Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#50
PART 22


Quote:


Berminggu-minggu kemudian, pengumuman kelulusan akhirnya tiba. Sore itu, sekolah kami kosong dari mantan-mantan murid kelas tiga. Hanya ada orang tua dan wali murid yang mengisi ruang-ruang kelas. Mereka duduknya sesuai nama murid yang udah ditempelkan di meja. Aku sendiri diwakili sama pamanku. Dan aku nggak perduli sebenarnya soal siapa yang bisa datang.

Oh, ya. Aku udah ngubungi mereka buat kejelasannya. Di telpon, papaku bilang kalau semuanya karena mamaku udah berubah. Dan ketika aku menelpon mamaku, dia pun mengatakan hal serupa, hanya subjeknya yang dibalik. Terserah merekalah. Aku udah benar-benar nggak perduli.

Aku menunggu di kamar. Lumayan deg-degan juga rasanya. Nggak lama setelah itu, aku tahu kalau pamanku pasti udah pulang dari sekolah. Kenapa? Soalnya anak-anak udah ngabarin berita gembiranya masing-masing. Choki, Jhon, Ikmal, Dani, Ulfa, Yesi, semuanya. Wiwid juga udah SMS-in aku terus. Tapi ya aku mau gimana secara pamanku belum ada kabar.

Gila memang. Masa iya ngabari gitu aja sampe lama banget? Ditelepon nggak bisa, SMS nggak dibales. Apa sih maumu, Om? emoticon-Hammer

Jangan-jangan.......dia bingung lagi. Ah, Tuhan.......jangan sampelah. Masa iya aku harus ngejar paket C. emoticon-Frown

Akhirnya diangkat juga.

“Om, gimana Om? Lama banget. Ditungguin juga.”

“Om baru nyampe rumah ini Yo.”

“Oh. Jadinya gimana Om? Yohan lulus nggak?”

“Lulus kok. Selamat ya.”

Yaelah. Nggak tau apa dia kalo daritadi aku cemas gini.

“Oh, iya Om. Makasih deh Om.”

“Nggak lega gitu kayaknya. Nggak senang kamu?”

“Senanglah Om. Masa nggak senang.”

“Ya sudah. Oh, ya, kamu kapan mau pulang?”

Aku terdiam sebentar. Saat itu, yang namanya rumah benar-benar nggak ada di pikiranku. “Belum tau Om. Lihat nantilah.”

“Ke sini dulu ajalah Yo. Udah lama juga kamu nggak main ke rumah.”

“Iya Om. Gampanglah kalo masalah itu. Ya udah ya Om. Makasih Om bantuannya.”

“Iya Yo.”

Panggilan pun ditutup.

Pengakuan pamanku tadi membuaku mendesah lega. Tapi tetap aja, buatku sendiri, bisa lulus bukanlah hal yang prestisius, terlebih karena
nggak ada yang namanya belajar ekstra.

Astaga. Iya. Itu dia!

Ponselku pun menempel lagi di telinga.

“Halo?” sapa yang di ujung sana.

“Halo. Mita, gimana? Lulus?”

“Lulus dong,” balasnya dengan bangga.

“Selamat ya. Udah pas kan kalo ngucapinnya sekarang?”

Mita terkekeh. “Iya, iya. Oh, iya. Kamu yang sabar ya Yo.”

“Sabar? Sabar buat apa?”

“Iya. Aku dengernya kamu nggak lulus.”

“Sembarangan!”

Mita terkekeh lagi selagi aku membayangkan sesuatu yang jelas. Surga dunia. Lihat sendiri kan? Dia udah mau bercanda gitu samaku? Ya, secara keseluruhan, kami memang udah tambah dekat. Kami udah mulai berhubungan. Maksudnya ya sebatas pesan dan telpon singkat aja. Aku belum berani juga buat gerak lebih jauh. Alasannya jelas. Wiwid harus kulepasin dulu. Jahat banget ya aku emoticon-Nohope

“Becanda, becanda. Selamat ya Yo.”

“Iya Mit. Eh....Mita.”

“Apa?”

“Kamu.....beneran mau kuliah di Singapur?”

“Kamu berapa kali nanya?” ngedengernya Mita jadi geli sendiri. “Kayaknya kamu memang udah pikun deh.”

“Ya....kali aja kan? Bisa berubah pikiran.”

“Yaelah. Segitunya ya. Tapi, kalaupun aku kuliah di sini, kan kamu nggak bisa nemuin aku juga. Ya kan? Kamu bilangnya mau ke Sumatra
kan?”

“Itu kalo udah lulus Mitaaa. Sekarang siapa coba yang pikun? Hayoo?”

“Oh. Iya denk. Lupa aku.”

“Mita.”

“Ya?”

“Mmmmm....aku sama anak-anak mau ke puncak. Kamu mau ikut nggak?” kutanya dia. Aku memang ngajakin anak-anak lagi. Ini sebagai pengganti atas niatku yang waktu itu batal. Pokoknya beberapa hari setelah pengumuman kelulusan. Sengaja biar benar-benar dalam keadaan plong.

“Kapan itu?”

“Lusa mungkin. Pokoknya minggu-minggu ini. Gimana?”

“Enggak deh.”

Yaaaah emoticon-Frown

“Kenapa Mit?”

“Segan aja. Kan, aku nggak pada kenal sama teman-teman kelasmu.”

“Nggak apa-apa kali Miit. Mereka pasti welcome kok. Kamu belum tau aja mereka gimana. Seru kok mereka anak-anaknya.”

“Oooooo, gitu ya?”

“Gimana? Mau?”

“Enggak deh.”

Kiraaain emoticon-Frown

“Mmmmm...gini, gini. Habis itu aja gimana?”

“Maksudnya?”

“Ya habis itu aja kita jalannya.”

“Ooooh.” Heh?!! “Tunggu, tunggu. Maksudnya.....berdua?”

“Ya iyalah. Emangnya sama siapa lagi?”

Yes!!! emoticon-Ultah

“Oke, oke. Beneran lho Mit.”

“Iya, iya. Ya udah deh Yo. Aku mau keluar dulu nih.”

“Oh, oke deh Mit. Sampai ketemu ya.”

Mita terkekeh. “Iya, iya. Daaa.”

“Daaaa.”

Aaaaaaaaa! emoticon-Ultah

Jelas aja aku ngerasa senang. Dan masih enak-enaknya senyum sendiri, aku langsung dapat panggilan dari dua nomor yang sudah ngantri sedari tadi. Durasinya singkat-singkat. Intinya, masing-masing cuma ingin menyelamatiku, dan salah satunya mengaku akan menemuiku beberapa hari lagi. Sepertinya dia ngerti kalo aku nggak akan pulang ke rumah dalam waktu dekat.

***

Diubah oleh kawmdwarfa 17-09-2016 09:45
pulaukapok
pulaukapok memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.