- Beranda
- Stories from the Heart
Perjuangan Mendapatkan Perguruan Tinggi
...
TS
anwarsalis
Perjuangan Mendapatkan Perguruan Tinggi
“Man Jadda Wajada, Man Shabara Zhafira”.
“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, siapa yang bersabar pasti beruntung”.
“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil, siapa yang bersabar pasti beruntung”.

Cerita ini sebenarnya sudah lama sekali saya tulis, karena faktor “sok sibuk” jadi sering tertunda. Cerita ini juga merupakan cerita pertama saya di forum SFTH. Maka dari itu, jika terdapat kesalahan mohon dimaklumi dan koreksi dari agan, sista dan seluruh kaskuser yang mampir di forum ini. Semoga postingan ini bisa jadi refrensi dan motivasi untuk melanjutkan kuliah di negeri ini.
Menepati janji saya kepada teman satu perjuangan Yogatama Baskara, juga Irene Anita Saragih, termasuk teman-teman yang saya temui dalam pencarian jati diri, inilah persembahan saya, untuk memotivasi adik-adik SMA sederajat yang ingin melanjutkan studi ke PTN!!! Selamat membaca!!!
Spoiler for Intro:

Spoiler for Index:
Diubah oleh anwarsalis 29-08-2017 22:05
anasabila memberi reputasi
1
6.4K
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anwarsalis
#1
PART I – Perguruan Tinggi Kedinasan Ikatan Dinas
Siapa sih yang ga ingin masuk Perguruan Tinggi Kedinasan apalagi yang Ikatan Dinas (lebih dikenal Sekolah Kedinasan). Sudah mendapakan ilmu, disediakan fasilitas yang memadai, gratis pula, malah dapat uang bulanan. Ini yang membuat saya tertarik dan memutuskan mengikuti salah satu seleksi PTK.
Awalnya saya sangat tidak tertarik masuk sekolah kedinasan karena syaratnya yang terlalu ribet, juga seleksi masuknya yang sangat ketat dan terkadang ada oknum-oknum nakal (orang dalam) yang bisa “memasukkan siswa” dengan mudah. Tapi, saat saya membaca artikel online di forum komunitas terbesar di Indonesia pada akhir kelas X, bayangan saya tentang sekolah kedinasan-pun berubah. Di artikel tersebut membahas sekolah kedinasan yang menurut saya unik, langka, dan sangat sesuai dengan passion saya tentunya. Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). Saat ini hanya ada dua lembaga pendidikan di Indonesia yang mengkaji ilmu intelijen, STIN dan S2 Strategi Intelijen-UI. Sebenarnya saya tidak ingin mempublikasi ini, tetapi berdasarkan pengalaman saat saya akan mendaftar STIN dan mencari informasi di internet, sangat langka sekali artikel yang membahas tentang sekolah yang satu ini, alasan utamanya ya memang intelijen itu penuh dengan rahasia, jelas! Ini yang mendasari saya membuat artikel ini, tujuannya? Sama seperti saya dulu, hanya untuk menjawab pertanyaan yang ada di benak adik-adik yang ingin melanjutkan ke STIN.
Saat itu pertengahan Desember 2014, dua hari sebelum berangkat sekolah, saya dapat info bahwa STIN membuka pendaftaran online dan di tutup tepat tanggal 31 Desember 2014 pukul 23:59:59. Langsung saya meluncur ke portal akademik di www.stin.ac.id untuk memastikan info yang saya terima. Ini saya sertakan brosur penerimaan STIN 2015/2016.
Setelah membaca syarat-syarat yang yang diperlukan saya sempat ragu karena dalam persyaratan tertulis “Jika berkacamata maksimal plus (+) atau minus (-) 0,50”, sedangkan mata saya minus (-) 3,25. Akan tetapi, karena saya sudah membulatkan tekad dan ini merupakan sekolah yang saya inginkan, saya nekad mendaftar dan membuang jauh fikiran batas maksimal itu. Setelah membaca syarat administrasi, mata saya tertuju pada poin nomor 6, SKCK!!! Yaps, jangankan SKCK, KTP saja belum punya! Padahal syarat untuk membuat SKCK kan harus pakai KTP dan surat keterangan berkelakuan baik dari desa yang ditandatangani ketua RT, ketua RW, kepala desa, polsek, dan polres! RIBET KAN?!
