- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.8K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#144
Part 5
“Sudah kubilang, kau tak usah ikut campur, Nenek Peot! Sudah tidak pantas bagimu ikut bermain- main seperti ini!”
Lelaki Berbulu Hitam berpindah tempat. Dihampirinya nenek bongkok dengan wajah menyeringai- nyeringai merah. Setibanya di sisi meja, Lelaki Berbulu Hitam menjatuhkan tangannya tanpa tenaga. Belum lagi tangan itu sampai ke permukaan meja, papan dari kayu setebal seperempat jengkal itu terpatah dua bagian! Lagi-lagi, dia hendak pamer kekuatan.
“Huuuaaah!” si Nenek Bongkok menguap lebar-lebar. Gulungan sirih tersembul di antara kuapan mulutnya.
“Itu kekuatan yang sudah ketinggalan zaman buatku, Monyet.”
“Kau bilang aku apa?!” bentak Lelaki Berbulu Hitam kuat-kuat di depan hidung si Nenek Bongkok.
“Kau tak suka kukatakan monyet? Baik, memang mestinya kau kusebut biang monyet....”
Lelaki keturunan serigala itu tak bisa lagi menguasai diri. Itulah sifatnya yang sulit hilang, meski telah menjalani tapa selama puluhan tahun. Itu pula yang menjadi masalah utama bagi dirinya. Tapi dibanding dulu, sekarang ini Lelaki Berbulu Hitam termasuk sabar. Sebelum menyembunyikan diri selama puluhan tahun, seseorang akan langsung dikepruknya hingga mampus jika sekali saja menyindirnya.
“Biar mampus kau, Nenek Keropos!”
Berbareng makian kasar, tangan besar Lelaki Berbulu Hitam terangkat cepat tinggi-tinggi. Sebelum benar-benar sampai ke puncak, tangan itu sudah menukik deras ke kepala nenek bongkok. Telapak tangannya terbuka lebar, seperti sebatang pacul siap memburai lumpur sawah!
Wuk! Prak!
Ubun-ubun nenek bongkok benar-benar telak terkepruk oleh telapak tangan lebar milik Lelaki Berbulu Hitam. Andika sendiri sampai hendak bangkit, untuk menahan tangan itu. Pendekar Slebor yang kesohor ini tahu, keprukan itu tak bisa dianggap remeh. Batu karang sebesar kerbau saja belum tentu sanggup bertahan. Apalagi kepala rapuh si Nenek Bongkok. Tapi, kenyataan yang terjadi malah jauh di luar perkiraan. Sesudah tertimpa tangan besar Lelaki Berbulu Hitam, si Nenek Bongkok menggaruk ubun-ubun. Bahkan bibirnya yang lusuh mengembangkan senyum melecehkan.
“Sudah kubilang, tenagamu sudah ketinggalan zaman. Itu tadi untuk membunuhku, atau untuk membunuh kutu-kutu di kepalaku?”
Siapa yang tak panas dikatakan seperti itu? Apalagi, bagi lelaki berperawakan seram ini. Telinganya serasa disodok sebatang besi panas. Darahnya langsung bergejolak. Sifat-sifat seekor serigala yang mendekam dalam tubuhnya pun terusik. Layaknya serigala murka, mulutnya menyeringai. Untung saja wajahnya tak serupa binatang buas itu.
“
Grrr...!” geram Lelaki Berbulu Hitam sangar.
Si Nenek Bongkok tetap tenang, memperhatikan seluruh tingkah calon lawannya. Tidak tahu, apakah lelaki yang berada dalam puncak kemarahan itu dipedulikan atau tidak. Yang jelas, dia terus saja memamerkan wajah melecehkan. Tangannya berbalut kulit keriput memain-mainkan gulungan sirih di sudut bibir. Tak perlu ada yang memanas-manasi, pertarungan memang akan segera pecah.
“Wah! Urusan jadi runyam,” gumam Andika perlahan sekali di mejanya.
“Kalau orang seperti mereka bertarung di kedai ini, bisa porak-poranda seluruh isinya....”
Untung saja yang ditakutkan Andika tidak terjadi. Si Nenek Bongkok rupanya masih punya sedikit perasaan pada nasib sumber rejeki orang lain. Dengan terseok-seok tubuhnya diangkat dari kursi panjang.
“Tempat ini terlalu kecil buat kita bergurau...,” kata nenek itu sambil melenggang terbungkuk- bungkuk.
Sampai saat ini Andika tak tahu, siapa dua manusia aneh yang siap bertukar jurus-jurus sakti dipelataran depan kedai. Juga tentang urusan mereka masing-masing. Semuanya benar-benar tak jelas. Yang jelas Pendekar Slebor yakin kalau tingkat kepandaian mereka berada beberapa tingkat di atasnya. Sementara Pendekar Dungu tetap duduk masa bodoh di kursinya, Andika ikut keluar kedai. Tepat di pintu kedai, tubuhnya disandarkan untuk memperhatikan segala hal dahsyat yang bakal meledak.
Di pelataran kedai, si Nenek Bongkok berdiri terbungkuk-bungkuk. Tangannya terus saja mempermainkan gulungan sirih dari sudut bibir yang satu ke sudut lain. Selama melihat, tak sekalipun Andika menangkap suara tawa wanita tua ini. Andika menilai nenek peot itu termasuk manusia bersifat dingin.
Sekitar delapan tombak di depan si Nenek Bongkok, Lelaki Berbulu Hitam berdiri dengan sikap tak sabar ingin melabrak lawan. Kedua tangannya terlihat meremas-remas jemari, membuat otot-otot tangan gempal itu bermunculan. Sesekali dia menggeram dengan tatapan mata menusuk.
“Ayo! Tunggu apa lagi, Kunyuk Bohongan?” tantang si Nenek Bongkok berbarengan dengan semburan ludah berwarna merah ke bawah kakinya.
Tak perlu lagi banyak basa-basi. Lelaki Berbulu Hitam langsung membuka sepertiga jurus andalannya. Sudah bisa disadari kalau lawan yang bakal dihadapi tidak bisa diladeni dengan jurus tanggung.
“Grrr...!”
Beriring geraman berat serta terseret, lelaki berperawakan buruk itu menelentangkan kuku-kuku jari tangannya di depan wajah. Sesaat setelah terdiam, napasnya dihembuskan ke kuku jari jemarinya.
