- Beranda
- Stories from the Heart
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat
...
TS
alishba
7 Hari Tersesat di Gunung Merapi Sumatera Barat


(TRUE STORY)
"- Setelah melalui proses editing, maka tulisan ini akhirnya berhasil di publikasikan melalui penerbit Clover (M&C) Gramedia dan berubah judul menjadi JEJAK- "
- Alishba
Spoiler for TOP Threads:
Spoiler for Cover Design:

PROLOG
Uda Andre (Bang Andre), dan Uda Nopeng (Bang Nofan), merupakan narasumber sekaligus aktor utama dalam kisah yang sempat menggemparkan beberapa stasiun televisi selama kurang lebih 7 (tujuh) hari, beberapa puluh tahun silam.
Dalam informasi berita yang tersiar, mungkin mereka dikabarkan sudah hilang selama 6 (enam) hari, karena mereka dinyatakan hilang satu hari setelah Firman, Uncu dan Iwan melapor. Sedangkan perjalanan tak tentu arah yang sebenarnya mereka alami adalah 7 (tujuh) hari.
Sudah lama ingin berbagi, sharing dengan mereka untuk membahas penggarapan Buku, namun selalu terbentur kesibukan masing-masing, alhasil, skrip lamanya dulu yang pernah Andre tulis kembali ia kirimkan padaku. Semoga kisah ini bisa menjadi pedoman dan Menambah wawasan kita, sekaligus menyadarkan kita bahwa "Tuhan tak Tidur!".
(*)
PADA TAHUN 2001, ada 7 hari dalam perjalanan hidupku yang membuat aku harus berhadapan dengan maut. Meski ada sedikit hal yang terlupa dari rentetan kronologis waktu tersesat tersebut, itu karena aku pernah berkeinginan mengubur kenangan pahit itu sedalam mungkin. Hingga tak ada salah seorangpun yang tahu, kecuali Nopeng. Tapi, akan ku usahakan untuk mengingat keras, sekaligus akan disempurnakan dalam bentuk buku dengan mengambil “cerita” dari teman-temanku yang juga ikut dalam petualangan tersebut. Tentu saja aku takkan lupa melibatkan sahabat yang menemaniku selama 7 hari dalam pencarian jalan pulang. Mengitari Pegunungan hingga keluar dari cengkeraman maut Gunung Merapi yang berada di Sumatera Barat, dan inilah versiku:
Spoiler for Awal Naskah:
TUHAN, BERI AKU KESEMPATAN
Namaku Andre, ayahku bekerja di sebuah perusahaan BUMN, beliau termasuk orang yang keras dalam mendidik anak terutama anak lelaki. Namun demikian, menurutku beliau sungguh sangat demokratis.
Malangnya, ketika kelas 1 SMP aku pernah mengecewakannya, karena aku terpaksa di-DO (Drop Out) dari sekolah karena aku adu jotos dengan salah seorang guruku, yang menurutku seorang penjilat sejati. Akibat dari kenakalanku inilah aku harus menerima konsekwensi harus pindah ke Padang, Sumatera Barat, agar bisa naik ke kelas 2, tanpa harus mengulang. Di padang aku menyelesaikan masa SMP ku dengan lancar hingga kelas 2 SMU.
Aku dan noviandi yang seterusnya kupanggil -Nopeng, pernah membuat geger satu sekolah dan jadi pemberitaan di beberapa media massa, itu karena sepupu papaku ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dimana pemberitaan tersebut sangat rutin memberitakan kami yang tersesat selama 7 hari di gunung merapi.
