- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.9K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#140
Manusia Dari Pusat Bumi
Part 1
Seorang kakek tua renta tampak menggelantung terbalik pada seutas tali jerami dengan kedua pergelangan kaki terikat. Sikapnya bersidekap rapat seperti seekor kelelawar, diam tanpa bergeming. Tubuhnya yang terbalik membuat untaian jenggot panjang berwarna putih yang telah kotor itu menutupi wajahnya. Menjulur sampai tanah, sekitar satu depa. Raut wajah lelaki bangkotan berumur seratus dua puluh tahun ini sulit dikenali. Bukan hanya karena tertutup jenggot, tapi juga karena ruangan tempatnya menggelantung tak memiliki cahaya, kecuali sebuah lubang sebesar biji mata manusia di langit-langit ruang, tepat di dekat benang jerami tersangkut.
Seberkas cahaya dari lubang kecil tadi jatuh pada kain usang berwarna putih, yang membungkus tubuh si Lelaki Bangkotan ini dari batas bahu hingga mata kaki, seperti libatan kain kafan. Suasana di dalam ruangan kecil dan sempit ini mengingatkan pada suasana di liang lahat. Kenyataannya memang begitu. Ternyata lelaki bangkotan ini memang berada dalam perut sebuah kuburan yang memiliki rongga lebih besar dari biasa.
Ketika pertama kali muncul sekitar delapan puluh tahun yang lalu, dia mendapat gelar angker. Hakim Tanpa Wajah! Orang-orang dunia persilatan menjulukinya demikian, karena lelaki itu nyaris tak memiliki wajah. Raut mukanya datar dengan satu lubang hidung kecil. Bibirnya amat tipis, hingga nyaris tak kentara. Sepasang kelopak mata sempit. Bahkan biji matanya sendiri sulit ditegaskan, apakah berwarna hitam atau putih. Karena kelompak matanya memang terlalu kecil.
Selama berkecimpung dalam rimba persilatan, sepak terjangnya amat membingungkan. Tak seperti tokoh golongan hitam yang memusuhi golongan putih. Tak peduli tua atau muda, lelaki atau wanita. Setiap orang yang berurusan dengannya, selalu dituduh sebagai ‘si pembuat kesalahan’. Dan kemunculannya untuk menjatuhkan satu-satunya hukuman.... Hukuman mati! Itu sebabnya, dia mendapat julukan lengkap Hakim Tanpa Wajah.
Pada masanya, Hakim Tanpa Wajah menjadi tak terkalahkan. Dia ditakuti layaknya malaikat maut. Baik di kalangan bawah, maupun raja-raja. Setiap kali bertemu seseorang yang memiliki ilmu kedigdayaan, Hakim Tanpa Wajah langsung saja menceramahi dengan tuduhan-tuduhan. Kesalahan sekecil apa pun tak luput dari penilaiannya. Banyak orang persilatan waktu itu terheran-heran, bagaimana dia bisa tahu kesalahan-kesalahan seseorang, sehingga seolah-olah memiliki mata di mana-mana. Tak ada seorang pun yang mampu menjawab. Karena setiap kali ada yang berusaha menjawab, maka orang itu akan menerima hukuman mati!
Seorang demi seorang waktu itu hilang begitu saja tanpa bekas. Bahkan nasibnya tak pernah diketahui lagi. Tak peduli dari kalangan bawah persilatan atau pun kalangan atas. Baik yang punya nama besar, atau tidak. Hanya ada tiga tokoh sakti yang waktu itu mampu luput dari kebiasaan aneh berbau maut dari si Hakim Tanpa Wajah. Salah satunya adalah tokoh yang berjuluk Lelaki Berbulu Hitam. Sedangkan dua orang lain adalah Raja Penyamar dan Pendekar Dungu.
Seperti juga Hakim Tanpa Wajah, ketiga tokoh itu pun memiliki nama besar. Selain Hakim Tanpa Wajah, tak ada seorang pun sanggup menandingi kehebatan ilmu kedigdayaan mereka. Menurut kabar burung kala itu, keempatnya sebenarnya memiliki kepandaian berimbang.
Setelah menggegerkan dunia persilatan sekian lama, keempatnya menghilang, tak jelas ke mana. Seolah-olah mereka sama-sama mengadakan perjanjian untuk mengundurkan diri, lalu akan muncul kembali suatu saat. Dan pada saat itulah mereka akan mengukur kembali kesaktian masing-masing, untuk menentukan siapa yang lebih berhak mendapat tempat teratas.
