- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#155
Part 4
“Kalian ini siapa?” tanya Purwasih heran pada Lelaki Berbulu Hitam yang menggeram-geram menghampiri Pendekar Dungu.
“Biar... biar! Jangan dipisahkan! Dikiranya aku takut pada manusia jelek ini!”
Bukannya menyahuti, Pendekar Dungu malah berseru lantang pada Purwasih. Begitu lantangnya ucapan itu ditujukan pada Lelaki Berbulu Hitam yang siap mengamuk. Lalu, dia malah berbalik lalu lari sebisa-bisanya. Lelaki Berbulu Hitam mengejar di belakang. Makian simpang-siurnya terdengar sampai mereka menghilang di kejauhan. Tinggal Purwasih yang hanya bisa menggeleng-geleng.
“Makin banyak saja manusia edan di dunia ini,” gumam gadis itu, lalu melanjutkan larinya yang tersendat.
Jarak yang sudah tidak begitu jauh, membuat Purwasih dengan singkat tiba di danau pinggiran Rimba Slaksa Mambang. Segera pandangannya beredar ke seluruh tepian danau. Sampai akhirnya, gadis itu menemukan Andika sedang tergolek lemah di salah satu sudut. Purwasih segera menjemputnya. Setelah diangkat, tubuh pemuda itu dibopong di bahu. Baru saja Purwasih hendak pergi, mendadak dua lelaki aneh yang menghadangnya tadi, muncul lagi.
“Naaa, itu dia!” seru Pendekar Dungu.
“Daya penciummu jempolan, Hitam!”
“Jangan menepuk-nepukku seperti itu!” bentak Lelaki Berbulu Hitam ketika Pendekar Dungu menepuk-nepuk punggungnya keras.
Dalam ruang sebuah pura tua di sebelah timur kaki Gunung Sumbing, lima orang tampak mematung bisu. Yang seorang tergeletak pucat di dekat api unggun. Dialah Andika. Telah tiga hari tiga malam, pemuda itu tak sadarkan diri. Di sisinya, Purwasih duduk menekuk lutut di lantai. Di salah satu sudut ruang. Pendekar Dungu duduk melengkung. Kepalanya terjatuh sesekali, akibat serangan kantuk. Tak jarang mengalir lendir dari mulutnya yang menganga seenaknya. Sedangkan Lelaki Berbulu Hitam berdiri melipat tangan di depan dada, tepat di dekat pintu masuk. Satu orang lagi, adalah Raja Penyamar.
Di antara mereka, tak seorang pun yang tahu tentang kehadiran Raja Penyamar. Memang, kehadirannya hanya berupa jasad halus. Sedikit pun tak ada niat untuk menampakkan diri pada mereka.
“Apakah kau tak ingin istirahat dulu, Anak Gadis?” kata Lelaki Berbulu Hitam, memecah kesunyian.
“Kau sudah begitu letih mengurusnya tiga hari tiga malam....”
Dengan wajah letih karena kurang tidur, Purwasih menggeleng lamat.
“Bagaimana aku bisa memejamkan mata kalau orang yang kucintai terbaring dalam keadaan menyedihkan? Denyut jantungnya begitu lemah. Dan wajahnya sudah begitu pucat,” tolak Purwasih, lirih.
Ditariknya napas untuk mengenyahkan beban yang menggelantungi dada.
“Aku tak mengerti, kenapa dia tetap saja tak mau sadar. Padahal aku telah cukup menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya.”
Lelaki Berbulu Hitam yang hari itu memperlihatkan sifat halus terpendamnya, tampak mengangguk-angguk dengan wajah datar.
“Jangan kau pikir aku tak turut membantu, Anak Gadis. Diam-diam, aku juga mengirim hawa murni dari jarak jauh ke tubuh anak muda itu. Tapi, tampaknya sia-sia...,” kata Lelaki Berbulu Hitam seperti mengeluh.
“Bagaimana dengan kawanmu itu?” tanya Purwasih, seraya melempar pandangan ke arah Pendekar Dungu.
Melihat si Tua Bangkotan di sudut ruangan, wajah Lelaki Berbulu Hitam jadi berubah. Ada garis
kemangkelan terlihat di sudut bibirnya.
“Bagaimana kalau kita menggabungkan hawa murni kita untuk menolongnya?” usul Purwasih.
“Mungkin dengan begitu, dia akan tersadar.”
“Sementara memang begitu,” jawab Lelaki Berbulu Hitam menyetujui. Segera dihampirinya Pendekar Dungu.
“Hey! Bangun, Dungu!”
Merasa tak berguna hanya dengan mulut, Lelaki Berbulu Hitam menendang kaki Pendekar Dungu.
Plak!
“Hiaaat!”
Kontan saja si Tua Bangka bergigi ompong ini mencak-mencak. Untung saja tangannya tak tersasar ke wajah Lelaki Berbulu Hitam. Kalau tidak, bisa terjadi kiamat dalam ruangan itu.
“Ada apa?” tanya Pendekar Dungu, akhirnya.
