Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR
PENDEKAR SLEBOR


Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.

Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).

Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan

Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.

Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..

Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.

Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..

And Here We Go.....

I N D E K S


Spoiler for Indeks 1:



TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya


GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
anasabilaAvatar border
regmekujoAvatar border
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#143
Part 4

“Mau apa?” kata Andika.

“Mak... maksud saya, Kakang mau mesan apa?”

Andika menatap lurus-lurus sepasang bola lentik Ni Warsih. Dan ini membuat wanita itu makin gugup. Dadanya jadi terasa sesak.

“Kalau memesan Nisanak sendiri boleh?” goda Andika sambil mengerling.

Mendadak saja Ni Warsih tambah megap-megap, semakin parah. Selanjutnya.... Bruk! Wanita itu ambruk, semaput dengan mata terbelalak ke atas. Tinggal Andika yang hanya bisa garuk-garuk kepala. Cepat Ningsih menubruk rekannya, untuk menyadarkan. Sebentar saja, Ni Warsih siuman.

Ni Warsih kini dibawa masuk oleh Ningsih. Meski sudah siuman, tapi sama sekali belum bisa bangun. Kakinya masih lemas. Sampai Ningsih muncul, Ni Warsih belum menampakkan batang hidungnya kembali. Maka ‘Rejeki’ Ni Warsih pun diambil alih oleh wanita berkebaya merah ini. Dilayaninya Andika dengan mata terus melirik-lirik nakal. Dasar perempuan!

Sewaktu Andika mulai menyantap hidangan, dua lelaki asing masuk. Tidak hanya asing, keduanya juga ganjil. Seorang tampak begitu rua renta. Bertopi pandang lusuh, serta berpakaian tambalan di sana-sini. Meski agak bongkok, jalannya tetap sigap. Alis matanya tampak memanjang, hingga menutupi kelopak mata dengan warna putih.

Seorang lagi membuat Ningsih hampir menjerit ketakutan kalau tidak segera mendekap mulut. Bagaimana wanita itu tidak terkejut? Ternyata orang itu ditumbuhi bulu lebat di sekujur tubuhnya. Dikira ada orang utan mau makan siang di tempat ini.

Dari pintu masuk, kedua laki-laki aneh itu sudah tampak tak akur. Satu sama lain saling mengomel tak karuan. Lelaki berbulu, terus saja menghardik-hardik kasar. Sementara, yang lain berbicara ngalor-ngidul, seolah-olah tak mendengarkan teriakan keras lelaki di sebelahnya. Terkadang pula dia balas membentak, setelah itu acuh kembali.

Andika tak peduli pada kedua lelaki tadi. Pemuda itu terus melahap makanan penuh selera. Cara makannya seperti orang yang baru bertemu makanan selama tiga hari. Tak ada lagi tata cara kesopanan buat pemuda itu. Kakinya diangkat, duduk bersila di bangku panjang tempatnya duduk. Mangkuk air tempat mencuci tangan pun tak disentuhnya, meski tangan yang dipakai untuk meraup nasi ke mulut bisa dibilang dekil. Apa mau dikata? Memang begitulah si Pendekar Slebor.

Dua lelaki yang baru datang sudah mengambil tempat di satu sudut kedai, berhadap-hadapan dengan meja Andika. Lelaki tua yang tak lain Pendekar Dungu itu sudah duduk dengan wajah bodoh di kursi panjang. Sepertinya, dia tak tahu apa yang harus dilakukannya dalam kedai. Berbeda orang yang satu lagi, yang tak lain Lelaki Berbulu Hitam. Kawan seperjalanan Pendekar Dungu yang pernah menjadi lawan tangguhnya dulu malah terus memaki-maki sambil mengitari meja makan.

“Sudah kubilang! Jangan urus perutmu dulu, sebelum kita temukan orang itu, Dungu!” hardik Lelaki Berbulu Hitam dengan urat leher tertarik.

“Pantas saja otakmu jadi bebal. Karena, yang kau pikirkan hanya makan!”

Pendekar Dungu melirik sejenak pada lelaki kalap tadi. Lalu, matanya kembali tertegun-tegun ke arah meja makan.

“Jangan berlagak bodoh! Kau pasti dengar ucapanku!” sambung Lelaki Berbulu Hitam.

