- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#133
Part 6
Meski sulit menjajalnya, dan sadar kalau lawan-lawan yang dihadapi setiap saat bisa melempar nyawanya, Pendekar Slebor tetap tak kehilangan sifat urakannya. Sembilan langkah di depan mereka, Andika mengumbar senyum mengejek. Lebih menjengkelkan lagi kedua alisnya juga dikedik-kedikkan.
“Kau sudah terlalu lamban untuk menghadapiku, Tuan Tua,” ledek Pendekar Slebor.
Dan baru saja Andika hendak membuka mulutnya kembali, terdengar langkah lari ringan di belakang. Seketika dengan sigap tubuhnya berbalik. Ternyata yang datang lelaki yang amat dikenalnya.
“Chin Liong...,” ujar Pendekar Slebor saat melihat siapa yang datang.
“Kenapa kau tak melanjutkan perjalananmu?”
“Aku hanya khawatir, si Tua Licik itu menjebakmu,” sahut Chin Liong.
“Nyatanya memang begitu,” timpal Andika. Lalu, diliriknya empat orang lawannya.
“Itulah mereka.”
“Mereka mengeroyokmu?”
“Begitulah. Kebiasaan yang tak baik, bukan?”
Dengan mata tetap mengawasi gerak-gerik Empat Penguasa Penjuru Angin, pemuda Tiongkok itu mendekatkan kepalanya ke wajah Andika.
“Apa kau perlu bantuan untuk menghadapi mereka? Mereka memiliki ilmu yang sulit terukur. Apa kau yakin bisa menghadapi?” tanya Chin Liong.
Andika menyeringai.
“Sebenarnya aku tidak perlu bantuan,” ucap Pendekar Slebor agak menyombong.
“Tapi kalau kau memang ingin ambil bagian dalam pesta kecil ini, ya silakan!”
“Bagus! Biarpun bantuanku mungkin tak begitu berarti.”
“Mau dimulai sekarang, atau setelah tahun monyet nanti?”
Pemuda Tiongkok di sampingnya tak menyahut. Keputusan melanjutkan pertarungan berada di tangan Andika. Itu sebabnya, dia hanya menjawab dengan lirikan saja.
“Kupikir lebih bagus sekarang,” tandas Andika. Lalu....
“Hiaaa!”
Andika berteriak keras-keras. Begitu kerasnya, seolah hendak memutuskan urat lehernya sendiri. Berbareng dengan teriakannya, langsung digunakannya jurus ‘Memapak Petir Membabi buta’ sambil berlari ke arah lawan-lawannya.
“Yiaaa!”
Chin Liong menyusul di belakang bersama teriakan yang tak kalah menggelegar.
Maka pertempuran terdahsyat sepanjang satu abad terakhir pun akan segera pecah kembali di negeri itu. Sampai saat ini, Si Pembawa Badai sempat pula kagum pada lawannya. Masih tergolong muda, tapi sudah memiliki tingkat kesaktian begitu luar biasa. Dan kini, kekagumannya bertambah tatkala disaksikan sendiri, bagaimana menakjubkan jurus Pendekar Slebor. Jurus ‘Memapak Petir Membabi buta’ adalah jurus ciptaan Andika ketika menjalani penyempurnaan kesaktian di Lembah Kutukan (Baca serial Pendekar Slebor dalam episode: “Lembah Kutukan”).
Setiap gerakan tubuhnya tampak seperti orang kelimpungan tak karuan. Tapi mata tokoh persilatan yang banyak makan asam garam seperti Si Pembawa Badai, gerakan kacau balau Pendekar Slebor justru dianggap sebagai serangan yang amat sulit dimentahkan. Bagaimana tidak? Nyatanya pukulan atau tendangan pendekar muda itu tiba-tiba bisa melenceng dari sasaran semula dengan kecepatan sulit ditangkap mata!
Sadar akan hal ini, Si Pembawa Badai segera menggenjot tubuh jauh-jauh untuk mengatur jarak. Barisan Empat Tonggak Bumi Menghantam Gunung mesti dihadirkan kembali, pikirnya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa diandalkan unttik menghadapi Pendekar Slebor.
Di lain Sisi, Andika mulai menggempur tiga lawannya yang lain, tanpa peduli pada Dewi Seribu Diri masih juga mencoba tersenyum-senyum tak karuan. Lalu apa yang dilakukan Chin Liong di belakangnya? Tanpa sepengetahuan Pendekar Slebor, pemuda Tiongkok itu mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.
Nyatanya kepala Andika siap dihantam dengan satu tinju geledek!
