- Beranda
- Stories from the Heart
Aku Menyukaimu Karena Aku Menyukaimu
...
TS
abetterone
Aku Menyukaimu Karena Aku Menyukaimu

"Aku Menyukaimu Karena Aku Menyukaimu"
karena terkadang memang kita ga butuh yang namanya alasan buat suka ataupun cinta sama seseorang, karena jika kita menyukai atau mencintai seseorang karena sebuah alasan, maka jika hal yang menjadikannya alasan itu hilang, apa kita masih akan tetap menyukainya?
I
Dear Kaskuser,
Cerita ini menceritakan tentang gue, hidup gue, dan hal-hal yang membuat gueseperti sekarang ini. dan gue mencoba buat nuangin itu semua didalam sebuah cerita yang emang awalnya cuman gue tulis di word. Tapi akhirnya gue coba berbagi cerita gue di SFTH ini. Gue berharap cerita gue bisa diambil hal positifnya dan bisa dijadiin pelajaran hidup walaupun emang sebenernya cerita ini ga ada pelajarannya sama sekali
.
Cerita ini menceritakan tentang gue, hidup gue, dan hal-hal yang membuat gueseperti sekarang ini. dan gue mencoba buat nuangin itu semua didalam sebuah cerita yang emang awalnya cuman gue tulis di word. Tapi akhirnya gue coba berbagi cerita gue di SFTH ini. Gue berharap cerita gue bisa diambil hal positifnya dan bisa dijadiin pelajaran hidup walaupun emang sebenernya cerita ini ga ada pelajarannya sama sekali
.#RULES
Quote:
#FAQ
Spoiler for F.A.Q:
#INDEX
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh abetterone 27-05-2018 11:47
bukhorigan memberi reputasi
2
89.3K
488
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
abetterone
#273
Ingin ku melupakanmu..
“Yah, gak ada yang bisa digandeng lagi deh” ucapnya yang kini hanya berjalan pelan disebelah gue
“hahaha” gue membalasnya hanya dengan tawaan kecil,
Ya, Vira gue tinggalin, dan gue percaya kalo Vira pasti bakal ngerti, menurut gue Vira lebih dewasa daripada gue, yang bahkan masih jauh kekanakan dibandingkan dia.
Ceritanya gue udah sampai dirumah, membawa beberapa makanan yang tadi udah dibeli, gue sama Icha langsung masuk ke kamar masing-masing, dan membuat nyokap gue sendiri jadi heran.
Malem ini kita makan makanan yang udah kita beli tadi, gak ada obrolan serius ataupun becanda sekalipun di meja makan, kita berdua cuman diem. Tanpa ada yang berinisiatif buat ngomong duluan.
Menurut gue, angin malam itu enak, walau kadang bikin masuk angin, tapi ngeliatin indahnya langit malam sambil minum teh hangat itu bikin hati gue tenang. Seandainya disebelah gue ada Vira mungkin otak gue muter-muter cari obrolan yang bisa bikin dia ketawa, karena menurut gue keberhasilan gue dalam ngebahagiain seseorang itu saat kita bisa bikin dia ketawa dan lupa akan beban yang sedang dialaminya walaupun itu cuman sebentar, seenggaknya gue udah bikin orang yang gue bikin ketawa itu lupa tentang kesedihannya.
Gitar daritadi gue peluk, gue pangku diatas paha gue ini sambil duduk di atap rumah, entahlah buat apa gue bawa gitar kalau gak gue mainin, bahkan gue bingung mau mainin lagu apa.
Gak lama gue denger ada yang naik ke atap juga, gue bisa tau karena tangga buat keatap itu pakai kayu, jadi kedengeran suara langkah kaki bahkan walau kita mencoba buat mengendap-ngendap sekalipun. Ya, itu Icha, dan Icha duduk disebelah gue, gue tau itu Icha bahkan tanpa harus melihatnya. Saling terdiam, saling membisu, melihat langit yang bahkan gak berbintang satupun, oh. Hanya ada satu bintang yang terlihat, bintang yang kesepian dari cahaya lainnya. Entahlah mungkin alam pun mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Icha, perasaan terkhianati oleh orang yang selama ini dia sukain, bahkan bukan hanya suka. Tapi cinta.
Hening, gak ada suara, komplek ini sepi banget kalau malem. Kita berdua sama-sama menunggu kata yang terucap dari satu sama lain, gue nungguin Icha ngomong, dan mungkin dia juga nungguin gue ngomong. Padahal biasanya Icha kalo lagi sama gue pasti cerewet banget.
“Eh, minjem gitarnya dong Vin” akhirnya, kata Icha itu memecahkan keheningan ini.
Gue langsung memberikan gitar yang daritadi gue diemin itu ke Icha.
“Nih.” Ucap gue singkat.
Icha langsung ngambil gitar itu, memangkunya, dan mulai menggerakan jarinya. Memetiknya dengan pelan. Gue lihat Icha, matanya lurus jauh melihat langit diatas kita berdua.
“Sebenarnya ku tak pernah ada rasa cinta” suara lembut itu keluar dari mulutnya
“Aku tak mengerti”
“Seolah kau beri harapan yang pasti”
“Membuaiku dengan penuh keindahan”
Gue pun malah terbawa suasana dari nyanyian Icha ini.
