- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#136
Part 9
Seseorang tampak masih terbaring tak sadarkan diri di bibir Goa Sejuta Lintah. Di tengah pingsannya, muncul seorang wanita. Dilihat dari penampilannya, usianya sekitar dua puluh tahun. Wajahnya cantik tanpa tata rias. Pakaiannya sederhana dengan baju kuning berompi kulit domba. Kesederhanaan juga terlihat pada tataan rambutnya. Meski hanya digelung, rambut panjang hitamnya tetap tampak menawan.
Pribadi gadis itu tampak tegar. Itu terlihat dari caranya menghadapi orang yang bermandi darah. Bagi banyak wanita, pemandangan itu bisa membuat amat gugup. Tapi, tidak bagi si Gadis. Dia malah tenang berjongkok di dekat tubuh itu. Mimik wajahnya hanya berubah. sedikit, manakala nadi leher pemuda yang masih tak sadarkan diri diperiksanya.
Yakin kalau orang itu belum menjadi mayat, wanita ini segera membopongnya. Tanpa kesulitan, diangkatnya tubuh itu ke bahu, lalu dimasukinya mulut goa dengan langkah ringan.
Tiga hari waktu telah berlalu. Dan kini, Chin Liong tersadar. Matanya tampak mengerjap-ngerjap sesaat. Setelah pandangannya tidak lagi mengabur, tampaklah sebuah pemandanganyang tak asing lagi. Apalagi, ketika kepalanya berusaha menoleh ke satu arah. Didapatinya cahaya terang yang datang dari satu tungku raksasa.
“Kenapa aku masih berada di ruangan milik Tua Bangka Tangan Api ini?” bisik pemuda itu, bertanya pada diri sendiri.
“Kau kutemukan sedang pingsan di bibir goa,” sahut seseorang di dekat kepalanya.
Sambil memegangi kepala yang masih berat, pemuda itu mendongak ke arah suara tadi. Sekarang, didapatinya gadis yang menolongnya di bibir Goa Sejuta Lintah tempo hari.
“Siapa kau?” tanya pemuda itu.
Bergegas, dia berusaha bangkit. Namun niatnya tertahan ketika di bagian perutnya terasa nyeri. Dengan seketika tangannya pun berpindah ke bagian perut. Kini, tangannya dapat merasakan kehalusan pembalut yang menutup luka tusuk di perutnya.
“Kaukah yang telah merawatku?” tanya pemuda itu.
“Kenapa kau bisa sampai di tempat ini?”
Gadis yang diajak bicara mendekatinya. Tangannya tampak membawa mangkuk keramik kecil. Setelah berada di sisi kirinya, tangan kanannya membalutkan sesuatu dari mangkuk ke wajah Chin Liong.
“Tak apa-apa. Ini hanya ramuan untuk mengobati memar-memar diwajahmu,” kata wanita itu lembut ketika tangan pemuda ini berusaha menahan.
Pemuda bermata sipit itu akhirnya membiarkan saja wajahnya dijamah tangan berlumur ramuan gadis manis.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Nisanak,” tegur pemuda itu beberapa saat kemudian.
“Pertanyaanyang mana? Kau begitu banyak mengajukan padaku?” balas si Gadis seraya tersenyum ramah.
Pemuda itu menyeringai, menyadari kebodohannya.
“Siapa namamu?” ulang pemuda itu lagi.
“Apa itu perlu?”
“Aku rasa, ya.”
“Tapi, aku rasa tidak
.
“Nisanak..., tolonglah. Aku tak ingin memanggil orang yang telah berjasa padaku dengan sebutan seenaknya,” desak pemuda itu.
“Baik, kalau kau memang memaksa. Aku Mei-jen,” aku si Gadis, akhirnya.
“Aku Chin Liong,” balas pemuda yang ternyata Chin Liong sambil mengulurkan tangan kanan untuk mengajak berjabatan.
Benarkah dia Chin Liong? Lalu, siapa yang meninggalkan Goa Sejuta Lintah bersama Pendekar Slebor?
Pemuda yang tengah dirawat oleh wanita yang mengaku bernama Mei-jen memang Chin Liong! Dan memang, sesungguhnya semua terjadi berada di luar perkiraan Pendekar Slebor. Amat keliru jika orang yang jalan bersamanya dianggap Chin Liong, orang yang selama ini dikenalnya. Lelaki Tiongkok yang diduga Chin Liong, sebenarnya justru Chin Chung!
Kemiripan wajah yang sukar dibedakan, dan kelihatan Chin Chung bersandiwara, telah mampu mengecoh Andika. Berarti, sudah telah tiga kali Chin Chung memperdayainya begitu rupa. Dan sampai sejauh itu Pendekar Slebor tak juga menyadari.
