Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR
PENDEKAR SLEBOR


Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.

Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).

Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan

Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.

Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..

Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.

Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..

And Here We Go.....

I N D E K S


Spoiler for Indeks 1:



TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya


GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
anasabilaAvatar border
regmekujoAvatar border
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.8K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#142
Part 3

Apa yang dinamakan Pengadilan Perut Bumi tetap tersembunyi dari segenap mata penghuni rimba persilatan. Di sana, lelaki bangkotan berkain kafan yang berjuluk Hakim Tanpa Wajah sedang mempersiapkan sesuatu yang akan menggemparkan. Selalu kegemparan yang bakal dimunculkan kembali, setelah terkubur delapan puluh tahun lebih.

Ya! Dia akan mempersiapkan satu pengadilan raya dunia persilatan. Siap mendakwa, lalu menjatuhi hukuman bagi tokoh-tokohnya. Tak seperti dulu, kemunculan pengadilan miliknya kali ini akan lebih menggetarkan nyali. Karena lelaki tua yang merasa dirinya sebagai hakim sejagad, bakal didukung murid tunggal yang baru sekali ini dimiliki. Siapakah murid tunggalnya?

Dialah bayi ajaib yang ditemukan Hakim Tanpa Wajah dari dalam kandungan mayat seorang wanita tak dikenal. Setelah keluar dari perut ibunya, keajaiban makin menjadi-jadi. Tubuhnya berkembang pesat, tak seperti bayi biasa. Paling tidak, bayi lain membutuhkan waktu satu tahun untuk bisa berjalan. Namun si Bayi Ajaib itu hanya perlu waktu satu minggu! Tangan dan kakinya yang semula merah mungil, cepat menjadi kekar. Yang lebih gila lagi, dalam waktu seminggu remasan jarinya sudah mampu menghancurkan batang pohon. Tak ada susu buat pertumbuhannya, yang jadi makanannya hanya akar-akar pohon bakau yang tumbuh di rawa, di atas Pengadilan Perut Bumi.

Hari terus berjalan, sesuai kodratnya. Dua bulan telah berjalan. Sementara pertumbuhan si Bayi Ajaib kian tidak terkendali. Dalam usia sedini itu dia sudah bisa berlari dan melompat kian kemari, menabraki dinding batu di dalam ruang Pangadilan Perut Bumi hingga berguguran. Tubuhnya mulai disarati otot-otot kenyal. Tulangnya makin kokoh. Sedangkan tingginya sudah seperti anak umur sembilan tahun.

Di samping semua itu, wajah si Bayi Ajaib lebih menampakkan keganasan. Mulutnya yang bertaring, seringkali menyeringai layaknya hewan buas. Sepasang matanya seperti milik macan hutan. Bola mata hitamnya tegak lurus, berbentuk pipih. Tidak seperti manusia umumnya, rambutnya berwarna merah menyala seolah-olah dibuat dari bahan batuan neraka. Hakim Tanpa Wajah menamakan bocah itu, Manusia Dari Pusat Bumi. Karena, lahirnya jauh di dasar bumi.

Lalu bagaimana si Bayi Ajaib bisa terkandung dalam perut mayat wanita tak dikenal itu?

Kisahnya dimulai dari sebuah tempat, dalam kelebatan hutan bernama Rimba Selaksa Mambang. Seorang gadis yang belum pernah sekali pun tersentuh lelaki, telah tersesat di sana. Mulanya dia dikejar-kejar segerombolan bajingan yang bernafsu melampiaskan hawa nafsu kelelakian di tepi hutan. Waktu itu gadis ini hendak melewati tepi hutan untuk membuat jalan pintas menuju sebuah kampong terpencil. Dia memang hendak membeli obat untuk bapaknya yang hampir sekarat, sehingga harus mengambil jalan pintas.

Melihat gadis ayu dan molek berjalan sendiri di tepi hutan, gerombolan bajingan jadi tergiur. Mereka berusaha menghadang. Seketika gadis yang tahu ada segerombolan orang hendak berniat jahat padanya, langsung saja melarikan diri ke dalam hutan. Tanpa disadarinya, wilayah hutan paling angker di kawasan barat itu telah dimasuki. Selama ini, tidak ada seorang pun berani menjejakkan kaki di sana. Begitu juga gerombolan bajingan yang mengejarnya.

