- Beranda
- Stories from the Heart
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat
...
TS
alishba
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat


(TRUE STORY)
"- Setelah melalui proses editing, maka tulisan ini akhirnya berhasil di publikasikan melalui penerbit Clover (M&C) Gramedia dan berubah judul menjadi JEJAK- "
- Alishba
Spoiler for TOP Threads:
Spoiler for Cover Design:

PROLOG
Uda Andre (Bang Andre), dan Uda Nopeng (Bang Nofan), merupakan narasumber sekaligus aktor utama dalam kisah yang sempat menggemparkan beberapa stasiun televisi selama kurang lebih 7 (tujuh) hari, beberapa puluh tahun silam.
Dalam informasi berita yang tersiar, mungkin mereka dikabarkan sudah hilang selama 6 (enam) hari, karena mereka dinyatakan hilang satu hari setelah Firman, Uncu dan Iwan melapor. Sedangkan perjalanan tak tentu arah yang sebenarnya mereka alami adalah 7 (tujuh) hari.
Sudah lama ingin berbagi, sharing dengan mereka untuk membahas penggarapan Buku, namun selalu terbentur kesibukan masing-masing, alhasil, skrip lamanya dulu yang pernah Andre tulis kembali ia kirimkan padaku. Semoga kisah ini bisa menjadi pedoman dan Menambah wawasan kita, sekaligus menyadarkan kita bahwa "Tuhan tak Tidur!".
(*)
PADA TAHUN 2001, ada 7 hari dalam perjalanan hidupku yang membuat aku harus berhadapan dengan maut. Meski ada sedikit hal yang terlupa dari rentetan kronologis waktu tersesat tersebut, itu karena aku pernah berkeinginan mengubur kenangan pahit itu sedalam mungkin. Hingga tak ada salah seorangpun yang tahu, kecuali Nopeng. Tapi, akan ku usahakan untuk mengingat keras, sekaligus akan disempurnakan dalam bentuk buku dengan mengambil “cerita” dari teman-temanku yang juga ikut dalam petualangan tersebut. Tentu saja aku takkan lupa melibatkan sahabat yang menemaniku selama 7 hari dalam pencarian jalan pulang. Mengitari Pegunungan hingga keluar dari cengkeraman maut Gunung Merapi yang berada di Sumatera Barat, dan inilah versiku:
Spoiler for Awal Naskah:
TUHAN, BERI AKU KESEMPATAN
Namaku Andre, ayahku bekerja di sebuah perusahaan BUMN, beliau termasuk orang yang keras dalam mendidik anak terutama anak lelaki. Namun demikian, menurutku beliau sungguh sangat demokratis.
Malangnya, ketika kelas 1 SMP aku pernah mengecewakannya, karena aku terpaksa di-DO (Drop Out) dari sekolah karena aku adu jotos dengan salah seorang guruku, yang menurutku seorang penjilat sejati. Akibat dari kenakalanku inilah aku harus menerima konsekwensi harus pindah ke Padang, Sumatera Barat, agar bisa naik ke kelas 2, tanpa harus mengulang. Di padang aku menyelesaikan masa SMP ku dengan lancar hingga kelas 2 SMU.
Aku dan noviandi yang seterusnya kupanggil -Nopeng, pernah membuat geger satu sekolah dan jadi pemberitaan di beberapa media massa, itu karena sepupu papaku ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dimana pemberitaan tersebut sangat rutin memberitakan kami yang tersesat selama 7 hari di gunung merapi.
Mencintai dunia mendaki dan bergiat di alam bebas kumulai sejak kelas 1 SMA, dan aku telah mendaki gunung Singgalang sebanyak dua kali. Kegilaanku dengan hobi ini semakin menjadi-jadi sejak aku tergabung dalam salah satu ekstra kurikuler Siswa Pencinta Alam (SISPALA). Hobi yang sangat ditentang oleh Tanteku dan keluarganya. Setiap kali aku meminta izin untuk mendaki gunung, aku tak pernah mendapatkan izin. Namun, aku tetap mendaki, karena aku cinta Alam rimba, mencium bau tanah hutan, sejuknya udara yang menusuk kulit, suara alunan gemericik air, sambil menikmati kopi susu di puncak gunung, nikmatnya.
