- Beranda
- Stories from the Heart
LA CHANDELIER (HORROR STORY)
...
TS
dianmaya2002
LA CHANDELIER (HORROR STORY)
Cuma mau berbagi cerita buatan ane yang absurd bin ngarang 
butuh saran dan kritiknya...
Cerita yang ini udah rada mendingan lah daripada cerita Biro Detektif Supranatural PSYCH: PIECES #case1 yang kemaren..
Cerita ini genre-nya one shot story, jadi satu chapter selesai. Paling kalo bersambung jadinya maks dua chapter gakan lebih.
Lebih ringan daripada cerita BDS lah
Kayak biasa! Komen + Rate Wajib yakkk

butuh saran dan kritiknya...
Cerita yang ini udah rada mendingan lah daripada cerita Biro Detektif Supranatural PSYCH: PIECES #case1 yang kemaren..
Cerita ini genre-nya one shot story, jadi satu chapter selesai. Paling kalo bersambung jadinya maks dua chapter gakan lebih.
Lebih ringan daripada cerita BDS lah
Kayak biasa! Komen + Rate Wajib yakkk
Quote:
Darren Pradipta remaja berusia 19 tahun yang patah hati karena perceraian kedua orang tuanya. Ia memutuskan untuk pergi ke Paris menjauhi orang - orang yang menatapnya dengan tatapan iba. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia bekerja sebagai seorang pengawas CCTV di sebuah hotel megah berbintang lima bernama La Chandelier.
Pekerjaannya sebagai pengawas CCTV membawanya kedalam tragedi dan sejarah kelam yang pernah terjadi di hotel itu. Akankah Darren sanggup menghadapi kemistisan hotel ini??
-Cerita ini mengandung konten dewasa dengan bahasa kasar, sexual harrasement dan segala hal yang memang harus disingkapi dengan pemikiran yang dewasa-
Spoiler for Prolog:
PROLOG
Sorot matanya menatap tajam hamparan gedung – gedung pencakar langit yang dilengkapi dengan cahaya gemerlapan dari atas sebuah rooftop gedung tertinggi di Metropolis. Sejenak ia menutup kedua matanya mencoba menikmati hembusan angin malam berhawa panas. Tidak ada kesejukan di kota ini kecuali penemuan brilian yang dinamakan Air Conditioning (AC). Sumpek satu kata yang melintas dibenaknya.
Rambutnya telah memanjang, terakhir ia memangkasnya adalah sehari sebelum kelulusan SMA-nya. Masa – masanya sebagai remaja bengal langganan guru BP telah berakhir. Sekarang ia bingung dengan masa depan dihadapannya.
‘Apa yang harus aku lakukan?’
Pertanyaan itu seakan – akan selalu saja menganggunya. Memaksa untuk dijawab seolah – olah tidak akan ada hari esok. Realita seakan mengejarnya seperti seorang polisi mengejar penjahat. Dunia cukup kejam, huh?!
Seharusnya saat ini ia sedang duduk disofa rumahnya sambil meminum segelas susu cokelat hangat ditemani sosok ayah dan ibu. Membagi keluh kesahnya akan masa depan. Masa dimana ia harus berdiri dibawah kakinya sendiri. Masa dimana ia harus mulai menyadari tanggung jawabnya sebagai pria dewasa. Tapi semua itu hanya menjadi impian fana seorang Darren Pradipta yang takkan pernah terwujud. Orang tuanya bercerai dua hari setelah hari kelulusan dan setelah itu mereka sibuk dengan diri mereka sendiri.
Apa kau baik – baik saja?
Orang – orang disekitarnya tak berhenti menanyakan hal itu hingga Darren sampai pada limit dimana dirinya sudah tak mampu lagi menerima pertanyaan simple itu. Ingin sekali ia berteriak dengan kencang tepat didepan wajah orang – orang sok peduli itu.
