- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.8K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#98
mumpung lagi semangat buat ngedit sambil ngebaca ulang
Part 3
Sekejapan saja. di belakang suara geletar kain penutup tubuh lelaki tua itu kembali menyusul lengkingan nyaring dari patukan jari Gumbala ke punggungnya yang terbuka. Keberuntungan tampaknya masih mengikuti si Lelaki tua. Kecepatan sambaran tangan Gumbala, tidak bisa mengimbangi putaran tubuhnya. Alhasil. patukan tadi pun lolos begitu saja.
“Aku tak mengerti, apa gunanya peti itu bagi kalian?” kata lelaki tua setelah membentuk kuda-kuda delapan langkah di depan lawannya.
“Kau tak perlu mengerti. Kau hanya perlu mengatakan, di mana kau kubur peti itu. Dengan begitu, kau tak akan kehilangan nyawa!” hardik Gumbala.
Baru saja kata-kata itu kering, tanpa mau menunggu lebih lama, Gumbala melabrak lelaki tua itu.
“Hiiiah!”
Bfing... bfing... bfing!
Dengan maksud mencecar, Gumbala mengirim tiga patukan bertubi-tubi ke arah laki-laki tua itu. Patukan pertama mengarah ke biji mata kanan, yang kedua mengarah ke uluhati, sedang yang ketiga ke daerah kematian di selangkangan.
“Haith... hiah... hih!”
Lelaki tua ini cepat memiringkan tubuh ke kiri dan kanan. Dengan cara itu, dia tak lagi terganggu angin pukulan Gumbala yang menyerbu ke depan. Kemudian....
“Khaaa!”
Beriring satu teriakan menggelegar, tangan laki-laki tua ini mengejang membentuk kepalan. Secepat itu pula dua kepalan tadi dihantamkan ke dada tipis Gumbala di sampingnya.
Wuuubh!
Namun, seorang dari Sepasang Datuk Karang ini cepat bertindak sambil menarik dadanya ke belakang, telapak tangannya cepat disorongkan ke depan. Gumbala mementahkan serangan lawannya, dan langsung melenting berputaran.
“Kau belum berbicara, Tua Bangka?!” seru Gumbala, begitu mendarat di tanah.
“Aku tak akan sudi buka mulut pada manusia-manusia macam kalian!” balas lelaki tua.
“Baik kalau memang begitu maumu!” geram Gumbala.
Selesai berkata penuh ancaman tadi, Gumbala membuka satu jurus baru. Kali ini jurus-jurus andalannya hendak dikerahkan agar urusan cepat selesai. Dalam lima tarikan napas, Gumbala terdengar menggeram bagai erangan naga. Dan tangannya yang masih membentuk paruh gagak dibenamkan di dadanya yang mencekung. Saat berikutnya, tubuh kurus-nya berguncang hebat. Perlahan, sepasang kakinya meregang bagai ditarik kekuatan tak terlihat.
“Huaaa!”
Diawali satu teriakan ganjil, Gumbala meng-hempaskan tangannya ke muka dengan punggung tangan lebih dahulu. Dorongan angin besar seketika pun tercipta, menerpa lelaki tua itu hingga terseret beberapa kaki ke belakang.
Saat selanjutnya keanehan terjadi. Dari setiap ujung jari Gumbala, perlahan menyembul kuku-kuku hitam lancip. Dan setiap kukunya, asap kekuningan terlihat mengambang di sekitarnya. Tampaknya dia sedang memusatkan racun keji pada setiap ujung jarinya. Pada saat lelaki tua itu terpana-pana dalam tatapan tak berkedip, Gumbala tiba-tiba meluruk ke arahnya.
“Hwaaa!”
Teriakan berbau maut dari mulut Gumbala menyentakkan lelaki tua itu, hingga tersadar. Mengetahui lawan akan merangseknya dengan jurus-jurus andalan, lelaki tua itu segera meloloskan keris dari lipatan kain di pinggang.
Sret!
Wes!
Baru sekejap keris pusaka diloloskan, tangan Gumbala menyambar deras ke wajahnya. Seketika sebentuk cahaya kekuningan terbersit dalam bentuk melengkung di ujung sambaran. Lelaki tua itu terkesiap. Disadari benar kalau lengkungan sinar kuning itu akan membuat tubuhnya mengejang biru, jika sedikit saja tersentuh. Karena itu, sebisa mungkin wajahnya dijorokkan ke belakang. Dengan kerisnya, dibabatnya tangan lawan yang menuju wajahnya.
Wesss!
Trang!
