- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#101
Part 6
Beberapa batang tombak lain kontan kandas dihimpit ketiak Andika. Saat berikutnya, semua terbelah berantakan dicongkel sepasang pergelangan tangan Pendekar Slebor.
Prak!
Bisa saja untuk selanjutnya Pendekar Slebor mengirim pukulan beruntun pada para prajurit yang telah kehilangan tombaknya. Namun, Andika tahu kalau lawannya hanya korban kesalahpahaman akibat termakan fitnah manusia licik I Made Raka.
Satu-satunya cara yang bisa diperbuat Pendekar Slebor agar terhindar dari hujaman senjata lawan, sekaligus tidak membuat para prajurit terluka, adalah menotok jalan darah masing-masing. Namun niat tersebut tak terlaksana, manakala prajurit yang masih memiliki senjata cepat menerobos masuk di antara prajurit lain, seraya menusukkan ujung tombak.
Serangan susulan mendadak itu menerabas dari depan. Sehingga, memaksa Pendekar Slebor melemparkan tubuh ke belakang, melewati kepala beberapa prajurit di belakangnya. Setelah memutar tubuh di udara sekali, kakinya menjejak kembali di tanah. Belum lagi Pendekar Slebor bisa menarik napas lega, lima prajurit dibelakang lapisan pertama membokongnya berbarengan.
“Hiaaa!”
Zeb... zeb... zeb...!
Telinga pendekar Tanah Jawa Dwipa yang terlatih ini segera dapat menangkap ancaman bahaya di belakang. Dengan tangkas dirinya dijatuhkan ke tanah. Dan seketika kaki kelima prajurit tadi langsung tersapu keras, manakala tubuh Pendekar Slebor bergulir cepat ke arah mereka. Akibatnya, mereka pun jatuh berdebam susul-menyusul.
Bruk! Bruk!
Kini Andika sudah berdiri kembali sekitar tiga depa di tempat yang agak aman dari kepungan.
“Hm, mereka tampaknya begitu terlatih untuk kulumpuhkan dengan mudah,” desis Pendekar Slebor.
“Kodok bengkak! Aku makin sulit saja untuk segera tiba di pantai barat Buleleng....”
“Serang lagiii...!” seru seorang prajurit, penuh gelora.
Para prajurit baik yang masih bersenjata maupun yang tidak, dengan berapi-api menerjang untuk yang kesekian kalinya. Selaku prajurit sejati, mereka memang digembleng untuk tidak mudah menyerah. Sikap mereka bagai sudah tidak lagi memiliki rasa takut mati. Mereka percaya, mati dalam mengemban tugas negera adalah terhormat. Hal itu semua terangkum dalam dasar hukum adat dalam Tri Pepali, atau Tiga Dasar Hukum bagi kehidupan manusia sebagai keyakinan mereka. ‘Sepi ingpamrih rame inggawe’.
Kali ini, serangan para prajurit demikian kompak menggebu. Keadaan yang makin menempatkan Andika pada keadaan yang sulit, di mana harus menyelamatkan dirinya tanpa melukai seorang lawan pun. Maka saat itulah Pendekar Slebor harus menentukan pilihan. Membiarkan dirinya direncah lawan, atau menghantam balik dengan akibat kematian. Dan mendadak....
“Berhenti!”
Pada saat yang rawan itulah, tiba-tiba teriakan mengguntur menyelamatkan Andika dari tindakan yang tak diharapkan. Dan seketika, semua mata mencari arah datangnya suara. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang laki-laki tua berpakaian hitam-hitam di belakang Cokorde Ida Bagus Tanca.
“Ki Lantanggeni! Kenapa kau mencegah kami menangkap bocah perusuh ini?!” tanya Raja Buleleng itu, seperti tidak senang. Rupanya, raja ini sudah kenal dekat dengan laki-laki tua yang dipanggil Ki Lantanggeni tadi.
“Dia tidak bersalah, Cokorde. Akulah saksinya,” kata Ki Lantanggeni.
Kemudian Ki Lantanggeni segera menceritakan apa yang disaksikan terhadap tindakan I Made Raka selama ini. Juga tentang fitnah yang dilimpahkan kepada Pendekar Slebor.
Di pantai barat Buleleng. Ombak susul-menyusul, menepis jutaan buih ketepian. Deburnya menciptakan irama alam teratur, seakan tetabuhan genderang dari alam jauh tak tergapai mata. Tebaran pasir putih di mana-mana, membersitkan cahaya-cahaya kecil kala sinar mentari senja menimpa, bagai timbunan permata halus berkilau menawan.
Di bibir pantai, jejak memanjang terlihat. Asalnya dari seretan peti mati besar yang ditarik dua lelaki. Siapa lagi kalau bukan Sepasang Datuk Karang.