Ketika makin dalam memasuki hutan, gadis itu mulai sadar kalau telah memasuki hutan angker. Buktinya, gerombolan yang mengejarnya sudah tidak terlihat lagi. Namun kesadarannya sudah terlambat, karena dirinya sudah telanjur terjebak dalam pusat Hutan Rimba Selaksa Mambang. Pepohonan raksasa bersisian satu sama lain dalam baris yang tak teratur. Ototnya merangas,menggantung bagai ribuan tangan makhluk dasar neraka sedang menggapai-gapai. Dedaunan yang lebat tak membiarkan cahaya matahari sempat menerobos. Bagi gadis ini, pepohonan itu seperti berpuluh-puluh mata-mata dari alam gaib yang sedang mengawasinya. Lalu, dia pun menjadi ketakutan.

Gadis itu berlarian kembali dengan perasaan tercekam. Namun, iniiah justru yang menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya. Karena ternyata, dia makin masuk ke tengah-tengah Rimba Selaksa Mambang, di mana berdiri istana para mambang, siluman-siluman penghuni hutan!

Malam pun menjelang. Rimba Selaksa Mambang makin disergap kegelapan. Sementara, si Gadis makin dililit perasaan takut luar biasa. Sampai suatu ketika, muncul sosok-sosok menyeramkan secara tiba-tiba dari sebuah pohon raksasa sebesar rumah! Ada sekitar dua puluh sosok bertubuh besar menampakkan diri secara samar-samar. Rata-rata tinggi mereka sekitar tiga kali manusia dengan wujud yang begitu mengerikan. Ada yang bertaring sepanjang lengan manusia. Ada yang bermata bulat amat besar, seakan hendak keluar. Bahkan ada
yang berkepala besar dengan tanduk menjulang, malah sebagian lain memiliki perut buncit.

Mendapat semua itu, kontan saja si Gadis menjerit sejadi-jadinya. Benteng kekuatan jiwanya hancur seketika. Dan saat itu juga dia tak sadarkan diri.

“Apakah purnama telah benar-benar berada tepat di atas kepala kita?” tanya seorang siluman dengan bahasa mereka sendiri.

“Tinggal beberapa saat lagi,” sahut yang lain.

“Kebetulan sekali ada seorang gadis manusia yang datang ke tempat kita. Tanpa harus pergi keluar wilayah, kita bisa mendapatkan gadis yang dibutuhkan. Tak seperti sejuta purnama yang lalu.”

“Kak..., kak..., kak! Purnama kesejuta kali ini rupanya kita benar-benar beruntung!” timpal siluman berkepala gundul dan berpusar panjang.

“Nang..., ning..., ning.... Nang-gung...!” Siluman berperut buncit menari-nari girang. Perutnya yang menggelantung hampir menyentuh tanah, terayun-ayun ke sana kemari.

“Tanpa susah-susah, kita akan mendapat hadiah dari Sri Ratu. Kak..., kak..., kak!”

***


Purnama akhirnya tiba juga di pucuk angkasa. Para siluman tadi mulai melaksanakan tugas yang diemban. Mereka harus menanam benih keturunan bangsa siluman, ke dalam perut seorang gadis yang masih tetap pingsan itu. Upacara gaib segera dilaksanakan, yang sulit dipahami pikiran manusia. Mula-mula kedua puluh siluman itu melingkari tubuh gadis ini yang menggeletak. Perlahan-lahan mereka mulai bergerak mengitarinya. Kian lama, putaran itu bertambah cepat menggila. Sampai akhirnya, tubuh halus semua siluman itu mengabur, dan berubah menjadi pusingan angin kencang.

Batang-batang pohon besar yang tak begitu kuat menghujam bumi, pasti akan tercabut dan melayang ke udara tak bedanya dengan lembaran bulu. Hutan lebat itu bagai digasak angin topan maha hebat. Anehnya, tubuh gadis itu tetap berada di tempat semula, seperti tak mendapat pengaruh sama sekali.

