- Beranda
- Stories from the Heart
LA CHANDELIER (HORROR STORY)
...
TS
dianmaya2002
LA CHANDELIER (HORROR STORY)
Cuma mau berbagi cerita buatan ane yang absurd bin ngarang 
butuh saran dan kritiknya...
Cerita yang ini udah rada mendingan lah daripada cerita Biro Detektif Supranatural PSYCH: PIECES #case1 yang kemaren..
Cerita ini genre-nya one shot story, jadi satu chapter selesai. Paling kalo bersambung jadinya maks dua chapter gakan lebih.
Lebih ringan daripada cerita BDS lah
Kayak biasa! Komen + Rate Wajib yakkk

butuh saran dan kritiknya...
Cerita yang ini udah rada mendingan lah daripada cerita Biro Detektif Supranatural PSYCH: PIECES #case1 yang kemaren..
Cerita ini genre-nya one shot story, jadi satu chapter selesai. Paling kalo bersambung jadinya maks dua chapter gakan lebih.
Lebih ringan daripada cerita BDS lah
Kayak biasa! Komen + Rate Wajib yakkk
Quote:
Darren Pradipta remaja berusia 19 tahun yang patah hati karena perceraian kedua orang tuanya. Ia memutuskan untuk pergi ke Paris menjauhi orang - orang yang menatapnya dengan tatapan iba. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia bekerja sebagai seorang pengawas CCTV di sebuah hotel megah berbintang lima bernama La Chandelier.
Pekerjaannya sebagai pengawas CCTV membawanya kedalam tragedi dan sejarah kelam yang pernah terjadi di hotel itu. Akankah Darren sanggup menghadapi kemistisan hotel ini??
-Cerita ini mengandung konten dewasa dengan bahasa kasar, sexual harrasement dan segala hal yang memang harus disingkapi dengan pemikiran yang dewasa-
Spoiler for Prolog:
PROLOG
Sorot matanya menatap tajam hamparan gedung – gedung pencakar langit yang dilengkapi dengan cahaya gemerlapan dari atas sebuah rooftop gedung tertinggi di Metropolis. Sejenak ia menutup kedua matanya mencoba menikmati hembusan angin malam berhawa panas. Tidak ada kesejukan di kota ini kecuali penemuan brilian yang dinamakan Air Conditioning (AC). Sumpek satu kata yang melintas dibenaknya.
Rambutnya telah memanjang, terakhir ia memangkasnya adalah sehari sebelum kelulusan SMA-nya. Masa – masanya sebagai remaja bengal langganan guru BP telah berakhir. Sekarang ia bingung dengan masa depan dihadapannya.
‘Apa yang harus aku lakukan?’
Pertanyaan itu seakan – akan selalu saja menganggunya. Memaksa untuk dijawab seolah – olah tidak akan ada hari esok. Realita seakan mengejarnya seperti seorang polisi mengejar penjahat. Dunia cukup kejam, huh?!
Seharusnya saat ini ia sedang duduk disofa rumahnya sambil meminum segelas susu cokelat hangat ditemani sosok ayah dan ibu. Membagi keluh kesahnya akan masa depan. Masa dimana ia harus berdiri dibawah kakinya sendiri. Masa dimana ia harus mulai menyadari tanggung jawabnya sebagai pria dewasa. Tapi semua itu hanya menjadi impian fana seorang Darren Pradipta yang takkan pernah terwujud. Orang tuanya bercerai dua hari setelah hari kelulusan dan setelah itu mereka sibuk dengan diri mereka sendiri.
Apa kau baik – baik saja?
Orang – orang disekitarnya tak berhenti menanyakan hal itu hingga Darren sampai pada limit dimana dirinya sudah tak mampu lagi menerima pertanyaan simple itu. Ingin sekali ia berteriak dengan kencang tepat didepan wajah orang – orang sok peduli itu.
I’m not fucking okay! I’m broken…
Tentu saja hal itu urung dilakukan. Buat apa ia harus buang energi untuk menceritakan isi hatinya pada orang – orang tak jelas seperti itu. Jadi disinilah ia! Rooftop sebuah gedung pencakar langit. Mencoba menjauh dari semua orang yang menatapnya dengan pandangan kasihan dan menghakiminya sebagai sosok broken home. Tak terlintas sedikit pun dipikirannya untuk menjadi anak emo yang akan menyayat pergelangan tangannya dengan silet tajam untuk mencari perhatian. Atau seorang junkies yang dengan tololnya menjatuhkan diri di kubangan obat – obatan terlarang hingga mati. Atau menggantung dirinya di langit – langit kamar hingga tewas dan akhirnya menjadi headline di koran kriminal.
I’m in pain but I’m not that stupid!
I just wanna be alone FOR A WHILE!
I just wanna be alone FOR A WHILE!
Ditengah – tengah renungannya, Darren dikejutkan dengan suara yang memang sudah familiar ditelinganya.
