Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.8K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#44
PART 18


Aku sudah berada di kos ketika menjelang maghrib. Aku langsung rebahan di kasur setelah hanya melepaskan baju seragam. Dan ketika aku hendak mbablas ke alam mimpi, aku terkesiap karena ponselku berbunyi. Dan ketika kulihat, rupanya dia.

Lumayan lama sejak terakhir kali kami bicara.

“Halo Pa.”

“Halo Yo. Apa kabar kamu di sana?”

“Baik Pa.”

“Gimana sekolah?”

“Lancar Pa. Ya gitulah. Sekarang ini lagi sibuk les buat UN.”

“Ooo....gitu ya. Ya sudah. Kamu nggak main ke tempat Om Prima lagi?”

“Nantilah. Lagi sibuk-sibuknya ini Pa.”

“Iya, iya. Ya sudah. Kamu fokus belajar ya. Jaga diri.”

“Iya Pa.”

Panggilan pun ditutup.

Aku nggak heran. Situasi semacam itu memang udah biasa di antara kami. Obrolan yang jarang dan sebentar. Dengan ayahku, dengan ibuku, sama aja. Aku nggak tau keadaan di sana seperti apa. Jika salah satu dari mereka menelpon, entah kenapa aku males buat nanyain kabar satunya lagi. Aku mungkin jahat karena bersikap cuek.

Aku nggak perduli.

Aku bangkit untuk menutup pintu kamar. Setelahnya aku berganti pakaian. Ketika bercermin, aku mendapati mataku memerah. Dan rasa kantukku hilang akibat panggilan tadi.

TV yang baru hidup sebentar sudah kumatikan lagi. Acaranya nggak ada yang bikin betah. Bingung mau ngapain, aku pun pindah ke luar kamar. Duduk santai di atas pembatas lantai yang tingginya berkisar seperut. Bermenit-menit berlalu. Aku berdiam beriring tarikan rokok yang intervalnya sesuka hati.

Secara lagi bengong, pikiranku pun melenggang bebas dengan mudahnya. Dan, aku jelas belum lupa soal pensi beberapa bulan lalu. Berhari-hari setelah pensi, pribadiku jadi lebih bersemangat. Sejalan dengan sikapnya ketika bertemu di kantin, Mita selalu saja tersenyum tiap kali kami berpapasan, bahkan ketika kami saling melihat dari jauh. Aku hanya ngerasa senang, bukannya kelewat GR. Seenggaknya, bisa seperti itu dengan Mita merupakan kemajuan yang luar biasa buatku. Dan, semuanya nggak bakal terjadi kalau bukan karena Yesi.

Mita....lagi ngapain kamu sekarang? Udah makan belom?

Ah, sial. Coba aja aku punya nomornya. Pasti udah kuhubungi dia sekarang.

Oh, iya. Soal Hendro, aku agak bertanya juga kenapa sejauh ini aku masih aman. Senyuman Hendro waktu itu kuyakin pertanda kalau ketenangan selama ini bakalan hilang. Tapi aku salah. Hari-minggu-bulan, aku nyatanya tetap aman. Jika alasannya karena nggak ketemu pas pulang sekolah, itu jelas mustahil. Aku jadi bingung apa arti senyumannya. Trus? Kabar soal dia yang suka sama Mita itu gimana? Apa memang betul? Kalau memang iya? Kenapa gitu-gitu aja?

Ah, itu bukan urusanku. Kalau memang dia udah nggak ngedeketin Mita lagi, itu malah bagus kan? Lagian, mungkin aja dia hanya lagi belum pengen. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba dia nyari masalah lagi.

Mikirin perasaanku ke Mita jelas ikut memunculkan orang yang lain. Dialah perempuan yang muncul ketika tahun kedua di sekolah akan berakhir. Dan ketika libur kenaikan kelas, pernyataan itu keluar sebelum pertanyaannnya. Ya, bisa dibilang kalau Wiwid nggak nembak aku duluan, mungkin sampai sekarang aku masih sendirian.

Kalo dipikir-pikir, aku memang jahat. Bukan nggak pernah aku mikir buat ngelepas dia. Tapi ya itu. Susah. Dia begitu baik samaku. Dan, aku yang mikir gini nyatanya tetap ngebiarin semuanya berjalan dengan cara yang salah. Apa iya aku cuma nyari aman, biar nggak ‘kesepian?’

Aku nggak tau.

Pandanganku berkali-kali melihat ke arah kamar ujung. Ya, aku udah lama nggak melihat orang itu. Bang Eljas. Saat itu kamarnya lagi tertutup. Entah ke mana dia. Aku ingat perkataan bapak kos soal pekerjaan Bang Eljas di toko sepatu. Apa memang iya ya? Apa dia udah pulang dan langsung tidur saking letihnya? Ah, lagian kalau betul pun, aku mau ngapain juga? Mau sok akrab gitu?

Aku yang sekarang udah nggak keganggu lagi sama kejadian waktu itu. Kadang terngiang juga sih, tapi aku udah terbiasa. Aku ingat dia pernah bilang kalau dia udah nggak hidup di dunia itu lagi. Dan itulah yang bikin aku agak tenang. Terlepas dari ‘pemandangan perdanaku’ darinya, aku percaya nggak akan ngelihat hal semacam itu lagi, lebih-lebih terjadi padaku, jika aku nggak ngganggu dia. Aku? Ngganggu dia? Yang benar aja. Sama Hendro aja aku nggak berani.

Ah, udahlah. Itu nanti aja. Yang paling pokok adalah apa yang sekarang kujalani. Maksudku, rasa khawatir dan senang karena seorang Mita dimbangi oleh satu hal pasti: jam-jam kebosanan yang lebih panjang. Seperti yang sempat kubilang tadi, sekolah ngadain ekskul buat anak-anak kelas tiga mengingat UN sudah kian dekat. Jadi ini nggak ada bedanya sama sekolah di hari biasa. Ini lebih parah!

Berada di kelas sampai sore?

Yang benar ajalah.

***


Diubah oleh kawmdwarfa 17-09-2016 09:25
ariefdias
tet762
pulaukapok
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.