentah-mentah! Tak heran kalau Raja Penyamar menyebut bagian akhir kitab itu sebagai bagian terpenting dari seluruh kitab!
“Apa rencanamu selanjutnya, Bor?” tanya Penggerutu Berkepang pada Andika.
Andika berdiri. Didekatinya si Ketua Partai Pengemis Timur itu.
“Aku belum tahu,” jawab Pendekar Slebor.
“Kurasa aku harus mempelajari dulu seluruh keadaan di sini....”
Dua hari sudah Pendekar Slebor dan Penggerutu Berkepang berada dalam ruang tahanan di Pengadilan Perut Bumi. Selama itu, belum ada satu tindakan pun yang bisa diperbuat. Andika masih tetap berpikir keras sambil mempelajari keadaan di sana. Sedangkan Penggerutu Berkepang masih tetap menggerutu tak bosan-bosannya.
Sebenarnya, kalau tidak terkena ilmu totokan rahasia milik Hakim Tanpa Wajah, dengan amat mudah mereka melantakkan jeruji baja yang mengungkung. Totokan itu memang telah melumpuhkan kekuatan tenaga dalam mereka. Sehingga seolah-olah mereka menjadi terkunci dalam tubuh masing-masing. Begitu pula yang dialami Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Selaku tokoh kawakan yang lama malang melintang, mereka sendiri tak pernah tahu secara pasti, bagaimana lawan bisa menotok mereka sedemikian rupa.
Selama mengenal Hakim Tanpa Wajah, memang baru kali ini mereka tahu kalau lelaki itu memiliki ilmu totokan simpanan. Pada awalnya, ketika baru pertama kali masuk ruang tahanan, Andika agak heran melihat mereka tak berusaha menghancurkan jeruji baja di pintu ruangan. Toh, kebanyakan dari mereka adalah tokoh kelas atas yang tak akan begitu menemui banyak kesulitan untuk melantakkan batang baja sekalipun. Dan sewaktu Kamajaya menjelaskan, barulah Andika mengerti duduk persoalannya.
“Tampaknya kita mati kutu di sini, Tuan Pendekar,” ungkap Kamajaya putus asa.
“Aku pernah mendengar Hakim Tanpa Wajah berkata bahwa kita akan diadu seperti hewan, sampai mati pada purnama ketiga nanti. Waktunya tinggal beberapa hari lagi, bukan?”
“Sialan.... Tak pantas kau berkata seperti itu! Memalukan nama Partai Pengemis Timur saja...,” gerutu Penggerutu Berkepang.
“Aku tak takut mati, Ketua,” sebut Kamajaya.
“Aku hanya khawatir akan membunuh kawan seperjuangan saat diadu nanti.”
“Kalau begitu, ya jangan mau diadu! Kau kan bukan ayam atau domba yang bisa diatur-atur! Kenapa bodoh sekali....”
“Tapi, bagaimana kalau Hakim Tanpa Wajah memiliki totokan rahasia lain yang membuat kita gelap mata, sehingga tak bisa membedakan mana kawan atau lawan?” susul Kamajaya lagi.
“Iya, juga ya...,” gumam Penggerutu Berkepang. Tapi setelah itu.
“Ah, peduli amat! Pokoknya, kau harus tidak mau diadu. Titik!”
Andika hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan kekerasan kepala Ketua Partai Pengemis Timur itu. Untung saja Penggerutu Berkepang berada di pihak yang benar. Kalau tidak, apa jadinya dunia persilatan nanti?
Keenam orang itu kembali diam. Ruang sunyi. Bunyi napas mereka terpantul dinding batu. Mau tak mau, mereka hanya bisa menikmati gema desah napas saja. Pendekar Slebor sendiri terdiam. Dirinya mungkin begitu, tapi pikirannya tidak. Otaknya terus berkutat untuk mencari pemecahan. Sambil berpikir, tangannya tanpa sadar memainkan sebutir batu kecil yang dilemparnya berulang-ulang ke dinding ruangan. Entah karena jengkel atau sebab lain, mendadak saja batu kecil itu dihempasnya ke lantai keras-keras
Tak!
Yang lain tersentak. Bukan sekadar karena batu kecil itu menimbulkan suara yang keras dalam ruangan. Tapi, juga karena terciptanya lubang yang dalam, sekitar tiga-empat jengkal!