“Ternyata kau ada disini.”
Suara familiar itu milik sahabatnya Erick Alcander, anak si pemilik gedung pencakar langit. Seulas senyuman tercetak jelas diwajahnya. Darren pun berbalik dan melihatnya berdiri tak jauh di belakangnya.
“Rokok?”
Tanpa aba – aba ia melempar sebungkus rokok menthol kearahnya. Tangan kanannya menangkap sebungkus rokok menthol yang isinya sudah berkurang satu itu. Ia mengambil sesebatang rokok lalu menyelipkannya disela – sela sebelum menyalakannya dengan pemantik berwarna silver berlogo kuda yang selalu dibawanya disaku jeans-nya. Pemantik itu pemberian Donny Geraldine, anak angkat seorang mafia Italia yang juga sahabat baiknya.
“Waktu berlalu sangat cepat.” Ujar Erick setelah menghembuskan gumpalan asap putih dari mulutnya. “Aku masih merasa jika kemarin baru saja di MOS.”
Darren masih saja diam tak menanggapi perkataan Erick yang menurutnya terlalu sentimental. Ia menyibukkan dirinya dengan menghisap rokok putih itu hingga asap memenuhi paru – parunya lalu menghembuskannya dengan ekspresi nikmat tiada tara. Rokok memang membuatnya melupakan kesuraman hidupnya walau untuk sejenak.
“Apa rencanamu setelah ini?”
Ia mengedikkan bahunya karena tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin didunia ini cuma dirinya saja yang tidak punya rencana masa depan.
“Keichiro dan Donny telah memilih pilihan hidup mereka. Sekarang giliranmu Darren.”
Kali ini perkataan Erick benar – benar menohok ulu hatinya. Keichiro, pria keturunan Jepang yang penakut itu telah kembali ke Jepang untuk mengambil alih posisinya sebagai ketua Yakuza dari Klan Yamaguchi. Sedangkan Donny ditugaskan ayahnya, Don Geraldine, dalam misi penaklukan Golden Triangle dimana ia harus membangun kerajaan bisnis narkotiknya di perbatasan Thailand, Filipina dan Myanmar. Ia benar – benar merasa jika dirinya adalah seorang pecundang sejati yang tak punya masa depan.
“Ikutlah denganku ke Paris.”
Darren tersenyum kecut. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia terdiam cukup lama, berusaha untuk fokus mencari jawaban yang pas untuk menanggapi perkataan Erick.
“Dengan satu syarat.” Jawabnya dengan suara bariton yang selalu membuat lawan jenis terpesona. “Aku akan mencari pekerjaan. Tinggal di flat kecil dan menikmati waktuku sendiri. Intinya aku butuh waktu untukku sendiri Erick.”
“Baiklah kalau begitu!”
Dua hari kemudian, Darren berangkat ke Paris bersama Erick dan keluarga besar Alcander. Sementara itu Rafael Pradipta sang ayah mendengar kabar keberangkatan putra sulungnya dari Anthony Alcander, sahabat baik yang juga ayah dari Erick.
***
INDEX
NEW
Komen +Ratting + Cendol
Diubah oleh dianmaya2002 12-11-2016 04:01
aripinastiko612 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
34.5K
Kutip
197
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#137
(12) The Cursed Room : Its not ending #3
Seharusnya sejam yang lalu Renata Whitby sudah pulang ke apartemennya, entah mengapa hari ini ia merasa enggan beranjak dari kantor yang telah ditempatinya selama dua tahun ini. Wanita berusia 29 tahun itu memang dikenal sebagai seorang workaholic akut. Ia lebih bahagia dengan bertumpuk – tumpuk laporan daripada menghabiskan waktunya untuk sekedar bersenang – senang di pub atau blind date dengan seorang pria.
Tiba – tiba seorang pria dengan setelan jas berwarna metalik masuk ke dalam kantornya begitu saja. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa permisi. Sebenarnya amarah Renata Whitby akan meledak. Namun ketika tahu bahwa orang tidak sopan itu adalah si pemilik hotel seketika itu amarahnya sirna begitu saja. Ia langsung bangun dari singgasananya dan menghampiri pria tersebut.
"Bos, kenapa tidak memberitahu saya sebelumnya jika anda mau kemari?"
"Panggil karyawan bernama Darren Pradipta kemari. Cepat aku tidak suka menunggu." Sambil mengibaskan tangannya mengusir Renata dari hadapannya.
Renata Whitby keluar dari ruangan itu dengan tergesa – gesa. Kedatangan bosnya secara tiba – tiba membuatnya cukup terkejut. Ada rasa penasaran yang terlintas dibenaknya karena si bos menyuruhnya memanggil Darren. Mengingat bahwa karyawan bernama Darren Pradipta itu hanya karyawan golongan bawah. Masuk jajaran direksi pun tidak. Mau tak mau ia harus menuruti perintah atasannya.