“Fhuuuh....”
Kuku panjang berwarna hitam serta runcing seperti milik hewan buas itu makin menghitam. Sisi-sisinya tampak berpendar kehijauan. Tak lama kemudian, asap tipis mengambang dari sana.
Wut! Wut! Wut!
Lelaki Berbulu Hitam menggerak-gerakkan tangannya dalam kecepatan menggila. Sepasang cakaran itu seakan hendak menghalau udara di sekitarnya.
“Yeee.... Anak kecil ingusan juga bisa begitu!” ledek si Nenek Bongkok.
Lelaki Berbulu Hitam tak mau lagi mendengarkan setiap kalimat mengolok-olok dari mulut lawan. Dengan satu tarikan napas, diterkamnya bumi sepenuh tenaga. Tak ada yang mengerti, kenapa tindakan bodoh itu dilakukannya. Bahkan Andika juga tidak mengerti. Tapi si Nenek Bongkok tampaknya sudah paham betul tindakan lawannya. Maka sebelah kakinya diangkat tinggi-tinggi, siap menanti serangan lawan selanjutnya.
Di lain pihak, tubuh besar Lelaki Berbulu Hitam yang sudah menimpa tanah berpasir, meluncur seperti papan di permukaan es menuju bagian bawah tubuh si Nenek Bongkok dengan sepasang tangan mencabik-cabik ke depan.
Wuk! Wuk! Wuk!
Ketika tinggal empat kaki dari tubuh Lelaki Berbulu Hitam dari tempatnya, si Nenek Bongkok menghentakkan kakinya yang telah diangkat sebelumnya kuat-kuat ke bumi.
Bammm!
Seketika suara berdebam tercipta. Sepertinya, tak ada yang istimewa dari tindakan nenek itu. Tanah yang dihentaknya tak mengalami apa-apa. Bahkan debu pun tak terlihat mengepul. Amat bertolak belakang dengan bunyi keras yang dihasilkannya. Tapi, siapa nyana kalau hentakan kaki berkesan tak berarti itu sanggup melempar tubuh besar Lelaki Berbulu Hitam dari tanah tempatnya terseret? Dan yang terjadi memang demikian. Lelaki Berbulu Hitam seperti disentak kekuatan dasar bumi, hingga tubuhnya meluncur ke atas!
Di udara, lelaki penuh bulu itu terperangah. Matanya melotot besar-besar. Tangan dan kakinya bergerak kalang-kabut, sebelum akhirnya mampu menguasai keseimbangan dengan memutar tubuh di udara ke samping. Dengan cara itu, dia bisa melepaskan diri dari dorongan kuat dari bawah.
Jleg!
Hanya dalam satu tarikan napas, lelaki itu sudah berdiri tegak kembali. Sekarang, wajah murkanya sudah terdepak entah ke mana, berganti dengan mimik keterkejutan.
“Kau...,” kata Lelaki Berbulu Hitam terputus.
Jari berbulunya menunjuk ke arah nenek bongkok. Matanya menatap tak berkedip, seakan sedang melihat setan memakai gincu.
“Hek... hek... hek!”
Untuk pertama kalinya, si Nenek Bongkok memperdengarkan tawa.
“Kau mulai mengenaliku?” tanya nenek itu dengan suara tak lagi sama seperti semula. Kali ini terdengar agak besar dan mantap.
“Hanya, seorang yang bisa melumpuhkan jurus maut ‘Serigala Tak Berkaki’ milikku dengan cara seperti tadi,” ucap Lelaki Berbulu Hitam nada suaranya tak setinggi sebelumnya.
“Kau pasti....
“Ya, pasti!” terabas si Nenek Bongkok.
Tubuh bongkok nenek itu tiba-tiba menegak. Satu demi satu dilepasnya punuk, rambut panjangnya, kemudian wajah keriput seperti mencopot topeng. Memang, sesungguhnya itu hanya sekadar topeng yang dibuat begitu halus, sehingga amat mirip dengan wajah nenek tua sesungguhnya. Sekarang bisa dilihat wajah dan tubuh asli si Nenek Bongkok tadi. Dia ternyata seorang kakek seusia Pendekar Dungu. Dagunya ditutup bulu putih lebat, tak begitu panjang. Kepalanya dibelit kain batik seperti blangkon Sunda, menutupi rambutnya yang putih tak terlalu panjang. Seperti juga Pendekar Dungu, laki-laki tua ini pun berwajah kerut-merut. Namun begitu, gigi-giginya masih lengkap. Itu terlihat sewaktu tertawa lepas. Dia mengenakan baju coklat berkerah pendek yang tertutup rapat. Sedangkan celananya berupa pangsi warna hitam.
“Raja Penyamar! Tak kuduga kau sudah sepeot Pendekar Dungu...,” kata Lelaki Berbulu Hitam.
“Ya! Rupanya kita berjodoh untuk bertemu lagi, meski jarak puluhan tahun telah memisahkan kita!” balas lelaki tua yang disebut sebagai Raja Penyamar.
“Nah, sekarang cukup sudah salam perjumpaan kita. Aku pergi dulu...!”
Lelaki tua itu lantas pergi tanpa memberi kesempatan Lelaki Berbulu Hitam berkata lagi sepatah kata. Kepergian Raja Penyamar cukup mengejutkan Andika. Cara perginya membuat pemuda itu teringat pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Sama seperti wanita cantik dan genit yang menggodanya dulu, si Tua Raja Penyamar pun berlalu cepat dari satu tempat, ke tempat lain tanpa terlihat menggerakkan badan sedikit pun. Dan Andika lebih terperanjat lagi, manakala hidungnya mencium wangi kembang sedap malam sepeninggalan Raja Penyamar.
“Astaga! Jadi kakek tua itu yang dulu menyamar menjadi wanita cantik,” bisik Pendekar Slebor.
“Hi...hi... hi.”
Andika melepas tawa kecilnya, membayangkan dirinya berkencan dengan kakek bangkotan kalau dulu sempat tergoda.
