- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#122
Part 4
“Hey, Pemuda Dungu!” hardik Atma Sungsang
Atma Sungsang benar-benar jengkel disebut lelaki bengkak. Apalagi, dia memang sedang diamuk kemarahan oleh ulah Ratna Kumala.
“Hah?! Apa?” tanya Andika, seraya mengangkat wajah kebodoh-bodohan.
“Apa? Kau tadi menyebutku apa?!”
“Lelaki bengkak,” sahut Andika, seperti tak merasa salah.
“Keppparaaat...!” desis Atma Sungsang. Hidungnya sudah kembang kempis karena gusar.
Di lain pihak, Andika malah sibuk mencari-cari kain bercorak caturnya. Matanya jelalatan ke sana kemari, sampai akhirnya kain yang dicari ditemukan tengah berada di bawah kaki Atma Sungsang.
“Na, itu dia!” seru pemuda itu tertahan.
Lalu Andika menghampiri kain itu tanpa mempedulikan Atma Sungsang. Padahal, lelaki tinggi besar itu sudah ingin mengunyahnya hidup-hidup.
“Den Gemuk! Permisi, ya. Apa kakinya bisa diangkat?” kata Andika kalem. Sementara tangannya sudah siap menarik kain bercorak catur di kaki Atma Sungsang.
“Babi! Rupanya, kau memang minta mampus!” hardik Atma Sungsang. Tangannya pun terangkat tinggi-tinggi, untuk membenamkan ujung parangnya ke punggung Andika yang sedang merunduk.
Wet!
“Awas!” pekik Ratna Kumala, memperingati.
Teriakan Ratna Kumala begitu melengking nyaring, membuat telinga Andika bagai ditusuk sebatang lidi. Bukan itu saja. Pendekar muda yang sedang mengalami gangguan ingatan itu jadi tersentak tak alang kepalang. Dan seketika kain bercorak catur yang sudah dipegangnya ditarik mendadak. Akibatnya....
Bruk!
Atma Sungsang kontan jatuh berdebam di lantai penginapan. Tubuhnya yang tambun menciptakan getaran kecil pada tiang dan dinding kayu penginapan.
“Aduh.... Maaf ya, Den Gemuk. Aku tak sengaja,” ucap Andika tergesa-gesa. Bibirnya meringis-ringis melihat Atma Sungsang jatuh. Padahal yang merasakan sakit bukan dia.
“Babi! Babi! Babi!” maki Atma Sungsang gencar.
Segera laki-laki itu mencelat bangkit. Ke-kalapannya kini benar-benar membuatnya nyaris edan. Dia berteriak sekuat-kuatnya, tatkala melabrak Andika kembali.
“Khuaaa...!”
Wet! Wet!
Dua tebasan Atma Sungsang sekaligus hendak memotong lutut dan leher Andika. Gerakannya benar-benar sudah membabi buta. Tak dipedulikan lagi, apakah lawannya nanti bakal menjadi daging cincang atau perkedel.
“Mak! Mat..!”
Andika melompat tak karuan. Tangannya mendekap wajahnya sendiri, mirip anak kecil yang hendak dipukuli ibunya, Sebelumnya, Ratna Kumala sudah mengira riwayat Andika akan tamat di ujung parang Atma Sungsang. Bagaimana perkiraan itu tidak muncul, kalau serangan Atma Sungsang demikian cepat mengancam tubuh Andika. Padahal selama ini yang diketahuinya, Andika hanyalah pemuda bodoh yang pikun!
Kini, gadis itu boleh ternganga. Nyatanya, pemuda yang dianggap bodoh itu mampu mementahkan tebasan Atma Sungsang dengan gerakan cepat luar biasa. Meski terlihat tolol.
“Hiaaa!”
Wet! Deb!
Serangan susulan Atma Sungsang yang berupa tebasan-tebasan parang, disertai tendangan-tendangan dengan ganas ke beberapa bagian tubuh Andika. Terkadang, menyapu gencar ke kepala. Sesekali menotok. Malah tak jarang pula mencoba menghantam selangkangan. Namun semua itu dengan mudah dihindari Andika. Sampai suatu saat, tubuhnya seperti berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sementara itu, Ratna Kumala makin terpana. Sungguh tak dikira kalau pemuda tolol itu akan melakukan gerakan mengagumkan? Tak hanya Ratna Kumala terkagum-kagum melihat setiap kelitan Andika. Bahkan tamu penginapan pun sampai berdecak-decak kagum Meski di antara mereka terdapat tokoh berkepandaian cukup tinggi, tak urung mereka sampai terlongong bengong.
Di ruang tengah, pertarungan berjalan kian sengit. Tapi sampai sejauh itu, Pendekar Slebor belum tampak hendak balas menyerang. Sampai suatu saat, tubuhnya melenting gesit keudara. Setelah beberapa kali berputaran, kakinya menjejak ringan sejauh enam tombak di depan Atma Sungsang.
Di lain pihak, Atma Sungsang tampak tersengal-sengal kehabisan napas. Hampir seluruh tenaga dalam, kecepatan, dan jurus-jurus dahsyat dikerah-kannya. Namun, Pendekar Slebor tetap biasa-biasa saja. Kini, Atma Sungsang menatap jalang pada Andika dengan napas senin-kemis. Sedangkan Andika bergerak kian kemari, memperlihatkan kembangan jurus yang terlihat ganjil. Setiap kali tubuhnya bergerak, bayangannya yang terlihat. Gerakannya benar-benar bagai sambaran kilat. Tak ada yang indah dari jurus-jurusnya. Tapi, mata para tokoh yang sudah banyak makan asam garam akan segera tahu kalau gerakan itu merupakan gerakan tangguh yang amat sulit ditembus. Itulah jurus ketiga puluh dari rangkaian jurus ‘Memapak Petir Membabi Buta’.