“Apakah anak itu telah membohongi kita, Kang?” ungkap Gumbala.
Telah lama mereka hanya memusatkan mata pada pantai, mencari kotak berukir yang diincar.
“Hampir sepanjang pantai kita susuri, kotak berukir itu belum juga kita temui,” kata Gumbala lagi.
Lalinggi tidak menyahut. Dari balik caping yang menutup wajahnya, mata lelaki itu terus mengawasi jengkal demi jengkal pantai barat Buleleng.
“Kita belum lagi sampai di batas pantai, Gumbala,” ujar Lalinggi, dingin akhirnya.
“Tapi kalau anak sundal itu membohongi, sia-sia saja usaha kita. Dengan begitu, kita toh hanya membuang waktu percuma,” sungut Gumbala.
“Aku tahu. Tapi, percayalah. Jika anak itu membohongi kita, dia harus menerima akibatnya,” balas Lalinggi.
“Ya! Aku ingin sekali menghancurkan batok kepalanya!”
“Apakah sekarang kau bisa diam dan meneruskan pencarian?!” bentak Lalinggi.
Gumbala diam. Kalau Lalinggi sudah menghardik seperti itu, dia tidak berani macam-macam lagi. Dengan menekuk wajah buruknya dalam-dalam, diturutinya perintah Lalinggi. Kini keduanya meneruskan pencarian. Sampai di satu bagian pantai mereka menemukan sesuatu yang terapung-apung di bibir pantai.
“Itu dia, Kang!” seru Gumbala.
“Ya, aku tahu.”
Mereka pun segera mendekat. Benar! Ternyata benda terapung itu memang kotak berukir yang selama ini dicari. Tanpa menunggu perintah Lalinggi lagi, Gumbala dengan wajah berseri-seri segera menjemput kotak itu.
“Ini, Kang...,” kotak di tangannya segera pula diantar pada Lalinggi.
“Periksalah dulu, Kang,” pinta Gumbala.
Lalinggi menerima kotak itu dari tangan Gumbala. Untuk beberapa saat, diteliti seluruh bagian kotak, untuk meyakinkan kalau tidak keliru. Tak lama kemudian kepala bercaping Lalinggi pun bergerak-gerak berirama. Rupanya, dia mengangguk-angguk puas.
“Sebentar lagi kita akan menjadi murid seorang tokoh hitam yang bakal menaklukkan dunia
persilatan Gumbala,” kata Lalinggi.
Selesai mengungkapkan isi hatinya, Lalinggi tertawa canggung. Hal yang selama ini belum pernah dilakukannya. Sedang Gumbala ikut menimpali tawa Lalinggi, penuh kemenangan. Suaranya yang serak, terdengar bagai jeritan burung pemakan bangkai.
“Sekarang kita harus cepat pergi dari sini,” ajak Lalinggi setelah puas tertawa.
Gumbala cepat mengangguk. Maka kini keduanya pun pergi. Seperti biasa, mereka menyeret peti mati besar bersama-sama. Hanya, kali ini ada satu peti kecil berukir di tangan Lalinggi.
***
Goa Karang Hitam berada tak begitu jauh dari pantai barat Buleleng. Letaknya tepat di kaki satu bukit karang yang tak begitu menjulang. Sewaktu menemukan goa itu, Lalinggi dan Gumbala bersepakat untuk memanfaatkanya sebagai tempat menjalankan sebuah rencana.
“Goa ini benar-benar cocok dengan rencana kita. Kebetulan sekali, Kang,” cetus Gumbala saat keduanya telah memasuki goa buntu, sedalam kira-kira lima puluh depa.
“Ya,” jawab Lalinggi singkat seraya mengangkat kayu bakar yang digunakan sebagai penerang. Dipandanginya seluruh bagian dinding goa yang dipenuhi lumut.
“Kita harus segera membuat api unggun.”
Gumbala menuruti ucapan Lalinggi. Kayu-kayu kering yang telah dikumpulkan sebelum memasuki goa, segera diserakkannya di dasar goa berpasir ini. Lalu mulai dibuatnya api dengan memantik-mantik dua buah batu di atas jerami kering.
“Api unggun sudah menyala, Kang.” Lapor Gumbala.
Lalinggi mengangguk lemah. Setelah itu kayu bakar di tangannya disatukan dengan kayu api unggun.
“Sekarang kau geser peti mati itu ke sini,” perintah Lalinggi.
Gumbala bergegas menjalankan perintah Lalinggi. Kini peti mati besar yang selama ini selalu diseret-seret telah berada tepat di sisi api unggun. Lidah api unggun menjilat-jilat liar, hendak menggapai langit-langit goa. Cahayanya menyapu sisi peti mati, membuat benda besar itu terlihat kian angker.
