- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.8K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#148
Pengadilan Perut Bumi
Part 1
Teriakan-teriakan pertarungan terdengar memecah keheningan di kaki sebuah pegunungan berapi. Sebuah pertarungan tingkat tinggi antara dua tokoh tua melawan satu tokoh tua dibantu seorang pemuda, sulit diduga sampai di mana tingkat ilmu masing-masing. Yang jelas, teriakan mereka lebih menggidikkan daripada salakan seribu petir. Bisa dikatakan, pertarungan ini satu dari bentrokan terdahsyat sepanjang seratus tahun belakangan. Apalagi, tiga orang di antara mereka, memang sulit dicari tandingan sejak pertama kali muncul delapan puluh tahun yang lalu. Jika untuk kedua kalinya mereka hadir kembali dan membuat keguncangan, sebenarnya bukan hal yang terlalu aneh.
Dibanding delapan puluh tahun yang lampau, pertarungan kali ini ternyata lebih hebat lagi, dengan turut andilnya seorang pemuda jelmaan siluman. Dan pemuda itu memang mendapat tugas untuk membuat kekacauan di bumi setiap sejuta purnama. Layaknya sosok siluman, penampilan pemuda itu memang mengerikan. Tubuhnya kekar sarat dengan otot menonjol. Rambutnya panjang berwarna merah bara bagai percikan api neraka. Matanya seperti mata macan hutan liar. Dan di dua sudut bibirnya, tersembul dua taring tajam mengancam! Lahirlah sebutan angker bagi dirinya. Manusia Dari Pusat Bumi!
Sementara itu satu orang yang berdiri di pihaknya adalah lelaki tua berusia sekitar seratus dua puluh tahun. Wajahnya datar dengan satu lubang hidung kecil. Berbibir amat tipis dan berkelopak mata begitu sempit. Tubuhnya terbungkus kain kafan usang dari bahu hingga terikat ketat di mata kaki. Dagunya ditumbuhi jenggot panjang dan putih sekitar satu depa. Rambutnya pun putih, tersibak ke mana-mana. Delapan puluh tahun lalu, sepak terjangnya membuat ciut nyali banyak tokoh persilatan. Dialah tokoh yang berjuluk Hakim Tanpa Wajah!
Lawan kedua tokoh itu adalah dua lelaki yang sifatnya bertolak belakang. Satu begitu pemarah dan pemberang. Sedang yang lain begitu lugu dan dungu. Usia lelaki yang berwatak pemberang tak jauh beda dengan Hakim Tanpa Wajah. Namun karena dalam tubuhnya mengalir darah serigala, maka tak mengalami ketuaan. Sosoknya tinggi besar, dengan bulu-bulu hitam lebat di sekujur tubuh dan wajahnya. Penampilannya seperti gorila. Namun, tak begitu dengan paras wajahnya yang terbilang tampan, meski pipinya begitu tebal. Seperti Manusia dari Pusat Bumi, lelaki keturunan serigala ini pun hanya bercelana hitam tanggung yang ujungnya sudah koyak-moyak. Sesuai keadaannya, julukannya pun Lelaki Berbulu Hitam sejak muncul delapan puluh tahun yang lampau.
Sedangkan kawan Lelaki Berbulu Hitam yang berwatak dungu, berjuluk Pendekar Dungu. Karena seangkatan dengan tokoh sesat yang berjuluk Hakim Tanpa Wajah, dia sudah begitu peot keriput. Pakaiannya warna-warni, penuh tambalan. Tubuhnya bongkok seperti gagang tongkat. Tapi masih begitu gagah. Matanya kelabu, tapi tetap berbinar penuh semangat. Rambutnya memutih rata ditutup selembar topi pandan. Wajahnya tanpa jenggot dan kumis. Mulutnya hanya memiliki tiga butir gigi yang semuanya berwarna kuning langsat! (Untuk mengetahui awal kisah bentrokan mereka, ikuti serial Pendekar Slebor dalam episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
Pertarungan mereka telah memasuki hari kedua, tanpa henti. Meski usia tiga orang di antara mereka tergolong uzur, namun pertarungan yang panjang itu tak juga membuat lelah. Tenaga mereka seperti tak terkuras sama sekali. Dari gejolak pertarungan yang kian memanas, tampaknya mereka malah memiliki cadangan tenaga yang cukup untuk beberapa hari lagi.