Entah bagaimana jurus-jurus yang tercipta di Lembah Kutukan masih melekat kuat dalam otaknya. Padahal buat Andika sendiri, seperti asal gerak saja. Bisa jadi setiap jurus ciptaannya sudah begitu menyatu dalam dirinya, sehingga kelumpuhan ingatan yang dialami tak sedikit pun mempengaruhi jurus-jurusnya.
Melihat jurus-jurus Andika, Atma Sungsang jadi tercekat. Tak mungkin seorang berkepandaian tanggung dapat melakukannya. Bahkan Kebo Ireng yang berkepadaian lebih tinggi dari dirinya pun, tidak bakalan mampu. Dan tiba-tiba saja, Atma Sungsang menyadari kalau dirinya tengah berhadapan dengan tokoh kelas atas dunia persilatan. Padahal, dirinya sendiri? Hanya bajingan tengik yang masih perlu mencari guru!
Tanpa disadari, kaki Atma Sungsang tersurut dua langkah. Pada saat itu pula dia ingat desas-desus tentang seorang pendekar kalangan atas yang mampu melakukan gerakan secepat kerjapan kilat.
“Pendekar Slebor...,” desah Atma Sungsang cukup keras bersama wajahnya yang memucat.
Tak lama kemudian, Atma Sungsang berbalik, lantas mengambil langkah seribu. Dia berlarian menuju jendela besar penginapan. Dan langsung diterjangnya jendela agar bisa cepat tiba di luar. Sementara, Kebo Ireng dan Jarjaran telah menyusut di sudut meja penerimaan tamu yang sudah berlubang pada bagian tengahnya. Sama seperti Atma Sungsang, mereka pun teringat pada kebesaran nama Pendekar Slebor. Mendengar nama besar itu, nyali mereka langsung menciut.
“Loh?! Den Gemuk tadi ke mana?” tanya Andika dengan wajah bingung ketika gerakannya berhenti perlahan-lahan.
Pendekar Slebor jadi celingukan ke sana kemari, mencari-cari lawannya tadi.
“Wah, Den Gemuk.... Rupanya dia lupa kalau pintu keluar ada di belakang sana,” gumam Andika saat matanya menemukan jendela besar di sudut timur porak poranda.
“Pemuda tak tahu diri! Jadi selama ini kau hanya mau mempermainkan aku, ya?!”
Tiba-tiba terdengar bentakan seorang wanita di belakang Pendekar Slebor. Andika cepat menoleh. Rupanya, Ratna Kumala sedang menghampirinya dengan wajah garang. Tangan lentiknya bahkan menuding-nuding kasar.
“Ada apa, Ratna?” tanya Andika heran.
Pemuda itu bingung, tahu-tahu wanita jelita yang dikenalnya beberapa hari ini membentak-bentak tak karuan.
“Kenapa? Jangan berpura-pura lagi padaku! Apa kau pikir telingaku tuli? Aku dengar ucapan lelaki bajingan tadi!” dengus Ratna Kumala.
“Ucapan apa?”
“Apa?” mata Ratna Kumala mendelik sejadi-jadinya.
“Lelaki tadi mengatakan kalau kau adalah Pendekar Slebor, yang sakti dan suka menipu wanita!”
“Siapa Pendekar Slebor?” tanya Andika lagi, benar-benar menjengkelkan Ratna Kumala.
“Siapa? Ya, kau! Kau telah berpura-pura tolol untuk mempermainkan aku. Kau mencoba memperolok-olok aku, heh. Kau... penipu!”
Andika melongo. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
“Mulai sekarang, jangan pernah dekati aku lagi. Anggap saja aku tak pernah menolongmu. Dan, aku tak pernah kenal padamu! Apa dikira aku akan memelas padamu agar aku tetap dekat padamu?! O.... Terima kasih, Pendekar Muda...,” cecar Ratna Kumala lagi.
Andika makin melongo seperti sapi ompong.
“Ratna, tunggu!” tahan Andika ketika Ratna Kumala berbalik pergi.
Langkah gadis itu terbanting-banting keras di lantai penginapan. Tampaknya hatinya begitu kesal dengan pemuda ganteng di belakangnya.
“Ratna!”
Terdengar panggilan sekali lagi. Tapi, kali ini bukan berasal dari mulut Andika.
“Tak patut kau bersikap seperti itu pada pendekar terhormat seperti dia!”
Terdengar kembali suara lelaki dari arah tangga. Suaranya terdengar berwibawa. Dan dari nadanya, terkesan kalau lelaki itu kenal baik pada Ratna. Sesaat Ratna terdiam di tempat. Kemudian tubuhnya berbalik. Wajahnya tampak terlihat jengkel bercampur gembira.
“O, jadi kau menginap di tempat ini rupanya, Kakang Rudapaksa?” ucap gadis itu seraya memandang lelaki di tangga penginapan.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ratna! Kau harus minta maaf pada Pendekar Slebor,” ujar lelaki berjubah biru tua bernada memerintah. Wajahnya yang tampan menawan, dihiasi sebaris kumis tipis memperlihatkan kesungguhan. Dan dia memang Rudapaksa.
“Mana Kakang Rudapaksi?” tanya Ratna Kumala, mencoba mengalihkan pembicaraan lagi.
Ratna Kumala dan Rudapaksa memang satu perguruan. Begitu juga Rudapaksi. Mereka adalah murid-murid terbaik Ki Kenaka, guru besar Perguruan Topan Utara.
“Rupanya kau tak mendengarku, ya? Kuperingatkan, kau harus minta maaf pada pendekar itu!”
hardik Rudapaksa.