"Ikut aku. Bos besar ingin bertemu denganmu."
Darren hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, terlalu heran karena kedatangan Miss Whitby yang tiba – tiba apalagi menjemputnya secara langsung seperti ini. Mereka berdua langsung memasuki ruang general manager. Darren sangat terkejut ketika melihat sosok pria yang dipanggil bos besar oleh Miss Whitby. Pria itu menatapnya sambil tersenyum.
"Erick?!" ujarnya keheranan.
"Hey dimana sopan santunmu terhadap pemilik hotel ini?" tegur Miss Whitby.
"Pemilik hotel?! Holy shit!"
Saat Miss Whitby ingin melontarkan teguran lagi kepada Darren karena mengumpat, Erick langsung memotongnya.
"Tenanglah Miss Whitby! Darren bisa kau ceritakan semuanya?"
"Kau pemilik hotel? Lelucon apa lagi ini?"
"Nanti aku jelaskan. Sekarang kita fokus dengan kamar itu. Waktu yang kita punya tidak banyak."
Darren pun menceritakan pertemuan keduanya dengan Aldric Barthelemy satu jam yang lalu. Dimana si hantu politikus itu memberitahukannya tentang The Cursed Room dan soal Florien Fabien yang membahayakan nyawa siapa saja yang menginap di kamar itu.
"Omong kosong apa lagi ini?" ujar Miss Whitby dengan raut wajah tidak percayanya. "Mr. Alcander kau tidak mungkin percaya dengan hal seperti ini kan?"
Ia seakan tidak menggubris keberadaan Renata Whitby sedikit pun. Lalu menyuruh Darren untuk mengumpulkan tiga orang pria untuk membantunya menyegel kembali the cursed room sebelum memakan korban jiwa lebih banyak lagi.
Darren pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar. Tak lama kemudian, ia datang bersama Kisa, Paquito, dan Damian. Erick pun memberitahu alasan kenapa mereka dipanggil kehadapannya. Mereka tidak membantah perintahnya sedikit pun, siapa juga yang mau membantah perintah bos besar pemilik hotel. Walau begitu raut wajah ketakutan dan rasa cemas tersirat jelas di wajah mereka bertiga, apalagi perintah si bos bersangkutan dengan hantu.
Yang paling membuat syok adalah ketika melihat Erick memarahi Renata Whitby. Wanita berusia 29 tahun yang terkenal galak, pemberani, independen dan tegas itu bisa ditaklukan dengan sindiran – sindiran pedas dari pemuda berumur kurang lebih 17 tahun.
"Siapa nama orang yang menempati kamar itu?"
"Nona Marissa Lynch." Jawab Paquito. "Aku sempat bertemu dengannya Mr. Alcander. Tepatnya saat mengantarkan makanan untuknya. Wajahnya sangat pucat dan ia berkali – kali bergumam menyebut nama Florien Fabien."
Saat mendengar nama Marissa Lynch, otaknya dengan cepat mengingatkannya dengan seorang bintang porno yang seksi dan tengah naik daun. Tapi saat itu juga ada bantahan dari dalam dirinya bahwa didunia ini ada banyak orang dengan nama Marissa Lynch. Ia pun menatap Darren seakan meminta penegasan tentang kebenaran yang tiba – tiba muncul diotaknya.
"Marissa Lynch yang itu?" sambil menatap Darren dengan tatapan tidak percaya. Sahabatnya itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Holy Shit!" ujarnya sambil menggebrak meja hingga kelima orang dihadapannya hampir saja loncat karena terkejut. "Miss Whitby, kau tahu kesalahanmu?"
"..."
"Marissa Lynch adalah seorang diva dan kau memberikan pelayanan super biasa padanya? Apa yang ada didalam pikiranmu???"
"..."
"Jika sesuatu sampai terjadi padanya bahkan jika rambutnya sampai rontok walau hanya satu helai saja. Maka kau akan kupecat secara tidak terhormat tanpa pesangon sedikit pun. Dan jangan harap kau dapat melamar pekerjaan di hotel lain karena surat rekomendasimu akan aku buat amat sangat buruk hingga HRD hotel lain menolakmu mentah – mentah! Camkan itu baik – baik Miss Whitby."
Setelah puas mengamuk, Erick menyuruh Kisa, Paquito, Damian dan Darren untuk mengumpulkan barang – barang yang harus dibawa untuk melakukan ritual penyegelan kamar terkutuk itu. Dalam 30 menit mereka kembali ke ruangan Miss Whitby dengan membawa dua buah tas plastik besar berwarna hitam yang berisi garam dan lilin.
"Miss Whitby sekarang tugasmu adalah mengevakuasi semua orang yang ada dilantai 6 kecuali Marissa Lynch. Berikan saja mereka paket sauna, spa atau apapun itu asalkan mereka tidak berada diarea itu selama 3 jam kedepan. Jangan sampai gagal! Karena aku tidak menerima kegagalan."