Luar biasa! Mata keris yang mampu membelah batu karang ini ternyata tidak berdaya membentur ujung tangan lawan. Senjata itu bagai baru saja menghantam baja murni, hingga menyebabkan timbulnya percikan bunga api. Bahkan tubuhnya sampai terjajar beberapa langkah.
Untuk kedua kalinya lelaki tua itu terpana. Matanya terbelalak besar sebagai ungkapan kekagetan sekaligus kekagumannya. Sayang, keterpanaannya kali ini membuatnya tak ingat pada serangan lawan. Maka kesempatan itu dimanfaatkan benar-benar oleh Gumbala. Seketika satu sodokan mematikan dilancarkan ke depan. Dua tangannya yang berkuku panjang dan tajam langsung dihujamkan ke bagian dada lelaki tua ini.
Cras! Cras!
“Aaakh!”
Satu lengkingan panjang kontan terlontar dari si Lelaki Tua. Tubuhnya sendiri tersentak tertahan dua langkah ke belakang. Kedua tangannya langsung memegangi dadanya yang berlubang kehitaman. Hangus dengan darah membeku. Setelah berdiri limbung beberapa saat, tubuh tua itu tersungkur. Sekujur badannya membiru. Yang lebih menggiriskan setiap lembar rambutnya ber-tebaran disapu angin.
“Kau memang bodoh, Tua Bangka!” sergah Gumbala.
Laki-laki berwajah buruk ini tiba-tiba meludahi mayat laki-laki tua itu. Lalu langsung didekati
kawannya.
“Kita harus mencari tahu dari yang lainnya, Kang. Dia terlalu keras kepala untuk buka mulut,” ujar Gumbala pada Lalinggi.
Yang diajak bicara hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian, keduanya sudah meninggalkan bukit kecil itu bersama gemuruh peti mati terseret.
Tak terasa, telah dua malam Andika menginap di rumah Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg. Dan sore ini, Pendekar Slebor berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Padahal tujuannya saat ini belum bisa dipastikan. Ke mana kaki melangkah, ke sana pula tujuannya. Sebenarnya, jauh di lubuk hati, Idayu Wayan Laksmi tidak ingin Andika pergi. Di samping merasa aman akan kehadiran seorang pendekar muda di rumahnya, dia juga mulai merasakan tumbuhnya benih yang sulit dilukiskan.
“Bagaimana kalau I Made Raka kembali lagi ke sini, Beli?” tanya Idayu Wayan Laksmi sebagai alas an keberatannya terhadap kepergian Andika, ketika mereka berada di luar rumah.
“Kau bisa berdoa pada Tuhan untuk memohon perlindungan. Karena sebaik-baiknya perlindungan, ada di tanganNya,” sahut Andika.
“Biar saja dia pergi Mbok! Dikira hanya dia saja yang bisa menghadapi si Raka!”
I Ktut Regeg yang masih mangkel pada Andika yang melarangnya membuka peti, dengan acuh
bersuara dari dalam rumah gubuk.
“Regeg!” bentak Idayu Wayan Laksmi kesal.
Adiknya itu malah tidak membantunya sama sekali untuk menahan Andika. Andika sendiri hanya tersenyum menahan tawa.
“Tapi Beli janji akan kembali lagi ke sini, bukan?” mohon Idayu Wayan Laksmi, sepenuh hati. Wajah ayunya menampakkan keberatan nan dalam.
“Akan kuusahakan,” jawab Andika, lembut.
“Biarkan dia pergi, Mbok! Dia itu pemuda sombong!” sergah I Ktut Regeg lagi.
Anak muda tanggung itu kini sudah muncul di ambang pintu. Kepalanya dijulurkan dengan wajah ditekuk.
“Waktu itu saja dia mengatakan, tak ingin menjadi kekasih Mbok. Padahal aku sudah setengah
mampus menawarkan Mbok jadi keka....”
I Ktut Regeg memenggal ocehannya, karena tiba-tiba saja kakaknya berbalik dengan mata melotot.
“Keterlaluan kamu, Geg!” hardik Idayu Wayan Laksmi.
I Ktut Regeg cepat menutup mulutnya dengan tangan.
“Eee, ketelepasan,” gumam pemuda tanggung itu enteng.
“Maafkan adikku, Beli, ” tutur Idayu Wayan Laksmi cepat pada Andika.
“Mulutnya memang suka seenaknya berbicara.”
Tampak wajah gadis itu bersemu merah karena menahan malu.
“Tidak apa-apa,” sahut Andika.