Pada saat angin berbentuk pusaran makin tinggi merangsek angkasa, seberkas cahaya kemerahan berkelebat cepat dari puncaknya menuju perut gadis itu. Bersamaan dengan terlepasnya cahaya tadi, tercipta bebunyian menggidikkan bagai suara segerombolan lebah dan denting sejuta genta. Kesunyian hutan kian dipecah. Sepertinya kedua puluh siluman tadi sedang mengumandangkan semacam mantera hitam untuk mengantar masuknya sang Benih berbentuk cahaya, ke rahim si Gadis.

Sekian kejap berikutnya, cahaya merah sudah menelusup lenyap dalam perut gadis itu. Dan saat itulah terlempar raungan menyayat dari mulut wanita malang ini, memenggal bebunyian ganjil yang sebelumnya menyesaki hutan. Alam mendadak sunyi. Hanya tersisa derak ranting yang terlambat jatuh serta tiupan angin yang lelah.

Upacara gaib telah selesai. Para makhluk halus itu satu persatu meninggalkan tempat ini. Nyawa si Gadis telah melayang sebagai tumbalnya. Dan dari bawah pohon besar tempat menghilangnya para siluman, timbul mata air keruh berwarna kehitaman. Genangan mata air itu kian besar, seiring membesarnya perut si Gadis Malang.

Pada saatnya, aliran air yang tercipta menghanyutkan tubuh gadis itu ke arah selatan, di mana telah menanti danau tempat mayatnya ditemukan oleh si Hakim Tanpa Wajah.

***


“Pengadilan menanti!”

Dari balik sebuah bukit karang, meluncur teriakan beringas nan lantang dari seseorang. Suaranya begitu menggebuk jantung setiap telinga yang mendengarnya. Demikian pula bagi lima orang pejalan kaki di bawah lereng bukit. Pakaian kelima lelaki itu sungguh tak sedap dipandang. Bertambal sulam serta compang-camping. Rata-rata tubuh mereka dekil, seolah menjadi pakaian sehari-hari. Dua orang di antaranya malah berhias koreng di beberapa bagian tubuh. Satu orang di antaranya berkaki pincang.

Kelima lelaki gembel ini berasal dari wilayah timur. Di sana memang terdapat perkumpulan orang-orang macam mereka. Dunia persilatan menamakan perkumpulan itu Partai Pengemis Timur. Pada dasarnya, orang telah salah sangka terhadap kehadiran mereka. Penampilan dekil para anggota perkumpulan itu, membuat nama mereka dekat dengan sebutan pengemis, walau sebenarnya bukan pengemis. Jauh di lubuk hati masing-masing, tetap memiliki harga diri untuk tidak meminta-minta.

Perkumpulan itu bisa hidup tanpa belas kasihan orang lain. Mereka punya lahan usaha sendiri, untuk menyambung hidup para anggotanya. Namun rupanya banyak orang menyamaratakan dengan para pengemis. Akhirnya, mereka pun mendapat julukan itu. Kalaupun mereka berpakaian seperti itu, karena masing-masing ingin mencoba menjauhi kesenangan dunia yang berlebihan.

Anggota Partai Pengemis Timur rata-rata berkepandaian tinggi. Beberapa pentolannya, bahkan amat disegani di kawasan timur. Beberapa tahun yang lalu, pernah terjadi perampokan besar-besaran yang dilakukan kawanan begal berilmu tinggi. Beberapa pendekar tangguh tak sanggup meladeni kebuasan mereka. Beberapa di antaranya menemui ajal. Sedang yang lain harus menderita luka dan cacat seumur hidup. Kebrutalan gerombolan begal itu akhirnya memancing tokoh-tokoh Partai Pengemis Timur. Dari dua puluh anggota, sepuluh pentolan turun untuk menghadapi keganasan gerombolan begal.

Meski kalah dalam jumlah dan senjata, kesepuluh pengemis itu sanggup memorat-maritkan anggota gerombolan berilmu tak tanggung, yang berjumlah banyak. Pentolan-pentolannya bahkan dapat dibuat mati! Para anggota Partai Pengemis Timur pulang dengan keadaan sehat walafial. Sejak itu kehadiran mereka mulai diperhitungkan oleh orang persilatan wilayah timur.