"Ba... baik Bos."
Miss Whitby sibuk menelepon semua orang yang berada dilantai 6 dan merayu mereka dengan promo – promo hotel yang menggiurkan dan tak dapat ditolak sedikit pun. Setelah memastikan bahwa lantai 6 sepenuhnya kosong, akhirnya mereka kecuali Miss Whitby pergi menuju kamar no.1066 yang dinobatkan sebagai The Cursed Room.
***
Marissa Lynch tengah menatap Florien yang sedang terlelap disebelahnya. Wajahnya sangat tampan dengan hidung mancung dan rahang yang tegas. Memandang wajahnya saja dapat membuat pipi Marissa memerah.
"Puas memandangiku Nona?"
Perlahan – lahan mata Florien terbuka dan menatap Marissa dengan lembut.
"Apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku Marissa. Karena hanya akulah yang mencintaimu lebih dari siapa pun didunia ini."
Marissa hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Akhirnya mereka tiba didepan kamar no.1066. Erick pun membuka kamar itu menggunakan kartu duplikat yang ia bawa. Kondisi kamar itu sangat gelap, Darren pun menekan saklar lampu yang ada disebelahnya hingga lampu menyala. Mereka mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar, mencari keberadaan Marissa Lynch.
"Biar aku cek kedalam kamar mandi." Ujar Erick
"Tidak Erick! Biar aku saja." Cegah Darren
"Baiklah biar adil sebaiknya aku saja yang masuk." Ujar Damian.
"Tidak... biar aku saja." Ujar Kisa
Dan akhirnya mereka pun berebut untuk masuk kedalam kamar mandi. Dalam situasi seperti ini Paquito merasa dirinya paling waras daripada mereka berempat.
"STOOOOOOOPPPPPPPPPP!!!!!!!!!!!!!!!"
Teriakan Paquito membuat keempat pria itu terdiam.
"Mr. Alcander kau adalah atasan kami dimana wibawamu? Harusnya kau memimpin kami. Dan kalian bertiga berhentilah bertingkah layaknya orang mesum!"
Perkataan Paquito benar – benar menampar mereka berempat.
"Baiklah. Paquito sebaiknya kau saja yang masuk jika ada sesuatu teriak saja maka kami akan segera masuk dan menolongmu!" perintah Erick walaupun didalam hatinya ada perasaan tidak rela. Sangat tidak rela.
Seperti biasa Paquito membuat tanda salib berkali – kali hingga akhirnya keberaniannya terkumpul untuk membuka pintu kamar mandi itu. Ia memandang sekeliling kamar mandi tapi tidak menemukan keberadaan Marissa Lynch. Saat hendak keluar untuk memberitahu Erick dan lainnya entah mengapa perasaan Paquito mengatakan agar ia mengecek bath up yang saat itu dipenuhi dengan air dan busa sabun. Perlahan ia berjalan mendekati bath up itu, berjongkok sambil memasukkan tangannya kedalam sana. Betapa terkejutnya ketika menemukan tubuh Marissa Lynch yang telah kaku karena tenggelam didalam bath up.
"Amigos Dios!!! Miss Lynch."
Teriakan Paquito membuat keempat pria diluar sana panik dan berebutan untuk masuk kedalam kamar mandi. Mereka pun langsung membantu Paquito mengangkat Marissa Lynch yang tengah tak sadarkan diri dari dalam bath up. Tubuh Marissa yang polos tanpa sehelai benang pun membuat mereka semua gagal fokus, sampai sebuah suara deheman keras terdengar dari arah pintu.
"Sampai kapan kalian akan memandanginya seperti itu?" ujar seorang pria berpakaian serba hitam yang bersandar pada pintu kamar mandi. "Jika kalian tidak segera memindahkannya dari sana dan melakukan CPR maka gadis itu akan segera menemui ajalnya."
Perkataannya mengembalikan kesadaran mereka yang hilang sesaat. Erick mengambil handuk yang tergantung disana lalu membalut tubuh indah Marissa. Setelah itu membaringkannya diranjang. Dengan berat hati, Erick menyuruh Darren untuk melakukan CPR agar Marissa karena dulu Darren pernah menolong orang yang pernah tenggelam. Tentu saja Darren mengiyakannya dengan raut wajah bahagia.
"Paquito taburkan garam ini disetiap sudut ruangan, ingat jangan ada yang terlewat. Damian kau taburkan garam disetiap sudut koridor termasuk didepan pintu lift. Kisa kau nyalakan semua lilin ini di setiap sudut kamar."
"Sudah lama tidak bertemu denganmu Erick."
"Hai Aldric! Dimana lubang pelurumu?" bisik Erick sambil menatap pelipis Aldric yang mulus tanpa lubang peluru.