“Sekarang apa lagi, Kang?” tanya Gumbala.
Tak ada jawaban dari Lalinggi. Lelaki itu hanya menurunkan peti berukir dari tangannya kedasar goa. Tepat di hadapan peti berukir, Lalinggi duduk bersila. Tangannya bersidekap, sedang matanya terpejam.
Ketika waktu berlalu cukup lama, tangan Lalinggi mulai bergerak ke depan. Seluruh otot-otot ditangannya mengejang. Satu telapak tangannya yang terbuka pun tiba di lubang kunci peti berukir. Tak begitu lama, telapak tangan itu menempel, maka asap putih kehitaman mengebul dari sela-sela antara telapak tangan dengan sisi lubang kunci.
Krak!
Tiba-tiba saja peti berukir terbuka bersama suara berderak. Namun, hanya berupa kuakan celah kecil.
“Biar aku yang buka, Kang,” serobot Gumbala tak sabar, mengetahui pengunci peti berukir telah dapat dihancurkan Lalinggi.
“Tunggu dulu!” cegah Lalinggi cepat.
“Jangan berlaku ceroboh!”
Tangan Gumbala urung diulurkan ke peti berukir. Bentakan keras Lalinggi, lumayan membuatnya kaget.
“Kenapa, Kang?” tanya laki-laki berwajah buruk itu.
“Lihat saja...,” kata Lalinggi dingin.
Kemudian laki-laki bercaping ini melepas satu pundi yang digantung di sekitar pinggang. Pundi itu kemudian digulung dengan bajunya, hingga membentuk sebuah bantalan kain.
“Kau pegang penutup peti itu,” ujar Lalinggi pada Gumbala.
“Kalau kubilang buka, kau harus secepatnya membuka penutup peti itu. Mengerti?”
Gumbala hanya mengangguk-angguk.
“Siap...,” Lalinggi memberi aba-aba.
Gumbala yang berada di belakang peti menatap Lalinggi tegang, menanti aba-aba selanjutnya.
Sementara, Lalinggi siap dengan bantalan kain di tangan.
“Buka!” seru Lalinggi.
Secepat kilat, Gumbala menarik penutup peti. Dalam saat yang hampir bersamaan, Lalinggi pun mendekapkan buntalan kain ke mulut peti yang baru saja terkuak.
Blep! Jep! Jep! Jep!
Serentak suara halus terdengar. Sewaktu Lalinggi mengangkat bantalan kain dari mulut peti, terlihatlah puluhan batang bambu beracun berwarna biru kehijauan. Kain pada bagian yang tertancap batang bambu itu tampak kontan terbakar menghitam serta mengepulkan asap sewarna dengan batang- batang bambu.
“Kau lihat,” ujar Lalinggi.
“Kalau kau seenaknya membuka peti ini, pasti sudah mengejang hangus seperti kain ini....”
Mata besar Gumbala terbelalak kian besar. Mungkin lebih besar daripada mata burung hantu. Dan dia hanya menelan ludah. Kalau saja tak dicegah Lalinggi, tentu sudah mampus! Gumbala ngeri membayangkannya.
Lalu, apa isi peti itu sebenarnya?
Sambil tertawa nyaring yang membuat dinding goa bergetar, Lalinggi mengambil isi peti berukir di depannya. Ternyata, sebuah kepala manusia!
“Hua ha ha...! Kau akan hidup kembali Ki Rawe Rontek! Dan kau pasti akan membalas budi baik kami, dengan menurunkan ilmu ‘Rawe Rontek’mu pada kami! Hua ha ha...!”
Tak hanya Lalinggi, Gumbala pun turut terbahak-bahak.
“Kita akan menjadi dua jago persilatan, Kang!” teriak Gumbala.
“Hua ha ha...!”
Sementara itu di tepi pantai barat Buleleng malam ini, tampak pula dua laki-laki lain. Seperti Lalinggi dan Gumbala, mereka pun sama-sama menelusuri tepi pantai. Jejak panjang yang ditinggalkan di belakang, menandakan kalau mereka sudah cukup lama berjalan di sana.
Salah seorang lelaki tua bercaping kerucut. Pantulan cahaya rembulan di laut, menerangi samar wajahnya yang berkeriput serta berjanggut. Kekurusan lelaki tua itu menyebabkan tulang pipinya jadi menonjol.
“Tampaknya kita telah didahului, Andika,” kata lelaki tua itu.