Sehari setelah menerima informasi tersebut (17 Desember 2014) saya langsung datang ke rumah Mas Amin, tetangga saya yang bekerja di balai desa dan menanyakan bagaimana cara membuat KTP, surat keterangan berkelakuan baik, dan surat keterangan belum menikah. Saat itu saya langsung disuruh mengisi form untuk membuat KTP dan SKKB. Setelah selesai mengisi form, saya langsung dirujuk ke balai desa untuk meminta cap dari kepala desa. Sesampainya di balai desa saya langsung menyampaikan tujuan saya yang kemudian diterima dengan baik, tak lupa sayapun meminta surat keterangan belum menikah dari bapak kepala desa. Setelah itu saya melanjutkan meminta cap untuk SKKB di kantor kecamatan sekalian melakukan perekaman untuk melengkapi syarat pembuatan KTP. Namun saat itu alat perekam yang ada di kantor kecamatan sedang rusak, padahal hari itu saya harus membuat KTP agar bisa membuat SKCK, karena besok pagi sudah berangkat sekolah. Tak habis pikir, saya langsung menuju kantor catatan sipil dan melakukan perekaman disana. Setelah melakukan perekaman saya langsung datang ke polsek kebumen untuk meminta cap sebagai syarat membuat SKCK. Dari polsek saya dirujuk untuk segera ke polres untuk membuat SKCK dengan menyerahkan SKKB dan KTP tentunya.
Sampai di polres saya langsung ditanya oleh petugas, bikin baru atau diperpanjang? Saya jawab bikin baru pak, kemudian saya disuruh melakukan pengambilan sidik jari sebelum membuat SKCK. Setelah menunggu beberapa saat kartu identitas sidik jari jadi. Saya kembali harus antre menunggu SKCK, karena orang-orang yang sedang menunggu untuk membuat SKCK sudah banyak yang datang lebih awal daripada saya. Saat menunggu itu saya berkenalan dengan dua orang, saya lupa namanya tapi mereka datang bukan untuk membuat SKCK baru melainkan memperpanjang masa berlaku SKCK. Saya jadi tahu sedikit, ternyata SKCK itu merupakan salah satu syarat untuk melamar pekerjaan di perusahaan, saya kira yang memerlukan SKCK hanya lembaga pemerintahan, ternyata persepsi saya salah besar. Setelah berbincang ngalor-ngidul, SKCK sayapun jadi.
Keesokan harinya (18 Desember 2014) saya bersiap untuk melakukan Cek Kesehatan di RSUD. Saya berangkat dari rumah pukul 08.30. Setelah sampai saya langsung bertanya pada satpam bagaimana cara mendapatkan surat keterangan sehat, tidak buta warna, dan surat bebas dari NAPZA. Kemudian saya di beri petunjuk untuk melakukan registrasi dahulu dengan membayar biaya Rp 5.000,-. Setelah registrasi, saya langsung ke administrasi untuk membayar klinik nomor 5,9, dan membayar biaya lab, totalnya Rp 74.500,-. Setelah itu saya harus ke klinik 5 untuk melakukan cek kesehatan. Di klinik itu saya diperiksa mulai dari tensi, berat badan, tinggi badan, dll. Setelah itu saya dapat surat keterangan sehat, namun saya lupa belum cek buta warna atau tidak, malah saya langsung disuruh ke lab untuk pengambilan urin. Kebetulan saat itu saya sudah menahan kencing. Jadi tak menunggu lama, urin langsung diperiksa dan hasilnya negatif, alkhamdulillah tubuh saya bebas dari napza. Setelah mendapatkan surat-surat itu, saya langsung pulang.
Malah harinya saya ke tempat fotokopi untuk melakukan scan berkas-berkas dan rapot. Semua berkas telah terscan, saya kemudiam ke warnet untuk mendaftar STIN. Saat itu portal STIN masih kacau, saya belum bisa mendaftar. Seminggu setelahnya baru bisa mendaftar, kalau tidak salah tanggal 29 Desember 2014. Namun, setelah mengunggah semua berkas dan mengisi semua biodata, kemudian saya klik submit, masih ada poin tahun kelulusan yang tidak bisa. Saya tanya ke shoutbox, ternyata ada yang mengalami kejadian sama. Akhirnya saya tak jadi memutuskan untuk mendaftar hari itu.