"Itu tidak penting." Aldric mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan itu. "Kita harus bergegas jika tidak roh gadis ini akan terjebak selamanya di dunia ciptaan Florien."
Setelah Darren melakukan CPR pada Marissa, gadis itu batuk dan mengeluarkan banyak air dari mulutnya. Namun Marissa belum sadar sepenuhnya.
"Darren kau bertugas untuk menjemput roh Marissa yang terjebak di dunia sana." Ujar Erick padanya.
"Aku?! Tapi bagaimana bisa?"
"Berbaringlah disebelah Marissa. Cepat kita tidak punya banyak waktu!"
Darren pun bergegas berbaring disebelah Marissa yang belum sadarkan diri.
Tiba – tiba angin berhembus dengan kencang, padahal semua jendela dalam keadaan tertutup. AC dalam ruangan itu pun mati. Pintu kamar yang tadinya terbuka kini tertutup dengan suara berdebam yang amat keras. Angin membuat nyala lilin bergoyang.
"Dia datang!"
"Seperti masa lalu Erick bedanya saat itu kau masih sangat kecil."
Ini adalah kali kedua dimana kamar terkutuk ini terbuka. Sembilan tahun yang lalu saat hotel baru dibuka, Erick yang masih berumur 10 tahun berhasil menyegel kamar ini tentunya dengan bantuan Aldric.
"Kita harus melindungi Marissa dan Darren. Apapun yang terjadi dan apa pun yang kalian lihat nanti, aku harap kalian tidak gentar sedikit pun."
"Jika ada sesuatu yang menganggu kalian! Lempar saja dengan garam yang ada dalam genggaman kalian!" tambah Aldric. "Seperti masa lalu kau harus menusuknya tepat di jantungnya sebelum tengah malam jika tidak Marissa dan Darren akan terjebak disana selamanya."
Erick mengambil belati itu dari tangan Aldric lalu menggenggamnya dengan erat. Bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Angin yang tiba – tiba berhembus pun hilang begitu saja. Keadaan berubah menjadi sangat normal tapi mereka tahu bahwa dia telah datang. Berada didalam ruangan itu bersama mereka hanya saja belum menampakkan diri.
"Florien... come out... come out... sampai kapan kau akan bersembunyi?" ujar Aldric dengan nada profokatif.
Terdengar suara geraman yang datang entah dari mana. Suara itu terus bergaung didalam kamar tersebut membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Tak lama suara itu menghilang begitu saja. Erick menguap, ia begitu lelah oleh drama yang dimainkan Florien. Begitu pun Aldric yang berkali – kali melihat kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Selalu saja seperti ini! Sok misterius!"
***
Darren terbangun disebuah sofa beludru berwarna merah, matanya mengelilingi ruangan berinterior abad pertengahan yang didominasi oleh warna merah maroon dan emas. Sesaat ia bingung mengapa dirinya bisa berada ditempat seperti ini tapi suara Erick kembali menggema dalam otaknya.
Cari Marissa!
Ia langsung bergegas menuju pintu, keluar dari ruangan itu. Sudah 15 menit ia mengitari mansion tua itu tapi belum ada tanda – tanda keberadaan Marissa. Entah mengapa matanya seakan tertarik pada sebuah pintu besar berwarna hitam. Perlahan mendekat lalu meraih handle pintu itu dan membukanya. Seorang wanita berambut pirang yang tergerai sepunggung tengah membelakanginya.
"Marissa?"
Gadis itu berbalik dan menatap Darren dengan bingung.
"Kau siapa?"
"Aku Darren! Aku datang untuk menjemputmu." Ujar Darren sambil mengulurkan tangan padanya.
"Aku tidak akan kemana – mana ! Disini tempatku."
***
Spoiler for read:
Seharusnya sejam yang lalu Renata Whitby sudah pulang ke apartemennya, entah mengapa hari ini ia merasa enggan beranjak dari kantor yang telah ditempatinya selama dua tahun ini. Wanita berusia 29 tahun itu memang dikenal sebagai seorang workaholic akut. Ia lebih bahagia dengan bertumpuk – tumpuk laporan daripada menghabiskan waktunya untuk sekedar bersenang – senang di pub atau blind date dengan seorang pria.
Tiba – tiba seorang pria dengan setelan jas berwarna metalik masuk ke dalam kantornya begitu saja. Tanpa mengetuk pintu. Tanpa permisi. Sebenarnya amarah Renata Whitby akan meledak. Namun ketika tahu bahwa orang tidak sopan itu adalah si pemilik hotel seketika itu amarahnya sirna begitu saja. Ia langsung bangun dari singgasananya dan menghampiri pria tersebut.
"Bos, kenapa tidak memberitahu saya sebelumnya jika anda mau kemari?"
"Panggil karyawan bernama Darren Pradipta kemari. Cepat aku tidak suka menunggu." Sambil mengibaskan tangannya mengusir Renata dari hadapannya.
