- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#153
Part 3
“Pengadilan menanti!”
Satu teriakan membawa Andika kembali ke alam kesadaran. Kelopak matanya segera dibuka. Sinar siang, tajam menusuk, membuat Pendekar Slebor berkali-kali mengerjap silau. Wajahnya menengadah langit, karena tubuhnya sudah tergeletak entah di mana.
Yang terakhir diingatnya hanya suasana Rimba Slaksa Mambang yang mendadak asing sewaktu mencoba menemukan Cermin Alam Gaib. Sewaktu tangannya ditarik dari lubang, suara-suara aneh sempat didengarnya. Setelah itu, dia tak sadarkan diri sama sekali. Seakan-akan, seluruh kesadarannya dibetot oleh suatu kekuatan. Padahal, benda yang terpegang tangannya belum lagi dilihatnya.
Seiring keluhan kecil, Andika mencoba bangkit. Sakit pada beberapa bagian tubuh, membuatnya harus bersusah payah menegakkan punggung. Kini dilihatnya sebuah dataran kosong tandus. Tanah kering berdebu kecoklatan di mana-mana. Sedang di kejauhan sana, hanya terlihat jajaran pegunungan mengurung tempat ini.
“Di mana aku?” bisik Pendekar Slebor.
“Mengapa tiba-tiba aku ada di tempat ini?”
Sebelum pertanyaan itu terjawab, kembali terdengar teriakan kedua.
“Pengadilan menanti!”
Pendekar Slebor tersentak. Dengan sigap, dicobanya berdiri. Lalu dicarinya asal suara tadi. Tanpa sulit-sulit, dilihatnya dua sosok di kejauhan. Cara berdiri mereka begitu mengancam di mata Andika.
“Siapa pula mereka?” tanya Pendekar Slebor kemudian.
Penasaran dengan wajah kedua orang itu, Andika mengangkat tangan di atas alis matanya untuk menahan sinar matahari yang menusuk, sehingga tak begitu jelas melihat siapa yang hadir. Tiba-tiba, Pendekar Slebor baru sadar kalau di tangannya tergenggam sesuatu. Sewaktu dilihat, ternyata sebuah cermin selebar jengkalan tangan. Bentuknya bulat, dengan bingkai kayu hitam serta setangkai gagang tempat tangannya menggenggam.
“Inikah cermin yang dimaksud Raja Penyamar” tanya Andika membatin.
Seperti sebelumnya, pertanyaan itu pun dipenggal oleh teriakan yang sama.
“Pengadilan menanti!”
Andika menjadi jengkel. Teriakan yang sama dengan suara serak Cumiakkan, tentu saja amat memuakkan. Andika melirik kesal dengan ujung mata. Kemudian....
“Peduli setan! Peduli tuyul!” maki Pendekar Slebor sembarangan, dengan teriakan pula.
Salah seorang yang dimaki terkekeh mendengarnya. Terdengar sama menyebalkannya dengan teriakan tadi. Andika berpikir, kalau bukan orang tak berotak, tentunya mereka orang sinting. Bila orang waras, mana mungkin tak tersinggung dengan makiannya. Sifat slebor Andika tampaknya tak akan berguna menghadapi orang sesinting mereka. Seperti halnya menghadapi Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu dulu (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”). Justru, malah Andika sendiri yang dibuat kelimpungan menghadapi tingkah simpang siur kedua lelaki tersebut.
“Sebenarnya apa yang kalian mau dariku?” tanya Andika akhirnya.
“Tak banyak,” sahut seorang yang dikenal sebagai Hakim Tanpa Wajah.
“Kami hanya ingin mengadilimu di Pengadilan Perut Bumi....”
“Mengadili? He... he... he!” giliran Andika terkekeh.
“Dugaanku ternyata benar. Kalian memang orang sinting! Tapi, tunggu dulu....”
Andika langsung teringat pada cerita Raja Penyamar di Kampung Kelelawar beberapa waktu lalu.
“Kalian tentu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi...,” duga Pendekar Slebor yakin.
“Tepat sekali!” jawab Hakim Tanpa Wajah.
“Nah!” Andika menjentikkan jari tangan.
“Kalau begitu, pucuk dicinta..., ulam tiba!”
“He... he... he. Baru kali ini aku bertemu ‘seorang tertuduh’ begitu bersemangat berhadapan
denganku,” tukas Hakim Tanpa Wajah.
Andika berjalan mendekati mereka. Sampai sekitar delapan tombak, barulah dia berhenti. Ditatapnya wajah dan perawakan mereka satu-satu.
“Kau pasti Hakim Berwajah Tembok!” sebut Pendekar Slebor seraya mengacungkan jari ke wajah Hakim Tanpa Wajah. Lalu, matanya memutar ke Manusia Dari Pusat Bumi.
“Sedangkan kau pasti Manusia Dari Lobang Koreng!”
Mendapat cemoohan pemuda dari Lembah Kutukan itu, lagi-lagi Hakim Tanpa Wajah terkekeh tanpa beban. Lain halnya Manusia Dari Pusat Bumi dengan wajah yang tetap dingin, kakinya melangkah dua tindak ke depan.
“Dengan ini, kau kutuntut atas beberapa kesalahan. Bahwa kau telah bersalah, banyak mencampuri urusan orang lain. Bahkan bertindak gegabah membunuh para pengacau dunia!” papar Manusia Dari Pusat Bumi, bagai seorang jaksa penuntut dalam sebuah pengadilan.
Mulut Andika kontan mencibir.