Saat ini, mereka telah tiba di batas pantai sebelah selatan. Dan memang pemuda di sebelah laki-laki tua itu adalah Pendekar Slebor. Setelah lelaki tua yang tak lain adalah Ki Lantanggeni itu menyelamatkan Pendekar Slebor dari keroyokan prajurit Buleleng, Andika memang langsung menceritakan tentang kotak berukir. Maka, kini mereka berada di pantai barat Buleleng.
Pendekar Slebor hanya menghela napas. Dia juga seyakin lelaki tua di sebelahnya, kalau peti berukir yang dicari telah diambil orang lain.
“Apakah orang-orang yang mendahului kita Sepasang Datuk Karang, Ki Lantanggeni?” tanya Andika penasaran.
“Besar kemungkinan begitu,” sahut Ki Lantanggeni.
“Bagaimana kalau kita mencari tahu pada penduduk sekitar pantai ini?”
Andika setuju. Maka mereka melangkah ke pedalaman pesisir menuju desa penduduk terdekat untuk mencari keterangan. Siapakah Ki Lantanggeni sebenarnya, sehingga ikut campur dalam masalah peti berukir yang telah menelan beberapa korban nyawa itu?
Kira-kira enam puluh tahun lalu, ada seorang tokoh golongan hitam yang memiliki ilmu sesat ‘Rawe Rontek’. Dengan ilmu itu, si Tokoh Sesat amat sulit dibinasakan. Setiap luka yang berhasil merobek kulit tubuhnya, selalu saja menutup kembali tanpa cacat, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Lebih dahsyat lagi, setiap kali bagian tubuhnya terpotong, setiap kali pula bagian tubuh itu menyatu kembali. Bahkan kepalanya sendiri! Di dunia persilatan, dia amat tersohor sebagai Ki Rawe Rontek.
Kisah Ki Rawe Rontek, berasal dari perjalanan hidup seorang pemuda dari sebuah desa kecil bernama Watukarang. Namanya, Lantang. Sejak kecil, pemuda itu memiliki tabiat buruk dan perangai tercela. Seperti bibit perusuh, dia tumbuh dalam kejahatan demi kejahatan. Mencuri, menganiaya, dan membuat kekacauan adalah pekerjaan biasa.
Suatu hari, terjadi perampokan yang mengakibatkan terbunuhnya satu keluarga secara keji. Pada malam yang sama dengan saat perampokan, Lantang pun mempunyai niat buruk pada seorang kembang desa, bernama Saridewi. Cintanya yang selama ini selalu ditolak Saridewi, membuatnya bermata gelap.
Hendak dilarikannya Saridewi, lalu dipaksa untuk dikimpoii. Naas, pada saat mengendap-endap di samping kamar si Kembang Desa, orang tua Saridewi yang terkenal kasar, keluar dan hampir memergokinya. Kontan saja Lantang lari tunggang-langgang, karena begitu takut akan kekasaran lelaki itu.
Saat itulah perampok yang sedang dikejar para penduduk bertemu Lantang. Dengan licik, si Perampok menghajar Lantang seraya meneriakinya perampok. Lantang yang memang tak memiliki kepandaian silat, tak bisa berbuat apa-apa. Dia megap-megap dihajar oleh si Perampok. Bahkan para penduduk yang sudah kalap, tanpa banyak tanya langsung saja menghajarnya habis-habisan.
“Ampun! Ampun! Aku bukan perampok!” teriak Lantang kala itu.
“Ah! Mana ada orang maling yang mau mengaku!” hardik si Perampok dengan mimik sinis penuh kesungguhan.
“Aku Lantang! Aku memang suka berbuat kericuhan, tapi tidak pernah merampok!” sangkal Lantang lagi.
“Kau tidak hanya merampok! Kau juga membantai seluruh keluarga korban dengan golok itu!” tuding si Perampok lagi, seraya menunjuk golok berlumur darah yang sempat diselipkan di balik pakaian Lantang.
Lantang terkesiap. Wajahnya yang sudah babak belur tampak demikian takut. Dikeluarkannya golok dari balik baju. Dengan mata bengkak terbelalak, diperhatikannya senjata itu tanpa bisa berkata sepatah pun. Bibirnya kelu dan pita suaranya seperti tersumpal.
“Ayo, tunggu apa lagi?!” seru si Perampok pada penduduk.
“Cepat cincang dia! Bunuh seperti dia membunuh keluarga korban!”
Amukan penduduk meledak seketika. Pikiran mereka tak lagi jernih. Bersama segenap kekalapan, Lantang dihajar kembali tanpa ampun.
“Sungguh, demi Tuhan! Aku tak pernah merampok atau membunuh!” teriak serak Lantang di antara suara-suara pukulan kayu para penduduk yang menghantam tubuhnya.