Tiga hari sebelum kejadian tersebut, aku dengan 4 orang kawanku, Nopeng, Uncu, Firman, dan Iwan yang juga tergabung dalam Sispala di sekolahku, berencana akan mendaki gunung merapi. Gunung yang memilki ketinggian 2891 Mdpl(meter dari permukaan laut). Gunung merapi ini adalah gunung kedua yang sangat ingin kudaki setelah dua kali berhasil mendaki Gunung Singgalang, yang rutenya lebih berat dibandingkan gunung merapi. Segala persiapan untuk mendakipun mulai dikumpulkan, hingga tibalah harinya, kami berangkat dari padang ketika matahari mulai terbenam, dengan naik bus menuju koto baru yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan, rute normal untuk mendaki gunung merapi. Setelah tiba di koto baru, udara dingin mulai menusuk tulang, kami makan dulu untuk mengumpulkan energi, dilanjutkan dengani shalat Isya di masjid Koto baru.
Sesudah shalat kami mulai melakukan pendakian. Baru 15 menit perjalanan, salah satu kawanku menanyakan kaca mata yang kukenakan, dan aku tersadar kalau kaca mata itu telah tertinggal di masjid tempat kami shalat tadi, dan salah satu dari kami pergi mencek ke mesjid tersebut, dan anehnya sudah tidak ada lagi...!
Dan perjalananpun dilanjutkan, kami juga mendaftarkan nama dipos pasanggrahan, tempat memulai pendakian gunung tersebut sekaligus membayar retribusi kepada penjaga pos, perjalananpun dilanjutkan. Sebenarnya sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam perjalanan tersebut. Ketika aku berada di barisan paling belakang, seperti ada suara-suara yang berisik di belakangku, dan setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa dan hal tersebut juga dirasakan kawanku Firman, dan dia langsung menemaniku berjalanan beriringan di posisi belakang. Ketika menempuh jalan sempit dia yang mengantikan posisiku di belakang, kawanku ini punya kelebihan seperti ---indra keenam, tapi dia tidak membahasnya dalam perjalanan tersebut.
Matahari pagi mulai bersinar, kami sudah sampai di batas vegetasi atau cadas, puncak merapi pun telah kelihatan, Iwan dan aku yang pertama kali sampai di cadas tersebut, disusul Nopeng, Firman dan Uncu, yang selama perjalanan aku terus perang mulut dengan mereka. Kami beristirahat, masak dan mengisi energi, aku sendiri saat itu merasa tidak bisa mengontrol emosiku, aku lupa penyebabnya, hingga aku membuang salah satu periuk yang kami gunakan untuk memasak. Kemudian membawa tas sandang yang agak kosong, karena perlengkapan logistik kami sudah di keluarkan semuanya, aku membawa beberapa batang rokok. Kukatakan pada keempat kawanku kalau aku mau ke puncak, aku mulai menapaki jalan yang lebih kurang setengah jam menuju puncak merapi, kemudian terdengar Nopeng memanggilku, “Ndre aku ikutlah, *taik lah kau pergi sendiri-sendiri aja”
aku jawab ”hussst, mulut peng, di gunung ini, jaga mulutmu”
“Astaghfirullah” nopeng menjawab sambil menutup mulutnya, diapun kemudian menyusulku yang baru setengah jalan menuju puncak.
Kami tiba di kawasan puncak gunung tersebut, aku takjub, dan bahagia hilang segala penat, letih setelah berjalan hampir sepuluh jam. Aku melihat ada tugu salah seorang pendaki yang meninggal di gunung merapi namanya “Abel Tasman”. Menurut cerita dari pendaki-pendaki lain dia meninggal karena menyelamatkan seseorang yang terjebak di kawah gunung tersebut, secara reflek aku mencium tugu tersebut. Banyak pendaki-pendaki lain yang tersenyum kecil melihat ekspresi berlebihan ku saat itu.