Rabu, 31 Desember 2014. Hari terakhir pendaftaran? Ya, saat itu. Saya langsung mendaftar dan semua lancar, namun saat upload berkas, ternyata saya belum memiliki surat keterangan tidak buta warna. Ketika itu saya berfikir, yang penting ada surat keterangan sehat. Saya masih sangat ingat, pendaftaran ditutup pukul 23:59:59 dan saya selesai mengunggah berkas pukul 23:46:00 saya sangat khawatir dan berfikir kalau data yang saya unggah tidak terbaca. But, I always have positive think.
Kamis, 1 Januari 2015. Saya menuju portal STIN dan ada pengumuman, ternyata pendaftaran di perpanjang hingga 31 Januari 2015. Dan di brosur tertulis penutupan tanggal 6 Februari, yang dimaksud dalam brosur adalah waktu untuk melengkapi berkas-berkas administrasi, BUKAN PENUTUPAN PENDAFTARAN ONLINE. Saya kemudian membuka email, ada pesan baru dari panitia seleksi. Isinya bagi CAMA yang mendaftar sebelum 1 Januari 2015 disuruh melakukan pendaftaran ulang. Ok, saya berfikir saat itu, “Santai, masih ada waktu satu bulan”. Dan ternyata waktu satu bulan telah terlewat. Sebelumnya pertengahan Januari saya telah mendaftar dan upload beberapa berkas. Saya kembali mengecek kelengkapan surat-surat untuk mendaftar, tapi ternyata surat keterangan sehat saya belum menyatakan bahwa saya tidak buta warna. Mampus! Saat itu hari sudah sore sekitar pukul 15.00, RSUD sudah tutup. Kemudian saya bertanya pada teman saya yang ibunya bekerja di Puskesmas, jawabannya sama Puskesmas sudah tutup, paling besok pagi. Besok pagi? Besok kan sekolah? Dan besok sudah masuk bulan Februari 2015. Esok harinya (02 Februari 2015) saya izin meninggalkan pelajaran, saya juga minta teman sebangku saya untuk menemani cek mata di puskesmas, alkhamdulillah, hasilnya saya tidak buta warna. Malamnya saya langsung membuka website STIN dan melengkapi seluruh berkas-berkas yang diperlukan. Done, saya sudah mendaftar dan berusaha semaksimal mungkin. Hari demi hari terlewati, tiada hari tanpa memantau email, karena pengumuman kelulusan verifikasi akan diinfokan melalui email. Kemudian email itupun datang, email yang saya tunggu-tunggu. Saya membukanya dengan iringan detak jantung sebagai metronomnya, dalam hati saya mengucap bismillah. Alkhamdulillah, saya menjadi salah satu dari sekitar 7000 peserta yang lolos seleksi tahap pertama. Di email itu disertakan kartu ujian dan undangan yang berisi lokasi tes tahap selanjutnya.
Siapa sih yang ga ingin masuk Perguruan Tinggi Kedinasan apalagi yang Ikatan Dinas (lebih dikenal Sekolah Kedinasan). Sudah mendapakan ilmu, disediakan fasilitas yang memadai, gratis pula, malah dapat uang bulanan. Ini yang membuat saya tertarik dan memutuskan mengikuti salah satu seleksi PTK.
Awalnya saya sangat tidak tertarik masuk sekolah kedinasan karena syaratnya yang terlalu ribet, juga seleksi masuknya yang sangat ketat dan terkadang ada oknum-oknum nakal (orang dalam) yang bisa “memasukkan siswa” dengan mudah. Tapi, saat saya membaca artikel online di forum komunitas terbesar di Indonesia pada akhir kelas X, bayangan saya tentang sekolah kedinasan-pun berubah. Di artikel tersebut membahas sekolah kedinasan yang menurut saya unik, langka, dan sangat sesuai dengan passion saya tentunya. Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). Saat ini hanya ada dua lembaga pendidikan di Indonesia yang mengkaji ilmu intelijen, STIN dan S2 Strategi Intelijen-UI. Sebenarnya saya tidak ingin mempublikasi ini, tetapi berdasarkan pengalaman saat saya akan mendaftar STIN dan mencari informasi di internet, sangat langka sekali artikel yang membahas tentang sekolah yang satu ini, alasan utamanya ya memang intelijen itu penuh dengan rahasia, jelas! Ini yang mendasari saya membuat artikel ini, tujuannya? Sama seperti saya dulu, hanya untuk menjawab pertanyaan yang ada di benak adik-adik yang ingin melanjutkan ke STIN.
