Kaskus

Story

uclnAvatar border
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR
PENDEKAR SLEBOR


Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta



Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.

Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).

Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.

Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan

Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.

Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..

Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.

Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..

And Here We Go.....

I N D E K S


Spoiler for Indeks 1:



TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya


GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
anasabilaAvatar border
regmekujoAvatar border
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.8K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
uclnAvatar border
TS
ucln
#124
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430H


Part 6

Dedengkot Iblis sebenarnya tak mengerti, kenapa Lodaya Burang mendadak menahan serangannya. Di kalangan tokoh kelas satu, pantang untuk menghentikan pertarungan jika belum ada yang tewas. Namun begitu, Dedengkot Iblis cepat menghentikan juga terjangannya.

“Ada seseorang yang hendak berbuat kecurangan!” kata Lodaya Burang seraya menunjuk ke seberang danau yang dibatasi bukit cemara.

Di sana, memang terlihat seseorang berpakaian hijau dan bertopeng kain warna hijau pula. Dia tampak sedang bersiap terjun ke Danau Panca Warna.

“baik! Pengecut dari mana yang hendak mendahului kita itu?” hardik Dedengkot Iblis geram.

Sementara itu orang di seberang sana telah melompat ke danau.

“Aku tidak ingin didahului!” teriak Dedengkot Iblis penuh kemurkaan.

Tanpa mengindahkan Lodaya Burang lagi, dia bergegas menggenjot tubuhnya ke udara. Gerakannya begitu indah di udara. Tubuh lelaki tua itu berputaran dengan tangan terbentang. Sementara kecapinya yang telah ditautkan ke punggung, memperdengarkan bunyi mendesing. Tak lama, Dedengkot Iblis menembus permukaan air danau bagai sebatang tombak.

Byur!

Tak ada seorang tokoh kelas atas golongan sesat pun yang tidak berhasrat memiliki Pusaka Langit. Memang, suatu keharusan bagi mereka untuk memiliki benda pusaka apa pun yang sanggup melambungkan nama ke puncak kekuasaan dunia persilatan. Meskipun, itu hanya baru kabar angin dari mulut ke mulut. Lodaya Burang sebagai seorang tokoh kelas atas golongan sesat menyadari benar hal itu. Itu sebabnya, dia tak sudi membiarkan seorang pun mendahuluinya untuk mendapatkan Pusaka Langit. Sesaat setelah Dedengkot Iblis menyelam, dia pun memburu ke arah danau.

Byur!

Lodaya Burang menyusul ke dalam Danau Panca Warna. Menyaksikan dua saingannya telah masuk ke dalam danau, Kudungga yang dikenal sebagai si Padri Sesat secepatnya melakukan tindakan sama. Dari tempatnya berdiri, segera kakinya bergerak. Kehandalan ilmu meringankan tubuhnya, membuat gerakan kaki Kudungga terlihat menjadi puluhan. Dan dalam sekejap, lelaki kasar itu telah tiba pula di bibir danau. Lalu.....

Byur!

Tubuh tinggi gempal Kudungga seketika me-nampar permukaan air danau, menciptakan percikan air yang tinggi. Kini, tiga tokoh sakti aliran sesat telah siap berlaga bertaruh nyawa dalam dinginnya dasar Danau Panca Warna. Ditambah, seseorang yang hendak melakukan kecurangan....

***


Selang beberapa saat, setelah ketiga tokoh kelas satu golongan sesat itu tertelan Danau Panca Warna, permukaan danau menjadi tenang kembali. Hanya tersisa riak kecil yang berkejar-kejaran menuju tepian. Sementara suasana menjadi sepi. Sedangkan tokoh lain seperti tidak mau bertindak apa-apa. Di antara mereka tak ada yang mau mengantar bahaya untuk ikut menyelam ke danau. Sebagian berpikir, jika mereka ikut masuk ke danau, itu sama artinya mencari mati. Karena, harus menghadapi tiga tokoh kejam! Di samping itu mereka juga sudah mendengar bagaimana kekuatan pengaruh Pusaka Langit bagi orang-orang berkepandaian tanggung. Bahkan sebagian yang lain hanya ingin menunggu apa yang akan terjadi. Mereka adalah tokoh-tokoh golongan putih.

