- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#137
Part 10
Bersamaan dengan gerak ayunan tubuhnya menuju jendela, ditendangnya satu penjaga.
Bruk!
Berikutnya, satu totokan cepat membungkam penjaga naas itu sebelum mulutnya sempat membikin keributan. Sementara, penjaga yang seorang lagi pun menyusul menerima jatah totokan. Seperti tak pernah terjadi apa-apa, tubuh kedua penjaga yang telah kaku itu ditegakkan di ambang jendela oleh si Penyelusup.
Kini, kedua penyusup itu mulai menuruni tangga menara yang berliku, bersambung dengan ruang bawah tanah benteng kuno. Beberapa ratus tahun silam ruang bawah tanah ini pernah digunakan sebagai tempat para tahanan meringkuk. Memang, kedua penyusup adalah Andika dan Chin Chung yang menyamar sebagai Chin Liong.
Sebagai bagian dari rencana liciknya, dia pun membuat satu laporan palsu pada Andika dua hari yang lalu. Dikatakannya, ada seorang pemberontak yang membelot membocorkan rahasia tempat penahanan Putri Ying-lien, dan memberitahukan padanya letak tempat itu. Andika memang termakan pancingan Chin Chung. Makanya pemuda itu segera memutuskan untuk mengadakan penyusupan.
Rencana lelaki licik itu tampaknya berjalan lancar. Tapi tanpa sepengetahuan Chin Chung, ternyata ada seseorang siap membongkar kedoknya mentah-mentah. Tentu saja, saudara kembarnya sendiri. Chin Liong!
Sejak Andika dan Chin Chung berangkat menuju benteng kuno, Chin Liong menguntit terus di kejauhan. Pada saat yang menurutnya paling tepat, dia akan memperingatkan Andika, siapa sebenarnya lelaki yang kini bersamanya. Sayang! Ketika baru saja hendak merayap ke atas menara yang digunakan Andika dan Chin Chung sebagai jalan masuk.
“Berhenti!”
Terdengar suara menggelegar yang mengejutkan. ternyata ada beberapa orang yang memergoki Chin Liong. Mereka bukan para penjaga yang baginya tak begitu berarti untuk disingkirkan, tapi justru halangan terberat yang mesti dihadapi! Empat Penguasa Penjuru Angin!
Orang yang berteriak adalah Si Pembawa Badai, salah satu dari orang-orang yang melihat Chin Liong lebih dulu. Sungguh sial bagi Chin Liong! Sungguh tak biasanya keempat tokoh sesat kalangan atas Tiongkok itu mengadakan pengawasan ke sekitar benteng kuno, markas mereka Padahal hari-hari sebelumnya, mereka menyerahkan pekerjaan itu pada para anak buah.
Tanpa banyak cakap, Chin Liong melompat turun dari dinding benteng. Pedang Pusaka Langit yang masih tersimpan dalam warangka di pinggang, digenggam gagangnya erat-erat, siap menghadapi keadaan lebih buruk.
“Hey, siapa kau?! Wajahmu mirip Chin Chung. Tapi, pasti kau bukan dia! Ooo, aku ingat! Kau pasti saudara kembar Chin Chung yang tak sejalan dengannya. Bukan begitu?” sambut lelaki tua bertubuh kurus kering itu.
Chin Liong tak berniat menyahuti. Dia hanya mendehem kecil. Wajahnya tetap dingin, diwarnai kilat mata penuh siaga.
“Hm.... Tampaknya kau hendak membebaskan junjunganmu, Putri Ying-lien nan cantik jelita itu. Huak hak hak...!” Si Pembawa Badai mengalunkan tawa serak, diikuti Dewi Seribu Diri di sampingnya.
Sementara, dua langkah di belakang mereka tampak Pencuri Jantung dan Hantu Bisu Kaki Baja berdiri dingin tanpa memperdengarkan tawa. Bahkan sekadar seringai.
