- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#118
Part 10
Ki Rawe Rontek menjerit pendek. Sekejap saja, tubuhnya sudah terlempar jauh ke belakang. Bahu kirinya seketika amblas beberapa rambut kedalam. Kekenyalan tubuhnya tak bisa lagi diandalkan untuk menahan pukulan pamungkas Pendekar Slebor.
Setelah menimpa tubuh seorang anteknya yang langsung mampus saat itu juga, barulah luncuran Ki Rawe Rontek terhenti, dan terjatuh mencium bumi. Untuk beberapa saat, datuk sesat itu mengerang-erang dan bergeliat. Tapi, selanjutnya dia bangkit tersentak, seperti memiliki pegas lentur tak terlihat.
Patut Diakui secara jujur, untuk menghadapi kecepatan gebrakan Pendekar Slebor, seluruh ilmu hitamnya tak berarti apa-apa. Namun dengan ilmu hitam yang bernama 'Rawe Rontek' dia bisa bertahan beratus-ratus jurus lagi. Dan itu tentu saja bisa menguras tenaga lawan. Bagaimana tidak? Setiap kali Pendekar Slebor mampu menyarangkan hantaman maut yang meremukkan, tiba-tiba laki-laki menggiriskan itu bangkit kembali dalam keadaan utuh tanpa cacat sedikit pun.
Namun karena Ki Rawe Rontek tak ingin mengulur-ulur waktu, diputuskannya untuk segera memanfaatkan ilmu 'Halimunan'. Hanya ilmu itu yang bisa dijadikan senjata ampuh menghadapi kecepatan gerak Pendekar Slebor.
"Khiaaah!"
Psss...!
Layaknya kabut tertepis angin, tubuh kekar Ki Rawe Rontek mendadak sirna perlahan. Apakah Pendekar Slebor akan menjadi bulan-bulanan lawan lagi seperti pertarungan pertama? Sebuah jawaban yang amat sulit dijawab. Apalagi Andika belum lagi tahu kelemahan ilmu gaib laki-laki itu. Kalaupun memiliki rencana, itu pun sekadar untung-untungan. Ya!
Pertarungan selanjutnya adalah perjudian bagi Pendekar Slebor. Nyawalah taruhannya!
Andika di satu sisi, memperkuat benteng kekuatan di sekeliling tubuhnya. Pengerahan kesaktian puncak, memperjelaskan sinar putih keperakan yang membungkus tubuhnya. Sinar itu menebal dan membersit kuat. Tak ada yang bisa dilakukan jejaka tangguh itu, kecuali menunggu datangnya serangan. Dan pada saatnya....
Wesss!
Telinga Pendekar Slebor yang tajam menangkap desir angin dari sebelah kiri. Dan tanpa bisa memastikan bentuk serangan, tangan dan kaki kanannya cepat disapukan serentak ke samping.
Dak!
Pertahanan untung-untungan itu ternyata membawa hasil, ketika serangan gelap Ki Rawe Rontek sanggup dibendung.
Pada hantaman selanjutnya, Pendekar Slebor tak bisa lagi berharap banyak. Tanpa sepengetahuannya, laki-laki itu mengirim hantaman jarak jauh lewat 'Pukulan Peremuk Dalam'.
Des!
"Bhaaa!"
Teriakan menggiriskan meluncur keluar dari kerongkongan pendekar muda itu. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, menyusul hempasan cahaya putih ke-perakan, akibat pertemuan dengan pukulan jarak jauh Ki Rawe Rontek. Pukulan hitam itu mencoba melantakkan serat-serat tubuhnya dari dalam. Dan dirinya pun terasa sedang digerogoti jutaan ulat-ulat rakus di balik kulitnya.
Ototnya mengejang keras, namun terasa lemas. Alat-alat penting di tubuhnya bagai berhenti bekerja saat itu juga. Saat darah kental kehitaman mulai merembes perlahan dari lubang hidung dan mulut, satu hantaman tenaga luar mendadak membumi hanguskan kuda-kuda Pendekar Slebor.
Bak! Bak!
Di sekeliling dada Pendekar Slebor mendarat telak tinju melebar, memaksa tubuhnya terpental sembilan tombak ke belakang. Setelah menembus lapisan udara, tubuhnya tersuruk jatuh, nyaris kehilangan tenaga. Dan selubung sinar putih keperakan pun meredup.
