Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.7K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#47
PART 20


GILA!

“Setahun? Kenapa aku baru dikasih tau sekarang Om?”

“Sebenarnya udah dari kemarin-kemarin, tapi kamu lagi mau ujian.”

“Ya itu juga apa bedanya?!”

“Papa nggak mau sekolah kamu keganggu Yo. Papa sengaja nunggu kamu selesai ujian dulu.”

Saat itu aku seperti tercekat. Dadaku sesak. Panas. Perasaanku bercampur jadi satu.

“Ya udah,” aku langsung bangkit.

“Yo! Tunggu!”

Yesi melihatku datang. Nampaknya dia heran kenapa rautku berubah total.

“Ayo Yes!” langsung kutarik tangannya.

“Yo!”

Aku benar-benar nggak peduli. Yesi yang keheranan terus bertanya sebelum kami mencapai motor, tapi kudiamkan.

Badanku bekerja layaknya pengendara normal, tapi otakku kacau memikirkan semua kenyataan ini. Mereka rupanya udah berpisah setahun yang lalu. Dan aku nggak dikasih tau sama sekali?

Aku ini dianggap apa sama mereka??!!!!!

Terbiasa sama hubungan mereka membuatku yakin bahwa ini hanyalah soal waktu. Tapi ketika aku mengetahuinya, aku salah. Aku nggak terima. Aku masih normal. Aku sama seperti anak-anak lainnya.

Aku nggak mau itu sampe terjadi.

“Ang.”

“...................”

“Aang.”

“...................”

“Heh! Dipanggil itu nyaut napa?!”

“Apaan sih!” aku benar-benar hampir marah. Perutku lumayan sakit karena dicubitnya.

“Ya kamu juga sih. Dipanggilin malah diem aja.”

“............................”

“Kenapa kamu?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Bohong banget kamu. Kenapa sih?” kali ini dia menggoyangkan bahuku.

“Nggak apa-apa Yees.”

“Kenapa sih ‘Aang?” Yesi menggoyangkan bahuku lagi.

“Yeesss.”

“Ayooo cerita.”

“AKU BILANG AKU NGGAK APA-APA!!”

Yesi mungkin tersentak karena kaget. “Oooo.. gitu ya? Ya udah.”

Caraku berhasil. Kupikir memang harus seperti itu.

“.........................”

“.........................”

“Ngaku nggak?!”

emoticon-KagetsAku spontan terkejut. Yesi melingkarkan lengannya erat-erat. Begitu eratnya hingga aku seperti dicekik. Satunya lewat bawah ketiak, satunya lagi lewat atas bahu. Kepalanya pun ikut mendarat di pundakku. Helm kami sampai menempel. Rasanya benar-benar aneh. “Iyaiyaiya!! Udahudah Yes! Lepaslepaslepas!!”

“Makanya ngomong!”

“Iyaiya! Bentarbentaar! Lepaslepas! Kita nyari tempat dulu!”

“Gitu dong,” Yesi terdengar begitu puas. Aku yang tadinya gusar seketika lupa. Nggak keberatan untuk menanggapi keusilannya lewat sedikit senyuman.

Yesiiiii, Yesi

Kupikir memang nggak ada gunanya mbohongin anak ini. Baiknya aku menepati perkataanku. Beberapa lama kemudian, kami singgah setelah kepancing asap yang harum. Asalnya dari gerobak sate yang parkir di pinggir jalan, dekat dengan satu pohon yang lumayan rindang. Setelah memesan, kami langsung lesehan di tikar yang disediakan. Posisinya sedikit menjauh dari trotoar jalan.

“Kamu kenapa ‘Ang?” Yesi menagih janjiku begitu kami duduk. Nadanya kini jauh lebih lembut. Aku paham bahwasannya dia lagi berubah. Pribadinya yang biasa ia tepikan. Jauh dari spontanitas yang konyol. Kini, ia sepenuhnya bersiap untuk jadi pendengar yang baik.

Aku tertunduk dan menghela nafas panjang. Semenjak pengakuan pamanku hingga saat ini, dalam dimensiku memang oksigen seperti langka. “Orangtuaku Yes. Mereka rupanya udah cerai. Setahun lebih aku nggak dikasih tau.”

Yesi terkejut. Sorot matanya memancarkan rasa iba. Situasi ini sulit kuterima, itu jelas. Dan apakah situasiku sulit untuk ia tanggapi, itu bisa jadi. Yesi belum berkata apapun, kecuali tangannya yang mengelus-elus pundakku.

Sial! “Anak-anak!” aku langsung merogoh saku celana.

“Ang,” Yesi menghentikanku. “Biarin aja.”

“Aku kan udah janji.”

“Aaang,” Yesi malah jadi memelas. “Jangan dipaksain. Udah.”

“Mereka lagi nungguin ini Yes.”

“Udaaah. Biar aku yang ngomong.”

“Kamu mau bilang apa?”

“Udaaaaaaaah,” Yesi benar-benar memelas. “Percaya aja samaku.”

Tanganku menjauh dari saku dan Yesi pun melepas tangannya. Nggak lama setelah itu, abang-abang itu datang. Sepiring sate pun menyusul dua gelas teh hangat. Kenapa cuma sepiring, kukira alasannya cukup jelas. Kami ke sini memang bukan karena kelaparan, lebih-lebih aku yang udah kehilangan selera sejak tadi. Aku cuma makan dua tusuk, itupun Yesi susah payah ngebujuknya.