Dihardik seperti itu, wajah Ratna Kumala jadi memerah. Perlakuan kakak seperguruannya sama sekali tidak membuatnya untuk segera meminta maaf pada Andika. Malah hatinya bertambah kesal. Sambil menggerutu, tubuhnya berbalik kembali ke arah pintu.
“Biar namanya selebar jagad sekalipun, aku tak sudi meminta maaf padanya!” dengus gadis itu seraya melangkah pergi.
“Ratna!”
Rudapaksa berusaha menahannya. Tapi, Ratna Kumala sudah menghilang di sisi pintu keluar. Dan ini membuat Rudapaksa menggeleng-geleng kepala.
“Dasar anak keras kepala,” rutuk pemuda itu perlahan.
Rudapaksa lalu berbalik menghadap Pendekar Slebor. Dihampirinya pendekar muda yang sudah kondang namanya ini.
“Maafkan adik seperguruanku itu, Tuan Pendekar,” ucap pemuda itu.
Sementara pendekar muda yang ditegur masih berdiri terpaku menatap pintu keluar, tempat Ratna Kumala menghilang.
“Tuan Pendekar,” sapa Rudapaksa sekali lagi.
“Eh, apa? Tuan berbicara denganku?” tanya Andika, setelah tersadar dari keterpakuannya.
“Ya,” jawab Rudapaksa seraya tersenyum.
“Maafkan adik seperguruanku tadi.”
“Tak apa-apa,” jawab Andika singkat, kemudian berbalik. Sebentar saja dia sudah meninggalkan penginapan untuk menyusul Ratna Kumala.
Malam turun merambah di Desa Ambangan. Bulan sabit tampak mengambang hening di angkasa berawan tipis. Satwa malam mulai memperdengarkan senandungnya di sela-sela kegelapan.
Di atas sebatang pohon meranti yang tumbang di pinggir jalan setapak, Ratna Kumala membisu. Matanya memandang lurus pada kepingan rembulan pucat di atas sana. Pikirannya sendiri mengembara pada kejadian beberapa hari lalu, saat menolong Andika di Danau Panca Warna. Sewaktu tubuh pemuda tampan itu diangkat dari dinginnya air danau, entah kenapa Ratna Kumala menatapnya lama-lama. Ada semacam keterpesonaan yang sulit dijabarkan kata-kata, ketika mendapati gurat-gurat ketampanan wajah Andika. Garis dan lekuk wajah itu membuat hatinya bergetar halus.
Dia sendiri tak mengerti, perasaan macam apa itu. Dan ketika hari-hari dilalui bersama pemuda itu, perasaan yang menyeruak saat pertama kalinya menatap tidak juga pupus. Hari memang terus berlalu. Tapi, getaran itu malah kian menguat mencengkeram rongga batin Ratna Kumala.
“Kenapa dengan diriku ini?” desah batin gadis itu.
Baru pertama kali ini dia menemukan gejolak aneh saat bertemu seorang pemuda. Apakah ini cinta buta? Atau sekadar kekaguman? Tanpa disadari, kepalanya menggeleng-geleng perlahan-lahan. Dia tidak bisa mengatakan kalau itu hanya sekadar rasa kagum. Kalau hanya kagum, kenapa Ratna Kumala harus merasa kecewa tatkala dibohongi Andika? Apakah ini pertanda kekhawatirannya jika harus kehilangan, setelah diketahui kalau pemuda itu adalah Pendekar Slebor? Apalagi, seorang pendekar adalah milik semua orang lemah, bukan milik dirinya.
“Apa mungkin aku telah jatuh hati padamu, sementara namamu pun belum sempat kuketahui?" bisik Ratna Kumala perlahan.
“Ratna....”
Lamunan Ratna Kumala buyar seketika, begitu terdengar suara halus di belakangnya. Cepat kepalanya menoleh ke asal suara tadi. Ternyata Andika sudah berdiri di sana dengan mata lekat menatapnya. Seketika wajah Ratna Kumala bersemu. Tanpa diduga pemuda yang sedang mengisi benaknya tiba-tiba berada di belakangnya.
“Kenapa kau dekati aku lagi? Bukankah sudah kukatakan, jangan coba....”
“Ratna...,” sela Andika.
“Kalau kau marah karena kesalahanku, maafkanlah. Tapi bisakah kau jelaskan padaku, apa salahku?”
Ratna Kumala tak menyahut, tapi diam dalam seribu bahasa.
“Apa kau tak merasa telah mempermainkanku?” tanya Ratna Kumala akhirnya, setelah cukup lama berdiam diri.
“Mempermainkanmu bagaimana?” tanya Andika tak mengerti.
“Kau tak pernah mengatakan padaku kalau dirimu adalalah Pendekar Slebor,” sahut Ratna Kumala tanpa menoleh.
Kali ini Andika yang membisu. Matanya menancap lurus ke rerumputan berembun.
“Aku sendiri tak tahu, apakah aku adalah orang yang kau sebutkan tadi,” balas Andika, nyaris mendesah.
“Kau mulai berpura-pura lagi padaku,” ujar Ratna Kumala kesal.
Andika menarik napas dalam-dalam.
“Ratna pandanglah aku,” pinta Andika penuh harap.
Ratna Kumala tak mempedulikan.
“Ratna...,” ulang Andika sambil menatap punggung Ratna Kumala.
Pemuda itu melangkah dan langsung memegang bahu gadis muda yang berusia sebaya dengannya. Lalu, perlahan diputarnya tubuh Ratna Kumala agar menghadap dirinya.
“Lihatlah aku. Rat. Tatap mataku. Apakah aku terlihat berpura-pura padamu?” sangkal Andika lembut.