Saat itu pertengahan Desember 2014, dua hari sebelum berangkat sekolah, saya dapat info bahwa STIN membuka pendaftaran online dan di tutup tepat tanggal 31 Desember 2014 pukul 23:59:59. Langsung saya meluncur ke portal akademik di www.stin.ac.id untuk memastikan info yang saya terima. Ini saya sertakan brosur penerimaan STIN 2015/2016.
Spoiler for BROSUR-STIN-1 :
Spoiler for BROSUR-STIN-2 :
Setelah membaca syarat-syarat yang yang diperlukan saya sempat ragu karena dalam persyaratan tertulis “Jika berkacamata maksimal plus (+) atau minus (-) 0,50”, sedangkan mata saya minus (-) 3,25. Akan tetapi, karena saya sudah membulatkan tekad dan ini merupakan sekolah yang saya inginkan, saya nekad mendaftar dan membuang jauh fikiran batas maksimal itu. Setelah membaca syarat administrasi, mata saya tertuju pada poin nomor 6, SKCK!!! Yaps, jangankan SKCK, KTP saja belum punya! Padahal syarat untuk membuat SKCK kan harus pakai KTP dan surat keterangan berkelakuan baik dari desa yang ditandatangani ketua RT, ketua RW, kepala desa, polsek, dan polres! RIBET KAN?!
Sehari setelah menerima informasi tersebut (17 Desember 2014) saya langsung datang ke rumah Mas Amin, tetangga saya yang bekerja di balai desa dan menanyakan bagaimana cara membuat KTP, surat keterangan berkelakuan baik, dan surat keterangan belum menikah. Saat itu saya langsung disuruh mengisi form untuk membuat KTP dan SKKB. Setelah selesai mengisi form, saya langsung dirujuk ke balai desa untuk meminta cap dari kepala desa. Sesampainya di balai desa saya langsung menyampaikan tujuan saya yang kemudian diterima dengan baik, tak lupa sayapun meminta surat keterangan belum menikah dari bapak kepala desa. Setelah itu saya melanjutkan meminta cap untuk SKKB di kantor kecamatan sekalian melakukan perekaman untuk melengkapi syarat pembuatan KTP. Namun saat itu alat perekam yang ada di kantor kecamatan sedang rusak, padahal hari itu saya harus membuat KTP agar bisa membuat SKCK, karena besok pagi sudah berangkat sekolah. Tak habis pikir, saya langsung menuju kantor catatan sipil dan melakukan perekaman disana. Setelah melakukan perekaman saya langsung datang ke polsek kebumen untuk meminta cap sebagai syarat membuat SKCK. Dari polsek saya dirujuk untuk segera ke polres untuk membuat SKCK dengan menyerahkan SKKB dan KTP tentunya.
Sampai di polres saya langsung ditanya oleh petugas, bikin baru atau diperpanjang? Saya jawab bikin baru pak, kemudian saya disuruh melakukan pengambilan sidik jari sebelum membuat SKCK. Setelah menunggu beberapa saat kartu identitas sidik jari jadi. Saya kembali harus antre menunggu SKCK, karena orang-orang yang sedang menunggu untuk membuat SKCK sudah banyak yang datang lebih awal daripada saya. Saat menunggu itu saya berkenalan dengan dua orang, saya lupa namanya tapi mereka datang bukan untuk membuat SKCK baru melainkan memperpanjang masa berlaku SKCK. Saya jadi tahu sedikit, ternyata SKCK itu merupakan salah satu syarat untuk melamar pekerjaan di perusahaan, saya kira yang memerlukan SKCK hanya lembaga pemerintahan, ternyata persepsi saya salah besar. Setelah berbincang ngalor-ngidul, SKCK sayapun jadi.