Empat hari setelah peristiwa di kedai, Pendekar Slebor berjalan melintasi satu lereng di kaki bukit cadas. Bertepatan dengan peristiwa di kedai, empat hari lalu pula di sana terjadi pertempuran sengit antara Lima Gembel Busuk melawan Manusia Dari Pusat Bumi. Mata tajam Andika langsung menangkap tanda-tanda tak beres. Setelah menemukan beberapa lubang kasar bekas pukulan di dinding cadas sekitarnya.
“Ada yang bertarung seru di tempat ini belum lama, rupanya,” simpul Andika saat memperhatikan kerusakan di dinding cadas.
Dari kedalaman lubang di sana, Andika bisa memperkirakan kalau orang yang bertarung termasuk berkepandaian tinggi. Kalau berkepandaian tanggung, tak mungkin mampu membuat lubang sedalam dua jengkal di tempat yang keras seperti itu. Satu depa di sekitar lubang, dinding cadas menjadi rapuh seperti bubuk. Pertanda kalau ada kekuatan pukulan lain, menyebar di sekitar tangan yang menembus dinding cadas.
“Ilmu pukulan macam apa ini? Selama ini, tak pernah kutemukan pukulan seganas ini. Angin pukulan di sekitar tangan pemiliknya saja, sudah sanggup meremukkan cadas hingga menjadi leburan halus,” gumam Andika, mengagumi kehebatan pemilik pukulan.
Perhatian Andika pada dinding yang porak-poranda di beberapa bagian, terpenggal oleh suara halus dibelakangnya. Seperti desah napas terseret seseorang yang sedang sekarat. Andika cepat menoleh. Seketika matanya melihat seorang dalam keadaan amat payah, sedang berusaha menggerakkan tubuh dari balik sebongkah batu besar. Tak tampak ada darah di sekujur tubuhnya. Namun dari batas bahu hingga setengah tulang iga kanan tubuh lelaki itu tampak mengering seperti daging layu. Lelaki itu tak lain adalah Damarsuta, anggota Lima Gembel Busuk yang berkaki pincang.
“Apa yang terjadi, Kang?” tanya Andika, setelah bergegas menghampiri Damarsuta.
Damarsuta tak sanggup menyahuti pertanyaan Andika. Untuk menggerakkan mulut saja sudah sulit. Beberapa saat, dia seolah berjuang antara hidup dan mati hanya untuk membisikkan sesuatu. Andika cepat mendekatkan telinga ke mulut Damarsuta.
“Hak... kim Tanpa Waj-jahh...,” bisik Damarsuta lirih.
Setelah itu tak terdengar apa-apa lagi. Tidak juga tarikan napas. Lelaki pincang itu mati dalam Keadaan mengenaskan. Keadaan sebenarnya sudah tak memungkinkan lagi untuk bertahan hidup sekian lama. Namun karena tekadnya untuk memberitahu-kan seseorang demikian kuat, nyawanya pun sanggup dipertahankan untuk beberapa lama. Empat hari dia tersiksa hanya untuk menyampaikan kalimat pendek tadi. Andika mengatupkan kelompak mata Damarsuta dengan telapak tangan.
“Siapa manusia sinting bernama Hakim Tanpa Wajah itu?” bisik Pendekar Slebor nyaris berdesis karena geram.
“Selama berkubang di dunia persilatan, julukan itu belum pernah kudengar. Tapi kalau kutilik dari ilmu pukulan di dinding cadas, aku yakin dia tokoh jajaran atas yang sudah cukup lama hadir di dunia persilatan. Apa mungkin orang itu muncul lebih dulu, lalu ketika aku muncul dia menyembunyikan diri? Dan kini, dia muncul lagi?”
Penasaran dengan petunjuk tak jelas dari lelaki itu, Andika lalu memeriksa mayat Damarsuta. Dari baju bertambalnya, tak ditemukan apa-apa yang bisa dijadikan petunjuk.
“Buntu,” gumam Andika lagi.
Pendekar Slebor pun bangkit hendak pergi dari tempat itu. Sebelum benar-benar melangkah, sebuah seruan menahannya.
“Anak muda! Jangan coba-coba melarikan diri!”
Secepatnya Andika menoleh. Tak jauh di lereng sebelah timur, tampak dua lelaki yang pernah dilihatnya di kedai empat hari lalu berjalan beriringan. Tentu saja mereka adalah Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu.
“Ah! Orang-orang sinting itu lagi,” gerutu Andika.
“Ada apa, Orang Tua?”
“Jangan sok ramah! Katakan saja pada kami, kau murid si Sundal Hakim Tanpa Wajah, bukan?!” bentak Lelaki Berbulu Hitam tanpa tedeng aling-aling.
Andika kontan tertawa. Betapa geli hatinya mendengar tuduhan tak beralasan si Lelaki Ganjil itu. Jangan lagi menjadi murid, mengenal namanya saja baru kali ini!
“Jangan tertawa!” bentak Lelaki Berbulu Hitam sekali lagi.
Andika tentu saja jadi sewot.
“Orang tua! Kau jangan bertingkah seperti penguasa, mengatur-ngatur mulut orang seenaknya. Orang berbicara ini tidak boleh, itu tidak boleh, tertawa tidak boleh! Apa kau mau aku menangis?! Seperti penguasa lalim yang lebih senang, membuat rakyat menangis daripada tertawa?!” khotbah Pendekar Slebor menggebu-gebu.
“Huaaa... ha... ha!” Entah kenapa Pendekar Dungu tertawa mendengar semprotan kata-kata dari mulut Andika.
“Jangan tertawa!” hardik Andika, ikut-ikutan tingkah Lelaki Berbulu Hitam padanya tadi.
“Kau terlalu banyak mulut, Anak Muda. Apa susahnya kau katakan pada kami, kalau kau adalah murid Hakim Tanpa Wajah?” desak Lelaki Berbulu Hitam.
“Kenapa aku harus mengaku?”
“Ya, harus! Kalau tidak, tahu sendiri!”
“Meski aku mengakui sesuatu yang tidak benar?”
“Kau mau bilang, kalau kau bukan murid Hakim Tanpa Wajah?”
“Aku memang bukan muridnya....”
“Jangan mungkir. Sebelum tiba di tempat ini, aku sudah melihat dari jauh bekas pukulan di dinding cadas itu!”
Lelaki Berbulu Hitam menunjuk ke salah satu bekas pukulan di dinding cadas.