“Heh! Kalau semua orang menganggap menegakkan keadilan sama dengan mencampuri urusan orang, bisa cepat kiamat dunia ini....”
“Kau juga bersalah karena telah mencuri sebuah cermin dari Rimba Slaksa Mambang!” lanjut
Manusia Dari Pusat Bumi tanpa peduli dengan tanggapan sinis Pendekar Slebor.
Acuh tak acuh, pemuda berpakaian hijau itu mengangkat cermin di tangannya ke depan.
“O, ya. Aku hampir lupa memberitahukanmu Dengan cermin ini, aku akan bisa menghadapimu meski kau menguras seluruh ilmu gaibmu dan mengundang seluruh siluman sial untuk membantu....”
“Salah!” terabas Manusia Dari Pusat Bumi, begitu dingin.
“Justru cermin itu akan membuatmu makin sulit untuk mengalahkanku...”
Sekali ini Andika benar-benar dibuat terperanjat habis-habisan. Pasti ada sesuatu yang tak beres telah terjadi, begitu pikir Pendekar Slebor.
“Apa maksudmu?” tanya Andika seperti tak yakin dengan pendengarannya.
“Cermin itu adalah benda milik para siluman yang dipersiapkan selama ratusan tahun, untuk mengokohkan kehadiranku sebagai ‘pemelihara angkara murka’!”
Jantung Andika seperti hendak berhenti berdenyut saat itu juga. Darahnya seperti berhenti mengalir, dan benaknya seperti dikosongkan tiba-tiba. Baru disadari kalau dia telah melakukan kesalahan besar. Juga baru diingat kalau Raja Penyamar yang ditemuinya di Sungai Mati, tak pernah meninggalkan aroma bunga sedap malam layaknya kebiasaan Raja Penyamar (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
“Tentu ada siluman yang telah menyamar menjadi Raja Penyamar untuk menipuku. Lalu, aku dimanfaatkan untuk mengantarkan benda laknat ini pada Manusia Dari Pusat Bumi. Sebagai makhluk kasar aku dimanfaatkan, karena mereka tak bisa membawa sendiri benda ini, akibat sekat antara alam halus dan kasar...,” simpul Pendekar Slebor geram.
Untuk pertama kalinya, wajah dingin Manusia Dari Pusat Bumi menampakkan seringai.
“Keparat!” rutuk Andika.
Kemarahan Pendekar Slebor meledak sudah. Diangkatnya Cermin Alam Gaib tinggi-tinggi. Dengan seluruh kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan yang terkerahkan akibat kemurkaannya, tentu benda tipis itu akan hancur berkeping-keping seperti kerikil kala Andika menghantamkannya ke lutut.
Siat! Tak!
Cermin di tangan Andika seketika bertumbukan amat keras dengan lututnya. Namun hasilnya bukanlah seperti yang diduga sebelumnya, benda itu tetap utuh seperti tak pernah terjadi apa-apa. Sebaliknya, sehimpun rasa nyeri tak terhingga melabrak Andika saat itu juga.
“Aaakh!”
Teriakan menyayat terlepas dari kerongkongan pendekar muda itu. Bersamaan dengan teriakannya, Cermin Alam Gaib terlepas jauh ke angkasa. Benda itu seketika melayang dalam putaran cepat. Pantulan sinar matahari berkerjap-kerjap dari permukaannya, bagai cemoohan bagi Pendekar Slebor.
Meski menderita sakit luar biasa, Andika masih mampu menjaga akal sehatnya. Jelas benda itu akan berbahaya jika jatuh ke tangan Manusia Dari Pusat Bumi. Maka tanpa mempedulikan rasa sakit yang menjalari serat-serat tubuhnya, Pendekar Slebor sebisa-bisanya menghentakkan kakinya penuh tenaga. Maka tubuhnya langsung melayang menyusul Cermin Alam Gaib.
“Hiaaa!”
Sekejap di belakangnya, Manusia Dari Pusat Bumi mengikuti tindakan Pendekar Slebor. Tak kalah tangkas, tubuhnya melayang ke udara dari arah berlawanan. Tak! Di udara, tangan Pendekar Slebor yang hendak menggapai cermin dihadang dengan tendangan ungkit yang lurus di depan dada. Maka seketika telapak tangan Andika tersodok telak ujung jari kaki pemuda bertaring itu. Kemudian disusul dengan sambaran tangan kanan, seperti gerakan menyampok untuk merebut Cermin Alam Gaib.
Tak!
Andika cepat mengirimkan serangan susulan. Satu gerak menyabet ke dalam dilepaskan tangan kiri untuk menahan pergelangan tangan Manusia Dari Pusat Bumi yang hendak menggapai Cermin Alam Gaib. Akibatnya, pergelangan tangan mereka berhantaman keras. Ketika titik balik luncuran cermin tiba, kedua pemuda gagah berbeda silat dan usia itu sama-sama saling melancarkan tebasan-tebasan amat cepat. Satu menghantam, yang lain menangkis. Begitu pula sebaliknya. Bahkan tindakan itu sampai tubuh mereka mulai meluncur turun, menyusul menukiknya Cermin Alam Gaib.
Khawatir Hakim Tanpa Wajah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyambut cermin dari bawah, Pendekar Slebor cepat-cepat melepas kain pusaka dari bahunya pada kesempatan yang begitu tipis.
Srat!
Kecepatan yang sulit tertandingi warisan Pendekar Lembah Kutukan, cukup memberi Pendekar Slebor kesempatan untuk menyabetkan kain pusaka ke arah Cermin Alam Gaib.
Tar!