Bisa ditebak, kematian Chia-ceng memang sebenarnya dibunuh oleh Chin Chung pula. Lelaki cebol itu dibokong secara licik, saat mereka melintasi hutan menuju pusat kota. Tampaknya, pendekar muda tanah Jawa Dwipa yang amat terkenal keenceran otaknya, benar-benar hendak dijadikan boneka bulan-bulanan Chin Chung.
Kercerdikan si Pendekar Slebor ternyata telah terombang-ambing kelicikan lawan. Chin Chung memang memiliki rencana, setelah merasa yakin telah menghabisi saudara kembarnya sendiri. Dengan rencana liciknya, dia hendak mencari kepuasan mempermainkan Andika. Pendekar asing itu hendak dibunuhnya, persis di hadapan Putri Ying-lien! Begitu niatnya. Di samping akan menemukan kepuasan tersendiri, sekaligus akan ditemukan kepuasan lain, manakala Putri Ying-lien terperangah mendapati pendekar asing andalannya mati di depan mata.
“Terima kasih kau menyebutkan namamu..., meski belum kutanyakan,” sentil Mei-jen.
Dan ini membuat lelaki muda di depannya kembali menyeringai malu. Tapi tangan Chin Liong disambutnya.
“Ah, maaf. Aku lupa kalau tanganku masih penuh ramuan ini,” tutur Mei-jen, menyadari telah mengotori tangan Chin Liong. Segera ditariknya tangan halus nan lembut itu.
“Tak apa-apa. Tapi ngomong-ngomong...,” Chin Liong mencium tangannya yang terkena ramuan dengan wajah agak meringis.
”.... Ramuan apa yang kau berikan padaku? Kenapa baunya seperti kotoran kerbau?”
“Memangnya kau pikir ramuan apa?”
“Jadi, benar dari kotoran kerbau?” Mata Chin Liong lerbelalak jijik.
“Aku tak bilang begitu,” jawab Mei-jen tenang.
Kaki gadis itu segera melangkah ke tempatnya berdiri semula, untuk meletakkan mangkuk ke satu rak obat-obatan.
“Ah... sykurlah,” gumam Chin Liong lega.
“Ng.... Boleh aku bertanya lagi padamu?”
Dengan agak susah payah, Chin Liong berusaha bangkit.
“Untuk seorang yang sudah ditolong, kau termasuk terlalu banyak tanya. Tapi, tak mengapa” sahut Mei-jen jadi menoleh. Tangannya masih sibuk mengatur kendi-kendi obat.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Bukankah sudah kukatakan kalau aku Mei-jen.”
“Maksudku, julukanmu. Dan kenapa kau bisa berada di tempat terpencil ini?”
“Ini memang tempat tinggalku,” sahut Mei-jen, ringan.
Chin Liong menggelengkan kepala.
“Jangan berbohong! Apa kau kira aku tak tahu kalau ini tempat Tua Bangka Tangan Api?”
“Lantas, kau pikir aku ini siapa?” Mei-jen malah balik menyudutkan Chin Liong. Dia pun berbalik mengha dap pemuda itu.
Chin Liong mengangkat bahu. Tampak wajah berkerut.
“Ya! Siapa kau?” tanya pemuda itu tak mengerti.
“Kau boleh percaya atau tidak. Akulah si Tua Bangka Tangan Api yang disebut-sebut orang itu.”
Kerut di wajah Chin liong tampak makin dalam.
“Kau bisa main-main juga rupanya...,” leceh Chin Liong tak percaya.
“Yang kutahu, Tua Bangka Tangan Api adalah lelaki tua yang telah kutemukan hampir mati
di sini.”
“Dia pembantuku. Kasihan sekali. Padahal, dia begitu setia padaku.”
“Aku masih belum mengerti?”
“Memang, aku tak menyalahkan orang-orang yang telah menyebutku seperti itu. Mungkin mereka mengira pembantuku itulah yang telah membuat senjata pusaka pesanan tokoh-tokoh persilatan,” papar gadis itu enteng.
“Selama ini, aku memang tidak mau tahu pada orang-orang yang memesan senjata padaku. Aku hanya membuatnya. Sedang urusan pemesanan, kuserahkan pada pembantuku.”
“Lalu kenapa....”
“Kenapa dia diberi embel-embel nama Tangan Api?” potong Mei-jen.
“Ah, itu hanya ibarat. Karena logam-logam langka terkeras, dapat dibuat mudah. Maka julukan itu pun bertambah. Dan karena mereka menyangka pembantuku yang membuat, mereka pun menambahkan embel-embel itu pada namanya.”
“Apa benar kau....”
Tiba-tiba ucapan Chin Liong terputus. Bicara tentang lelaki tua itu, dia jadi teringat pada kejadian yang menimpanya.
“Astaga! Kenapa aku jadi melupakan Chin Chung! Dia bisa amat berbahaya bersama pedang itu,” desis Chin Liong dalam.
Segera pemuda itu berusaha berdiri tergesa dari pembaringan kayu.
“Mau ke mana?” tanya Mei-jen.