Ketegangan menyelimuti diri para tokoh persilatan lain. Hati mereka semua seperti tak henti bertanya, apa yang akan terjadi kemudian. Dan ketegangan pun membuat mereka bagai patung tak bernyawa. Bahkan rasanya mereka ingin menahan napas saat menanti kejadian berikutnya. Sementara, desau angin yang berjinjit di permukaan air danau, makin membangun suasana mencekam.

Sesaat demi sesaat mereka menanti, namun belum ada tanda-tanda kalau ketiga tokoh sesat dan seorang yang wajahnya tertutup itu akan segera muncul. Padahal, daya tahan pernapasan seseorang sudah mengalami saat-saat amat membahayakan dalam waktu selama itu. Sampai akhirnya....

Blup! Blup! Blup...!

Mendadak sesosok tubuh muncul ke permukaan danau dalam keadaan mengerikan. Sayatan-sayatan kasar merencah sekitar badan orang itu, hingga pakaiannya terserpih. Di keningnya terdapat lubang sebesar jari. Sementara, air disekitarnya berubah merah. Ternyata, lelaki itu Lodaya Burang!

Blup! Blup! Blup...!

Tak lama berikutnya, Dedengkot Iblis menyusul. Keadaannya juga mengerikan! Selanjutnya, giliran si Padri Sesat. Keadaannya pun tak kalah mengerikan dengan dua orang sebelumnya. Kini seluruh orang yang berada di pinggir danau terperangah. Kelopak mata mereka membesar tegang. Tak pernah ada yang menyangka kalau tiga tokoh aliran sesat itu akan mengalami nasib begitu menggiriskan! Keterkejutan tak luput melanda diri Andika dan Ratna Kumala di tempat persembunyian. Berbeda dengan mereka yang berada di sekitar danau, kedua anak muda itu terkejut karena menyaksikan luka di kening ketiga mayat dari kejauhan.

“Apakah aku tidak salah lihat, Andika?” gumam Ratna Kumala.

“Tampaknya, kita akan segera bertemu pembunuh kedua saudara seperguruanmu...,” tanggap Andika tanpa melepaskan pandangan dari tiga mayat yang terapung di danau.

“Aku tidak mengerti, kenapa bajingan itu membunuh kakak seperguruanku. Dan, kenapa pula mereka membunuh tiga tokoh sakti aliran sesat?” tanya Ratna Kumala, masih terdengar bergumam.

“Aku juga tidak mengerti. Yang pasti, orang itu membunuh bukan karena kurang kerjaan,” tukas Andika seraya bangkit dari duduknya.

“Hendak ke mana kau?” tanya Ranta Kumala cemas.

Andika mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Kau ingin tahu alasan orang itu membunuh kedua kakak seperguruanmu dan tiga orang tokoh sesat itu, atau tidak?”

Kaki Pendekar Slebor melangkah, menuju jalan setapak yang menurun ke arah Danau Panca Warna.

“Apa maksudmu?” tanya Ratna Kumala, seraya ikut bangkit.
“Akan kuringkus orang itu.”
“Aku ikut!”

Sepasang alis sayap elang milik Andika merapat. Tampaknya dia tak begitu suka oleh ucapan terakhir Ratna Kumala. Ditatapnya gadis berambut pendek itu lekat-lekat, dengan kelopak mata agak mengerut.

“Apa kau pikir orang yang akan kuhadapi nanti centeng pasar berkepandaian tanggung? Apa kematian ketiga tokoh aliran sesat itu tidak membuka matamu?” tegas Andika.

Ratna Kumala menaikkan wajahnya tinggi-tinggi.

“Apa kau kira aku takut?” ujarnya agak tersinggung.

“Aku yakin kau tidak akan takut. Karena, kau memang perempuan nekat yang tidak bisa berpikir jernih,” sindir Andika, seraya menaikkan sudut bibir.