Pendekar Slebor memang sempat mengenyahkan cermin, jauh dari jarak jangkauan Hakim Tanpa Wajah. Tapi untuk itu, dia harus menebusnya dengan akibat yang tak ringan. Mendadak saja hantaman punggung tangan Manusia Dari Pusat Bumi telah menyodok dadanya.
Des!
Saat itu juga, arah luncuran tubuh Pendekar Slebor berubah cepat. Tubuhnya tidak lagi meluncur lurus ke bawah, melainkan meluncur dalam arah menyimpang ke belakang akibat hantaman tenaga Manusia Dari Pusat Bumi. Sepotong erangan tertahan langsung tercipta. Setelah itu, Pendekar Slebor tak ingat apa-apa. Dunia bagai dirampas tiba-tiba. Semuanya menjadi gelap..., gelap.
Malam ini adalah hari ketiga setelah purnama. Kaki Gunung Sumbing disapu rata oleh cahaya temaram rembulan yang mulai meramping. Di sebelah timur kaki gunung, sebuah pura tua berdiri dingin di atasnya. Di dalam bangunan itu, Purwasih duduk gundah di antara siraman cahaya lembut api unggun. Wajah gelisahnya berpendar-pendar akibat pantulan cahaya, membuatnya terlihat demikian anggun menawan.
“Ke mana Andika?” tanya Purwasih pada diri sendiri.
“Tak mungkin dia ingkar janji. Aku tahu pribadinya. Lalu, kenapa sampai selarut ini dia belum juga datang?”
Sudah begitu lama dara jelita berjuluk Naga Wanita itu menanti kehadiran jejaka pujaan hatinya. Selama itu, perasaannya terus saja terombang-ambing oleh kegelisahan. Dia sendiri tak memahami, kenapa bisa begitu.
Untuk sedikit mengusir rasa yang tak enak itu, Purwasih melamunkan kejadian yang lalu, yang pernah dialami bersama Andika. Ya! Saat-saat indah memang pernah dialaminya bersama si Pemuda itu. Kala di mana dia begitu dekat serta berbagi suka dan duka dalam suatu tugas negara, menumpas Gerombolan Begal Ireng. Tapi mungkin saja saat itu, Purwasih tahu kalau Andika hanya menganggapnya sebagai mitra seperjuangan. Atau mungkin menganggapnya sebagai saudara perempuan, karena sesungguhnya mereka berdua masih memiliki pertalian darah. (Baca episode : “Dendam dan Asmara”).
Sesaat kemudian, bibir ranum Purwasih mengem-bangkan senyum tipis, manakala benaknya terngiang kembali ucapan-ucapan urakan Andika padanya yang sering kali keterlaluan dan menggemaskan.
“Andika..., Andika...,” bisik gadis itu tak sadar.
“Hey, Gadis Cacingan!”
Tiba-tiba saja sebuah suara merobek lamunan Purwasih. Dengan sigap, tangan pendekar wanita itu meraih gagang pedang di punggungnya.
Sret!
“Siapa kau?!” bentak si Naga Wanita seraya mengacungkan mata pedang ke depan.
Dari pintu masuk, muncullah seorang nenek tua berpunuk seperti onta. Rambutnya demikian panjang, hingga terseret-seret di tanah. Tak seperti nenek tua biasa, dia mengenakan baju panjang warna Jingga mencolok. Pipinya yang kendor, tampak bergerak-gerak sewaktu mengunyah gulungan sirih. Seperti tak peduli dengan pertanyaan gusar Purwasih, nenek peot itu terus mendekati Purwasih.
“Apa kau tak dengar kalau kusebut gadis cacingan?” kata nenek itu.
“Apa maksudmu, Nenek Tua?” tanya Purwasih lebih sopan, sewaktu mengetahui siapa yang masuk.
Pedang berkepala naga di tangannya diturunkan. Dia tak ingin terlihat tidak sopan pada orang tua uzur itu.
“Apa maksudmu? Huh! Buat apa kau masih terus menunggu di sini? Terbengong-bengong seperti orang cacingan?”
“Aku menunggu seseorang, Nek.”
“Pemuda berpakaian hijau-hijau berwajah ningrat, tapi berpenampilan gembel itu?” terabas si Nenek Peot semena-mena.
“Dari mana Nenek tahu?” tanya Purwasih heran.
Si Nenek Peot mengibaskan tangan di udara.
“Haaah! Itu soal sepele!” tukas si Nenek.
“Kau tak perlu tahu dari mana aku tahu. Yang sekarang justru harus kau tahu adalah.... Ah slompret! Kenapa aku jadi pelupa begini?”
Si Nenek Pikun memainkan gulungan sirih di mulutnya. Untuk beberapa saat bia tampak berpikir keras.
“O, iya! Aku ingat sekarang. Yang perlu kau ketahui, pemuda yang kau tunggu sekarang ini sedang sekarat....”
“Apa?!” sentak Purwasih begitu khawatir.
“Sabar-sabar.... Jangan terburu nafsu! Anak muda sial itu masih cukup kuat untuk tetap bertahan hidup....”
“Di mana dia, Nek?!” desak Purwasih, tak sabar.
“Di danau dekat pinggiran Rimba Slaksa Mambang,” jawab si Nenek acuh sambil melenggang keluar.
Seiring dengan itu, wangi bunga sedap malam segera menebar memenuhi ruangan.
“Kira-kira, ke mana lagi kita harus mencari pemuda bertanda bintang itu, Dungu?” tanya Lelaki
Berbulu Hitam pada kawannya yang berotak bebal.