“Kau belum pulih benar. Tiga hari ini kau tak sadarkan diri. Baru saja siuman, kau sudah ingin pergi?”
“Aku harus mencegah saudara kembarku. Tentu dia memiliki rencana jahat pada Putri Ying-lien dan Andika....”
“Tidak! Tak perlu kau khawatirkan dengan pedang pusaka itu,” tegas gadis yang sebenarnya dialah si Tangan Api sambil menekan bahu Chin Liong kembali berbaring.
“
Apa kau gila?! Pedang pusaka itu mampu membuatnya amat sakti dan lebih sinting!” Chin Liong bersikeras.
“Pedang itu masih ada padaku,” jegal Mei jen.
“Apa?!”
“Apa kau pikir aku tak tahu riwayat benda langit itu? Aku juga tahu keampuhannya. Apalagi, jika telah dibentuk sebuah pedang. Lima ratus tahun yang lalu, buyutku pun pernah membentuk benda langit itu menjadi pedang pusaka yang gagangnya kini dipakai lagi. Dari beliau, cerita itu turun hingga ke aku. Dan, apa kau piker aku akan membiarkan benda sakti itu jatuh ke tangan
orang lalim?” tutur Mei-jen.
“Jadi?”
“Aku telah membuat tiruannya,” aku Mei-jen.
“Dan tiruannya itu yang telah dirampas seseorang yang kau sebut tadi, ketika aku pergi keluar. Aslinya tetap kusimpan, sampai ada orang yang berhak mendapatkannya.”
Chin Liong terlolong tanpa kata, antara terkejut dan gembira. Pantas, waktu bertarung melawan Chin Chung, dia tidak merasakan adanya kekuatan berlipat pada saudara kembarnya. Kalau pun dia kalah, mungkin hanya soal keberuntungan ada di pihak Chin Chung!
Sore telah menjelang. Cahaya meredup dalam lembayung jingga. Di langit, gumpalan-gumpalan awan kecil berpilin masih terlihat. Saat bumi teduh dan angin menyapukan rasa damai, Chin Liong tampak telah berjalan menuju Kuil Peraduan Bulan. Di tangannya tergenggam Pedang Pusaka Langit, terbungkus dalam kain berwarna keemasan. Masih dengan jalan agak limbung, kakinya terus melangkah.
Sehari setelah siuman, dia sudah tidak bisa bersabar lagi untuk segera keluar dari Goa Sejuta Lintah. Hal ini karena dorongan tanggung jawabnya pada nasib Putri Ying-lien dan sahabatnya, Andika. Sementara si Tangan Api yang bernama asli Mei-jen tak bisa mencegah kehendak Chin Liong. Pemuda itu terlalu bersikeras untuk dicegah. Dan ketika Mei-jen yakin kalau Chin Liong benar-benar utusan kerajaan untuk mengamankan Pedang Pusaka Langit, senjata itu pun diserahkan pada pemuda itu.
Chin Liong masih ingat saat terakhir berpisah dengan gadis manis itu. Entah kenapa, kala itu mata Mei-jen ditatapnya lekat-lekat. Dia yakin, sikap itu bukan sekadar ungkapan rasa terima kasihnya. Dan tindakan itu, membuat Mei-jen mengembangkan senyum malu dengan wajah bersemu merah. Dan sebagai wanita berkepribadian tegar, sifat-sifat kewanitaannya tak pernah pudar. Dan dia masih mampu untuk tak tersipu-sipu.
“Sebelum pergi, boleh aku bertanya padamu?” ungkap Chin Liong waktu sebelum pergi. “Kenapa gadis secantikmu menyepi sendiri di tempat terpencil ini?”
“Ceritanya panjang dan menyakitkan untuk diingat,” jawab Mei-jen datar.
“Kalau aku selesai menunaikan tugas dan selamat, boleh kudengar ceritamu. Aku ingin berbagi
rasa denganmu?” ucap Chin Liong.
Mei-jen tak menyahut, juga tak menggeleng atau mengangguk. Dibalasnya tatapan Chin Liong dengan sepasang mata yang bagai dua penggal bulan itu.
“Kau ingin melakukan itu, karena aku telah berjasa padamu?” sindir gadis itu halus.
“Tidak, bukan itu. Dan aku juga tak tahu, kenapa. Hanya aku ingin mengenalmu lebih dekat,” sahut Chin Liong.
“Terima kasih.... Kau ternyata seorang yang penuh perhatian,” puji Mei-jen tulus.
“Tapi kau belum jawab pertanyaanku tadi, bukan?” desak Chin Liong.
Mei-jen terdiam. Ditatapnya lagi pemuda tampan di depannya.
“Jika keinginanmu tulus, rasanya aku tidak bisa menolak,” tutur Mei-jen akhirnya.
Chin Liong tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali tersembul di bibirnya.
“Tapi, berjanjilah padaku. Kau harus selamat dari tugas berat ini,” pinta Mei-jen, membuat relung hati Chin Liong tersentuh.