Mencintai dunia mendaki dan bergiat di alam bebas kumulai sejak kelas 1 SMA, dan aku telah mendaki gunung Singgalang sebanyak dua kali. Kegilaanku dengan hobi ini semakin menjadi-jadi sejak aku tergabung dalam salah satu ekstra kurikuler Siswa Pencinta Alam (SISPALA). Hobi yang sangat ditentang oleh Tanteku dan keluarganya. Setiap kali aku meminta izin untuk mendaki gunung, aku tak pernah mendapatkan izin. Namun, aku tetap mendaki, karena aku cinta Alam rimba, mencium bau tanah hutan, sejuknya udara yang menusuk kulit, suara alunan gemericik air, sambil menikmati kopi susu di puncak gunung, nikmatnya.
Tiga hari sebelum kejadian tersebut, aku dengan 4 orang kawanku, Nopeng, Uncu, Firman, dan Iwan yang juga tergabung dalam Sispala di sekolahku, berencana akan mendaki gunung merapi. Gunung yang memilki ketinggian 2891 Mdpl(meter dari permukaan laut). Gunung merapi ini adalah gunung kedua yang sangat ingin kudaki setelah dua kali berhasil mendaki Gunung Singgalang, yang rutenya lebih berat dibandingkan gunung merapi. Segala persiapan untuk mendakipun mulai dikumpulkan, hingga tibalah harinya, kami berangkat dari padang ketika matahari mulai terbenam, dengan naik bus menuju koto baru yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan, rute normal untuk mendaki gunung merapi. Setelah tiba di koto baru, udara dingin mulai menusuk tulang, kami makan dulu untuk mengumpulkan energi, dilanjutkan dengani shalat Isya di masjid Koto baru.
Sesudah shalat kami mulai melakukan pendakian. Baru 15 menit perjalanan, salah satu kawanku menanyakan kaca mata yang kukenakan, dan aku tersadar kalau kaca mata itu telah tertinggal di masjid tempat kami shalat tadi, dan salah satu dari kami pergi mencek ke mesjid tersebut, dan anehnya sudah tidak ada lagi...!
Dan perjalananpun dilanjutkan, kami juga mendaftarkan nama dipos pasanggrahan, tempat memulai pendakian gunung tersebut sekaligus membayar retribusi kepada penjaga pos, perjalananpun dilanjutkan. Sebenarnya sudah banyak hal aneh yang terjadi dalam perjalanan tersebut. Ketika aku berada di barisan paling belakang, seperti ada suara-suara yang berisik di belakangku, dan setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa dan hal tersebut juga dirasakan kawanku Firman, dan dia langsung menemaniku berjalanan beriringan di posisi belakang. Ketika menempuh jalan sempit dia yang mengantikan posisiku di belakang, kawanku ini punya kelebihan seperti ---indra keenam, tapi dia tidak membahasnya dalam perjalanan tersebut.
Matahari pagi mulai bersinar, kami sudah sampai di batas vegetasi atau cadas, puncak merapi pun telah kelihatan, Iwan dan aku yang pertama kali sampai di cadas tersebut, disusul Nopeng, Firman dan Uncu, yang selama perjalanan aku terus perang mulut dengan mereka. Kami beristirahat, masak dan mengisi energi, aku sendiri saat itu merasa tidak bisa mengontrol emosiku, aku lupa penyebabnya, hingga aku membuang salah satu periuk yang kami gunakan untuk memasak. Kemudian membawa tas sandang yang agak kosong, karena perlengkapan logistik kami sudah di keluarkan semuanya, aku membawa beberapa batang rokok. Kukatakan pada keempat kawanku kalau aku mau ke puncak, aku mulai menapaki jalan yang lebih kurang setengah jam menuju puncak merapi, kemudian terdengar Nopeng memanggilku, “Ndre aku ikutlah, *taik lah kau pergi sendiri-sendiri aja”
aku jawab ”hussst, mulut peng, di gunung ini, jaga mulutmu”
“Astaghfirullah” nopeng menjawab sambil menutup mulutnya, diapun kemudian menyusulku yang baru setengah jalan menuju puncak.