Jika tinju maut yang dilancarkan pemuda Tiongkok itu lebih cepat sekejapan saja, sudah bisa dipastikan kepala Pendekar Slebor akan remuk. Untunglah pada waktu yang nyaris bersamaan, dia membuat gerakan tak terduga. Tubuhnya langsung melenting tinggi ke depan untuk menyarangkan tendangan ganda ke arah Pencuri Jantung dan Hantu Bisu Kaki Baja. Tindakan Pendekar Slebor mengakibatkan bokongan dari belakang luput, sehingga menghasilkan desir angin cukup keras yang masih sempat tertangkap telinga.
Wesss!
Menangkap suara mencurigakan itu, Andika jadi terperanjat. Niatnya untuk membabatkan kaki ke arah kedua lawannya di depan diurungkan. Di udara, tubuhnya segera digenjot lagi dengan membuat satu putaran. Setelah itu, kakinya mendarat enam langkah di belakang Pencuri Jantung dan Hantu Bisu Kaki Baja.
Di tengah-tengah kepungan kelima orang itu, kini Andika menatap tak mengerti pada pemuda Tiongkok yang semula dikira Chin Liong. Matanya menyipit dan benaknya mereka terhadap pemuda Tiongkok itu.
“Kau bukan Chin Liong.... Kau pasti, Chin Chung,” desis Pendekar Slebor pasti.
Orang yang ditatap, saat itu pula mengumbar tawa keras.
“Hua ha ha...! Aku memang Chin Chung! Kau kaget, Pendekar Bodoh? Sekali lagi, kau tertipu permainanku, bukan? Hua ha ha...!” cemooh pemuda yang benar-benar mirip Chin Liong, tapi ternyata Chin Chung.
“Kentut basi!” serapah Andika.
Bukan main geramnya Pendekar Slebor melihat Chin Chung. Selama ini, dia bukan hanya telah dipermainkan begitu rupa oleh lawannya. Tapi, Andika juga mempunyai piutang nyawa atas kematian Ratna. Kegeramannya makin menggelegak manakala teringat beberapa pembantaian yang dilakukan Chin Chung dan pasukannya di tanah Jawa Dwipa. (Baca kisah Pendekar Slebor dalam episode: pusaka Langit”!).
“Kau harus membayar semua perbuatanmu di negeriku, Chin Chung!”
“Aku? Jangan menjadi lebih bodoh! Kau tak akan mungkin melakukannya, karena hari ini nyawamu akan lepas dari raga!” sergah Chin Chung. Mimik wajahnya begitu mengancam.
“Untuk menghadapi kawan-kawanku yang bergelar Empat Penguasa Penjuru Angin, kau tentu harus menguras seluruh kemampuan. Kau bisa saja menjadi tokoh nomor satu di negerimu. Tapi, ingat. Mereka juga tokoh-tokoh puncak di negeri kami. Meskipun aku tak begitu yakin kau akan lebih unggul. Tapi aku yakin, dengan bantuanku, kau akan mudah disingkirkan!”
“Jangan terlalu yakin!” hardik Andika.
“Ya! Jangan terlalu yakin, Pengkhianat Busuk!” Tiba-tiba terdengar sahutan seseorang, dua puluh lima langkah dari tempat tersebut.
Suara itu berasal dari mulut seorang wanita. Dan Andika merasa pernah mendengarnya.
Bergegas Pendekar Slebor menoleh, berbarengan dengan kelima lawannya.
“Ying-lien...,” gumam Andika setelah melihat wanita yang menyela hardikannya.
Ya! Ying-lien atau Bidadari Buta Bersayap Naga telah tiba pula di tempat ini bersama Chia-ceng. Kemudian dengan satu hentakan saja, tubuh wanita buta itu melayang seperti camar di udara untuk selanjutnya mendarat di samping kiri Andika. Kemudian, menyusul Chia-ceng si Cebol Bermuka Merah. Orang tua berbadan pendek gemuk itu menempati sisi kanan Pendekar Slebor.
“Tampaknya kau mulai sudi bersikap bersahabat denganku, Putri,” sapa Andika.
Kembali dia memanggil Ying-lien dengan sebutan ‘putri’. Sebelumnya, dia memanggil gadis itu dengan namanya saja, karena jengkel.
“Aku tidak pernah meragukan Chin Liong,” balas Putri Ying-lien tanpa menoleh. Mata batin inderanya waspada pada calon lawan-lawan mereka.
“Apa maksudmu?” tanya Andika tak mengerti
“Bukankah dia percaya kalau kau mampumenolong kami.”