Akhirnya aku dan Nopeng berjalan-jalan mengitari puncak yang terdapat banyak kawah-kawah hingga menuju puncak merpati, salah satu puncak yang top di gunung merapi. Beberapa menit kami diatas puncak sambil menikmati suasana merapi sejauh mata memandang terdampar permadani hijau, betul-betul menenangkan. Setelah menghabiskan rokok, aku dan nopeng melanjutkan perjalanan ke ladang Bunga Eidelweis, disinilah awal kisah nyata yang membuktikan bahwa Tuhan punya rencana sendiri terhadap kami berdua…
Kami mulai menuruni puncak Merpati, dan menuju ladang Eidelweis, tumbuhan misterius yang tumbuh di kawasan puncak gunung, dan setiap gunung menampilkan bentuk dan ciri khas masing-masing. Aku dan Nopeng dengan sigap dan penuh antusias memetik bunga abadi tersebut. Pada saat itu ada beberapa pendaki lainya yang juga memetik bunga tersebut, kami memetiknya seperti lupa waktu, setiap mata memandang kearah bunga tersebut, bunga tersebut terus memikat kami.
“Peng sudahlah cuma tinggal kita yang ada diladang ini” kataku pada Nopeng yang tetap semangat memetik bunga, hingga bunga tersebut penuh hampir setengah tas kami. Ketika kami ingin kembali turun, turunlah awan gelap yang membuat kami sulit mengingat kembali jalan kembali tersebut, kami berputar di sekitar kawasan puncak gunung merapi.
Perasaanku mulai tidak enak, Nopeng yang berada paling depan sibuk berputar-putar mencari jalan keluar, dan aku yang berada di belakang memanggilnya untuk berhenti dan tenang. ”Peng berhenti dulu, ayo kita berpikir dan menenangkan diri, kita sedang panik saat ini, Peng!"
Nopeng pun akhirnya menungguku dan kami duduk terdiam, “gimana selanjutnya Ndre?”
“Aku pun tak tahu, kita coba tunggu saja, mudah-mudahan kabut ini menghilang,” jawabku pasrah.
KABUT MULAI HILANG sedikit, nopeng kembali memimpin perjalanan. Kami berputar mencari jalan untuk turun ke bawah. Sampai suatu ketika kami melihat ada sekelompok pendaki jumlahnya aku lupa, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Akupun bertanya pada mereka, ”Pak (panggilan khas ala pendaki) mau kemana?! kami juga lagi kehilangan arah” sambungku lagi,
“Kami mau turun Pak, lewat jalur Simabur, kalau Bapak mau ikut, boleh gabung bersama kami” tawarnya.
Jalur simabur merupakan jalur yang naik melewati daerah Simabur, Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, sementara kami naik lewat koto baru daerah Padang Panjang. Kemudian aku menayakan pendapat si Nopeng ”gimana peng kita gabung aja?” tanyaku,
“gak usah ndre perasaanku tidak enak” jawab nopeng yang berdiri di belakangku.
Aku melihat ke kelompok tersebut, aneh juga, aku liat satu persatu pendaki itu yang laki-laki seperti tersnyum-senyum, sementara yang perempuan menangis sesenggukan, dan dengan berat hati aku mengikuti keputusan nopeng, untuk tidak ikut bergabung turun gunung bersama kelompok tersebut.
Perjalanan mencari jalan keluar kembali dipimpin oleh Nopeng, setelah lebih kurang 4 atau 5 jam (aku tak bisa memberi tahu waktu pasnya, meski si Nopeng memakai jam, tapi aku, dan dia pun tak ingat lagi perihal waktu, Karena panik) Nopeng menemukan satu jalan turun, yang menyerupai jalan cadas seperti waktu kami naik tadi. Meskipun kami sadar bahwa itu bukan jalannya, tapi aku ikuti saja.
Setelah penuh perjuangan dan beberapa kali aku terjatuh, kami tiba di sebuah jurang yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja kalau langsung lompat kaki bisa cedera. Nopeng yang turun pertama berhasil sampai kebawah. Dalam hatiku terbersit "kuat sekali anak ini", aku bingung tidak tahu mau turun lewat jalan mana, akhirnya Nopeng menunjukkan jalan mana yang harus kulewati, disaat itu timbul keisengan si Nopeng, di dalam tas yang kami ambil ada tustel, dia mengeluarkan tustel dan membiarkan ku tergantung di bibir jurang,
“Ndre ku poto kau dulu , ayo senyumlah”
kujawab ”Peng, udahlah gak usah becanda, kita udah hilang di gunung gini kau masih sempat becanda!”
“Kalau gak mau kau senyum gak kupegang kakimu supaya kau bisa turun”
aku ikuti saja kemauan si nopeng, dengan tersenyum kecut dengan gaya memelas, “klik”, dan aku pun di bantu turun sama si Nopeng, kemudian gantian, kini giliran dia yang meminta di foto olehku,
“nah sekarang gantian aku lagi yang kau poto ndre” lagi-lagi aku ikuti kemauanya, dan sesi poto-poto pun selesai.