Des! Plak!
Dua tinju yang dilepaskan dari jurus ‘Tenaga Sakti Pembelah Bumi’ secara berbarengan oleh Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi mencoba melebur kekompakan pertahanan lawan. Sudah jurus yang ketujuh puluh guru dan murid itu mengerahkan jurus langka ini. Akibat yang ditimbul-kannya membuat permukaan tanah seperti digoyang berkali-kali. Hal itu terjadi karena pada setiap rangkai jurus, kaki mereka selalu melakukan jejakan-jejakan bertenaga ke bumi. Terlalu banyaknya jejakan hebat menyebabkan tanah banyak yang retak di sana-sini.
Pepohonan dalam jarak sekitar dua puluh tombak dari kancah pertarungan, sudah pula bertumbangan. Pendekar Dungu dan Lelaki Berbulu Hitam sudah amat kenal dengan jurus ‘Tenaga Sakti Pembelah Bumi’. Mereka mampu mengimbangi dengan gabungan jurus masing-masing.
Sewaktu tinju yang dilepaskan guru dan murid itu merangsek pertahan secara berbareng, mereka pun berpencar. Masing-masing menahan satu tinju. Dengan begitu, sepertinya kekompakan mereka terpecah. Padahal, tidak sama sekali. Karena justru mereka sedang menjalankan siasat tempur baru yang diharapkan akan mengecoh lawan.
“Dungu! Jangan merenggangkan jarak! Gabungan jurus kita bisa kocar-kacir!” ujar Lelaki Berbulu Hitam, pura-pura terkejut.
“Lho?! Kupikir ini siasat kita untuk mengecoh mereka!” sahut Pendekar Dungu lugu.
“Wuaaa, Dasar bodoh! Kenapa mesti disebut-sebut?! Kau telah menggagalkan rencana kita!”
umpat Lelaki Berbulu Hitam, di antara terjangan bertubi-tubi Hakim Tanpa Wajah.
“Lho? Salahmu sendiri! Kenapa tadi berteriak...?! Hey! Kau tadi berteriak apa padaku, ya?!”
“Ah, sudah! Tutup saja bacotmu! Dan, hadapi si Pemuda Jelek itu!” hardik Lelaki Berbulu Hitam.
Manusia Dari Pusat Bumi tak kalah garang merangsek Pendekar Dungu. Sepuluh cakarnya mencabik udara, menuju leher lelaki berotak kerbau itu. Tapi Pendekar Dungu malah tertawa keras-keras sampai terdongak-dongak. Sehingga, sambaran cakar si Pemuda Jelmaan Siluman luput berkali-kali.
“Kenapa kau tertawa, Dungu?! Apa kau pikir ucapanku barusan lucu?! Haih!” dengus Lelaki Berbulu Hitam sambil balas menyerang Hakim Tanpa Wajah dengan hentakan telapak tangan lurus ke dada.
“Ait..., ait!”
Pendekar Dungu berjingkat-jingkat sewaktu Manusia Dari Pusat Bumi mengincar kaki keriputnya.
“Pemuda sialan ini memang jelek, Hitam! Setelah kupikir susah payah, baru kusadari kalau ada manusia yang lebih jelek daripada dirimu! He... he... he!” oceh Pendekar Dungu tanpa rasa bersalah sedikit pun pada Lelaki Berbulu Hitam.