“Dengan begitu, kau juga mempercayaiku? Mempercayai kemampuanku menolong negerimu dari rongrongan para pengkhianat?” ucap Andika, menduga ucapan Putri Ying-lien selanjutnya.
“Tepat,” jawab Putri Ying-lien cepat.
“Kini, tak perlu lagi banyak tanya kalau tak ingin kecolongan oleh mereka.”
“Tapi kenapa kau bersikap menolakku pada mulanya?” tanya Andika lagi.
Tak dipedulikannya peringatan Putri Ying-lien tadi. Wanita berparas jelita itu menghempas napas kesal menghadapi sikap keras kepala Andika yang mulai terlihat lagi.
“Karena aku ingin menguji kesungguhanmu. Itu saja,” jawab Putri Ying-lien agak jengkel.
“Itu saja?”
“Hey? Apa mulutmu tak bisa dikunci untuk sementara?” bentak wanita itu kesal.
“He he he...,” Andika malah terkekeh.
Mendadak sontak Chin Chung mengeluarkan sepasang cakram selebar piring makan dari balik
bajunya.
“Heaaa...!”
Dengan senjata itu, Chin Chung melabrak Pendekar Slebor yang dianggap sedang lengah. Sedangkan Pencuri Jantung segera mengeluarkan batang bambu tipisnya. Sementara Dewi Seribu Diri telah meloloskan selendang suteranya pula dari pinggangnya.
Karena merasa tak sanggup melawan Empat Penguasa Penjuru Angin, Putri Ying-lien mempercayakan Andika untuk menghadapi mereka. Sedang dia sendiri menghadang serangan Chin Chung. Wanita itu merasa harus berhadapan langsung dengan saudara kembar Chin Liong itu. Ada satu hutang yang harus dibayar Chin Chung pada dirinya. Dan itu harus dibayar dengan nyawa sekarang juga.
Maka pertarungan pun tak terelakkan lagi. Seketika terdengar teriakan-teriakan membahana, menyemaraki pertarungan.
Kancah pertarungan nyawa dalam pertukaran jurus demi jurus maut telah berlangsung hingga matahari rebah di kaki langit sebelah barat. Hingga hampir jurus keseratus tak ada seorangpun yang tumbang. Andika yang mendapat dukungan Cebol rmuka Merah atas perintah Putri Ying-lien, dapat mengimbangi setiap barisan tempur yang selama ini tak terkalahkan milik Empat Penguasa Penjuru Angin.
Wilayah sekitar kancah pertarungan sudah hamper tersapu angin topan. Demikian porak-poranda! Banyak pepohonan yang besarnya tak terpeluk tangan tumbang. Memang, pertarungan tanpa terasa kini berpindah ke sebuah kaki bukit yang banyak ditumbuhi pepohonan raksasa.
Dua medan pertarungan yang terjadi, terpisah sekitar empat puluh depa. Putri Ying-lien yang berhadapan melawan orang yang paling dibencinya, Chin Chung, berada di sebelah barat daya. Sedangkan pertempuran Andika dan Chia-ceng melawan empat datuk sesat Tiongkok itu berlangsung di sebelah timur laut. Sampai suatu ketika....
“Berhenti kau Pendekar Slebor!”
Terdengar Chin Chung meneriakkan perintah kasar pada Andika dan Chia-ceng. Padahal, saat itu Pendekar Slebor sudah berhasil membuat anak Si Pembawa Badai memuntahkan darah segar. Bahkan senjata Pencuri Jantung yang terbuat dari bambu langka telah dipatahkannya pula. Dengan serta merta, Pendekar Slebor menghentikan cecarannya pada Pencuri Jantung. Dia melompat mundur beberapa tombak untuk mencari tempat aman. Kemudian, secepatnya Kepalanya menoleh ke arah suara Chin Chung. Begitu juga Chia-ceng.
Tampak Chin Chung kini sedang menggapit leher Putri Ying-lien yang nampaknya telah terluka dalam. Dan itu bisa dipastikan karena hidung dan sudut bibir Putri Ying-lien mengeluarkan darah. Sementara satu tangan Chin Chung menempelkan cakram ke leher Putri Ying-lien.
“Putri...,” ujar Chia-ceng, khawatir.
“Apa yang kau inginkan Chin Chung?” tanya Andika, dengan sedikit hati-hati.
Pendekar Slebor tak mau leher wanita jelita itu jadi santapan empuk senjata cakram Chin Chung.
“Apa keinginanku? Hua ha ha...! Aku ingin agar kau menyingkir dari urusan kami! Kau dengar itu?!”
Chia-ceng melirik Andika untuk meminta pertimbangan.