“Astaga! Apa Tuan Pendekar luput ditotok?” bisik Kamajaya, di dekat Andika.
Andika terdiam. Diingatnya sesuatu.
“Aku memang ditotok, ketika menyamar bersama Penggerutu Berkepang waktu itu. Tapi yang menotokku bukan Hakim Tanpa Wajah...,” jelas Pendekar Slebor.
“Manusia Dari Pusat Bumi?” selak Dartasa, lelaki lain dari Lima Gembel Busuk, menduga.
“Ya! Mungkin dia hanya menotok untuk melumpuhkanku,” tambah Andika.
“Tapi, kenapa Hakim Tanpa Wajah tak mengeluarkan totokan rahasianya pada Tuan?” tanya Kamajaya.
“Mungkin karena dikira aku tak terlalu berbahaya. Dan kalaupun dibawa ke sini, mungkin hanya untuk menutup jejak penculikan ketua kalian,” jelas Andika pada empat anggota Lima Gembel Busuk.
“Hey? Kau membicarakan aku, ya?!” penggal Penggerutu Berkepang.
Andika bangkit menuju jeruji baja.
“Kau tak menyahuti pertanyaanku?!” desak Penggerutu Berkepang.
Pendekar Slebor tak menggubrisnya. Malah kini siap mengerahkan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan untuk menghancurkan pintu baja ruang tahanan ini. Dengan sedikit pemusatan pikiran dan perasaan, Andika sudah bisa menghimpun sepertiga kekuatan saktinya pada kedua belah tangan. Saat berikutnya....
“Heaaa!”
Brak!
Pintu berjeruji baja kokoh kontan roboh dalam keadaan lantak. Benda itu tak akan sanggup menahan terjangan tenaga sakti Pendekar Slebor, meskipun tebalnya tiga kali lipat.
“Yak! Sialan... eh, bagus!” puji Penggerutu Berkepang.
Andika mempersilakan tokoh setengah baya itu keluar lebih dahulu. Saat melewati Andika, laki-laki berambut berkepang itu menoleh ke arah Andika.
“Biar begitu, pukulanmu tadi sebenarnya biasa-biasa saja...,” kata Ketua Partai Pengemis Timur.
Andika tertawa. Tapi sempat pula mendelik kesal di belakang lelaki setengah baya itu. Kalau saja tak berniat untuk memasuki Pengadilan Perut Bumi, tentu Andika tak akan pernah bertemu manusia yang begitu menjengkelkan ini.
Awal pertemuan Andika dengan tokoh itu bermula ketika Pendekar Slebor teringat pada gelang perak berukir milik salah sedang anggota Lima Gembel Busuk yang ditemukan sedang sekarat. Saat itu, dia baru saja menyelesaikan bagian terakhir kitab penyamaran yang diberikan Raja Penyamar. Bermodal gelang itu, Andika menyelidiki hingga sampai ke markas Partai Pengemis Timur. Gelang itu rupanya menjadi lambang partai mereka. Di sana, dia pun bertemu Penggerutu Berkepang. Pada lelaki itu, dijelaskannya semua perihal tentang kehadiran Hakim Tanpa Wajah. Termasuk, keterlibatan Lima Gembel Busuk dengan tokoh tersebut.
Dengan penjelasan Andika, kebingungan Partai Pengemis Timur terhadap hilangnya para rekan mereka akhirnya terjawab. Sampai suatu saat, Andika menyinggung-nyinggung soal gagak hitam yang menjadi tanda akan datangnya si Hakim Tanpa Wajah. Secara tak terduga, Penggerutu Berkepang pun mengatakan pada Andika kalau hari-hari belakangan selalu diikuti gagak hitam seperti gambaran Andika. Mengetahui hal itu, Andika segera menyusun rencana untuk bisa masuk ke Pengadilan Perut Bumi. Sekaligus, menyelamatkan anggota Lima Gembel Busuk lain.
Kini dengan hati-hati, keenam orang yang baru bebas tadi menelusuri lorong berkamar. Yang pertama hendak dicari Andika adalah Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam. Karena menurut Raja Penyamar, kedua tokoh aneh itu bisa membantunya untuk menghadapi Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi.