Di antara kesepuluh lelaki yang turun menumpas gerombolan begal itu, lima orang kumuh yang sedang berjalan di lereng bukit karang tadi ikut ambil bagian. Mereka masing-masing bernama Kamasetya, Dartasa, Damarsuta, Guruhdadi, dan Komajaya.

Kekompakan yang terjalin, membuat mereka dijuluki Lima Gembel Busuk, meski tak harus keluar dari Partai Pengemis Timur. Lima Gembel Busuk dikenal bukan karena kehadirannya yang selalu membawa bau busuk atau berpenampilan tak karuan. Mereka amat kesohor karena keistimewaannya dalam memainkan jurus gabungan yang dinamakan ‘Benteng Angin’. Jurus gabungan itu mampu menahan serangan, sehingga lawan seperti menggasak angin.

Lima Gembel Busuk segera menghentikan langkah begitu mendengar teriakan yang sulit dimengerti tadi. Satu sama lain saling berpandangan heran.

“Kang! Apakah seruan itu ditujukan untuk kita?” tanya Kamasetya, lelaki adik dari orang yang dipanggil Kamajaya. Usia masing-masing terpaut dua tahun. Sekitar empat puluhan.

“Entahlah. Aku sendiri bingung,” jawab Kamajaya.

Dari puncak bukit karang di atas mereka, muncullah dua lelaki berusia jauh berbeda. Yang seorang tampak masih begitu muda dengan penampilan menggidikkan. Tubuhnya kekar sarat otot tebal. Rambutnya merah, sedangkan di sudut bibirnya tersembul taring tajam. Sementara lelaki yang satunya tampak amat renta. Meskipun demikian, sinar matanya tetap memancarkan kekuatan berapi-api. Tubuhnya dari batas leher hingga mata kaki ditutup kain kafan lusuh. Siapa lagi kalau bukan Hakim Tanpa Wajah bersama muridnya, Manusia Dari Pusat Bumi. Dalam setengah tahun saja, murid baru sang Hakim Sejagad itu telah menjelma menjadi pemuda bengis.

“He... he... he!”

Hakim Tanpa Wajah terkekeh. Dikeluarkannya segulungan daun lontar dari balik kain kalannya.

“Dengan ini, kalian Lima Gembel Busuk harus menjalani pengadilan di perut bumi! Menurut sang ‘saksi mata’, kalian harus dituntut karena kesalahan mencampuri urusan orang lain! Kalian telah lancang dengan mengusik-usik urusan gerombolan begal beberapa tahun yang lewat! He... he... he!” sambung Hakim Tanpa Wajah di sela-sela tawanya.

“Sinting!” maki Guruhdadi, lelaki berkoreng berusia muda serta berambut gembel.

“Siapa dua orang ini? Apa aku tak salah dengar? Mereka telah menyalah-kan kita karena telah memberantas orang-orang bejad macam gerombolan begal itu?”

“Seumur hidup, baru kutemui manusia macam mereka!” timpal Kamajaya.

“Alah! Kenapa kita tak melanjutkan perjalanan saja! Tak perlu menggubris mereka. Toh, kita tidak memiliki urusan apa-apa dengan mereka,” sergah Guruhdadi sambil menggaruk-garuk kudis di kakinya yang juga dipenuhi koreng.

“Ayo!”

Keempat lelaki yang lain menyetujui saran Guruhdadi. Kini mereka mulai melangkah beriringan lagi di lereng setapak. Tapi baru tiga langkah, terdengar lagi suaru berat Hakim Tanpa Wajah.

“Karena itu, setelah menimbang dan menilai, maka kuputuskan kalau kalian harus menerima hukuman mati di Neraka Perut Bumi!”

Diawali bunyi gelepar jubah hitamnya, Manusia Dari Pusat Bumi melompat ringan untuk menghadang Lima Gembel Busuk. Dan tanpa basa-basi lagi, pemuda keturunan siluman itu mengirim tamparan keras ke arah seorang dari Lima Gembel Busuk.

Wuuuk!

Damarsuta, lelaki pincang yang diserang, tahu kalau tamparan itu bisa meremukkan rahangnya dalam sekejap. Maka tubuhnya langsung saja dilempar ke belakang, melewati keempat kawannya yang beriringan.