Purwasih dengan singkat menjelaskan maksudnya. Setelah Pendekar Dungu setuju, meski harus menunggu lama agar mengerti, barulah ketiganya bersiap-siap. Mereka kemudian duduk berkeliling di sekitar tubuh Andika. Tangan mereka menyatu sama lain. Sedangkan sebelah tangan Purwasih, menempel di dada pemuda yang tak sadarkan diri ini.
Dalam pemusatan rasa dan pikiran, mereka mulai menyalurkan hawa murni masing-masing. Dan tanpa diketahuinya, Raja Penyamar ikut andil menyalurkan kekuatan halusnya, melalui diri Purwasih. Waktu berlalu. Cukup lama mereka melakukan usaha itu. Tapi sedikit pun tak ada perubahan pada diri Andika. Sampai akhirnya, mereka berhenti karena kehabisan tenaga.
“Aneh! Kenapa seluruh hawa murniku seperti disedot begitu saja. Tenagaku seperti terkuras...,” desah Lelaki Berbulu Hitam, terheran-heran.
“Ya! Aku pun baru menyadari, setelah kita menggabungkan hawa murni,” timpal Purwasih.
“Aneh...,” tambah Lelaki Berbulu Hitam.
“Aneh memang.... Memang aneh,” Pendekar Dungu ikut-ikutan.
Sementara, seseorang tanpa wujud langsung menyadari apa sesungguhnya yang terjadi dalam diri anak muda ksatria itu. Raja Penyamar yakin, ada semacam medan pusaran jahat dari alam lain yang menumpangi garba Andika. Meski sampai saat itu tak juga diketahui penyebabnya. Medan pusaran jahat itu sengaja dirasuki seseorang ke dalam diri Andika. Tujuannya untuk menyedot habis tenaga orang-orang yang hendak menolongnya, dengan menyalurkan hawa murni.
Mulanya si Korban tak akan merasakan tenaganya tersedot. Mereka baru akan tahu, setelah tak bisa lagi mengerahkan tenaga dalam selama beberapa waktu. Karena kekuatan mereka sudah terkuras. Yang tersisa hanya rasa lemas jika mencoba mengerahkan tenaga dalam.
“Hanya ada satu orang yang sengaja melakukan ini dengan maksud tertentu,” bisik Raja Penyamar.
“Hakim Tanpa Wajah! Dia tentu dibantu Manusia Dari Pusat Bumi. Tujuannya tentu hendak melumpuhkan si Dungu dan si Hitam, yang masih tetap sulit ditaklukkan. Tentu selama ini, gagak yang menjadi ‘saksi mata’nya telah mengabarkan bahwa si Dungu dan si Hitam membutuhkan pertolongan Andika....”
Saat itulah indera halus Raja Penyamar merasakan sesuatu yang tak diharapkan bakal terjadi. Tapi, peringatan inderanya itu sudah terlambat. Karena....
“Pengadilan menanti!”
Sebuah teriakan yang begitu dikenal, melantak kesunyian ruangan dari arah luar.
“Dungu dan Hitam keparat! Kalian tak akan bisa menghindar lagi dari pengadilanku! He... hek...
hek... heee!”
“Siapa mereka?” tanya Purwasih.
Selama tiga hari mengenal Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam, Purwasih memang hanya mendengar penjelasan tentang alasan mereka mencari-cari Andika, lalu sudi pula menolongnya. Sedangkan tentang asal-usul dua tokoh aneh ini, serta urusan lama dengan Hakim Tanpa Wajah tak pernah diceritakan.
“Manusia tak waras yang sok benar sendiri!” jawab Lelaki Berbulu Hitam.
“Aku tak mengerti?” lanjut Purwasih.
“Nanti pun kau akan tahu,” putus Lelaki Berbulu Hitam.
Selanjutnya, laki-laki berbulu lebat itu keluar dengan langkah terbanting-banting keras. Pendekar Dungu mengikuti di belakangnya. Juga Purwasih. Di luar, Lelaki Berbulu Hitam berdiri menantang kedatangan dua seterunya di kejauhan. Sepasang tangannya bertolak pinggang. Wajahnya cepat memerah dipompa kemarahan. Dengan latah, Pendekar Dungu berdiri di samping-nya dan ikut bertolak pinggang. Punggungnya yang sudah melengkung dipaksa-paksakan untuk tegak. Mungkin pikirnya, dengan begitu dia tampak membusungkan dada. Padahal, malah terlihat seperti sedang menderita encok.
“Penasaran kau, ya?!” cemooh Lelaki Berbulu Hitam sarat tekanan.
“Kujamin! Sekali ini, kau tak akan lolos lagi. Ingat itu, tak akan!” tandas Hakim Tanpa Wajah, berkawal seringai.
“Orang tua! Siapa sesungguhnya kau ini? Kenapa berkata begitu tak sopan dan lancang?” selak Purwasih. Muak juga gadis itu melihat lagak Hakim Tanpa Wajah.
“Heee... he... he... heee! Ada gadis cantik yang minta diadili!” leceh Hakim Tanpa Wajah.
“Tunggu dulu! Dari tadi kau bicara soal pengadilan. Apa kau orang yang belakangan ini membuat kegemparan, dengan julukan Hakim Tanpa Wajah?” tanya Purwasih tanpa terbetik rasa takut.