Kamar demi kamar diperiksa. Karena tidak ingin tertangkap basah oleh Hakim Tanpa Wajah yang bisa saja kembali tiba-tiba, maka Andika tak mem-bebaskan dulu beberapa tokoh lainnya. Sampai akhirnya, Pendekar Slebor sampai di ‘Kamar Rajawali’.
“Hey, Orang Tua!” panggil Andika dari balik jeruji.
Lelaki Berbulu Hitam yang sedang mondar-mandir gelisah dalam ruangan cepat menoleh. Wajahnya yang semula berangasan, mendadak menjadi cerah demi melihat wajah Andika.
“Aoi, Tuan penolong ternyata ada di sini juga?” sapa Lelaki Berbulu Hitam dibuat seramah mungkin. Didekatinya pintu baja.
Andika memberi isyarat dengan tangan agar lelaki berdarah setengah serigala itu menjauh. Seperti tadi, akan didobraknya pintu berjeruji baja ‘Kamar Rajawali’. Tapi sebelum niatnya terlaksana....
“Haaa, rupanya ada penyelundup yang berusaha meloloskan para tawananku?! He... he... he!”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah dikenal. Tak hanya Andika yang langsung menoleh sigap ke arah seruan itu. Penggerutu Berkepang serta empat anggotanya pun ikut menoleh.
Di ujung lorong, berdiri Hakim Tanpa Wajah dengan muridnya. Pada bahu Manusia Dari Pusat Bumi, terkulai lemah tubuh seorang dara dengan baju koyak monyak. Wajah gadis itu tersembunyi di balik punggung manusia jelmaan siluman ini. Tapi bukan berarti Andika tak bisa mengenalinya. Cukup hanya melihat pedang bergagang kepalan naga di punggung. Pendekar muda itu yakin kalau gadis yang terkulai di bahu Manusia Dari Pusat Bumi adalah.... Purwasih!
Bagaimana Andika bisa melakukan perlawanan kalau Purwasih berada di bawah ancaman Manusia Dari Pusat Bumi? Andika tidak bisa berbuat lain, sewaktu Hakim Tanpa Wajah memerintahnya untuk masuk ke dalam ‘Kamar Rajawali’ bersama Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Agar tidak terjadi pembobolan pintu baja kembali, sekali itu Andika harus mendapat jatah totokan pelumpuh tenaga, tanpa perlawanan sedikit pun. Purwasih sendiri dikurung dalam kamar terpisah. Untung saja, dia tak disatukan dengan tokoh-tokoh sesat.
Pengadilan Perut Bumi. Sebuah tempat tersembunyi, tak terjangkau manusia lain. Seperti namanya, terletak jauh di bawah permukaan bumi. Untuk tiba di sana, harus melalui rawa-rawa dalam yang penuh binatang buas melata dari buaya hingga ular. Di dasar rawa, ada lorong air berliku yang sesungguhnya adalah aliran sungai di perut bumi. Setibanya di ujung lorong panjang, akan ditemui sebuah dunia lain yang biasa dipakai si Hakim Tanpa Wajah.... Sebuah kolam besar dalam ruang di dasar bumi, menjadi gerbang masuk yang menghubungkan lorong aliran sungai bawah tanah dengan tempat ini.
Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi telah tiba di sana. Mereka muncul di permukaan kolam dengan membopong tubuh dua lelaki pada bahu masing-masing. Dari tepi kolam, mereka memasuki salah satu mulut lorong yang banyak terdapat di sekeliling tepian kolam. Setelah berjalan menempuh lorong yang tak begitu panjang, mereka akhirnya tiba di ruang lain. Ruang amat luas yang memiliki banyak kamar. Setiap kamar ditutup pintu besi berjeruji baja. Dalam kamar-kamar itulah, orang-orang yang diculik dari dunia persilatan ditawan. Dan mereka berasal dari beberapa wilayah dan dari golongan berbeda. Pada setiap pintu kamar, terdapat tulisan di atasnya. Satu kamar bertuliskan; ‘Kamar Ular’. Yang lain diberi nama ‘Kamar Buaya’. Ada juga ‘Kamar Katak’ dan ‘Kamar Rajawali’. Serta, beberapa tulisan lain.