“Tanpa disadari cinta itu hadir”
“Dan aku tak sanggup menghindari”
“Kau berikan aku kesejukan”
“Yang tak pernah aku rasakan sebelumnya”
Kini matanya itu mulai berlinang, entah kenapa gue sakit liat Icha.
“Tapi ternyata kau ada yang memiliki”
“Sungguh kau buatku kecewa”
“Aku terluka melihatmu dengannya”
“Sungguh ku ingin kau menyadari”
Icha gak bisa lagi nahan air matanya, dia mulai menyanyi sambil terisak.
“Tanpa disadari cinta itu hadir”
“Dan aku tak sanggup menghindari”
“Kau berikan aku kesejukan”
“Yang tak pernah aku rasakan sebelumnya”
Icha berhenti memetik gitarnya, sekarang dia cuman natap gue, dan meneruskan nyanyiannya itu.
“Ingin aku untuk melupakan bayanganmu”
“Berhenti untuk mengejarmu...”
“hahaha” gue membalasnya hanya dengan tawaan kecil,
Ya, Vira gue tinggalin, dan gue percaya kalo Vira pasti bakal ngerti, menurut gue Vira lebih dewasa daripada gue, yang bahkan masih jauh kekanakan dibandingkan dia.
Ceritanya gue udah sampai dirumah, membawa beberapa makanan yang tadi udah dibeli, gue sama Icha langsung masuk ke kamar masing-masing, dan membuat nyokap gue sendiri jadi heran.
Malem ini kita makan makanan yang udah kita beli tadi, gak ada obrolan serius ataupun becanda sekalipun di meja makan, kita berdua cuman diem. Tanpa ada yang berinisiatif buat ngomong duluan.
Menurut gue, angin malam itu enak, walau kadang bikin masuk angin, tapi ngeliatin indahnya langit malam sambil minum teh hangat itu bikin hati gue tenang. Seandainya disebelah gue ada Vira mungkin otak gue muter-muter cari obrolan yang bisa bikin dia ketawa, karena menurut gue keberhasilan gue dalam ngebahagiain seseorang itu saat kita bisa bikin dia ketawa dan lupa akan beban yang sedang dialaminya walaupun itu cuman sebentar, seenggaknya gue udah bikin orang yang gue bikin ketawa itu lupa tentang kesedihannya.
Gitar daritadi gue peluk, gue pangku diatas paha gue ini sambil duduk di atap rumah, entahlah buat apa gue bawa gitar kalau gak gue mainin, bahkan gue bingung mau mainin lagu apa.
Gak lama gue denger ada yang naik ke atap juga, gue bisa tau karena tangga buat keatap itu pakai kayu, jadi kedengeran suara langkah kaki bahkan walau kita mencoba buat mengendap-ngendap sekalipun. Ya, itu Icha, dan Icha duduk disebelah gue, gue tau itu Icha bahkan tanpa harus melihatnya. Saling terdiam, saling membisu, melihat langit yang bahkan gak berbintang satupun, oh. Hanya ada satu bintang yang terlihat, bintang yang kesepian dari cahaya lainnya. Entahlah mungkin alam pun mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Icha, perasaan terkhianati oleh orang yang selama ini dia sukain, bahkan bukan hanya suka. Tapi cinta.
Hening, gak ada suara, komplek ini sepi banget kalau malem. Kita berdua sama-sama menunggu kata yang terucap dari satu sama lain, gue nungguin Icha ngomong, dan mungkin dia juga nungguin gue ngomong. Padahal biasanya Icha kalo lagi sama gue pasti cerewet banget.
“Eh, minjem gitarnya dong Vin” akhirnya, kata Icha itu memecahkan keheningan ini.
Gue langsung memberikan gitar yang daritadi gue diemin itu ke Icha.
“Nih.” Ucap gue singkat.
Icha langsung ngambil gitar itu, memangkunya, dan mulai menggerakan jarinya. Memetiknya dengan pelan. Gue lihat Icha, matanya lurus jauh melihat langit diatas kita berdua.
“Sebenarnya ku tak pernah ada rasa cinta” suara lembut itu keluar dari mulutnya
“Aku tak mengerti”
“Seolah kau beri harapan yang pasti”
“Membuaiku dengan penuh keindahan”
Gue pun malah terbawa suasana dari nyanyian Icha ini.
“Tanpa disadari cinta itu hadir”
“Dan aku tak sanggup menghindari”
“Kau berikan aku kesejukan”
“Yang tak pernah aku rasakan sebelumnya”
Kini matanya itu mulai berlinang, entah kenapa gue sakit liat Icha.
“Tapi ternyata kau ada yang memiliki”
“Sungguh kau buatku kecewa”
“Aku terluka melihatmu dengannya”
“Sungguh ku ingin kau menyadari”
Icha gak bisa lagi nahan air matanya, dia mulai menyanyi sambil terisak.
“Tanpa disadari cinta itu hadir”
“Dan aku tak sanggup menghindari”
“Kau berikan aku kesejukan”
“Yang tak pernah aku rasakan sebelumnya”
Icha berhenti memetik gitarnya, sekarang dia cuman natap gue, dan meneruskan nyanyiannya itu.
“Ingin aku untuk melupakan bayanganmu”
“Berhenti untuk mengejarmu...”
0