I’m not fucking okay! I’m broken…
Tentu saja hal itu urung dilakukan. Buat apa ia harus buang energi untuk menceritakan isi hatinya pada orang – orang tak jelas seperti itu. Jadi disinilah ia! Rooftop sebuah gedung pencakar langit. Mencoba menjauh dari semua orang yang menatapnya dengan pandangan kasihan dan menghakiminya sebagai sosok broken home. Tak terlintas sedikit pun dipikirannya untuk menjadi anak emo yang akan menyayat pergelangan tangannya dengan silet tajam untuk mencari perhatian. Atau seorang junkies yang dengan tololnya menjatuhkan diri di kubangan obat – obatan terlarang hingga mati. Atau menggantung dirinya di langit – langit kamar hingga tewas dan akhirnya menjadi headline di koran kriminal.
I’m in pain but I’m not that stupid!
I just wanna be alone FOR A WHILE!
I just wanna be alone FOR A WHILE!
Ditengah – tengah renungannya, Darren dikejutkan dengan suara yang memang sudah familiar ditelinganya.
“Ternyata kau ada disini.”
Suara familiar itu milik sahabatnya Erick Alcander, anak si pemilik gedung pencakar langit. Seulas senyuman tercetak jelas diwajahnya. Darren pun berbalik dan melihatnya berdiri tak jauh di belakangnya.
“Rokok?”
Tanpa aba – aba ia melempar sebungkus rokok menthol kearahnya. Tangan kanannya menangkap sebungkus rokok menthol yang isinya sudah berkurang satu itu. Ia mengambil sesebatang rokok lalu menyelipkannya disela – sela sebelum menyalakannya dengan pemantik berwarna silver berlogo kuda yang selalu dibawanya disaku jeans-nya. Pemantik itu pemberian Donny Geraldine, anak angkat seorang mafia Italia yang juga sahabat baiknya.
“Waktu berlalu sangat cepat.” Ujar Erick setelah menghembuskan gumpalan asap putih dari mulutnya. “Aku masih merasa jika kemarin baru saja di MOS.”
Darren masih saja diam tak menanggapi perkataan Erick yang menurutnya terlalu sentimental. Ia menyibukkan dirinya dengan menghisap rokok putih itu hingga asap memenuhi paru – parunya lalu menghembuskannya dengan ekspresi nikmat tiada tara. Rokok memang membuatnya melupakan kesuraman hidupnya walau untuk sejenak.
“Apa rencanamu setelah ini?”
Ia mengedikkan bahunya karena tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin didunia ini cuma dirinya saja yang tidak punya rencana masa depan.
“Keichiro dan Donny telah memilih pilihan hidup mereka. Sekarang giliranmu Darren.”
Kali ini perkataan Erick benar – benar menohok ulu hatinya. Keichiro, pria keturunan Jepang yang penakut itu telah kembali ke Jepang untuk mengambil alih posisinya sebagai ketua Yakuza dari Klan Yamaguchi. Sedangkan Donny ditugaskan ayahnya, Don Geraldine, dalam misi penaklukan Golden Triangle dimana ia harus membangun kerajaan bisnis narkotiknya di perbatasan Thailand, Filipina dan Myanmar. Ia benar – benar merasa jika dirinya adalah seorang pecundang sejati yang tak punya masa depan.
“Ikutlah denganku ke Paris.”
Darren tersenyum kecut. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia terdiam cukup lama, berusaha untuk fokus mencari jawaban yang pas untuk menanggapi perkataan Erick.
“Dengan satu syarat.” Jawabnya dengan suara bariton yang selalu membuat lawan jenis terpesona. “Aku akan mencari pekerjaan. Tinggal di flat kecil dan menikmati waktuku sendiri. Intinya aku butuh waktu untukku sendiri Erick.”
“Baiklah kalau begitu!”
Dua hari kemudian, Darren berangkat ke Paris bersama Erick dan keluarga besar Alcander. Sementara itu Rafael Pradipta sang ayah mendengar kabar keberangkatan putra sulungnya dari Anthony Alcander, sahabat baik yang juga ayah dari Erick.