Di dalam sebuah kamar yang bertuliskan ‘Kamar Rajawali’, ada dua lelaki dari kalangan tua yang pernah mengibarkan panji kejayaan masing-masing pada masa delapan puluh tahun silam. Mereka tak lain, Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu. Memang, setelah berhasil diperdayai dengan menguras kekuatan mereka melalui tubuh Pendekar Slebor, Hakim Tanpa Wajah dan muridnya akhirnya bisa juga membawa dua tokoh tak tertandingi itu ke Pengadilan Perut Bumi. Sebuah mimpi delapan puluh tahun milik Hakim Tanpa Wajah, kini baru terwujud.
“Kau akan merasakan balasanku, Hakim Jelek!” ancam Lelaki Berbulu Hitam manakala guru dan murid itu sedang melewati kamar tahanannya.
“Akan kurencah-rencah seluruh tubuhmu seperti makanan anjing geladak!”
Hakim Tanpa Wajah hanya terkekeh mendengar ungkapan kemurkaan Lelaki Berbulu Hitam. Diliriknya lelaki tinggi besar yang berdiri mencengkeram jeruji baja itu dengan mata mencemooh. Ketika tangan besar Lelaki Berbulu Hitam hendak menggapainya, Hakim Tanpa Wajah hanya melompat sedikit lalu terkekeh lagi. Suara tawa buruknya menghilang di sebuah tikungan lorong, bersama menghilangnya tubuh bangkotan berkafan itu yang diiringi sang Murid.
“Siapa mereka, Hitam?” tegur Pendekar Dungu di belakang Lelaki Berbulu Hitam.
Lelaki keriput itu tampak tenang-tenang saja bersandar pada dinding batu dengan mata terkantuk-kantuk.
“Kalau aku sudah berteriak mengkelap seperti tadi, pada siapa kau pikir aku berteriak?” sahut Lelaki Berbulu Hitam kasar, masih dibawa kegusaran pada Hakim Tanpa Wajah.
“Ah! Yang kutahu, selalu mengkelap pada siapa saja. Dan berbicara dengan berteriak, bagimu sama saja!”
“Kau meledekku?!” bentak manusia berdarah serigala itu dengan wajah memerah. Dihampirinya Pendekar Dungu bersungut-sungut.
“Hey, apa kau tuli?! Aku tanya tadi, apa kau meledekku?”
Tapi orang yang diajak berdebat menyahutinya dengan dengkuran panjang.
“Dasar tua bangka keropos!” maki Lelaki Berbulu Hitam kesal.
Sementara itu, dua lelaki di bahu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi telah dilemparkan ke dalam ‘Kamar Kutu Busuk’ bersama empat orang lain, yang sudah lama berada di dalam sana.
Bruk! Bruk!
“Tenang-tenanglah kalian menunggu saat pengadilan nanti!” ujar Hakim Tanpa Wajah penuh kepuasan.
Setelah itu, dia memerintahkan Manusia Dari Pusat Bumi untuk mengunci pintu besi kembali.
Krang!
Kini keduanya meninggalkan kamar itu. Begitu mereka menghilang di satu tikungan, dua lelaki yang menjadi warga baru ‘Kamar Kutu Busuk’ siuman. Mereka adalah si Pemimpin Partai Pengemis Timur bersama kawannya yang dipanggil Borok.
“Heee, sialan! Di mana aku sekarang?!” tanya laki-laki berjuluk Penggerutu Berkepang sambil mengurut-urut kening. Lalu disusul dengan kebiasaannya menggerutu.
“Uuuh...,” keluh Borok, ikut menegakkan tubuh dalam keadaan duduk.
“Apa ini neraka? Kenapa neraka bau pesing, ya?”
Empat orang lain yang berada dalam ruang itu, lebih dulu segera menyambut. Wajah mereka begitu terkejut ketika melihat siapa orang yang baru datang. Tentu saja Penggerutu Berkepang sangat dikenal, karena mereka adalah empat anggota dari Lima Gembel Busuk. Kamasetya, Guruhdadi, Kamajaya, dan Dartasa. Sedangkan yang bernama Damarsuta, telah tewas sesaat setelah ditemukan Andika beberapa waktu lalu (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
“Sialan was-wis-wus ng-ng.... Rupanya kalian ada di sini! Aku sudah susahpayah kian kemari mencari, kalian malah enak-enakan!” balas Penggerutu Berkepang, menanggapi sambutan mereka.