Kami tiba di kawasan puncak gunung tersebut, aku takjub, dan bahagia hilang segala penat, letih setelah berjalan hampir sepuluh jam. Aku melihat ada tugu salah seorang pendaki yang meninggal di gunung merapi namanya “Abel Tasman”. Menurut cerita dari pendaki-pendaki lain dia meninggal karena menyelamatkan seseorang yang terjebak di kawah gunung tersebut, secara reflek aku mencium tugu tersebut. Banyak pendaki-pendaki lain yang tersenyum kecil melihat ekspresi berlebihan ku saat itu.
Akhirnya aku dan Nopeng berjalan-jalan mengitari puncak yang terdapat banyak kawah-kawah hingga menuju puncak merpati, salah satu puncak yang top di gunung merapi. Beberapa menit kami diatas puncak sambil menikmati suasana merapi sejauh mata memandang terdampar permadani hijau, betul-betul menenangkan. Setelah menghabiskan rokok, aku dan nopeng melanjutkan perjalanan ke ladang Bunga Eidelweis, disinilah awal kisah nyata yang membuktikan bahwa Tuhan punya rencana sendiri terhadap kami berdua…
Kami mulai menuruni puncak Merpati, dan menuju ladang Eidelweis, tumbuhan misterius yang tumbuh di kawasan puncak gunung, dan setiap gunung menampilkan bentuk dan ciri khas masing-masing. Aku dan Nopeng dengan sigap dan penuh antusias memetik bunga abadi tersebut. Pada saat itu ada beberapa pendaki lainya yang juga memetik bunga tersebut, kami memetiknya seperti lupa waktu, setiap mata memandang kearah bunga tersebut, bunga tersebut terus memikat kami.
“Peng sudahlah cuma tinggal kita yang ada diladang ini” kataku pada Nopeng yang tetap semangat memetik bunga, hingga bunga tersebut penuh hampir setengah tas kami. Ketika kami ingin kembali turun, turunlah awan gelap yang membuat kami sulit mengingat kembali jalan kembali tersebut, kami berputar di sekitar kawasan puncak gunung merapi.
Perasaanku mulai tidak enak, Nopeng yang berada paling depan sibuk berputar-putar mencari jalan keluar, dan aku yang berada di belakang memanggilnya untuk berhenti dan tenang. ”Peng berhenti dulu, ayo kita berpikir dan menenangkan diri, kita sedang panik saat ini, Peng!"
Nopeng pun akhirnya menungguku dan kami duduk terdiam, “gimana selanjutnya Ndre?”
“Aku pun tak tahu, kita coba tunggu saja, mudah-mudahan kabut ini menghilang,” jawabku pasrah.
KABUT MULAI HILANG sedikit, nopeng kembali memimpin perjalanan. Kami berputar mencari jalan untuk turun ke bawah. Sampai suatu ketika kami melihat ada sekelompok pendaki jumlahnya aku lupa, mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Akupun bertanya pada mereka, ”Pak (panggilan khas ala pendaki) mau kemana?! kami juga lagi kehilangan arah” sambungku lagi,
“Kami mau turun Pak, lewat jalur Simabur, kalau Bapak mau ikut, boleh gabung bersama kami” tawarnya.
Jalur simabur merupakan jalur yang naik melewati daerah Simabur, Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, sementara kami naik lewat koto baru daerah Padang Panjang. Kemudian aku menayakan pendapat si Nopeng ”gimana peng kita gabung aja?” tanyaku,
“gak usah ndre perasaanku tidak enak” jawab nopeng yang berdiri di belakangku.
Aku melihat ke kelompok tersebut, aneh juga, aku liat satu persatu pendaki itu yang laki-laki seperti tersnyum-senyum, sementara yang perempuan menangis sesenggukan, dan dengan berat hati aku mengikuti keputusan nopeng, untuk tidak ikut bergabung turun gunung bersama kelompok tersebut.