***
INDEX
NEW
Komen +Ratting + Cendol
Diubah oleh dianmaya2002 12-11-2016 04:01
aripinastiko612 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
34.5K
Kutip
197
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dianmaya2002
#108
(8) Lantunan Sendu Tengah Malam #2
Spoiler for read:
Darren terbangun disebuah sofa panjang berwarna cokelat dengan panik. Ia langsung meraba kepalanya yang baru saja ditembak oleh pria bernama Aldric Barthelemy. Kepalanya masih utuh. Tidak ada lubang peluru bersarang disana. Ia mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Tempat itu adalah sebuah perpustakaan pribadi dengan nuansa cokelat kayu. Perapian yang menyala. Lampu temaram yang tidak begitu terang. Buku – buku tebal yang tertata rapi di lemari kayu yang kokoh.
Matanya terbelalak saat melihat Aldric Barthelemy duduk dibalik meja kerjanya sambil tersenyum ramah pada Darren. Wajahnya terlihat tenang seakan tidak terjadi apa- apa.
"Apa aku disurga?"
"Tenang Darren kau belum mati." Ujarnya dengan tenang tentunya tanpa menghilangkan senyum ramahnya. "Dan ini bukan disurga."
Darren masih terdiam berusaha mencerna perkataan Aldric.
"Bukannya kau menembak kepalaku hingga aku mati?"
"Itu salah satu caraku untuk membawamu ke masa lalu." Jelasnya dengan santai. "Bisa dibilang kau adalah orang kedua yang aku berikan kehormatan untuk melihat masa laluku sebagai manusia."
"SHIT! Kau salah satu dari hantu – hantu itu."
Aldric tertawa. Sedetik kemudian memasang ekspresi tidak suka saat disamakan dengan para hantu penghuni hotel yang lain.
"Walaupun aku telah meninggal tapi aku tidak suka dipanggil hantu, arwah, mahluk halus, atau apa pun itu. Kesannya sangat kasar, tidak sopan, dan menyakiti hatiku sebagai bangsawan terhormat. Jadi panggil saja aku Aldric!"
Aldric bangkit dari kursi yang didudukinya dan berjalan kearah pintu keluar.
"Ayo."ajaknya.
Darren merasakan keraguan dalam dirinya. Pertama, ragu karena ia tidak tahu apa maksud dan tujuan pria itu membawanya kemari. Kedua, ragu apakah ia aman bersama dengan Aldric?
"Kau mau ikut aku atau duduk disana dan menunggu arwah lain mendatangimu."
Menunggu arwah lain yang mungkin lebih menyeramkan dari Aldric?? Darren bergidik ngeri. Akhirnya mau tak mau Darren menepis keraguannya dan mengikuti langkah Aldric. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong panjang yang gelap.
"Kita akan kesana!" tunjuknya kesebuah cahaya dengan sinar menyilaukan.
Paris Tahun 1970...
Awal dari sebuah tragedi berdarah...[/B]
Aldric membawa Darren menyusuri Paris ditahun 1970, dimana orang – orang dizaman itu mengenakan celana cut bray, celana yang longgar pada bagian bawahnya. Ini adalah zaman dimana gaya Elvis Presley dianggap keren dan modern. Budaya musik disco memang tengah populer dikalangan remaja kala itu. Beberapa mobil bermerk holden, mustang dan VW khas kaum hippy tampak melintas dijalanan Paris. Tapi yang paling menyita perhatian Darren adalah beberapa mobil – mobil buatan Jepang yang terparkir rapi dipelataran gedung. Di masa ini, mobil – mobil jepang memang sangat laku di pasar Eropa karena hemat bahan bakar. Kala itu tengah terjadi penghematan energi besar – besaran.