Namun, setelah itu Lelaki Berbulu Hitam menampar keras-keras kening sendiri.

“Siapa bilang dia berlagak bodoh! Memang dari dulu sudah bodoh!” gumam laki-laki berbulu itu.

Karena wataknya yang keras, gumamannya pun tak terdengar seperti gumaman. Bagi yang mendengarnya, gumaman itu dianggap teriakan.

“Dunguuu! Kita mesti keluar dari tempat celaka ini!” seru Lelaki Berbulu Hitam tak tanggung-tanggung. Kekesalannya yang memuncak, telah membuatnya mengerahkan tenaga dalam bersama teriakannya.

Saat itu juga, dinding kayu kedai bergetar dan retak. Meja dan kursi terangkat mendadak. Piring-piring tanah liat di meja Andika juga ikut menjadi korban. Semuanya pecah berpetalan. Sementara wanita pelayan di ruang dalam kedai langsung mendekap telinga masing-masing dengan wajah menahan sakit.

Sedangkan Andika tetap tenang, meski telinganya sempat terasa nyeri. Tanpa kentara, Pendekar Slebor menyalurkan hawa murni ke gendang telinga untuk meredam tenaga dalam kuat yang mencoba merangsek ke dalam. Di samping itu, Andika juga mengirim hawa murni ke ruang dalam kedai, agar gelombang teriakan hebat Lelaki Berbulu Hitam tidak begitu mencelakakan dua pelayan wanita di sana.

Setelah berteriak kalap, Lelaki Berbulu Hitam agak menurun kemarahannya. Kakinya melangkah menghampiri kursi di depan Pendekar Dungu dengan bersungut-sungut. Dengan rasa kesal, didudukinya kursi itu. Baru saja tubuh gempalnya turun pada kursi....

Bruk!

Kursi kayu kontan terbelah dua, membuat Lelaki Berbulu Hitam terjatuh duduk di lantai kedai. Salahnya sendiri. Teriakan bertenaga dalamnya tadi, telah membuat kursi kayu itu retak. Sewaktu dibebani tubuh besarnya, tentu saja tak kuat lagi bertahan.

“Siaaal!”

Lelaki Berulu Hitam berteriak kuat-kuat lagi. Tapi lagi-lagi dia harus menelan getah dari perbuatannya. Langit-langit kedai yang memang sudah keropos segera berjatuhan. Pecahannya sebagian masuk tanpa permisi ke mulutnya yang lebar.

“Afh... glek!”

“Astaga! Rupanya kau telah memesan makanan lebih dahulu! Dasar culas! Kenapa tak ajak-ajak aku makan?!” maki Pendekar Dungu, sewaktu telinganya menangkap suara mulut Lelaki Berbulu Hitam menelan sesuatu.

Lelaki gempal berbulu yang terduduk di lantai, mendelik mata sebesar-besarnya. Ucapan lugu Pendekar Dungu terdengar di telinganya sebagai hinaan. Tak lama kemudian, Lelaki Berbulu Hitam mulai mengomel-ngomel lagi. Mulai dikitarinya meja tempat Pendekar Dungu sambil berkacak pinggang serta mencak-mencak serabutan.

Belum habis omelan Lelaki Berbulu Hitam masuk lagi seorang nenek-nenek peot berpunuk besar, seperti seekor onta. Rambutnya putih panjang. Karena terlalu panjang, rambut itu terseret-seret menyapu lantai kedai. Wajah nenek tua ini bukan hanya keriput, tapi sudah begitu kendor. Pipinya menggelantung ke sisi rahang. Matanya tak kalah parah, memutih tanpa warna hitam lagi. Sementara, bibirnya yang berkerut-kerut, terus saja memamah sirih. Sesekali disekanya cairan sirih di sudut bibir dengan lengan baju yang berwarna jingga terang kebesaran.

“Ugh..., uhugh... ugh!”

Nenek itu terbatuk-batuk. Dilewatinya meja Andika tanpa mau ambil pusing untuk menegur. Tanpa rasa bersalah, air sirih kental di mulutnya diludahkan sembarangan. Masih wajar kalau singgah di bawah meja Andika. Tapi, air sirih menjijikkan itu justru mampir di bibir gelas bambu tempat minum pemuda ini. Pendekar Slebor jadi mendengus. Pangkal hidungnya kontan terlipat. Kalau saja bukan orang lanjut usia yang berbuat seperti itu, sudah disodoknya mulut orang itu dengan kepalan!