Beberapa batang tombak lain kontan kandas dihimpit ketiak Andika. Saat berikutnya, semua terbelah berantakan dicongkel sepasang pergelangan tangan Pendekar Slebor.
Prak!
Bisa saja untuk selanjutnya Pendekar Slebor mengirim pukulan beruntun pada para prajurit yang telah kehilangan tombaknya. Namun, Andika tahu kalau lawannya hanya korban kesalahpahaman akibat termakan fitnah manusia licik I Made Raka.
Satu-satunya cara yang bisa diperbuat Pendekar Slebor agar terhindar dari hujaman senjata lawan, sekaligus tidak membuat para prajurit terluka, adalah menotok jalan darah masing-masing. Namun niat tersebut tak terlaksana, manakala prajurit yang masih memiliki senjata cepat menerobos masuk di antara prajurit lain, seraya menusukkan ujung tombak.
Serangan susulan mendadak itu menerabas dari depan. Sehingga, memaksa Pendekar Slebor melemparkan tubuh ke belakang, melewati kepala beberapa prajurit di belakangnya. Setelah memutar tubuh di udara sekali, kakinya menjejak kembali di tanah. Belum lagi Pendekar Slebor bisa menarik napas lega, lima prajurit dibelakang lapisan pertama membokongnya berbarengan.
“Hiaaa!”
Zeb... zeb... zeb...!
Telinga pendekar Tanah Jawa Dwipa yang terlatih ini segera dapat menangkap ancaman bahaya di belakang. Dengan tangkas dirinya dijatuhkan ke tanah. Dan seketika kaki kelima prajurit tadi langsung tersapu keras, manakala tubuh Pendekar Slebor bergulir cepat ke arah mereka. Akibatnya, mereka pun jatuh berdebam susul-menyusul.
Bruk! Bruk!
Kini Andika sudah berdiri kembali sekitar tiga depa di tempat yang agak aman dari kepungan.
“Hm, mereka tampaknya begitu terlatih untuk kulumpuhkan dengan mudah,” desis Pendekar Slebor.
“Kodok bengkak! Aku makin sulit saja untuk segera tiba di pantai barat Buleleng....”
“Serang lagiii...!” seru seorang prajurit, penuh gelora.
Para prajurit baik yang masih bersenjata maupun yang tidak, dengan berapi-api menerjang untuk yang kesekian kalinya. Selaku prajurit sejati, mereka memang digembleng untuk tidak mudah menyerah. Sikap mereka bagai sudah tidak lagi memiliki rasa takut mati. Mereka percaya, mati dalam mengemban tugas negera adalah terhormat. Hal itu semua terangkum dalam dasar hukum adat dalam Tri Pepali, atau Tiga Dasar Hukum bagi kehidupan manusia sebagai keyakinan mereka. ‘Sepi ingpamrih rame inggawe’.
Kali ini, serangan para prajurit demikian kompak menggebu. Keadaan yang makin menempatkan Andika pada keadaan yang sulit, di mana harus menyelamatkan dirinya tanpa melukai seorang lawan pun. Maka saat itulah Pendekar Slebor harus menentukan pilihan. Membiarkan dirinya direncah lawan, atau menghantam balik dengan akibat kematian. Dan mendadak....
“Berhenti!”
Pada saat yang rawan itulah, tiba-tiba teriakan mengguntur menyelamatkan Andika dari tindakan yang tak diharapkan. Dan seketika, semua mata mencari arah datangnya suara. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang laki-laki tua berpakaian hitam-hitam di belakang Cokorde Ida Bagus Tanca.
“Ki Lantanggeni! Kenapa kau mencegah kami menangkap bocah perusuh ini?!” tanya Raja Buleleng itu, seperti tidak senang. Rupanya, raja ini sudah kenal dekat dengan laki-laki tua yang dipanggil Ki Lantanggeni tadi.
“Dia tidak bersalah, Cokorde. Akulah saksinya,” kata Ki Lantanggeni.
Kemudian Ki Lantanggeni segera menceritakan apa yang disaksikan terhadap tindakan I Made Raka selama ini. Juga tentang fitnah yang dilimpahkan kepada Pendekar Slebor.
***
Di pantai barat Buleleng. Ombak susul-menyusul, menepis jutaan buih ketepian. Deburnya menciptakan irama alam teratur, seakan tetabuhan genderang dari alam jauh tak tergapai mata. Tebaran pasir putih di mana-mana, membersitkan cahaya-cahaya kecil kala sinar mentari senja menimpa, bagai timbunan permata halus berkilau menawan.
Di bibir pantai, jejak memanjang terlihat. Asalnya dari seretan peti mati besar yang ditarik dua lelaki. Siapa lagi kalau bukan Sepasang Datuk Karang.