Renata Whitby keluar dari ruangan itu dengan tergesa – gesa. Kedatangan bosnya secara tiba – tiba membuatnya cukup terkejut. Ada rasa penasaran yang terlintas dibenaknya karena si bos menyuruhnya memanggil Darren. Mengingat bahwa karyawan bernama Darren Pradipta itu hanya karyawan golongan bawah. Masuk jajaran direksi pun tidak. Mau tak mau ia harus menuruti perintah atasannya.
"Ikut aku. Bos besar ingin bertemu denganmu."
Darren hanya mengangguk singkat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, terlalu heran karena kedatangan Miss Whitby yang tiba – tiba apalagi menjemputnya secara langsung seperti ini. Mereka berdua langsung memasuki ruang general manager. Darren sangat terkejut ketika melihat sosok pria yang dipanggil bos besar oleh Miss Whitby. Pria itu menatapnya sambil tersenyum.
"Erick?!" ujarnya keheranan.
"Hey dimana sopan santunmu terhadap pemilik hotel ini?" tegur Miss Whitby.
"Pemilik hotel?! Holy shit!"
Saat Miss Whitby ingin melontarkan teguran lagi kepada Darren karena mengumpat, Erick langsung memotongnya.
"Tenanglah Miss Whitby! Darren bisa kau ceritakan semuanya?"
"Kau pemilik hotel? Lelucon apa lagi ini?"
"Nanti aku jelaskan. Sekarang kita fokus dengan kamar itu. Waktu yang kita punya tidak banyak."
Darren pun menceritakan pertemuan keduanya dengan Aldric Barthelemy satu jam yang lalu. Dimana si hantu politikus itu memberitahukannya tentang The Cursed Room dan soal Florien Fabien yang membahayakan nyawa siapa saja yang menginap di kamar itu.
"Omong kosong apa lagi ini?" ujar Miss Whitby dengan raut wajah tidak percayanya. "Mr. Alcander kau tidak mungkin percaya dengan hal seperti ini kan?"
Ia seakan tidak menggubris keberadaan Renata Whitby sedikit pun. Lalu menyuruh Darren untuk mengumpulkan tiga orang pria untuk membantunya menyegel kembali the cursed room sebelum memakan korban jiwa lebih banyak lagi.
Darren pun beranjak dari tempat duduknya dan keluar. Tak lama kemudian, ia datang bersama Kisa, Paquito, dan Damian. Erick pun memberitahu alasan kenapa mereka dipanggil kehadapannya. Mereka tidak membantah perintahnya sedikit pun, siapa juga yang mau membantah perintah bos besar pemilik hotel. Walau begitu raut wajah ketakutan dan rasa cemas tersirat jelas di wajah mereka bertiga, apalagi perintah si bos bersangkutan dengan hantu.
Yang paling membuat syok adalah ketika melihat Erick memarahi Renata Whitby. Wanita berusia 29 tahun yang terkenal galak, pemberani, independen dan tegas itu bisa ditaklukan dengan sindiran – sindiran pedas dari pemuda berumur kurang lebih 17 tahun.
"Siapa nama orang yang menempati kamar itu?"
"Nona Marissa Lynch." Jawab Paquito. "Aku sempat bertemu dengannya Mr. Alcander. Tepatnya saat mengantarkan makanan untuknya. Wajahnya sangat pucat dan ia berkali – kali bergumam menyebut nama Florien Fabien."
Saat mendengar nama Marissa Lynch, otaknya dengan cepat mengingatkannya dengan seorang bintang porno yang seksi dan tengah naik daun. Tapi saat itu juga ada bantahan dari dalam dirinya bahwa didunia ini ada banyak orang dengan nama Marissa Lynch. Ia pun menatap Darren seakan meminta penegasan tentang kebenaran yang tiba – tiba muncul diotaknya.
"Marissa Lynch yang itu?" sambil menatap Darren dengan tatapan tidak percaya. Sahabatnya itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Holy Shit!" ujarnya sambil menggebrak meja hingga kelima orang dihadapannya hampir saja loncat karena terkejut. "Miss Whitby, kau tahu kesalahanmu?"
"..."
"Marissa Lynch adalah seorang diva dan kau memberikan pelayanan super biasa padanya? Apa yang ada didalam pikiranmu???"
"..."
"Jika sesuatu sampai terjadi padanya bahkan jika rambutnya sampai rontok walau hanya satu helai saja. Maka kau akan kupecat secara tidak terhormat tanpa pesangon sedikit pun. Dan jangan harap kau dapat melamar pekerjaan di hotel lain karena surat rekomendasimu akan aku buat amat sangat buruk hingga HRD hotel lain menolakmu mentah – mentah! Camkan itu baik – baik Miss Whitby."