“Ya! Kau gadis pintar!”
“Ooo.... Jadi, ini orangnya yang membuat takut banyak tokoh persilatan belakangan ini?!” sinis Purwasih kian berani.
“Sudahlah, Anak Gadis! Hanya buang-buang waktu berbicara dengan manusia sial ini!” sergah Lelaki Berbulu Hitam, naik pitam.
“Ya... ya. Hanya manusia sial yang buang-buang waktu,” timpal Pendekar Dungu ngawur.
Lelaki Berbulu Hitam maju beberapa tindak. Dari cara berjalannya, tampak kalau dia sudah begitu bernafsu membalas kekalahannya waktu itu.
“Ayo! Maju kau!” tantang Lelaki Berbulu Hitam.
Manusia Dari Pusat Bumi baru hendak melayani tantangannya. Tapi, sang Guru mengeluarkan tangan dari balik kafan untuk menahan pemuda setengah siluman itu.
“Aku ingin sedikit mengenang peristiwa delapan puluh tahun lalu,” kata Hakim Tanpa Wajah.
Selesai berkata, laki-laki berkain kafan itu meloncat-loncat ke depan. Empat depa di depan Lelaki Berbulu Hitam, baru dia berhenti.
“Kita hendak mulai dari jurus kacangan atau jurus habis-habisan?” tawar Hakim Tanpa Wajah pongah.
“Aaargh!”
Lelaki Berbulu Hitam tak mau banyak cing-cong. Diterkamnya Hakim Tanpa Wajah dengan jari menegang seperti batangan baja. Hakim Tanpa Wajah amat kenal, bagaimana tingkat kecepatan lawannya. Pada masa jayanya delapan puluh tahun yang silam, Lelaki Berbulu Hitam berada di papan atas dalam ilmu-ilmu kecepatan.
Tahu akan hal itu, mestinya Hakim Tanpa Wajah cepat menghindar dari cakar Lelaki Berbulu Hitam yang sanggup merobek lehernya dalam sekali tebas. Tapi hal itu tak juga dilakukan. Sampai....
Srat!
Leher kurus Hakim Tanpa Wajah benar-benar dimangsa cakar lelaki tinggi besar itu. Benarkah laki-laki tua berkain kafan itu akan kehilangan kepala?
Sama sekali tidak! Sebab, Hakim Tanpa Wajah amat tahu kalau lawannya kini sudah tak memiliki tenaga dalam yang bisa diandalkan untuk melakukan itu.
“He... he... he! Kenapa berhenti?” ledek Hakim Tanpa Wajah.
Tampak Lelaki Berbulu Hitam terpana-pana memandangi jari-jari berkuku tajam miliknya yang tak seampuh sebelumnya.
“Astaga, Hitam! Kenapa kau tak sungguh-sungguh ‘menggaruk’ leher manusia sial itu?!” seru Pendekar Dungu, masih belum menangkap apa yang terjadi.
“Aku bukan main-main, bodoh! Sudah kukerahkan seluruh tenaga dalamku untuk merobek lehernya. Tapi, tenagaku tidak ada lagi!” teriak kalap Lelaki Berbulu Hitam.
“Tak ada? Memang kau pinjamkan pada siapa?!” tanya si Dungu kembali. Amat lugu..., dan tentu menyebalkan!
Jasad halus Raja Penyamar menelusuri sebuah lorong asing yang panjang bagai tak bertepi. Dalam lorong berpusaran kabut itu, tubuhnya melayang terus menuju ujungnya. Sesekali ada semacam terpaan angin kuat menahan. Dengan susah payah, ditembusnya dinding angin itu. Tak jarang pula ada kilatan-kilatan cahaya menyambarnya demikian liar. Raja Penyamar tetap tak peduli.
Seberkas kilatan cahaya tiba-tiba menerjang Raja Penyamar. Tubuhnya langsung terlempar ke sisi lorong, dan langsung disambut pusaran kabut. Tanpa bisa menguasai keseimbangan, tubuhnya terombang-ambing di sisi lorong. Lalu kekuatan pusaran itu hendak melemparnya keluar dari lorong. Karena Raja Penyamar begitu bertekad untuk berhasil tiba di ujung lorong, kekuatan meng-hempasnya tadi dilawannya. Dia berteriak sekuat-kuatnya, berjuang melawan pusaran yang hendak menggagalkan usahanya. Ketika lengkingannya kian meninggi dan meninggi, keseimbangan tubuhnya pun dapat dikuasai. Dia terus melayang kembali dalam lorong menuju ujungnya, setelah lepas dari cengkeraman pusaran tadi.
Akhirnya tiba pula Raja Penyamar di ujung lorong. Di sana terbentang ruang tanpa batas. Dalam ruang itu, menggema suara panggilan-panggilan Andika.
“Raja Penyamar! Raja Penyamar”
“Andika! Di mana kau?!” tanya Raja Penyamar, bingung.
“Aku di sini!”