Delapan puluh tahun telah berlalu. Namun tak ada secuil tanda-tanda pun kalau keempat tokoh sakti itu akan muncul kembali. Lambat tapi pasti, nama mereka mulai dilupakan orang. Dan hari ini, saat yang dikehendaki keempat tokoh sakti itu tampaknya telah tiba. Karena, Hakim Tanpa Wajah yang sudah puluhan tahun menggelantung dalam liang lahatnya, tiba-tiba saja membuka kelopak matanya yang sempit. Sesaat kemudian, terdengar tawa kekeh yang menggema kasar, membuat tanah dalam kuburan ganjil itu berguguran.
“He... he... he!”
Hakim Tanpa Wajah membuka bibir tipisnya. Dan....
“Cuah!”
Hakim Tanpa Wajah menyemburkan ludahnya, hingga melesat ke arah tali jerami rapuh yang sebenarnya tak akan kuat menahan berat tubuhnya, seandainya saja lelaki bangkotan itu tak memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa.
Wesss...!
Tasss...!
Tali jerami putus menimbulkan bunyi halus. Tak berhenti sampai di situ. Ludah Hakim Tanpa Wajah terus melesat begitu ludah laki-laki ini menghantamnya ke satu sudut liang. Kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi yang terkandung dalam air kental berwarna keputihan itu ternyata mampu membuat lubang kecil sedalam dua depa!
Mestinya tubuh kering kerontang lelaki bangkotan ini segera jatuh. Kenyataannya, justru bertolak belakang. Hakim Tanpa Wajah tetap menggelantung tegak di atas. Benar-benar mustahil!
“He... he... he, jenggot sialan! Mengganggu acara-ku saja,” gerutu Hakim Tanpa Wajah, lebih mirip gurauan orang kurang waras. Ditepuk-tepuknya jenggot putih panjang merangas yang menjulur ke tanah di bawahnya.
Rupanya, jenggot itu telah kaku seperti akar pepohonan. Sehingga, dapat menopang tubuh Hakim Tanpa Wajah yang memang seringan kapas. Dengan gerakan indah lelaki bangkotan ini menurunkan kakinya, lantas berdiri. Sebentar dia memandangi langit-langit kuburan ganjil yang digunakan untuk bertapa puluhan tahun. Bibirnya tersenyum tipis, lalu kedua tangannya menghentak ke atas. Dan....
Brolll!
Dari luar, bongkahan koral dan tanah kering kontan berhamburan ke segenap penjuru, bagai baru dibuncah angin puting beliung. Gundukan makam tua bernisan tumpukan tengkorak kepala ini sekarang berlubang besar. Dan dari situ tubuh lelaki bangkotan ini mencelat keluar. Seperti tidak pernah peduli pada hawa segar yang baru saja memenuhi paru-parunya kembali,
Hakim Tanpa Wajah kembali terkekeh serak. Wajahnya yang pucat dengan juntaian rambut putih yang a lot dan kotor, membuat bibirnya yang sudah tak kentara makin tak jelas saja, meski sedang terkekeh.
“Apa kalian bertiga kini sanggup menandingiku?” gumam laki-laki tua ini berbicara sendiri.
Tentu saja yang dimaksud Hakim Tanpa Wajah adalah Lelaki Berbulu Hitam, Raja Penyamar, dan Pendekar Dungu.
“Hm.... Mungkin hanya tinggal aku saja yang belum memiliki murid,” sambung laki-laki ini.
“Koaaak!”
Mendadak seekor burung gagak hitam kelam hinggap di batang pohon kering besar, tak jauh dari tempat berdirinya lelaki bangkotan itu. Kedua sayapnya dibentangkan dan dikepak kepakkannya. Paruhnya yang menyeramkan melempar teriakan nyaring beberapa kali, seakan hendak menegur Hakim Tanpa Wajah. Sementara lelaki berbebat kain kafan dari bahu hingga ke mata kaki itu menjadi tertarik. Kepalanya segera menoleh ke arah gagak.
“Kau ingin mengatakan berita apa, ‘saksi mata’?” tegur laki-laki tua itu.