Dua meja setelah tempat Andika, nenek itu mendapat tempat yang dianggap cukup nyaman. Dia duduk menghadap jendela besar sebelah timur, sehingga angin menyapu wajah kendornya. Wajahnya bagai dibelai-belai, hingga matanya berkedip-kedip lamban seperti orang sekarat. Sebentar kemudian, nenek itu sudah merebahkan diri melepaskan dengkurnya yang keras.

“Sebenarnya, nenek sial ini hendak makan atau hanya numpang tidur,” gerutu Andika, merasa terusik kenyamanannya.

Betapa tidak terusik? Sudah piring-piringnya hancur oleh teriakan sinting Lelaki Berbulu Hitam, gelas bambunya disinggahi benda nyasar, kini ada pula senandung yang sungguh mati tak sedap masuk telinga.

Sementara Lelaki Berbulu Hitam tak bosan-bosannya mencaci maki Pendekar Dungu, nenek tua yang tak kalah bangkotan tadi dengan tenang menikmati mimpinya. Sirih di mulut peot itu tak juga dibuang. Air liur berwarna merah sirih pun mulai mengalir lambat tanpa dosa.

Andika sudah tak tahan lagi. Seacuh-acuhnya pemuda ini, tak akan bisa menahan jijik kala menatap air liur kental itu. Nasi yang tersisa beberapa kepal lagi di piringnya yang sebagian masih utuh ditinggal begitu saja.

“Niii!” panggil Andika pada pelayan.

Pelayan wanita berkebaya merah keluar tergopoh-gopoh ke arahnya. Wajahnya masih tetap berkerut ketakutan. Sedang matanya tak berani sedikit pun melirik ke arah para tamu lain, kecuali Andika.

“Ada apa, Kang?” tanya Ningsih pada Andika.

“Kenapa orang-orang sinting itu tidak dilayani?” tanya Andika.

Dia ingin, agar para pengunjung aneh itu cepat-cepat diam karena sibuk dengan makanan yang dihidangkan.

“Mana aku berani melayani kalau mereka sinting,” bisik Ningsih dengan mendekatkan mulut ke telinga Andika.

“Siapa yang bilang mereka sinting?” tanya Andika bingung.
“Lho? Kakang tadi bukan bilang begitu?”

“Aku tadi hanya dongkol. Jadi kusebut mereka sinting,” tandas Andika tanpa hendak menurunkan suara.

“Siapa yang sinting?!”

Mendadak saja, Lelaki Berbulu Hitam, tokoh kelas atas yang ditakuti pada zamannya, berseru murka. Hatinya kontan tersinggung pada ucapan Andika. Memang, hanya orang tuli yang tak mendengar ucapan pemuda urakan yang cukup keras tadi. Sementara wanita berkebaya merah itu langsung terlonjak kaget. Dia hampir meloncat, karena begitu kagetnya. Matanya terbelalak, sedang mulutnya terbuka lebar. Jangan ditanya, bagaimana pucat pasinya wajah Ningsih saat itu.

“Siapa yang sinting?!” ulang Lelaki Berbulu Hitam.

Dihampirinya Pendekar Slebor dengan langkah berdebam-debam. Namun, pemuda yang didekati hanya tersenyum-senyum menikmati kekalapan lelaki berpenampilan bagai orang utan itu. Sementara, pelayan wanita berkebaya merah sudah terbirit-birit ke dalam sejak tadi. Masih bagus kalau tak terkencing-kencing di celana.

“Kau yang barusan bilang aku orang sinting?!” tanya Lelaki Berbulu Hitam, tak merasa harus sopan sedikit pun. Matanya sudah mendeliki Andika.

“Aku tidak bilang begitu,” sangkal Andika.
“Yang kukatakan, kalian bertiga....”

“Kenapa kami bertiga?”
“Ya, sinting....”
“Pemuda busuk tak tahu adat!”