Chin Liong mendekati Mei-jen. Digenggamnya kedua tangan gadis itu.
“Aku berjanji. Doakanlah aku,” pinta Chin Liong kembali.
Sampai Chin Liong hampir tiba di Kuil Peraduan Bulan, wajah dan pribadi Mei-jen tetap mengusik benaknya. Selama itu pula, dia merasakan getaran lama yang kembali hadir, setelah sekian lama terkubur. Getaran yang pernah ada ketika begitu akrab dengan Ying-lien.
Kini kaki pemuda itu telah memasuki pelataran kuil. Senja saat ini makin terjatuh di tepi langit. Gelap mulai menyapu alam. Namun, masih ada sisa cahaya yang terjaga. Dan baru saja hendak memasuki pintu besar kuil, telinganya menangkap gerak langkah dua orang yang datang.
Chin Liong cepat mengurungkan niat untuk masuk. Dia bergerak sigap, untuk mencari tempat sembunyi di balik semak-semak pelataran. Kedua orangyang datang ternyata sosok-sosok yang amat dikenalnya. Mereka adalah Chin Chung dan Andika.
Tubuh Chin Liong kontan menegang. Ingin rasanya saat itu Chin Chung dihadangnya. Karena dikira, dia akan melakukan niat jahat pada Andika atau Chia-ceng! Tapi keinginannya segera ditekan, manakala melihat bagaimana Chin Chung berjalan demikian santai.
“Hm.... Tampaknya dia tak begitu khawatir kehadirannya diketahui. Lalu, kenapa dia datang?” bisik hati Chin Liong bertanya-tanya sendiri.
“Apakah dia mulai bermain-main kucing-kucingan lagi? Ya! Pasti dia hendak mempermainkan Andika kembali, seperti saat di tanah Jawa Dwipa dulu!”
Chin Liong terus memperhatikan Chin Chung dan Andika yang terus melangkah tenang.
“Baik akan kuikuti dulu permainannya! Mungkin aku bisa mengikutinya hingga ke tempat Putri Ying-lien disembunyikan,” putus Chin Liong akhirnya.
Malam itu dua sosok bayangan mengendap-endap dalam gelap. Hanya temaram cahaya rembulan yang membantu kedua bayangan orang itu menerabas onak pohon-pohon di kaki Bukit Naga sebelah timur kota Yingtienfu. Mereka terus mendekati ke arah sebuah bangunan besar yang tersembunyi dalam lingkaran lebat pepohonan randu, tepat di balik bukit itu. Tak tampak adanya kesukaran pada perjalanan mereka. Jalan menanjak penuh semak dan tak jarangbatang pohon tumbang, dapat mudah dilalui. Keduanya seakan sepasang rase. Lincah dan gesit.
Sesekali dua sosok bayangan itu terlihat melompat ringan untuk melewati mulut jurang dalam dan lebar. Tanpa menghasilkan suara sedikit pun, kaki mereka menjejak mantap di bibir jurang, lalu melanjutkan langkah dengan berlari-lari kecil. Setelah tiba di puncak Bukit Naga, mereka mulai menuruni semacam tebing berbatu. Sekitar dua ratus depa dari puncak bukit itulah terlihat bangunan besar yang berdiri pada kemiringan tebing.
Dari kejauhan, bangunan yang hendak disantroni itu tampak menjulang angker ke angkasa. Dilihat dari bentuknya, bangunan itu seperti sebuah benteng kuno yang tak digunakan lagi. Dindingnyayang hitam kehijau-hijauan karena berlumut, terbuat dari susunan batu-batu cadas persegi. Pada dua sisi bangunan terdapat menara yang seakan hendak menggapai langit. Di sekitar dinding batu sepanjang kurang lebih tiga puluh tombak, tak satu jendela pun, kecuali satu pintu gerbang besar.
Di masing-masing menara pada sisi benteng, tampak dua orang sedang berjaga penuh siaga. Yang terlihat hanya setengah tubuh mereka, karena berdiri di mulut jendela pengintai, seukuran manusia yang terdapat di sisi utara dan selatan. Sementara dua jendela di menara yang lain menghadap arah timur dan barat. Para penjaga itu berseragam prajurit kerajaan, berwarna merah dengan tutup kepala dari kain berwarna merah pula. Memang, sebelumnya mereka adalah para prajurit kerajaan. Tapi kini mereka telah membelot.
Tangan mereka masing-masing tampak memegang tombak panjang di depan dada. Rupanya penjaga itu tak mampu memergoki dua penyelusup tadi yang kelihatannya berkepandaian tinggi. Layaknya hantu, kedua penyusup itu tiba-tiba saja telah sampai di salah satu atap menara, setelah sebelumnya merayap tanpa suara bagai cicak pada susunan dinding cadas bangunan tinggi ini. Seorang dari mereka kemudian bergerak lincah ke arah jendela, secara bergelayut di tonjolan dinding menara.