Chin Liong sadar, keadaan bahaya akan mengancam Andika setiap saat di dalam sana. Karena, pendekar tanah Jawa Dwipa itu tidak tahu kalau sedang masuk perangkap. Maka Chin Liong tak ingin banyak cincong lagi. Dalam sekali gerak, tangannya sudah melepas Pedang Pusaka Langit dari sarungnya.
Sring...!
“Kalian tentu tak akan sudi menyingkir begitu saja. Sedangkan aku, tak punya waktu banyak untuk meladeni mulut kalian. Karena itu, sebaiknya pertarungan dipercepat!” tantang Chin Liong tanpa perubahan air muka.
Kini Pedang Pusaka Langit teracung tepat didepan dada Chin Liong. Sinarnya yang merah membara, menyapu wajah dingin Chin Liong. Sehingga, membuat wajah lelaki muda itu tampak begitu angker. Sementara itu keempat calon lawan Chin Liong mendadak terpesona, menyaksikan keindahan pedang di tangan Chin Liong. Tak hanya cahaya merah bara memukau yang tak dimiliki pedang lain. Bentuknya pun demikian memancing decak kagum.
Gagangnya berbentuk naga terbang, perlambang kekuatan dan kekuasaan. Sepuhannya dari emas, mengesankan keagungan. Sedangkan bentuk batangnya memiliki beberapa lekukan di ujungnya bagai ekor naga.
“Apakah aku tak salah lihat? Bukankah itu Pedang Pusaka Langit yang menggegerkan dunia persilatan lima ratus tahun yang lalu?” desis Si Pembawa Badai, tak percaya. Mimik mukanya seperti seorang yang menyaksikan taman firdaus di depan mata.
Sementara itu, lain lagi sikap yang diperlihatkan Dewi Seribu Diri. Tiba-tiba saja, dia sesegukan bercu-curan air mata. Sambil menyapu air mata dengan punggung tangan, dia berbicara seperti nenek tua yang terharu karena diberi sirih.
“Ooo, indah nian pedang itu. Alangkah bahagianya jika aku memilikmya.”
Tampaknya, penyakit bawaan wanita itu mulai kambuh kembali.
“Pedang ini memang Pedang Pusaka Langit,” ujar Chin Liong.
“Kalian tentu tahu pula dari cerita rakyat, kalau pedang ini akan meningkatkan kemampuan seseorang berlipat ganda. Kini pedang ini ditanganku. Maka kuperingatkan pada kalian, agar segera menyingkir dari sini!”
Mendadak saja, tiada angin tiada hujan, Dewi Seribu Diri cekikikan meski wajahnya masih dibasahi air mata.
“Hik hik hik...! Apa kau sudah pikun, kalau kau sedang berhadapan dengan Empat Penguasa Penjuru Angin? Mana mungkin kami mau begitu saja diusir seperti anjing buduk!” umpat wanita itu dengan wajah keji.
“Kalau begitu, kalian harus kusingkirkan secepatnya!” tandas Chin Liong, tak ingin lebih banyak buang waktu.
Lalu dengan keyakinan dan sedikit kenekatan, pemuda itu meluruk ke arah keempat tokoh sesat itu. Padahal selama ini, dia tidak pernah sekalipun ingin bermimpi untuk menghadapi. Ya, bahkan sekadar mimpi!
“Heaaa!”
Zing...!
Di lain tempat, tepatnya di ruang bawah tanah benteng kuno, Andika dan Chin Chung yang mengaku sebagai Chin Liong, dengan mudah memberesi lima penjaga penjara tua tempat Putri Ying-lien disekap. Setelah mendapat kunci, Pendekar Slebor bergegas membuka jeruji baja penjaga. Di situ, putrid mahkota kerajaan itu ditemukan dalam keadaan menyedihkan. Wajah, tubuh, dan pakaiannya kumal. Wajahnya yang cantik tampak memucat. Tangannya yang terentang ke atas, terbelenggu rantai baja. Seluruh tubuhnya tampak lemah tak berdaya. Andika yakin, wanita itu dalam pengaruh totokan.