“Kami bukan enak-enakan di sini, Ketua!” sangkal Kamajaya, lelaki yang paling berpengaruh diantara mereka.
“Kami diculik Hakim Tanpa Wajah seperti beberapa tokoh persilatan lain!”
“Aku tahu...,” tukas Penggerutu Berkepang.
Padahal, laki-laki itu juga yang tadi memancing perdebatan. Dia berdiri sambil menepuk-nepuk pakaian yang masih basah dan kotor.
“Sekarang di mana kita?” tanya Penggerutu Berkepang kemudian.
“Bukankah kau sudah tahu, Ketua?” sahut Kamajaya, tak bermaksud meledek atau menyindir.
“Aku memang bilang begitu tadi! Aku memang sudah tahu tempat ini, kok! Tapi, apa salahnya kalian menjawab pertanyaanku selaku ketua kalian!” hardik Penggerutu Berkepang bersungut-sungut.
“Sialan....”
Kamajaya mengangkat bahu. Dia memang tak bisa menang berdebat dengan ketua sendiri.
“Kita ada di Pengadilan Perut Bumi,” jawab Kamajaya kemudian.
“Aku tahu! Sudah kubilang bukan? Aku tahu!” bentak Penggerutu Berkepang serba salah.
Selagi Penggerutu Berkepang melempar pandangan keluar dari jeruji baja seperti seorang pengawas kurang kerjaan, Kamajaya mengusiknya lagi.
“Ketua, boleh aku bertanya sedikit?”
“Ya.... Sedikit saja...,” kata Penggerutu Berkepang.
“Siapa kiranya anak muda yang bersama Ketua ini? Kalau dia anggota kita, kenapa aku belum mengenalnya?”
Mendadak Penggerutu Berkepang berbalik. Wajahnya memberang.
“bodoh...! Eh, sialan!” umpat Ketua Partai Pengemis Timur sambil menghampiri Kamajaya tergesa.
“Kau harus memberi hormat pada dia! Ayo!”
Penggerutu Berkepang segera menekan punggung Kamajaya untuk menjura.
“Kalian juga!” sambung laki-laki pada tiga lelaki lain.
Meski tak mengerti-sama sekali, terpaksa keempat lelaki itu menjura juga.
“Nah, sialan...! Eh, bagus!” puji Penggerutu Berkepang berbareng anggukan puas.
Kamajaya dan tiga rekannya menatap, seolah hendak bertanya kembali. Siapa anak muda itu sebenarnya?
“Jangan menatap begitu padaku! Apa kalian tidak kenal, siapa dia?” lanjut Penggerutu Berkepang lagi.
Ditunjuknya pemuda berwajah tak karuan yang sedang tersenyum-senyum penuh arti itu.
“Dia itu pendekar yang amat disegani..., Pendekar Slebor!”
“Ah, masa’?” gumam keempat lelaki itu, serempak.
“Jangan masa’-masa’!”
Lalu Ketua Partai Pengemis Timur melirik anak muda yang selama ini dipanggil Borok olehnya.
“Bor! Coba kau buka topeng jelek itu!” ujarnya acuh, pada Borok.
Pemuda itu pun mempreteli perangkat penyamarannya. Termasuk, kaki palsu yang bengkak. Maka, tampaklah sekarang oleh semua orang yang ada dalam ruang itu. Wajah seorang pemuda tampan yang berperawakan gagah. Memang benar! Dia adalah Pendekar Slebor!
“Nah, kan.... Kubilang juga apa...,” gerutu Penggerutu Berkepang.
Pemuda yang kini mengenakan pakaian hijau-hijau dengan selembar kain bercorak catur tersampir di bahu itu mendekati keempat lelaki yang masih menjura padanya. Mereka disalami satu persatu.
“Ketuamu benar. Aku memang Pendekar Slebor. Kalian bisa memanggilku Andika. Dan kurasa, tak perlu acara penghormatan seperti ini.... Bukan begitu, Penggerutu Berkepang?” kata Andika.