Ada beberapa anak kecil dengan pakaian lusuh sedang menjajakan koran lokal sambil berteriak membacakan headline berita yang tengah menjadi sorotan kala itu. Sekedar mencari perhatian agar korannya dibeli oleh para pejalan kaki. Disisi lain seorang anak kecil dengan topi baret sibuk menyemir sepatu milik pria berumur 40 tahunan. Darren dan Aldric kembali berjalan menjauh dari keramaian menuju lorong – lorong sepi tempat berkumpulnya gelandangan tua yang tidak punya rumah. Mengais sisa makanan dari bak sampah restoran – restoran mewah.
"Kau tahu istilah parisianisme? Sebuah sikap yang menginginkan segalanya terpusat di Paris. Dampak dari hal itu adalah anak – anak miskin yang bekerja dan tidak bersekolah, gelandangan, pengangguran, kriminalitas dan satu lagi yaitu urbanisasi."
"Lalu apa itu alasan kenapa kau dibunuh?"
Aldric menyentuh bahu Darren dan dalam sekejap mata mereka telah berada disebuah ruang kerja. Tempat pertama kali Darren terbangun dari ketidaksadarannya. Disana ia melihat lima orang pria dewasa berumur 30-an. Salah satunya adalah Aldric. Tentunya saat itu ia masih hidup.
Ia memperkenalkan keempat sahabat mereka satu per satu kepada Darren. Pertama ia menunjuk pria yang tengah memegang gelas brandy ditangannya. Pria itu bernama Juliant Esteban, seorang pengacara berdarah Mexico – Perancis yang mempunyai firma hukum di Paris. Lalu pria yang duduk di sofa sambil membaca koran bernama Alphonse Ambroisse berasal dari Marseille yang berprofesi sebagai seorang wartawan. Dua orang pria lainnya bernama Robert Paganini keturunan Italy dan Lao Feng seorang pria kebangsaan China. Mereka berdua bekerja sebagai asisten Aldric.
Mereka berempat menjadi tim sukses Aldric yang mencalonkan dirinya sebagai wali kota setempat. Salah satu program kerja yang membuatnya dibenci oleh segelintir orang apalagi para pengusaha adalah menuntut kesejahteraan dan tunjangan kesehatan yang layak untuk para buruh.
Satu bulan sebelum tragedi berdarah itu terjadi...
Kampanye yang dilakukan oleh Aldric cs membuahkan hasil. Banyak kaum buruh dan pekerja yang mendukung gerakannya. Mengelu – elukan namanya bagai Tuhan yang akan mengubah taraf hidup mereka menjadi lebih baik. Tingkat popularitasnya semakin menanjak karena semua media menyoroti langkahnya sebagai the next wali kota. Tentu rivalnya yang bernama Jean-Piere Fabron tidak tinggal diam. Ia telah menyiapkan sejuta rencana untuk menjatuhkan Aldric.
Suatu hari Aldric dan Jean-Piere Fabron dipertemukan dalam suatu acara penggalangan dana amal untuk gereja – gereja se-Perancis. Mereka berkampanye. Saling menarik perhatian tamu undangan yang datang dengan senyum ramah. Tujuannya satu agar mereka mendapat dukungan baik berupa suara maupun dana kampanye. Banyak dari para tamu undangan pro kepada Jean-Piere Fabron, karena kebanyakan dari mereka adalah seorang pengusaha yang tidak mau rugi barang sepeser pun. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkah Aldric untuk tetap maju di kancah perpolitikan.
"Aku terlihat sangat naif." ujar Aldric yang melihat memori dirinya saat masih hidup.
"Tidak! Kau hanya melakukan apa yang menurutmu benar. Tapi orang – orang disekitarmulah yang telah dibutakan oleh materi dan kekayaan."
Aldric menyunggingkan senyum disudut bibirnya lalu ia kembali menyentuh bahu Darren. Sekarang mereka berada didepan sebuah hotel bintang lima yang sangat mewah pada masanya bernama La Chateu. Darren memandang ke sekeliling hotel dengan tema vintage nuansa emas. Lift nya pun masih jadul.