Perjalanan mencari jalan keluar kembali dipimpin oleh Nopeng, setelah lebih kurang 4 atau 5 jam (aku tak bisa memberi tahu waktu pasnya, meski si Nopeng memakai jam, tapi aku, dan dia pun tak ingat lagi perihal waktu, Karena panik) Nopeng menemukan satu jalan turun, yang menyerupai jalan cadas seperti waktu kami naik tadi. Meskipun kami sadar bahwa itu bukan jalannya, tapi aku ikuti saja.
Setelah penuh perjuangan dan beberapa kali aku terjatuh, kami tiba di sebuah jurang yang tidak begitu tinggi, tapi tetap saja kalau langsung lompat kaki bisa cedera. Nopeng yang turun pertama berhasil sampai kebawah. Dalam hatiku terbersit "kuat sekali anak ini", aku bingung tidak tahu mau turun lewat jalan mana, akhirnya Nopeng menunjukkan jalan mana yang harus kulewati, disaat itu timbul keisengan si Nopeng, di dalam tas yang kami ambil ada tustel, dia mengeluarkan tustel dan membiarkan ku tergantung di bibir jurang,
“Ndre ku poto kau dulu , ayo senyumlah”
kujawab ”Peng, udahlah gak usah becanda, kita udah hilang di gunung gini kau masih sempat becanda!”
“Kalau gak mau kau senyum gak kupegang kakimu supaya kau bisa turun”
aku ikuti saja kemauan si nopeng, dengan tersenyum kecut dengan gaya memelas, “klik”, dan aku pun di bantu turun sama si Nopeng, kemudian gantian, kini giliran dia yang meminta di foto olehku,
“nah sekarang gantian aku lagi yang kau poto ndre” lagi-lagi aku ikuti kemauanya, dan sesi poto-poto pun selesai.
Perjalanan pun di lanjutkan berkali-kali kami temui jalan curam namun mampu kami lewati, hingga kami bertemu lagi jurang kebawah yang lumayan tinggi. Nopeng yang pertama kali mencoba untuk turun, berhasil melewati jurang tersebut. Aku terdiam, kali ini sepertinya aku benar-benar tak mampu melewati jurang ini.
Saat mencoba berpikir bagaimana agar bisa turun, ketika itu tepat di sebelah kananku, di sebuah pohon tinggi, entah ilusi atau nyata, aku melihat sesosok tubuh hitam, awalnya aku tidak mengira kalau itu adalah sebangsa makhluk halus. Aku melihat ke arahnya, dia kemudian berdiri (aku menulis ini sambil bulu kudukku berdiri, inilah alasannya aku mau mengubur kenangan ini dalam-dalam, meskipun akhirnya kucoba untuk menulis ini, tidak lebih hanya karena ingin berbagi pengalaman),
nopeng yang awalnya senang karena mendengar informasiku bahwa ada orang di sana, “peng ada orang di atas pohon tingginya sama seperti manusia normal: ”ya udah panggil ndre”
belum selesai dia menyuruhku memanggil, aku langsung melanjutkan ”peng badannya hitam semua, dia menunjuk-nunjukku, seolah-olah ingin menyuruhku berbalik arah,”
nopeng langsung menjawab “ndre jangan dengar kan orang itu turunlah kau segera, dia bukan makhluk baik”.
Ditengah kepanikanku, “aku tidak tahu mau turun, dari mana peng? cepatlah dia mau turun seperti ingin menyusul kita, dia marah peng!!!” tambahku lagi.
Nopeng yang sudah di bawah tak bisa melihat si makhluk hitam tersebut, langsung menjawab ”lewat sini ndre”. Jalan yang ditunjuk Nopeng di sisi kiri jurang tersebut ada rumput dan tanaman-tanaman yang tumbuh menjalar ke bawah, tanpa banyak berfikir, aku nekat turun melewati jalan yang ditunjukkan Nopeng tersebut. Karena gravitasi, aku meluncur turun dengan tangan yang terus berpegang pada tanaman yang menjalar tersebut, entah bagaimana kejadiannya, posisiku langsung terbalik, kepalaku arah kebawah dan kakiku keatas.