Hewan berbulu hitam itu disebut ‘saksi mata’ oleh laki-laki tua ini seakan-akan dia adalah hakim pengadilan yang sedang berbicara dengan seorang saksi dalam sebuah perkara.
“Kaoook!” sahut burung gagak itu. Kepalanya terayun ke depan dan ke belakang.
“Ada wanita hamil? Ah! Kau tak perlu memberitahukan aku tentang itu! Di mana-mana juga ada wanita hamil. Apalagi sudah makin banyak pasangan yang berhubungan intim seenak perut, seperti monyet hutan,” tukas Hakim Tanpa Wajah.
“Kak-koaaak-kaaak!”
“O, maksudmu wanita hamil itu telah mati seminggu lalu? Ah! Itu juga biasa. Tak aneh bukan?”
“Kaaak-kaaak!”
“Apa?!”
Hakim Tanpa Wajah langsung menjulurkan kepalanya ke depan, karena agak tersentak dengan ucapan gagak terakhir yang hanya bisa dimengerti olehnya.
“Kau bilang, jabang bayi dalam kandungannya masih tetap hidup?! Nah! Itu baru luar biasa, ‘saksi mata’! Pintar... pintar!” puji laki-laki tua ini.
“Di mana mayat wanita hamil itu? Aku harus mengeluarkan si Jabang Bayi. Anak itu pasti memiliki kelebihan luar biasa. Kebetulan sekali, aku sedang berpikir untuk mengangkat murid. He... he... he!”
“Koaaak!”
Burung gagak tadi berkoak sekali lagi. Di atas dahan tempatnya hinggap, dia melompat berbalik. Sebentar kemudian sayapnya dikepakkan kuat-kuat, langsung mengangkasa menerabas angin siang yang panas. Dan seketika itu pula, Hakim Tanpa Wajah segera mengikutinya.
***
Hakim Tanpa Wajah berlari cepat dengan cara melompat-lompat. Dan akhirnya, laki-laki bangkotan itu tiba bersama burung gagak di tepi sebuah danau alam yang tak begitu luas. Sementara burung gagak hitam yang menuntunnya ke tempat itu sudah hinggap kembali di pucuk sebongkah batu runcing, tak jauh dari Hakim Tanpa Wajah.
“Mana? Aku tak melihat wanita hamil, seperti yang kau katakan?” Hakim Tanpa Wajah memberengut.
Seketika gagak hitam itu menaikkan sayap tinggi-tinggi, menanggapi dengan rasa tak suka pada ucapan lelaki berusia seratus dua puluhan itu.
“Kaaak-kaaak-kaaak!” koak burung itu nyaring, merambah ke segenap bibir danau berair keruh kecoklatan.
“He... he... he! Kau jangan bergurau padaku, ‘saksi mata’. Mana mungkin wanita hamil itu berada di dasar danau ini. Eh?! Tapi hewan sepertimu memang tidak perlu ngibul dan suka berkata apa adanya. Tidak seperti manusia yang suka mengobral ucapan untuk kepentingan perutnya sendiri....”
Hakim Tanpa Wajah memandangi permukaan danau yang dibelai angin beberapa lama.
“Baik-baik. Tak ada ruginya jika aku mencoba membuktikan beritamu, ‘saksi mata’...,” kata Hakim Tanpa Wajah, akhirnya.
Laki-laki tua itu segera akan melaksanakan niat-nya untuk mencari tahu kebenaran berita dari sang Gagak. Diangkatnya tangan pucat berkeriput di depan wajah, dengan telapak saling bersilang kedepan.
Cukup lama Hakim Tanpa Wajah bersikap seperti itu, sampai akhirnya air danau bergolak bagai diaduk-aduk dari dalam oleh sepasang tangan raksasa. Rupanya laki-laki tua ini sedang mengerahkan tenaga batin berkekuatan dahsyat yang dinamakan ilmu ‘Rahasia Pikiran’. Karena hanya dengan membayangkan benda yang menjadi sasaran, dia dapat mengangkat, melempar, atau bahkan menghancurkannya. Begitu juga dengan dasar danau di depannya.
Dibayangkannya dasar danau itu sedang teraduk-aduk kuat luar biasa. Maka, yang terjadi pun demikian! Sampai suatu saat terdengar gemuruh tertahan dari dasar danau, beriring sembulan gelembung- gelembung udara yang demikian ramai. Sebentar kemudian menyusul sesosok tubuh wanita hamil muncul ke permukaan.