Matanya terarah tepat di manik mata indah gadis berambut pendek di depannya Sementara, Ratna Kumala sedikit pun tak sanggup membalas tatapan Iembut itu. Entah kenapa, wajahnya kini terasa hangat. Itu sebabnya, wajahnya tak mau diperlihatkan. Dia khawatir perubahan wajahnya diketahui Andika.
Sesaat kemudian Andika melepas pegangannya pada bahu Ratna Kumala, lalu berbalik. Kini, dihadapinya temaram cahaya rembulan yang menyapu wajah jantannya.
“Percayalah padaku, Rat. Aku tak pernah bermaksud membohongimu. Apalagi, mempermainkanmu. Ingatanku benar-benar lenyap begitu saja. Aku tak tahu, kenapa tiba-tiba berada di gubuk tepi danau itu. Dan aku juga tak tahu, kalau kau menyelamatkanku. Kini bahkan aku tidak tahu siapa diriku, dan siapa namaku,” tutur Andika di sela-sela desau angin yang bertiup dan suara jangkrik.
Keduanya kini terdiam. Mereka berdiri saling membelakangi, sibuk dengan isi benak masing-masing. Entah, apa yang saat ini tengah mereka pikirkan. Hanya mereka yang tahu. Sekian lama sunyi....
“Maafkan aku.... Aku telah menuduhmu yang tidak-tidak,” akhirnya Ratna Kumala membuka suara, walau hampir berbisik dengan kepala tertunduk.
“Aku bisa maklum. Kesalahan memang bagian dari diri kita.”
Ratna Kumala tergugu. Segera direnunginya kata-kata bijak dari hati arif seorang pemuda tampan di dekatnya.
Hari bergulir tanpa kenal letih. Dan waktu jualah yang mengakrabkan Ratna Kumala dan Andika. Nama Andika yang masih belum diketahui Ratna Kumala, kini sudah tidak menjadi persoalan. Dan Andika sendiri bersedia dipanggil apa saja oleh Ratna Kumala, berhubung dia sendiri lupa pada namanya. Akhirnya, Ratna Kumala memutuskan untuk memanggil dengan sebutan Slebor.
Hari-hari dilalui Andika di gubuk, di tepi Danau Panca Warna. Di sini, dia mencoba mengembalikan semua ingatannya. Meski tetap sulit. Tapi terus berusaha. Di samping karena sifat kepala batu yang membuatnya tak mudah menyerah, juga karena Ratna Kumala pun terus mendorong semangatnya.
Di kala senggang, Ratna Kumala bercerita kalau dirinya adalah adik seperguruan Rudapaksa dan Rudapaksi. Beberapa bulan lalu, guru mereka memberi tugas penting pada kedua kakak seperguruannya. Ratna Kumala yang tak dipilih untuk menjalankan tugas, tentu saja menjadi iri. Apalagi dia pun salah satu murid terbaik Ki Kenaka, Ketua Perguruan Topan Utara.
Menurutnya, gurunya pilih kasih pada murid lelaki. Lalu karena kesal, diputuskan untuk pergi dari perguruan tanpa pamit pada Ki Kenaka. Tujuannya tentu saja hendak ikut menjalankan tugas bersama Rudapaksa dan Rudapaksi. Tapi hingga sejauh itu, kedua kakak seperguruannya malah menyuruhnya pulang ke perguruan.
“Itu sebabnya aku pergi ke tepi danau ini, untuk melepas kejengkelanku pada malam kau terapung,” jelas Ratna Kumala, mengakhiri ceritanya.
Tapi baru saja Ratna Kumala bercerita.....
“Aaa...!”
Tiba-tiba teriakan menyayat hati terdengar. Andika terkesiap. Sama halnya Ratna Kumala. Seketika mereka saling bertatapan, seakan tidak mempercayai apa yang didengar barusan. Dan belum lagi keduanya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, sudah terdengar lagi satu teriakan membahana.
“Huaaa!”
Kali ini mereka tak menunggu lebih lama. Andika segera menggenjot tubuhnya. Langsung melesat bagaikan kilat menuju arah datangnya suara. Sedangkan Ratna Kumala menyusul di belakangnya. Meski agak jauh tertinggal karena ilmu lari cepat Andika jauh di atasnya, Ratna Kumala berusaha untuk terus mengikuti. Tak lama, Andika sudah menghentikan larinya, dan langsung berdiri mematung sambil menatap sesuatu di tanah.
“Apa yang terjadi, Slebor?” tanya Ratna Kumala setelah kakinya menjejak di belakang Andika.
Andika tak segera menjawab, karena tahu Ratna Kumala akan segera menyaksikan apa yang dilihatnya. Di tanah berumput yang tak jauh dari danau, tampak tergeletak bermandikan darah dua mayat yang amat dikenal Ratna Kumala. Masing-masing di kening mayat itu terdapat lubang sebesar ibu jari. Sedangkan di tubuh dan pakaian terdapat sayatan kasar.
“Kakang Rudapaksa.... Kakang Rudapaksi,” desis Ratna Kumala.
Nyaris gadis itu menjerit, saat mengenali kedua mayat yang terbujur kaku di depannya. Kejengkelan terhadap kedua kakak seperguruannya memang timbul belakangan ini. Namun tak urung perasaannya seperti tercabik-cabik mendapati kenyataan itu. Biar bagaimanapun, mereka tetap kakak seperguruan yang dicintainya.