“Bukan!” jawab Penggerutu Berkepang, tak mau tahu.
Andika tertawa. Juga empat dari Lima Gembel Busuk. Kecuali, si Penggerutu Berkepang. Lelaki setengah baya itu masih menekuk wajah di dekat jeruji baja.
Sebenarnya, apa yang Andika rencanakan?
Memang, waktu itu, setelah mendapat pesan dari Raja Penyamar untuk menyelesaikan bagian akhir kitab penyamaran yang diberikannya, maka Andika pun menjalankannya. Dan tepat, apa kata Raja Penyamar. Bagian akhir kitab itu berisi inti dari seluruh ilmu ‘Menyamar’. Dengan mempelajari bagian itu, Andika bukan saja mampu menipu mata seseorang. Tapi juga mampu menipu penciuman seekor anjing pelacak sekali pun.
Dengan melakukan semadi beberapa lama dengan cara-cara tertentu, maka pemuda itu bisa mengubah zat-zat dalam tubuhnya, sehingga mampu merubah pula bau tubuhnya. Kalau dulu penyamarannya dapat dibongkar oleh penciuman serigala milik Lelaki Berbulu Hitam di kaki Gunung Merapi menuju Kampung Kelelawar, maka sekarang tak akan terjadi lagi (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
Bukan hanya itu. Dengan semacam sugesti dalam semadi, Andika mampu mengubah warna pribadinya. Menghilangkan untuk sementara pribadi aslinya, lalu memunculkan pribadi baru. Itu sebabnya, Manusia Dari Pusat Bumi yang memiliki indera siluman pun mampu ditipunya mentah-mentah! Tak heran kalau Raja Penyamar menyebut bagian akhir kitab itu sebagai bagian terpenting dari seluruh kitab!
“Apa rencanamu selanjutnya, Bor?” tanya Penggerutu Berkepang pada Andika.
Andika berdiri. Didekatinya si Ketua Partai Pengemis Timur itu.
“Aku belum tahu,” jawab Pendekar Slebor.
“Kurasa aku harus mempelajari dulu seluruh keadaan di sini....”
***
Dua hari sudah Pendekar Slebor dan Penggerutu Berkepang berada dalam ruang tahanan di Pengadilan Perut Bumi. Selama itu, belum ada satu tindakan pun yang bisa diperbuat. Andika masih tetap berpikir keras sambil mempelajari keadaan di sana. Sedangkan Penggerutu Berkepang masih tetap menggerutu tak bosan-bosannya.
Sebenarnya, kalau tidak terkena ilmu totokan rahasia milik Hakim Tanpa Wajah, dengan amat mudah mereka melantakkan jeruji baja yang mengungkung. Totokan itu memang telah melumpuhkan kekuatan tenaga dalam mereka. Sehingga seolah-olah mereka menjadi terkunci dalam tubuh masing-masing. Begitu pula yang dialami Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Selaku tokoh kawakan yang lama malang melintang, mereka sendiri tak pernah tahu secara pasti, bagaimana lawan bisa menotok mereka sedemikian rupa.
Selama mengenal Hakim Tanpa Wajah, memang baru kali ini mereka tahu kalau lelaki itu memiliki ilmu totokan simpanan. Pada awalnya, ketika baru pertama kali masuk ruang tahanan, Andika agak heran melihat mereka tak berusaha menghancurkan jeruji baja di pintu ruangan. Toh, kebanyakan dari mereka adalah tokoh kelas atas yang tak akan begitu menemui banyak kesulitan untuk melantakkan batang baja sekalipun. Dan sewaktu Kamajaya menjelaskan, barulah Andika mengerti duduk persoalannya.
“Tampaknya kita mati kutu di sini, Tuan Pendekar,” ungkap Kamajaya putus asa.
“Aku pernah mendengar Hakim Tanpa Wajah berkata bahwa kita akan diadu seperti hewan, sampai mati pada purnama ketiga nanti. Waktunya tinggal beberapa hari lagi, bukan?”
“Sialan.... Tak pantas kau berkata seperti itu! Memalukan nama Partai Pengemis Timur saja...,” gerutu Penggerutu Berkepang.
“Aku tak takut mati, Ketua,” sebut Kamajaya.