Dalam hati, pendekar muda itu ingin sekali menyumpal mulut I Ktut Regeg dengan setumpuk telur busuk.
“Aku pamit, Laksmi,” hatur Andika.
Setelah menjura pada Idayu Wayan Laksmi, Pendekar Slebor pun berbalik dan melangkah pergi.
“Tunggu, Beli...” tahan Idayu Wayan Laksmi.
Gadis itu ingin sekali mengiringi kepergian Andika hingga ke batas desa. Tapi rasa sungkan
membuatnya tak jadi mengungkap keinginan, ketika Andika menoleh.
“Ada apa, Laksmi?” tanya Andika, karena gadis ayu itu tidak juga bicara.
Idayu Wayan Laksmi tergagap, wajahnya kembali dirayapi warna merah merona.
“Tid... tidak apa-apa, Beli” jawab Idayu Wayan Laksmi cepat.
“Aku hanya ingin mengatakan, hati-hati.”
“Terimakasih,” kata Andika, lalu melangkah kembali.
Idayu Wayan Laksmi terus memandangi punggung pemuda itu sampai tertelan kerimbunan semak di kejauhan. Entah disadari atau tidak, mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Mungkin merasa begitu kehilangan pada lelaki tampan yang baru dikenalnya dua hari itu.
Matahari terus merangkak dalam garis edarnya. Pada puncak siang, sinarnya memanggang garang wajah bumi. Suasana menjadi tidak nyaman. Bahkan angin pun terasa panas berhembus. Andika kini telah tiba di suatu daerah berhutan. Berarti, Pendekar Slebor berjalan semalaman hingga siang ini.
Panas yang sejak tadi tak dipedulikannya, kini tidak bisa lagi menyengat karena lindungan daun pepohonan tinggi. Sambil bersiul mendendangkan lagu ceria, Andika menembus hutan yang tak begitu lebat. Dan begitu memasuki pedalaman hutan, telinganya yang terlatih menangkap suara erangan. Langkahnya dihentikan untuk memasang pendengaran lebih tajam.
“Hm.... Kira-kira tiga puluh depa dari sini,” bisik Pendekar Slebor menentukan asal suara itu.
Cepat Pendekar Slebor menggenjot tubuhnya. Naluri kependekarannya langsung memerintah untuk segera tiba. Maka segera dikerahkannya ilmu meringankan tubuh, sehingga sekejap saja tubuhnya sudah berkelebatan dari satu pohon ke pohon lain. Bahkan lebih cepat daripada macan kumbang, dan lebih tangkas dari seekor kera.
Tak lama Pendekar Slebor berkelebat, kini telah tiba di tempat kejadian. Tampak di depan sana seorang wanita tua terkapar di tanah. Erangannya masih terdengar. Hanya sudah demikian lirih. Tubuhnya berusaha merangkak, namun hanya sempat menggapai-gapaikan tangan saja. Tubuhnya begitu lemah, akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka menganga di bahu kirinya. Andika cepat menghampiri. Diangkatnya tubuh lemah wanita tua itu, lalu disandarkan ke pahanya.
“Kenapa Odah*? Apa yang terjadi?” tanya Andika.
“Me... mereka menginginkan peti itu...,” gumam wanita tua itu lemah.
“Peti apa, Odah?” susul Andika, tak mengerti.
“Pe...”
Hembusan napas panjang terdengar. Seketika nyawa wanita malang itu telah berakhir menyedihkan. Andika meninju tanah geram. Bukan karena belum sempat mengetahui maksud yang hendak disampai-kan wanita tua di pangkuannya, melainkan gundah tak sempat memberi pertolongan.
“Manusia keparat mana lagi yang melakukan perbuatan biadab ini?” desis Pendekar Slebor sambil meletakkan kepala si Wanita tua ke tanah.
Dan baru saja kepala wanita tua itu menyentuh tanah, di kejauhan terdengar teriakan tinggi mengangkasa. Pendekar Slebor bergegas bangkit. Kembali matanya menatap mayat wanita tua itu.
“Aku akan kembali untuk menguburmu dengan layak, Odah, ” kata Andika sebelum menggenjot
tubuhnya.
Tak memakan waktu lama, Andika sudah dapat menemukan tempat yang dituju. Tampak dua lelaki sedang mengeroyok lelaki tua berusia tak berbeda dengan wanita tua yang ditemui sebelumnya. Kira- kira sembilan puluh tahun. Lelaki tua yang sedang habis-habisan dikeroyok itu berambut putih merata, layaknya orang berusia lanjut. Tak seperti orang Bali pada umumnya, jubah yang dikenakannya berwarna biru tua dengan pangsi hitam. Wajahnya berkesan keras, namun sinar matanya sejuk. Kumisnya tebal memutih menghiasi wajahnya yang berwibawa.