“Aku tahu pemilik pukulan itu! Kalau ada orang yang memiliki pukulan ganas itu, tentu dia adalah muridnya!” lanjut Lelaki Berbulu Hitam
“Hakim Tanpa Wajah?”
“Nah, buktinya kau kenal dia!” sergah Lelaki Berbulu Hitam.
“Tentu saja aku tahu nama itu, bukankah kau sudah menyebutnya beberapa kali tadi!” balas Andika.
“O, iya. Aku lupa....” Lelaki Berbulu Hitam mengangguk-angguk sebentar.
“Kenapa aku jadi ketularan penyakitnya si Dungu? Sialan!”
Selagi Lelaki Berbulu Hitam sibuk dengan dirinya sendiri, Andika mempergunakan kesempatan itu untuk melesat pergi. Segenap kemampuan larinya segera dikerahkan, biar bisa cepat enyah dari dua manusia sinting yang bisa membuatnya jadi ikut sinting.
“Hey, jangan lari!” tahan Lelaki Berbulu Hitam gusar.
“Hey, lari saja!” teriak Pendekar Dungu, tanpa tahu apa-apa.
Sambil mencaci maki habis Pendekar Dungu, Lelaki Berbulu Hitam lari secepat kilat mengejar Andika. Di belakangnya, Pendekar Dungu mengekori sambil terus bertanya-tanya sendiri.
“Apa salahku, ya...? Apa salahku...?”
Hakim Tanpa Wajah dengan murid ajaibnya, Manusia Dari Pusat Bumi kian unjuk taring. Seperti mengulang kejadian delapan puluh tahun yang lalu, satu demi satu tokoh persilatan diculik. Mereka menghilang tanpa jejak, seakan ditelan bumi. Tak jarang di antara mereka mati di tempat kejadian, karena berusaha melawan.
Dunia persilatan golongan putih gempar. Sementara, kaun hitam geger. Mereka tak habis pikir, bagaimana orang-orang andalan bisa menghilang tak tahu rimbanya atau mati mengenaskan. Selama ini, tak pernah terjadi tokoh-tokoh berilmu tinggi bisa rontok satu persatu dalam waktu begitu cepat.
Beberapa orang saksi yang sempat melihat kejadian penculikan atau pembantaian, tak punya kesempatan untuk menyimpan nyawa lagi. Mereka mati mengenaskan, sama dengan korban yang bersikeras melawan. Seorang saksi mata yang sempat menyaksikan kejadian dengan mata kepala sendiri beruntung bisa pulang selamat. Entah kenapa, Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi tidak mengetahui saat orang itu bersembunyi di atas sebuah pohon besar. Padahal, kedua manusia itu memiliki telinga yang amat tajam. Atau mungkin, orang itu sengaja dibiarkan hidup agar berita kemunculan mereka berdua dapat diketahui oleh seantero warga persilatan.
“Aku tahu. siapa yang menculik tokoh-tokoh persilatan!” teriak orang itu.
Dia memang melihat peristiwa penculikan seorang tokoh golongan hitam di pinggiran hutan. Mendengar teriakan itu, orang-orang di sebuah dermaga kecil langsung mengerubungi. Sudah sejak lama mereka ingin mengetahui kabar seperti ini. Mereka penasaran, tapi tak pernah ada yang tahu. Berita yang dibawa orang ini membuat rasa penasaran meledak saat itu juga.
“Apa yang kau bilang tadi?” tanya seseorang di antara kerumunan.
“Aku tahu, siapa yang menculik tokoh-tokoh persilatan belakangan ini!” ulang si Pembawa Berita berkobar-kobar.
“Siapa?!”
“Ya, siapa?”
“Ah! Kau jangan coba-coba ngibul, ya!”
Si Pembawa Berita mulai bercerita.
“Sewaktu aku sedang tidur-tiduran di batang pohon, kudengar suara orang bertengkar. Suara mereka keras dan lantang. Tak lama kemudian, disusul suara perkelahian seru. Wih! Baru kali ini kulihat pertempuran yang begitu hebat. Bayangkan saja....”
“Jangan bertele-tele, bodoh!” sentak salah seorang pendengar, merasa kesal.
“Iya-iya! Ketika aku melihat siapa yang berkelahi, ternyata seorang pemuda berperawakan menyeramkan. Apalagi, wajahnya. Iiih.... Dia sedang merangsek orang tokoh yang bernama Iblis Mata Darah. Kalian tentu tahu Iblis Mata Darah, bukan? Nah, pada saat itulah si Iblis Mata Darah bertanya siapa pemuda itu sesungguhnya. Juga, orang tua yang sedang menonton pertarungan. Kalau yang tua mengaku sebagai Hakim Tanpa Wajah. Sedangkan yang muda berjuluk Manusia Dari Pusat Bumi. Kemudian kata mereka lagi, semua tokoh persilatan akan diadili di Pengadilan Perut Bumi. Gila tidak?! Gila tidak?!”
“Kau yang gila!”
“E, tidak percaya dengan ceritaku?!”
“Bukan! Kau cerita terlalu seru, sampai ludahmu muncrat ke mukaku. Slompret, kau!”
Lalu desas-desus pun membentang ke segenap penjuru angin. Berita tentang Hakim Tanpa Wajah dengan Manusia Dari Pusat Bumi dengan cepat menjadi bahan perguncingan yang tak pernah basi. Orang-orang dunia persilatan yang sadar kalau bisa jadi korban berikutnya, mulai hati-hati melangkah. Beberapa orang bahkan mulai membuat kelompok-kelompok tertentu, agar bila suatu saat kedua manusia menggemparkan itu muncul, bisa dihadapi bersama-sama.
Namun begitu, dari hari ke hari, korban tetap saja bertambah. Sudah hampir empat belas orang jajaran berilmu tinggi telah menerima giliran. Siapa lagi yang akan menyusul, tak ada seorang pun tahu. Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi muncul tanpa pernah diduga. Setiap saat dan di setiap tempat, keduanya tiba-tiba saja menampakkan diri seperti hantu. Maka, jadilah keduanya momok yang paling menakutkan bagi dunia persilatan belakangan ini. Seperti juga pernah terjadi delapan puluh tahun yang lalu. Peristiwa lama yang sudah dilupakan orang
“Sudah kubilang, kau tak usah ikut campur, Nenek Peot! Sudah tidak pantas bagimu ikut bermain- main seperti ini!”