“Putri! Kau tak apa-apa?” tanya Andika khawatir, sesaat setelah melewati pintu penjara. Didekatinya Putri Ying-lien untuk membebaskan tangannya dari belenggu baja.
“K.. kaukah, Andika?” tanya Putri Ying-lien, lirih.
“Ya! Ini aku,” jawab Andika seraya berusaha memapah tubuh Putri Ying-lien yang hendak terjatuh ketika belenggunya terbuka.
Di belakangnya, Chin Chung yang mengendap-endap halus, melepas pedang yang dikira Pedang Pusaka Langit dari belakang punggung Andika. Gerakannya begitu hati-hati. Sehingga telinga seorang pendekar yang terlatih seperti Andika, tak mau menangkapnya. Agaknya, siap menjemput si Pendekar Slebor. Jarak yang demikian dekat, membuat Andika tak akan mungkin sempat lagi menghindar, jika pedang itu terayun cepat.
Mungkinkah nyawa Pendekar Slebor telah tiba di ambang maut? Ternyata di luar perhitungan Chin Chung sama sekali. sepasang telinga Putri Ying-lien yang sudah menjadi pengganti matanya, masih mampu menangkap desing amat halus.
“Andika! Awas di belakangmu!” sentak Putri Ying-lien, memperingatkan.
Pada saat yang bersamaan, Chin Chung mengayunkan senjatanya tepat ke tengkuk Andika. Kalau saja yang diserang bukan Pendekar Slebor, seorang jago tanah Jawa Dwipa yang memiliki kecepatan siluman, sudah tentu pedang haus darah itu akan segera menemui sasaran.
Zing...!
Sekejapan sebelum mata pedang sampai di tubuhnya, Andika telah lebih dahulu melesat kebelakang. Langsung dilewatinya tubuh Chin Chung sambil membopong Putri Ying-lien sekaligus.
“Kau...,” geram Andika, begitu kakinya mendarat.
Kini baru disadari kalau dirinya telah termakan tipu daya Chin Chung.
“Hua ha ha...! Kau terkejut, Pendekar Bodoh?! Sekali lagi kau terkecoh, bukan? Aku memang Chin Chung. Terpaksa saudara kembarku kubunuh di Goa Sejuta Lintah karena terlalu memaksaku,” sesumbar Chin Chung pongah.
Pendekar Slebor segera meletakkan tubuh wanita yang dibopongnya ke sudut penjara. Dia harus bersiap menerima serangan lawan, karena gelagatnya sudah makin memburuk.
“Dan kau lihat ini, Tuan Pendekar Dungu!” Chin Chung mengacungkan pedang tinggi-tinggi. “Inilah Pedang Pusaka Langit! Berdoalah untuk mati! Karena dengan pedang ini, aku mungkin bisa lebih cepat mengirimu ke dasar neraka!”
Pendekar Slebor mengepalkan kedua tangannya dalam geram tak terhingga. Berbareng dengan itu, rahangnya mengejang dan matanya berkilat murka. Dia pernah merasakan, bagaimana kehebatan tenaga lawan yang telah diperkuat kesaktian Pusaka Langit di Danau Panca Warna dulu (Baca kisah Pendekar Slebor ber-judul: “Pusaka Langit”). Kini Pendekar Slebor tak mau gegabah menghadapinya. Tanpa perlu menimbang lebih lama, segera kain pusaka yang selama ini hanya tersampir di pundaknya dilepas.
“Percayalah, Manusia Kentut. Kau akan membayar semua nyawa orang-orang yang dekat denganku,” serapah Andika seperti menggeram. Sudut bibirnya terangkat, menandakan dirinya sedang berada di tepi batas kemarahan.
“Mimpi! Kau hanya bermimpi, Andika! Kau tak akan mungkin mengalahkanku. Hua ha ha... Apa kau pi....”
“Diam!” bentak Andika menggelegar.
Seketika Chin Chung tersentak kaget, hingga kata-katanya terputus.
“Kenapa kau tak langsung membuktikannya? Apa kau takut dengan senjataku? He he he...,” kata Andika sambil menyeringai.