“Bagaimana, Anak Muda?” tanya orang tua gendut itu.
“Lebih baik turuti saja kemauannya. Aku khawatir, dia mencelakakan Putri Ying-lien,” sarah Andika tanpa menoleh. Matanya tetap terhujam tajam pada Chin Chung di kejauhan.
“Aku pikir juga begitu,” timpal Chia-ceng, setuju.
“Baik! Kalau memang itu maumu, Chin Chung! Tapi sebelum aku menyingkir, kuberitahukan dulu sesuatu padamu. Jika wanita itu diusik selembar rambut saja, kau akan kuhabisi!” teriak Andika akhirnya.
Andika lalu mengajak Chia-ceng pergi dari tempat itu. Sebelum keduanya benar-benar menghilang, Chin Chung sempat memperingati pendekar muda tanah Jawa Dwipa itu.
“Ingat, Pendekar Slebor! Sekali lagi kau terlihat olehku, maka wanita ini akan segera kubunuh!”
Di Kuil Peraduan Bulan Bisu. Malam gelap, terselimuti hawa dingin menggigil. Keluh kesah hewan malam terdengar seperti tak sudi menyambut arakan mendung tebal melayang di atas daerah itu. Di dalam kuil, tiga orang lelaki sedang duduk mengelilingi api unggun. Cahaya perapian tampak menjilati wajah masing-masing yang tampak gelisah. Kehangatannya tak lagi bisa dinikmati, karena benak masing-masing sedang diusik kekhawatiran. Mereka adalah Andika, Chin Liong, dan Chia-ceng.
Dua hari setelah pertarungan, Chin Liong kembali ke tempat yang telah disepakati bersama Andika. Tapi, di sana Pendekar Slebor tak ditemukannya. Maka diputuskannya untuk langsung pergi ke Kuil Peraduan Bulan.
“Maaf, Chin Liong. Aku tidak bisa menepati janji untuk bertemu denganmu di tempat yang kita sepakati. Aku khawatir, Chin Chung memergokiku. Dan itu bisa berakibat fatal bagi Putri Ying-lien,” kata Andika, setelah menceritakan tentang kabar buruk yang dialami Putri Ying-lien.
“Ya, aku tahu,” sahut Chin Liong, bernada murung.
“Bagaimana tindakan kita selanjutnya?” sela Chia-ceng.
Andika menggeleng.
“Kita belum bisa berbuat apa-apa, selama Putri Ying-lien masih di tangan Chin Chung.”
Dalam beberapa helaan napas, mata Andika hanya tertuju pada geliat api di depannya.
“Bagaimana dengan mata-mata yang kau hubungi, Chin Liong? Apa ada satu berita yang bisa dimanfaatkan?” tanya Andika. Pandangannya kini beralih ke pemuda Tiongkok yang tampak terpaku kosong.
“Buntu. Orang itu rupanya telah diringkus para pemberontak. Bahkan mungkin sudah tewas,” jawab Chin Liong, putus asa.
Pendekar Slebor menghempas napas kesal. Persoalan kini semakin terpuruk pada lorong buntu. Selama menangani peristiwa demi peristiwa, dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, sudah cukup banyak kerumitan yang mampu diatasi. Dan kali ini pun, dia tak merasa menghadapi suatu yang pelik atau rumit. Masalahnya sebenarnya sederhana. Yang menjadikan masalah ini berat, hanya akibat yang bakal menimpa Putri Ying lien bila salah bertindak.
“Aku tak habis pikir, kenapa Putri bisa dikalahkan Chin Chung begitu mudah,” cetus Chin Liong, seperti bergumam sendiri.
“Padahal tingkat kepandaiannya setaraf.”
“Apa kau tak ingat ucapan Putri, sewaktu kau baru tiba dengan Andika?” Chia-ceng ikut bicara. “Dia mengatakan, Chin Chung akan memiliki kekuatan tiga belas kali daripada sebelumnya, jika memegang Pusaka Langit....”
“Tapi kalau saat itu dia memegang Pusaka Langit, tentu tak perlu bertarung lebih dari seratus jurus melawan Putri, bukan?” Kini giliran Andika ambil bagian.
Setelah itu, mereka kembali membisu. Sayang, tak seorang pun yang tahu kalau Putri Ying-lien saat itu terlalu teringat kembali pada kejadian menyakitkan yang dialami akibat perbuatan Chin Chung dulu. Dan itu menyebabkan kewaspadaannya terganggu. Dan mungkin hanya Chin Liong yang mulai bisa meraba ke arah sana. Tapi, itu hanya ada dalam hatinya.
Tiba-tiba wajah Andika seperti tersentak.