Nopeng dengan sigap menyambutku dan sampailah aku di bawah dengan tangan lecet dan seluruh tubuhku dipenuhi tanah dan rerumputan yang menempel di tubuhku, “syukurlah kau masih selamat, ayo kita lanjutkan perjalanan ini,” kata nopeng yang langsung berjalan di depanku.
Akupun mengikutinya, tak lama berjalan, lagi-lagi kami bertemu jurang, kali ini nopeng mencoba turun ke bawah untuk melihat kondisi jurang tersebut, kemudian nopeng kembali sambil mengucapkan Ayat Kursi (ayat dalam kitab suci Al Qur’an), “Ada apa Peng?” tanyaku,
Nopeng, mulutnya sambil berkomat-kamit, menyebutkan bahwa dia baru saja melihat (Ya Allah, kembali bulu kudukku berdiri) "ada sesosok tubuh perempuan rambutnya keriting ndre, dia pakai rok tidak pakai baju, tidur tengkurap di dasar jurang”, aku pucat, dan terpaku, dalam hatiku “ya Tuhan, apa lagi ini?!”
(*)
Spoiler for Bersambung:

Diubah oleh alishba 17-09-2019 18:25
johny251976 dan 13 lainnya memberi reputasi
14
268.2K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alishba
#38

Spoiler for Sambungan - Part 3:
Hingga hari kelima, aku lagi-lagi patah semangat, pasrah dan merasa tak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan. Tapi, argument Nopeng hari itu sangat membangkitkan semangatku. “Ndre, kita sama-sama tidak tahu apa ujung perjalanan kita, kita hanya berusaha, dan nanti jika kita harus mati, izinkan kita mati di tepi jurang, agar Tim SAR bekerja keras untuk mengangkat jasad kita!, kalau kita cuma ditemukan disini, terlihat sekali kita tak berusaha, ayolah kawan, perasaanku sudah agak dekat ini”.
Akupun langsung bersemangat lagi, dengan susah payah kupaksakan berdiri, di ujung mataku, kotoran mata sudah bercampur dengan tanah, benar-benar kumal, aku ikuti langkah sobatku, sambil terus mencoba berusaha memakan yang aku rasa bisa dimakan. Ternyata jalan belum juga kami temukan, aku dan nopeng mulai menikmati perjalanan ini, walau dengan terpaksa.
Sepanjang perjalanan, aku bernyanyi sekuat-kuatnya, mulai dari satu album lagu Band Padi, hingga lagu Rossa “gapai semua jemariku...” melankolis memang, tapi lagu itu merupakan lagu yang paling sering kunyanyikan, karena betapa rindunya aku bertemu orang-orang, minum teh, dan berharap ada tangan atau jemari yang membantu kami berdua keluar dari rimba belantara merapi yang mulai tak lagi nampak indah.
Malam kelima kami kembali tidur di tepi sungai, untungnya tidak hujan malam itu, dengan beralaskan daun-daunan, dan beratapkan langit, kami melepas penat setelah berjalan seharian. Malam itu aku tidur terakhir, Nopeng sudah terlelap lebih dulu. Aku mencoba rebahan untuk tidur, Namun, tiba-tiba entah halusinasi atau tidak, dari atas langit aku melihat ada empat buah cahaya dengan bentuk yang berbeda-beda turun ke bawah. Cahaya ini tak menakutkanku, malah begitu dia hilang dari pandangan, aku langsung tertidur, dan bermimpi. Malam itu papaku datang menyusulku, mengajakku pergi, tapi dia tidak bicara, hanya diam saja, aku kejar papaku kala itu, namun dari sebelah kiri dan kanan banyak yang menawariku untuk singgah dan minum kopi bersama mereka. Ajakan itu kutolak dan aku terus mengejar papaku, hingga aku tersandung dan terbangun.