“Bedebah keji! Siapa yang telah melakukan ini?!” dengus gadis itu dengan mata mencari-cari jalang. Di bawah kelopak matanya yang berbulu lentik tampak menggenang segaris air mata
“Hey, Pemuda Dungu!” hardik Atma Sungsang
Atma Sungsang benar-benar jengkel disebut lelaki bengkak. Apalagi, dia memang sedang diamuk kemarahan oleh ulah Ratna Kumala.
“Hah?! Apa?” tanya Andika, seraya mengangkat wajah kebodoh-bodohan.
“Apa? Kau tadi menyebutku apa?!”
“Lelaki bengkak,” sahut Andika, seperti tak merasa salah.
“Keppparaaat...!” desis Atma Sungsang. Hidungnya sudah kembang kempis karena gusar.
Di lain pihak, Andika malah sibuk mencari-cari kain bercorak caturnya. Matanya jelalatan ke sana kemari, sampai akhirnya kain yang dicari ditemukan tengah berada di bawah kaki Atma Sungsang.
“Na, itu dia!” seru pemuda itu tertahan.
Lalu Andika menghampiri kain itu tanpa mempedulikan Atma Sungsang. Padahal, lelaki tinggi besar itu sudah ingin mengunyahnya hidup-hidup.
“Den Gemuk! Permisi, ya. Apa kakinya bisa diangkat?” kata Andika kalem. Sementara tangannya sudah siap menarik kain bercorak catur di kaki Atma Sungsang.
“Babi! Rupanya, kau memang minta mampus!” hardik Atma Sungsang. Tangannya pun terangkat tinggi-tinggi, untuk membenamkan ujung parangnya ke punggung Andika yang sedang merunduk.
Wet!
“Awas!” pekik Ratna Kumala, memperingati.
Teriakan Ratna Kumala begitu melengking nyaring, membuat telinga Andika bagai ditusuk sebatang lidi. Bukan itu saja. Pendekar muda yang sedang mengalami gangguan ingatan itu jadi tersentak tak alang kepalang. Dan seketika kain bercorak catur yang sudah dipegangnya ditarik mendadak. Akibatnya....
Bruk!
Atma Sungsang kontan jatuh berdebam di lantai penginapan. Tubuhnya yang tambun menciptakan getaran kecil pada tiang dan dinding kayu penginapan.
“Aduh.... Maaf ya, Den Gemuk. Aku tak sengaja,” ucap Andika tergesa-gesa. Bibirnya meringis-ringis melihat Atma Sungsang jatuh. Padahal yang merasakan sakit bukan dia.
“Babi! Babi! Babi!” maki Atma Sungsang gencar.
Segera laki-laki itu mencelat bangkit. Ke-kalapannya kini benar-benar membuatnya nyaris edan. Dia berteriak sekuat-kuatnya, tatkala melabrak Andika kembali.
“Khuaaa...!”
Wet! Wet!
Dua tebasan Atma Sungsang sekaligus hendak memotong lutut dan leher Andika. Gerakannya benar-benar sudah membabi buta. Tak dipedulikan lagi, apakah lawannya nanti bakal menjadi daging cincang atau perkedel.
“Mak! Mat..!”
Andika melompat tak karuan. Tangannya mendekap wajahnya sendiri, mirip anak kecil yang hendak dipukuli ibunya, Sebelumnya, Ratna Kumala sudah mengira riwayat Andika akan tamat di ujung parang Atma Sungsang. Bagaimana perkiraan itu tidak muncul, kalau serangan Atma Sungsang demikian cepat mengancam tubuh Andika. Padahal selama ini yang diketahuinya, Andika hanyalah pemuda bodoh yang pikun!
Kini, gadis itu boleh ternganga. Nyatanya, pemuda yang dianggap bodoh itu mampu mementahkan tebasan Atma Sungsang dengan gerakan cepat luar biasa. Meski terlihat tolol.
“Hiaaa!”
Wet! Deb!
Serangan susulan Atma Sungsang yang berupa tebasan-tebasan parang, disertai tendangan-tendangan dengan ganas ke beberapa bagian tubuh Andika. Terkadang, menyapu gencar ke kepala. Sesekali menotok. Malah tak jarang pula mencoba menghantam selangkangan. Namun semua itu dengan mudah dihindari Andika. Sampai suatu saat, tubuhnya seperti berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sementara itu, Ratna Kumala makin terpana. Sungguh tak dikira kalau pemuda tolol itu akan melakukan gerakan mengagumkan? Tak hanya Ratna Kumala terkagum-kagum melihat setiap kelitan Andika. Bahkan tamu penginapan pun sampai berdecak-decak kagum Meski di antara mereka terdapat tokoh berkepandaian cukup tinggi, tak urung mereka sampai terlongong bengong.
Di ruang tengah, pertarungan berjalan kian sengit. Tapi sampai sejauh itu, Pendekar Slebor belum tampak hendak balas menyerang. Sampai suatu saat, tubuhnya melenting gesit keudara. Setelah beberapa kali berputaran, kakinya menjejak ringan sejauh enam tombak di depan Atma Sungsang.
Di lain pihak, Atma Sungsang tampak tersengal-sengal kehabisan napas. Hampir seluruh tenaga dalam, kecepatan, dan jurus-jurus dahsyat dikerah-kannya. Namun, Pendekar Slebor tetap biasa-biasa saja. Kini, Atma Sungsang menatap jalang pada Andika dengan napas senin-kemis. Sedangkan Andika bergerak kian kemari, memperlihatkan kembangan jurus yang terlihat ganjil. Setiap kali tubuhnya bergerak, bayangannya yang terlihat. Gerakannya benar-benar bagai sambaran kilat. Tak ada yang indah dari jurus-jurusnya. Tapi, mata para tokoh yang sudah banyak makan asam garam akan segera tahu kalau gerakan itu merupakan gerakan tangguh yang amat sulit ditembus. Itulah jurus ketiga puluh dari rangkaian jurus ‘Memapak Petir Membabi Buta’.