Setelah puas mengamuk, Erick menyuruh Kisa, Paquito, Damian dan Darren untuk mengumpulkan barang – barang yang harus dibawa untuk melakukan ritual penyegelan kamar terkutuk itu. Dalam 30 menit mereka kembali ke ruangan Miss Whitby dengan membawa dua buah tas plastik besar berwarna hitam yang berisi garam dan lilin.
"Miss Whitby sekarang tugasmu adalah mengevakuasi semua orang yang ada dilantai 6 kecuali Marissa Lynch. Berikan saja mereka paket sauna, spa atau apapun itu asalkan mereka tidak berada diarea itu selama 3 jam kedepan. Jangan sampai gagal! Karena aku tidak menerima kegagalan."
"Ba... baik Bos."
Miss Whitby sibuk menelepon semua orang yang berada dilantai 6 dan merayu mereka dengan promo – promo hotel yang menggiurkan dan tak dapat ditolak sedikit pun. Setelah memastikan bahwa lantai 6 sepenuhnya kosong, akhirnya mereka kecuali Miss Whitby pergi menuju kamar no.1066 yang dinobatkan sebagai The Cursed Room.
***
Marissa Lynch tengah menatap Florien yang sedang terlelap disebelahnya. Wajahnya sangat tampan dengan hidung mancung dan rahang yang tegas. Memandang wajahnya saja dapat membuat pipi Marissa memerah.
"Puas memandangiku Nona?"
Perlahan – lahan mata Florien terbuka dan menatap Marissa dengan lembut.
"Apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku Marissa. Karena hanya akulah yang mencintaimu lebih dari siapa pun didunia ini."
Marissa hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Akhirnya mereka tiba didepan kamar no.1066. Erick pun membuka kamar itu menggunakan kartu duplikat yang ia bawa. Kondisi kamar itu sangat gelap, Darren pun menekan saklar lampu yang ada disebelahnya hingga lampu menyala. Mereka mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar, mencari keberadaan Marissa Lynch.
"Biar aku cek kedalam kamar mandi." Ujar Erick
"Tidak Erick! Biar aku saja." Cegah Darren
"Baiklah biar adil sebaiknya aku saja yang masuk." Ujar Damian.
"Tidak... biar aku saja." Ujar Kisa
Dan akhirnya mereka pun berebut untuk masuk kedalam kamar mandi. Dalam situasi seperti ini Paquito merasa dirinya paling waras daripada mereka berempat.
"STOOOOOOOPPPPPPPPPP!!!!!!!!!!!!!!!"
Teriakan Paquito membuat keempat pria itu terdiam.
"Mr. Alcander kau adalah atasan kami dimana wibawamu? Harusnya kau memimpin kami. Dan kalian bertiga berhentilah bertingkah layaknya orang mesum!"
Perkataan Paquito benar – benar menampar mereka berempat.
"Baiklah. Paquito sebaiknya kau saja yang masuk jika ada sesuatu teriak saja maka kami akan segera masuk dan menolongmu!" perintah Erick walaupun didalam hatinya ada perasaan tidak rela. Sangat tidak rela.
Seperti biasa Paquito membuat tanda salib berkali – kali hingga akhirnya keberaniannya terkumpul untuk membuka pintu kamar mandi itu. Ia memandang sekeliling kamar mandi tapi tidak menemukan keberadaan Marissa Lynch. Saat hendak keluar untuk memberitahu Erick dan lainnya entah mengapa perasaan Paquito mengatakan agar ia mengecek bath up yang saat itu dipenuhi dengan air dan busa sabun. Perlahan ia berjalan mendekati bath up itu, berjongkok sambil memasukkan tangannya kedalam sana. Betapa terkejutnya ketika menemukan tubuh Marissa Lynch yang telah kaku karena tenggelam didalam bath up.
"Amigos Dios!!! Miss Lynch."
Teriakan Paquito membuat keempat pria diluar sana panik dan berebutan untuk masuk kedalam kamar mandi. Mereka pun langsung membantu Paquito mengangkat Marissa Lynch yang tengah tak sadarkan diri dari dalam bath up. Tubuh Marissa yang polos tanpa sehelai benang pun membuat mereka semua gagal fokus, sampai sebuah suara deheman keras terdengar dari arah pintu.
"Sampai kapan kalian akan memandanginya seperti itu?" ujar seorang pria berpakaian serba hitam yang bersandar pada pintu kamar mandi. "Jika kalian tidak segera memindahkannya dari sana dan melakukan CPR maka gadis itu akan segera menemui ajalnya."
Perkataannya mengembalikan kesadaran mereka yang hilang sesaat. Erick mengambil handuk yang tergantung disana lalu membalut tubuh indah Marissa. Setelah itu membaringkannya diranjang. Dengan berat hati, Erick menyuruh Darren untuk melakukan CPR agar Marissa karena dulu Darren pernah menolong orang yang pernah tenggelam. Tentu saja Darren mengiyakannya dengan raut wajah bahagia.