Setelah lolos dari tangan Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi, kini mereka sudah tampak jalan beriringan pada sebuah jalan setapak.
“Gara-gara hakim sableng itu, kita gagal meminta bantuan pemuda yang ditunjuk dalam wangsit
sebagai ‘sang penolong’!.” gerutu lelaki keturunan serigala itu keras dan meledak-ledak.
“Aku kira juga begitu,” sahut Pendekar Dungu, dengan mata terus terjatuh pada jalan.
“Kalau binatang peliharaanmu tidak segera datang waktu itu, tentu kita sudah jadi tawanan si Bangkotan Muka Rata!”
Lelaki Berbulu Hitam menghentikan langkahnya. Wajahnya tiba-tiba terbakar matang.
“Aku sedang membicarakan pemuda penolong kita, Dungu! Bukan soal serigala-serigalaku! Lagi pula, mereka bukan peliharaanku. Mereka itu kawanku!” bentak Lelaki Berbulu Hitam ngotot sampai-sampai urat lehernya menonjol keluar.
“Astaga! Sial kau, ya! Jadi si Hakim Tanpa Wajah dan pemuda jelek itu kawanmu?” Pendekar Dungu ikut berhenti. Ditantangnya tatapan berang si Manusia Berbulu dengan wajah penasaran.
“Bukan, Guobeluoook! Maksudku, Serigala— serigala itu!”
“Lho. Jadi, serigala-serigala itu yang bisa menolong masalah kita? Tadi kau bilang pemuda berpakaian hijau-hijau.... Kau jadi linglung sekarangnya?” kata laki-laki bangkotan berotak bebal itu lagi.
Setelah itu Pendekar Dungu melangkah santai, meninggalkan Lelaki Berbulu Hitam yang masih berdiri sambil memukul-mukul kepala sendiri. Andai Lelaki Berbulu Hitam adalah mercon bungkus, tentu sudah melesak saat itu juga menghadapi kebodohan kawannya.
Sebelum Lelaki Berbulu Hitam sempat menumpahkan kemarahan dengan serangkai caci-maki kasar, tiba-tiba seseorang berkelebat dari belakang, melewati dirinya lalu melewati Pendekar Dungu di depan. Dari kecepatannya bergerak, tentu orang itu sedang mengerahkan kemampuan lari cepat pada puncaknya.
“Hey, siapa itu?!” seru Lelaki Berbulu Hitam.
“Bukan aku!” jawab Pendekar Dungu. Padahal, Pendekar Dungu tak ditanya sama sekali. Namun dia cepat sadar kalau ada orang yang mendahuluinya.
“Ya... ya! Siapa itu?!”
“Kejar, Dungu!” ujar Lelaki Berbulu Hitam seraya mengempos tenaga untuk mengejar orang tadi.
“Ya... ya... ya, kejar!” latah Pendekar Dungu lebih bersemangat.
Seketika kejar-kejaran terjadi. Tanpa mengalami kesulitan, Lelaki Berbulu Hitam yang lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh daripada Pendekar Dungu, bisa menyusul orang yang diburu. Dari jarak empat depa di belakang buruan, seluruh ilmu meringankan tubuhnya dikempos. Di udara, tubuhnya segera melesat cepat mendahului orang tadi, lalu berhenti menghadang dengan wajah garang.
“Berhenti!” bentak Lelaki Berbulu Hitam lantang.
Buruan itu berhenti mendadak, begitu mendengar bentakan. Sementara Pendekar Dungu terlalu keasyikan menggenjot langkah larinya yang tak sehebat Lelaki Berbulu Hitam. Akibatnya, sewaktu kawannya menghadang mendadak, dia malah lupa berhenti.
“E-e-e, awas! Awaaas!” teriak Pendekar Dungu kelimpungan sendiri, tanpa bisa menahan. Dan yang jadi sasaran tabrakannya adalah Lelaki Berbulu Hitam.
Dada besar manusia keturunan serigala itu ditanduknya. Untuk ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tenaga, Pendekar Dungu memang berada satu tingkat di atas Lelaki Berbulu Hitam. Jadi jangan tanya, apa akibatnya kalau kepalanya menyeruduk Lelaki Berbulu Hitam. Seperti kerbau gila!
Lelaki Berbulu Hitam terjengkang ke belakang beberapa depa. Mulutnya menganga lebar dan matanya mendelik hendak keluar. Saat berikutnya, tubuh gempal itu menimbulkan bunyi cukup merdu sewaktu menghantam jalan berkerikil. Di lain pihak, mata sayu Pendekar Dungu jadi tambah sayu. Biji matanya yang kelabu berputar-putar tak karuan. Tak lama berikutnya, kepalanya sendiri, ditampar-tampar. Seakan, dengan perbuatan itu gerak mata bisa dibetulkan.
Tak jauh di depan, Lelaki Berbulu Hitam bangkit menggeliat-geliat menahan sakit di seluruh belakang tubuhnya. Sesekali diam meliuk ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi.
“Kali ini, kepalamu benar-benar akan kuremukkan, Dungu!” ancam Lelaki Berbulu Hitam dengan mata mengerjap-ngerjap. Tingkah kedua tokoh itu benar-benar membingungkan orang yang dihadang. Dia seorang wanita berpakaian hijau lumut. Dengan rambut berkepang ekor kuda dan pedang kepala naga di punggung, sudah bisa diduga dia adalah Purwasih.
Kebetulan sekali gadis itu mengambil jalan singkat dari tempat itu untuk menuju tepian Rimba Slaksa Mambang.