“Asal kau tahu saja. Kain ku ini, biar butut bisa dipakai membuntal manusia kentut macam kau! Kau boleh menyebutnya buntalan kentut, tapi akan membuatmu terkentut-kentut. Ya! Meski pun kau berusaha takkentut. Tapi, kau pasti akan kentut...Kentut!”
Wajah Chin Chung merah padam. Tak ada manusia waras yang sanggup menerima celaan keterlaluan Pendekar Slebor. Dialah kini yang justru nyaris meledak murka.
“Mampus kau, Pendekar Dungu!”
Berbarengan dengan umpatan, disambarnya Pendekar Slebor dengan sapuan pendang ke batang leher.
Zing...!
“Wait! Hia-haaa! Kau mau membabat setan bingung?” ejek Pendekar Slebor, setelah mampu menghindari tebasan dengan menggeser kaki dua langkah.
“Aku di sini, nih!”
“Haiiih!”
Chin Chung kembali menggempur telengas. Serangkai sabetan beruntunnya diarahkan ke beberapa bagian tubuh Pendekar Slebor. Seperti tak sudi diserang terus, Andika mulai melakukan elakan yang diimbangi serangan balasan. Sewaktu pedang itu menusuk lurus ke ulu hatinya, tangan kanan yang memegang kain pusaka bergerak, membuat satu lecutan ke depan.
Cret! Trang!
Saat itu juga, pedang yang dikira Pedang Pusaka Langit terpatah menjadi tiga bagian, tertampar kain Pusaka Pendekar Slebor. Tak diragukan lagi. Andika telah menyalurkan sebagian inti kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan pada senjata yang jarang digunakannya. Terbukti, seketika tercipta percikan bunga api, manakala kain pusakanya menghancurkan senjata lawan.
Chin Chung bukan main terperangah mendapati pedang di tangannya tak utuh lagi. Mana mungkin bisa? Bukankah yang digenggamnya sekarang adalah pedang pusaka terbuat dari batu langit yang keampuhannya tak diragukan?
Dan yang terkejut ternyata bukan hanya dia. Andika pun sampai terbelalak tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Mulutnya bahkan terbuka lebar kebodoh-bodohan. Sesaat kemudian, baru disadari kalau pedang di tangan lawan bukanlah Pedang Pusaka Langit.
“Hia hik hik..,” Andika terkikik geli ingin mengejek.
“Kau salah culik pedang Chin Chung!”
Pendekar Slebor sampai memegangi perutnya karena-menahan tawa.
“Melihat cahaya merah baranya tadi, aku sempat yakin, lho! Tapi nyatanya... huaaa ha ha... nguk!”
Andika memajukan bibirnya.
“Pedangmu hanya dari tulang monyet! Nang, ning, ning, nang, ning, kung....”
Andika makin urakan. Tangannya malah melenggak-lenggok seperti menari ketoprak.
“Apa?! Kau akan berkicau kalau bisa membunuhku dengan senjata bohongan itu?” lanjut Pendekar Slebor.
Napas Chin Chung turun naik memburu. Benaknya terasa menjadi kacau balau tak karuan. Terbang sudah harapannya dapat menghabisi lawan setangguh Pendekar Slebor!
“Sudah...! Lebih baik, lari saja sana. Hus! Hus! Hus!” leceh Andika.
“Aku bukan pengecut!” bentak Chin Chung gusar.
Dibantingnya gagang pedang dari tangan.
“Telanjur basah! Aku akan tetap mengadu jiwa denganmu!”
Setelah itu, Chin Chung menggenjot tubuhnya untuk keluar dari tempat ini.
“Lho-lho-lho? Katanya mau mengadu jiwa?”
“Aku tunggu di luar!” teriak Chin Chung, membuat keputusan.
Disadari, bertempur dengan pendekar kawakan tanah Jawa Dwipa seperti Andika di ruang Sempit seperti itu, sungguh amat tak menguntungkan. Sementara itu, Andika segera menjemput tubuh Putri Ying-lien. Selanjutnya disuruhnya Chin Chung keluar.