Perjalanan pun di lanjutkan berkali-kali kami temui jalan curam namun mampu kami lewati, hingga kami bertemu lagi jurang kebawah yang lumayan tinggi. Nopeng yang pertama kali mencoba untuk turun, berhasil melewati jurang tersebut. Aku terdiam, kali ini sepertinya aku benar-benar tak mampu melewati jurang ini.
Saat mencoba berpikir bagaimana agar bisa turun, ketika itu tepat di sebelah kananku, di sebuah pohon tinggi, entah ilusi atau nyata, aku melihat sesosok tubuh hitam, awalnya aku tidak mengira kalau itu adalah sebangsa makhluk halus. Aku melihat ke arahnya, dia kemudian berdiri (aku menulis ini sambil bulu kudukku berdiri, inilah alasannya aku mau mengubur kenangan ini dalam-dalam, meskipun akhirnya kucoba untuk menulis ini, tidak lebih hanya karena ingin berbagi pengalaman),
nopeng yang awalnya senang karena mendengar informasiku bahwa ada orang di sana, “peng ada orang di atas pohon tingginya sama seperti manusia normal: ”ya udah panggil ndre”
belum selesai dia menyuruhku memanggil, aku langsung melanjutkan ”peng badannya hitam semua, dia menunjuk-nunjukku, seolah-olah ingin menyuruhku berbalik arah,”
nopeng langsung menjawab “ndre jangan dengar kan orang itu turunlah kau segera, dia bukan makhluk baik”.
Ditengah kepanikanku, “aku tidak tahu mau turun, dari mana peng? cepatlah dia mau turun seperti ingin menyusul kita, dia marah peng!!!” tambahku lagi.
Nopeng yang sudah di bawah tak bisa melihat si makhluk hitam tersebut, langsung menjawab ”lewat sini ndre”. Jalan yang ditunjuk Nopeng di sisi kiri jurang tersebut ada rumput dan tanaman-tanaman yang tumbuh menjalar ke bawah, tanpa banyak berfikir, aku nekat turun melewati jalan yang ditunjukkan Nopeng tersebut. Karena gravitasi, aku meluncur turun dengan tangan yang terus berpegang pada tanaman yang menjalar tersebut, entah bagaimana kejadiannya, posisiku langsung terbalik, kepalaku arah kebawah dan kakiku keatas.
Nopeng dengan sigap menyambutku dan sampailah aku di bawah dengan tangan lecet dan seluruh tubuhku dipenuhi tanah dan rerumputan yang menempel di tubuhku, “syukurlah kau masih selamat, ayo kita lanjutkan perjalanan ini,” kata nopeng yang langsung berjalan di depanku.
Akupun mengikutinya, tak lama berjalan, lagi-lagi kami bertemu jurang, kali ini nopeng mencoba turun ke bawah untuk melihat kondisi jurang tersebut, kemudian nopeng kembali sambil mengucapkan Ayat Kursi (ayat dalam kitab suci Al Qur’an), “Ada apa Peng?” tanyaku,
Nopeng, mulutnya sambil berkomat-kamit, menyebutkan bahwa dia baru saja melihat (Ya Allah, kembali bulu kudukku berdiri) "ada sesosok tubuh perempuan rambutnya keriting ndre, dia pakai rok tidak pakai baju, tidur tengkurap di dasar jurang”, aku pucat, dan terpaku, dalam hatiku “ya Tuhan, apa lagi ini?!”
(*)
Spoiler for Bersambung:

Diubah oleh alishba 17-09-2019 18:25
johny251976 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
267.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alishba
#273

Sebelum cerita ini saya tulis, saya mohon maaf karena telat melanjutkannya. Karena saya ada keperluan sedikit.
Session ini, saya akan melanjutkan kisah ini dengan versi Nofiandi (Nopeng). Semoga kita semua dapat memetik hikmah dari setiap kejadian yang ada.
Spoiler for Sambungan - Part 9:
Saya Nofiandi, biasa dipanggil Nopeng. Diantara lima pendaki yang naik ke Merapi waktu itu, dua diantara yang tersesat adalah aku bersama Andre.