Tampaknya, mayat wanita hamil itu terjebak di sebuah rongga batu besar yang berisi udara di dasar danau ini. Sehingga air danau tidak dapat masuk ke dalam rongga batu. Dengan begitu, si Jabang Bayi tetap bisa mengirup udara untuk bernapas. Meski, sampai saat ini Hakim Tanpa Wajah tak bisa mengerti, bagaimana cara si Jabang Bayi bernapas. Yang pasti, suhu rendah yang begitu dingin di dasar danau, telah membuat mayat wanita hamil tidak cepat membusuk.
Mudah sekali Hakim Tanpa Wajah meniti permukaan air danau dengan daun-daun kering yang diambil dari sebatang pohon. Di atas daun demi daun yang dimanfaatkan sebagai pijakan lompatan, lelaki bangkotan itu mendekati mayat wanita hamil tadi. Dijemputnya tubuh kaku itu. Sebentar kemudian dibopong di bahu, lalu dibawanya ke tepian.
“He... he... he, ‘saksi mata’! Kau telah berjasa padaku. Aku akan segera punya murid luar biasa! Dia akan kudidik menjadi tokoh tak terkalahkan di dunia persilatan. He... he... he!”
Baru saja kata-katanya selesai, Hakim Tanpa Wajah melesat pergi.
“Kau tentu tahu, di mana kau bisa menemuiku, bukan?” Seru Hakim Tanpa Wajah pada si Burung Gagak.
“Kaaak!”
***
“Eiii! Hi... hi... hi!”
Seorang wanita genit tampak berdiri berhadapan berjarak tiga tombak dengan seorang pemuda ditengah jalan berbatu di satu lereng bukit, melihat kemunculannya tadi wanita bertubuh sintal yang tersenyum menggoda ini agaknya memang sengaja menghadang. Dengan pakaian ketat berwarna merah menyala, leluk-lekuk tubuhnya jadi membayang jelas.
Wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun itu berambut panjang. Berkerudung kuning tembus pandang yang menjulur hingga menutupi wajahnya. Meski tertutup kain tertembus pandang, kecantikan-nya masih tetap bisa ditangkap mata pemuda yang dihadang.
Sayangnya, rias wajahnya terlalu berlebihan. Sehingga terasa sebal dipandang. Bibirnya mekar memerah. Pipinya dipupuri tebal-tebal. Matanya memandang sayu dengan bulu-bulu mata lentik. Alis matanya dilukis demikian tebal menantang. Sementara pipinya diberi pemerah.
Pemuda yang dihadang mengangkat alisnya yang seperti sayap elang, ketika wanita genit itu mulai maju perlahan mendekatinya. Baginya, biasa kalau agak terpikat dengan kecantikan wanita di depannya kini. Tapi kalau tingkahnya genit dengan penampilan seronok, rasanya ketertarikan itu jadi buyar seketika. Dia berpikir, hanya wanita-wanita nakal yang berdandan seperti dia.
“Mau ke mana, Anak Muda Tampan?” tanya wanita genit ini mendayu-dayu.
“Ke sana boleh, ke sini juga boleh,” jawab pemuda berpakaian hijau-hijau dengan selembar kain bercorak catur tersampir di bahunya. Sambil menjentik anak rambut yang panjang menghalangi pandangan, ditatapnya wanita genit itu acuh tak acuh.
“Kalau begitu, ke sini saja, ya? Ya?! Ya?!”
Pemuda tampan bertubuh kekar ini menarik napas.
“Aneh-aneh saja manusia di dunia ini. Seenaknya saja memaksa kehendaknya pada orang lain. Memang aku ini jongosnya apa?” gerutu pemuda ini tak kentara.
“Ah! Jangan sesinis itu...!” sergah wanita itu seraya mencibir.
Telinga wanita ini ternyata cukup tajam juga. Dia bisa menangkap ucapan berbisik pemuda tadi.
“Kalau nanti kau sudah dekaaat denganku, baru tahu rasa kau. Bisa-bisa kau tidak mau jauh-jauh dariku. Hi... hi...!” Dijawilnya dada bidang si Pemuda dengan jarinya yang lentik.
“Ih...!”
Pemuda tampan ini menyurut ke belakang. Dadanya kontan menguncup karena geli.
“Jangan lancang, ya!” bentak pemuda itu agak mangkel.