“Ang.” panggilnya beberapa lama kemudian. Bersamaan, garpu dan sendok udah di posisi telungkup. Satenya sendiri masih sisa dua tusuk.

Aku menoleh. Waktu itu aku sambi ngerokok.

“Dari 1-100, kamu milih angka berapa?”

Anak ini mikirin apa coba. Aneh, kukira dia bakal nanya lebih jauh soal masalahku.

“Berapa?” tanyanya lagi.

“Ngapain coba?”

“Udaah. Pilih aja.”

“38¼.”

Yesi seperti heran. Lebih tepatnya sangsi kalau aku bisa diajak kerjasama. “Serius kali,” balasnya sambil memukul bahuku. Dan aku....rupanya nggak keberatan untuk tersenyum lagi.

“Iya kamu juga ngapain nanya gitu.”

“Udah, jawab dulu aja. Serius tapi.”

“Mmmmmmm....berapa ya?”

“Yeeee....dodol. Gitu doang bingung.”

“Oke. Dapat.”

“Berapa?”

“45."

"45?"

"Itulah hari kemerdekaan kita.”

“Ang! Iiiiiiih,” Yesi yang kesal lantas membuat tangannya serasa penjepit jemuran. Mengincar sekujur badanku yang saat itu tertawa lepas.

“Udahlah. Susah ngomong sama kamu.”

“Iyaiyaiya. Ini serius.”

“Nggak usah. Udah tau aku kamu bakal jawab apa.”

“Apa memangnya?”

“Pasti 5.”

“5?”

“Iya. Lima. Lima langkah....dari rumah.”

Asli aku ngakak lagi gara-gara lawakannya.

“Serius ini Yes.”

“Enggak.”

“Iya beneraan.”

“Bodo.”

“Beneran kali. Sumpah. Sama yang kamu bilang tadi itu nggak jauh beda. Jawabanku 7.”

“Mau nyanyi lagi nih pasti.”

Aku terkekeh. “Enggak serius. Beneran. 7.”

Yesi menimbang-nimbang rautku. Ia akhirnya percaya. “Kenapa 7?”

“Itu ulang tahunku yang ketujuh.”

“Nah, pasti ada yang spesial kan di sana?”

Aku mengangguk. “Itu terakhir kalinya aku ngerayain ulang tahun bareng mereka.”

Yesi yang awalnya antusias langsung terdiam. Nampaknya ia benar-benar tak mengharapkan jawaban ini keluar dari mulutku.

“Kamu sendiri gimana?”

“Aku?”

“Nggak pake lagu ya,” aku pura-pura ketus. Yesi langsung tersenyum.

“16.”

“16?”

“Hmmmmp. 16.”

“Kenapa 16?”

“Apa ya? Aku juga bingung. Seneng aja sama angka 16.”

“Pilihannya 1-100. Milihnya 16. Nggak tau lagi kenapa suka sama 16,” tanggapku dengan malas. Dan anak ini malah tertawa.

Aku agak bertanya juga sebenarnya. Sebelum singgah tadi, anak ini ngomongnya suruh cerita. Tapi aku bisa ingat kalau aku hanya ngomong sekali. Lepas itu udah, Yesi sama sekali nggak nanyain lagi soal masalahku. Dia nggak peka atau pingin aku nggak kepikiran terus, aku benar-benar nggak tau. Tapi yang jelas, sejauh itu caranya lumayan berhasil.

Mungkin udah sekitar jam 9 waktu kami sampai di depan rumahnya.

“Makasih ya Yes,” kataku begitu Yesi turun dari motor.

“Iya sama-sama.”

“Aku balik ya.”

“Ang!”

Aku menoleh.

“Jangan nyerah sama keadaan ya. Sesulit apapun itu, kamu harus tetap kuat.”

"................"

Aku bingung harus ngomong apa. Yang jelas, malam itu udah dua kali Yesi meluk aku.

***


Sesampainya di kos, aku langsung rebahan di kamar. TV-ku menyala tapi ya itu. Mubazir. Posisi sendirian membuatku jadi gampang kalut. Dan aku kepikiran lagi soal seeeemuanya. Aaaah! Ta#k! Anj#ng! Aku benar-benar bingung mau ngapain. Kata-kata Yesi tadi nggak berpengaruh apa-apa buatku. Aku benar-benar sedang labil. Aku lagi nggak bisa sendirian. Karena lagi ada masalah, otomatis bawaannya pengen ngobrol aja.

Saku celanaku kurogoh. Kertas itu pun kubaca lagi sambil senyum-senyum sendiri.

Quote:


Kuhubungi nggak ya? Ah, masa iya pertama nelpon temanya langsung masalah keluarga. Enggak. Nggak gitu caranya. Semuanya udah jauh lebih mulus dari yang pernah kubayangkan. Jangan sampe rusak!

Oh, iya ya? Kenapa nggak dari tadi?

Aku lalu menempelkan ponselku ke kuping. Nggak sampe lama yang di ujung pun menyapa.

“Halo. Jhon........ayo minum. Aku yang traktir."

***

ariefdias
ariefdias memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.