Mungkin, versiku memiliki banyak persamaan dengan versi Andre, namun, di setiap tahapannya mungkin ada beberapa yang terlupa atau tak diingat oleh Andre, dan ada beberapa yang tak terlihat olehnya, namun terlihat olehku.
Saat berada di Bus dari Padang menuju Koto Baru, Andre sempat kesal padaku lantaran aku menggoda seorang wanita dengan mengatakan bahwa aku akan mengadakan pelatihan survive dengan "Adik-adik Junior" sambil melihat ke arah Andre. Tujuannya sih hanya bercanda, namun Andre mungkin kesal karena Andre jadi seolah mati kutu atas perlakuanku.
Sepanjang perjalanan Andre diam seperti patung kayu, merengut, terlihat jelas wajah kesalnya padaku.
Setelah sampai di Terminal Koto Baru, kami singgah di Pasar dan istirahat sambil mengisi perut yang kosong. Andre saat itu membeli dua bungkus Nasi, membuka, dan memakannya tanpa menawarkan padaku. Karena aku menganggap hal di bus itu hanya hal sepele dan bukan masalah besar, aku sigap mengambil dan memakan nasi yang berada di atas meja tersebut.
"Hah! kau makan juga nasi ku ya?!" tanya Andre padaku dengan nada ketus.
"Ya iya lah Ndre, kau kan kawan ku!" jawab ku sambil mengunyah nasi yang baru ku suap kedalam mulut.
"Janganlah kayak gitu Peng, masa kau bilang aku adek senior kau di bus tadi! Aku kan malu."
"Ohh, jadi kau marah gara-gara itu Ndre?! hahaha, becanda Ndre...becanda!!!"
Kamipun melanjutkan makan, ngopi, dan menghitung logistik, memastikan tidak ada yang kurang, seperti beras, gula, indomie, dlsb. Saat itu kami berencana hanya sebentar, dua malam tiga hari, sehingga logistik pun hanya pas-pasan. Lagi pula kami hanya anak Sekolah, uang pas-pasan, itupun sedikit uang tambahan kudapat dari hasil meminta-minta dari kelas kelas lain, karena aku termasuk orang yang berpengaruh di Sekolah saat itu. Jika ada yang menyentuh kami sedikit saja, Uncu, Andre, Iwan dan Firman pasti ikut serta membantu, "Sahabat yang tak terpisahkan".
Setelah selesai makan, kami melanjutkan Shalat Isya di Mesjid yang tak jauh dari pasar tersebut. Selesai Shalat, kamipun melanjutkan perjalanan ke kaki merapi. Baru berjalan beberapa meter, Andre tersadar bahwa kacamata yang dibawanya tertinggal, kamipun kembali untuk memastikan, dan Anehnya sudah tak ada. Padahal jarak waktu tersebut tak begitu lama.
"Pak, ada kacamata tinggal disini Pak?" kami bertanya pada Penjaga Mesjid.
"Gak ada pak, gak ada kacamata yang tinggal disini"
setelah dicari dan gak ketemu, kamipun berkumpul membuat baris lingkaran untuk berdoa bersama, semoga diberi kelancaran saat pergi dan pulang mendaki. Sedangkan Andre, kecut dan bertambah kesal karena harus mengganti Kacamata yang hilang tersebut, karena kacamata tersebut Ia Pinjam dari seorang Tukang Ojek di Padang.
Kami melanjutkan perjalanan ke Merapi dan tiba di Pesanggrahan, istirahat sejenak dan mendaftarkan nama kami serta membayar uang retribusi. Setelah itu kami lanjutkan berjalan sehabis rehat selesai. Sebelum perjalanan, Uncu sebagai kepala regu, menyusun Posisi, Uncu paling depan, Aku Urutan kedua, disusul Iwan posisi ketiga, Firman dan Andre. Dalam posisi tersebut, harusnya posisi pertama dan terakhir harus diisi oleh orang yang sudah pernah mendaki di medan tersebut sebelumnya. Namun, karena hanya Uncu yang sudah pernah ke Merapi, dan Kebetulan Andre memiliki postur tubuh yang besar dan tinggi, maka Andre yang mendapat posisi di belakang, walau sebelumnya Andre belum pernah ke Merapi.