Meski sulit menjajalnya, dan sadar kalau lawan-lawan yang dihadapi setiap saat bisa melempar nyawanya, Pendekar Slebor tetap tak kehilangan sifat urakannya. Sembilan langkah di depan mereka, Andika mengumbar senyum mengejek. Lebih menjengkelkan lagi kedua alisnya juga dikedik-kedikkan.
“Kau sudah terlalu lamban untuk menghadapiku, Tuan Tua,” ledek Pendekar Slebor.
Dan baru saja Andika hendak membuka mulutnya kembali, terdengar langkah lari ringan di belakang. Seketika dengan sigap tubuhnya berbalik. Ternyata yang datang lelaki yang amat dikenalnya.
“Chin Liong...,” ujar Pendekar Slebor saat melihat siapa yang datang.
“Kenapa kau tak melanjutkan perjalananmu?”
“Aku hanya khawatir, si Tua Licik itu menjebakmu,” sahut Chin Liong.
“Nyatanya memang begitu,” timpal Andika. Lalu, diliriknya empat orang lawannya.
“Itulah mereka.”
“Mereka mengeroyokmu?”
“Begitulah. Kebiasaan yang tak baik, bukan?”
Dengan mata tetap mengawasi gerak-gerik Empat Penguasa Penjuru Angin, pemuda Tiongkok itu mendekatkan kepalanya ke wajah Andika.
“Apa kau perlu bantuan untuk menghadapi mereka? Mereka memiliki ilmu yang sulit terukur. Apa kau yakin bisa menghadapi?” tanya Chin Liong.
Andika menyeringai.
“Sebenarnya aku tidak perlu bantuan,” ucap Pendekar Slebor agak menyombong.
“Tapi kalau kau memang ingin ambil bagian dalam pesta kecil ini, ya silakan!”
“Bagus! Biarpun bantuanku mungkin tak begitu berarti.”
“Mau dimulai sekarang, atau setelah tahun monyet nanti?”
Pemuda Tiongkok di sampingnya tak menyahut. Keputusan melanjutkan pertarungan berada di tangan Andika. Itu sebabnya, dia hanya menjawab dengan lirikan saja.
“Kupikir lebih bagus sekarang,” tandas Andika. Lalu....
“Hiaaa!”
Andika berteriak keras-keras. Begitu kerasnya, seolah hendak memutuskan urat lehernya sendiri. Berbareng dengan teriakannya, langsung digunakannya jurus ‘Memapak Petir Membabi buta’ sambil berlari ke arah lawan-lawannya.
“Yiaaa!”
Chin Liong menyusul di belakang bersama teriakan yang tak kalah menggelegar.
Maka pertempuran terdahsyat sepanjang satu abad terakhir pun akan segera pecah kembali di negeri itu. Sampai saat ini, Si Pembawa Badai sempat pula kagum pada lawannya. Masih tergolong muda, tapi sudah memiliki tingkat kesaktian begitu luar biasa. Dan kini, kekagumannya bertambah tatkala disaksikan sendiri, bagaimana menakjubkan jurus Pendekar Slebor. Jurus ‘Memapak Petir Membabi buta’ adalah jurus ciptaan Andika ketika menjalani penyempurnaan kesaktian di Lembah Kutukan (Baca serial Pendekar Slebor dalam episode: “Lembah Kutukan”).
Setiap gerakan tubuhnya tampak seperti orang kelimpungan tak karuan. Tapi mata tokoh persilatan yang banyak makan asam garam seperti Si Pembawa Badai, gerakan kacau balau Pendekar Slebor justru dianggap sebagai serangan yang amat sulit dimentahkan. Bagaimana tidak? Nyatanya pukulan atau tendangan pendekar muda itu tiba-tiba bisa melenceng dari sasaran semula dengan kecepatan sulit ditangkap mata!
Sadar akan hal ini, Si Pembawa Badai segera menggenjot tubuh jauh-jauh untuk mengatur jarak. Barisan Empat Tonggak Bumi Menghantam Gunung mesti dihadirkan kembali, pikirnya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa diandalkan unttik menghadapi Pendekar Slebor.
Di lain Sisi, Andika mulai menggempur tiga lawannya yang lain, tanpa peduli pada Dewi Seribu Diri masih juga mencoba tersenyum-senyum tak karuan. Lalu apa yang dilakukan Chin Liong di belakangnya? Tanpa sepengetahuan Pendekar Slebor, pemuda Tiongkok itu mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.
Nyatanya kepala Andika siap dihantam dengan satu tinju geledek!