Bersamaan dengan gerak ayunan tubuhnya menuju jendela, ditendangnya satu penjaga.
Bruk!
Berikutnya, satu totokan cepat membungkam penjaga naas itu sebelum mulutnya sempat membikin keributan. Sementara, penjaga yang seorang lagi pun menyusul menerima jatah totokan. Seperti tak pernah terjadi apa-apa, tubuh kedua penjaga yang telah kaku itu ditegakkan di ambang jendela oleh si Penyelusup.
Kini, kedua penyusup itu mulai menuruni tangga menara yang berliku, bersambung dengan ruang bawah tanah benteng kuno. Beberapa ratus tahun silam ruang bawah tanah ini pernah digunakan sebagai tempat para tahanan meringkuk. Memang, kedua penyusup adalah Andika dan Chin Chung yang menyamar sebagai Chin Liong.
Sebagai bagian dari rencana liciknya, dia pun membuat satu laporan palsu pada Andika dua hari yang lalu. Dikatakannya, ada seorang pemberontak yang membelot membocorkan rahasia tempat penahanan Putri Ying-lien, dan memberitahukan padanya letak tempat itu. Andika memang termakan pancingan Chin Chung. Makanya pemuda itu segera memutuskan untuk mengadakan penyusupan.
Rencana lelaki licik itu tampaknya berjalan lancar. Tapi tanpa sepengetahuan Chin Chung, ternyata ada seseorang siap membongkar kedoknya mentah-mentah. Tentu saja, saudara kembarnya sendiri. Chin Liong!
Sejak Andika dan Chin Chung berangkat menuju benteng kuno, Chin Liong menguntit terus di kejauhan. Pada saat yang menurutnya paling tepat, dia akan memperingatkan Andika, siapa sebenarnya lelaki yang kini bersamanya. Sayang! Ketika baru saja hendak merayap ke atas menara yang digunakan Andika dan Chin Chung sebagai jalan masuk.
“Berhenti!”
Terdengar suara menggelegar yang mengejutkan. ternyata ada beberapa orang yang memergoki Chin Liong. Mereka bukan para penjaga yang baginya tak begitu berarti untuk disingkirkan, tapi justru halangan terberat yang mesti dihadapi! Empat Penguasa Penjuru Angin!
Orang yang berteriak adalah Si Pembawa Badai, salah satu dari orang-orang yang melihat Chin Liong lebih dulu. Sungguh sial bagi Chin Liong! Sungguh tak biasanya keempat tokoh sesat kalangan atas Tiongkok itu mengadakan pengawasan ke sekitar benteng kuno, markas mereka Padahal hari-hari sebelumnya, mereka menyerahkan pekerjaan itu pada para anak buah.
Tanpa banyak cakap, Chin Liong melompat turun dari dinding benteng. Pedang Pusaka Langit yang masih tersimpan dalam warangka di pinggang, digenggam gagangnya erat-erat, siap menghadapi keadaan lebih buruk.
“Hey, siapa kau?! Wajahmu mirip Chin Chung. Tapi, pasti kau bukan dia! Ooo, aku ingat! Kau pasti saudara kembar Chin Chung yang tak sejalan dengannya. Bukan begitu?” sambut lelaki tua bertubuh kurus kering itu.
Chin Liong tak berniat menyahuti. Dia hanya mendehem kecil. Wajahnya tetap dingin, diwarnai kilat mata penuh siaga.
“Hm.... Tampaknya kau hendak membebaskan junjunganmu, Putri Ying-lien nan cantik jelita itu. Huak hak hak...!” Si Pembawa Badai mengalunkan tawa serak, diikuti Dewi Seribu Diri di sampingnya.
Sementara, dua langkah di belakang mereka tampak Pencuri Jantung dan Hantu Bisu Kaki Baja berdiri dingin tanpa memperdengarkan tawa. Bahkan sekadar seringai.