“Aku hanya khawatir akan membunuh kawan seperjuangan saat diadu nanti.”
“Kalau begitu, ya jangan mau diadu! Kau kan bukan ayam atau domba yang bisa diatur-atur! Kenapa bodoh sekali....”
“Tapi, bagaimana kalau Hakim Tanpa Wajah memiliki totokan rahasia lain yang membuat kita gelap mata, sehingga tak bisa membedakan mana kawan atau lawan?” susul Kamajaya lagi.
“Iya, juga ya...,” gumam Penggerutu Berkepang. Tapi setelah itu.
“Ah, peduli amat! Pokoknya, kau harus tidak mau diadu. Titik!”
Andika hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan kekerasan kepala Ketua Partai Pengemis Timur itu. Untung saja Penggerutu Berkepang berada di pihak yang benar. Kalau tidak, apa jadinya dunia persilatan nanti?
Keenam orang itu kembali diam. Ruang sunyi. Bunyi napas mereka terpantul dinding batu. Mau tak mau, mereka hanya bisa menikmati gema desah napas saja. Pendekar Slebor sendiri terdiam. Dirinya mungkin begitu, tapi pikirannya tidak. Otaknya terus berkutat untuk mencari pemecahan. Sambil berpikir, tangannya tanpa sadar memainkan sebutir batu kecil yang dilemparnya berulang-ulang ke dinding ruangan. Entah karena jengkel atau sebab lain, mendadak saja batu kecil itu dihempasnya ke lantai keras-keras
Tak!
Yang lain tersentak. Bukan sekadar karena batu kecil itu menimbulkan suara yang keras dalam ruangan. Tapi, juga karena terciptanya lubang yang dalam, sekitar tiga-empat jengkal!
“Astaga! Apa Tuan Pendekar luput ditotok?” bisik Kamajaya, di dekat Andika.
Andika terdiam. Diingatnya sesuatu.
“Aku memang ditotok, ketika menyamar bersama Penggerutu Berkepang waktu itu. Tapi yang menotokku bukan Hakim Tanpa Wajah...,” jelas Pendekar Slebor.
“Manusia Dari Pusat Bumi?” selak Dartasa, lelaki lain dari Lima Gembel Busuk, menduga.
“Ya! Mungkin dia hanya menotok untuk melumpuhkanku,” tambah Andika.
“Tapi, kenapa Hakim Tanpa Wajah tak mengeluarkan totokan rahasianya pada Tuan?” tanya Kamajaya.
“Mungkin karena dikira aku tak terlalu berbahaya. Dan kalaupun dibawa ke sini, mungkin hanya untuk menutup jejak penculikan ketua kalian,” jelas Andika pada empat anggota Lima Gembel Busuk.
“Hey? Kau membicarakan aku, ya?!” penggal Penggerutu Berkepang.
Andika bangkit menuju jeruji baja.
“Kau tak menyahuti pertanyaanku?!” desak Penggerutu Berkepang.
Pendekar Slebor tak menggubrisnya. Malah kini siap mengerahkan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan untuk menghancurkan pintu baja ruang tahanan ini. Dengan sedikit pemusatan pikiran dan perasaan, Andika sudah bisa menghimpun sepertiga kekuatan saktinya pada kedua belah tangan. Saat berikutnya....
“Heaaa!”
Brak!
Pintu berjeruji baja kokoh kontan roboh dalam keadaan lantak. Benda itu tak akan sanggup menahan terjangan tenaga sakti Pendekar Slebor, meskipun tebalnya tiga kali lipat.
“Yak! Sialan... eh, bagus!” puji Penggerutu Berkepang.
Andika mempersilakan tokoh setengah baya itu keluar lebih dahulu. Saat melewati Andika, laki-laki berambut berkepang itu menoleh ke arah Andika.
“Biar begitu, pukulanmu tadi sebenarnya biasa-biasa saja...,” kata Ketua Partai Pengemis Timur.
Andika tertawa. Tapi sempat pula mendelik kesal di belakang lelaki setengah baya itu. Kalau saja tak berniat untuk memasuki Pengadilan Perut Bumi, tentu Andika tak akan pernah bertemu manusia yang begitu menjengkelkan ini.