“Wuaaa, Tua Bangka Berotak Bebal! Kalau aku berhasil meremukkan kepala hakim sialan ini, kau akan dapat giliran!” ancam Lelaki Berbulu Hitam berang. Matanya mendelik-delik seperti orang keracunan.
Puncak pertarungan mereka diawali oleh melompatnya Manusia Dari Pusat Bumi jauh keluar arena. Menyadari muridnya akan mengerahkan kesaktian baru yang mungkin belum pernah disaksikannya, Hakim Tanpa Wajah ikut menjauhi lawan. Dengan beruntun salto di udara, lelaki tua terbungkus kain kafan usang itu mengambil tempat jauh dari lawan, dan juga jauh dari si Manusia Jelmaan Siluman pula. Paling tidak, sekadar untuk menjaga kemungkinan agar dirinya tidak jadi sasaran serangan nyasar milik murid ajaibnya.
“He... he... he. Kau punya kejutan untukku, Bocah Bagus?” tanya Hakim Tanpa Wajah dikejauhan. Bibirnya menyeringai penuh harap.
“Sekarang inilah saat yang tepat untuk membuktikan bahwa kau mampu menjadi ‘Sang Penuntut’ dari pengadilanku! He... he... he!”
Tak lama setelah kata-kata Hakim Tanpa Wajah tuntas, si Manusia Jelmaan Siluman pun menyiapkan satu serangan gaib yang didukung oleh kekuatan dari alam lain. Sejenak kepalanya mendongak lurus ke langit, disusul oleh terangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi. Seluruh jarinya membentang, seolah hendak menggapai atap dunia, lalu meruntuhkannya!
“Nah, lo...! Nah, lo! Pemuda jelek itu hendak berbuat apa?” tanya Pendekar Dungu dengan mimik linglung, seperti untuk diri sendiri
“Mana kutahu! Kau pikir dia itu adikku, hingga aku tahu apa yang mau diperbuatnya!” sahut Lelaki Berbulu Hitam, tetap garang seperti yang sudah-sudah.
“Jadi dia itu bukan adikmu?” sergah Pendekar Dungu.
“O-o. Pantas saja kau kelihatannya lebih jelek daripada dia....”
Pendekar Dungu mengangguk-angguk polos, dengan pandangan tetap pada pemuda siluman itu.
“Diaaam!” bentak Lelaki Berbulu Hitam. Suaranya mengguntur ke segenap penjuru. Tapi sama sekali tidak mengusik Manusia Dari Pusat Bumi jauh di depan.
“Lihat..., lihat!” seru Pendekar Dungu pada kawan buruknya yang masih mendelik dengan rahang mengejang. Ditunjuknya si Manusia Dari Pusat Bumi.
Jauh di sana, orang yang dimaksud sedang mengalami getaran hebat. Seluruh tubuhnya bagai diberontaki seribu makhluk tak berwujud. Masih tetap mendongak, mulut bertaringnya perlahan membuka. Setelah itu, meluncurlah lengkingan asing yang baru kali ini terdengar di telinga manusia mana pun. Lengkingan tinggi, yang langsung menerabas hingga ke sudut hati. Tak keras, namun amat berpengaruh pada sambaran mereka.
Telinga sepasang tokoh aneh musuh bebuyutan Hakim Tanpa Wajah ini tak terlalu terganggu oleh jeritan tadi. Tenaga dalam mereka terlalu tinggi untuk bisa dijatuhkan dengan kekuatan suara seperti itu. Namun begitu, ada pengaruh lain yang tak lagi terbendung. Semacam ketakutan yang sulit dijelaskan, mendadak saja menggerayangi diri Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu.
“Sial! Apa yang telah diperbuatnya padaku?!” desis Lelaki Berbulu Hitam tak mengerti.
“Seumur hidup, belum pernah kurasakan perasaan mencekam seperti sekarang....”
Ketika Hakim Tanpa Wajah melirik Pendekar Dungu, lelaki tua bongkok itu pun menampakkan wajah pias. Mimiknya seperti orang yang sedang menunggu ajal.