Chin Liong sadar, keadaan bahaya akan mengancam Andika setiap saat di dalam sana. Karena, pendekar tanah Jawa Dwipa itu tidak tahu kalau sedang masuk perangkap. Maka Chin Liong tak ingin banyak cincong lagi. Dalam sekali gerak, tangannya sudah melepas Pedang Pusaka Langit dari sarungnya.
Sring...!
“Kalian tentu tak akan sudi menyingkir begitu saja. Sedangkan aku, tak punya waktu banyak untuk meladeni mulut kalian. Karena itu, sebaiknya pertarungan dipercepat!” tantang Chin Liong tanpa perubahan air muka.
Kini Pedang Pusaka Langit teracung tepat didepan dada Chin Liong. Sinarnya yang merah membara, menyapu wajah dingin Chin Liong. Sehingga, membuat wajah lelaki muda itu tampak begitu angker. Sementara itu keempat calon lawan Chin Liong mendadak terpesona, menyaksikan keindahan pedang di tangan Chin Liong. Tak hanya cahaya merah bara memukau yang tak dimiliki pedang lain. Bentuknya pun demikian memancing decak kagum.
Gagangnya berbentuk naga terbang, perlambang kekuatan dan kekuasaan. Sepuhannya dari emas, mengesankan keagungan. Sedangkan bentuk batangnya memiliki beberapa lekukan di ujungnya bagai ekor naga.
“Apakah aku tak salah lihat? Bukankah itu Pedang Pusaka Langit yang menggegerkan dunia persilatan lima ratus tahun yang lalu?” desis Si Pembawa Badai, tak percaya. Mimik mukanya seperti seorang yang menyaksikan taman firdaus di depan mata.
Sementara itu, lain lagi sikap yang diperlihatkan Dewi Seribu Diri. Tiba-tiba saja, dia sesegukan bercu-curan air mata. Sambil menyapu air mata dengan punggung tangan, dia berbicara seperti nenek tua yang terharu karena diberi sirih.
“Ooo, indah nian pedang itu. Alangkah bahagianya jika aku memilikmya.”
Tampaknya, penyakit bawaan wanita itu mulai kambuh kembali.
“Pedang ini memang Pedang Pusaka Langit,” ujar Chin Liong.
“Kalian tentu tahu pula dari cerita rakyat, kalau pedang ini akan meningkatkan kemampuan seseorang berlipat ganda. Kini pedang ini ditanganku. Maka kuperingatkan pada kalian, agar segera menyingkir dari sini!”
Mendadak saja, tiada angin tiada hujan, Dewi Seribu Diri cekikikan meski wajahnya masih dibasahi air mata.
“Hik hik hik...! Apa kau sudah pikun, kalau kau sedang berhadapan dengan Empat Penguasa Penjuru Angin? Mana mungkin kami mau begitu saja diusir seperti anjing buduk!” umpat wanita itu dengan wajah keji.
“Kalau begitu, kalian harus kusingkirkan secepatnya!” tandas Chin Liong, tak ingin lebih banyak buang waktu.
Lalu dengan keyakinan dan sedikit kenekatan, pemuda itu meluruk ke arah keempat tokoh sesat itu. Padahal selama ini, dia tidak pernah sekalipun ingin bermimpi untuk menghadapi. Ya, bahkan sekadar mimpi!
“Heaaa!”
Zing...!
Di lain tempat, tepatnya di ruang bawah tanah benteng kuno, Andika dan Chin Chung yang mengaku sebagai Chin Liong, dengan mudah memberesi lima penjaga penjara tua tempat Putri Ying-lien disekap. Setelah mendapat kunci, Pendekar Slebor bergegas membuka jeruji baja penjaga. Di situ, putrid mahkota kerajaan itu ditemukan dalam keadaan menyedihkan. Wajah, tubuh, dan pakaiannya kumal. Wajahnya yang cantik tampak memucat. Tangannya yang terentang ke atas, terbelenggu rantai baja. Seluruh tubuhnya tampak lemah tak berdaya. Andika yakin, wanita itu dalam pengaruh totokan.
“Putri! Kau tak apa-apa?” tanya Andika khawatir, sesaat setelah melewati pintu penjara. Didekatinya Putri Ying-lien untuk membebaskan tangannya dari belenggu baja.