“Itu tadi bukan lancang, Anak Muda! Hanya semacam ketrampilan tangan. Hi.. hi... hi....”
“Hus!”
Si Wanita genit cepat-cepat mengatupkan mulutnya. Dan secepat itu pula, bibir merahnya dicibir-cibirkan kian kemari.
“Kenapa bibirnya? Keseleo? Atau salah urat?” gurau pemuda ini asal bunyi. Mungkin karena cetusan rasa jengkel.
“Hi... hi... hi.... Bisa sajaaa!” Kembali dijawilnya dada bidang pemuda berpakaian hijau ini.
“Ah, sudah! Aku ingin lewat. Tak ada waktu buat melayanimu!”
“Juwita Permatasari Megapuspita Ranasutra....”
“Apa itu?” tanya si Pemuda heran.
“Namaku.”
“Aku tak tanya namamu!” hardik pemuda ini makin dongkol.
“Sudah, minggir! Kasih aku jalan!”
Pemuda itu maju selangkah untuk melanjutkan perjalanan. Tapi, segera kembali dihadang oleh wanita genit itu. Hampir-hampir saja, wanita ini ditabraknya.
“Aiii, nafsu nih?!” tukas wanita genit yang mengaku bernama Juwita Permatasari Megapuspita Ranasutra itu.
“Sialan!” maki pemuda berbaju hijau ini sambil membelalakkan mata ke arah perempuan didepannya.
“Kalau kau sejenis wanita nakal, akan salah bila memilihku.”
“Jadi namamu siapa, anak muda tampan yang gagah perkasa?”
“Sialan!” Sekali lagi, pemuda ini memaki. Ucapannya barusan seakan hanya kentut bagi perempuan cantik itu.
“Kalau kuberitahu, kau bersedia memberiku lewat?” usul pemuda itu kemudian, supaya bisa cepat pergi dari sana dan tidak lagi berurusan dengan wanita binal semacam ini.
“Tergantung...,” sahut si Wanita Genit.
“Tergantung apa?”
“Tergantung, apakah kau memiliki sesuatu yang digantung-gantung. Hi... hi... hi!” celoteh wanita Genit ini makin menjurus.
Tingkah Juwita bahkan kian nakal saja. Malah bahu kekar pemuda itu mulai digelayuti dengan kedua tangan. Sesekali matanya mengerling dan mengumbar senyum tipis penuh arti.
“O, ya. Jadi siapa namamu, Pemuda Ganteng?”
“Aku..., ah! Apa perlu kuberitahu namaku?!”
“Perlu!” selak Juwita berbareng gerakan tangan jahil ke arah tubuh bagian bawah pemuda di sisinya. Tentu saja calon korban tangan usil itu terkesiap.
“Baik..., baik! Namaku Andika!” ujar pemuda yang tak lain pendekar muda kesohor dari Lembah Kutukan yang berjuluk Pendekar Slebor.
“Amit-amit kalau tangan wanita ini sempat ‘Bertemu’ di tempat rahasiaku!” rutuk Andika tak kentara.
“Dasar wanita nakal! Biar cantik bisa-bisa malah bawa penyakit!”
“Apa katamu!” sentak Juwita dengan mata terbelalak besar-besar. Jelas, dia tersinggung dengan gerutuan Andika.
Andika alias Pendekar Slebor meringis ngeri-ngeri. Tapi dia cukup jujur untuk mengulang kembali gerutuannya tadi.
“Aku bilang, secantik-cantik wanita nakal, bisa saja bawa penyakit....”
“Kau harus membayar penghinaanmu itu!” teriak wanita genit ini persis di telinga Andika.
Satu tangan Juwita terangkat tinggi-tinggi, siap menampar wajah pemuda yang menghinanya.
“Jangan terlalu perasa! Aku kan, tidak bilang kalau kau membawa penyakit. Aku hanya bilang....”
Andika berusaha berdalih. Tapi sebelum sempat ucapannya diselesaikan, tangan wanita itu sudah melayang deras.
Bet!
Angin keras segera saja terdengar, pertanda kalau tamparan tangan Juwita membawa satu tenaga dalam tingkat tinggi. Dan ini sama sekali luput dari dugaan Pendekar Slebor sebelumnya. Beruntung kesiagaannya tidak ikut terdesak oleh rasa kagum pada kecantikan wanita yang kini menjadi lawannya.
0