Lelaki Berbulu Hitam seketika meniup serakan piring di meja Andika. Pecahan piring pun berhamburan secepat kilat ke wajah Pendekar Slebor. Sungguh suatu pamer kekuatan yang mengagumkan! Andika yang merasa mendapat tantangan adu kekuatan, dengan sigap meniup kembali pecahan piring itu ke arah lelaki di depannya. Mula-mula, pecahan piring itu berhenti di udara. Dan sesaat kemudian berbalik meluncur ke wajah Lelaki Berbulu Hitam.

Di tengah jalan, pecahan piring tanah liat itu tertahan lagi. Bukan karena ulah Lelaki Berbulu Hitam. Nyatanya, mulut laki kasar itu memang belum lagi tampak bergerak. Lalu, siapa yang usil ingin ikut campur adu kekuatan yang dimiliki orang-orang kalangan atas itu?

***



Sementara itu di bukit karang, di mana Lima Gembel Busuk dihadang Manusia Dari Pusat Bumi. Pertarungan satu lawan lima telah memasuki jurus ke sembilan puluh. Sebenarnya, Lima Gembel Busuk sanggup membuat tekanan pada pemuda itu. Pukulan tangan mereka serta hantaman tongkat milik si Pincang, berkali-kali menjebol benteng pertahanan Manusia Dari Pusat Bumi. Namun sampai sejauh itu, Manusia Dari Pusat Bumi mampu meredam seluruh hajaran di tubuhnya dengan cara aneh.

Lima Gembel Busuk benar-benar tak habis pikir, kenapa pemuda itu seperti memberi kesempatan pada mereka untuk mendaratkan pukulan atau hantaman. Dan sewaktu mereka merasakan satu sengatan luar biasa setiap kali berhasil mendaratkan serangan, barulah disadari. Sudah berkali-kali pukulan tokoh ternama dari wilayah timur itu berhasil memakan bagian demi bagian tubuh Manusia Dari Pusat Bumi. Namun, yang semakin melemah justru keadaan tubuh mereka.

Tenaga lima lelaki ini seperti disedot oleh kekuatan tak terlihat sebagian demi sebagian. Meski agak terlambat, Kamajaya, orang yang paling berpengaruh di antara mereka, segera memberi aba-aba.

“Hentikan serangan!” seru Kamajaya cepat.
“Kita akan kehabisan tenaga kalau terus mendaratkan serangan ke tubuhnya!”

Di lain tempat, Hakim Tanpa Wajah ikut terkejut dengan kemampuan tak terduga murid tunggalnya. Selama ini, dia hanya menurunkan ilmu-ilmunya yang diserap secara baik. Kalupun pemuda ini belum begitu lihai memainkan setiap jurus ajaran Hakim Tanpa Wajah, penyebabnya hanya karena usianya yang terlalu hijau. Sehingga, dia belum begitu berpengalaman dalam medan tempur. Dengan kemampuan di luar dugaan tadi, Manusia Dari Pusat Bumi justru memanfaatkan kekurangannya untuk menguras tenaga lawan.

“He... he... he! Pintar, Bocah Bagus! Kau memang murid yang bisa diandalkan! Ada baiknya kau tidak hanya menjadi muridku, tapi sekaligus jadi seorang ‘Penuntut Pengadilan Perut Bumi’. He... he... he!” kata Hakim Tanpa Wajah dari tempatnya berdiri.

Bukan main berbunganya hati lelaki bangkotan itu menyaksikan para calon orang hukumannya mundur teratur, menghadapi pemuda hijau yang sesungguhnya baru berusia teramat muda.

Di kancah pertarungan, lima Gembel Busuk sudah bersiap-siap memainkan jurus andalan ‘Benteng Angin’. Mula-mula, lima lelaki itu mengatur keberadaan masing-masing dalam bentuk lingkaran lima belas tombak di sekitar pemuda itu. Setapak demi setapak, mereka maju dengan langkah teratur dan pasti menuju pusat sasaran serangan. Ketika tinggal sekitar tiga tombak lagi, mereka serempak mengerahkan kembangan jurus masing-masing, seolah hendak membingungkan lawan. Lalu pada waktunya, tenaga sembrani mereka dilepaskan dari kedua belah telapak. Tenaga yang sanggup membuat mereka menggabungkan tenaga pada telapak tangan langsung membentuk lingkaran, mengurung Manusia Dari Pusat Bumi seperti gelang tembus pandang.