“Apakah anak itu telah membohongi kita, Kang?” ungkap Gumbala.
Telah lama mereka hanya memusatkan mata pada pantai, mencari kotak berukir yang diincar.
“Hampir sepanjang pantai kita susuri, kotak berukir itu belum juga kita temui,” kata Gumbala lagi.
Lalinggi tidak menyahut. Dari balik caping yang menutup wajahnya, mata lelaki itu terus mengawasi jengkal demi jengkal pantai barat Buleleng.
“Kita belum lagi sampai di batas pantai, Gumbala,” ujar Lalinggi, dingin akhirnya.
“Tapi kalau anak sundal itu membohongi, sia-sia saja usaha kita. Dengan begitu, kita toh hanya membuang waktu percuma,” sungut Gumbala.
“Aku tahu. Tapi, percayalah. Jika anak itu membohongi kita, dia harus menerima akibatnya,” balas Lalinggi.
“Ya! Aku ingin sekali menghancurkan batok kepalanya!”
“Apakah sekarang kau bisa diam dan meneruskan pencarian?!” bentak Lalinggi.
Gumbala diam. Kalau Lalinggi sudah menghardik seperti itu, dia tidak berani macam-macam lagi. Dengan menekuk wajah buruknya dalam-dalam, diturutinya perintah Lalinggi. Kini keduanya meneruskan pencarian. Sampai di satu bagian pantai mereka menemukan sesuatu yang terapung-apung di bibir pantai.
“Itu dia, Kang!” seru Gumbala.
“Ya, aku tahu.”
Mereka pun segera mendekat. Benar! Ternyata benda terapung itu memang kotak berukir yang selama ini dicari. Tanpa menunggu perintah Lalinggi lagi, Gumbala dengan wajah berseri-seri segera menjemput kotak itu.
“Ini, Kang...,” kotak di tangannya segera pula diantar pada Lalinggi.
“Periksalah dulu, Kang,” pinta Gumbala.
Lalinggi menerima kotak itu dari tangan Gumbala. Untuk beberapa saat, diteliti seluruh bagian kotak, untuk meyakinkan kalau tidak keliru. Tak lama kemudian kepala bercaping Lalinggi pun bergerak-gerak berirama. Rupanya, dia mengangguk-angguk puas.
“Sebentar lagi kita akan menjadi murid seorang tokoh hitam yang bakal menaklukkan dunia
persilatan Gumbala,” kata Lalinggi.
Selesai mengungkapkan isi hatinya, Lalinggi tertawa canggung. Hal yang selama ini belum pernah dilakukannya. Sedang Gumbala ikut menimpali tawa Lalinggi, penuh kemenangan. Suaranya yang serak, terdengar bagai jeritan burung pemakan bangkai.
“Sekarang kita harus cepat pergi dari sini,” ajak Lalinggi setelah puas tertawa.
Gumbala cepat mengangguk. Maka kini keduanya pun pergi. Seperti biasa, mereka menyeret peti mati besar bersama-sama. Hanya, kali ini ada satu peti kecil berukir di tangan Lalinggi.
***
Goa Karang Hitam berada tak begitu jauh dari pantai barat Buleleng. Letaknya tepat di kaki satu bukit karang yang tak begitu menjulang. Sewaktu menemukan goa itu, Lalinggi dan Gumbala bersepakat untuk memanfaatkanya sebagai tempat menjalankan sebuah rencana.
“Goa ini benar-benar cocok dengan rencana kita. Kebetulan sekali, Kang,” cetus Gumbala saat keduanya telah memasuki goa buntu, sedalam kira-kira lima puluh depa.
“Ya,” jawab Lalinggi singkat seraya mengangkat kayu bakar yang digunakan sebagai penerang. Dipandanginya seluruh bagian dinding goa yang dipenuhi lumut.
“Kita harus segera membuat api unggun.”
Gumbala menuruti ucapan Lalinggi. Kayu-kayu kering yang telah dikumpulkan sebelum memasuki goa, segera diserakkannya di dasar goa berpasir ini. Lalu mulai dibuatnya api dengan memantik-mantik dua buah batu di atas jerami kering.
“Api unggun sudah menyala, Kang.” Lapor Gumbala.
Lalinggi mengangguk lemah. Setelah itu kayu bakar di tangannya disatukan dengan kayu api unggun.
“Sekarang kau geser peti mati itu ke sini,” perintah Lalinggi.
Gumbala bergegas menjalankan perintah Lalinggi. Kini peti mati besar yang selama ini selalu diseret-seret telah berada tepat di sisi api unggun. Lidah api unggun menjilat-jilat liar, hendak menggapai langit-langit goa. Cahayanya menyapu sisi peti mati, membuat benda besar itu terlihat kian angker.