“Dungu! Apakah kau merasakan hal yang sama?” tanya Lelaki Berbulu Hitam.
Pendekar Dungu lalu menggeleng.
“Aku tak tahu apa yang kau rasakan. Bahkan aku pun tak tahu, apa yang kurasakan saat ini. Semuanya begitu asing...,” jawab Pendekar Dungu, tak lagi berkesan bodoh seperti sebelumnya.
“Apa yang mesti kita lakukan?”
“Pusatkan pikiranmu, Dungu! Tutup semua indera! Aku yakin, gelombang suara itu yang menjadi penyebabnya!” ujar Lelaki Berbulu Hitam memperingatkan, di antara pertempuran rasa takut yang menelusup dengan rasa murka yang menjadi sifatnya.
Dan secepat itu pula Lelaki Berbulu Hitam, bersemadi dalam keadaan berdiri. Lalu, ditutupnya seluruh indera. Pikirannya langsung dipusatkan pada satu titik dalam diri. Sementara Pendekar Dungu mengikuti perbuatannya.
Memang benar dugaan Lelaki Berbulu Hitam. Manusia Dari Pusat Bumi saat ini sedang mengirim satu kekuatan gaib melalui gelombang suaranya, yang bersumber dari medan kekuatan jahat di satu lapisan langit yang menjadi tempat bergentayangan-nya para makhluk halus laknat! Ketika memasuki pintu-pintu indera, kekuatan itu akan segera menyerap habis-habisan seluruh keberanian dalam diri manusia yang paling digdaya sekali pun.
Lama kelamaan, lengkingan milik manusia utusan alam kejahatan yang menusuk angkasa itu kian meninggi. Gelombang suaranya kian bertambah, seiring makin hebatnya penyergapan kekuatan jahat dari langit!
Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu benar-benar mati-matian menghadapi gempuran tak berwujud yang mencoba merangsek seluruh indera. Mereka bertahan habis-habisan, seperti dua orang yang mencoba menutup sebuah pintu. Makala terjadi angin topan maha hebat yang mencoba menguak-nya....
Pertanyaan bagi mereka, bukan lagi apakah mereka mampu mengalahkan kekuatan jahat itu? Tapi, apakah mampu bertahan? Kemenangan bagi mereka memang tidak mungkin. Benteng kekuatan garba mereka tak sebanding kekuatan medan jahat dari langit. Kalaupun mampu bertahan, akan berapa lama mereka sanggup melakukannya?
Tubuh dua lelaki itu bergetar, bersamaan dengan meningginya lengkingan lawan. Dari seluruh pori-pori tubuh mereka, mengalir cairan kemerahan. Keringat bercampur darah! Sesekali tubuh mereka tersentak-sentak. Dan pada puncaknya, mulut kedua lelaki itu melepas teriakan berbareng, meningkahi lengkingan tinggi milik Manusia Dari Pusat Bumi. Tapi bukan berarti mereka telah menang. Sebaliknya, justru mereka baru saja terhempas dalam kekalahan dahsyat.
Bergiliran tubuh keduanya berlutut lemah. Mata mereka menatap sayu, ke arah Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi secara bergantian.
“He... he... he. Kalau delapan puluh tahun lalu kalian luput dari pengadilanku, maka kali ini tak bisa menghindarinya lagi...,” kata Hakim Tanpa Wajah, disertai seringai berhawa maut.
Dihampirinya kedua tubuh lemah itu.
“Apakah masih sanggup melawan, kalau aku mencoba melumpuhkan kalian?” cemooh Hakim Tanpa Wajah meremehkan.
Tangannya pun diangkat perlahan, seakan hendak menjadikan kedua lelaki seangkatan dengannya ini sebagai bulan-bulanan.
“Bersiaplah menerima ‘hukuman pendahuluan’ dariku,” ujar Hakim Tanpa Wajah lagi.
“Jarang sekali‘para terhukum’ mendapat kehormatan mendapatkan ‘Totokan Penyiksa’ milikku. Hanya orang-orang yang pernah luput dari pengadilanku yang akan menerima-nya. Seperti kalian!”
Didahului seringai, Hakim Tanpa Wajah menyalurkan hawa sakti ke tiap jarinya. Dipersiapkannya satu ilmu yang disebutnya ‘Totokan Penyiksa’. Pada saat itulah, Lelaki Berbulu Hitam menggeram laksana serigala luka. Suaranya terlempar kesegenap penjuru, hingga jauh ke balik gunung.
Hakim Tanpa Wajah tercekat. Tak pernah disangka kalau lawan masih sanggup melakukan hal ini. Malah keterkejutannya jadi kesalahan, manakala tangan bercakar Lelaki Berbulu Hitam merangsek dengan seluruh sisa tenaga.
Saaat!
Sebisa-bisanya, Hakim Tanpa Wajah berkelit. Namun tetap juga cakar Lelaki Berbulu Hitam merobek kafannya, sekaligus membeset kulit dadanya....
Bret!
Betapa murkanya Hakim Tanpa Wajah. Totokan yang berisi kekuatan terpusat di jari, segera saja dilancarkan ke leher lawan.
Suit!
“Grrrh!”
Namun mendadak sebuah geraman lain hadir di dekatnya. Bukan lagi dari mulut Lelaki Berbulu Hitam, tapi dari moncong dua ekor serigala besar! Begitu tiba, kedua hewan buas itu langsung saja menerkam jemari Hakim Tanpa Wajah. Hakim Tanpa Wajah seketika menarik kembali gerak tangannya. Karena begitu kaget oleh kehadiran yang tiba-tiba dua serigala itu, tubuhnya pun mengambil jarak ke belakang dengan satu lompatan cepat.
Maka kesempatan itu dipergunakan Lelaki Berbulu Hitam untuk melompat dengan sisa tenaganya ke punggung dua serigala. Sebuah tali kekang yang terikat menjadi satu di leher binatang-binatang itu, cepat disambarnya. Kini dia berdiri di atas dua punggung serigala. Tiap kakinya, berpijak pada satu punggung serigala.
Ketika Hakim Tanpa Wajah masih terpana, Lelaki Berbulu Hitam tanpa membuang waktu menyambar tubuh Pendekar Dungu. Kemudian, menghentakkan tali kekang. Kini mereka pun melesat cepat ke atas serigala jejadian....
***
Seorang pemuda berpakaian hijau-hijau tampak tengah melangkah bersungut-sungut dan tergesa disebuah jalan berlumpur. Sesekali kakinya berjingkat, untuk mencari tempat pijakan yang lebih kering. Pemuda ini tetap tampan, meski wajahnya terlipat. Matanya tajam dan alisnya hitam melengkung seperti kapak sayap elang. Anak rambutnya yang tak pernah ditata berayun-ayun kecil di sekitar dahinya. Di tangannya ada gulungan kain bercorak papan catur. Entah sudah berapa kali gulungan kain itu ditinju-tinjunya gemas. Melihat ciri-cirinya, siapa lagi pemuda itu kalau bukan Andika, alias Pendekar Slebor.
“Benar-benar sial! Enak saja dia menunjukku menjadi orang yang bisa mencegah si Manusia Siluman atau Manusia Kuman atau manusia apa pun dia! Padahal, sebelumnya aku sudah dipermainkan mentah-mentah! Pura-pura jadi wanita cantik segala macam. Jadi nenek pikunlah! Jadi inilah! Itulah.... Tidak sekalian dia jadi kentut!” gerutu Pendekar Slebor seperti khotbah orang tak waras.