Seseorang tampak masih terbaring tak sadarkan diri di bibir Goa Sejuta Lintah. Di tengah pingsannya, muncul seorang wanita. Dilihat dari penampilannya, usianya sekitar dua puluh tahun. Wajahnya cantik tanpa tata rias. Pakaiannya sederhana dengan baju kuning berompi kulit domba. Kesederhanaan juga terlihat pada tataan rambutnya. Meski hanya digelung, rambut panjang hitamnya tetap tampak menawan.
Pribadi gadis itu tampak tegar. Itu terlihat dari caranya menghadapi orang yang bermandi darah. Bagi banyak wanita, pemandangan itu bisa membuat amat gugup. Tapi, tidak bagi si Gadis. Dia malah tenang berjongkok di dekat tubuh itu. Mimik wajahnya hanya berubah. sedikit, manakala nadi leher pemuda yang masih tak sadarkan diri diperiksanya.
Yakin kalau orang itu belum menjadi mayat, wanita ini segera membopongnya. Tanpa kesulitan, diangkatnya tubuh itu ke bahu, lalu dimasukinya mulut goa dengan langkah ringan.
***
Tiga hari waktu telah berlalu. Dan kini, Chin Liong tersadar. Matanya tampak mengerjap-ngerjap sesaat. Setelah pandangannya tidak lagi mengabur, tampaklah sebuah pemandanganyang tak asing lagi. Apalagi, ketika kepalanya berusaha menoleh ke satu arah. Didapatinya cahaya terang yang datang dari satu tungku raksasa.
“Kenapa aku masih berada di ruangan milik Tua Bangka Tangan Api ini?” bisik pemuda itu, bertanya pada diri sendiri.
“Kau kutemukan sedang pingsan di bibir goa,” sahut seseorang di dekat kepalanya.
Sambil memegangi kepala yang masih berat, pemuda itu mendongak ke arah suara tadi. Sekarang, didapatinya gadis yang menolongnya di bibir Goa Sejuta Lintah tempo hari.
“Siapa kau?” tanya pemuda itu.
Bergegas, dia berusaha bangkit. Namun niatnya tertahan ketika di bagian perutnya terasa nyeri. Dengan seketika tangannya pun berpindah ke bagian perut. Kini, tangannya dapat merasakan kehalusan pembalut yang menutup luka tusuk di perutnya.
“Kaukah yang telah merawatku?” tanya pemuda itu.
“Kenapa kau bisa sampai di tempat ini?”
Gadis yang diajak bicara mendekatinya. Tangannya tampak membawa mangkuk keramik kecil. Setelah berada di sisi kirinya, tangan kanannya membalutkan sesuatu dari mangkuk ke wajah Chin Liong.
“Tak apa-apa. Ini hanya ramuan untuk mengobati memar-memar diwajahmu,” kata wanita itu lembut ketika tangan pemuda ini berusaha menahan.
Pemuda bermata sipit itu akhirnya membiarkan saja wajahnya dijamah tangan berlumur ramuan gadis manis.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, Nisanak,” tegur pemuda itu beberapa saat kemudian.
“Pertanyaanyang mana? Kau begitu banyak mengajukan padaku?” balas si Gadis seraya tersenyum ramah.
Pemuda itu menyeringai, menyadari kebodohannya.
“Siapa namamu?” ulang pemuda itu lagi.
“Apa itu perlu?”
“Aku rasa, ya.”
“Tapi, aku rasa tidak
.
“Nisanak..., tolonglah. Aku tak ingin memanggil orang yang telah berjasa padaku dengan sebutan seenaknya,” desak pemuda itu.
“Baik, kalau kau memang memaksa. Aku Mei-jen,” aku si Gadis, akhirnya.
“Aku Chin Liong,” balas pemuda yang ternyata Chin Liong sambil mengulurkan tangan kanan untuk mengajak berjabatan.
Benarkah dia Chin Liong? Lalu, siapa yang meninggalkan Goa Sejuta Lintah bersama Pendekar Slebor?
Pemuda yang tengah dirawat oleh wanita yang mengaku bernama Mei-jen memang Chin Liong! Dan memang, sesungguhnya semua terjadi berada di luar perkiraan Pendekar Slebor. Amat keliru jika orang yang jalan bersamanya dianggap Chin Liong, orang yang selama ini dikenalnya. Lelaki Tiongkok yang diduga Chin Liong, sebenarnya justru Chin Chung!
Kemiripan wajah yang sukar dibedakan, dan kelihatan Chin Chung bersandiwara, telah mampu mengecoh Andika. Berarti, sudah telah tiga kali Chin Chung memperdayainya begitu rupa. Dan sampai sejauh itu Pendekar Slebor tak juga menyadari.
Bisa ditebak, kematian Chia-ceng memang sebenarnya dibunuh oleh Chin Chung pula. Lelaki cebol itu dibokong secara licik, saat mereka melintasi hutan menuju pusat kota. Tampaknya, pendekar muda tanah Jawa Dwipa yang amat terkenal keenceran otaknya, benar-benar hendak dijadikan boneka bulan-bulanan Chin Chung.