“Pengadilan menanti!”
Satu teriakan membawa Andika kembali ke alam kesadaran. Kelopak matanya segera dibuka. Sinar siang, tajam menusuk, membuat Pendekar Slebor berkali-kali mengerjap silau. Wajahnya menengadah langit, karena tubuhnya sudah tergeletak entah di mana.
Yang terakhir diingatnya hanya suasana Rimba Slaksa Mambang yang mendadak asing sewaktu mencoba menemukan Cermin Alam Gaib. Sewaktu tangannya ditarik dari lubang, suara-suara aneh sempat didengarnya. Setelah itu, dia tak sadarkan diri sama sekali. Seakan-akan, seluruh kesadarannya dibetot oleh suatu kekuatan. Padahal, benda yang terpegang tangannya belum lagi dilihatnya.
Seiring keluhan kecil, Andika mencoba bangkit. Sakit pada beberapa bagian tubuh, membuatnya harus bersusah payah menegakkan punggung. Kini dilihatnya sebuah dataran kosong tandus. Tanah kering berdebu kecoklatan di mana-mana. Sedang di kejauhan sana, hanya terlihat jajaran pegunungan mengurung tempat ini.
“Di mana aku?” bisik Pendekar Slebor.
“Mengapa tiba-tiba aku ada di tempat ini?”
Sebelum pertanyaan itu terjawab, kembali terdengar teriakan kedua.
“Pengadilan menanti!”
Pendekar Slebor tersentak. Dengan sigap, dicobanya berdiri. Lalu dicarinya asal suara tadi. Tanpa sulit-sulit, dilihatnya dua sosok di kejauhan. Cara berdiri mereka begitu mengancam di mata Andika.
“Siapa pula mereka?” tanya Pendekar Slebor kemudian.
Penasaran dengan wajah kedua orang itu, Andika mengangkat tangan di atas alis matanya untuk menahan sinar matahari yang menusuk, sehingga tak begitu jelas melihat siapa yang hadir. Tiba-tiba, Pendekar Slebor baru sadar kalau di tangannya tergenggam sesuatu. Sewaktu dilihat, ternyata sebuah cermin selebar jengkalan tangan. Bentuknya bulat, dengan bingkai kayu hitam serta setangkai gagang tempat tangannya menggenggam.
“Inikah cermin yang dimaksud Raja Penyamar” tanya Andika membatin.
Seperti sebelumnya, pertanyaan itu pun dipenggal oleh teriakan yang sama.
“Pengadilan menanti!”
Andika menjadi jengkel. Teriakan yang sama dengan suara serak Cumiakkan, tentu saja amat memuakkan. Andika melirik kesal dengan ujung mata. Kemudian....
“Peduli setan! Peduli tuyul!” maki Pendekar Slebor sembarangan, dengan teriakan pula.
Salah seorang yang dimaki terkekeh mendengarnya. Terdengar sama menyebalkannya dengan teriakan tadi. Andika berpikir, kalau bukan orang tak berotak, tentunya mereka orang sinting. Bila orang waras, mana mungkin tak tersinggung dengan makiannya. Sifat slebor Andika tampaknya tak akan berguna menghadapi orang sesinting mereka. Seperti halnya menghadapi Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu dulu (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”). Justru, malah Andika sendiri yang dibuat kelimpungan menghadapi tingkah simpang siur kedua lelaki tersebut.
“Sebenarnya apa yang kalian mau dariku?” tanya Andika akhirnya.
“Tak banyak,” sahut seorang yang dikenal sebagai Hakim Tanpa Wajah.
“Kami hanya ingin mengadilimu di Pengadilan Perut Bumi....”
“Mengadili? He... he... he!” giliran Andika terkekeh.
“Dugaanku ternyata benar. Kalian memang orang sinting! Tapi, tunggu dulu....”
Andika langsung teringat pada cerita Raja Penyamar di Kampung Kelelawar beberapa waktu lalu.
“Kalian tentu Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi...,” duga Pendekar Slebor yakin.
“Tepat sekali!” jawab Hakim Tanpa Wajah.
“Nah!” Andika menjentikkan jari tangan.
“Kalau begitu, pucuk dicinta..., ulam tiba!”
“He... he... he. Baru kali ini aku bertemu ‘seorang tertuduh’ begitu bersemangat berhadapan
denganku,” tukas Hakim Tanpa Wajah.
Andika berjalan mendekati mereka. Sampai sekitar delapan tombak, barulah dia berhenti. Ditatapnya wajah dan perawakan mereka satu-satu.
“Kau pasti Hakim Berwajah Tembok!” sebut Pendekar Slebor seraya mengacungkan jari ke wajah Hakim Tanpa Wajah. Lalu, matanya memutar ke Manusia Dari Pusat Bumi.
“Sedangkan kau pasti Manusia Dari Lobang Koreng!”
Mendapat cemoohan pemuda dari Lembah Kutukan itu, lagi-lagi Hakim Tanpa Wajah terkekeh tanpa beban. Lain halnya Manusia Dari Pusat Bumi dengan wajah yang tetap dingin, kakinya melangkah dua tindak ke depan.
“Dengan ini, kau kutuntut atas beberapa kesalahan. Bahwa kau telah bersalah, banyak mencampuri urusan orang lain. Bahkan bertindak gegabah membunuh para pengacau dunia!” papar Manusia Dari Pusat Bumi, bagai seorang jaksa penuntut dalam sebuah pengadilan.
Mulut Andika kontan mencibir.