“Sekarang apa lagi, Kang?” tanya Gumbala.
Tak ada jawaban dari Lalinggi. Lelaki itu hanya menurunkan peti berukir dari tangannya kedasar goa. Tepat di hadapan peti berukir, Lalinggi duduk bersila. Tangannya bersidekap, sedang matanya terpejam.
Ketika waktu berlalu cukup lama, tangan Lalinggi mulai bergerak ke depan. Seluruh otot-otot ditangannya mengejang. Satu telapak tangannya yang terbuka pun tiba di lubang kunci peti berukir. Tak begitu lama, telapak tangan itu menempel, maka asap putih kehitaman mengebul dari sela-sela antara telapak tangan dengan sisi lubang kunci.
Krak!
Tiba-tiba saja peti berukir terbuka bersama suara berderak. Namun, hanya berupa kuakan celah kecil.
“Biar aku yang buka, Kang,” serobot Gumbala tak sabar, mengetahui pengunci peti berukir telah dapat dihancurkan Lalinggi.
“Tunggu dulu!” cegah Lalinggi cepat.
“Jangan berlaku ceroboh!”
Tangan Gumbala urung diulurkan ke peti berukir. Bentakan keras Lalinggi, lumayan membuatnya kaget.
“Kenapa, Kang?” tanya laki-laki berwajah buruk itu.
“Lihat saja...,” kata Lalinggi dingin.
Kemudian laki-laki bercaping ini melepas satu pundi yang digantung di sekitar pinggang. Pundi itu kemudian digulung dengan bajunya, hingga membentuk sebuah bantalan kain.
“Kau pegang penutup peti itu,” ujar Lalinggi pada Gumbala.
“Kalau kubilang buka, kau harus secepatnya membuka penutup peti itu. Mengerti?”
Gumbala hanya mengangguk-angguk.
“Siap...,” Lalinggi memberi aba-aba.
Gumbala yang berada di belakang peti menatap Lalinggi tegang, menanti aba-aba selanjutnya.
Sementara, Lalinggi siap dengan bantalan kain di tangan.
“Buka!” seru Lalinggi.
Secepat kilat, Gumbala menarik penutup peti. Dalam saat yang hampir bersamaan, Lalinggi pun mendekapkan buntalan kain ke mulut peti yang baru saja terkuak.
Blep! Jep! Jep! Jep!
Serentak suara halus terdengar. Sewaktu Lalinggi mengangkat bantalan kain dari mulut peti, terlihatlah puluhan batang bambu beracun berwarna biru kehijauan. Kain pada bagian yang tertancap batang bambu itu tampak kontan terbakar menghitam serta mengepulkan asap sewarna dengan batang- batang bambu.
“Kau lihat,” ujar Lalinggi.
“Kalau kau seenaknya membuka peti ini, pasti sudah mengejang hangus seperti kain ini....”
Mata besar Gumbala terbelalak kian besar. Mungkin lebih besar daripada mata burung hantu. Dan dia hanya menelan ludah. Kalau saja tak dicegah Lalinggi, tentu sudah mampus! Gumbala ngeri membayangkannya.
Lalu, apa isi peti itu sebenarnya?
Sambil tertawa nyaring yang membuat dinding goa bergetar, Lalinggi mengambil isi peti berukir di depannya. Ternyata, sebuah kepala manusia!
“Hua ha ha...! Kau akan hidup kembali Ki Rawe Rontek! Dan kau pasti akan membalas budi baik kami, dengan menurunkan ilmu ‘Rawe Rontek’mu pada kami! Hua ha ha...!”
Tak hanya Lalinggi, Gumbala pun turut terbahak-bahak.
“Kita akan menjadi dua jago persilatan, Kang!” teriak Gumbala.
“Hua ha ha...!”
***
Sementara itu di tepi pantai barat Buleleng malam ini, tampak pula dua laki-laki lain. Seperti Lalinggi dan Gumbala, mereka pun sama-sama menelusuri tepi pantai. Jejak panjang yang ditinggalkan di belakang, menandakan kalau mereka sudah cukup lama berjalan di sana.
Salah seorang lelaki tua bercaping kerucut. Pantulan cahaya rembulan di laut, menerangi samar wajahnya yang berkeriput serta berjanggut. Kekurusan lelaki tua itu menyebabkan tulang pipinya jadi menonjol.
“Tampaknya kita telah didahului, Andika,” kata lelaki tua itu.