"Huhhh...," keluh Andika lirih seraya meraba bagian dada.
Kini Pendekar Slebor benar-benar terhempas dalam perjudian maut. Sudah saatnya dia mencoba menjalani rencana untung-untungan yang sempat terpikirkan sebelumnya. Masih dengan napas sesak, tangan Andika merogoh sesuatu di balik bajunya. Dan, terlihatlah empat tabung tinta hitam....
"Haiiih!"
Diawali lengkingan nyaring untuk menekan deraan rasa sakit, Pendekar Slebor secara bersamaan menghancurkan tutup keempat tabung tinta dengan jentikan jari-jarinya. Dan dalam waktu yang demikian cepat, tubuhnya melakukan satu gerakan susulan, menerjang kembali ke kancah pertarungan. Begitu tiba tubuhnya diputat bagai gasing dengan satu kaki sebagai tumpuan.
Werrr! Werrr!
Crat! Crat
Tak ayal lagi, cairan tinta dalam empat tabung di tangan Andika memercikan tinta hitam pekat kesegenap penjuru. Sehingga, tak ada sejengkal ruang pun yang luput! Sebagian besar percikan tinta hanya sempat jatuh menodai tanah. Namun bagi mata yang amat jeli, akan terlihat beberapa noda hitam yang tampak melayang-layang di udara. Itulah tinta yang sempat memercikan tubuh gaib Ki Rawe Rontek!
Kecerdasan Andika memang patut dipuji. Dia yakin tubuh lawan tak menghilang begitu saja seperti roh halus, tapi hanya menipu pandangan mata manusia. Sehingga tubuh itu seperti menghilang, sedangkan jasadnya sebenarnya tetap ada. Jasadnya itulah yang menjadi tempat mendarat percikan tinta....
Bagi Andika, titik-titik tinta yang mengapung di udara itu adalah satu kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan. Pendekar Slebor sendiri yakin, lawan belum menyadari siasatnya. Dan tentu saja lawan tak akan dibiarkan menyadarinya!
Diiringi satu teriakan melantak gendang telinga, Pendekar Slebor menggempur Ki Rawe Rontek dengan seluruh kekuatan sakti.
"Hiiiaaa!"
Wusss!
Deb!
Plak!
Sapuan kilat kaki Pendekar Slebor yang begitu cepat dapat dihindari Ki Rawe Rontek. Sementara tokoh hitam itu diusik rasa heran, karena bisa mengetahui tempatnya berdiri. Kini Ki Rawe Rontek melontarkan tubuhnya tinggi-tinggi ke angkasa, seperti tak mau mengambil bahaya dengan sapuan gila kaki Pendekar Slebor.
Namun tanpa diduga, justru hal itu yang dikehendaki Pendekar Slebor. Sekedip mata di bawah lawan, Andika pun menyusul ke atas. Tubuhnya meluncur lebih cepat, hingga mampu menyamai kedudukan Ki Rawe Rontek.
Masih di ketinggian sekian depa dari bumi, tangan Pendekar Slebor bergerak cekatan, melepas kain pusaka dari bahunya.
Srat!
Ctas!
Crat!
Satu sabetan dahsyat untung-untungan dibuat Andika. Tanpa dinyana, leher Ki Rawe Rontek tertebas kain pusaka yang mengeras bagai kepingan baja. Terputusnya pita suara, membuat Ki Rawe Rontek menemui ajal di udara tanpa sempat mengeluarkan teriakan kematian. Sedangkan tubuhnya kini sudah terlihat kembali tidak berupa baying-bayang semu seperti tadi.
Sewaktu potongan kepala dan tubuh Ki Rawe Rontek berbalik arah ke bawah, Pendekar Slebor secepat mungkin menangkapnya.
"Huph!"
Tep! Tep!
Jleg!
Di wajah bumi yang dibasahi warna merah dimana-mana, Andika berdiri gagah. Tangannya sudah terbentang kejang ke atas, menahan kepala dan tubuh Ki Rawe Rontek agar tidak menyentuh bumi.
Menyusul kematian Ki Rawe Rontek, sisa anak buahnya berhamburan keluar istana. Mereka melarikan diri, seperti sekumpulan anjing geladak.
Tanpa menggubris seorang pun dari mereka, Pendekar Slebor berjalan mantap ke pedati kerajaan yang mulanya dimanfaatkan untuk mengangkut perlengkapan perang ke Kerajaan Tabanan.
