Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Halo, ini Elisa lagi. Cerita ini akan kubagi menjadi dua bagian. Yaitu saat pertama kali aku bertemu dengan Ayano, yang mungkin sudah dia ceritakan juga pada threadnya yaitu pada cerita yang ini. Cerita ini terpaksa aku ceritakan ulang dengan pedoman Diary karena aku baru menyadari kalau aku lebih banyak menceritakan tentang Ayano ketimbang siksaan dari sang ‘mata’ padaku.
Bagian kedua, adalah cerita ketika Ayano pertama kali berkenalan dengan ‘mereka’ secara langsung. Ini juga lebih baik aku ceritakan ulang, karena sekarang aku bisa bertanya langsung pada Ayano apa yang dia pikirkan saat itu kan?
Sedikit peringatan sebelum membaca, kemungkinan cerita ini tidak akan terlalu mengerikan karena jujur saja, aku mengetik ulang cerita ini sambil tertawa-tawa mendengar cerita dari Ayano sendiri mengenai reaksi dari dia waktu itu, terutama pada bagian kedua.
Bagian pertama tidak akan panjang, tapi saya akan berusaha update bagian kedua secepatnya.
Oke, kalau begitu langsung saja ya.
Spoiler for Part XXIX:
Part XXIX
-Bagian Pertama –
Pertama kalinya aku bertemu dengan Ayano, yang kurasakan waktu itu adalah… yahh.. tidak ada sih. Dia hanya Asdos yang kelewat Pede dan kelebihan pheromone, serius.
Karena itulah aku membiarkan Robert menjahili pria Kepo itu dengan berdiri tepat dibelakangnya. Yang tidak kusangka adalah kalau Ayano menjadi begitu pucat ketika Robert bermain-main dengan meniup lehernya.
Kedua kalinya? Yahh… aku merasa risih, karena kupikir saat itu Asdos ini terlalu Kepo.
Kerisihanku semakin bertambah ketika aku mengetahui kalau dia ternyata mengajarku pada dua kelas yang berbeda. Meskipun saat ini aku malah bersyukur, sungguh.
Ketiga kalinya adalah saat rasa risih itu berubah menjadi rasa jijik….
Bagaimana mungkin aku diikut-ikutkan pada pertengkaran antara dia dengan pacarnya sih? Sudah begitu pakai menyindir dadaku segala. Keterlaluan! Itulah yang kupikirkan tentang Ayano waktu itu.
Keempat kalinya? Yang kurasakan adalah malu dan bingung. Bagaimana tidak? Dia menemukan aku sedang tidur di lantai. Astaga bisa terbayang bagaimana malunya aku ketika bangun dan mendapati dia duduk di sampingku.
Tapi anehnya berlawanan dengan pendapatku sebelumnya mengenai dia yang kupikir adalah cowok yang kurang ajar dan buaya. Tapi dia hanya duduk diam menjagaku selama aku ketiduran karena gangguan dari mbak M******* semalaman.
Setelah itu dia memberiku nomor telepon.
Dan entah mengapa aku menyimpannya di memory HPku.
Beberapa hari setelahnya, sang ‘mata’ mendatangi aku…
Waktu itu aku sedang duduk mengerjakan tugas kuliah di ruang tengah ketika kakiku ditarik tiba-tiba oleh ‘sesuatu’ dari bawah meja.
Sang ‘mata’ yang lebih tepatnya sudah tidak bisa kusebut sang ‘mata’ lagi sekarang. Wujudnya sekarang bagaikan manusia pria dengan tubuh masih berupa bayangan berwana hitam. Tapi sekarang ‘dia’ mengenakan topeng berwajah ular atau Naga yang mengenakan mahkota.
Tangan ‘mahluk’ itu menyeretku turun dari bangku yang sedang kududuki.
“Aduh!!” keluhku ketika aku merasakan kepalaku terantuk meja dan bangku ketika ‘dia’ menyeretku.
Setelah aku ditarik menjauh dari meja, ‘mahluk’ itu menarik dan membantingku ke dinding.
“Ahk!!” teriakku ketika tubuhku membanting keras ke arah dinding.
Ini sudah berlangsung beberapa kali.. sehingga aku sudah tahu kalau aku harus mengalami penderitaan ini dalam beberapa menit lagi.
Tapi, meskipun pikiranku sudah mengetahui hal itu, tetap saja aku mulai panik ketika ‘mahluk’ itu menarik bajuku pada bagian kerah leher dan melemparku hingga menghantam meja kayu dengan keras.