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak mengerti? Apa otakmu sudah digadaikan? Ini bukan masalah takut atau tidak, Ratna. Ini masalah hidup-mati. Mengerti?!” sambut Andika.

Mata Ratna Kumala membesar sejadi-jadinya. Gadis yang juga keras kepala itu mulai jengkel mendengar ucapan Andika yang terdengar ceplas- ceplos tadi.

“Sudah kubilang, aku tidak takut! Apa kau pikir seorang pengecut tidak akan mati? Semua orang pasti akan mati, Andika. Kalau aku mesti mati hari ini di tangan bajingan itu, apa bedanya? Mati toh hanya masalah waktu. Aku bahkan lebih suka mati dalam perjuangan, ketimbang mati penasaran atau mati ketakutan...,” sergah Ratna Kumala panjang.

Andika berdecak jengkel. Tangannya lantas menggaruk-garuk kepala. Dia mati kutu menghadapi gadis
jelita satu ini. Dihelanya napas dalam-dalam, mencoba mengenyahkan kedongkolan yang mulai menggelayuti tenggorokan.

“Baiklah,” Andika menyerah.
“Tapi kau harus menunggu di tepi danau. Biar aku saja yang menyelam.”

Kini, Ratna Kumala mengangguk puas. Kemudian, mereka segera turun dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Maka sebentar saja mereka telah tiba di bibir danau. Dan tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menatap dan puluhan mulut yang kasak-kusuk melihat kehadirannya, Andika langsung loncat ke dalam Danau Panca Warna.

Byur!

Rasa dingin langsung merambah sekujur tubuh Andika. Gelembung-gelembung kecil yang diciptakan sibakan air, menari-nari di sekitar wajahnya. Untuk kedua kalinya, dia akan menyelam ke dalam danau berair bening, namun selalu siap membawa hawa maut.

Sempat pula ingatan pendekar muda itu berkelebat tentang kejadian-kejadian yang pernah menimpanya. Terutama saat melakukan penyelaman pertama, hingga menemukan benda sakti yang kini disebut-sebut orang dunia persilatan bernama Pusaka Langit. Sekilas tergambar di kepalanya, bagaimana rasa sesak yang melanda dadanya kala sinar merah bara menyilaukan menyedot dirinya. Setelah itu, ingatannya pun pupus kembali. Kejadian yang tersembul sesaat di benaknya, membuat Andika terpaku. Untunglah, dinginnya air danau segera menyadarkannya.

Kini Andika menggerakkan kakinya, mengayuh untuk menyelam ke dasar Danau Panca Warna. Setelah dasar danau terlihat, penyelaman diteruskan ke sekitarnya. Tumbuhan danau yang menggapai-gapai lemah gemulai, disibakkan dengan kedua tangannya. Perlahan Andika maju. Seluruh kemampuan indra pengelihatannya dikerahkan untuk menebus keremangan dasar danau. Beberapa saat kemudian, mata Pendekar Slebor menangkap sesosok tubuh berpakaian serba hijau sedang berenang menuju permukaan.

“Akhirnya kau kutemukan juga kunyuk busuk itu!” kutuk hati Andika.

Wrrr!

Tanpa menunggu lebih lama, Andika mengirim pukulan jarak jauhnya. Saat telapak tangannya terdorong ke depan, segulungan gelembung udara yang memanjang meluncur ke arah sasaran. Bentuknya seperti rentangan tambang yang tembus pandang. Sebenarnya, pantang bagi seorang pendekar seperti Andika melakukan bokongan. Namun, semuanya sudah matang dipertimbangannya. Dia tahu, pukulan jarak jauh akan melemah jika dilakukan dalam air. Di samping itu, orang yang dituju pun cukup jauh dari tempatnya. Kalau pun bokongannya akan mengenai sasaran, pasti tidak akan berakibat parah. Tujuan Andika memang bukan hendak melumpuhkan, melainkan sedikit memberi peringatan.