Entah bagaimana jurus-jurus yang tercipta di Lembah Kutukan masih melekat kuat dalam otaknya. Padahal buat Andika sendiri, seperti asal gerak saja. Bisa jadi setiap jurus ciptaannya sudah begitu menyatu dalam dirinya, sehingga kelumpuhan ingatan yang dialami tak sedikit pun mempengaruhi jurus-jurusnya.
Melihat jurus-jurus Andika, Atma Sungsang jadi tercekat. Tak mungkin seorang berkepandaian tanggung dapat melakukannya. Bahkan Kebo Ireng yang berkepadaian lebih tinggi dari dirinya pun, tidak bakalan mampu. Dan tiba-tiba saja, Atma Sungsang menyadari kalau dirinya tengah berhadapan dengan tokoh kelas atas dunia persilatan. Padahal, dirinya sendiri? Hanya bajingan tengik yang masih perlu mencari guru!
Tanpa disadari, kaki Atma Sungsang tersurut dua langkah. Pada saat itu pula dia ingat desas-desus tentang seorang pendekar kalangan atas yang mampu melakukan gerakan secepat kerjapan kilat.
“Pendekar Slebor...,” desah Atma Sungsang cukup keras bersama wajahnya yang memucat.
Tak lama kemudian, Atma Sungsang berbalik, lantas mengambil langkah seribu. Dia berlarian menuju jendela besar penginapan. Dan langsung diterjangnya jendela agar bisa cepat tiba di luar. Sementara, Kebo Ireng dan Jarjaran telah menyusut di sudut meja penerimaan tamu yang sudah berlubang pada bagian tengahnya. Sama seperti Atma Sungsang, mereka pun teringat pada kebesaran nama Pendekar Slebor. Mendengar nama besar itu, nyali mereka langsung menciut.
“Loh?! Den Gemuk tadi ke mana?” tanya Andika dengan wajah bingung ketika gerakannya berhenti perlahan-lahan.
Pendekar Slebor jadi celingukan ke sana kemari, mencari-cari lawannya tadi.
“Wah, Den Gemuk.... Rupanya dia lupa kalau pintu keluar ada di belakang sana,” gumam Andika saat matanya menemukan jendela besar di sudut timur porak poranda.
“Pemuda tak tahu diri! Jadi selama ini kau hanya mau mempermainkan aku, ya?!”
Tiba-tiba terdengar bentakan seorang wanita di belakang Pendekar Slebor. Andika cepat menoleh. Rupanya, Ratna Kumala sedang menghampirinya dengan wajah garang. Tangan lentiknya bahkan menuding-nuding kasar.
“Ada apa, Ratna?” tanya Andika heran.
Pemuda itu bingung, tahu-tahu wanita jelita yang dikenalnya beberapa hari ini membentak-bentak tak karuan.
“Kenapa? Jangan berpura-pura lagi padaku! Apa kau pikir telingaku tuli? Aku dengar ucapan lelaki bajingan tadi!” dengus Ratna Kumala.
“Ucapan apa?”
“Apa?” mata Ratna Kumala mendelik sejadi-jadinya.
“Lelaki tadi mengatakan kalau kau adalah Pendekar Slebor, yang sakti dan suka menipu wanita!”
“Siapa Pendekar Slebor?” tanya Andika lagi, benar-benar menjengkelkan Ratna Kumala.
“Siapa? Ya, kau! Kau telah berpura-pura tolol untuk mempermainkan aku. Kau mencoba memperolok-olok aku, heh. Kau... penipu!”
Andika melongo. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
“Mulai sekarang, jangan pernah dekati aku lagi. Anggap saja aku tak pernah menolongmu. Dan, aku tak pernah kenal padamu! Apa dikira aku akan memelas padamu agar aku tetap dekat padamu?! O.... Terima kasih, Pendekar Muda...,” cecar Ratna Kumala lagi.
Andika makin melongo seperti sapi ompong.
“Ratna, tunggu!” tahan Andika ketika Ratna Kumala berbalik pergi.
Langkah gadis itu terbanting-banting keras di lantai penginapan. Tampaknya hatinya begitu kesal dengan pemuda ganteng di belakangnya.
“Ratna!”
Terdengar panggilan sekali lagi. Tapi, kali ini bukan berasal dari mulut Andika.
***
“Tak patut kau bersikap seperti itu pada pendekar terhormat seperti dia!”
Terdengar kembali suara lelaki dari arah tangga. Suaranya terdengar berwibawa. Dan dari nadanya, terkesan kalau lelaki itu kenal baik pada Ratna. Sesaat Ratna terdiam di tempat. Kemudian tubuhnya berbalik. Wajahnya tampak terlihat jengkel bercampur gembira.
“O, jadi kau menginap di tempat ini rupanya, Kakang Rudapaksa?” ucap gadis itu seraya memandang lelaki di tangga penginapan.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ratna! Kau harus minta maaf pada Pendekar Slebor,” ujar lelaki berjubah biru tua bernada memerintah. Wajahnya yang tampan menawan, dihiasi sebaris kumis tipis memperlihatkan kesungguhan. Dan dia memang Rudapaksa.
“Mana Kakang Rudapaksi?” tanya Ratna Kumala, mencoba mengalihkan pembicaraan lagi.
Ratna Kumala dan Rudapaksa memang satu perguruan. Begitu juga Rudapaksi. Mereka adalah murid-murid terbaik Ki Kenaka, guru besar Perguruan Topan Utara.
“Rupanya kau tak mendengarku, ya? Kuperingatkan, kau harus minta maaf pada pendekar itu!”
hardik Rudapaksa.