Aku merasakan rasa sakit yang menusuk beserta rasa dingin dari kepalaku.
Dengan reflek aku memegang kepalaku yang sakit dan merasakan perasaan basah dan lengket.
Aku melihat tanganku dan menemukan darah dalam jumlah banyak yang membasahi tanganku.
“Ahhh…Ahhhh….!!” Kataku ketakutan sambil berusaha lari dari mahluk itu dengan merangkak.
‘Mahluk’ itu kembali menarikku ketika aku baru saja berhasil berdiri.
Beruntung tanganku berhasil menarik HPku yang di charge.
Dengan panik aku mencari nomor telepon Cindy sahabatku untuk meminta tolong.
Waktu itu sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku kalau Cindy sedang berada sangat jauh, di luar kota dan tidak mungkin bisa datang untuk menolongku. Otakku yang sedang ketakutan tidak berpikir sampai ke sana.
Tidak tersambung…
Bunyi ‘Tut..Tut..Tut..’ yang datang dari speaker HPku membuat hatiku mencelos. Dengan perasaan takut dan kecewa, aku menekan tombol yang kukira adalah tombol redial untuk mencoba menghubungi sahabatku itu.
Pada waktu itulah ‘mahluk’ itu memutuskan untuk menarikku hingga menempel pada dinding, namun kakiku tidak menjejak lantai, aku melayang.
‘Mahluk’ itu mencekikku hingga nafasku sesak.
Pada saat itu aku menjatuhkan HPku dilantai.
Dan secara ajaib, dari HP itu terdengar suara samar-samar “Halo..Halo…”
Aku yang merasa senang karena menganggap kalau aku berhasil menghubungi temanku menggapai-gapaikan tanganku dengan percuma.
Aku sedang melayang – menempel di dinding sekitar satu setengah meter dari lantai. Tentu saja tanganku tidak akan sampai.
Sayup-sayup aku mendengar suara dari HPku masih terhubung. Aku mendengar suara yang memanggil namaku “Elisa..Elisa..”
Aku baru saja hampir kehilangan kesadaran ketika ‘mahluk’ itu menarikku dan memutar badanku di udara sebelum melepaskanku hingga terjatuh.
“Halo!! Elisa!!” suara itu kini terdengar jelas. Aku terjatuh dengan kepalaku tepat di samping HPku itu.
Aku menggenggamnya dengan kuat dan berbicara dengan suara lemah “Cin.. tolong aku…please….” pintaku.
Tepat ketika itu, ‘mahluk’ itu kembali mengangkat tubuhku dan melemparku hingga mendarat bebas di lantai.
“Ahhh!!” teriakku kesakitan ketika punggungku menghantam lantai.
Aku kesakitan. Tapi secara ajaib aku masih memegang HPku dengan erat.
Suara kembali terdengar samar-samar.
Suara yang membuatku kaget sesaat.
“…Saya Ayano, Elisa!!?” teriak suara dari HP itu.
Benar juga, suara itu adalah suara pria. Tapi kenapa? Bagaimana? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai bermunculan di kepalaku.
Tapi pertanyaan yang keluar dari mulutku hanyalah “Kenapa bisa koko?” atau seingatku seperti itu.
‘Mahluk’ itu kembali menarik kakiku dan menyeretku hingga perutku menghantam kaki meja hingga terjungkal.
Kesadaranku kurasakan hampir menghilang saat itu. Suara Ayano di HP masih terdengar sayup-sayup sedang berteriak-teriak memanggil namaku.
Aku seperti mendengar dia menanyakan dimana aku sekarang.
Dan aku memberitahunya. Aku ingat dalam kesadaranku yang hingga sedikit aku mengatakan alamatku padanya.
Kemudian ‘mahluk’ itu kembali mencengkram kakiku dan melemparku ke arah tembok untuk terakhir kalinya.
Kepala lebih dulu.
Dengan suara yang keras dan bahkan membuatku mengingatnya saja menjadi mulas, aku pingsan, perasaan terakhir yang kurasakan adalah kepalaku sangat sakit seperti pecah.
Aku pingsan.
Selanjutnya yang kuingat adalah menemukan diriku sedang berada dalam pelukan Ayano ketika dia membaringkanku pada sofa.
Tapi kesadaranku masih samar-samar. Ketika aku merasakan pelukannya dan mencium bau tubuhnya yang entah bagaimana membuatku tenang, yang kuingat setelah itu adalah aku kembali tidur atau pingsan, entahlah.
Cerita ketika saya tersadar lagi mungkin sudah bisa ditemukan di cerita miliknya kan?