Hari sudah mulai agak terang, walau belum begitu terang karena sinar metahari tertutup tingginya hutan belantara. Hari keenam, kondisi benar-benar lemah, namun Nopeng seperti tiada lelahnya, dia tetap semangat memotivasiku untuk terus bertahan hidup. Tiada pilihan, perjalanan pun dilanjutkan kami tetap mengikuti arah sungai. Namun hari keenam itu, sekitar tiga jam perjalanan aku dan Nopeng dapat merasakan hangatnya sinar mentari penuh, aku makin kuat bernyanyi, seolah-olah yakin akan adanya kehidupan dan aku masih di beri kesempatan untuk hidup.
Begitu juga Nopeng, banyolan-banyolannya, membuat perjalanan yang sedih dan mengharukan, jadi lebih indah, namun karena banyak istirahat, malam itupun kami belum menemui ujung aliran sungai tersebut. Kami justeru menemukan banyak batang pisang di hari keenam itu. Aku yang begitu semangat mengambil pisang tersebut, namun di dalamnya banyak sekali benda-benda keras seperti batu kecil, dan tak bisa dimakan. Kami beristirahat beralaskan pelepah daun pisang.
Paginya ketika kami terjaga di hari ketujuh, di atas pohon sepertinya kami ditonton oleh beberapa binatang seperti monyet, namun bulunya berwarna kuning, dia meloncat kesana kemari. Aku langsung membangunkan nopeng, “Peng banyak monyet di atas sana, warnanya kuning”,
Aku coba menjelaskan pada Nopeng. Nopeng melihat keatas, dan melihat monyet-monyet itu begitu bising, dia melanjutkan tidurnya. “Telungkup aja kau peng, supaya kalau monyet itu terjatuh, dia tak menerkam muka kita” Nopeng cuek aja, aku langsung telungkup dan melanjutkan tidurku.
Kemudian aku tersentak, dan kulihat nopeng menumbangkan sebatang pohon pisang yang aneh itu, dia mencoba memakannya, namun tak jadi karena banyak batu-batu di dalamnya, “Pisang apa ini?”, kemudian kami melanjutkan perjalanan kami, “sudah dekat ini ndre” Nopeng berkata penuh semangat. Aku tidak membantah, memaksa bangun dan melanjutkan perjalanan kami. Baru sekitar 5 jam kami berjalanan, Nopeng yang paling depan teriak di atas jurang. ”Ndreeeee… ada perumahan penduduk, disini akhir jalan kita ndre, tapi jalan turun sudah tidak ada lagi, sepertinya kita Mati ndre...!”
Kami mendapati jurang air terjun yang sangat tinggi, tak mungkin untuk dituruni. aku semakin melemah, Nopeng tetap berusaha mencari jalan keluar, dan di sebelah kiri jurang tersebut ada pohon-pohon bulu (bambu). Nopeng naik ke atas hutan bulu itu, namun memang jalan turun tidak nampak lagi. Akhirnya kami pasrah, ”kita mati juga akhirnya” kataku.
Tak lama berselang kami mendengar dari arah bawah, seperti ada suara orang lagi memotong batang bulu. "klutak…, klutak….," Nopeng menginstruksikan aku supaya berteriak. Karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk bersuara, dadanya sakit.
“Tolongggg…,” teriakku.
Aku terdiam sambil menunggu jawaban. “Huuuuu” terdengar suara sahutan dari bawah.
“Pak!!!, tolong kami Pak!!!, kami yang hilang di gunung merapi Pak!!” Nopeng berteriak sambil memegang dadanya.
”Tolongggg pak!!!” sambungku lagi lebih keras.
”Siapa tuuuuuuu???” suara dari bawah itu menyahut lagi.