Awal pertemuan Andika dengan tokoh itu bermula ketika Pendekar Slebor teringat pada gelang perak berukir milik salah sedang anggota Lima Gembel Busuk yang ditemukan sedang sekarat. Saat itu, dia baru saja menyelesaikan bagian terakhir kitab penyamaran yang diberikan Raja Penyamar. Bermodal gelang itu, Andika menyelidiki hingga sampai ke markas Partai Pengemis Timur. Gelang itu rupanya menjadi lambang partai mereka. Di sana, dia pun bertemu Penggerutu Berkepang. Pada lelaki itu, dijelaskannya semua perihal tentang kehadiran Hakim Tanpa Wajah. Termasuk, keterlibatan Lima Gembel Busuk dengan tokoh tersebut.
Dengan penjelasan Andika, kebingungan Partai Pengemis Timur terhadap hilangnya para rekan mereka akhirnya terjawab. Sampai suatu saat, Andika menyinggung-nyinggung soal gagak hitam yang menjadi tanda akan datangnya si Hakim Tanpa Wajah. Secara tak terduga, Penggerutu Berkepang pun mengatakan pada Andika kalau hari-hari belakangan selalu diikuti gagak hitam seperti gambaran Andika. Mengetahui hal itu, Andika segera menyusun rencana untuk bisa masuk ke Pengadilan Perut Bumi. Sekaligus, menyelamatkan anggota Lima Gembel Busuk lain.
***
Kini dengan hati-hati, keenam orang yang baru bebas tadi menelusuri lorong berkamar. Yang pertama hendak dicari Andika adalah Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam. Karena menurut Raja Penyamar, kedua tokoh aneh itu bisa membantunya untuk menghadapi Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi.
Kamar demi kamar diperiksa. Karena tidak ingin tertangkap basah oleh Hakim Tanpa Wajah yang bisa saja kembali tiba-tiba, maka Andika tak mem-bebaskan dulu beberapa tokoh lainnya. Sampai akhirnya, Pendekar Slebor sampai di ‘Kamar Rajawali’.
“Hey, Orang Tua!” panggil Andika dari balik jeruji.
Lelaki Berbulu Hitam yang sedang mondar-mandir gelisah dalam ruangan cepat menoleh. Wajahnya yang semula berangasan, mendadak menjadi cerah demi melihat wajah Andika.
“Aoi, Tuan penolong ternyata ada di sini juga?” sapa Lelaki Berbulu Hitam dibuat seramah mungkin. Didekatinya pintu baja.
Andika memberi isyarat dengan tangan agar lelaki berdarah setengah serigala itu menjauh. Seperti tadi, akan didobraknya pintu berjeruji baja ‘Kamar Rajawali’. Tapi sebelum niatnya terlaksana....
“Haaa, rupanya ada penyelundup yang berusaha meloloskan para tawananku?! He... he... he!”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sudah dikenal. Tak hanya Andika yang langsung menoleh sigap ke arah seruan itu. Penggerutu Berkepang serta empat anggotanya pun ikut menoleh.
Di ujung lorong, berdiri Hakim Tanpa Wajah dengan muridnya. Pada bahu Manusia Dari Pusat Bumi, terkulai lemah tubuh seorang dara dengan baju koyak monyak. Wajah gadis itu tersembunyi di balik punggung manusia jelmaan siluman ini. Tapi bukan berarti Andika tak bisa mengenalinya. Cukup hanya melihat pedang bergagang kepalan naga di punggung. Pendekar muda itu yakin kalau gadis yang terkulai di bahu Manusia Dari Pusat Bumi adalah.... Purwasih!
Bagaimana Andika bisa melakukan perlawanan kalau Purwasih berada di bawah ancaman Manusia Dari Pusat Bumi? Andika tidak bisa berbuat lain, sewaktu Hakim Tanpa Wajah memerintahnya untuk masuk ke dalam ‘Kamar Rajawali’ bersama Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Agar tidak terjadi pembobolan pintu baja kembali, sekali itu Andika harus mendapat jatah totokan pelumpuh tenaga, tanpa perlawanan sedikit pun. Purwasih sendiri dikurung dalam kamar terpisah. Untung saja, dia tak disatukan dengan tokoh-tokoh sesat.
0