Mendengar Ia di tugaskan di Posisi belakang, Andre pun semakin bertambah kesal, dan sepanjang perjalanan ada ada saja kelakuan Aneh yang dibuatnya. Berisik, ngomel-ngomel sendiri, seolah-olah tak nyaman dengan posisi urutan belakang yang diberikan pada dirinya
Setelah itu, hal-hal apa saja yang terjadi padanya aku tak begitu tahu, karena aku fokus berjalan di urutan kedua. Sambil berjalan dan sesekali bercanda-canda dengan Andre, Uncu sering menginstruksikan untuk melakukan perhitungan untuk memastikan jumlah kami tak berkurang dan tak bertambah.
"Ayo, kita hitung sama-sama, Satu!" ucap uncu dengan sigap.
Lansung saja spontan kujawab "Dua!", disambut Iwan "Tiga!" dan Firman "Empat!", Kemudian Andre dengan nada masih kesal "Lima...".
Langsung disambut uncu yang berada di posisi depan,
"Gak ada yang bertambah dibelakang menjadi Enam kan Ndree??!, sambil tertawa. "Hahahaha".
Mendengar itu, Andre semakin gelisah, semakin bertambah kesal dan Akhirnya Firman menimpal posisinya berdua dibelakang. Tiba dijalan setapak, barulah Firman yang menggantikan posisinya di belakang dan kondisi berubah menjadi sedikit tenang.
Sepanjang perjalanan, aku tak ada kepikiran hal yang aneh-aneh, hingga akhirnya hari sudah mulai terlihat terang. Kalau tidak salah saat itu sudah hampir pukul lima pagi, karena aku mendengar suara Adzan Subuh dari kejauhan.
Sampai di Parak Batuang, Iwan, Firman dan Andre lebih dulu menuju Cadas, Batas Vegetasi. Aku dan Uncu beristirahat sejenak, karena saat itu dada uncu terasa sesak, dan aku berniat menemaninya. Tak sadar, akhirnya kami berdua tertidur dan ketika pagi aku tersentak, aku langsung membangunkan uncu untuk segera naik ke Cadas.
Pada saat itu, angin begitu kencang di batas vegetasi, Periuk kamipun tak bisa memasak banyak untuk kami berlima, karena ukurannya tidak begitu besar, sehingga memasak harus dilakukan dua tahap. Irwan, Firman dan Andre yang sudah di Cadas mendapat kesempatan untuk masak pertama.
Kami Akhirnya berhenti di cadas, nasi dan Indomie yang sudah mereka masak langsung kumakan, karena Andre dan Iwan sudah lebih dulu dan hampir selesai. Sebelum masak, Firman yang bertugas di Logistik mulai mengeluarkan barang-barang keperluan, alat-alat, dlsb. Ketika mengeluarkan beberapa piring plastik, Andre kaget karena piring tersebut seperti tak asing baginya.
"Ini Piring siapa?!"
Sambil tertawa, kamipun menjawab "Ohh, itu piring nya Pak Alek Ndre!"
"Ahhh, kalian gila ya, piring orang main ambil aja!!!" Andre mengambil piring plastik dan mencampakkannya keberbagai arah dengan sikap arogan, sementara aku yang mengumpulkannya kembali.
Setelah Andre selesai makan, Uncu dan Firman melanjutkan untuk memasak tahap kedua. Aku yang masih asik menikmati makanan, melihat cek cok karena masalah Air, Andre tak mau mengambil Air dan Akhirnya Firman dan Iwan yang diinstruksikan uncu mengambilnya. Sambil mengosongkan Tas, Andre meminta Jatah logistik kepada firman sebelum firman mengambil Air. Saat itu firman memberikan; Dua Sachet Ekstra Jos, Dua Bungkus Rokok Kretek Sampoerna Hijau, Garam Satu Bungkus. Andre mengambil satu sachet lagi Ekstra Jos dan memasukkannya kedalam saku. Melihat itu, akupun tak mau kalah mengambil satu sachet lagi dan memasukkan kedalam saku celanaku. Andre tak sabar ingin ke Puncak dan berencana pamit ingin naik lebih dulu. Walau sudah di cegah oleh Uncu, Andre tak mengindahkan dan tetap bersikeras naik. Masih jelas dalam ingatanku, Andre mengisi botol Aqua berisi Air dengan Ekstra Jos dan memasukkannya kedalam tas. Sambil berjalan, Aku langsung menyusul Andre yang hendak naik sambil meminjam jeket milik uncu. Andre tak sabar ingin melihat Sunrise saat itu, entah mengapa aku seolah terkena magnet ke Indahan puncak yang sempat terbayang dalam benakku.