Raja Penyamar mengikuti arah suara Andika. Dengan tuntunan gaung suara itu, Andika bisa ditemukan pada satu bagian ruang tanpa batas. Sosok pemuda itu sedang terkurung dalam sebuah sangkar yang selalu berubah bentuk, namun memiliki warna tetap. Yakni, warna merah bara neraka. Di dalam sangkar, Raja Penyamar melihat Andika meronta-ronta mengerahkan seluruh tenaga. Setiap kali tubuhnya bersentuhan dengan jeruji sangkar, terperciklah bunga-bunga api panas luar biasa. Sehingga membuat tenggorokan Andika tercekat hendak melepas lolongan.
“Bagaimana aku harus keluar dari sini?!” tanya Andika kacau.
“Kerahkan seluruh kehendak sucimu!” perintah Raja Penyamar, di sisi sangkar yang melayang dalam ruang tanpa batas.
“Sudah kucoba. Tapi, tak berhasil!”
“Coba lagi, dan terus coba!”
“Aku tak bisa!”
“Kau harus bisa, Andika!”
“Aku tak kuat’ lagi! Sangkar ini terlalu kokoh. Dan pijarnya begitu menyiksa untuk dilawan!”
“Tidak, Andika! Kau akan kuat untuk menentang-nya! Ayo, kerahkan lagi kehendak sucimu! Jangan menyerah! Ingat! Kau adalah pribadi yang tak ingin dikalahkan keangkaramurkaan!”
“Aku letih!”
“Jangan pernah letih! Kau belum tiba pada batas hidup! Ayo, berusahalah! Jeruji merah bara itu tak sekuat kehendak sucimu, Andika! Tataplah ruang tanpa batas ini! Mestinya, kehendak sucimu menempati rongga ruang ini! Karena, itu yang sesungguhnya disediakan sang Penguasa Alam untukmu! Ayo! Kau sanggup melawan sangkar laknat itu, Andika! Ayo!” seru Raja Penyamar tanpa kenal menyerah.
“Aku....”
“Jangan pernah berkata-kata lagi! Hanya dirimu yang mampu menolong! Hanya dirimu!” sambung Raja Penyamar, makin mendesak.
Beberapa lama tubuh Andika bergetar dalam kungkungan sangkar. Seluruh bagian tubuhnya mengejang. Mimik wajahnya sangat menggambarkan suatu perjuangan hidup dan mati. Sedangkan sepuluh jari tangannya mengeras di depan dada. Andika terus berjuang... berjuang....
Pada satu batas perjuangannya, jeruji sangkar merah bara terlihat meredup dan menguat. Seolah, sedang bertahan dari perlawanan kekuatan kehendak suci Andika. Dan pada saatnya....
“Aaa!”
Andika mendadak tersadar dari pingsannya yang berhari-hari. Kelopak matanya membuka tersentak. Sinar matanya nanar, mencari-cari liar. Ketika cahaya matahari ditemukannya, barulah otot-ototnya yang menegang demikian rupa dilemaskan. Dadanya mulai menarik udara ke paru-paru. Lega.
“Andika...,” panggil sebuah suara dari sisi.
Andika menoleh. Dilihatnya Purwasih duduk di dekatnya dengan wajah letih dan mata basah.
“Sukurlah, kau sudah sadar Andika. Aku begitu khawatir melihat keadaanmu,” kata Purwasih lirih seraya menghambur ke dada bidang Andika. Dara jelita itu terisak di sana.
“Apa yang terjadi, Purwasih? Di mana aku?” tanya Andika lemah.
Purwasih menegakkan tubuhnya.
“Kau berada ditempat yang aman Andika,” jawab gadis itu.
“Apa yang terjadi denganku?” ulang Andika.
Pendekar Slebor mencoba bangkit. Dan Purwasih pun membantunya, menegakkan punggung dan duduk di sisi pemuda itu. Lalu, gadis itu pun menceritakan kejadian yang menimpa Andika sepanjang pengetahuannya. Termasuk, tentang dua lelaki aneh yang kemudian dikenalnya sebagai Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Juga tentang kedatangan dua lelaki asing lain yang dikenalnya sebagai Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi dari desas-desus santer belakangan ini.
“Sewaktu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi bertempur dengan dua lelaki aneh yang membantuku malam itu, tiba-tiba saja ada bisikan di telingaku untuk membawamu secepatnya keluar dari tempat itu. Aku tak tahu, siapa yang berbisik. Seolah, suara itu langsung terdengar meski tak melalui telingaku. Tanpa banyak pikir, aku segera menurutinya dan sampailah di tempat ini,” papar Purwasih menyelesaikan ceritanya.
Mata gadis itu langsung merayapi tempat ini. Sebuah ruang gubuk yang tak begitu terawat baik. Terletak di sebuah dataran lembah.
“Mana Raja Penyamar?” tanya Andika.
“Raja Penyamar?” Purwasih tak paham maksud Andika.
“Ah! Aku lupa, kau belum mengenal dia,” gumam Andika.
“Apa yang kau katakan, Andika?”
“Tidak,” hindar Andika cepat. Dia mencoba bangkit, tapi segera ditahan Purwasih.
“Mau ke mana, kau?” tanya gadis itu.
“Aku harus mencari seseorang. Semua kejadian yang menimpaku harus dijelaskannya,” kata Pendekar Slebor.