Kercerdikan si Pendekar Slebor ternyata telah terombang-ambing kelicikan lawan. Chin Chung memang memiliki rencana, setelah merasa yakin telah menghabisi saudara kembarnya sendiri. Dengan rencana liciknya, dia hendak mencari kepuasan mempermainkan Andika. Pendekar asing itu hendak dibunuhnya, persis di hadapan Putri Ying-lien! Begitu niatnya. Di samping akan menemukan kepuasan tersendiri, sekaligus akan ditemukan kepuasan lain, manakala Putri Ying-lien terperangah mendapati pendekar asing andalannya mati di depan mata.
***
“Terima kasih kau menyebutkan namamu..., meski belum kutanyakan,” sentil Mei-jen.
Dan ini membuat lelaki muda di depannya kembali menyeringai malu. Tapi tangan Chin Liong disambutnya.
“Ah, maaf. Aku lupa kalau tanganku masih penuh ramuan ini,” tutur Mei-jen, menyadari telah mengotori tangan Chin Liong. Segera ditariknya tangan halus nan lembut itu.
“Tak apa-apa. Tapi ngomong-ngomong...,” Chin Liong mencium tangannya yang terkena ramuan dengan wajah agak meringis.
”.... Ramuan apa yang kau berikan padaku? Kenapa baunya seperti kotoran kerbau?”
“Memangnya kau pikir ramuan apa?”
“Jadi, benar dari kotoran kerbau?” Mata Chin Liong lerbelalak jijik.
“Aku tak bilang begitu,” jawab Mei-jen tenang.
Kaki gadis itu segera melangkah ke tempatnya berdiri semula, untuk meletakkan mangkuk ke satu rak obat-obatan.
“Ah... sykurlah,” gumam Chin Liong lega.
“Ng.... Boleh aku bertanya lagi padamu?”
Dengan agak susah payah, Chin Liong berusaha bangkit.
“Untuk seorang yang sudah ditolong, kau termasuk terlalu banyak tanya. Tapi, tak mengapa” sahut Mei-jen jadi menoleh. Tangannya masih sibuk mengatur kendi-kendi obat.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Bukankah sudah kukatakan kalau aku Mei-jen.”
“Maksudku, julukanmu. Dan kenapa kau bisa berada di tempat terpencil ini?”
“Ini memang tempat tinggalku,” sahut Mei-jen, ringan.
Chin Liong menggelengkan kepala.
“Jangan berbohong! Apa kau kira aku tak tahu kalau ini tempat Tua Bangka Tangan Api?”
“Lantas, kau pikir aku ini siapa?” Mei-jen malah balik menyudutkan Chin Liong. Dia pun berbalik mengha dap pemuda itu.
Chin Liong mengangkat bahu. Tampak wajah berkerut.
“Ya! Siapa kau?” tanya pemuda itu tak mengerti.
“Kau boleh percaya atau tidak. Akulah si Tua Bangka Tangan Api yang disebut-sebut orang itu.”
Kerut di wajah Chin liong tampak makin dalam.
“Kau bisa main-main juga rupanya...,” leceh Chin Liong tak percaya.
“Yang kutahu, Tua Bangka Tangan Api adalah lelaki tua yang telah kutemukan hampir mati
di sini.”
“Dia pembantuku. Kasihan sekali. Padahal, dia begitu setia padaku.”
“Aku masih belum mengerti?”
“Memang, aku tak menyalahkan orang-orang yang telah menyebutku seperti itu. Mungkin mereka mengira pembantuku itulah yang telah membuat senjata pusaka pesanan tokoh-tokoh persilatan,” papar gadis itu enteng.
“Selama ini, aku memang tidak mau tahu pada orang-orang yang memesan senjata padaku. Aku hanya membuatnya. Sedang urusan pemesanan, kuserahkan pada pembantuku.”
“Lalu kenapa....”
“Kenapa dia diberi embel-embel nama Tangan Api?” potong Mei-jen.
“Ah, itu hanya ibarat. Karena logam-logam langka terkeras, dapat dibuat mudah. Maka julukan itu pun bertambah. Dan karena mereka menyangka pembantuku yang membuat, mereka pun menambahkan embel-embel itu pada namanya.”
“Apa benar kau....”
Tiba-tiba ucapan Chin Liong terputus. Bicara tentang lelaki tua itu, dia jadi teringat pada kejadian yang menimpanya.
“Astaga! Kenapa aku jadi melupakan Chin Chung! Dia bisa amat berbahaya bersama pedang itu,” desis Chin Liong dalam.
Segera pemuda itu berusaha berdiri tergesa dari pembaringan kayu.
“Mau ke mana?” tanya Mei-jen.
“Kau belum pulih benar. Tiga hari ini kau tak sadarkan diri. Baru saja siuman, kau sudah ingin pergi?”
“Aku harus mencegah saudara kembarku. Tentu dia memiliki rencana jahat pada Putri Ying-lien dan Andika....”
“Tidak! Tak perlu kau khawatirkan dengan pedang pusaka itu,” tegas gadis yang sebenarnya dialah si Tangan Api sambil menekan bahu Chin Liong kembali berbaring.
“
Apa kau gila?! Pedang pusaka itu mampu membuatnya amat sakti dan lebih sinting!” Chin Liong bersikeras.
“Pedang itu masih ada padaku,” jegal Mei jen.
“Apa?!”
“Apa kau pikir aku tak tahu riwayat benda langit itu? Aku juga tahu keampuhannya. Apalagi, jika telah dibentuk sebuah pedang. Lima ratus tahun yang lalu, buyutku pun pernah membentuk benda langit itu menjadi pedang pusaka yang gagangnya kini dipakai lagi. Dari beliau, cerita itu turun hingga ke aku. Dan, apa kau piker aku akan membiarkan benda sakti itu jatuh ke tangan
orang lalim?” tutur Mei-jen.
“Jadi?”
“Aku telah membuat tiruannya,” aku Mei-jen.
“Dan tiruannya itu yang telah dirampas seseorang yang kau sebut tadi, ketika aku pergi keluar. Aslinya tetap kusimpan, sampai ada orang yang berhak mendapatkannya.”
Chin Liong terlolong tanpa kata, antara terkejut dan gembira. Pantas, waktu bertarung melawan Chin Chung, dia tidak merasakan adanya kekuatan berlipat pada saudara kembarnya. Kalau pun dia kalah, mungkin hanya soal keberuntungan ada di pihak Chin Chung!
***
Sore telah menjelang. Cahaya meredup dalam lembayung jingga. Di langit, gumpalan-gumpalan awan kecil berpilin masih terlihat. Saat bumi teduh dan angin menyapukan rasa damai, Chin Liong tampak telah berjalan menuju Kuil Peraduan Bulan. Di tangannya tergenggam Pedang Pusaka Langit, terbungkus dalam kain berwarna keemasan. Masih dengan jalan agak limbung, kakinya terus melangkah.
Sehari setelah siuman, dia sudah tidak bisa bersabar lagi untuk segera keluar dari Goa Sejuta Lintah. Hal ini karena dorongan tanggung jawabnya pada nasib Putri Ying-lien dan sahabatnya, Andika. Sementara si Tangan Api yang bernama asli Mei-jen tak bisa mencegah kehendak Chin Liong. Pemuda itu terlalu bersikeras untuk dicegah. Dan ketika Mei-jen yakin kalau Chin Liong benar-benar utusan kerajaan untuk mengamankan Pedang Pusaka Langit, senjata itu pun diserahkan pada pemuda itu.
Chin Liong masih ingat saat terakhir berpisah dengan gadis manis itu. Entah kenapa, kala itu mata Mei-jen ditatapnya lekat-lekat. Dia yakin, sikap itu bukan sekadar ungkapan rasa terima kasihnya. Dan tindakan itu, membuat Mei-jen mengembangkan senyum malu dengan wajah bersemu merah. Dan sebagai wanita berkepribadian tegar, sifat-sifat kewanitaannya tak pernah pudar. Dan dia masih mampu untuk tak tersipu-sipu.
“Sebelum pergi, boleh aku bertanya padamu?” ungkap Chin Liong waktu sebelum pergi. “Kenapa gadis secantikmu menyepi sendiri di tempat terpencil ini?”
“Ceritanya panjang dan menyakitkan untuk diingat,” jawab Mei-jen datar.
“Kalau aku selesai menunaikan tugas dan selamat, boleh kudengar ceritamu. Aku ingin berbagi
rasa denganmu?” ucap Chin Liong.
Mei-jen tak menyahut, juga tak menggeleng atau mengangguk. Dibalasnya tatapan Chin Liong dengan sepasang mata yang bagai dua penggal bulan itu.
“Kau ingin melakukan itu, karena aku telah berjasa padamu?” sindir gadis itu halus.
“Tidak, bukan itu. Dan aku juga tak tahu, kenapa. Hanya aku ingin mengenalmu lebih dekat,” sahut Chin Liong.
“Terima kasih.... Kau ternyata seorang yang penuh perhatian,” puji Mei-jen tulus.
“Tapi kau belum jawab pertanyaanku tadi, bukan?” desak Chin Liong.
Mei-jen terdiam. Ditatapnya lagi pemuda tampan di depannya.
“Jika keinginanmu tulus, rasanya aku tidak bisa menolak,” tutur Mei-jen akhirnya.
Chin Liong tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali tersembul di bibirnya.
“Tapi, berjanjilah padaku. Kau harus selamat dari tugas berat ini,” pinta Mei-jen, membuat relung hati Chin Liong tersentuh.