Mendengar bunyi ganjil di belakangnya, orang berpakaian serba hijau itu bergerak siaga. Tangannya cepat mengayuh ke depan, sehingga tubuhnya terdorong cepat ke belakang. Maka pukulan jarak jauh Andika hanya melintas di depan dadanya. Saat orang berpakaian serba hijau itu berbalik, pada tangan kirinya terlihat kain putih tembus pandang yang didalamnya terdapat batu sebesar kepala bayi, memancarkan sinar merah bara menyilaukan! Hal itu langsung menusuk benak Andika. Secara samar-samar, bayangan kejadian beberapa waktu lalu terbersit kembali. Keningnya berkerut. Andika berusaha mempertahankan bayangan itu.

Beberapa saat ia hampir berhasil. Bayangan kejadian berupa cahaya merah bara seperti yang baru saja dilihatnya di tangan orang itu makin menjelas di benaknya. Sebelum semuanya menjadi benar-benar jelas, tiba-tiba telinganya menangkap suara sumbang menggetarkan.

Wrrr...!

Pendekar Slebor terkesiap. Secepatnya disadari kalau sosok berpakaian serba hijau itu telah melakuan serangan balik berupa pukulan jarak jauh kini mengancam.

“Arrrgkh!”

Andika berteriak keras seraya berputaran di dalam air. Suaranya yang disertai gelembung udara terdengar aneh dan menyeramkan. Teriakannya membuat Andika mampu menghindari terjangan tenaga pukulan yang jauh lebih dahsyat dari pukulannya.

“Gila! Pukulan macam apa itu?!” Serapahnya dalam hati.

Nyaris Pendekar Slebor tak mempercayai kejadian di depan matanya tadi. Bagaimana mungkin orang itu bisa mengirimkan pukulan yang mampu menciptakan pusaran sebesar kerbau di sekitar tubuhnya?

Ketika mata elangnya tertumbuk kembali pada batu merah bara di tangan orang itu, Pendekar Slebor langsung teringat pada cerita Ratna Kumala tentang benda pusaka dari langit.... Pusaka Langit! Hanya ada satu dugaan di kepala Andika saat itu. Dia yakin, benda pusaka itulah yang telah memperkuat tenaga pukulan orang. Jadi, Pusaka Langit benar-benar nyata dan bukan bualan belaka orang-orang persilatan!

Memang pantas jika hati Andika berkata seperti itu. Karena, dia tidak lagi ingat tentang kehebohan Pusaka Langit, sampai Ratna Kumala menceritakan semuanya. Padahal sebelumnya, dia tidak mempercayai. Meskipun, beberapa kali bayangan kejadian berapa waktu lalu terbersit samar dalam ingatannya. Kalau di dalam air saja benda itu mampu melipatgandakan kekuatan seseorang, apa lagi jika di daratan? Tentu orang yang memilikinya akan mampu membelah gunung karang!

Menyadari bahaya yang akan mengancam dunia persilatan bila benda pusaka itu berada di tangan orang sebengis lelaki berbaju hijau, Andika memutuskan untuk menghadapinya habis-habisan. Dia tak mau sungkan-sungkan lagi melepas pukulan pamungkasnya sekalipun. Maka tangannya cepat bergerak dari depan dada, membentang ke samping dengan telapak terbuka lebar. Perlahan sepasang tangan pendekar muda itu terangkat, lalu kembali ke depan dada. Setelah menyatukan kedua telapak tangan, matanya terpejam. Sesaat berikutnya....

Wrrr...!

Satu pukulan jarak jauh yang lebih kuat dilancarkan Pendekar Slebor. Seperti serangan sebelumnya, pukulannya kali ini pun menimbulkan gelembung-gelembung udara memanjang yang terbentang ke arah orang berbaju serba hijau itu. Bedanya, kali ini gelembung-gelembung udara itu lebih besar dan bergerak berputar di sekitar tenaga pukulannya.