"Paquito taburkan garam ini disetiap sudut ruangan, ingat jangan ada yang terlewat. Damian kau taburkan garam disetiap sudut koridor termasuk didepan pintu lift. Kisa kau nyalakan semua lilin ini di setiap sudut kamar."
"Sudah lama tidak bertemu denganmu Erick."
"Hai Aldric! Dimana lubang pelurumu?" bisik Erick sambil menatap pelipis Aldric yang mulus tanpa lubang peluru.
"Itu tidak penting." Aldric mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan itu. "Kita harus bergegas jika tidak roh gadis ini akan terjebak selamanya di dunia ciptaan Florien."
Setelah Darren melakukan CPR pada Marissa, gadis itu batuk dan mengeluarkan banyak air dari mulutnya. Namun Marissa belum sadar sepenuhnya.
"Darren kau bertugas untuk menjemput roh Marissa yang terjebak di dunia sana." Ujar Erick padanya.
"Aku?! Tapi bagaimana bisa?"
"Berbaringlah disebelah Marissa. Cepat kita tidak punya banyak waktu!"
Darren pun bergegas berbaring disebelah Marissa yang belum sadarkan diri.
Pejamkan matamu Darren.
Konsentrasilah.
Ikuti suaraku.
Kau akan tertidur.
Rasakan kegelapan
Yang menelanmu
Semakin lama
Semakin dalam.
Sekarang.
Bukalah matamu Darren.
Lihat sekelilingmu.
Cari Marissa.
Bawa ia kembali."
Konsentrasilah.
Ikuti suaraku.
Kau akan tertidur.
Rasakan kegelapan
Yang menelanmu
Semakin lama
Semakin dalam.
Sekarang.
Bukalah matamu Darren.
Lihat sekelilingmu.
Cari Marissa.
Bawa ia kembali."
Tiba – tiba angin berhembus dengan kencang, padahal semua jendela dalam keadaan tertutup. AC dalam ruangan itu pun mati. Pintu kamar yang tadinya terbuka kini tertutup dengan suara berdebam yang amat keras. Angin membuat nyala lilin bergoyang.
"Dia datang!"
"Seperti masa lalu Erick bedanya saat itu kau masih sangat kecil."
Ini adalah kali kedua dimana kamar terkutuk ini terbuka. Sembilan tahun yang lalu saat hotel baru dibuka, Erick yang masih berumur 10 tahun berhasil menyegel kamar ini tentunya dengan bantuan Aldric.
"Kita harus melindungi Marissa dan Darren. Apapun yang terjadi dan apa pun yang kalian lihat nanti, aku harap kalian tidak gentar sedikit pun."
"Jika ada sesuatu yang menganggu kalian! Lempar saja dengan garam yang ada dalam genggaman kalian!" tambah Aldric. "Seperti masa lalu kau harus menusuknya tepat di jantungnya sebelum tengah malam jika tidak Marissa dan Darren akan terjebak disana selamanya."
Erick mengambil belati itu dari tangan Aldric lalu menggenggamnya dengan erat. Bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Angin yang tiba – tiba berhembus pun hilang begitu saja. Keadaan berubah menjadi sangat normal tapi mereka tahu bahwa dia telah datang. Berada didalam ruangan itu bersama mereka hanya saja belum menampakkan diri.
"Florien... come out... come out... sampai kapan kau akan bersembunyi?" ujar Aldric dengan nada profokatif.
Terdengar suara geraman yang datang entah dari mana. Suara itu terus bergaung didalam kamar tersebut membuat semua orang yang mendengarnya bergidik ngeri. Tak lama suara itu menghilang begitu saja. Erick menguap, ia begitu lelah oleh drama yang dimainkan Florien. Begitu pun Aldric yang berkali – kali melihat kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Selalu saja seperti ini! Sok misterius!"
***
Darren terbangun disebuah sofa beludru berwarna merah, matanya mengelilingi ruangan berinterior abad pertengahan yang didominasi oleh warna merah maroon dan emas. Sesaat ia bingung mengapa dirinya bisa berada ditempat seperti ini tapi suara Erick kembali menggema dalam otaknya.
Cari Marissa!
Ia langsung bergegas menuju pintu, keluar dari ruangan itu. Sudah 15 menit ia mengitari mansion tua itu tapi belum ada tanda – tanda keberadaan Marissa. Entah mengapa matanya seakan tertarik pada sebuah pintu besar berwarna hitam. Perlahan mendekat lalu meraih handle pintu itu dan membukanya. Seorang wanita berambut pirang yang tergerai sepunggung tengah membelakanginya.
"Marissa?"
Gadis itu berbalik dan menatap Darren dengan bingung.
"Kau siapa?"
"Aku Darren! Aku datang untuk menjemputmu." Ujar Darren sambil mengulurkan tangan padanya.
"Aku tidak akan kemana – mana ! Disini tempatku."
***
1
Kutip
Balas