“Heh! Kalau semua orang menganggap menegakkan keadilan sama dengan mencampuri urusan orang, bisa cepat kiamat dunia ini....”
“Kau juga bersalah karena telah mencuri sebuah cermin dari Rimba Slaksa Mambang!” lanjut
Manusia Dari Pusat Bumi tanpa peduli dengan tanggapan sinis Pendekar Slebor.
Acuh tak acuh, pemuda berpakaian hijau itu mengangkat cermin di tangannya ke depan.
“O, ya. Aku hampir lupa memberitahukanmu Dengan cermin ini, aku akan bisa menghadapimu meski kau menguras seluruh ilmu gaibmu dan mengundang seluruh siluman sial untuk membantu....”
“Salah!” terabas Manusia Dari Pusat Bumi, begitu dingin.
“Justru cermin itu akan membuatmu makin sulit untuk mengalahkanku...”
Sekali ini Andika benar-benar dibuat terperanjat habis-habisan. Pasti ada sesuatu yang tak beres telah terjadi, begitu pikir Pendekar Slebor.
“Apa maksudmu?” tanya Andika seperti tak yakin dengan pendengarannya.
“Cermin itu adalah benda milik para siluman yang dipersiapkan selama ratusan tahun, untuk mengokohkan kehadiranku sebagai ‘pemelihara angkara murka’!”
Jantung Andika seperti hendak berhenti berdenyut saat itu juga. Darahnya seperti berhenti mengalir, dan benaknya seperti dikosongkan tiba-tiba. Baru disadari kalau dia telah melakukan kesalahan besar. Juga baru diingat kalau Raja Penyamar yang ditemuinya di Sungai Mati, tak pernah meninggalkan aroma bunga sedap malam layaknya kebiasaan Raja Penyamar (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
“Tentu ada siluman yang telah menyamar menjadi Raja Penyamar untuk menipuku. Lalu, aku dimanfaatkan untuk mengantarkan benda laknat ini pada Manusia Dari Pusat Bumi. Sebagai makhluk kasar aku dimanfaatkan, karena mereka tak bisa membawa sendiri benda ini, akibat sekat antara alam halus dan kasar...,” simpul Pendekar Slebor geram.
Untuk pertama kalinya, wajah dingin Manusia Dari Pusat Bumi menampakkan seringai.
“Keparat!” rutuk Andika.
Kemarahan Pendekar Slebor meledak sudah. Diangkatnya Cermin Alam Gaib tinggi-tinggi. Dengan seluruh kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan yang terkerahkan akibat kemurkaannya, tentu benda tipis itu akan hancur berkeping-keping seperti kerikil kala Andika menghantamkannya ke lutut.
Siat! Tak!
Cermin di tangan Andika seketika bertumbukan amat keras dengan lututnya. Namun hasilnya bukanlah seperti yang diduga sebelumnya, benda itu tetap utuh seperti tak pernah terjadi apa-apa. Sebaliknya, sehimpun rasa nyeri tak terhingga melabrak Andika saat itu juga.
“Aaakh!”
Teriakan menyayat terlepas dari kerongkongan pendekar muda itu. Bersamaan dengan teriakannya, Cermin Alam Gaib terlepas jauh ke angkasa. Benda itu seketika melayang dalam putaran cepat. Pantulan sinar matahari berkerjap-kerjap dari permukaannya, bagai cemoohan bagi Pendekar Slebor.
Meski menderita sakit luar biasa, Andika masih mampu menjaga akal sehatnya. Jelas benda itu akan berbahaya jika jatuh ke tangan Manusia Dari Pusat Bumi. Maka tanpa mempedulikan rasa sakit yang menjalari serat-serat tubuhnya, Pendekar Slebor sebisa-bisanya menghentakkan kakinya penuh tenaga. Maka tubuhnya langsung melayang menyusul Cermin Alam Gaib.
“Hiaaa!”
Sekejap di belakangnya, Manusia Dari Pusat Bumi mengikuti tindakan Pendekar Slebor. Tak kalah tangkas, tubuhnya melayang ke udara dari arah berlawanan. Tak! Di udara, tangan Pendekar Slebor yang hendak menggapai cermin dihadang dengan tendangan ungkit yang lurus di depan dada. Maka seketika telapak tangan Andika tersodok telak ujung jari kaki pemuda bertaring itu. Kemudian disusul dengan sambaran tangan kanan, seperti gerakan menyampok untuk merebut Cermin Alam Gaib.
Tak!
Andika cepat mengirimkan serangan susulan. Satu gerak menyabet ke dalam dilepaskan tangan kiri untuk menahan pergelangan tangan Manusia Dari Pusat Bumi yang hendak menggapai Cermin Alam Gaib. Akibatnya, pergelangan tangan mereka berhantaman keras. Ketika titik balik luncuran cermin tiba, kedua pemuda gagah berbeda silat dan usia itu sama-sama saling melancarkan tebasan-tebasan amat cepat. Satu menghantam, yang lain menangkis. Begitu pula sebaliknya. Bahkan tindakan itu sampai tubuh mereka mulai meluncur turun, menyusul menukiknya Cermin Alam Gaib.
Khawatir Hakim Tanpa Wajah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyambut cermin dari bawah, Pendekar Slebor cepat-cepat melepas kain pusaka dari bahunya pada kesempatan yang begitu tipis.
Srat!
Kecepatan yang sulit tertandingi warisan Pendekar Lembah Kutukan, cukup memberi Pendekar Slebor kesempatan untuk menyabetkan kain pusaka ke arah Cermin Alam Gaib.
Tar!