Tak berhasil menghajar Damarsuta, Manusia Dari Pusat Bumi maju setindak. Kini dirangseknya Kamajaya dengan sebuah sapuan kaki deras ke bagian leher. Berbeda dengan Damarsuta yang tak begitu siap, Kamajaya mencoba menyambut kaki pemuda itu dengan tangkisan tangan.

Tak!

Benturan keras kontan terjadi. Akibatnya, Kamajaya terdorong ke sisi. Wajahnya menampakkan kesakitan luar biasa. Betapa tak dinyana kalau lawan yang demikian muda memiliki tenaga luar begitu kuat! Bahkan pergelangan tangan yang digunakan untuk menangkis tadi, terasa bagai remuk. Itu baru tenaga luar. Lantas, bagaimana lagi kalau tenaga dalamnya sudah dikeluarkan?

Kemampuan Manusia Dari Pusat Bumi memang tak diragukan. Pada usia satu bulan setelah bisa berlari lincah serta tubuh yang mulai ditumbuhi otot kenyal, Hakim Tanpa Wajah sudah menurunkan ilmu-ilmu kesaktiannya. Yang paling awal diturunkan adalah beberapa rangkaian jurus berisi tenaga luar. Keyakinan sang Guru pada keajaiban si Bocah ternyata tak lari dari harapan. Seperti orang rakus, bocah itu melalap jurus-jurus sakti bertenaga luar yang diturunkan padanya.

Kemampuan yang mengagumkan itu memancing keinginan Hakim Tanpa Wajah untuk segera menurunkan ilmu-ilmu lain yang setingkat lebih tinggi. Pada tingkatan berikutnya, apa-apa yang diturunkan sang Guru pun habis dilalap tanpa kesulitan. Maka, Hakim Tanpa Wajah pun jadi demikian girang. Untuk melampiaskan rasa senangnya yang membludak itu, kembali diturunkannya ilmu yang lebih tinggi. Begitu seterusnya, sehingga si Bocah Ajaib menguasai ratusan jurus-jurus sakti serta tata cara pengolahan tenaga secara ampuh. Sementara itu, dengan cepat pula si Bocah tumbuh layaknya pemuda dewasa.

“Hiaaa!”

Kamasetya kalap melihat saudaranya dapat dibuat hilang keseimbangan oleh pemuda kemarin sore. Setelah menahan tubuh Kamajaya yang oleng ke samping, Kamasetya maju ke muka. Bersama wajah penuh ancaman, dihantamnya pemuda itu dengan kepala kurusnya.

Bet!

Pukulan cepat Kamasetya seperti menerkam angin. Pemuda itu cepat melengoskan tubuhnya tanpa dapat disentuh kepalan Kamasetya. Betul-betul gerakan teramat lincah yang pernah ditemukan Kamasetya selama menjadi tokoh disegani wilayah timur, bersama keempat kawan dan saudaranya.

Sekejap berikutnya, justru Kamasetya yang harus pontang-panting menghindari serangan balasan Manusia Dari Pusat Bumi. Sama dengan saudaranya, dia juga bertanya-tanya dalam hati. Siapa sesungguhnya pemuda belia berwajah bengis yang sebenarnya sulit dipercaya jika memiliki gerak dan tenaga setangguh itu? Terlebih, sewaktu mata Kamasetya menangkap sepasang taring runcing di sudut bibir pemuda itu. Hatinya tanpa sadar tergedor. Sekali lagi dia tak percaya ada manusia memiliki taring seperti hewan buas, serta sepasang mata seekor macan hutan!

Sewaktu benak Kamasetya disarati keheranan, satu babatan tangan cepat siap merontokan iganya.

Weeet!

“Kamasetya awaaas!”

Kamajaya yang masih berdiri tak jauh darinya langsung berguling dijalan lereng bukit menuju tubuh adiknya. Setibanya di dekat Kamasetya, dia bangkit dibarengi satu terkaman ke perut Manusia Dari Pusat Bumi.

Begkh!