Orang berbaju serba hijau yang menyaksikan pukulan Pendekar Slebor berniat mementahkannya. Bahkan sekaligus menguji keampuhan Pusaka Langit yang terbungkus kain putih tembus pandang di tangannya.

Bersamaan tindakan itu, Andika segera merangseknya. Seketika sepasang kaki dan tangannya dikayuh sekuat tenaga. Maka pengerahan tenaga sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan membuat tubuhnya meluncur bagai seekor hiu memburu mangsa.

Di pihak lain, orang berpakaian serba hijau juga melakukan hal yang luar biasa. Pukulan sakti Pendekar Slebor yang bisa meremuk redamkan bongkahan karang sebesar kerbau, ternyata dapat dibelokkan ke arah lain dengan sabetan kain berisi Pusaka Langit!

Pendekar Slebor tentu saja dibuat tersentak melihat kenyataan di depan matanya barusan. Tapi karena tubuhnya sudah telanjur meluncur deras ke arah lawan, tidak dipedulikan lagi kekuatan maha dahsyat dalam Pusaka Langit. Yang ada dalam kepalanya hanya tekad untuk merebut pusaka itu agar dapat diamankan dari tangan keji.

Wrrr...!

Dalam terjangannya, tangan Pendekar Slebor membentang ke depan, mengarah ke dada orang berbaju hijau yang masih lengah.

Deb!

Terdengar bunyi tertahan, ketika jari-jari mengejang Andika menotok tulang dada orang berbaju hijau yang langsung terdorong deras ke belakang. Luncuran tubuhnya baru berhenti ketika punggungnya menimpa batu cadas besar di belakangnya.

Grrr...!

Batu cadas yang menjulang ke permukaan kontan remuk di bagian yang terhajar punggung lelaki itu. Tapi orang bertopeng kain hijau ini tampak tidak mengalami sesuatu yang berarti. Dengan tenang, kakinya menjejak ke batu cadas, lalu berenang menuju Pendekar Slebor. Mata Pendekar Slebor jadi membesar, karena baru kali ini menemukan orang yang bisa menahan pukulan pamungkas warisan Pendekar Lembah Kutukan. Apalagi, tetap sehat walafiat seperti lelaki itu.

Sementara itu, mata orang berbaju serba hijau itu tampak berbinar angkuh. Kalau saja wajahnya tak tertutup, tentu Pendekar Slebor akan menyaksikan senyum penuh ejekan lawannya. Lelaki bertopeng kain hijau itu makin dekat ke arah Pendekar Slebor. Sementara itu, tangannya sudah siap melancarkan jurus yang mungkin menciptakan pusaran air raksasa karena daya sakti dari Pusaka Langit....

***


Sekujur tubuh Pendekar Slebor jadi mengejang karena tegang. Biarpun sudah banyak menelan asam garam rimba persilatan, tapi tak luput pula dicekam ketegangan. Seumur hidupnya, baru kali ini menjalani pertarungan maut di bawah air. Terlebih, kesaktian orang berbaju serba hijau itu sulit diukur akibat pangaruh kekuatan Pusaka Langit. Bahkan kini dada Pendekar Slebor mulai terasa sesak.

Entah sudah berapa lama berada di bawah air, dia sendiri tidak tahu. Yang pasti, paru-parunya harus diisi udara baru, kalau tidak ingin dadanya pecah. Namun, Pendekar Slebor tidak bisa begitu saja melayang ke permukaan. Baru saja sepasang kakinya hendak dikayuh ke atas, orang berpakaian serba hijau itu telah tiba di depannya.

Srrr...!