Sesampainya Aku dan Andre didekat puncak, Andre bersorak bahagia dari atas sambil mengarah ke arah tenda kami yang disana ada Firman, Iwan dan Uncu. "Aku sudah di Puncak hoi..."
Sebelum berangkat ke puncak, uncu sempat berpesan, "Ndre, Ingat Tugu Abel, Tugu Abel, Tugu Abel, itu patokannya".
Tugu Abel adalah tugu yang menjadi pedoman para pendaki untuk turun ke cadas.
Sampai di Tugu Abel, Andre mencium tugu tersebut, Aku heran, "Ndre, kenapa kau cium?!" dengan ringan Andre menjawab, "Aku kagum peng dengan kisah Heroiknya".
Kami duduk sebentar di tugu Abel, sambil menikmati beberapa batang Rokok. Meminum Air yang terisi Ekstra Jos hingga habis. Saat itu puncak Merapi tak hanya diisi oleh kami, karena cukup banyak rombongan lain yang juga berada diatas. Setelah bercerita-cerita di Tugu Abel, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak Merpati dengan melewati Sebuah lapangan berkrikil kecil seperti lapangan bola. Andre takut untuk melintas diatas hamparan kerikil tersebut. "Peng, Aman gak jalan disini peng?!, nanti tertelan kita peng!!!" Andre berfikir bahwa tanah bebatuan tersebut semacam lumpur hidup yang bisa menelannya.
Sesampai di sudut lapangan tersebut, kami berhenti sejenak di ujung tebing. Sungguh indah suasana saat itu, melihat dataran hijau, rumah-rumah terlihat kecil, sungguh kami berada di ketinggian yang luar biasa. Sambil duduk Aku bertanya kepada Andre sambil berandai-andai "Ndre, kalau kita jatuh siapa yang menolong kita Ndre? Soalnya kita berdua aja yang ada disini Ndre"
Kami sudah jauh dari kerumunan rombongan lain, karena mereka lebih banyak di Tugu Abel dan Puncak Merpati. Tujuan kami selanjutnya adalah Puncak Merpati, namun ketika mata memandang, terlihat hamparan ladang bunga yang sangat Indah. Sambil berlari, kamipun langsung menuju ladang bunga tersebut dan ternyata itu ladang Bunga Edelweis. Seakan tersihir oleh pesona bunga surga itu, Aku bersama Andre tak henti-henti memetik bunga tersebut sampai tas kami penuh. Yang terfikir olehku adalah, "jika membawa banyak, aku bisa membagi-baginya dibawah", terkesan berlebihan. "Ndre, tolonglah kau potokan Aku satu disini, gantian kita Ndre" Andre memoto ku dan kamipun berpoto secara bergantian. "Peng, udalah poto-potonya, nanti habis filmnya!, kita sisakan buat teman-teman dibawah", sesi foto pun selesai.
Sambil asik memetik bunga Edelweis seakan tak ingat waktu, Ada seorang disebelahku berjarak 2 meter yang juga memetik bunga dengan gerakan perlahan, dengan perawakan dingin dan terlihat sedikit menyamping dari arahku, Dia berkata;
"Pak! Turunlah..., kabut sudah mulai turun...."
Sambil berbicara aku bertanya balik kepadanya,
"Dari mana Pak?"
dan Ia langsung menjawab, "Saya dari Gunung Pangilun, Padang Pak!"
Sambil menoleh ke kanan, aku bersorak pada Andre dari kejauhan sekitar 15 meter, "Ndre, kata Bapak ini kabut mau turun, balik kita Ndre?!!!"
sambil menoleh balik ke orang tersebut, ternyata orang tersebut sudah Hilang, dan aku masih melihatnya dari kejauhan lebih kurang 30 meteran dan hampir tertutup Kabut.
Dalam hati "Sungguh luar biasa dan hebat orang tersebut, bisa berjalan secepat itu", namun aku tak terfikir aneh-aneh saat itu. Langsung saja Aku berlari meninggalkan ladang Edelweis dan Andre menyusulku dari belakang.
Bersambung
Diubah oleh alishba 19-09-2016 11:08
dodolgarut134 dan 4 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas