Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR
PENDEKAR SLEBOR


Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.

Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).

Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan

Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.

Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..

Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.

Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..

And Here We Go.....

I N D E K S


Spoiler for Indeks 1:



TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya


GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
anasabilaAvatar border
regmekujoAvatar border
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#145
Part 6

“Sudah kubilang pemuda sialan itu lewat sini!”

Di dekat sebuah bangunan tua tak terurus, Lelaki Berbulu Hitam menghardik Pendekar Dungu. Setengah harian keduanya terus mengejar Pendekar Slebor. Kejar mengejar seperti kucing kucingan terjadi. Bagi orang biasa atau berkepandaian tanggung, bila terus berlari selama itu tanpa henti akan membuat mereka sekarat kehabisan napas. Namun, tidak bagi Pendekar Slebor dan dua pengejarnya.

Andika atau Pendekar Slebor sesungguhnya memiliki ilmu lari cepat yang sulit dicari tandingan pada masa ini. Kecepatannya sering disebut-sebut sebagai kecepatan setan. Tapi mau bilang apa, kalau kenyataannya si Pengejar ternyata sanggup mengimbangi kehebatannya. Pendekar Slebor pun makin yakin kalau kedua orang ganjil itu bukan tokoh sembarangan. Meski sampai saat ini belum juga bisa diketahui, siapa sesungguhnya mereka.

Di tempat tersembunyi dalam bangunan tak terurus berupa kuil kecil, Andika hati-hati sekali mengawasi Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu. Rasanya dia menahan napas supaya tidak terdengar telinga dua manusia aneh itu, setelah menyadari kalau bukan orang sembarangan.

“Ini semua karena salahmu! Kalau saja tadi kau tak menunjuk ke arah lain!” gerutu Pendekar Dungu dengan wajah bersungut-sungut jengkel.

“Tapi, tunggu dulu,” sergah Lelaki Berbulu Hitam cepat-cepat. Tubuhnya diam tak bergerak. Begitu juga sepasang bola mata besarnya. Perhatiannya sedang dipusatkan ke arah bangunan tua tempat bersembunyi Pendekar Slebor.

“Kau mendengar sesuatu?” tanya Pendekar Dungu.
“Aku tidak dengar apa-apa. Pemuda sialan itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang boleh juga. Tapi aku tahu, dia ada di dalam bangunan tua itu!”

“Ah! Bagaimana kau yakin?”
“Sudah jangan banyak mulut! Pokoknya, aku tahu dia ada di sana. Titik!” Lelaki Berbulu Hitam sewot.

Di dalam kuil tua, Andika memaki-maki dalam hati. Sulit dimengerti, bagaimana lelaki berbulu itu tahu kalau dirinya ada di tempat tersebut? Terlihat olehnya tidak. Terdengar pun tidak.

“Apa dia punya semacam indera keenam?” bisik Andika, bertanya pada diri sendiri.

Entah karena kesal atau apa, Andika akhirnya keluar dari persembunyian.

“Kalian ini sebenarnya mau apa, hah?!” hardik Andika mulai tak bisa menahan kedongkolan.

Pendekar Slebor muncul cepat tepat di belakang kedua lelaki aneh itu dengan mengerahkan seluruh kemampuan ilmu lari cepatnya. Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu menoleh. Dari sikap, bisa dilihat kalau mereka sudah tahu kehadiran Pendekar Slebor yang tiba-tiba
itu. Mana mudah orang-orang seperti mereka dipecundangi dengan cara begitu.

“Sudah, jangan berpura-pura lagi! Ayo mengaku kalau kau murid si Hakim Tanpa Wajah!” balas
Lelaki Berbulu Hitam, tak kalah menghardik.

“Aduuuh!” gerutu Andika langsung menepak-nepak kepala dengan telapak tangan berkali-kali. “Aku sudah bilang, kalau bukan murid orang itu!”

“Kalau kau bukan muridnya, kenapa bersembunyi dari kami?!” desak Lelaki Berbulu Hitam.

“Itu karena aku tidak berurusan apa-apa dengan kalian!”
“Ngibul! Apa bukan karena kau takut pada kami? Ilmu gurumu itu, tak sanggup menandingi kehebatan kami berdua, bukan?”

“Wah, Gusti.... Gusti! Kalian ini manusia macam apa? Kenapa senang sekali memaksakan kehendak! Sumpah mati tertabrak nyamuk, aku bukan murid orang yang kau sebutkan!”

“Begini saja. Untuk mengetahui kalau kau murid Hakim Tanpa Wajah atau bukan, kau harus membuktikannya pada kami....”

“Bagaimana caranya?”
“Bertarung dengan kami!”

“Lebih sinting lagi! Mana aku bisa bertarung sungguh-sungguh kalau tak punya urusan apa-apa pada kalian?!”

“Takut?”

Andika menaikkan hidung, hingga pangkalnya berlipat. Alis hitamnya menyatu. Hatinya mengkelap dengan ejekan lelaki itu. Sifat kerasnya timbul ke permukaan. Dia paling dongkol kalau disebut pengecut.

“Baik..., baik!” putus Pendekar Slebor cepat.

“Nah, begitu lebih baik....”
“Aaah, sudah! Tunggu apa lagi?!” tantang Andika kalap.
“Hiaaa!”

Teriakan mengguntur Lelaki Berbulu Hitam terlempar ke angkasa. Kekesalannya selama ini pada kedunguan Pendekar Dungu, seperti mendapat kesempatan untuk dilampiaskan pada anak muda berpakaian hijau-hijau itu. Andika mulai dirangsek. Jarak yang cukup dekat, dimanfaatkan Lelaki Berbulu Hitam untuk langsung menyambar leher Pendekar Slebor.

Wuk! Wuk!

Dua sambaran cakar kiri dan kanan merobek udara, Pendekar Slebor dengan sigap mengangkat kedua tangannya. Secepat gerakan geledek, tangan kanannya menahan tangan kiri Lelaki Berbulu Hitam. Sementara, tangan kirinya menjegal tangan kanan.

Tak! Tak!

Karena sama-sama menyalurkan kekuatan, sepasang tangan mereka terpaku di tempat dalam usaha menahan tenaga dalam masing-masing lawan. Beberapa saat lamanya, otot-otot kedua orang itu mengejang, menyebabkan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menyembul dari lubang kulit. Gigi mereka pun bergemelutuk, pertanda sama-sama ingin menjadi pemenang dalam adu tenaga ini.

Dan saat itulah Lelaki Berbulu Hitam menyaksikan jelas-jelas tanda lahir berbentuk bintang berwarna hijau kebiruan di tangan kanan Andika. Matanya kontan membesar. Maka dia pun lupa dengan adu kekuatan. Tanpa sengaja, penyaluran tenaga dalam ke tangannya dihentikan secara mendadak. Akibatnya....

Buhgh!

Hidung Lelaki Berbulu Hitam langsung saja terjotos punggung tangan Pendekar Slebor. Untung saja hanya terserempet. Kalau tidak, dia akan kehilangan hidung untuk selamanya. Meski begitu, tak urung tubuhnya melintir-lintir menahan sakit. Didekapnya hidung yang mengeluarkan darah.

“Dhungu, watauuu!”

“Astaga! Kenapa kau sekarang jadi begitu lamban?!” seru Pendekar Dungu yang hanya menjadi
penonton sejak tadi.

“Hidungmu masih utuh? Kasihan sekali kalau kau kehilangan hidung. Pasti kau tambah jelek saja....”

“Thiam khauuu!”
“Apa?!”

Lelaki Berbulu Hitam melepas pegangan pada hidungnya.

“Kubilang, diam kau!”
“Ooo...!” Pendekar Dungu mengangguk-angguk tolol.

“Anak muda inilah yang kita cari. Dungu!” sambung Lelaki Berbulu Hitam.
“Dialah ‘Sang Penolong’ agar kita bisa menyelesaikan masalah kita!”

Pendekar Dungu tak menanggapi ucapan Lelaki Berbulu Hitam. Mulutnya bungkam seribu bahasa. Tak hanya itu. Dia bahkan tak bergeming sedikit pun seperti patung pesakitan! Rupanya, dia benar- benar diam seperti perintah Lelaki Berbulu Hitam.

“Hey?! Apa kau tuli, Dungu! Anak muda itu yang kita cari-cari selama ini!”

Pendekar Dungu tetap bungkam dam diam.

“Dasar otak kerbau! Aku bukan menyuruhmu diam seperti itu! Aku hanya menyuruhmu tutup mulut!” ralat Lelaki Berbulu Hitam, setelah sadar ketololan kawannya.

Melihat kejadian itu, Andika tak bisa menahan kegelian yang berontak dalam tubuhnya. Pendekar Slebor pun tergelak ramai.

“Anak muda!” tegur Lelaki Berbulu Hitam, memenggal tawa meriah Pendekar Slebor. Mimik
wajahnya berubah ramah.

“Kau tentu pemuda berhati mulya, bukan? Kau pasti sudi menolong kami, bukan? Kau tentu tahu, kalau kami butuh bantuanmu, bukan? Bukan?”

“Bukan!” sentak Andika.

“Lho?! Jangan begitu, aaah...! Wangsit yang datang pada kami berdua tak mungkin bohong. Kaulah orang yang bisa menolong kami untuk menyelesaikan masalah diri kami.... Iya, kan Dungu?”

“Bukan!” jawab Pendekar Dungu, melatahi jawaban Andika.
“Lho?!” Wajah Lelaki Berbulu Hitam mulai berang lagi.

“Eh, iya maksudku!” ralat Pendekar Dungu, seraya memamerkan tiga butir giginya.

“Nah! Kau dengar sendiri pengakuan kawanku itu, bukan?” lanjut Lelaki Berbulu Hitam pada Andika.

“Kalian ini betul-betul tak bisa kumengerti. Mula-mula menuduhku murid orang yang tak kukenal. Sekarang, kalian malah merayu-rayuku untuk kutolong. Dan terus terang saja, sampai saat ini pun aku belum mengerti maksud kalian...,” tolak Andika bersungguh-sungguh, setelah melihat kesungguhan di wajah Lelaki Berbulu Hitam.

Baru saja kalimat Andika selesai, si Lelaki Berperawakan Buruk itu menubruk kaki Pendekar Slebor, lalu mendekapnya kuat-kuat.

“Aduh! Jangan begitu pada kami, ‘Tuan Penolong’. Aku tadi memang berbuat salah. Untuk itu, ampunilah aku. Ya. ‘Tuan Penolong’, ya? Ya, bukan?” ratap Lelaki Berbulu Hitam, memelas pada Andika.

Sayang, wajahnya tetap tak meyakinkan layaknya orang memelas. Malah terlihat seperti orang menakut-nakuti!

Andika meringis serba salah. Bukan apa-apa. ‘Perkutut’ di sarang rahasia miliknya tergesek-gesek bulu di kening Lelaki Berbulu Hitam.

“Aku rasa, kalian meminta tolong pada orang keliru,” tutur Andika.
“Aku bukan orang yang pantas untuk dimintai pertolongan oleh orang-orang sehebat kalian.”

“Wuaaa, waaau... wauuu!”

Pendekar Dungu yang sudah terlihat bangkotan ikut menubruk kaki Andika. Kalau Lelaki Berbulu Hitam dari depan, orang tua ini dari belakang. Dengan membenamkan wajah dalam-dalam di selangkangan Andika, orang tua peot itu meraung-raung seperti anak kecil. Andika kian serba salah.

“Baik..., baiklah. Aku akan mencoba menolong kalian,” putus Andika akhirnya.
“Tapi kuminta kalian mau menceritakan dulu masalah sebenarnya....”

Kontan saja dua orang aneh itu mendongakkan wajah cerah. Seterusnya mereka bangkit, lalu menandak-nandak riang, menari kian kemari melebihi lincahnya penari jaipong!

“Nang... ning-ning-nangning-kung....”

Berkali-kali Andika meringis-ringis tak karuan. Mau tertawa salah. Mau terharu, juga salah.

“O, Gusti.... Dosa apa yang telah kuperbuat, sehingga Kau mengirim manusia-manusia sinting ini padaku,” keluh Pendekar Slebor.

***


Matahari berwarna Jingga menyaput pagi, merayap perlahan dalam bentangan kaki langit sebelah timur. Ayam-ayam jantan berlomba memperdengarkan kokoknya yang lantang. Angin dingin sisa udara malam merambati bumi lamat-lamat. Suasana baru lengkap tercipta.

Seorang pemuda berambut gondrong dalam pagi sejuk ini tampak bermandi keringat. Dia berjalan agak lunglai, di antara jajaran alang-alang jangkung. Baju hijaunya sudah basah kuyup. Napasnya pun berhembus cepat tak teratur.

Pemuda yang tak lain Andika alias Pendekar Slebor, semalaman suntuk memang habis berlari habis-habisan. Seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya dikuras habis. Seperti juga sebelumnya. Pendekar Slebor kini berusaha melepaskan diri dari Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu yang dianggap sinting. Kemarin siang, setelah diminta untuk menceritakan masalah masing-masing, kedua laki-laki aneh itu mengatakan kalau Andika adalah orang yang bisa menolong. Pendekar Slebor diminta untuk menghilangkan kekurangan dari masing-masing, terutama sifat-sifat mereka.

Selesai mendengar semuanya, Andika jadi kebingungan sendiri. Bagaimana mungkin Pendekar Slebor bisa menghilangkan sifat berangasan Lelaki Berbulu Hitam, dan membantu Pendekar Dungu agar bisa menilai mana orang baik dan orang jahat?

Semula Andika mengira masalah yang dihadapi biasa saja. Mungkin mereka butuh tenaga untuk menghadapi sekelompok manusia bejad, atau membantu mencari seseorang. Maka kalau untuk masalah yang mereka utarakan, Andika benar-benar angkat tangan tinggi-tinggi. Meski Andika sudah mengatakan kalau tidak bisa membantu, mereka tetap saja ngotot. Andika yang dikenal urakan, tetap saja dia dibuat kalang kabut oleh sikap kelewatan dua manusia aneh itu.

Akhirnya, dengan sedikit akal-akalan, Andika akhirnya bisa meloloskan diri. Sayangnya, Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu langsung mengejar. Maka kejar-kejaran pun terjadi lagi. Pendekar Slebor terus berlari karena tak ingin berurusan dengan orang yang dianggap kurang waras. Mengurusi mereka hanya membuang-buang waktu, begitu pertimbangannya. Di lain pihak, Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu terus mengejar. Karena mereka yakin, Andika-lah orang yang dimaksud dalam wangsit.

Setelah nyaris kehabisan napas, barulah Pendekar Slebor bisa melepaskan diri dari kejaran.

“Mereka betul-betul sinting,” keluh Andika dalam helaan napas memburu. Dia terduduk lemas di bawah alang-alang.

“Ya.... Mereka memang orang-orang sinting. Tapi mereka patut dikasihi....”

Mendadak terdengar sahutan yang mengelak ucapan Andika dari belakang. Tatkala Andika menoleh, tampaklah orang tua yang kini dikenal sebagai Raja Penyamar sedang bersila tenang di pucuk sebatang ilalang. Lelaki berumur lanjut ini memang tak kalah aneh dengan dua orang yang mengejar-ngejar Andika.

“Kau lagi. Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau dulu menipuku dengan menyamar sebagai perempuan brengsek?” cecar Andika, setelah terlonjak bangkit bersungut-sungut.

“Aaah, sudahlah. Kenapa soal kecil itu jadi dibesar-besarkan!” sergah Raja Penyamar.

Orang tua itu langsung menatap Pendekar Slebor. Tampak sinar mata Andika menyala-nyala seperti mendesak menginginkan jawaban.

“Ya, ya. Aku memang ada maksud tertentu padamu. Sewaktu menyamar dulu, aku hanya ingin membuktikan apakah kau benar-benar Pendekar Slebor, si Pewaris ilmu Pendekar Lembah Kutukan. Sengaja kau kupancing, agar mengakui sendiri kalau kau memiliki tanda bintang di tangan kananmu...,” papar Raja Penyamar mantap dan berkesan penuh wibawa.

“Tapi kenapa harus menyamar menjadi wanita cantik?” desak Andika, tak puas mendengar jawaban si Raja Penyamar barusan.

Lelaki tua berwajah alim itu melepas tawa kecil yang terdengar sejuk di telinga Andika.

“Karena kalau bukan keturunan Pendekar Lembah Kutukan, maka pasti kau sudah tergoda,” jelas Raja Penyamar.

“Selama kukenal, keturunan pendekar agung itu tak gampang kena bujuk rayu. Bahkan dari bidadari sekali pun....”

Andika jadi besar kepala. Dia merasa tersanjung dengan penuturan Raja Penyamar.

“Jadi, apa maksudmu denganku?”

“Sebelum kujawab, aku ingin mengajukan pertanyaan padamu, Anak Muda.”
“Silakan....”

“Apakah kau ingin mengetahui peristiwa besar yang akan terjadi pada zamanmu, yang menyangkut peristiwa di bukit cadas tempat kau menemukan lelaki berpakaian kumuh?”

Andika tak berusaha menanggapi. Ditunggunya ucapan Raja Penyamar lebih lanjut

“Aku tahu, kau pasti ingin mengetahuinya,” simpul Raja Penyamar, menilik mimik wajah pemuda di dekatnya.

“Kalau kau ingin tahu, pergilah ke Kampung Kelelawar di sebelah selatan. Kau harus menemui seseorang di sana....”

Andika ingin bertanya. Tapi, si Raja Penyamar menahan gerak bibir pemuda itu hanya dengan
mengacungkan jari telunjuknya.

“Ini,” sambung orang tua itu sambil melempar sebuah kitab tebal bersampul yang terlihat sudah amat tua ke pangkuan Andika.

“Kitab itu mungkin berguna buatmu kelak. Pelajari isinya....”

Selesai berpesan, Raja Penyamar menghilang seperti sebelumnya. Tubuhnya berpindah dari satu pucuk ilalang ke pucuk lain yang jauh, tanpa menggerakkan bagian tubuhnya sedikit pun. Sehingga dia tampak seperti orang bersila yang melayang cepat.

***


Desa Bangbung bersebelahan dengan Kampung Kelelawar. Kedua desa itu memang terletak di lereng gunung berapi. Jalan pintas satu-satunya yang paling dekat untuk menuju Kampung Kelelawar, memang hanya melewati Desa Bangbung. Setiap beberapa tahun sekali, gunung berapi itu memuntahkan lahar panas. Dan belakangan ini, sang Raksasa Alam itu tampak tenang dengan kepulan asap putih tipis di puncaknya.

Siang ini di sebuah warung kopi kecil di Desa Bangbung, beberapan penduduk tampak tengah menikmati obrolan santai yang begitu lepas. Seolah-olah mereka tak pernah dibebani masalah. Dua orang di antaranya mengangkat kaki ke bangku panjang di depan meja. Di belakang meja, seorang gadis manis sedang mengaduk-aduk kopi di cangkir tanah liat.

Di tengah obrolan mereka, datang seorang lelaki gembrot berkumis baplang. Pipinya yang tebal seperti bantal, berwarna agak kemerahan tersengat matahari. Dengan perut buncit seperti orang hamil, baju biru tuanya tampak kesempitan. Rambutnya yang sepanjang pinggang, dikuncir buntut kuda. Buntalan kain hitam diikatkan di bahunya.

“Minta kopinya, Cah Ayu,” pinta lelaki gembrot itu, begitu duduk di ujung bangku panjang.

Matanya yang cacat bekas luka benda tajam, melirik nakal pada gadis pemilik warung.

“Kakang ini sepertinya orang baru, ya?” sapa seorang pemuda di sebelah laki-laki gembrot itu, ramah.

Adat sopan-santun dan ramah tamah di desa itu memang masing mengakar kuat.

“Betul,” jawab lelaki bertubuh boros, singkat.
“Tujuannya hendak ke mana?” lanjut pemuda tadi.

Laki-laki gembrot pendatang ini melempar pandangan ke gunung berapi yang menjulang angkuh di kejauhan.

“Kampung Kelelewar,” jawab si Gembrot datar.
“Astaga! Apa Kakang tahu, tempat macam apa itu?”

Lelaki lain ikut nimbrung. Paras mukanya berubah ketakutan, seperti juga tiga lelaki di sana.

“Kenapa dengan tempat itu?” tanya si Gembrot, terpancing melihat perubahan wajah mereka.

“Kalau kau ingin tahu soal tempat itu, kau mesti bertanya padaku!” serobot orang lain yang baru
datang.