“Kalian ini siapa?” tanya Purwasih heran pada Lelaki Berbulu Hitam yang menggeram-geram menghampiri Pendekar Dungu.
“Biar... biar! Jangan dipisahkan! Dikiranya aku takut pada manusia jelek ini!”
Bukannya menyahuti, Pendekar Dungu malah berseru lantang pada Purwasih. Begitu lantangnya ucapan itu ditujukan pada Lelaki Berbulu Hitam yang siap mengamuk. Lalu, dia malah berbalik lalu lari sebisa-bisanya. Lelaki Berbulu Hitam mengejar di belakang. Makian simpang-siurnya terdengar sampai mereka menghilang di kejauhan. Tinggal Purwasih yang hanya bisa menggeleng-geleng.
“Makin banyak saja manusia edan di dunia ini,” gumam gadis itu, lalu melanjutkan larinya yang tersendat.
Jarak yang sudah tidak begitu jauh, membuat Purwasih dengan singkat tiba di danau pinggiran Rimba Slaksa Mambang. Segera pandangannya beredar ke seluruh tepian danau. Sampai akhirnya, gadis itu menemukan Andika sedang tergolek lemah di salah satu sudut. Purwasih segera menjemputnya. Setelah diangkat, tubuh pemuda itu dibopong di bahu. Baru saja Purwasih hendak pergi, mendadak dua lelaki aneh yang menghadangnya tadi, muncul lagi.
“Naaa, itu dia!” seru Pendekar Dungu.
“Daya penciummu jempolan, Hitam!”
“Jangan menepuk-nepukku seperti itu!” bentak Lelaki Berbulu Hitam ketika Pendekar Dungu menepuk-nepuk punggungnya keras.
***
Dalam ruang sebuah pura tua di sebelah timur kaki Gunung Sumbing, lima orang tampak mematung bisu. Yang seorang tergeletak pucat di dekat api unggun. Dialah Andika. Telah tiga hari tiga malam, pemuda itu tak sadarkan diri. Di sisinya, Purwasih duduk menekuk lutut di lantai. Di salah satu sudut ruang. Pendekar Dungu duduk melengkung. Kepalanya terjatuh sesekali, akibat serangan kantuk. Tak jarang mengalir lendir dari mulutnya yang menganga seenaknya. Sedangkan Lelaki Berbulu Hitam berdiri melipat tangan di depan dada, tepat di dekat pintu masuk. Satu orang lagi, adalah Raja Penyamar.
Di antara mereka, tak seorang pun yang tahu tentang kehadiran Raja Penyamar. Memang, kehadirannya hanya berupa jasad halus. Sedikit pun tak ada niat untuk menampakkan diri pada mereka.
“Apakah kau tak ingin istirahat dulu, Anak Gadis?” kata Lelaki Berbulu Hitam, memecah kesunyian.
“Kau sudah begitu letih mengurusnya tiga hari tiga malam....”
Dengan wajah letih karena kurang tidur, Purwasih menggeleng lamat.
“Bagaimana aku bisa memejamkan mata kalau orang yang kucintai terbaring dalam keadaan menyedihkan? Denyut jantungnya begitu lemah. Dan wajahnya sudah begitu pucat,” tolak Purwasih, lirih.
Ditariknya napas untuk mengenyahkan beban yang menggelantungi dada.
“Aku tak mengerti, kenapa dia tetap saja tak mau sadar. Padahal aku telah cukup menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya.”
Lelaki Berbulu Hitam yang hari itu memperlihatkan sifat halus terpendamnya, tampak mengangguk-angguk dengan wajah datar.
“Jangan kau pikir aku tak turut membantu, Anak Gadis. Diam-diam, aku juga mengirim hawa murni dari jarak jauh ke tubuh anak muda itu. Tapi, tampaknya sia-sia...,” kata Lelaki Berbulu Hitam seperti mengeluh.
“Bagaimana dengan kawanmu itu?” tanya Purwasih, seraya melempar pandangan ke arah Pendekar Dungu.
Melihat si Tua Bangkotan di sudut ruangan, wajah Lelaki Berbulu Hitam jadi berubah. Ada garis
kemangkelan terlihat di sudut bibirnya.
“Bagaimana kalau kita menggabungkan hawa murni kita untuk menolongnya?” usul Purwasih.
“Mungkin dengan begitu, dia akan tersadar.”
“Sementara memang begitu,” jawab Lelaki Berbulu Hitam menyetujui. Segera dihampirinya Pendekar Dungu.
“Hey! Bangun, Dungu!”
Merasa tak berguna hanya dengan mulut, Lelaki Berbulu Hitam menendang kaki Pendekar Dungu.
Plak!
“Hiaaat!”
Kontan saja si Tua Bangka bergigi ompong ini mencak-mencak. Untung saja tangannya tak tersasar ke wajah Lelaki Berbulu Hitam. Kalau tidak, bisa terjadi kiamat dalam ruangan itu.
“Ada apa?” tanya Pendekar Dungu, akhirnya.