“K.. kaukah, Andika?” tanya Putri Ying-lien, lirih.
“Ya! Ini aku,” jawab Andika seraya berusaha memapah tubuh Putri Ying-lien yang hendak terjatuh ketika belenggunya terbuka.
Di belakangnya, Chin Chung yang mengendap-endap halus, melepas pedang yang dikira Pedang Pusaka Langit dari belakang punggung Andika. Gerakannya begitu hati-hati. Sehingga telinga seorang pendekar yang terlatih seperti Andika, tak mau menangkapnya. Agaknya, siap menjemput si Pendekar Slebor. Jarak yang demikian dekat, membuat Andika tak akan mungkin sempat lagi menghindar, jika pedang itu terayun cepat.
Mungkinkah nyawa Pendekar Slebor telah tiba di ambang maut? Ternyata di luar perhitungan Chin Chung sama sekali. sepasang telinga Putri Ying-lien yang sudah menjadi pengganti matanya, masih mampu menangkap desing amat halus.
“Andika! Awas di belakangmu!” sentak Putri Ying-lien, memperingatkan.
Pada saat yang bersamaan, Chin Chung mengayunkan senjatanya tepat ke tengkuk Andika. Kalau saja yang diserang bukan Pendekar Slebor, seorang jago tanah Jawa Dwipa yang memiliki kecepatan siluman, sudah tentu pedang haus darah itu akan segera menemui sasaran.
Zing...!
Sekejapan sebelum mata pedang sampai di tubuhnya, Andika telah lebih dahulu melesat kebelakang. Langsung dilewatinya tubuh Chin Chung sambil membopong Putri Ying-lien sekaligus.
“Kau...,” geram Andika, begitu kakinya mendarat.
Kini baru disadari kalau dirinya telah termakan tipu daya Chin Chung.
“Hua ha ha...! Kau terkejut, Pendekar Bodoh?! Sekali lagi kau terkecoh, bukan? Aku memang Chin Chung. Terpaksa saudara kembarku kubunuh di Goa Sejuta Lintah karena terlalu memaksaku,” sesumbar Chin Chung pongah.
Pendekar Slebor segera meletakkan tubuh wanita yang dibopongnya ke sudut penjara. Dia harus bersiap menerima serangan lawan, karena gelagatnya sudah makin memburuk.
“Dan kau lihat ini, Tuan Pendekar Dungu!” Chin Chung mengacungkan pedang tinggi-tinggi. “Inilah Pedang Pusaka Langit! Berdoalah untuk mati! Karena dengan pedang ini, aku mungkin bisa lebih cepat mengirimu ke dasar neraka!”
Pendekar Slebor mengepalkan kedua tangannya dalam geram tak terhingga. Berbareng dengan itu, rahangnya mengejang dan matanya berkilat murka. Dia pernah merasakan, bagaimana kehebatan tenaga lawan yang telah diperkuat kesaktian Pusaka Langit di Danau Panca Warna dulu (Baca kisah Pendekar Slebor ber-judul: “Pusaka Langit”). Kini Pendekar Slebor tak mau gegabah menghadapinya. Tanpa perlu menimbang lebih lama, segera kain pusaka yang selama ini hanya tersampir di pundaknya dilepas.
“Percayalah, Manusia Kentut. Kau akan membayar semua nyawa orang-orang yang dekat denganku,” serapah Andika seperti menggeram. Sudut bibirnya terangkat, menandakan dirinya sedang berada di tepi batas kemarahan.
“Mimpi! Kau hanya bermimpi, Andika! Kau tak akan mungkin mengalahkanku. Hua ha ha... Apa kau pi....”
“Diam!” bentak Andika menggelegar.
Seketika Chin Chung tersentak kaget, hingga kata-katanya terputus.
“Kenapa kau tak langsung membuktikannya? Apa kau takut dengan senjataku? He he he...,” kata Andika sambil menyeringai.