Sementara dua lelaki yang sedang bernafsu hendak menghabisinya, yang seorang mengenakan caping dan seorang lagi berwajah buruk. Tak salah lagi, mereka adalah Sepasang Datuk Karang yang selalu menyeret peti mati besar. Keadaan gawat yang dialami si Lelaki tua itu membuat Andika secepatnya memutuskan untuk campur tangan.
“Berhenti!” seru Pendekar Slebor lantang dari jarak dua puluh lima tombak.
Sepasang Datuk Karang langsung menghentikan tekanan mereka pada laki-laki tua yang sudah dibasahi cucuran darah dari sudut bibirnya. Keduanya segera menoleh berbarengan ke arah Andika.
“Mau apa kau?!” bentak orang yang bernama Gumbala kasar. Matanya berkilat bengis, seakan siap menyantap pendekar muda itu.
“Ah, ah, ah! Bukan kau yang mesti bertanya, tapi aku! Mau apa kalian terhadap lelaki tua itu?!” balas Pendekar Slebor, tak kalah kasar. Jangan tanya, bagaimana bencinya Andika terhadap orang yang sok berkuasa seperti Gumbala.
“Bocah busuk!” maki Gumbala menggeram.
Kaki laki-laki berwajah buruk itu melangkah gusar hendak memberi sedikit pelajaran pada pemuda yang dianggap hijau yang punya nyali mengusik mereka. Lalinggi, lelaki yang bercaping segera mencegah. Dibentangkannya sebelah tangan di depan Gumbala.
“Anak Muda! Kami harap kau tak ikut campur pada urusan kami. Kami hanya ingin lelaki tua itu
mengatakan sesuatu pada kami, tapi....”
“Tapi kenapa kalian memaksanya juga?!” serobot Pendekar Slebor, tak peduli.
“Banyak mulut kau...!” Gumbala kian tak sabar.
Sekali lagi, Lalinggi menahan kawannya.
“Sekali lagi kukatakan padamu, Anak Muda. Jangan campuri urusan kami,” ancam Lalinggi dingin.
“Hmmm....”
Andika mengangguk-angguk dengan wajah mencemooh. Tangannya mengusap-usap dagu, seolah seorang guru sedang menilai kedua muridnya yang nakal.
“Apa orang tua kalian tidak pernah memberitahu, kalau memaksa orang lain adalah perbuatan yang tak se... no... nohhh!” hardik Pendekar Slebor dengan mata membulat.
Andika lantas mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tua yang jadi korban keroyokan Sepasang Datuk Karang.
“Pak Tua, izinkan aku sendiri mendidik dua bocah tak tahu adat ini! Mungkin aku perlu memberi sedikit jeweran di telinga masing-masing...,” kata Pendekar Slebor dengan wajah dibuat judes.
Sampai di situ, Lalinggi pun terpancing. Kemarahannya akhirnya pecah juga. Hanya tokoh persilatan yang tak memiliki harga diri yang sudi diperlakukan seperti anak kecil.
“Kau boleh menghajarnya sekarang, Gumbala,” ucap Lalinggi.
“Biar kuurus lelaki tua itu.”
Seperti diberi kesempatan untuk bersenang-senang, Gumbala maju bernafsu ke arah Pendekar Slebor.
“Bersiaplah. Karena mulutmu akan segera kurobek, Bocah Busuk!” geram Gumbala sambil membuka jurus ‘Paruh Gagak’nya.
“Heeeaaa!”
Teriakan serak tercipta bersama terjangan tubuh kurus Gumbala. Diterkamnya Pendekar Slebor dengan satu lompatan ke udara. Sepasang tangannya yang berbentuk paruh gagak, membuat serentetan cabikan ke depan. Sasarannya, tentu saja wajah pemuda di depannya. Meski lawan sudah siap merobek-robek wajahnya, Pendekar Slebor masih sempat tersenyum-senyum mengejek. Sewaktu wajah buruk Gumbala mengeras karena teriakan, Andika pun menarik otot-otot wajahnya, hingga terlihat seperti orang telat buang air.
“Waaa! Ada setan laut ngamuk!” jerit Pendekar Slebor dibuat-buat.
Ketika tangan Gumbala nyaris tiba di wajahnya, barulah Andika berkelit secepat kilat ke satu sisi.