Di atas pedati itulah tubuh kaku Ki Rawe Rontek dilemparkan. Untuk kedua kalinya, tamatlah riwayat datuk sesat itu!
"Lalinggi! Kali ini kau tak akan punya kesempatan untuk menghidupkan manusia iblis ini lagi. Karena, aku akan membakarnya seperti orang Bali mengadakan upacara Ngaben Kau jangan berharap lelaki ini kukubur secara terpisah, seperti pernah dilakukan Ki Lantanggeni. Dia mungkin masih menghormati Ki Rawe Rontek, sebagai kakak seperguruannya. Tapi, tidak bagiku!" teriak Andika.
Selesai terdengar teriakan Andika yang lantang memenuhi rongga angkasa, orang yang dipanggil Lalinggi pun muncul dari gerbang istana. Sesaat dia berdiri kaku di mulut gerbang. Mata elang Pendekar Slebor mengawasi laki-laki itu dengan sependam bara kemerahan. Sedangkan seluruh penghuni istana menatap Lalinggi dengan sinar mata penuh selidik.
"Sekali lagi kau menang, Pendekar Slebor! Kuakui, kau memang memiliki kepandaian mengagumkan, dan keenceran otak luar biasa! Tapi, ingatlah Pendekar Slebor! Aku setiap saat akan datang untuk menuntut semua tindakanmu!" ancam Lalinggi sarat kemurkaan.
Puas melontarkan ancaman, lelaki bertopi keranjang itu berkelebat pergi, meninggalkan pelataran istana. Disebelah tangannya tergenggam selembar halaman daun lontar yang tidak pernah diterima Andika.
Belum lagi Andika menghempas napas lega, terdengar kembali jeritan dari arah gerbang istana.
"Wuaaa!"
Andika terperangah. Di kejauhan sana, tampak I Ktut Regeg sedang mengaduh-aduh dijeweri Idayu Wayan Laksmi
"Beli Andikaaa! Tuoluooong aku! Mbok marah-marah, sebab aku mau kasih tahu Beli, kalau dia akan kimpoi dengan Beli Yaksaaa! Uwa! Ampooon, Mbok!"
Ki Rawe Rontek menjerit pendek. Sekejap saja, tubuhnya sudah terlempar jauh ke belakang. Bahu kirinya seketika amblas beberapa rambut kedalam. Kekenyalan tubuhnya tak bisa lagi diandalkan untuk menahan pukulan pamungkas Pendekar Slebor.
Setelah menimpa tubuh seorang anteknya yang langsung mampus saat itu juga, barulah luncuran Ki Rawe Rontek terhenti, dan terjatuh mencium bumi. Untuk beberapa saat, datuk sesat itu mengerang-erang dan bergeliat. Tapi, selanjutnya dia bangkit tersentak, seperti memiliki pegas lentur tak terlihat.
Patut Diakui secara jujur, untuk menghadapi kecepatan gebrakan Pendekar Slebor, seluruh ilmu hitamnya tak berarti apa-apa. Namun dengan ilmu hitam yang bernama 'Rawe Rontek' dia bisa bertahan beratus-ratus jurus lagi. Dan itu tentu saja bisa menguras tenaga lawan. Bagaimana tidak? Setiap kali Pendekar Slebor mampu menyarangkan hantaman maut yang meremukkan, tiba-tiba laki-laki menggiriskan itu bangkit kembali dalam keadaan utuh tanpa cacat sedikit pun.
Namun karena Ki Rawe Rontek tak ingin mengulur-ulur waktu, diputuskannya untuk segera memanfaatkan ilmu 'Halimunan'. Hanya ilmu itu yang bisa dijadikan senjata ampuh menghadapi kecepatan gerak Pendekar Slebor.
"Khiaaah!"
Psss...!
Layaknya kabut tertepis angin, tubuh kekar Ki Rawe Rontek mendadak sirna perlahan. Apakah Pendekar Slebor akan menjadi bulan-bulanan lawan lagi seperti pertarungan pertama? Sebuah jawaban yang amat sulit dijawab. Apalagi Andika belum lagi tahu kelemahan ilmu gaib laki-laki itu. Kalaupun memiliki rencana, itu pun sekadar untung-untungan. Ya!
Pertarungan selanjutnya adalah perjudian bagi Pendekar Slebor. Nyawalah taruhannya!
