Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#51
PART 23


“Eh, lihat Yo,” panggilnya, menunjuk ke hewan yang tengah bergelayutan di dalam sana. “Kamu inget? Kamu dulu senang banget kalo lihat itu di TV.”

Aku bingung harus menanggapi apa, pun dengan tujuannya memilih tempat ini. Ya, sekarang ini kami lagi di kebun binatang. Pagi tadi, dia kujemput di bandara sebelum ke hotel agar dia bisa mandi, lagi. Kami menghabiskan waktu berdua seolah kami mengenang kebersamaan bertahun-tahun silam. Dulu itu aku masih sekitar seratus senti dan suka lari-lari. Bertiga, kami hampir ke kebun binatang sebulan sekali, dan rasanya menyenangkan.

Karena bukan hari besar, otomatis penampakan rombongan-rombongan saat itu lebih sedikit. Kebanyakan muda-mudi pacaran, sisanya keluarga. Kami berjalan sebentar, kemudian kami menaiki sepeda sewaan di situ. Sepedanya model gandeng yang ada keranjangnya. Kami pun mulai berkayuh sebelum menyinggahi kandang yang membuat dia tertarik. Dengan bantuan kamera poket, kami pun mengabadikan diri di depan ular-ular, burung-burung, onta, ikan Arapaima, monyet-monyet, dan kura-kura yang besar. Wajah kami timpang jauh. Dia tersenyum riang sedang aku pasang wajah datar.

Sejak pagi hingga sekarang, aku memang melakukan semuanya dengan terpaksa.

“Kamu gimana? Udah mikirin mau kuliah di mana?” katanya sewaktu kami istirahat makan siang. Kami sama-sama mesan soto. Belum datang tapi.

“Belum Ma.”

Aku bohong.

Dia diam sebentar. Pastilah dia paham kenapa reaksiku selalu pelit.

“Kamu masih marah sama Mama?”

Aku rasa aku nggak perlu menjawabnya.

“Maafin Mama sayang, kami cuma nggak mau kamu nggak fokus belajar. Kamu harus ngerti.”

Aku tersenyum sarkas. “Kenapa selalu Yohan Ma? Kenapa nggak dibalik? Kenapa bukan kalian yang ngertiin Yohan?”

“Ini yang terbaik Yo. Mama serius.”

Aku terkekeh. Geleng-geleng kepala. Benar-benar nggak masuk akal. Apalagi aku udah yakin dia nggak pernah serius sama omongannya pas kami sarapan di restoran. Seorang perempuan muncul. Dia sempat menyanjung wajahku sebelum keduanya memulai obrolan mereka, tema-tema khas sosialita yang membuatku keserang bosan akut. Setelahnya aku sadar. Ya, aku salah jika mengira rindu adalah alasan dia datang pada hari ini. Enggak. Dia rupanya datang karena bisnis. Jadinya jelas, yang ‘sekalian’ itu nemuin akunya, bukannya kebalik.

“Kamu kuliah di sana aja sayang. Ambil jurusan hukum. Kamu bisa tinggal sama Mama. Mama udah siapin semua.”

“Yohan belum tau Ma. Belum mikir ke sana.”

“Kamu ini udah lulus lho sayang. Kamu nggak boleh gitu.”

“Udahlah. Yohan belum mikir ke sana. Yohan nggak tau juga mau kuliah apa enggak.”

“Kamu harus tentuin Yo. Mama yakin kuliah di sana lebih bagus. Mama udah siapin semua. Masalah tinggal...”

“Ma! Udahlah! Yohan males ngomongin itu. Nggak ada bedanya juga Yohan tinggal ama siapa.”

Dia menghela nafas panjang. Setelahnya hening selama beberapa saat.

“Kamu jadi mau ke puncak?”

“Jadi Ma.”

“Rame-rame ya?”

“Gitulah.”

Dia tersenyum. Terpaksa apa benar-benar ikhlas, aku nggak tau juga. “Ya sudah, nanti kamu kasih tau Mama. Tapi Mama harap kamu setuju sama pilihan Mama,” sarannya buat terakhir kali. Dan aku nggak ngejawab. Kami masih diam. Nggak lama setelah itu, pesanan kami pun datang.

“Oh ya, siapa pacar kamu?”

“Nggak ada Ma.”

“Astaga! Serius? Kamu ini malu-maluin Mama aja.”

Aku seketika tersenyum. Hawa serius seketika turun drastis. “Ada kok Ma. Namanya Wiwid.”

“Kamu ini. Kirain beneran. Trus? Gimanagimana? Anaknya baik nggak? Cantik nggak? Wiwid?”

".................."

“Dia.......non.....”

“Iya Ma. Dia muslim.”

Mamanya mendesah. “It’s oke. Mama ini orangnya terbuka kok,” katanya dengan senyum ringan. Tapi hanya sebentar sebelum pandangannya berubah serius.

“Udah ngapain aja kalian?”

“Maaa.”

Dia terkekeh. “Iya, iya. Mama percaya kamu bisa jaga diri. Ingat Yo, kamu boleh aja gonta-ganti pacar sebanyak mungkin. Tapi......kamu harus tetap ngormatin perempuan. Seks itu nggak bikin kamu lebih keren atau lebih culun dari siapapun.”