***
Jika tinju maut yang dilancarkan pemuda Tiongkok itu lebih cepat sekejapan saja, sudah bisa dipastikan kepala Pendekar Slebor akan remuk. Untunglah pada waktu yang nyaris bersamaan, dia membuat gerakan tak terduga. Tubuhnya langsung melenting tinggi ke depan untuk menyarangkan tendangan ganda ke arah Pencuri Jantung dan Hantu Bisu Kaki Baja. Tindakan Pendekar Slebor mengakibatkan bokongan dari belakang luput, sehingga menghasilkan desir angin cukup keras yang masih sempat tertangkap telinga.
Wesss!
Menangkap suara mencurigakan itu, Andika jadi terperanjat. Niatnya untuk membabatkan kaki ke arah kedua lawannya di depan diurungkan. Di udara, tubuhnya segera digenjot lagi dengan membuat satu putaran. Setelah itu, kakinya mendarat enam langkah di belakang Pencuri Jantung dan Hantu Bisu Kaki Baja.
Di tengah-tengah kepungan kelima orang itu, kini Andika menatap tak mengerti pada pemuda Tiongkok yang semula dikira Chin Liong. Matanya menyipit dan benaknya mereka terhadap pemuda Tiongkok itu.
“Kau bukan Chin Liong.... Kau pasti, Chin Chung,” desis Pendekar Slebor pasti.
Orang yang ditatap, saat itu pula mengumbar tawa keras.
“Hua ha ha...! Aku memang Chin Chung! Kau kaget, Pendekar Bodoh? Sekali lagi, kau tertipu permainanku, bukan? Hua ha ha...!” cemooh pemuda yang benar-benar mirip Chin Liong, tapi ternyata Chin Chung.
“Kentut basi!” serapah Andika.
Bukan main geramnya Pendekar Slebor melihat Chin Chung. Selama ini, dia bukan hanya telah dipermainkan begitu rupa oleh lawannya. Tapi, Andika juga mempunyai piutang nyawa atas kematian Ratna. Kegeramannya makin menggelegak manakala teringat beberapa pembantaian yang dilakukan Chin Chung dan pasukannya di tanah Jawa Dwipa. (Baca kisah Pendekar Slebor dalam episode: pusaka Langit”!).
“Kau harus membayar semua perbuatanmu di negeriku, Chin Chung!”
“Aku? Jangan menjadi lebih bodoh! Kau tak akan mungkin melakukannya, karena hari ini nyawamu akan lepas dari raga!” sergah Chin Chung. Mimik wajahnya begitu mengancam.
“Untuk menghadapi kawan-kawanku yang bergelar Empat Penguasa Penjuru Angin, kau tentu harus menguras seluruh kemampuan. Kau bisa saja menjadi tokoh nomor satu di negerimu. Tapi, ingat. Mereka juga tokoh-tokoh puncak di negeri kami. Meskipun aku tak begitu yakin kau akan lebih unggul. Tapi aku yakin, dengan bantuanku, kau akan mudah disingkirkan!”
“Jangan terlalu yakin!” hardik Andika.
“Ya! Jangan terlalu yakin, Pengkhianat Busuk!” Tiba-tiba terdengar sahutan seseorang, dua puluh lima langkah dari tempat tersebut.
Suara itu berasal dari mulut seorang wanita. Dan Andika merasa pernah mendengarnya.
Bergegas Pendekar Slebor menoleh, berbarengan dengan kelima lawannya.
“Ying-lien...,” gumam Andika setelah melihat wanita yang menyela hardikannya.
Ya! Ying-lien atau Bidadari Buta Bersayap Naga telah tiba pula di tempat ini bersama Chia-ceng. Kemudian dengan satu hentakan saja, tubuh wanita buta itu melayang seperti camar di udara untuk selanjutnya mendarat di samping kiri Andika. Kemudian, menyusul Chia-ceng si Cebol Bermuka Merah. Orang tua berbadan pendek gemuk itu menempati sisi kanan Pendekar Slebor.
“Tampaknya kau mulai sudi bersikap bersahabat denganku, Putri,” sapa Andika.
Kembali dia memanggil Ying-lien dengan sebutan ‘putri’. Sebelumnya, dia memanggil gadis itu dengan namanya saja, karena jengkel.
“Aku tidak pernah meragukan Chin Liong,” balas Putri Ying-lien tanpa menoleh. Mata batin inderanya waspada pada calon lawan-lawan mereka.
“Apa maksudmu?” tanya Andika tak mengerti
“Bukankah dia percaya kalau kau mampumenolong kami.”