Lelaki Berbulu Hitam berpindah tempat. Dihampirinya nenek bongkok dengan wajah menyeringai- nyeringai merah. Setibanya di sisi meja, Lelaki Berbulu Hitam menjatuhkan tangannya tanpa tenaga. Belum lagi tangan itu sampai ke permukaan meja, papan dari kayu setebal seperempat jengkal itu terpatah dua bagian! Lagi-lagi, dia hendak pamer kekuatan.
“Huuuaaah!” si Nenek Bongkok menguap lebar-lebar. Gulungan sirih tersembul di antara kuapan mulutnya.
“Itu kekuatan yang sudah ketinggalan zaman buatku, Monyet.”
“Kau bilang aku apa?!” bentak Lelaki Berbulu Hitam kuat-kuat di depan hidung si Nenek Bongkok.
“Kau tak suka kukatakan monyet? Baik, memang mestinya kau kusebut biang monyet....”
Lelaki keturunan serigala itu tak bisa lagi menguasai diri. Itulah sifatnya yang sulit hilang, meski telah menjalani tapa selama puluhan tahun. Itu pula yang menjadi masalah utama bagi dirinya. Tapi dibanding dulu, sekarang ini Lelaki Berbulu Hitam termasuk sabar. Sebelum menyembunyikan diri selama puluhan tahun, seseorang akan langsung dikepruknya hingga mampus jika sekali saja menyindirnya.
“Biar mampus kau, Nenek Keropos!”
Berbareng makian kasar, tangan besar Lelaki Berbulu Hitam terangkat cepat tinggi-tinggi. Sebelum benar-benar sampai ke puncak, tangan itu sudah menukik deras ke kepala nenek bongkok. Telapak tangannya terbuka lebar, seperti sebatang pacul siap memburai lumpur sawah!
Wuk! Prak!
Ubun-ubun nenek bongkok benar-benar telak terkepruk oleh telapak tangan lebar milik Lelaki Berbulu Hitam. Andika sendiri sampai hendak bangkit, untuk menahan tangan itu. Pendekar Slebor yang kesohor ini tahu, keprukan itu tak bisa dianggap remeh. Batu karang sebesar kerbau saja belum tentu sanggup bertahan. Apalagi kepala rapuh si Nenek Bongkok. Tapi, kenyataan yang terjadi malah jauh di luar perkiraan. Sesudah tertimpa tangan besar Lelaki Berbulu Hitam, si Nenek Bongkok menggaruk ubun-ubun. Bahkan bibirnya yang lusuh mengembangkan senyum melecehkan.
“Sudah kubilang, tenagamu sudah ketinggalan zaman. Itu tadi untuk membunuhku, atau untuk membunuh kutu-kutu di kepalaku?”
Siapa yang tak panas dikatakan seperti itu? Apalagi, bagi lelaki berperawakan seram ini. Telinganya serasa disodok sebatang besi panas. Darahnya langsung bergejolak. Sifat-sifat seekor serigala yang mendekam dalam tubuhnya pun terusik. Layaknya serigala murka, mulutnya menyeringai. Untung saja wajahnya tak serupa binatang buas itu.
“
Grrr...!” geram Lelaki Berbulu Hitam sangar.
Si Nenek Bongkok tetap tenang, memperhatikan seluruh tingkah calon lawannya. Tidak tahu, apakah lelaki yang berada dalam puncak kemarahan itu dipedulikan atau tidak. Yang jelas, dia terus saja memamerkan wajah melecehkan. Tangannya berbalut kulit keriput memain-mainkan gulungan sirih di sudut bibir. Tak perlu ada yang memanas-manasi, pertarungan memang akan segera pecah.
“Wah! Urusan jadi runyam,” gumam Andika perlahan sekali di mejanya.
“Kalau orang seperti mereka bertarung di kedai ini, bisa porak-poranda seluruh isinya....”
Untung saja yang ditakutkan Andika tidak terjadi. Si Nenek Bongkok rupanya masih punya sedikit perasaan pada nasib sumber rejeki orang lain. Dengan terseok-seok tubuhnya diangkat dari kursi panjang.
“Tempat ini terlalu kecil buat kita bergurau...,” kata nenek itu sambil melenggang terbungkuk- bungkuk.
***
Sampai saat ini Andika tak tahu, siapa dua manusia aneh yang siap bertukar jurus-jurus sakti dipelataran depan kedai. Juga tentang urusan mereka masing-masing. Semuanya benar-benar tak jelas. Yang jelas Pendekar Slebor yakin kalau tingkat kepandaian mereka berada beberapa tingkat di atasnya. Sementara Pendekar Dungu tetap duduk masa bodoh di kursinya, Andika ikut keluar kedai. Tepat di pintu kedai, tubuhnya disandarkan untuk memperhatikan segala hal dahsyat yang bakal meledak.
Di pelataran kedai, si Nenek Bongkok berdiri terbungkuk-bungkuk. Tangannya terus saja mempermainkan gulungan sirih dari sudut bibir yang satu ke sudut lain. Selama melihat, tak sekalipun Andika menangkap suara tawa wanita tua ini. Andika menilai nenek peot itu termasuk manusia bersifat dingin.
Sekitar delapan tombak di depan si Nenek Bongkok, Lelaki Berbulu Hitam berdiri dengan sikap tak sabar ingin melabrak lawan. Kedua tangannya terlihat meremas-remas jemari, membuat otot-otot tangan gempal itu bermunculan. Sesekali dia menggeram dengan tatapan mata menusuk.
“Ayo! Tunggu apa lagi, Kunyuk Bohongan?” tantang si Nenek Bongkok berbarengan dengan semburan ludah berwarna merah ke bawah kakinya.
Tak perlu lagi banyak basa-basi. Lelaki Berbulu Hitam langsung membuka sepertiga jurus andalannya. Sudah bisa disadari kalau lawan yang bakal dihadapi tidak bisa diladeni dengan jurus tanggung.
“Grrr...!”
Beriring geraman berat serta terseret, lelaki berperawakan buruk itu menelentangkan kuku-kuku jari tangannya di depan wajah. Sesaat setelah terdiam, napasnya dihembuskan ke kuku jari jemarinya.