"Kita akan menonton Opera." Ujar Aldric singkat
Darren berusaha mengimbangi langkah Aldric yang telah mendahuluinya masuk kedalam lift yang penuh sesak dengan orang – orang yang juga akan menonton opera. Darren dan Aldric tidak perlu berdesak – desakan karena tubuh mereka transparan.
Disana ia melihat Aldric menghampiri seorang wanita bernama Corinne Lascelles yang juga pemeran utama dari pertunjukan opera yang mereka saksikan. Hubungan Aldric – Corinne terus berlanjut dan terjalinlah hubungan spesial diantara mereka.
"Jika cinta hanya membawa petaka! Aku bersumpah saat itu aku tidak akan jatuh cinta padanya." ujar Aldric saat melihat dirinya dan Corinne tengah berciuman dengan mesra.
Aldric kembali memegang bahu Darren.
Dua minggu sebelum tragedi itu terjadi...
Sekarang Darren dan Aldric berada disebuah kebun bunga yang indah. Terdapat sebuah gazebo bercat putih dengan ukiran – ukiran indah. Bunga – bunga lily putih yang bermekaran. Cahaya mentari sore yang teduh. Angin sepoi – sepoi yang sejuk. Dan gemericik pancuran berbentuk ikan yang menyemburkan air.
Dari arah pintu rumah keluarlah seorang wanita yang dikenal sebagai Corinne Lascelles bersama Jean-Piere Fubron. Darren hendak bertanya kepada Aldric disebelahnya mengenai pertemuan Corrine dan Jean-Piere.
"Dengar, lihat dan perhatikan! Kau akan tahu sendiri nanti."
Jean-Piere Fubron memberikan selembar cek kepada Corrine dengan jumlah yang fantastis. Tentunya dengan tujuan menjatuhkan Aldric yang kini pamornya lebih populer dari dirinya. Corrine yang tamak pun menyetujui rencana licik Jean-Piere.
Mereka pun membuat rekayasa licik yakni pelecehan seksual yang dilakukan Aldric kepada Corrine. Berita ini menjadi berita skandal paling panas se-Paris. Hal ini membuat para pengikut Aldric meninggalkannya. Rekan bisnisnya pun mencabut semua investasi yang berkaitan dengan Aldric. Sebagian besar aset dan properti Aldric disita pemerintah karena telah menunggak pembayaran pajak.
"Politik itu kejam. Jika kau tidak kuat maka kau akan dihancurkan oleh lawanmu." Ujarnya dengan mata nanar. "Ayo Darren masih ada yang mau aku tunjukkan padamu."
Aldric kembali menyentuh bahu Darren.
1 minggu sebelum tragedi itu terjadi...
Kini mereka berdua tengah menatap seorang pria yang tengah mabuk berat. Ia mengalami stress berat. Tertekan dan sangat hancur. Corrine, wanita yang ia cintai mengkhianatinya dengan menyebar isu fitnah yang tidak pernah ia lakukan. Keempat temannya menghilang entah kemana. Kekayaannya disita pemerintah hanya menyisakan mansion tua sebagai rumahnya sekarang.
"Menyedihkan bukan?" ujarnya pada Darren. "Niat baikku dianggap jahat oleh beberapa orang yang jelas – jelas hanya mementingkan diri mereka sendiri."
"Apa kau menyerah Aldric?"
Ia tidak menjawab pertanyaan Darren dan kembali menyentuh bahunya.
4 hari sebelum tragedi itu terjadi...
Mereka berdua melihat Aldric berjalan dengan langkah gontai menyusuri jalanan Paris yang lengang. Tepatnya sekarang sudah tengah malam dimana semua warga Paris tengah terlelap diatas kasurnya yang empuk dan hangat.
Sialnya saat itu Aldric bertemu dengan Jean-Piere Furbon dan antek – anteknya. Ia menyeret Aldric kesebuah lorong gelap yang sepi. Hanya ada cahaya lampu remang berwarna kekuningan yang menyinari tempat itu walaupun tidak begitu terang.
"Kau tampak begitu menyedihkan Aldric." Cemooh Jean-Piere.