“Dengan begitu, kau juga mempercayaiku? Mempercayai kemampuanku menolong negerimu dari rongrongan para pengkhianat?” ucap Andika, menduga ucapan Putri Ying-lien selanjutnya.
“Tepat,” jawab Putri Ying-lien cepat.
“Kini, tak perlu lagi banyak tanya kalau tak ingin kecolongan oleh mereka.”
“Tapi kenapa kau bersikap menolakku pada mulanya?” tanya Andika lagi.
Tak dipedulikannya peringatan Putri Ying-lien tadi. Wanita berparas jelita itu menghempas napas kesal menghadapi sikap keras kepala Andika yang mulai terlihat lagi.
“Karena aku ingin menguji kesungguhanmu. Itu saja,” jawab Putri Ying-lien agak jengkel.
“Itu saja?”
“Hey? Apa mulutmu tak bisa dikunci untuk sementara?” bentak wanita itu kesal.
“He he he...,” Andika malah terkekeh.
Mendadak sontak Chin Chung mengeluarkan sepasang cakram selebar piring makan dari balik
bajunya.
“Heaaa...!”
Dengan senjata itu, Chin Chung melabrak Pendekar Slebor yang dianggap sedang lengah. Sedangkan Pencuri Jantung segera mengeluarkan batang bambu tipisnya. Sementara Dewi Seribu Diri telah meloloskan selendang suteranya pula dari pinggangnya.
Karena merasa tak sanggup melawan Empat Penguasa Penjuru Angin, Putri Ying-lien mempercayakan Andika untuk menghadapi mereka. Sedang dia sendiri menghadang serangan Chin Chung. Wanita itu merasa harus berhadapan langsung dengan saudara kembar Chin Liong itu. Ada satu hutang yang harus dibayar Chin Chung pada dirinya. Dan itu harus dibayar dengan nyawa sekarang juga.
Maka pertarungan pun tak terelakkan lagi. Seketika terdengar teriakan-teriakan membahana, menyemaraki pertarungan.
***
Kancah pertarungan nyawa dalam pertukaran jurus demi jurus maut telah berlangsung hingga matahari rebah di kaki langit sebelah barat. Hingga hampir jurus keseratus tak ada seorangpun yang tumbang. Andika yang mendapat dukungan Cebol rmuka Merah atas perintah Putri Ying-lien, dapat mengimbangi setiap barisan tempur yang selama ini tak terkalahkan milik Empat Penguasa Penjuru Angin.
Wilayah sekitar kancah pertarungan sudah hamper tersapu angin topan. Demikian porak-poranda! Banyak pepohonan yang besarnya tak terpeluk tangan tumbang. Memang, pertarungan tanpa terasa kini berpindah ke sebuah kaki bukit yang banyak ditumbuhi pepohonan raksasa.
Dua medan pertarungan yang terjadi, terpisah sekitar empat puluh depa. Putri Ying-lien yang berhadapan melawan orang yang paling dibencinya, Chin Chung, berada di sebelah barat daya. Sedangkan pertempuran Andika dan Chia-ceng melawan empat datuk sesat Tiongkok itu berlangsung di sebelah timur laut. Sampai suatu ketika....
“Berhenti kau Pendekar Slebor!”
Terdengar Chin Chung meneriakkan perintah kasar pada Andika dan Chia-ceng. Padahal, saat itu Pendekar Slebor sudah berhasil membuat anak Si Pembawa Badai memuntahkan darah segar. Bahkan senjata Pencuri Jantung yang terbuat dari bambu langka telah dipatahkannya pula. Dengan serta merta, Pendekar Slebor menghentikan cecarannya pada Pencuri Jantung. Dia melompat mundur beberapa tombak untuk mencari tempat aman. Kemudian, secepatnya Kepalanya menoleh ke arah suara Chin Chung. Begitu juga Chia-ceng.
Tampak Chin Chung kini sedang menggapit leher Putri Ying-lien yang nampaknya telah terluka dalam. Dan itu bisa dipastikan karena hidung dan sudut bibir Putri Ying-lien mengeluarkan darah. Sementara satu tangan Chin Chung menempelkan cakram ke leher Putri Ying-lien.
“Putri...,” ujar Chia-ceng, khawatir.
“Apa yang kau inginkan Chin Chung?” tanya Andika, dengan sedikit hati-hati.
Pendekar Slebor tak mau leher wanita jelita itu jadi santapan empuk senjata cakram Chin Chung.
“Apa keinginanku? Hua ha ha...! Aku ingin agar kau menyingkir dari urusan kami! Kau dengar itu?!”
Chia-ceng melirik Andika untuk meminta pertimbangan.
“Bagaimana, Anak Muda?” tanya orang tua gendut itu.