Dinginnya wajah Manusia Dari Pusat Bumi tak berubah sediki pun menghadapi jurus andalan yang amat kesohor di wilayah timur itu. Selama ‘Benteng Angin’ dipergunakan Lima Gembel Busuk, belum ada seorang lawan pun yang sanggup mengungguli. Tapi bagi lelaki belia berperawakan manusia berusia dua puluh limaan itu, mungkin hanya mainan tak berarti.

“Heaaa!”

Adu kedigdayaan dimulai kembali. Manusia Dari Pusat Bumi membuat terjangan lebih dahulu. Hatinya sudah tak sabar ingin segera menyelesaikan pekerjaan. Yang jadi sasaran pertama adalah si Pincang. Jurus yang diturunkan gurunya mulai dikerahkan pada tingkat yang sulit ditandingi. Delapan puluh tahun yang lalu, jurus itu pernah menjatuhkan berpuluh-puluh tokoh jajaran atas. Pada waktu itu, jika Hakim Tanpa Wajah sudah merangsek dengan kaki menjejak-jejak dengan bumi penuh tenaga, maka para lawannya seketika menjadi gentar. Karena mereka tahu kalau dia telah memainkan jurus ‘Tenaga Sakti Pembelah Bumi’.

Setelah sekian lama terkubur masa, jurus tangguh itu tak lagi muncul. Orang pun tak pernah lagi melihatnya seperti tak pernah lagi melihat Hakim Tanpa Wajah. Kalaupun masih ada yang mengenali jurus itu, hanya terbatas pada tiga saingan utama Hakim Tanpa Wajah. Yakni, Pendekar Dungu, Raja Penyamar, dan Lelaki Berbulu Hitam.

Namun begitu, tak luput dari kelima lawannya bertanya-tanya heran. Jurus apa yang bisa membuat permukaan tanah bergetar seperti ada seekor naga raksasa sedang bergeliat di dasar bumi?

***


Jauh di tempat lain, tepatnya di sebuah kedai bandar, adu kesaktian para tokoh jajaran atas yang bertemu di satu tempat tanpa sengaja, berlangsung makin hangat. Dua orang sudah dikenal sebagai Lelaki Berbulu Hitam dengan Pendekar Dungu. Keduanya adalah tokoh dari zaman yang jauh berbeda dengan orang ketiga yang dikenali sebagai Pendekar Slebor. Sedangkan tentang nenek bongkok berpunuk, belum ada seorang pun yang tahu tentang dirinya.

Ketika itu, Andika maupun Lelaki Berbulu Hitam disentak oleh keusilan seseorang. Pecahan piring yang meluncur ke wajah Lelaki Berbulu Hitam akibat ditiup balik Andika, mendadak saja berhenti di udara. Sudah pasti ada seseorang yang mengirim tenaga dalamnya yang tak kalah hebat.

Pendekar Slebor serta Lelaki Berbulu Hitam yang memang memiliki indera tajam, segera saja bisa mengendus orang yang berbuat usil. Orang itu duduk menyender pada sisi meja, terpulas dengan liur bercampur sirih. Siapa lagi kalau bukan si Nenek Bongkok. Dengan dengkurnya, diam-diam tenaga dalamnya yang sudah sangat tinggi disalurkan ke arah pecahan piring. Alhasil, kepingan-kepingan kecil tanah liat itu pun tertahan di udara.

“Siaaal!”

Lelaki Berbulu Hitam mulai sewot lagi. Kemarahannya kali ini berpindah ke nenek bongkok.

“Kau jangan sok ikut campur, Perempuan Peot!” hardik Lelaki Berbulu Hitam garang. Matanya mendelik-delik buruk kepada nenek bongkok yang tetap mendengkur.

“Kau mau bibirmu yang sudah mirip gombal itu kusumpal dengan pecahan piring, ya?!”

Dan seketika itu pula Lelaki Berbulu Hitam menggerakkan tangannya, hendak menyambar benda-benda kecil tajam itu di udara. Tapi sebelum tangannya sampai, pecahan-pecahan itu melayang lebih cepat ke atas, kemudian berhenti kembali setelah naik sekitar satu depa.