“Asal kau tahu saja. Kain ku ini, biar butut bisa dipakai membuntal manusia kentut macam kau! Kau boleh menyebutnya buntalan kentut, tapi akan membuatmu terkentut-kentut. Ya! Meski pun kau berusaha takkentut. Tapi, kau pasti akan kentut...Kentut!”
Wajah Chin Chung merah padam. Tak ada manusia waras yang sanggup menerima celaan keterlaluan Pendekar Slebor. Dialah kini yang justru nyaris meledak murka.
“Mampus kau, Pendekar Dungu!”
Berbarengan dengan umpatan, disambarnya Pendekar Slebor dengan sapuan pendang ke batang leher.
Zing...!
“Wait! Hia-haaa! Kau mau membabat setan bingung?” ejek Pendekar Slebor, setelah mampu menghindari tebasan dengan menggeser kaki dua langkah.
“Aku di sini, nih!”
“Haiiih!”
Chin Chung kembali menggempur telengas. Serangkai sabetan beruntunnya diarahkan ke beberapa bagian tubuh Pendekar Slebor. Seperti tak sudi diserang terus, Andika mulai melakukan elakan yang diimbangi serangan balasan. Sewaktu pedang itu menusuk lurus ke ulu hatinya, tangan kanan yang memegang kain pusaka bergerak, membuat satu lecutan ke depan.
Cret! Trang!
Saat itu juga, pedang yang dikira Pedang Pusaka Langit terpatah menjadi tiga bagian, tertampar kain Pusaka Pendekar Slebor. Tak diragukan lagi. Andika telah menyalurkan sebagian inti kekuatan warisan Pendekar Lembah Kutukan pada senjata yang jarang digunakannya. Terbukti, seketika tercipta percikan bunga api, manakala kain pusakanya menghancurkan senjata lawan.
Chin Chung bukan main terperangah mendapati pedang di tangannya tak utuh lagi. Mana mungkin bisa? Bukankah yang digenggamnya sekarang adalah pedang pusaka terbuat dari batu langit yang keampuhannya tak diragukan?
Dan yang terkejut ternyata bukan hanya dia. Andika pun sampai terbelalak tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Mulutnya bahkan terbuka lebar kebodoh-bodohan. Sesaat kemudian, baru disadari kalau pedang di tangan lawan bukanlah Pedang Pusaka Langit.
“Hia hik hik..,” Andika terkikik geli ingin mengejek.
“Kau salah culik pedang Chin Chung!”
Pendekar Slebor sampai memegangi perutnya karena-menahan tawa.
“Melihat cahaya merah baranya tadi, aku sempat yakin, lho! Tapi nyatanya... huaaa ha ha... nguk!”
Andika memajukan bibirnya.
“Pedangmu hanya dari tulang monyet! Nang, ning, ning, nang, ning, kung....”
Andika makin urakan. Tangannya malah melenggak-lenggok seperti menari ketoprak.
“Apa?! Kau akan berkicau kalau bisa membunuhku dengan senjata bohongan itu?” lanjut Pendekar Slebor.
Napas Chin Chung turun naik memburu. Benaknya terasa menjadi kacau balau tak karuan. Terbang sudah harapannya dapat menghabisi lawan setangguh Pendekar Slebor!
“Sudah...! Lebih baik, lari saja sana. Hus! Hus! Hus!” leceh Andika.
“Aku bukan pengecut!” bentak Chin Chung gusar.
Dibantingnya gagang pedang dari tangan.
“Telanjur basah! Aku akan tetap mengadu jiwa denganmu!”
Setelah itu, Chin Chung menggenjot tubuhnya untuk keluar dari tempat ini.
“Lho-lho-lho? Katanya mau mengadu jiwa?”
“Aku tunggu di luar!” teriak Chin Chung, membuat keputusan.
Disadari, bertempur dengan pendekar kawakan tanah Jawa Dwipa seperti Andika di ruang Sempit seperti itu, sungguh amat tak menguntungkan. Sementara itu, Andika segera menjemput tubuh Putri Ying-lien. Selanjutnya disuruhnya Chin Chung keluar.
0