Aldric hanya diam.
"Kau tahu semua yang kau alami adalah rencanaku. Sudah berkali – kali kuperingatkan jika kau memilih lawan yang salah tapi kau tak bergeming sama sekali."
"..."
"Pertama skandal pelecehan seksualmu dengan Corrine si jalang itu. Aku membayarnya sangat mahal. Dan para investor-mu, aku yang mengancam mereka dengan berbagai cara untuk menarik semua investasi mereka di perusahaan propertimu hingga akhirnya kau bangkrut seperti sekarang."
"..."
"Dan keempat temanmu itu! Aku menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh mereka dan membuang mayatnya keantah berantah. Jadi bagaimana rasanya tidak mempunyai sahabat?"
Ia tidak terlalu peduli dengan masalah Corrine maupun harta kekayaannya yang lenyap dalam sekejap. Tapi saat ia mendengar perlakuan keji Jean-Piere terhadap keempat sahabatnya, membuat emosinya seakan meluap. Aldric bangkit dan mencoba memukul Jean-Piere tapi para pengawalnya langsung menghadang dan mulai memukulinya.
"Dunia memang tidak adil Darren! Kau harus terbiasa dengan hal itu."ujarnya pada Darren sebelum kembali menyentuh bahunya dan membawa Darren ke memori selanjutnya.
1 hari sebelum tragedi...
Ia kembali ke mansion tuanya. Minum sisa wine yang ia temukan didapur dan kembali meratapi nasibnya hingga ia tertidur pulas. Mengenaskan!
Keesokan paginya...
Pukul 08.00 pagi....
Paginya Aldric bangun dengan wajah berseri – seri. Mengembangkan senyuman di bibirnya. Ia mandi dengan bersih lalu memakai pakaian kebesarannya yang paling bagus. Lalu memutuskan untuk berjalan – jalan keliling Paris dengan berjalan kaki. Menyapa semua orang yang ia temui dijalan. Sebagian orang berbisik – bisik sambil mengatainya tidak waras.
Tapi bagi Aldric, ia hanya ingin menikmati hari terakhirnya hidup...
Pukul 12.00 siang...
Aldric kembali ke mansion dari sesi jalan – jalannya. Ia langsung pergi ke sebuah ruang penyimpanan senjata miliknya. Mengambil sebuah senapan besar yang biasa digunakan oleh mendiang ayahnya untuk berburu rusa. Lalu membersihkan senapan itu, entah apa maksudnya.
Pukul 15.00...
Aldric keluar dari mansionnya dengan pakaian rapi dan elegan. Salah satu tangannya membawa sebuah bungkusan yang berisi senapan laras panjang. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju hotel La Chateu dimana opera yang dibintangi oleh Corrine akan dimainkan. Banyak bangsawan yang akan hadir. Tentu saja Jean-Piere Fubron akan berada disana. Menyusup ke La Chateu adalah hal yang mudah untuknya. Akhirnya ia bersembunyi disebuah lemari perkakas tempat penyimpanan alat kebersihan tanpa diketahui.
Pukul 17.00...
Para bangsawan mulai berdatangan dan mengisi tempat duduk yang kosong. Mereka tidak menyadari bahwa saat itu adalah saat dimana tragedi mengerikan akan terjadi.
Pukul 18.00...
Pertunjukan opera tengah berlangsung. Semua penonton terpukau dengan akting menawan Corrine.
Pukul 19.30...
Aldric keluar dari tempat persembunyiannya. Ia melangkahkan kakinya menuju back stage dimana para pemain opera tengah bersiap – siap menunggu giliran untuk tampil. Aldric menembak tepat dikepala mereka hingga tewas seketika.
Lalu berjalan mendekati panggung. Memandang Corrine yang cantik sedang berakting. Kemudian menembak gadis cantik itu tepat di matanya hingga meninggalkan lubang yang mengerikan.