***
Andika di satu sisi, memperkuat benteng kekuatan di sekeliling tubuhnya. Pengerahan kesaktian puncak, memperjelaskan sinar putih keperakan yang membungkus tubuhnya. Sinar itu menebal dan membersit kuat. Tak ada yang bisa dilakukan jejaka tangguh itu, kecuali menunggu datangnya serangan. Dan pada saatnya....
Wesss!
Telinga Pendekar Slebor yang tajam menangkap desir angin dari sebelah kiri. Dan tanpa bisa memastikan bentuk serangan, tangan dan kaki kanannya cepat disapukan serentak ke samping.
Dak!
Pertahanan untung-untungan itu ternyata membawa hasil, ketika serangan gelap Ki Rawe Rontek sanggup dibendung.
Pada hantaman selanjutnya, Pendekar Slebor tak bisa lagi berharap banyak. Tanpa sepengetahuannya, laki-laki itu mengirim hantaman jarak jauh lewat 'Pukulan Peremuk Dalam'.
Des!
"Bhaaa!"
Teriakan menggiriskan meluncur keluar dari kerongkongan pendekar muda itu. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, menyusul hempasan cahaya putih ke-perakan, akibat pertemuan dengan pukulan jarak jauh Ki Rawe Rontek. Pukulan hitam itu mencoba melantakkan serat-serat tubuhnya dari dalam. Dan dirinya pun terasa sedang digerogoti jutaan ulat-ulat rakus di balik kulitnya.
Ototnya mengejang keras, namun terasa lemas. Alat-alat penting di tubuhnya bagai berhenti bekerja saat itu juga. Saat darah kental kehitaman mulai merembes perlahan dari lubang hidung dan mulut, satu hantaman tenaga luar mendadak membumi hanguskan kuda-kuda Pendekar Slebor.
Bak! Bak!
Di sekeliling dada Pendekar Slebor mendarat telak tinju melebar, memaksa tubuhnya terpental sembilan tombak ke belakang. Setelah menembus lapisan udara, tubuhnya tersuruk jatuh, nyaris kehilangan tenaga. Dan selubung sinar putih keperakan pun meredup.
"Huhhh...," keluh Andika lirih seraya meraba bagian dada.
Kini Pendekar Slebor benar-benar terhempas dalam perjudian maut. Sudah saatnya dia mencoba menjalani rencana untung-untungan yang sempat terpikirkan sebelumnya. Masih dengan napas sesak, tangan Andika merogoh sesuatu di balik bajunya. Dan, terlihatlah empat tabung tinta hitam....
"Haiiih!"
Diawali lengkingan nyaring untuk menekan deraan rasa sakit, Pendekar Slebor secara bersamaan menghancurkan tutup keempat tabung tinta dengan jentikan jari-jarinya. Dan dalam waktu yang demikian cepat, tubuhnya melakukan satu gerakan susulan, menerjang kembali ke kancah pertarungan. Begitu tiba tubuhnya diputat bagai gasing dengan satu kaki sebagai tumpuan.
Werrr! Werrr!
Crat! Crat
Tak ayal lagi, cairan tinta dalam empat tabung di tangan Andika memercikan tinta hitam pekat kesegenap penjuru. Sehingga, tak ada sejengkal ruang pun yang luput! Sebagian besar percikan tinta hanya sempat jatuh menodai tanah. Namun bagi mata yang amat jeli, akan terlihat beberapa noda hitam yang tampak melayang-layang di udara. Itulah tinta yang sempat memercikan tubuh gaib Ki Rawe Rontek!
Kecerdasan Andika memang patut dipuji. Dia yakin tubuh lawan tak menghilang begitu saja seperti roh halus, tapi hanya menipu pandangan mata manusia. Sehingga tubuh itu seperti menghilang, sedangkan jasadnya sebenarnya tetap ada. Jasadnya itulah yang menjadi tempat mendarat percikan tinta....
Bagi Andika, titik-titik tinta yang mengapung di udara itu adalah satu kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan. Pendekar Slebor sendiri yakin, lawan belum menyadari siasatnya. Dan tentu saja lawan tak akan dibiarkan menyadarinya!
Diiringi satu teriakan melantak gendang telinga, Pendekar Slebor menggempur Ki Rawe Rontek dengan seluruh kekuatan sakti.
"Hiiiaaa!"
Wusss!
Deb!