Krak! Glarrr...!
Part 3
Sekejapan saja. di belakang suara geletar kain penutup tubuh lelaki tua itu kembali menyusul lengkingan nyaring dari patukan jari Gumbala ke punggungnya yang terbuka. Keberuntungan tampaknya masih mengikuti si Lelaki tua. Kecepatan sambaran tangan Gumbala, tidak bisa mengimbangi putaran tubuhnya. Alhasil. patukan tadi pun lolos begitu saja.
“Aku tak mengerti, apa gunanya peti itu bagi kalian?” kata lelaki tua setelah membentuk kuda-kuda delapan langkah di depan lawannya.
“Kau tak perlu mengerti. Kau hanya perlu mengatakan, di mana kau kubur peti itu. Dengan begitu, kau tak akan kehilangan nyawa!” hardik Gumbala.
Baru saja kata-kata itu kering, tanpa mau menunggu lebih lama, Gumbala melabrak lelaki tua itu.
“Hiiiah!”
Bfing... bfing... bfing!
Dengan maksud mencecar, Gumbala mengirim tiga patukan bertubi-tubi ke arah laki-laki tua itu. Patukan pertama mengarah ke biji mata kanan, yang kedua mengarah ke uluhati, sedang yang ketiga ke daerah kematian di selangkangan.
“Haith... hiah... hih!”
Lelaki tua ini cepat memiringkan tubuh ke kiri dan kanan. Dengan cara itu, dia tak lagi terganggu angin pukulan Gumbala yang menyerbu ke depan. Kemudian....
“Khaaa!”
Beriring satu teriakan menggelegar, tangan laki-laki tua ini mengejang membentuk kepalan. Secepat itu pula dua kepalan tadi dihantamkan ke dada tipis Gumbala di sampingnya.
Wuuubh!
Namun, seorang dari Sepasang Datuk Karang ini cepat bertindak sambil menarik dadanya ke belakang, telapak tangannya cepat disorongkan ke depan. Gumbala mementahkan serangan lawannya, dan langsung melenting berputaran.
“Kau belum berbicara, Tua Bangka?!” seru Gumbala, begitu mendarat di tanah.
“Aku tak akan sudi buka mulut pada manusia-manusia macam kalian!” balas lelaki tua.
“Baik kalau memang begitu maumu!” geram Gumbala.
Selesai berkata penuh ancaman tadi, Gumbala membuka satu jurus baru. Kali ini jurus-jurus andalannya hendak dikerahkan agar urusan cepat selesai. Dalam lima tarikan napas, Gumbala terdengar menggeram bagai erangan naga. Dan tangannya yang masih membentuk paruh gagak dibenamkan di dadanya yang mencekung. Saat berikutnya, tubuh kurus-nya berguncang hebat. Perlahan, sepasang kakinya meregang bagai ditarik kekuatan tak terlihat.
“Huaaa!”
Diawali satu teriakan ganjil, Gumbala meng-hempaskan tangannya ke muka dengan punggung tangan lebih dahulu. Dorongan angin besar seketika pun tercipta, menerpa lelaki tua itu hingga terseret beberapa kaki ke belakang.
Saat selanjutnya keanehan terjadi. Dari setiap ujung jari Gumbala, perlahan menyembul kuku-kuku hitam lancip. Dan setiap kukunya, asap kekuningan terlihat mengambang di sekitarnya. Tampaknya dia sedang memusatkan racun keji pada setiap ujung jarinya. Pada saat lelaki tua itu terpana-pana dalam tatapan tak berkedip, Gumbala tiba-tiba meluruk ke arahnya.
“Hwaaa!”
Teriakan berbau maut dari mulut Gumbala menyentakkan lelaki tua itu, hingga tersadar. Mengetahui lawan akan merangseknya dengan jurus-jurus andalan, lelaki tua itu segera meloloskan keris dari lipatan kain di pinggang.
Sret!
Wes!
Baru sekejap keris pusaka diloloskan, tangan Gumbala menyambar deras ke wajahnya. Seketika sebentuk cahaya kekuningan terbersit dalam bentuk melengkung di ujung sambaran. Lelaki tua itu terkesiap. Disadari benar kalau lengkungan sinar kuning itu akan membuat tubuhnya mengejang biru, jika sedikit saja tersentuh. Karena itu, sebisa mungkin wajahnya dijorokkan ke belakang. Dengan kerisnya, dibabatnya tangan lawan yang menuju wajahnya.
Wesss!
Trang!