Saat ini, mereka telah tiba di batas pantai sebelah selatan. Dan memang pemuda di sebelah laki-laki tua itu adalah Pendekar Slebor. Setelah lelaki tua yang tak lain adalah Ki Lantanggeni itu menyelamatkan Pendekar Slebor dari keroyokan prajurit Buleleng, Andika memang langsung menceritakan tentang kotak berukir. Maka, kini mereka berada di pantai barat Buleleng.
Pendekar Slebor hanya menghela napas. Dia juga seyakin lelaki tua di sebelahnya, kalau peti berukir yang dicari telah diambil orang lain.
“Apakah orang-orang yang mendahului kita Sepasang Datuk Karang, Ki Lantanggeni?” tanya Andika penasaran.
“Besar kemungkinan begitu,” sahut Ki Lantanggeni.
“Bagaimana kalau kita mencari tahu pada penduduk sekitar pantai ini?”
Andika setuju. Maka mereka melangkah ke pedalaman pesisir menuju desa penduduk terdekat untuk mencari keterangan. Siapakah Ki Lantanggeni sebenarnya, sehingga ikut campur dalam masalah peti berukir yang telah menelan beberapa korban nyawa itu?
***
Kira-kira enam puluh tahun lalu, ada seorang tokoh golongan hitam yang memiliki ilmu sesat ‘Rawe Rontek’. Dengan ilmu itu, si Tokoh Sesat amat sulit dibinasakan. Setiap luka yang berhasil merobek kulit tubuhnya, selalu saja menutup kembali tanpa cacat, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Lebih dahsyat lagi, setiap kali bagian tubuhnya terpotong, setiap kali pula bagian tubuh itu menyatu kembali. Bahkan kepalanya sendiri! Di dunia persilatan, dia amat tersohor sebagai Ki Rawe Rontek.
Kisah Ki Rawe Rontek, berasal dari perjalanan hidup seorang pemuda dari sebuah desa kecil bernama Watukarang. Namanya, Lantang. Sejak kecil, pemuda itu memiliki tabiat buruk dan perangai tercela. Seperti bibit perusuh, dia tumbuh dalam kejahatan demi kejahatan. Mencuri, menganiaya, dan membuat kekacauan adalah pekerjaan biasa.
Suatu hari, terjadi perampokan yang mengakibatkan terbunuhnya satu keluarga secara keji. Pada malam yang sama dengan saat perampokan, Lantang pun mempunyai niat buruk pada seorang kembang desa, bernama Saridewi. Cintanya yang selama ini selalu ditolak Saridewi, membuatnya bermata gelap.
Hendak dilarikannya Saridewi, lalu dipaksa untuk dikimpoii. Naas, pada saat mengendap-endap di samping kamar si Kembang Desa, orang tua Saridewi yang terkenal kasar, keluar dan hampir memergokinya. Kontan saja Lantang lari tunggang-langgang, karena begitu takut akan kekasaran lelaki itu.
Saat itulah perampok yang sedang dikejar para penduduk bertemu Lantang. Dengan licik, si Perampok menghajar Lantang seraya meneriakinya perampok. Lantang yang memang tak memiliki kepandaian silat, tak bisa berbuat apa-apa. Dia megap-megap dihajar oleh si Perampok. Bahkan para penduduk yang sudah kalap, tanpa banyak tanya langsung saja menghajarnya habis-habisan.
“Ampun! Ampun! Aku bukan perampok!” teriak Lantang kala itu.
“Ah! Mana ada orang maling yang mau mengaku!” hardik si Perampok dengan mimik sinis penuh kesungguhan.
“Aku Lantang! Aku memang suka berbuat kericuhan, tapi tidak pernah merampok!” sangkal Lantang lagi.
“Kau tidak hanya merampok! Kau juga membantai seluruh keluarga korban dengan golok itu!” tuding si Perampok lagi, seraya menunjuk golok berlumur darah yang sempat diselipkan di balik pakaian Lantang.
Lantang terkesiap. Wajahnya yang sudah babak belur tampak demikian takut. Dikeluarkannya golok dari balik baju. Dengan mata bengkak terbelalak, diperhatikannya senjata itu tanpa bisa berkata sepatah pun. Bibirnya kelu dan pita suaranya seperti tersumpal.
“Ayo, tunggu apa lagi?!” seru si Perampok pada penduduk.
“Cepat cincang dia! Bunuh seperti dia membunuh keluarga korban!”
Amukan penduduk meledak seketika. Pikiran mereka tak lagi jernih. Bersama segenap kekalapan, Lantang dihajar kembali tanpa ampun.
“Sungguh, demi Tuhan! Aku tak pernah merampok atau membunuh!” teriak serak Lantang di antara suara-suara pukulan kayu para penduduk yang menghantam tubuhnya.
0