Chin Liong mendekati Mei-jen. Digenggamnya kedua tangan gadis itu.
“Aku berjanji. Doakanlah aku,” pinta Chin Liong kembali.
Sampai Chin Liong hampir tiba di Kuil Peraduan Bulan, wajah dan pribadi Mei-jen tetap mengusik benaknya. Selama itu pula, dia merasakan getaran lama yang kembali hadir, setelah sekian lama terkubur. Getaran yang pernah ada ketika begitu akrab dengan Ying-lien.
Kini kaki pemuda itu telah memasuki pelataran kuil. Senja saat ini makin terjatuh di tepi langit. Gelap mulai menyapu alam. Namun, masih ada sisa cahaya yang terjaga. Dan baru saja hendak memasuki pintu besar kuil, telinganya menangkap gerak langkah dua orang yang datang.
Chin Liong cepat mengurungkan niat untuk masuk. Dia bergerak sigap, untuk mencari tempat sembunyi di balik semak-semak pelataran. Kedua orangyang datang ternyata sosok-sosok yang amat dikenalnya. Mereka adalah Chin Chung dan Andika.
Tubuh Chin Liong kontan menegang. Ingin rasanya saat itu Chin Chung dihadangnya. Karena dikira, dia akan melakukan niat jahat pada Andika atau Chia-ceng! Tapi keinginannya segera ditekan, manakala melihat bagaimana Chin Chung berjalan demikian santai.
“Hm.... Tampaknya dia tak begitu khawatir kehadirannya diketahui. Lalu, kenapa dia datang?” bisik hati Chin Liong bertanya-tanya sendiri.
“Apakah dia mulai bermain-main kucing-kucingan lagi? Ya! Pasti dia hendak mempermainkan Andika kembali, seperti saat di tanah Jawa Dwipa dulu!”
Chin Liong terus memperhatikan Chin Chung dan Andika yang terus melangkah tenang.
“Baik akan kuikuti dulu permainannya! Mungkin aku bisa mengikutinya hingga ke tempat Putri Ying-lien disembunyikan,” putus Chin Liong akhirnya.
***
Malam itu dua sosok bayangan mengendap-endap dalam gelap. Hanya temaram cahaya rembulan yang membantu kedua bayangan orang itu menerabas onak pohon-pohon di kaki Bukit Naga sebelah timur kota Yingtienfu. Mereka terus mendekati ke arah sebuah bangunan besar yang tersembunyi dalam lingkaran lebat pepohonan randu, tepat di balik bukit itu. Tak tampak adanya kesukaran pada perjalanan mereka. Jalan menanjak penuh semak dan tak jarangbatang pohon tumbang, dapat mudah dilalui. Keduanya seakan sepasang rase. Lincah dan gesit.
Sesekali dua sosok bayangan itu terlihat melompat ringan untuk melewati mulut jurang dalam dan lebar. Tanpa menghasilkan suara sedikit pun, kaki mereka menjejak mantap di bibir jurang, lalu melanjutkan langkah dengan berlari-lari kecil. Setelah tiba di puncak Bukit Naga, mereka mulai menuruni semacam tebing berbatu. Sekitar dua ratus depa dari puncak bukit itulah terlihat bangunan besar yang berdiri pada kemiringan tebing.
Dari kejauhan, bangunan yang hendak disantroni itu tampak menjulang angker ke angkasa. Dilihat dari bentuknya, bangunan itu seperti sebuah benteng kuno yang tak digunakan lagi. Dindingnyayang hitam kehijau-hijauan karena berlumut, terbuat dari susunan batu-batu cadas persegi. Pada dua sisi bangunan terdapat menara yang seakan hendak menggapai langit. Di sekitar dinding batu sepanjang kurang lebih tiga puluh tombak, tak satu jendela pun, kecuali satu pintu gerbang besar.
Di masing-masing menara pada sisi benteng, tampak dua orang sedang berjaga penuh siaga. Yang terlihat hanya setengah tubuh mereka, karena berdiri di mulut jendela pengintai, seukuran manusia yang terdapat di sisi utara dan selatan. Sementara dua jendela di menara yang lain menghadap arah timur dan barat. Para penjaga itu berseragam prajurit kerajaan, berwarna merah dengan tutup kepala dari kain berwarna merah pula. Memang, sebelumnya mereka adalah para prajurit kerajaan. Tapi kini mereka telah membelot.
Tangan mereka masing-masing tampak memegang tombak panjang di depan dada. Rupanya penjaga itu tak mampu memergoki dua penyelusup tadi yang kelihatannya berkepandaian tinggi. Layaknya hantu, kedua penyusup itu tiba-tiba saja telah sampai di salah satu atap menara, setelah sebelumnya merayap tanpa suara bagai cicak pada susunan dinding cadas bangunan tinggi ini. Seorang dari mereka kemudian bergerak lincah ke arah jendela, secara bergelayut di tonjolan dinding menara.
0