Luar biasa! Mata keris yang mampu membelah batu karang ini ternyata tidak berdaya membentur ujung tangan lawan. Senjata itu bagai baru saja menghantam baja murni, hingga menyebabkan timbulnya percikan bunga api. Bahkan tubuhnya sampai terjajar beberapa langkah.
Untuk kedua kalinya lelaki tua itu terpana. Matanya terbelalak besar sebagai ungkapan kekagetan sekaligus kekagumannya. Sayang, keterpanaannya kali ini membuatnya tak ingat pada serangan lawan. Maka kesempatan itu dimanfaatkan benar-benar oleh Gumbala. Seketika satu sodokan mematikan dilancarkan ke depan. Dua tangannya yang berkuku panjang dan tajam langsung dihujamkan ke bagian dada lelaki tua ini.
Cras! Cras!
“Aaakh!”
Satu lengkingan panjang kontan terlontar dari si Lelaki Tua. Tubuhnya sendiri tersentak tertahan dua langkah ke belakang. Kedua tangannya langsung memegangi dadanya yang berlubang kehitaman. Hangus dengan darah membeku. Setelah berdiri limbung beberapa saat, tubuh tua itu tersungkur. Sekujur badannya membiru. Yang lebih menggiriskan setiap lembar rambutnya ber-tebaran disapu angin.
“Kau memang bodoh, Tua Bangka!” sergah Gumbala.
Laki-laki berwajah buruk ini tiba-tiba meludahi mayat laki-laki tua itu. Lalu langsung didekati
kawannya.
“Kita harus mencari tahu dari yang lainnya, Kang. Dia terlalu keras kepala untuk buka mulut,” ujar Gumbala pada Lalinggi.
Yang diajak bicara hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian, keduanya sudah meninggalkan bukit kecil itu bersama gemuruh peti mati terseret.
***
Tak terasa, telah dua malam Andika menginap di rumah Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg. Dan sore ini, Pendekar Slebor berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Padahal tujuannya saat ini belum bisa dipastikan. Ke mana kaki melangkah, ke sana pula tujuannya. Sebenarnya, jauh di lubuk hati, Idayu Wayan Laksmi tidak ingin Andika pergi. Di samping merasa aman akan kehadiran seorang pendekar muda di rumahnya, dia juga mulai merasakan tumbuhnya benih yang sulit dilukiskan.
“Bagaimana kalau I Made Raka kembali lagi ke sini, Beli?” tanya Idayu Wayan Laksmi sebagai alas an keberatannya terhadap kepergian Andika, ketika mereka berada di luar rumah.
“Kau bisa berdoa pada Tuhan untuk memohon perlindungan. Karena sebaik-baiknya perlindungan, ada di tanganNya,” sahut Andika.
“Biar saja dia pergi Mbok! Dikira hanya dia saja yang bisa menghadapi si Raka!”
I Ktut Regeg yang masih mangkel pada Andika yang melarangnya membuka peti, dengan acuh
bersuara dari dalam rumah gubuk.
“Regeg!” bentak Idayu Wayan Laksmi kesal.
Adiknya itu malah tidak membantunya sama sekali untuk menahan Andika. Andika sendiri hanya tersenyum menahan tawa.
“Tapi Beli janji akan kembali lagi ke sini, bukan?” mohon Idayu Wayan Laksmi, sepenuh hati. Wajah ayunya menampakkan keberatan nan dalam.
“Akan kuusahakan,” jawab Andika, lembut.
“Biarkan dia pergi, Mbok! Dia itu pemuda sombong!” sergah I Ktut Regeg lagi.
Anak muda tanggung itu kini sudah muncul di ambang pintu. Kepalanya dijulurkan dengan wajah ditekuk.
“Waktu itu saja dia mengatakan, tak ingin menjadi kekasih Mbok. Padahal aku sudah setengah
mampus menawarkan Mbok jadi keka....”
I Ktut Regeg memenggal ocehannya, karena tiba-tiba saja kakaknya berbalik dengan mata melotot.
“Keterlaluan kamu, Geg!” hardik Idayu Wayan Laksmi.
I Ktut Regeg cepat menutup mulutnya dengan tangan.
“Eee, ketelepasan,” gumam pemuda tanggung itu enteng.
“Maafkan adikku, Beli, ” tutur Idayu Wayan Laksmi cepat pada Andika.
“Mulutnya memang suka seenaknya berbicara.”
Tampak wajah gadis itu bersemu merah karena menahan malu.
“Tidak apa-apa,” sahut Andika.
Dalam hati, pendekar muda itu ingin sekali menyumpal mulut I Ktut Regeg dengan setumpuk telur busuk.