Purwasih dengan singkat menjelaskan maksudnya. Setelah Pendekar Dungu setuju, meski harus menunggu lama agar mengerti, barulah ketiganya bersiap-siap. Mereka kemudian duduk berkeliling di sekitar tubuh Andika. Tangan mereka menyatu sama lain. Sedangkan sebelah tangan Purwasih, menempel di dada pemuda yang tak sadarkan diri ini.
Dalam pemusatan rasa dan pikiran, mereka mulai menyalurkan hawa murni masing-masing. Dan tanpa diketahuinya, Raja Penyamar ikut andil menyalurkan kekuatan halusnya, melalui diri Purwasih. Waktu berlalu. Cukup lama mereka melakukan usaha itu. Tapi sedikit pun tak ada perubahan pada diri Andika. Sampai akhirnya, mereka berhenti karena kehabisan tenaga.
“Aneh! Kenapa seluruh hawa murniku seperti disedot begitu saja. Tenagaku seperti terkuras...,” desah Lelaki Berbulu Hitam, terheran-heran.
“Ya! Aku pun baru menyadari, setelah kita menggabungkan hawa murni,” timpal Purwasih.
“Aneh...,” tambah Lelaki Berbulu Hitam.
“Aneh memang.... Memang aneh,” Pendekar Dungu ikut-ikutan.
Sementara, seseorang tanpa wujud langsung menyadari apa sesungguhnya yang terjadi dalam diri anak muda ksatria itu. Raja Penyamar yakin, ada semacam medan pusaran jahat dari alam lain yang menumpangi garba Andika. Meski sampai saat itu tak juga diketahui penyebabnya. Medan pusaran jahat itu sengaja dirasuki seseorang ke dalam diri Andika. Tujuannya untuk menyedot habis tenaga orang-orang yang hendak menolongnya, dengan menyalurkan hawa murni.
Mulanya si Korban tak akan merasakan tenaganya tersedot. Mereka baru akan tahu, setelah tak bisa lagi mengerahkan tenaga dalam selama beberapa waktu. Karena kekuatan mereka sudah terkuras. Yang tersisa hanya rasa lemas jika mencoba mengerahkan tenaga dalam.
“Hanya ada satu orang yang sengaja melakukan ini dengan maksud tertentu,” bisik Raja Penyamar.
“Hakim Tanpa Wajah! Dia tentu dibantu Manusia Dari Pusat Bumi. Tujuannya tentu hendak melumpuhkan si Dungu dan si Hitam, yang masih tetap sulit ditaklukkan. Tentu selama ini, gagak yang menjadi ‘saksi mata’nya telah mengabarkan bahwa si Dungu dan si Hitam membutuhkan pertolongan Andika....”
Saat itulah indera halus Raja Penyamar merasakan sesuatu yang tak diharapkan bakal terjadi. Tapi, peringatan inderanya itu sudah terlambat. Karena....
“Pengadilan menanti!”
Sebuah teriakan yang begitu dikenal, melantak kesunyian ruangan dari arah luar.
“Dungu dan Hitam keparat! Kalian tak akan bisa menghindar lagi dari pengadilanku! He... hek...
hek... heee!”
“Siapa mereka?” tanya Purwasih.
Selama tiga hari mengenal Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam, Purwasih memang hanya mendengar penjelasan tentang alasan mereka mencari-cari Andika, lalu sudi pula menolongnya. Sedangkan tentang asal-usul dua tokoh aneh ini, serta urusan lama dengan Hakim Tanpa Wajah tak pernah diceritakan.
“Manusia tak waras yang sok benar sendiri!” jawab Lelaki Berbulu Hitam.
“Aku tak mengerti?” lanjut Purwasih.
“Nanti pun kau akan tahu,” putus Lelaki Berbulu Hitam.
Selanjutnya, laki-laki berbulu lebat itu keluar dengan langkah terbanting-banting keras. Pendekar Dungu mengikuti di belakangnya. Juga Purwasih. Di luar, Lelaki Berbulu Hitam berdiri menantang kedatangan dua seterunya di kejauhan. Sepasang tangannya bertolak pinggang. Wajahnya cepat memerah dipompa kemarahan. Dengan latah, Pendekar Dungu berdiri di samping-nya dan ikut bertolak pinggang. Punggungnya yang sudah melengkung dipaksa-paksakan untuk tegak. Mungkin pikirnya, dengan begitu dia tampak membusungkan dada. Padahal, malah terlihat seperti sedang menderita encok.
“Penasaran kau, ya?!” cemooh Lelaki Berbulu Hitam sarat tekanan.
“Kujamin! Sekali ini, kau tak akan lolos lagi. Ingat itu, tak akan!” tandas Hakim Tanpa Wajah, berkawal seringai.
“Orang tua! Siapa sesungguhnya kau ini? Kenapa berkata begitu tak sopan dan lancang?” selak Purwasih. Muak juga gadis itu melihat lagak Hakim Tanpa Wajah.
“Heee... he... he... heee! Ada gadis cantik yang minta diadili!” leceh Hakim Tanpa Wajah.
“Tunggu dulu! Dari tadi kau bicara soal pengadilan. Apa kau orang yang belakangan ini membuat kegemparan, dengan julukan Hakim Tanpa Wajah?” tanya Purwasih tanpa terbetik rasa takut.