Plak!
Sapuan kilat kaki Pendekar Slebor yang begitu cepat dapat dihindari Ki Rawe Rontek. Sementara tokoh hitam itu diusik rasa heran, karena bisa mengetahui tempatnya berdiri. Kini Ki Rawe Rontek melontarkan tubuhnya tinggi-tinggi ke angkasa, seperti tak mau mengambil bahaya dengan sapuan gila kaki Pendekar Slebor.
Namun tanpa diduga, justru hal itu yang dikehendaki Pendekar Slebor. Sekedip mata di bawah lawan, Andika pun menyusul ke atas. Tubuhnya meluncur lebih cepat, hingga mampu menyamai kedudukan Ki Rawe Rontek.
Masih di ketinggian sekian depa dari bumi, tangan Pendekar Slebor bergerak cekatan, melepas kain pusaka dari bahunya.
Srat!
Ctas!
Crat!
Satu sabetan dahsyat untung-untungan dibuat Andika. Tanpa dinyana, leher Ki Rawe Rontek tertebas kain pusaka yang mengeras bagai kepingan baja. Terputusnya pita suara, membuat Ki Rawe Rontek menemui ajal di udara tanpa sempat mengeluarkan teriakan kematian. Sedangkan tubuhnya kini sudah terlihat kembali tidak berupa baying-bayang semu seperti tadi.
Sewaktu potongan kepala dan tubuh Ki Rawe Rontek berbalik arah ke bawah, Pendekar Slebor secepat mungkin menangkapnya.
"Huph!"
Tep! Tep!
Jleg!
Di wajah bumi yang dibasahi warna merah dimana-mana, Andika berdiri gagah. Tangannya sudah terbentang kejang ke atas, menahan kepala dan tubuh Ki Rawe Rontek agar tidak menyentuh bumi.
***
Menyusul kematian Ki Rawe Rontek, sisa anak buahnya berhamburan keluar istana. Mereka melarikan diri, seperti sekumpulan anjing geladak.
Tanpa menggubris seorang pun dari mereka, Pendekar Slebor berjalan mantap ke pedati kerajaan yang mulanya dimanfaatkan untuk mengangkut perlengkapan perang ke Kerajaan Tabanan.
Di atas pedati itulah tubuh kaku Ki Rawe Rontek dilemparkan. Untuk kedua kalinya, tamatlah riwayat datuk sesat itu!
"Lalinggi! Kali ini kau tak akan punya kesempatan untuk menghidupkan manusia iblis ini lagi. Karena, aku akan membakarnya seperti orang Bali mengadakan upacara Ngaben Kau jangan berharap lelaki ini kukubur secara terpisah, seperti pernah dilakukan Ki Lantanggeni. Dia mungkin masih menghormati Ki Rawe Rontek, sebagai kakak seperguruannya. Tapi, tidak bagiku!" teriak Andika.
Selesai terdengar teriakan Andika yang lantang memenuhi rongga angkasa, orang yang dipanggil Lalinggi pun muncul dari gerbang istana. Sesaat dia berdiri kaku di mulut gerbang. Mata elang Pendekar Slebor mengawasi laki-laki itu dengan sependam bara kemerahan. Sedangkan seluruh penghuni istana menatap Lalinggi dengan sinar mata penuh selidik.
"Sekali lagi kau menang, Pendekar Slebor! Kuakui, kau memang memiliki kepandaian mengagumkan, dan keenceran otak luar biasa! Tapi, ingatlah Pendekar Slebor! Aku setiap saat akan datang untuk menuntut semua tindakanmu!" ancam Lalinggi sarat kemurkaan.
Puas melontarkan ancaman, lelaki bertopi keranjang itu berkelebat pergi, meninggalkan pelataran istana. Disebelah tangannya tergenggam selembar halaman daun lontar yang tidak pernah diterima Andika.
Belum lagi Andika menghempas napas lega, terdengar kembali jeritan dari arah gerbang istana.
"Wuaaa!"
Andika terperangah. Di kejauhan sana, tampak I Ktut Regeg sedang mengaduh-aduh dijeweri Idayu Wayan Laksmi
"Beli Andikaaa! Tuoluooong aku! Mbok marah-marah, sebab aku mau kasih tahu Beli, kalau dia akan kimpoi dengan Beli Yaksaaa! Uwa! Ampooon, Mbok!"
SELESAI
0