“Fhuuuh....”
Kuku panjang berwarna hitam serta runcing seperti milik hewan buas itu makin menghitam. Sisi-sisinya tampak berpendar kehijauan. Tak lama kemudian, asap tipis mengambang dari sana.
Wut! Wut! Wut!
Lelaki Berbulu Hitam menggerak-gerakkan tangannya dalam kecepatan menggila. Sepasang cakaran itu seakan hendak menghalau udara di sekitarnya.
“Yeee.... Anak kecil ingusan juga bisa begitu!” ledek si Nenek Bongkok.
Lelaki Berbulu Hitam tak mau lagi mendengarkan setiap kalimat mengolok-olok dari mulut lawan. Dengan satu tarikan napas, diterkamnya bumi sepenuh tenaga. Tak ada yang mengerti, kenapa tindakan bodoh itu dilakukannya. Bahkan Andika juga tidak mengerti. Tapi si Nenek Bongkok tampaknya sudah paham betul tindakan lawannya. Maka sebelah kakinya diangkat tinggi-tinggi, siap menanti serangan lawan selanjutnya.
Di lain pihak, tubuh besar Lelaki Berbulu Hitam yang sudah menimpa tanah berpasir, meluncur seperti papan di permukaan es menuju bagian bawah tubuh si Nenek Bongkok dengan sepasang tangan mencabik-cabik ke depan.
Wuk! Wuk! Wuk!
Ketika tinggal empat kaki dari tubuh Lelaki Berbulu Hitam dari tempatnya, si Nenek Bongkok menghentakkan kakinya yang telah diangkat sebelumnya kuat-kuat ke bumi.
Bammm!
Seketika suara berdebam tercipta. Sepertinya, tak ada yang istimewa dari tindakan nenek itu. Tanah yang dihentaknya tak mengalami apa-apa. Bahkan debu pun tak terlihat mengepul. Amat bertolak belakang dengan bunyi keras yang dihasilkannya. Tapi, siapa nyana kalau hentakan kaki berkesan tak berarti itu sanggup melempar tubuh besar Lelaki Berbulu Hitam dari tanah tempatnya terseret? Dan yang terjadi memang demikian. Lelaki Berbulu Hitam seperti disentak kekuatan dasar bumi, hingga tubuhnya meluncur ke atas!
Di udara, lelaki penuh bulu itu terperangah. Matanya melotot besar-besar. Tangan dan kakinya bergerak kalang-kabut, sebelum akhirnya mampu menguasai keseimbangan dengan memutar tubuh di udara ke samping. Dengan cara itu, dia bisa melepaskan diri dari dorongan kuat dari bawah.
Jleg!
Hanya dalam satu tarikan napas, lelaki itu sudah berdiri tegak kembali. Sekarang, wajah murkanya sudah terdepak entah ke mana, berganti dengan mimik keterkejutan.
“Kau...,” kata Lelaki Berbulu Hitam terputus.
Jari berbulunya menunjuk ke arah nenek bongkok. Matanya menatap tak berkedip, seakan sedang melihat setan memakai gincu.
“Hek... hek... hek!”
Untuk pertama kalinya, si Nenek Bongkok memperdengarkan tawa.
“Kau mulai mengenaliku?” tanya nenek itu dengan suara tak lagi sama seperti semula. Kali ini terdengar agak besar dan mantap.
“Hanya, seorang yang bisa melumpuhkan jurus maut ‘Serigala Tak Berkaki’ milikku dengan cara seperti tadi,” ucap Lelaki Berbulu Hitam nada suaranya tak setinggi sebelumnya.
“Kau pasti....
“Ya, pasti!” terabas si Nenek Bongkok.
Tubuh bongkok nenek itu tiba-tiba menegak. Satu demi satu dilepasnya punuk, rambut panjangnya, kemudian wajah keriput seperti mencopot topeng. Memang, sesungguhnya itu hanya sekadar topeng yang dibuat begitu halus, sehingga amat mirip dengan wajah nenek tua sesungguhnya. Sekarang bisa dilihat wajah dan tubuh asli si Nenek Bongkok tadi. Dia ternyata seorang kakek seusia Pendekar Dungu. Dagunya ditutup bulu putih lebat, tak begitu panjang. Kepalanya dibelit kain batik seperti blangkon Sunda, menutupi rambutnya yang putih tak terlalu panjang. Seperti juga Pendekar Dungu, laki-laki tua ini pun berwajah kerut-merut. Namun begitu, gigi-giginya masih lengkap. Itu terlihat sewaktu tertawa lepas. Dia mengenakan baju coklat berkerah pendek yang tertutup rapat. Sedangkan celananya berupa pangsi warna hitam.
“Raja Penyamar! Tak kuduga kau sudah sepeot Pendekar Dungu...,” kata Lelaki Berbulu Hitam.
“Ya! Rupanya kita berjodoh untuk bertemu lagi, meski jarak puluhan tahun telah memisahkan kita!” balas lelaki tua yang disebut sebagai Raja Penyamar.
“Nah, sekarang cukup sudah salam perjumpaan kita. Aku pergi dulu...!”
Lelaki tua itu lantas pergi tanpa memberi kesempatan Lelaki Berbulu Hitam berkata lagi sepatah kata. Kepergian Raja Penyamar cukup mengejutkan Andika. Cara perginya membuat pemuda itu teringat pada peristiwa beberapa hari yang lalu. Sama seperti wanita cantik dan genit yang menggodanya dulu, si Tua Raja Penyamar pun berlalu cepat dari satu tempat, ke tempat lain tanpa terlihat menggerakkan badan sedikit pun. Dan Andika lebih terperanjat lagi, manakala hidungnya mencium wangi kembang sedap malam sepeninggalan Raja Penyamar.
“Astaga! Jadi kakek tua itu yang dulu menyamar menjadi wanita cantik,” bisik Pendekar Slebor.
“Hi...hi... hi.”
Andika melepas tawa kecilnya, membayangkan dirinya berkencan dengan kakek bangkotan kalau dulu sempat tergoda.