Spoiler for SKCK:
Keesokan harinya (18 Desember 2014) saya bersiap untuk melakukan Cek Kesehatan di RSUD. Saya berangkat dari rumah pukul 08.30. Setelah sampai saya langsung bertanya pada satpam bagaimana cara mendapatkan surat keterangan sehat, tidak buta warna, dan surat bebas dari NAPZA. Kemudian saya di beri petunjuk untuk melakukan registrasi dahulu dengan membayar biaya Rp 5.000,-. Setelah registrasi, saya langsung ke administrasi untuk membayar klinik nomor 5,9, dan membayar biaya lab, totalnya Rp 74.500,-. Setelah itu saya harus ke klinik 5 untuk melakukan cek kesehatan. Di klinik itu saya diperiksa mulai dari tensi, berat badan, tinggi badan, dll. Setelah itu saya dapat surat keterangan sehat, namun saya lupa belum cek buta warna atau tidak, malah saya langsung disuruh ke lab untuk pengambilan urin. Kebetulan saat itu saya sudah menahan kencing. Jadi tak menunggu lama, urin langsung diperiksa dan hasilnya negatif, alkhamdulillah tubuh saya bebas dari napza. Setelah mendapatkan surat-surat itu, saya langsung pulang.
Malah harinya saya ke tempat fotokopi untuk melakukan scan berkas-berkas dan rapot. Semua berkas telah terscan, saya kemudiam ke warnet untuk mendaftar STIN. Saat itu portal STIN masih kacau, saya belum bisa mendaftar. Seminggu setelahnya baru bisa mendaftar, kalau tidak salah tanggal 29 Desember 2014. Namun, setelah mengunggah semua berkas dan mengisi semua biodata, kemudian saya klik submit, masih ada poin tahun kelulusan yang tidak bisa. Saya tanya ke shoutbox, ternyata ada yang mengalami kejadian sama. Akhirnya saya tak jadi memutuskan untuk mendaftar hari itu.
Rabu, 31 Desember 2014. Hari terakhir pendaftaran? Ya, saat itu. Saya langsung mendaftar dan semua lancar, namun saat upload berkas, ternyata saya belum memiliki surat keterangan tidak buta warna. Ketika itu saya berfikir, yang penting ada surat keterangan sehat. Saya masih sangat ingat, pendaftaran ditutup pukul 23:59:59 dan saya selesai mengunggah berkas pukul 23:46:00 saya sangat khawatir dan berfikir kalau data yang saya unggah tidak terbaca. But, I always have positive think.
Kamis, 1 Januari 2015. Saya menuju portal STIN dan ada pengumuman, ternyata pendaftaran di perpanjang hingga 31 Januari 2015. Dan di brosur tertulis penutupan tanggal 6 Februari, yang dimaksud dalam brosur adalah waktu untuk melengkapi berkas-berkas administrasi, BUKAN PENUTUPAN PENDAFTARAN ONLINE. Saya kemudian membuka email, ada pesan baru dari panitia seleksi. Isinya bagi CAMA yang mendaftar sebelum 1 Januari 2015 disuruh melakukan pendaftaran ulang. Ok, saya berfikir saat itu, “Santai, masih ada waktu satu bulan”. Dan ternyata waktu satu bulan telah terlewat. Sebelumnya pertengahan Januari saya telah mendaftar dan upload beberapa berkas. Saya kembali mengecek kelengkapan surat-surat untuk mendaftar, tapi ternyata surat keterangan sehat saya belum menyatakan bahwa saya tidak buta warna. Mampus! Saat itu hari sudah sore sekitar pukul 15.00, RSUD sudah tutup. Kemudian saya bertanya pada teman saya yang ibunya bekerja di Puskesmas, jawabannya sama Puskesmas sudah tutup, paling besok pagi. Besok pagi? Besok kan sekolah? Dan besok sudah masuk bulan Februari 2015. Esok harinya (02 Februari 2015) saya izin meninggalkan pelajaran, saya juga minta teman sebangku saya untuk menemani cek mata di puskesmas, alkhamdulillah, hasilnya saya tidak buta warna. Malamnya saya langsung membuka website STIN dan melengkapi seluruh berkas-berkas yang diperlukan. Done, saya sudah mendaftar dan berusaha semaksimal mungkin. Hari demi hari terlewati, tiada hari tanpa memantau email, karena pengumuman kelulusan verifikasi akan diinfokan melalui email. Kemudian email itupun datang, email yang saya tunggu-tunggu. Saya membukanya dengan iringan detak jantung sebagai metronomnya, dalam hati saya mengucap bismillah. Alkhamdulillah, saya menjadi salah satu dari sekitar 7000 peserta yang lolos seleksi tahap pertama. Di email itu disertakan kartu ujian dan undangan yang berisi lokasi tes tahap selanjutnya.
Diubah oleh anwarsalis 09-09-2016 10:38
0