Dihardik seperti itu, wajah Ratna Kumala jadi memerah. Perlakuan kakak seperguruannya sama sekali tidak membuatnya untuk segera meminta maaf pada Andika. Malah hatinya bertambah kesal. Sambil menggerutu, tubuhnya berbalik kembali ke arah pintu.
“Biar namanya selebar jagad sekalipun, aku tak sudi meminta maaf padanya!” dengus gadis itu seraya melangkah pergi.
“Ratna!”
Rudapaksa berusaha menahannya. Tapi, Ratna Kumala sudah menghilang di sisi pintu keluar. Dan ini membuat Rudapaksa menggeleng-geleng kepala.
“Dasar anak keras kepala,” rutuk pemuda itu perlahan.
Rudapaksa lalu berbalik menghadap Pendekar Slebor. Dihampirinya pendekar muda yang sudah kondang namanya ini.
“Maafkan adik seperguruanku itu, Tuan Pendekar,” ucap pemuda itu.
Sementara pendekar muda yang ditegur masih berdiri terpaku menatap pintu keluar, tempat Ratna Kumala menghilang.
“Tuan Pendekar,” sapa Rudapaksa sekali lagi.
“Eh, apa? Tuan berbicara denganku?” tanya Andika, setelah tersadar dari keterpakuannya.
“Ya,” jawab Rudapaksa seraya tersenyum.
“Maafkan adik seperguruanku tadi.”
“Tak apa-apa,” jawab Andika singkat, kemudian berbalik. Sebentar saja dia sudah meninggalkan penginapan untuk menyusul Ratna Kumala.
***
Malam turun merambah di Desa Ambangan. Bulan sabit tampak mengambang hening di angkasa berawan tipis. Satwa malam mulai memperdengarkan senandungnya di sela-sela kegelapan.
Di atas sebatang pohon meranti yang tumbang di pinggir jalan setapak, Ratna Kumala membisu. Matanya memandang lurus pada kepingan rembulan pucat di atas sana. Pikirannya sendiri mengembara pada kejadian beberapa hari lalu, saat menolong Andika di Danau Panca Warna. Sewaktu tubuh pemuda tampan itu diangkat dari dinginnya air danau, entah kenapa Ratna Kumala menatapnya lama-lama. Ada semacam keterpesonaan yang sulit dijabarkan kata-kata, ketika mendapati gurat-gurat ketampanan wajah Andika. Garis dan lekuk wajah itu membuat hatinya bergetar halus.
Dia sendiri tak mengerti, perasaan macam apa itu. Dan ketika hari-hari dilalui bersama pemuda itu, perasaan yang menyeruak saat pertama kalinya menatap tidak juga pupus. Hari memang terus berlalu. Tapi, getaran itu malah kian menguat mencengkeram rongga batin Ratna Kumala.
“Kenapa dengan diriku ini?” desah batin gadis itu.
Baru pertama kali ini dia menemukan gejolak aneh saat bertemu seorang pemuda. Apakah ini cinta buta? Atau sekadar kekaguman? Tanpa disadari, kepalanya menggeleng-geleng perlahan-lahan. Dia tidak bisa mengatakan kalau itu hanya sekadar rasa kagum. Kalau hanya kagum, kenapa Ratna Kumala harus merasa kecewa tatkala dibohongi Andika? Apakah ini pertanda kekhawatirannya jika harus kehilangan, setelah diketahui kalau pemuda itu adalah Pendekar Slebor? Apalagi, seorang pendekar adalah milik semua orang lemah, bukan milik dirinya.
“Apa mungkin aku telah jatuh hati padamu, sementara namamu pun belum sempat kuketahui?" bisik Ratna Kumala perlahan.
“Ratna....”
Lamunan Ratna Kumala buyar seketika, begitu terdengar suara halus di belakangnya. Cepat kepalanya menoleh ke asal suara tadi. Ternyata Andika sudah berdiri di sana dengan mata lekat menatapnya. Seketika wajah Ratna Kumala bersemu. Tanpa diduga pemuda yang sedang mengisi benaknya tiba-tiba berada di belakangnya.
“Kenapa kau dekati aku lagi? Bukankah sudah kukatakan, jangan coba....”
“Ratna...,” sela Andika.
“Kalau kau marah karena kesalahanku, maafkanlah. Tapi bisakah kau jelaskan padaku, apa salahku?”
Ratna Kumala tak menyahut, tapi diam dalam seribu bahasa.
“Apa kau tak merasa telah mempermainkanku?” tanya Ratna Kumala akhirnya, setelah cukup lama berdiam diri.
“Mempermainkanmu bagaimana?” tanya Andika tak mengerti.
“Kau tak pernah mengatakan padaku kalau dirimu adalalah Pendekar Slebor,” sahut Ratna Kumala tanpa menoleh.
Kali ini Andika yang membisu. Matanya menancap lurus ke rerumputan berembun.
“Aku sendiri tak tahu, apakah aku adalah orang yang kau sebutkan tadi,” balas Andika, nyaris mendesah.
“Kau mulai berpura-pura lagi padaku,” ujar Ratna Kumala kesal.
Andika menarik napas dalam-dalam.
“Ratna pandanglah aku,” pinta Andika penuh harap.
Ratna Kumala tak mempedulikan.
“Ratna...,” ulang Andika sambil menatap punggung Ratna Kumala.
Pemuda itu melangkah dan langsung memegang bahu gadis muda yang berusia sebaya dengannya. Lalu, perlahan diputarnya tubuh Ratna Kumala agar menghadap dirinya.
“Lihatlah aku. Rat. Tatap mataku. Apakah aku terlihat berpura-pura padamu?” sangkal Andika lembut.