***
Empat hari setelah peristiwa di kedai, Pendekar Slebor berjalan melintasi satu lereng di kaki bukit cadas. Bertepatan dengan peristiwa di kedai, empat hari lalu pula di sana terjadi pertempuran sengit antara Lima Gembel Busuk melawan Manusia Dari Pusat Bumi. Mata tajam Andika langsung menangkap tanda-tanda tak beres. Setelah menemukan beberapa lubang kasar bekas pukulan di dinding cadas sekitarnya.
“Ada yang bertarung seru di tempat ini belum lama, rupanya,” simpul Andika saat memperhatikan kerusakan di dinding cadas.
Dari kedalaman lubang di sana, Andika bisa memperkirakan kalau orang yang bertarung termasuk berkepandaian tinggi. Kalau berkepandaian tanggung, tak mungkin mampu membuat lubang sedalam dua jengkal di tempat yang keras seperti itu. Satu depa di sekitar lubang, dinding cadas menjadi rapuh seperti bubuk. Pertanda kalau ada kekuatan pukulan lain, menyebar di sekitar tangan yang menembus dinding cadas.
“Ilmu pukulan macam apa ini? Selama ini, tak pernah kutemukan pukulan seganas ini. Angin pukulan di sekitar tangan pemiliknya saja, sudah sanggup meremukkan cadas hingga menjadi leburan halus,” gumam Andika, mengagumi kehebatan pemilik pukulan.
Perhatian Andika pada dinding yang porak-poranda di beberapa bagian, terpenggal oleh suara halus dibelakangnya. Seperti desah napas terseret seseorang yang sedang sekarat. Andika cepat menoleh. Seketika matanya melihat seorang dalam keadaan amat payah, sedang berusaha menggerakkan tubuh dari balik sebongkah batu besar. Tak tampak ada darah di sekujur tubuhnya. Namun dari batas bahu hingga setengah tulang iga kanan tubuh lelaki itu tampak mengering seperti daging layu. Lelaki itu tak lain adalah Damarsuta, anggota Lima Gembel Busuk yang berkaki pincang.
“Apa yang terjadi, Kang?” tanya Andika, setelah bergegas menghampiri Damarsuta.
Damarsuta tak sanggup menyahuti pertanyaan Andika. Untuk menggerakkan mulut saja sudah sulit. Beberapa saat, dia seolah berjuang antara hidup dan mati hanya untuk membisikkan sesuatu. Andika cepat mendekatkan telinga ke mulut Damarsuta.
“Hak... kim Tanpa Waj-jahh...,” bisik Damarsuta lirih.
Setelah itu tak terdengar apa-apa lagi. Tidak juga tarikan napas. Lelaki pincang itu mati dalam Keadaan mengenaskan. Keadaan sebenarnya sudah tak memungkinkan lagi untuk bertahan hidup sekian lama. Namun karena tekadnya untuk memberitahu-kan seseorang demikian kuat, nyawanya pun sanggup dipertahankan untuk beberapa lama. Empat hari dia tersiksa hanya untuk menyampaikan kalimat pendek tadi. Andika mengatupkan kelompak mata Damarsuta dengan telapak tangan.
“Siapa manusia sinting bernama Hakim Tanpa Wajah itu?” bisik Pendekar Slebor nyaris berdesis karena geram.
“Selama berkubang di dunia persilatan, julukan itu belum pernah kudengar. Tapi kalau kutilik dari ilmu pukulan di dinding cadas, aku yakin dia tokoh jajaran atas yang sudah cukup lama hadir di dunia persilatan. Apa mungkin orang itu muncul lebih dulu, lalu ketika aku muncul dia menyembunyikan diri? Dan kini, dia muncul lagi?”
Penasaran dengan petunjuk tak jelas dari lelaki itu, Andika lalu memeriksa mayat Damarsuta. Dari baju bertambalnya, tak ditemukan apa-apa yang bisa dijadikan petunjuk.
“Buntu,” gumam Andika lagi.
Pendekar Slebor pun bangkit hendak pergi dari tempat itu. Sebelum benar-benar melangkah, sebuah seruan menahannya.
“Anak muda! Jangan coba-coba melarikan diri!”
Secepatnya Andika menoleh. Tak jauh di lereng sebelah timur, tampak dua lelaki yang pernah dilihatnya di kedai empat hari lalu berjalan beriringan. Tentu saja mereka adalah Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu.
“Ah! Orang-orang sinting itu lagi,” gerutu Andika.
“Ada apa, Orang Tua?”
“Jangan sok ramah! Katakan saja pada kami, kau murid si Sundal Hakim Tanpa Wajah, bukan?!” bentak Lelaki Berbulu Hitam tanpa tedeng aling-aling.
Andika kontan tertawa. Betapa geli hatinya mendengar tuduhan tak beralasan si Lelaki Ganjil itu. Jangan lagi menjadi murid, mengenal namanya saja baru kali ini!
“Jangan tertawa!” bentak Lelaki Berbulu Hitam sekali lagi.
Andika tentu saja jadi sewot.
“Orang tua! Kau jangan bertingkah seperti penguasa, mengatur-ngatur mulut orang seenaknya. Orang berbicara ini tidak boleh, itu tidak boleh, tertawa tidak boleh! Apa kau mau aku menangis?! Seperti penguasa lalim yang lebih senang, membuat rakyat menangis daripada tertawa?!” khotbah Pendekar Slebor menggebu-gebu.
“Huaaa... ha... ha!” Entah kenapa Pendekar Dungu tertawa mendengar semprotan kata-kata dari mulut Andika.
“Jangan tertawa!” hardik Andika, ikut-ikutan tingkah Lelaki Berbulu Hitam padanya tadi.
“Kau terlalu banyak mulut, Anak Muda. Apa susahnya kau katakan pada kami, kalau kau adalah murid Hakim Tanpa Wajah?” desak Lelaki Berbulu Hitam.
“Kenapa aku harus mengaku?”
“Ya, harus! Kalau tidak, tahu sendiri!”
“Meski aku mengakui sesuatu yang tidak benar?”
“Kau mau bilang, kalau kau bukan murid Hakim Tanpa Wajah?”
“Aku memang bukan muridnya....”
“Jangan mungkir. Sebelum tiba di tempat ini, aku sudah melihat dari jauh bekas pukulan di dinding cadas itu!”
Lelaki Berbulu Hitam menunjuk ke salah satu bekas pukulan di dinding cadas.