Para penonton histeris dan panik. Berdesak – desakkan ingin keluar. Matanya mencari sosok Jean-Piere Fubron di keramaian. Tapi sayangnya Fubron berhasil melarikan diri darinya.
Pukul 19.55...
Aldric yakin jika si brengsek itu masih berada dilingkungan hotel. Maka ia mulai mencari Fubron mengelilingi hotel. Tanpa sengaja ia bertemu dengan salah satu resepsionis hotel. Aldric mengancam akan membunuhnya jika tidak memberitahukan keberadaan Fubron.
Akhirnya ia menemukan Fubron disebuah penthouse mewah bersama empat orang pria yang menjaganya. Tapi kali ini takdir berpihak padanya, Aldric berhasil melumpuhkan keempat orang suruhan Fubron.
"Jean-Piere Fubron... kau tau bahwa pembalasan itu selalu datang belakangan?"
"Ma..maafkan aku Aldric. Tolong jangan bunuh aku! Aku akan mengklarifikasi semuanya dan mengembalikan hartamu. Aku janji!"
"Kau menjijikan Fubron! Sayangnya semua sudah terlambat."
"..."
"Ada pepatah mengatakan bahwa orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti."
Lalu Aldric merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan botol berisi cairan bening dan sengaja menyiramkannya ke wajah Fubron. Cairan itu adalah air keras. Ia tertawa terbahak – bahak saat melihat Fubron mengerang kesakitan karena separuh wajahnya yang melepuh.
"Aku tidak akan membunuhmu! Aku ingin kau mengakhiri hidupmu sendiri."
Aldric meninggalkan Fubron dengan pistol kecil berisi lima butir peluru. Di kejauhan ia mendengar suara pistol yang ditembakkan. Fubron mengakhiri hidupnya sendiri!
Ia melangkahkan kakinya ke sebuah gazebo indah yang menghadap ke sebuah danau. Lalu menembak dirinya sendiri.
"Tuhan telah mengutukku Darren hingga setiap harinya aku selalu mengulang tragedi ini. Seandainya saat itu aku tidak bodoh maka aku tidak akan seperti sekarang."
Darren hanya diam.
"Tapi sayangnya tidak ada kesempatan kedua untukku."
"Semua telah berlalu Aldric. Kau gagal mengalahkan dunia hingga akhirnya dunia yang berbalik mengalahkanmu."
Aldric tersenyum lalu menghilang begitu saja.
***
Darren terbangun disebuah ruangan bercat putih.
"Dimana aku?"
"Ohh Amigos!" ujar Paquito sambil membuat tanda salib. "Akhirnya kau sadar juga! Semalam Jason menemukanmu pingsan di gazebo pinggir danau karena demam."
"Aldric?!"
"Aldric?!" tanya Paquito dengan raut wajah kebingungan. "Siapa Aldric?"
Darren baru ingat jika Aldric sudah lama mati dan yang ia lihat kemarin adalah hantu.
"Lupakan."
***
Setiap malam senandung sendu nan lirih itu terus terdengar bersamaan dengan hembusan angin malam yang dingin. Kini masyarakat Paris mengenal Aldric Barthelemy sebagai pembunuh massal yang keji. Tapi bagi Darren, ia hanyalah salah satu korban ketidakadilan dunia.
Mama...
Just killed a man
Put a gun against his head
Pull my trigger now his dead
Mama...
Life had just begun
But now I've gone and thrown it all away
Mama uuuuu....
Open you're eyes
Look up to the sky and see
No escape from reality
I need no sympathy
(Queen – Bohemian Rhapsody)
Just killed a man
Put a gun against his head
Pull my trigger now his dead
Mama...
Life had just begun
But now I've gone and thrown it all away
Mama uuuuu....
Open you're eyes
Look up to the sky and see
No escape from reality
I need no sympathy
(Queen – Bohemian Rhapsody)
-end of Lantunan Sendu Tengah Malam #2-
Cerita ini hanyalah fiktif belaka...

Diubah oleh dianmaya2002 15-09-2016 01:58
1
Kutip
Balas