“Lebih baik turuti saja kemauannya. Aku khawatir, dia mencelakakan Putri Ying-lien,” sarah Andika tanpa menoleh. Matanya tetap terhujam tajam pada Chin Chung di kejauhan.
“Aku pikir juga begitu,” timpal Chia-ceng, setuju.
“Baik! Kalau memang itu maumu, Chin Chung! Tapi sebelum aku menyingkir, kuberitahukan dulu sesuatu padamu. Jika wanita itu diusik selembar rambut saja, kau akan kuhabisi!” teriak Andika akhirnya.
Andika lalu mengajak Chia-ceng pergi dari tempat itu. Sebelum keduanya benar-benar menghilang, Chin Chung sempat memperingati pendekar muda tanah Jawa Dwipa itu.
“Ingat, Pendekar Slebor! Sekali lagi kau terlihat olehku, maka wanita ini akan segera kubunuh!”
***
Di Kuil Peraduan Bulan Bisu. Malam gelap, terselimuti hawa dingin menggigil. Keluh kesah hewan malam terdengar seperti tak sudi menyambut arakan mendung tebal melayang di atas daerah itu. Di dalam kuil, tiga orang lelaki sedang duduk mengelilingi api unggun. Cahaya perapian tampak menjilati wajah masing-masing yang tampak gelisah. Kehangatannya tak lagi bisa dinikmati, karena benak masing-masing sedang diusik kekhawatiran. Mereka adalah Andika, Chin Liong, dan Chia-ceng.
Dua hari setelah pertarungan, Chin Liong kembali ke tempat yang telah disepakati bersama Andika. Tapi, di sana Pendekar Slebor tak ditemukannya. Maka diputuskannya untuk langsung pergi ke Kuil Peraduan Bulan.
“Maaf, Chin Liong. Aku tidak bisa menepati janji untuk bertemu denganmu di tempat yang kita sepakati. Aku khawatir, Chin Chung memergokiku. Dan itu bisa berakibat fatal bagi Putri Ying-lien,” kata Andika, setelah menceritakan tentang kabar buruk yang dialami Putri Ying-lien.
“Ya, aku tahu,” sahut Chin Liong, bernada murung.
“Bagaimana tindakan kita selanjutnya?” sela Chia-ceng.
Andika menggeleng.
“Kita belum bisa berbuat apa-apa, selama Putri Ying-lien masih di tangan Chin Chung.”
Dalam beberapa helaan napas, mata Andika hanya tertuju pada geliat api di depannya.
“Bagaimana dengan mata-mata yang kau hubungi, Chin Liong? Apa ada satu berita yang bisa dimanfaatkan?” tanya Andika. Pandangannya kini beralih ke pemuda Tiongkok yang tampak terpaku kosong.
“Buntu. Orang itu rupanya telah diringkus para pemberontak. Bahkan mungkin sudah tewas,” jawab Chin Liong, putus asa.
Pendekar Slebor menghempas napas kesal. Persoalan kini semakin terpuruk pada lorong buntu. Selama menangani peristiwa demi peristiwa, dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, sudah cukup banyak kerumitan yang mampu diatasi. Dan kali ini pun, dia tak merasa menghadapi suatu yang pelik atau rumit. Masalahnya sebenarnya sederhana. Yang menjadikan masalah ini berat, hanya akibat yang bakal menimpa Putri Ying lien bila salah bertindak.
“Aku tak habis pikir, kenapa Putri bisa dikalahkan Chin Chung begitu mudah,” cetus Chin Liong, seperti bergumam sendiri.
“Padahal tingkat kepandaiannya setaraf.”
“Apa kau tak ingat ucapan Putri, sewaktu kau baru tiba dengan Andika?” Chia-ceng ikut bicara. “Dia mengatakan, Chin Chung akan memiliki kekuatan tiga belas kali daripada sebelumnya, jika memegang Pusaka Langit....”
“Tapi kalau saat itu dia memegang Pusaka Langit, tentu tak perlu bertarung lebih dari seratus jurus melawan Putri, bukan?” Kini giliran Andika ambil bagian.
Setelah itu, mereka kembali membisu. Sayang, tak seorang pun yang tahu kalau Putri Ying-lien saat itu terlalu teringat kembali pada kejadian menyakitkan yang dialami akibat perbuatan Chin Chung dulu. Dan itu menyebabkan kewaspadaannya terganggu. Dan mungkin hanya Chin Liong yang mulai bisa meraba ke arah sana. Tapi, itu hanya ada dalam hatinya.
Tiba-tiba wajah Andika seperti tersentak.
0