Pendekar Slebor memang sempat mengenyahkan cermin, jauh dari jarak jangkauan Hakim Tanpa Wajah. Tapi untuk itu, dia harus menebusnya dengan akibat yang tak ringan. Mendadak saja hantaman punggung tangan Manusia Dari Pusat Bumi telah menyodok dadanya.
Des!
Saat itu juga, arah luncuran tubuh Pendekar Slebor berubah cepat. Tubuhnya tidak lagi meluncur lurus ke bawah, melainkan meluncur dalam arah menyimpang ke belakang akibat hantaman tenaga Manusia Dari Pusat Bumi. Sepotong erangan tertahan langsung tercipta. Setelah itu, Pendekar Slebor tak ingat apa-apa. Dunia bagai dirampas tiba-tiba. Semuanya menjadi gelap..., gelap.
***
Malam ini adalah hari ketiga setelah purnama. Kaki Gunung Sumbing disapu rata oleh cahaya temaram rembulan yang mulai meramping. Di sebelah timur kaki gunung, sebuah pura tua berdiri dingin di atasnya. Di dalam bangunan itu, Purwasih duduk gundah di antara siraman cahaya lembut api unggun. Wajah gelisahnya berpendar-pendar akibat pantulan cahaya, membuatnya terlihat demikian anggun menawan.
“Ke mana Andika?” tanya Purwasih pada diri sendiri.
“Tak mungkin dia ingkar janji. Aku tahu pribadinya. Lalu, kenapa sampai selarut ini dia belum juga datang?”
Sudah begitu lama dara jelita berjuluk Naga Wanita itu menanti kehadiran jejaka pujaan hatinya. Selama itu, perasaannya terus saja terombang-ambing oleh kegelisahan. Dia sendiri tak memahami, kenapa bisa begitu.
Untuk sedikit mengusir rasa yang tak enak itu, Purwasih melamunkan kejadian yang lalu, yang pernah dialami bersama Andika. Ya! Saat-saat indah memang pernah dialaminya bersama si Pemuda itu. Kala di mana dia begitu dekat serta berbagi suka dan duka dalam suatu tugas negara, menumpas Gerombolan Begal Ireng. Tapi mungkin saja saat itu, Purwasih tahu kalau Andika hanya menganggapnya sebagai mitra seperjuangan. Atau mungkin menganggapnya sebagai saudara perempuan, karena sesungguhnya mereka berdua masih memiliki pertalian darah. (Baca episode : “Dendam dan Asmara”).
Sesaat kemudian, bibir ranum Purwasih mengem-bangkan senyum tipis, manakala benaknya terngiang kembali ucapan-ucapan urakan Andika padanya yang sering kali keterlaluan dan menggemaskan.
“Andika..., Andika...,” bisik gadis itu tak sadar.
“Hey, Gadis Cacingan!”
Tiba-tiba saja sebuah suara merobek lamunan Purwasih. Dengan sigap, tangan pendekar wanita itu meraih gagang pedang di punggungnya.
Sret!
“Siapa kau?!” bentak si Naga Wanita seraya mengacungkan mata pedang ke depan.
Dari pintu masuk, muncullah seorang nenek tua berpunuk seperti onta. Rambutnya demikian panjang, hingga terseret-seret di tanah. Tak seperti nenek tua biasa, dia mengenakan baju panjang warna Jingga mencolok. Pipinya yang kendor, tampak bergerak-gerak sewaktu mengunyah gulungan sirih. Seperti tak peduli dengan pertanyaan gusar Purwasih, nenek peot itu terus mendekati Purwasih.
“Apa kau tak dengar kalau kusebut gadis cacingan?” kata nenek itu.
“Apa maksudmu, Nenek Tua?” tanya Purwasih lebih sopan, sewaktu mengetahui siapa yang masuk.
Pedang berkepala naga di tangannya diturunkan. Dia tak ingin terlihat tidak sopan pada orang tua uzur itu.
“Apa maksudmu? Huh! Buat apa kau masih terus menunggu di sini? Terbengong-bengong seperti orang cacingan?”
“Aku menunggu seseorang, Nek.”
“Pemuda berpakaian hijau-hijau berwajah ningrat, tapi berpenampilan gembel itu?” terabas si Nenek Peot semena-mena.
“Dari mana Nenek tahu?” tanya Purwasih heran.
Si Nenek Peot mengibaskan tangan di udara.
“Haaah! Itu soal sepele!” tukas si Nenek.
“Kau tak perlu tahu dari mana aku tahu. Yang sekarang justru harus kau tahu adalah.... Ah slompret! Kenapa aku jadi pelupa begini?”
Si Nenek Pikun memainkan gulungan sirih di mulutnya. Untuk beberapa saat bia tampak berpikir keras.
“O, iya! Aku ingat sekarang. Yang perlu kau ketahui, pemuda yang kau tunggu sekarang ini sedang sekarat....”
“Apa?!” sentak Purwasih begitu khawatir.
“Sabar-sabar.... Jangan terburu nafsu! Anak muda sial itu masih cukup kuat untuk tetap bertahan hidup....”
“Di mana dia, Nek?!” desak Purwasih, tak sabar.
“Di danau dekat pinggiran Rimba Slaksa Mambang,” jawab si Nenek acuh sambil melenggang keluar.
Seiring dengan itu, wangi bunga sedap malam segera menebar memenuhi ruangan.
***
“Kira-kira, ke mana lagi kita harus mencari pemuda bertanda bintang itu, Dungu?” tanya Lelaki
Berbulu Hitam pada kawannya yang berotak bebal.