“Aku tahu pemilik pukulan itu! Kalau ada orang yang memiliki pukulan ganas itu, tentu dia adalah muridnya!” lanjut Lelaki Berbulu Hitam
“Hakim Tanpa Wajah?”
“Nah, buktinya kau kenal dia!” sergah Lelaki Berbulu Hitam.
“Tentu saja aku tahu nama itu, bukankah kau sudah menyebutnya beberapa kali tadi!” balas Andika.
“O, iya. Aku lupa....” Lelaki Berbulu Hitam mengangguk-angguk sebentar.
“Kenapa aku jadi ketularan penyakitnya si Dungu? Sialan!”
Selagi Lelaki Berbulu Hitam sibuk dengan dirinya sendiri, Andika mempergunakan kesempatan itu untuk melesat pergi. Segenap kemampuan larinya segera dikerahkan, biar bisa cepat enyah dari dua manusia sinting yang bisa membuatnya jadi ikut sinting.
“Hey, jangan lari!” tahan Lelaki Berbulu Hitam gusar.
“Hey, lari saja!” teriak Pendekar Dungu, tanpa tahu apa-apa.
Sambil mencaci maki habis Pendekar Dungu, Lelaki Berbulu Hitam lari secepat kilat mengejar Andika. Di belakangnya, Pendekar Dungu mengekori sambil terus bertanya-tanya sendiri.
“Apa salahku, ya...? Apa salahku...?”
***
Hakim Tanpa Wajah dengan murid ajaibnya, Manusia Dari Pusat Bumi kian unjuk taring. Seperti mengulang kejadian delapan puluh tahun yang lalu, satu demi satu tokoh persilatan diculik. Mereka menghilang tanpa jejak, seakan ditelan bumi. Tak jarang di antara mereka mati di tempat kejadian, karena berusaha melawan.
Dunia persilatan golongan putih gempar. Sementara, kaun hitam geger. Mereka tak habis pikir, bagaimana orang-orang andalan bisa menghilang tak tahu rimbanya atau mati mengenaskan. Selama ini, tak pernah terjadi tokoh-tokoh berilmu tinggi bisa rontok satu persatu dalam waktu begitu cepat.
Beberapa orang saksi yang sempat melihat kejadian penculikan atau pembantaian, tak punya kesempatan untuk menyimpan nyawa lagi. Mereka mati mengenaskan, sama dengan korban yang bersikeras melawan. Seorang saksi mata yang sempat menyaksikan kejadian dengan mata kepala sendiri beruntung bisa pulang selamat. Entah kenapa, Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi tidak mengetahui saat orang itu bersembunyi di atas sebuah pohon besar. Padahal, kedua manusia itu memiliki telinga yang amat tajam. Atau mungkin, orang itu sengaja dibiarkan hidup agar berita kemunculan mereka berdua dapat diketahui oleh seantero warga persilatan.
“Aku tahu. siapa yang menculik tokoh-tokoh persilatan!” teriak orang itu.
Dia memang melihat peristiwa penculikan seorang tokoh golongan hitam di pinggiran hutan. Mendengar teriakan itu, orang-orang di sebuah dermaga kecil langsung mengerubungi. Sudah sejak lama mereka ingin mengetahui kabar seperti ini. Mereka penasaran, tapi tak pernah ada yang tahu. Berita yang dibawa orang ini membuat rasa penasaran meledak saat itu juga.
“Apa yang kau bilang tadi?” tanya seseorang di antara kerumunan.
“Aku tahu, siapa yang menculik tokoh-tokoh persilatan belakangan ini!” ulang si Pembawa Berita berkobar-kobar.
“Siapa?!”
“Ya, siapa?”
“Ah! Kau jangan coba-coba ngibul, ya!”
Si Pembawa Berita mulai bercerita.
“Sewaktu aku sedang tidur-tiduran di batang pohon, kudengar suara orang bertengkar. Suara mereka keras dan lantang. Tak lama kemudian, disusul suara perkelahian seru. Wih! Baru kali ini kulihat pertempuran yang begitu hebat. Bayangkan saja....”
“Jangan bertele-tele, bodoh!” sentak salah seorang pendengar, merasa kesal.
“Iya-iya! Ketika aku melihat siapa yang berkelahi, ternyata seorang pemuda berperawakan menyeramkan. Apalagi, wajahnya. Iiih.... Dia sedang merangsek orang tokoh yang bernama Iblis Mata Darah. Kalian tentu tahu Iblis Mata Darah, bukan? Nah, pada saat itulah si Iblis Mata Darah bertanya siapa pemuda itu sesungguhnya. Juga, orang tua yang sedang menonton pertarungan. Kalau yang tua mengaku sebagai Hakim Tanpa Wajah. Sedangkan yang muda berjuluk Manusia Dari Pusat Bumi. Kemudian kata mereka lagi, semua tokoh persilatan akan diadili di Pengadilan Perut Bumi. Gila tidak?! Gila tidak?!”
“Kau yang gila!”
“E, tidak percaya dengan ceritaku?!”
“Bukan! Kau cerita terlalu seru, sampai ludahmu muncrat ke mukaku. Slompret, kau!”
Lalu desas-desus pun membentang ke segenap penjuru angin. Berita tentang Hakim Tanpa Wajah dengan Manusia Dari Pusat Bumi dengan cepat menjadi bahan perguncingan yang tak pernah basi. Orang-orang dunia persilatan yang sadar kalau bisa jadi korban berikutnya, mulai hati-hati melangkah. Beberapa orang bahkan mulai membuat kelompok-kelompok tertentu, agar bila suatu saat kedua manusia menggemparkan itu muncul, bisa dihadapi bersama-sama.
Namun begitu, dari hari ke hari, korban tetap saja bertambah. Sudah hampir empat belas orang jajaran berilmu tinggi telah menerima giliran. Siapa lagi yang akan menyusul, tak ada seorang pun tahu. Hakim Tanpa Wajah dan Manusia Dari Pusat Bumi muncul tanpa pernah diduga. Setiap saat dan di setiap tempat, keduanya tiba-tiba saja menampakkan diri seperti hantu. Maka, jadilah keduanya momok yang paling menakutkan bagi dunia persilatan belakangan ini. Seperti juga pernah terjadi delapan puluh tahun yang lalu. Peristiwa lama yang sudah dilupakan orang
0