Sekali lagi, Andika tersentak. Bukan karena tak tahu siapa yang berbuat hal itu. Justru dia tersentak setelah menyadari kalau di sekitarnya kini hadir tiga orang yang tingkat kepandaiannya tak terukur. Kalau tadi si Nenek Bongkok menahan tiupan tenaga dalamnya pada pecahan piring hanya dengan mendengkur, kini pecahan-pecahan tanah liat kering itu dipindahkan ke atas, dalam keadaan tetap melayang oleh Pendekar Dungu di sudut ruangan dengan mengipas-ngipaskan topi pandannya secara santai!

Kini giliran Pendekar Dungu mendapat jatah pelototan mata Lelaki Berbulu Hitam.

“Kau juga jangan ikut-kutan latah, Dungu!” bentak Lelaki Berbulu Hitam.

“Aku tidak mau ‘ikut-ikut’. Makanan macam apa itu? Aku hanya mau makan nasi biasa,” tukas
Pendekar Dungu acuh tak acuh.

“Kenapa kau tak panggil pelayan saja?!”
“Jangan, jangan dipanggil. Biar aku tunggu pelayan itu memanggilku saja...”
“bodoh! Kau pikir, mau makan apa cari pramuria!”
“Aku mau cari nasi biasa! Sudah kubilang tadi, bukan?”
“Gggeeehhh....”

Lelaki Berbulu Hitam menggurutukkan gigi-giginya sendiri. Rahangnya sampai seperti membengkak, karena begitu jengkel dengan kebodohan Pendekar Dungu.

Sementara Andika celingak-celinguk sendiri. Dia tak habis mengerti, apa yang sesungguhnya diributkan kedua lelaki ganjil itu? Dan kenapa pula si Nenek Bongkok usil-usilannya menjahili? Seolah-olah, pemuda itu sedang disuguhkan satu adegan sandiwara rakyat yang penuh guyonan.

Sesekali matanya memperhatikan Pendekar Dungu di sudut kedai. Saat yang lain, diperhatikannya Lelaki Berbulu Hitam yang belum juga beranjak di dekat mejanya. Juga, diawasinya si Nenek Bongkok yang tetap pulas seperti bayi, seakan-akan suara menggelegar-gelegar Lelaki Berbulu Hitam tak pernah bisa mengusiknya.

“Para orang tua! Sebelum kalian melanjutkan pertengkaran, bolehkah aku yang muda ini tahu, siapa kalian sebenarnya?” selak Andika, memotong makian panjang-panjang Lelaki Berbulu Hitam.

“Apa pedulimu!” tandas Lelaki Berbulu Hitam.

“Wah! Kalau namaku, aku tahu. Tapi kalau nama kalian...? sahut Pendekar Dungu sambil berpikir beberapa saat. Setelah itu, dia menggeleng lamban.

“Nyem... nyem... grrr... suiiittt...,”

Nenek bongkok pun ikut menjawab dengan caranya sendiri. Andika meringis. Dirinya yang slebor pun dibuat berdecak-decak oleh sikap ketiga orang itu. Apalagi orang yang waras? Bisa-bisa langsung ngacir dari tempat ini!

“Maksudku, mungkin aku bisa membantu kalian,” ralat Andika.
“Aku tak perlu bantuanmu, Bocah!” sentak Lelaki Berbulu Hitam.

“Ya, Anak Muda. Mana mau manusia keras kepala itu dibantu. Di samping keras kepala, dia juga tinggi hati. Pertolongan orang lain selalu dianggapnya hinaan,” selak nenek bongkok, tanpa sedikit pun membuka kelompak mata keriputnya. Setelah itu, dia meludah.

“Cuih!”

Cairan berwarna merah dari mulut nenek itu terbang cepat, menuju kepingan-kepingan bekas piring yang masih melayang di atas, karena dikendalikan tenaga dalam Pendekar Dungu. Ludah kental itu langsung menyebar ke beberapa arah, menggasak habis pecahan tanah liat keras, lalu mendorongnya kuat ke dinding kedai. Seketika lubang-lubang sebesar jari manusia tercipta, karena kekuatan dalam dari setiap pecahan itu.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.