Dua kepalan Kamajaya masuk mentah-mentah ke perut pemuda keturunan siluman itu, memaksa tubuhnya terlempar deras tanpa ampun. Saat ambruk, Kamasetya yakin kalau pemuda itu tak akan sanggup bangkit lagi. Pukulan seperti itu juga pernah merontokkan nyawa tiga tokoh berilmu tinggi gerombolan begal, beberapa tahun yang lalu dalam sekali pukul.

Tapi, dugaannya keliru. Tanpa luka sedikit pun, pemuda berwajah menyeramkan itu bangkit seraya menggeram. Suaranya menerabas, hingga sampai ke sudut nyali....

***


Sebuah kedai kini sepi pengunjung. Memang, waktu makan siang sudah lewat sekian lama. Para buruh bandar, atau para pendatang dari Gujarat, Cina, dan Arab yang biasa singgah untuk makan, sudah kembali semua ke bandar. Kebetulan, kedai itu berada tak begitu jauh dari pusat niaga ini.

Dua orang pelayan wanita tengah membersihbersihkan meja bekas makan para pengunjung. Kedua wanita yang sama-sama cantik ini berkebaya agak ketat dengan kain sepanjang lutut. Masing-masing kebaya berwarna merah, dan hijau. Dalam kerja santai seperti ini, sesekali mereka bergurau. Tak jarang pula keduanya bergunjing tentang segala hal. Tawa mereka yang lembut, terkadang memenuhi ruang kedai.

Belum habis canda mereka, masuk seorang pemuda tampan menawan. Rambutnya tak teratur, panjang sampai bahu. Seperti salah seorang wanita pelayan, baju pemuda itu juga hijau. Begitupun celananya. Pada bahunya yang tegap, tersampir selembar kain bercorak catur. Sambil menguap berkepanjangan, kakinya melangkah acuh ke sebuah meja. Tentu saja, pemuda ini adalah Andika alias Pendekar Slebor.

“Ssst... Ni Warsih..., kau sudah janji dengan seseorang, ya?” tukas wanita berkebaya merah, menegur rekannya yang kebetulan membelakangi Andika.

“Janjian?” tanya wanita yang dipanggil Ni Warsih, heran.
“Itu lho!” wanita berkebaya merah mengerling ke arah Andika.

Mendapat isyarat mata itu, Ni Warsih berbalik mengikuti pandangan mata rekannya. Dan matanya bertemu dengan pemuda tampan menggetarkan hati.

“O, Gusti...,” bisik Ni Warsih.

Mata Ni Warsih terbelalak pada rekannya. Tangan kanannya yang masih memegang serbet kotor, diletakkan di dada.

“Kenapa Ni Warsih?” tanya wanita berkebaya merah sambil tertawa kecil.

“Itu betul-betul manusia, ya? Kenapa tuampuan sekali...,” kata Ni Warsih setengah berbisik. “Aduh, rontok juga jantungku....”

“Itu bagianku, ya?!” serobot wanita berkebaya merah.
“Eee.... Enak saja, Kau Ningsih! Mau nyerobot rejeki orang?!”
“Hi... hi... hi!”

Wanita berkebaya merah yang dipanggil Ningsih cengengesan. Di sisi lain, Andika merasa tak enak hati dibicara-an seperti itu.

“Ehem..., ehem!” Andika mendehem.

“Nah, lo...,” ujar Ningsih menakut-nakuti Ni Warsih.
“Sana kamu layani! Katanya rejekimu....”

“Aduh.... Bagaimana, ya? Kok, aku jadi dag-dig-dug gitu lho!”

“Wajahmu juga mulai merah matang.... Nah! Sekarang, malah mulai biru.... Merah lagi...,” goda Ningsih.

“Masa’... masa’?!”
“Iya! Sumpah, biar disambar geledek bareng-bareng!”
“Kalau gitu, kamu saja yang melayani dia, ya?”

“Wah.... Ketiban bulan aku....”

Wanita berkebaya merah menampakkan kecerahan di wajahnya. Baru saja dia mulai beranjak, Ni Warsih menahannya.

“E-e, biar aku saja!”

“Kang mau...?”

Tenggorokan Ni Warsih mendadak tersekat. Ucapannya terputus sebelum selesai. Lalu dia tertegun seperti orang bodoh di sisi Andika.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.