”Kami pak..., yang hilang di gunung merapi Pak, tolong lah Pak..! teriakku lagi,
“Iya, Bakar celana biar disusul kesana” jawab suara itu.
“tak ada Pak, korek api tak ada...!”
“Ya udah, goyang-goyangkan tempat kalian sekarang…!”
Nopeng langsung mengoyang-goyangkan batang bulu yang ada didekatnya itu, “sudah kelihatan Pak?!”
“Oooi…, naik kalian sedikit lagi ke atas, di bawah itu jurang…!” jawab suara itu lagi. Kami saling pandang, lalu naik pelan-pelan ke atas. Kami berdoa dalam hati, sambil terus berkomunikasi dengan si suara dari bawah.
Sekitar 2 jam kami menunggu, dari sebelah kiri kami, akhirnya kami melihat Seorang orang Bapak, dengan anak-anaknya yang berjumlah empat orang, mereka memiliki badan tinggi dan tegap. Sungguh mereka terkejut melihat kami.
“Pak, kami manusia Pak, kami yang hilang di gunung selama beberapa hari ini”
“Iya, kami tahu, syukurlah kalian masih hidup.”
dia mendekati kami lalu mengeluarkan bungkusan nasi. Nopeng memakannya dan kemudian dadanya sakit. Ketika aku mencoba makan, ternyata aku tidak apa-apa, Namun air minum tidak ada.
“sekarang kita turun ke bawah, bagaimana, kalian masih kuat jalan?” tanya si Bapak.
kami coba berdiri dan ternyata tak mampu. Akhirnya kami digendong di punggung oleh si Bapak, dan keempat anaknya secara bergantian, kami pasrah dan senyum-senyum sendiri.
Sembil berjalan, antara sadar dan tidak, akhirnya kami dibawa ke posko, dimana terdapat banyak tim SAR dan Relawan yang masih setia dan yakin bahwa kami masih hidup. Sungguh perjalanan ini sangat melelahkan, mereka menyambut kami dengan penuh antusias dan ucapan selamat atas keberhasilan kami dalam menakklukkan kekejaman Gunung Merapi. Sebenarnya kepercayaan akan hal bahwasanya kami masih hidup adalah dari sebuah mitos, bahwa ada terdapat dua Jenis Gunung yang lumayan terkenal di Sumatera Barat, Gunung Merapi dan Singgalang. Perbedaannya terletak pada kondisi orang yang jika tersesat, Jika tersesat di Gunung Merapi, Jasad Mayat -PASTI ditemukan, namun, jika tersesat di Gunung Singgalang, jasad tidak ada satupun yang di temukan. Itu sebabnya mereka, Uncu, Firman dan Iwan, tiga orang teman-teman kami dan Tim SAR yang lain masih penasaran akan keberadaan kami.
Kami pun dibawa oleh Ambulance ke Rumah Sakit, sambil didampingi beberapan wartawan dan jurnalis yang setia menunggu ending dari cerita kami dan kisah-kisah yang ada didalamnya.
“Terima kasih Tuhan, kau beri kesempatan sekali lagi…”

Muhammed Andre Raberta
- I N T E R M I S S I O N -
Spoiler for Akhir Nakah:
Cerita tersebut merupakan naskah typo dari Uda Andre, ini versi beliau, dan cerita tak berhenti sampai disini.
Masih ada kisah empat versi lainnya, Nopeng, Uncu, Firman, dan Iwan. Namun, catatan kecil ini hanya segelintir memori yang tersisa, karena jika dijajaki satu persatu tak akan cukup waktu untuk menuliskannya. Tetapi, saya berjanji akan menyelesainya cerita ini disini dan selanjutnya dikemas dalam bentuk Buku dengan versi komplit. Mohon doa dan Support dari teman semua.
Part 4
Diubah oleh alishba 16-09-2016 13:50
chomimi93 dan Inyiakbalanggg memberi reputasi
2
Kutip
Balas