Setelah lolos dari tangan Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi, kini mereka sudah tampak jalan beriringan pada sebuah jalan setapak.
“Gara-gara hakim sableng itu, kita gagal meminta bantuan pemuda yang ditunjuk dalam wangsit
sebagai ‘sang penolong’!.” gerutu lelaki keturunan serigala itu keras dan meledak-ledak.
“Aku kira juga begitu,” sahut Pendekar Dungu, dengan mata terus terjatuh pada jalan.
“Kalau binatang peliharaanmu tidak segera datang waktu itu, tentu kita sudah jadi tawanan si Bangkotan Muka Rata!”
Lelaki Berbulu Hitam menghentikan langkahnya. Wajahnya tiba-tiba terbakar matang.
“Aku sedang membicarakan pemuda penolong kita, Dungu! Bukan soal serigala-serigalaku! Lagi pula, mereka bukan peliharaanku. Mereka itu kawanku!” bentak Lelaki Berbulu Hitam ngotot sampai-sampai urat lehernya menonjol keluar.
“Astaga! Sial kau, ya! Jadi si Hakim Tanpa Wajah dan pemuda jelek itu kawanmu?” Pendekar Dungu ikut berhenti. Ditantangnya tatapan berang si Manusia Berbulu dengan wajah penasaran.
“Bukan, Guobeluoook! Maksudku, Serigala— serigala itu!”
“Lho. Jadi, serigala-serigala itu yang bisa menolong masalah kita? Tadi kau bilang pemuda berpakaian hijau-hijau.... Kau jadi linglung sekarangnya?” kata laki-laki bangkotan berotak bebal itu lagi.
Setelah itu Pendekar Dungu melangkah santai, meninggalkan Lelaki Berbulu Hitam yang masih berdiri sambil memukul-mukul kepala sendiri. Andai Lelaki Berbulu Hitam adalah mercon bungkus, tentu sudah melesak saat itu juga menghadapi kebodohan kawannya.
Sebelum Lelaki Berbulu Hitam sempat menumpahkan kemarahan dengan serangkai caci-maki kasar, tiba-tiba seseorang berkelebat dari belakang, melewati dirinya lalu melewati Pendekar Dungu di depan. Dari kecepatannya bergerak, tentu orang itu sedang mengerahkan kemampuan lari cepat pada puncaknya.
“Hey, siapa itu?!” seru Lelaki Berbulu Hitam.
“Bukan aku!” jawab Pendekar Dungu. Padahal, Pendekar Dungu tak ditanya sama sekali. Namun dia cepat sadar kalau ada orang yang mendahuluinya.
“Ya... ya! Siapa itu?!”
“Kejar, Dungu!” ujar Lelaki Berbulu Hitam seraya mengempos tenaga untuk mengejar orang tadi.
“Ya... ya... ya, kejar!” latah Pendekar Dungu lebih bersemangat.
Seketika kejar-kejaran terjadi. Tanpa mengalami kesulitan, Lelaki Berbulu Hitam yang lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh daripada Pendekar Dungu, bisa menyusul orang yang diburu. Dari jarak empat depa di belakang buruan, seluruh ilmu meringankan tubuhnya dikempos. Di udara, tubuhnya segera melesat cepat mendahului orang tadi, lalu berhenti menghadang dengan wajah garang.
“Berhenti!” bentak Lelaki Berbulu Hitam lantang.
Buruan itu berhenti mendadak, begitu mendengar bentakan. Sementara Pendekar Dungu terlalu keasyikan menggenjot langkah larinya yang tak sehebat Lelaki Berbulu Hitam. Akibatnya, sewaktu kawannya menghadang mendadak, dia malah lupa berhenti.
“E-e-e, awas! Awaaas!” teriak Pendekar Dungu kelimpungan sendiri, tanpa bisa menahan. Dan yang jadi sasaran tabrakannya adalah Lelaki Berbulu Hitam.
Dada besar manusia keturunan serigala itu ditanduknya. Untuk ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tenaga, Pendekar Dungu memang berada satu tingkat di atas Lelaki Berbulu Hitam. Jadi jangan tanya, apa akibatnya kalau kepalanya menyeruduk Lelaki Berbulu Hitam. Seperti kerbau gila!
Lelaki Berbulu Hitam terjengkang ke belakang beberapa depa. Mulutnya menganga lebar dan matanya mendelik hendak keluar. Saat berikutnya, tubuh gempal itu menimbulkan bunyi cukup merdu sewaktu menghantam jalan berkerikil. Di lain pihak, mata sayu Pendekar Dungu jadi tambah sayu. Biji matanya yang kelabu berputar-putar tak karuan. Tak lama berikutnya, kepalanya sendiri, ditampar-tampar. Seakan, dengan perbuatan itu gerak mata bisa dibetulkan.
Tak jauh di depan, Lelaki Berbulu Hitam bangkit menggeliat-geliat menahan sakit di seluruh belakang tubuhnya. Sesekali diam meliuk ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi.
“Kali ini, kepalamu benar-benar akan kuremukkan, Dungu!” ancam Lelaki Berbulu Hitam dengan mata mengerjap-ngerjap. Tingkah kedua tokoh itu benar-benar membingungkan orang yang dihadang. Dia seorang wanita berpakaian hijau lumut. Dengan rambut berkepang ekor kuda dan pedang kepala naga di punggung, sudah bisa diduga dia adalah Purwasih.
Kebetulan sekali gadis itu mengambil jalan singkat dari tempat itu untuk menuju tepian Rimba Slaksa Mambang.
0