“Ya! Kau gadis pintar!”
“Ooo.... Jadi, ini orangnya yang membuat takut banyak tokoh persilatan belakangan ini?!” sinis Purwasih kian berani.
“Sudahlah, Anak Gadis! Hanya buang-buang waktu berbicara dengan manusia sial ini!” sergah Lelaki Berbulu Hitam, naik pitam.
“Ya... ya. Hanya manusia sial yang buang-buang waktu,” timpal Pendekar Dungu ngawur.
Lelaki Berbulu Hitam maju beberapa tindak. Dari cara berjalannya, tampak kalau dia sudah begitu bernafsu membalas kekalahannya waktu itu.
“Ayo! Maju kau!” tantang Lelaki Berbulu Hitam.
Manusia Dari Pusat Bumi baru hendak melayani tantangannya. Tapi, sang Guru mengeluarkan tangan dari balik kafan untuk menahan pemuda setengah siluman itu.
“Aku ingin sedikit mengenang peristiwa delapan puluh tahun lalu,” kata Hakim Tanpa Wajah.
Selesai berkata, laki-laki berkain kafan itu meloncat-loncat ke depan. Empat depa di depan Lelaki Berbulu Hitam, baru dia berhenti.
“Kita hendak mulai dari jurus kacangan atau jurus habis-habisan?” tawar Hakim Tanpa Wajah pongah.
“Aaargh!”
Lelaki Berbulu Hitam tak mau banyak cing-cong. Diterkamnya Hakim Tanpa Wajah dengan jari menegang seperti batangan baja. Hakim Tanpa Wajah amat kenal, bagaimana tingkat kecepatan lawannya. Pada masa jayanya delapan puluh tahun yang silam, Lelaki Berbulu Hitam berada di papan atas dalam ilmu-ilmu kecepatan.
Tahu akan hal itu, mestinya Hakim Tanpa Wajah cepat menghindar dari cakar Lelaki Berbulu Hitam yang sanggup merobek lehernya dalam sekali tebas. Tapi hal itu tak juga dilakukan. Sampai....
Srat!
Leher kurus Hakim Tanpa Wajah benar-benar dimangsa cakar lelaki tinggi besar itu. Benarkah laki-laki tua berkain kafan itu akan kehilangan kepala?
Sama sekali tidak! Sebab, Hakim Tanpa Wajah amat tahu kalau lawannya kini sudah tak memiliki tenaga dalam yang bisa diandalkan untuk melakukan itu.
“He... he... he! Kenapa berhenti?” ledek Hakim Tanpa Wajah.
Tampak Lelaki Berbulu Hitam terpana-pana memandangi jari-jari berkuku tajam miliknya yang tak seampuh sebelumnya.
“Astaga, Hitam! Kenapa kau tak sungguh-sungguh ‘menggaruk’ leher manusia sial itu?!” seru Pendekar Dungu, masih belum menangkap apa yang terjadi.
“Aku bukan main-main, bodoh! Sudah kukerahkan seluruh tenaga dalamku untuk merobek lehernya. Tapi, tenagaku tidak ada lagi!” teriak kalap Lelaki Berbulu Hitam.
“Tak ada? Memang kau pinjamkan pada siapa?!” tanya si Dungu kembali. Amat lugu..., dan tentu menyebalkan!
***
Jasad halus Raja Penyamar menelusuri sebuah lorong asing yang panjang bagai tak bertepi. Dalam lorong berpusaran kabut itu, tubuhnya melayang terus menuju ujungnya. Sesekali ada semacam terpaan angin kuat menahan. Dengan susah payah, ditembusnya dinding angin itu. Tak jarang pula ada kilatan-kilatan cahaya menyambarnya demikian liar. Raja Penyamar tetap tak peduli.
Seberkas kilatan cahaya tiba-tiba menerjang Raja Penyamar. Tubuhnya langsung terlempar ke sisi lorong, dan langsung disambut pusaran kabut. Tanpa bisa menguasai keseimbangan, tubuhnya terombang-ambing di sisi lorong. Lalu kekuatan pusaran itu hendak melemparnya keluar dari lorong. Karena Raja Penyamar begitu bertekad untuk berhasil tiba di ujung lorong, kekuatan meng-hempasnya tadi dilawannya. Dia berteriak sekuat-kuatnya, berjuang melawan pusaran yang hendak menggagalkan usahanya. Ketika lengkingannya kian meninggi dan meninggi, keseimbangan tubuhnya pun dapat dikuasai. Dia terus melayang kembali dalam lorong menuju ujungnya, setelah lepas dari cengkeraman pusaran tadi.
Akhirnya tiba pula Raja Penyamar di ujung lorong. Di sana terbentang ruang tanpa batas. Dalam ruang itu, menggema suara panggilan-panggilan Andika.
“Raja Penyamar! Raja Penyamar”
“Andika! Di mana kau?!” tanya Raja Penyamar, bingung.
“Aku di sini!”