Sehari lalu, Andika memang baru saja bertemu si Raja Penyamar di Kampung Kelelawar. Mendapat semua penjelasan lelaki yang telah mati itu, Pendekar Slebor jadi mangkel begitu rupa. Biarpun mendapat kehormatan dari tokoh tua kawakan macam Raja Penyamar sebagai orang satu-satunya yang bisa menghadapi Manusia Dari Pusat Bumi, tetap saja dia merasa telah dipermainkan. (Baca episode : “Manusia Dari Pusat Bumi”).
Sementara itu pada saat yang sama, seekor burung gagak berwarna hitam sedang melayang-layang angker di angkasa. Binatang itu terus melakukan putaran jauh di atas Andika, seolah-olah sedang melakukan pengintaian.
Di atas sana, mata tajam binatang itu memang terus mengawasi Pendekar Slebor. Sesekali dari paruhnya meluncur keluar suara serak menyeramkan. Jika gagak itu membentangkan sayap lebar-lebar, dia akan terlihat bagai hantu dari langit. Lama kelamaan, Andika mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada burung itu. Langkahnya segera dihentikan untuk memastikan, apakah burung itu hanya kebetulan mengikuti atau tidak. Dengan berpura-pura duduk di sebatang pohon tua tumbang, ditunggunya tanggapan si Burung Gagak.
Untuk beberapa saat, burung hitam kelam itu tetap melayang berputar. Dan mendadak saja, tubuhnya menukik cepat. Sayapnya merapat, sedang paruhnya menusuk udara di depan.
“Kaaak!”
Tak beberapa lama, si Burung Gagak sudah hinggap ringan di dahan pohon beringin lebat. Mata kemerahannya terkesan dingin, menantang kehadiran pendekar muda dari Lembah Kutukan. Sedangkan kepalanya bergerak kian kemari.
Andika melirik hati-hati, seakan khawatir kalau tindakannya diketahui. Dengan ujung mata yang menyelidik, mulutnya berbisik.
“Apa maunya burung ini? Belum pernah kutemui binatang bertingkah seaneh itu....”
Tiba-tiba sesuatu mengejutkan burung gagak itu, begitu terdengar suara ranting kayu kering yang tak sengaja terinjak di balik pohon beringin. Derak ranting patah itu yang menyebabkan burung gagak tadi mengepakkan sayap kuat-kuat, lalu merambah angkasa kembali. Andika pun turut terkejut, meski tak separah burung tadi. Kewaspadaannya cepat bangkit. Mata tajamnya mengarah siaga ke arah bunyi tadi. Tanpa gerak, dinantinya sesuatu yang bakal terjadi berikutnya. Yang jelas dia menduga, pasti ada orang di balik pohon beringin itu.
Namun setelah sekian lama menunggu, tak juga terjadi sesuatu pun. Bahkan orang di balik pohon beringin besar tak muncul-muncul. Itu menyebabkan keingintahuannya mendadak muncul. Dengan langkah hati-hati, Andika mendekati pohon beringin itu. Pengerahan sebagian ilmu meringankan tubuhnya, membuat langkah Pendekar Slebor tidak menimbulkan suara sedikitpun, meski berjalan di atas serakan daun kering.
Setibanya di sisi batang besar pohon beringin, Andika mengendap untuk melihat sisi lain di balik pohon, tempat asal bunyi tadi. Kepala dijulurkannya perlahan. Tindakannya terlihat bodoh sekali. Padahal, dia bisa saja melompat ringan ke satu dahan pohon beringin di atas, lalu melihat siapa orang yang ber-sembunyi di balik tumbuhan besar itu.
Dan kebodohannya harus dibayar oleh keterkejutan luar biasa. Bagaimana dia tidak terperanjat, kalau pada saat yang sama, ada satu kepala pula yang melongok? Bahkan hampir-hampir saja wajah Pendekar Slebor tertabrak wajah orang yang dicurigai.
“Siapa kau?!” bentak Andika gusar.
Hidung Pendekar Slebor kontan kembang-kempis, karena terkejut. Cerita Raja Penyamar, benar-benar telah membuatnya menjadi orang sakit jantung
0