“Iya, iya. Yohan ngerti,” jawabku terpaksa. Nggak kehitung udah berapa kali dia ngomong gitu samaku. Mungkin karena aku minim pengawasan, jadinya dia sengaja nyekokin itu terus. Ngejaga aku dari jauh lewat caranya sendiri.

Kami terus berbincang dengan tensi yang jauh lebih bersahabat. Terus terang aku menikmatinya. Seketika aku ingat kalo Ikmal pernah ngomong soal buka puasa. Kalo belum buka itu rasanya pingin makan sebaskom. Tapi gitu udah buka, sepiring aja kayaknya udah banyak banget. Nah, aku rasa ini situasinya mirip-mirip. Aku awalnya ngerasa benci. Tapi perasaan itu kayak angin begitu perbincangan kami menjurus ke arah yang lebih hangat. Dia menghilang.

Terus terang masih berat, tapi aku sadar harus mulai nerima perpisahan mereka. Aku nggak tau butuh berapa lama. Tapi aku bakal nyoba.

Aku janji.

Entah berapa lama kemudian, aku udah lupa. Yang jelas, waktu ponselku berbunyi, kami lagi nyeritain soal lingkungan rumah kami di sana.

“Udah datang Ma.”

“Ya udah. Yuk.”

Kami langsung meninggalkan kantin. Keluar dari kebun binatang, kami udah melihat sebuah mobil lagi parkir di seberang jalan. Kami memang sepakat buat nyewa mobil. Ngebawa perlengkapan santai kayak kayu bakar, gitar, alat-alat pemanggang, pastinya susah kan kalo kami naik motor.

Kaca yang kebuka menampakkan Ikmal di belakang setir. Sekilas info, dia memang bisa nyetir karena punya mobil pick-up di rumah. Usaha ayahnya itu jualan roti. Lebih tepatnya, ngambil dari pabrik langsung untuk disalurkan lagi ke grosir-grosir.

“Yohan anterin ke bandara dulu bisa kok Ma.”

“Udah. Nggak apa-apa. Kamu kan udah ada acara. Mama naik taksi aja.”

‘Bentar ya,” mulutku membuka tanpa ada suara. Tanganku sambil kuangkat ke arah seberang. Nggak sampai lama, tanganku kemudian terangkat lagi. Taksi pun berhenti, gampang dapatnya karena dari tadi memang seliweran terus.

“Hati-hati ya Ma.”

“Iya. Kamu juga ya sayang. Have fun. Salam buat teman-temanmu. Ingat, jangan aneh-aneh ya sama Wiwid.”

“Maaa,,,Wiwid itu nggak ikut.”

“Lho, kok malah nggak ikut?”

“Lagi sibuk,” aku bohong lagi.

“Ya sudah. Mama pulang ya.”

“Ya Ma.”

Taksinya melaju dan aku langsung menghampiri anak-anak. Ikmal yang kugantikan sekarang berpindah ke kursi tengah.

“Gila, mainannya sekarang udah tante-tante ya,” Choki langsung asal njeplak. Mulutnya amis, imbang-imbang aroma pasar ikan. Bisa dipahami tapi. Aku sama Mamaku memang terbiasa buat cipika-cipiki ketimbang cium tangan.

“Itu Mamaku kali Chok.”

“Ang.”

“Ngapain kamu?!!” kutepis tangan si Jhon. Dia memegang pundakku dan tatapannya berubah jadi hangat-hangat njijiki.

“Aku bisa jadi Bapak yang baik ‘Ang.”

“Anj#ng!” emoticon-fuckaku langsung najis dan anak-anak ngakak semua. “Bagus aku mati Jhon.”

“Tapi Ang, sial. Maksudnya, maaf lho ini sebelumnya. Kami benar-benar nggak tau. Mamamu nggak kelihatan kayak ibu-ibu tau. Masih muda banget pasti ya,” Ikmal nimbrung.

“Apaan sih. Udahlah. Terus ini mau ke mana?”

“Iya Ang. Kamu nggak bilang Mamamu cakepnya kayak gitu.”

“Anj#ng! Chok, itu Mamaku kali Chok. Sialan kamu. emoticon-Mad Udah sih, ini kita mau ke mana dulu?”

“Mancing aja yuk,” Dani akhirnya ngomong juga.

“Naaah! Ide bagus itu. Iya, mancing aja. Hasilnya ntar kita bawa ke atas,” tambah si Ulfa.

“Di mana emang tempatnya?”

“Yaelah ‘Ang. Pemancingan di sini ada berapa sih?”

“Mama? Gimana? Boleh?” aku senyum ke orang di sebelahku.

“Boleh. Ayo Pa, berangkat, emoticon-Wowcantik ” Yesi meladeninya.

Kami pun melaju. Bersenang-senang sampai besok, mewujudkan niatku yang sebelumnya tertunda. Semuanya nggak jauh berbeda, terlebih karena adanya sebuah janji. Lepas sama anak-anak, aku bakal jalan berdua sama Mita. Berdua! Aku pastinya nggak sabar, tapi aku tetap harus menikmati kebersamaan ini.

Semuanya memang karena mereka. emoticon-Smilie

***


Diubah oleh kawmdwarfa 17-09-2016 11:42
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.