Raja Penyamar mengikuti arah suara Andika. Dengan tuntunan gaung suara itu, Andika bisa ditemukan pada satu bagian ruang tanpa batas. Sosok pemuda itu sedang terkurung dalam sebuah sangkar yang selalu berubah bentuk, namun memiliki warna tetap. Yakni, warna merah bara neraka. Di dalam sangkar, Raja Penyamar melihat Andika meronta-ronta mengerahkan seluruh tenaga. Setiap kali tubuhnya bersentuhan dengan jeruji sangkar, terperciklah bunga-bunga api panas luar biasa. Sehingga membuat tenggorokan Andika tercekat hendak melepas lolongan.
“Bagaimana aku harus keluar dari sini?!” tanya Andika kacau.
“Kerahkan seluruh kehendak sucimu!” perintah Raja Penyamar, di sisi sangkar yang melayang dalam ruang tanpa batas.
“Sudah kucoba. Tapi, tak berhasil!”
“Coba lagi, dan terus coba!”
“Aku tak bisa!”
“Kau harus bisa, Andika!”
“Aku tak kuat’ lagi! Sangkar ini terlalu kokoh. Dan pijarnya begitu menyiksa untuk dilawan!”
“Tidak, Andika! Kau akan kuat untuk menentang-nya! Ayo, kerahkan lagi kehendak sucimu! Jangan menyerah! Ingat! Kau adalah pribadi yang tak ingin dikalahkan keangkaramurkaan!”
“Aku letih!”
“Jangan pernah letih! Kau belum tiba pada batas hidup! Ayo, berusahalah! Jeruji merah bara itu tak sekuat kehendak sucimu, Andika! Tataplah ruang tanpa batas ini! Mestinya, kehendak sucimu menempati rongga ruang ini! Karena, itu yang sesungguhnya disediakan sang Penguasa Alam untukmu! Ayo! Kau sanggup melawan sangkar laknat itu, Andika! Ayo!” seru Raja Penyamar tanpa kenal menyerah.
“Aku....”
“Jangan pernah berkata-kata lagi! Hanya dirimu yang mampu menolong! Hanya dirimu!” sambung Raja Penyamar, makin mendesak.
Beberapa lama tubuh Andika bergetar dalam kungkungan sangkar. Seluruh bagian tubuhnya mengejang. Mimik wajahnya sangat menggambarkan suatu perjuangan hidup dan mati. Sedangkan sepuluh jari tangannya mengeras di depan dada. Andika terus berjuang... berjuang....
Pada satu batas perjuangannya, jeruji sangkar merah bara terlihat meredup dan menguat. Seolah, sedang bertahan dari perlawanan kekuatan kehendak suci Andika. Dan pada saatnya....
“Aaa!”
***
Andika mendadak tersadar dari pingsannya yang berhari-hari. Kelopak matanya membuka tersentak. Sinar matanya nanar, mencari-cari liar. Ketika cahaya matahari ditemukannya, barulah otot-ototnya yang menegang demikian rupa dilemaskan. Dadanya mulai menarik udara ke paru-paru. Lega.
“Andika...,” panggil sebuah suara dari sisi.
Andika menoleh. Dilihatnya Purwasih duduk di dekatnya dengan wajah letih dan mata basah.
“Sukurlah, kau sudah sadar Andika. Aku begitu khawatir melihat keadaanmu,” kata Purwasih lirih seraya menghambur ke dada bidang Andika. Dara jelita itu terisak di sana.
“Apa yang terjadi, Purwasih? Di mana aku?” tanya Andika lemah.
Purwasih menegakkan tubuhnya.
“Kau berada ditempat yang aman Andika,” jawab gadis itu.
“Apa yang terjadi denganku?” ulang Andika.
Pendekar Slebor mencoba bangkit. Dan Purwasih pun membantunya, menegakkan punggung dan duduk di sisi pemuda itu. Lalu, gadis itu pun menceritakan kejadian yang menimpa Andika sepanjang pengetahuannya. Termasuk, tentang dua lelaki aneh yang kemudian dikenalnya sebagai Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Juga tentang kedatangan dua lelaki asing lain yang dikenalnya sebagai Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi dari desas-desus santer belakangan ini.
“Sewaktu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi bertempur dengan dua lelaki aneh yang membantuku malam itu, tiba-tiba saja ada bisikan di telingaku untuk membawamu secepatnya keluar dari tempat itu. Aku tak tahu, siapa yang berbisik. Seolah, suara itu langsung terdengar meski tak melalui telingaku. Tanpa banyak pikir, aku segera menurutinya dan sampailah di tempat ini,” papar Purwasih menyelesaikan ceritanya.
Mata gadis itu langsung merayapi tempat ini. Sebuah ruang gubuk yang tak begitu terawat baik. Terletak di sebuah dataran lembah.
“Mana Raja Penyamar?” tanya Andika.
“Raja Penyamar?” Purwasih tak paham maksud Andika.
“Ah! Aku lupa, kau belum mengenal dia,” gumam Andika.
“Apa yang kau katakan, Andika?”
“Tidak,” hindar Andika cepat. Dia mencoba bangkit, tapi segera ditahan Purwasih.
“Mau ke mana, kau?” tanya gadis itu.
“Aku harus mencari seseorang. Semua kejadian yang menimpaku harus dijelaskannya,” kata Pendekar Slebor.
0