Tangan kanan lelaki bertopeng bergerak menyapu ke perut Pendekar Slebor. Untunglah, pada saat yang gawat pendekar muda itu mampu melakukan gerakan kecil ke belakang. Sehingga, tangan lawannya lewat beberapa rambut dari perutnya. Kalau saja Pendekar Slebor kalah cepat, bisa dipastikan isi perutnya akan ambrol saat itu juga, terkena tombak kecil bermata tiga di tangan lawannya. Rupanya orang berpakaian serba hijau itu mengeluarkan senjata saat Andika lengah

Selesai dengan satu sabetan, lelaki bertopeng hijau itu mengirimkan tebasan dan tusukan susulan. Senjatanya berpindah-pindah sasaran. Dari dada, ke kepala, lalu sesekali ke leher Pendekar Slebor. Serangan bertubi-tubi ini membuat Pendekar Slebor kewalahan. Di samping pernapasannya yang sudah tak memungkinkan, gerakan lawannya pun menggila. Kalau saja kecepatan sakti warisan Pendekar Lembah Kutukan tidak menyatu dalam dirinya, sulit dibayangkan lagi bagaimana keadaan- nya. Tubuhnya pasti akan tercabik senjata lawan.

Saat berikutnya, lelaki bertopeng itu mulai pula memanfaatkan Pusaka Langit sebagai senjata. Tanpa memberi kesempatan secuil pun pada Pendekar Slebor, tangannya yang menggenggam kain tembus pandang berisi Pusaka Langit segera diayunkan.

Srrr...!

Bagai palu aneh, batu merah bara dalam bungkusan kain tembus pandang itu menderu ke kepala Andika. Sekejap lagi, kepalanya tentu akan remuk. Namun, keadaan terdesak seperti itu mampu membuat Pendekar Slebor melakuan hal yang sebenarnya sudah tidak mungkin. Entah, naluri macam apa yang menuntun tubuhnya hingga bisa bergeser ke belakang tanpa disadari.

Sekali lagi, serangan orang berbaju serba hijau itu luput. Tapi bukan berarti Pendekar Slebor tidak menerima akibat lain yang tak kalah parah. Pusaka Langit ternyata telah melipatgandakan tenaga dorongan berbentuk gelombang dalam air akibat hantaman tadi. Pendekar yang mengalami gangguan pada ingatannya itu langsung terdorong deras ke belakang, meski di dalam air. Tubuhnya baru berhenti meluncur, setelah menghantam batu cadas besar.

Grrrgh...!

Cadas yang menjadi sasaran tubuh Andika kontan menjadi gompal! Pecahannya pun berhamburan di dasar danau berpasir. Andika sendiri mengalami akibat yang tak kalah hebat. Dari mulutnya keluar cairan merah kental. Yang kemudian melayang bagai asap merah dalam air. Sementara, rasa sesak yang mendera punggung memaksanya melepas pernapasan. Maka air pun cepat merasuk ke saluran napasnya. Dan ini membuat Pendekar Slebor jadi gelagapan.

Kesempatan itu cepat digunakan sebaik-baiknya oleh orang berbaju serba hijau itu. Kembali dilabraknya Pendekar Slebor. Setelah mengayun kaki dan tangannya sekuat tenaga, tubuhnya meluncur deras dengan kaki kanan mengarah ke dada Andika.

Bekh!
“Aaargkh!

Andika langsung Cumiik dalam air. Namun suaranya yang terlontar kuat, teredam begitu saja. Sementara, terjangan air ke dalam jalan napasnya kian parah. Wajah tampan pendekar muda itu tampak mengejang dalam bias air danau. Matanya membelalak, menahan sakit tak terkira. Perlahan-lahan pandangannya mengabur. Sebelum seluruh kesadarannya lenyap, tangan kekarnya mencengkeram orang berbaju hijau itu dengan sisa tenaga terakhir.

Srrrt...!

Serangan balasan terakhir Pendekar Slebor ternyata hanya mampu menyambar topeng kain berwarna hijau dan baju bagian depan lawan. Kini, pandangan yang mengabur dapat menyaksikan wajah lawannya. Sekaligus, melihat tanda tubuh berwarna hitam berbentuk bayangan ular di dada. Setelah itu, semuanya hilang. Pendekar Slebor telah tak sadarkan diri.

Tubuh tegapnya langsung mengapung lamban dalam dekapan dingin air Danau Panca Warna. Pakaian hijau-hijau dan kain bercorak caturnya melambai-lambai lemah, selemah tubuhnya saat ini.

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.