Lelaki itu tampak angkuh. Perawakannya besar dan kekar dengan brewok lebat. Kepalanya botak polos, memantul cahaya matahari yang menimpanya. Melihat lagaknya, tentu dia seorang jawara yang ditakuti di desa ini. Sambil menyingkap jubah hitamnya, kakinya diangkat ke atas bangku.

“Akulah orang satu-satunya di sekitar wilayah ini yang paling tahu tempat itu. Karena, hanya aku yang berani datang ke sana,” jelas laki-laki brewokan itu, sesumbar.

“Seberapa banyak kau tahu tempat itu?” tanya lelaki gembrot.
“Banyaaak! Kau ingin tahu?”

Si Gembrot mengangguk tanpa menatapnya.

“Tapi, kau harus membayarku....”
“Berapa?”
“Tak banyak. Asal cukup untuk membayar gadis warung ini, ha ha ha!”

Si Gembrot segera mengeluarkan dua keping uang perak. Dijentiknya dua keping uang itu dengan jari, hingga melayang berputar-putar. Dan seketika itu pula, lelaki brewok itu menyambarnya.

“Hanya dua keping?” tanya si Brewok dengan bibir mencibir.

Tiba-tiba saja si Brewok melempar uang logam di tangannya ke kayu penyangga warung.

Sing...jep!

Benda logam itu pun kontan menancap hampir setengahnya.

“Kau pikir, aku ini siapa, heh?! Berani benar kau membayar keteranganku dengan dua keping perak?!” bentak si Brewok kasar pada si Gembrot.

Namun orang yang dibentak tak menggubris. Malah tenang-tenang saja. kopi panasnya diseruput sedikit demi sedikit. Sikapnya ini memancing kemarahan si Botak. Dengan lagak penuh keangkuhan, si Brewok menggebrak kursi dengan kakinya.

Brak!

Bangku kayu itu kontan hancur terbelah dua. Dua lelaki desa yang duduk bersama si Gembrot kontan jatuh, dengan pantat menghantam tanah. Sementara mereka meringis-ringis menahan sakit, si Lelaki berbadan gembrot masih tetap santai dalam keadaan duduk mengangkat sebelah kaki. Padahal, sudah tak ada bangku lagi!

“Heh?! Permainan anak kecil yang mengandalkan otot kaki,” ejek lelaki brewok. Didekatinya si
Gembrot dengan wajah sarat ancaman.

“Hih!”

Begitu cepat kaki si Brewok menyapu kaki lelaki berbadan boros yang sedang menopang tubuhnya. Namun, si Gembrot lebih cepat lagi mengangkat kakinya. Niat si Brewok untuk menggulingkan tubuh besar itu gagal. Bahkan dengan gerakan seringan kapas si Gembrot menaikkan kedua kakinya ke udara. Tubuh besarnya kini melayang seperti gelembung udara di atas pecahan papan bangku yang menjorok ke atas. Padahal, pecahan papan itu sangat lancip setipis mata pisau!

Sampai di situ, si Jawara Brewok mulai sadar kalau orang yang sedang berurusan dengannya tidak bisa dianggap enteng. Hanya tokoh jajaran atas yang bisa melakukannya. Tiga puluh tahun lagi, dia melatih ilmu meringankan tubuh, belum tentu bisa melakukannya. Pikir punya pikir, si Brewok angkuh itu akhirnya menyingkir takut-takut, kemudian menghambur keluar dari kedai kopi itu.

Sepeninggalannya, terdengar tepukan berirama santai dari jarak dua puluh tombak dari kedai.Asalnya dari dua lelaki. Masing-masing bertubuh tinggi besar dan berbulu, dan satu lagi bertubuh ringkih seperti orang tua penyakitan. Mereka adalah Lelaki Berbulu Hitam dan Pendekar Dungu.

Sesaat si Gembrot menoleh. Selanjutnya, kopinya diseruput kembali. Sikapnya seperti seorang yang sedang berpura-pura.

“Kenapa harus bertepuk tangan? Bukankah hal seperti itu amat mudah dilakukan?” tanya Pendekar Dungu, ketika keduanya menghampiri kedai kopi ini.

“Jangan banyak tanya dulu!” tahan Lelaki Berbulu Hitam.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.