Matanya terarah tepat di manik mata indah gadis berambut pendek di depannya Sementara, Ratna Kumala sedikit pun tak sanggup membalas tatapan Iembut itu. Entah kenapa, wajahnya kini terasa hangat. Itu sebabnya, wajahnya tak mau diperlihatkan. Dia khawatir perubahan wajahnya diketahui Andika.
Sesaat kemudian Andika melepas pegangannya pada bahu Ratna Kumala, lalu berbalik. Kini, dihadapinya temaram cahaya rembulan yang menyapu wajah jantannya.
“Percayalah padaku, Rat. Aku tak pernah bermaksud membohongimu. Apalagi, mempermainkanmu. Ingatanku benar-benar lenyap begitu saja. Aku tak tahu, kenapa tiba-tiba berada di gubuk tepi danau itu. Dan aku juga tak tahu, kalau kau menyelamatkanku. Kini bahkan aku tidak tahu siapa diriku, dan siapa namaku,” tutur Andika di sela-sela desau angin yang bertiup dan suara jangkrik.
Keduanya kini terdiam. Mereka berdiri saling membelakangi, sibuk dengan isi benak masing-masing. Entah, apa yang saat ini tengah mereka pikirkan. Hanya mereka yang tahu. Sekian lama sunyi....
“Maafkan aku.... Aku telah menuduhmu yang tidak-tidak,” akhirnya Ratna Kumala membuka suara, walau hampir berbisik dengan kepala tertunduk.
“Aku bisa maklum. Kesalahan memang bagian dari diri kita.”
Ratna Kumala tergugu. Segera direnunginya kata-kata bijak dari hati arif seorang pemuda tampan di dekatnya.
***
Hari bergulir tanpa kenal letih. Dan waktu jualah yang mengakrabkan Ratna Kumala dan Andika. Nama Andika yang masih belum diketahui Ratna Kumala, kini sudah tidak menjadi persoalan. Dan Andika sendiri bersedia dipanggil apa saja oleh Ratna Kumala, berhubung dia sendiri lupa pada namanya. Akhirnya, Ratna Kumala memutuskan untuk memanggil dengan sebutan Slebor.
Hari-hari dilalui Andika di gubuk, di tepi Danau Panca Warna. Di sini, dia mencoba mengembalikan semua ingatannya. Meski tetap sulit. Tapi terus berusaha. Di samping karena sifat kepala batu yang membuatnya tak mudah menyerah, juga karena Ratna Kumala pun terus mendorong semangatnya.
Di kala senggang, Ratna Kumala bercerita kalau dirinya adalah adik seperguruan Rudapaksa dan Rudapaksi. Beberapa bulan lalu, guru mereka memberi tugas penting pada kedua kakak seperguruannya. Ratna Kumala yang tak dipilih untuk menjalankan tugas, tentu saja menjadi iri. Apalagi dia pun salah satu murid terbaik Ki Kenaka, Ketua Perguruan Topan Utara.
Menurutnya, gurunya pilih kasih pada murid lelaki. Lalu karena kesal, diputuskan untuk pergi dari perguruan tanpa pamit pada Ki Kenaka. Tujuannya tentu saja hendak ikut menjalankan tugas bersama Rudapaksa dan Rudapaksi. Tapi hingga sejauh itu, kedua kakak seperguruannya malah menyuruhnya pulang ke perguruan.
“Itu sebabnya aku pergi ke tepi danau ini, untuk melepas kejengkelanku pada malam kau terapung,” jelas Ratna Kumala, mengakhiri ceritanya.
Tapi baru saja Ratna Kumala bercerita.....
“Aaa...!”
Tiba-tiba teriakan menyayat hati terdengar. Andika terkesiap. Sama halnya Ratna Kumala. Seketika mereka saling bertatapan, seakan tidak mempercayai apa yang didengar barusan. Dan belum lagi keduanya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi, sudah terdengar lagi satu teriakan membahana.
“Huaaa!”
Kali ini mereka tak menunggu lebih lama. Andika segera menggenjot tubuhnya. Langsung melesat bagaikan kilat menuju arah datangnya suara. Sedangkan Ratna Kumala menyusul di belakangnya. Meski agak jauh tertinggal karena ilmu lari cepat Andika jauh di atasnya, Ratna Kumala berusaha untuk terus mengikuti. Tak lama, Andika sudah menghentikan larinya, dan langsung berdiri mematung sambil menatap sesuatu di tanah.
“Apa yang terjadi, Slebor?” tanya Ratna Kumala setelah kakinya menjejak di belakang Andika.
Andika tak segera menjawab, karena tahu Ratna Kumala akan segera menyaksikan apa yang dilihatnya. Di tanah berumput yang tak jauh dari danau, tampak tergeletak bermandikan darah dua mayat yang amat dikenal Ratna Kumala. Masing-masing di kening mayat itu terdapat lubang sebesar ibu jari. Sedangkan di tubuh dan pakaian terdapat sayatan kasar.
“Kakang Rudapaksa.... Kakang Rudapaksi,” desis Ratna Kumala.
Nyaris gadis itu menjerit, saat mengenali kedua mayat yang terbujur kaku di depannya. Kejengkelan terhadap kedua kakak seperguruannya memang timbul belakangan ini. Namun tak urung perasaannya seperti tercabik-cabik mendapati kenyataan itu. Biar bagaimanapun, mereka tetap kakak seperguruan yang dicintainya.
“Bedebah keji! Siapa yang telah melakukan ini?!” dengus gadis itu dengan mata mencari-cari jalang. Di bawah kelopak matanya yang berbulu lentik tampak menggenang segaris air mata
0