“Aku pamit, Laksmi,” hatur Andika.
Setelah menjura pada Idayu Wayan Laksmi, Pendekar Slebor pun berbalik dan melangkah pergi.
“Tunggu, Beli...” tahan Idayu Wayan Laksmi.
Gadis itu ingin sekali mengiringi kepergian Andika hingga ke batas desa. Tapi rasa sungkan
membuatnya tak jadi mengungkap keinginan, ketika Andika menoleh.
“Ada apa, Laksmi?” tanya Andika, karena gadis ayu itu tidak juga bicara.
Idayu Wayan Laksmi tergagap, wajahnya kembali dirayapi warna merah merona.
“Tid... tidak apa-apa, Beli” jawab Idayu Wayan Laksmi cepat.
“Aku hanya ingin mengatakan, hati-hati.”
“Terimakasih,” kata Andika, lalu melangkah kembali.
Idayu Wayan Laksmi terus memandangi punggung pemuda itu sampai tertelan kerimbunan semak di kejauhan. Entah disadari atau tidak, mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Mungkin merasa begitu kehilangan pada lelaki tampan yang baru dikenalnya dua hari itu.
***
Matahari terus merangkak dalam garis edarnya. Pada puncak siang, sinarnya memanggang garang wajah bumi. Suasana menjadi tidak nyaman. Bahkan angin pun terasa panas berhembus. Andika kini telah tiba di suatu daerah berhutan. Berarti, Pendekar Slebor berjalan semalaman hingga siang ini.
Panas yang sejak tadi tak dipedulikannya, kini tidak bisa lagi menyengat karena lindungan daun pepohonan tinggi. Sambil bersiul mendendangkan lagu ceria, Andika menembus hutan yang tak begitu lebat. Dan begitu memasuki pedalaman hutan, telinganya yang terlatih menangkap suara erangan. Langkahnya dihentikan untuk memasang pendengaran lebih tajam.
“Hm.... Kira-kira tiga puluh depa dari sini,” bisik Pendekar Slebor menentukan asal suara itu.
Cepat Pendekar Slebor menggenjot tubuhnya. Naluri kependekarannya langsung memerintah untuk segera tiba. Maka segera dikerahkannya ilmu meringankan tubuh, sehingga sekejap saja tubuhnya sudah berkelebatan dari satu pohon ke pohon lain. Bahkan lebih cepat daripada macan kumbang, dan lebih tangkas dari seekor kera.
Tak lama Pendekar Slebor berkelebat, kini telah tiba di tempat kejadian. Tampak di depan sana seorang wanita tua terkapar di tanah. Erangannya masih terdengar. Hanya sudah demikian lirih. Tubuhnya berusaha merangkak, namun hanya sempat menggapai-gapaikan tangan saja. Tubuhnya begitu lemah, akibat terlalu banyak mengeluarkan darah dari luka menganga di bahu kirinya. Andika cepat menghampiri. Diangkatnya tubuh lemah wanita tua itu, lalu disandarkan ke pahanya.
“Kenapa Odah*? Apa yang terjadi?” tanya Andika.
“Me... mereka menginginkan peti itu...,” gumam wanita tua itu lemah.
“Peti apa, Odah?” susul Andika, tak mengerti.
“Pe...”
Hembusan napas panjang terdengar. Seketika nyawa wanita malang itu telah berakhir menyedihkan. Andika meninju tanah geram. Bukan karena belum sempat mengetahui maksud yang hendak disampai-kan wanita tua di pangkuannya, melainkan gundah tak sempat memberi pertolongan.
“Manusia keparat mana lagi yang melakukan perbuatan biadab ini?” desis Pendekar Slebor sambil meletakkan kepala si Wanita tua ke tanah.
Dan baru saja kepala wanita tua itu menyentuh tanah, di kejauhan terdengar teriakan tinggi mengangkasa. Pendekar Slebor bergegas bangkit. Kembali matanya menatap mayat wanita tua itu.
“Aku akan kembali untuk menguburmu dengan layak, Odah, ” kata Andika sebelum menggenjot
tubuhnya.
Tak memakan waktu lama, Andika sudah dapat menemukan tempat yang dituju. Tampak dua lelaki sedang mengeroyok lelaki tua berusia tak berbeda dengan wanita tua yang ditemui sebelumnya. Kira- kira sembilan puluh tahun. Lelaki tua yang sedang habis-habisan dikeroyok itu berambut putih merata, layaknya orang berusia lanjut. Tak seperti orang Bali pada umumnya, jubah yang dikenakannya berwarna biru tua dengan pangsi hitam. Wajahnya berkesan keras, namun sinar matanya sejuk. Kumisnya tebal memutih menghiasi wajahnya yang berwibawa.
Sementara dua lelaki yang sedang bernafsu hendak menghabisinya, yang seorang mengenakan caping dan seorang lagi berwajah buruk. Tak salah lagi, mereka adalah Sepasang Datuk Karang yang selalu menyeret peti mati besar. Keadaan gawat yang dialami si Lelaki tua itu membuat Andika secepatnya memutuskan untuk campur tangan.
“Berhenti!” seru Pendekar Slebor lantang dari jarak dua puluh lima tombak.
Sepasang Datuk Karang langsung menghentikan tekanan mereka pada laki-laki tua yang sudah dibasahi cucuran darah dari sudut bibirnya. Keduanya segera menoleh berbarengan ke arah Andika.
“Mau apa kau?!” bentak orang yang bernama Gumbala kasar. Matanya berkilat bengis, seakan siap menyantap pendekar muda itu.
“Ah, ah, ah! Bukan kau yang mesti bertanya, tapi aku! Mau apa kalian terhadap lelaki tua itu?!” balas Pendekar Slebor, tak kalah kasar. Jangan tanya, bagaimana bencinya Andika terhadap orang yang sok berkuasa seperti Gumbala.
“Bocah busuk!” maki Gumbala menggeram.
Kaki laki-laki berwajah buruk itu melangkah gusar hendak memberi sedikit pelajaran pada pemuda yang dianggap hijau yang punya nyali mengusik mereka. Lalinggi, lelaki yang bercaping segera mencegah. Dibentangkannya sebelah tangan di depan Gumbala.
“Anak Muda! Kami harap kau tak ikut campur pada urusan kami. Kami hanya ingin lelaki tua itu
mengatakan sesuatu pada kami, tapi....”
“Tapi kenapa kalian memaksanya juga?!” serobot Pendekar Slebor, tak peduli.
“Banyak mulut kau...!” Gumbala kian tak sabar.
Sekali lagi, Lalinggi menahan kawannya.
“Sekali lagi kukatakan padamu, Anak Muda. Jangan campuri urusan kami,” ancam Lalinggi dingin.
“Hmmm....”
Andika mengangguk-angguk dengan wajah mencemooh. Tangannya mengusap-usap dagu, seolah seorang guru sedang menilai kedua muridnya yang nakal.
“Apa orang tua kalian tidak pernah memberitahu, kalau memaksa orang lain adalah perbuatan yang tak se... no... nohhh!” hardik Pendekar Slebor dengan mata membulat.
Andika lantas mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tua yang jadi korban keroyokan Sepasang Datuk Karang.
“Pak Tua, izinkan aku sendiri mendidik dua bocah tak tahu adat ini! Mungkin aku perlu memberi sedikit jeweran di telinga masing-masing...,” kata Pendekar Slebor dengan wajah dibuat judes.
Sampai di situ, Lalinggi pun terpancing. Kemarahannya akhirnya pecah juga. Hanya tokoh persilatan yang tak memiliki harga diri yang sudi diperlakukan seperti anak kecil.
“Kau boleh menghajarnya sekarang, Gumbala,” ucap Lalinggi.
“Biar kuurus lelaki tua itu.”
Seperti diberi kesempatan untuk bersenang-senang, Gumbala maju bernafsu ke arah Pendekar Slebor.
“Bersiaplah. Karena mulutmu akan segera kurobek, Bocah Busuk!” geram Gumbala sambil membuka jurus ‘Paruh Gagak’nya.
“Heeeaaa!”
Teriakan serak tercipta bersama terjangan tubuh kurus Gumbala. Diterkamnya Pendekar Slebor dengan satu lompatan ke udara. Sepasang tangannya yang berbentuk paruh gagak, membuat serentetan cabikan ke depan. Sasarannya, tentu saja wajah pemuda di depannya. Meski lawan sudah siap merobek-robek wajahnya, Pendekar Slebor masih sempat tersenyum-senyum mengejek. Sewaktu wajah buruk Gumbala mengeras karena teriakan, Andika pun menarik otot-otot wajahnya, hingga terlihat seperti orang telat buang air.
“Waaa! Ada setan laut ngamuk!” jerit Pendekar Slebor dibuat-buat.
Ketika tangan Gumbala nyaris tiba di wajahnya, barulah Andika berkelit secepat kilat ke satu sisi.
Krak! Glarrr...!
0