- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#90
Part 1
Buleleng. Suatu daerah yang cukup indah di Pulau Dewata-Bali. Purnama mengambang diangkasa. Bisu dengan bias cahayanya yang lembut. Bintang-bintang yang bertaburan mengintip dari celah awan tipis yang bergerak lamban. Seakan, benda-benda langit itu mewarnai Hari Raya Galungan yang dirayakan hari ini.
Seluruh penduduk Buleleng pada hari keramat seperti ini selalu mempersembahkan sesaji untuk para dewa, diiringi tarian gadis-gadis cantik dan para pemuda tampan. Cokorde* Buleleng telah meninggalkan upacara. Sementara acara terus dijalin oleh pergantian pasangan tari.
Di antara puluhan orang yang meramaikan kemeriahan upacara, berdiri seorang pemuda tampan di sisi sebuah gapura. Pakaiannya sederhana, terdiri dari baju hijau dan celana hijau pula. Pada bahunya yang kekar tersampir sehelai kain bercorak catur. Sementara tubuhnya bersender di gapura, angin malam nan dingin menjamah wajah tampan serta rambut sepanjang bahu yang tak tertata itu. Matanya yang seperkasa elang, menikmati gelora tari yang sedang dipergelarkan.
Sesekali pemuda itu terlihat menarik napas dalam-dalam. Entah apa yang menyebabkannya begitu. Mungkin sekadar ungkapan keterpesonaannya pada keindahan tari. Atau mungkin hanya ingin menikmati hawa malam. Atau bisa jadi ada sebab lain. Karena, matanya saat itu sedang tertuju lekat pada dara penari di depan sana.
“Idayu Wayan Laksmi cantik bukan, Beli*?” usik seorang pemuda tanggung di sebelahnya.
“Apa?” pemuda berpakaian hijau itu malah balik bertanya, karena belum menangkap arah ucapan pemuda tanggung ini.
“Itu, penari itu. Dia begitu menawan, bukan?” tegas pemuda tanggung tadi.
“Ooo, ya, ya. Betul,” kata pemuda berpakaian hijau-hijau membenarkan sambil mengangguk-angguk.
“Namanya Idayu Wayan Laksmi.”
“Apa?”
“Namanya Idayu Wayan Laskmi,” ulang si Pemuda tanggung.
“Ooo....” lagi-lagi pemuda berpakaian hijau-hijau membulatkan bibirnya,
“Dari mana kau tahu?”
Pemuda tanggung bertelanjang dada dan mengenakan penutup kain di pinggang hingga betis itu tersenyum bangga.
“Tentu saja aku kenal. Dia kan, Mbok* saya!” cetusnya.
Pemuda berpakaian hijau-hijau itu tertawa ringan.
“Kenapa Beli tertawa?”
“Rupanya kau punya tujuan tertentu membangga-banggakan kakakmu, ya?” ujar pemuda berpakaian hijau-hijau menggoda.
“Ah, kata siapa?” sangkal pemuda tanggung dengan wajah asam.
“Kataku.”
“Ah! Mbok-ku terlalu cantik untuk orang semacam Beli!” kilah pemuda tanggung itu lagi. Tanpa Sadar telah dilontarkan sendiri tujuannya membangga-banggakan kakak perempuannya.
Pemuda berpakaian hijau-hijau itu mengangkat bahu.
“Ya sudah, kalau kau tak memerlukan aku,” kata pemuda berpakaian hijau seraya melangkah hendak pergi dari tempat itu.
“Beli tunggu!” tahan si Pemuda tanggung.
“Nan, kan?” goda pemuda yang penampilannya aneh itu. Langkahnya dihentikan.
“Kenapa?”
“Beli jadi kekasih Mbok-ku, ya?” kata si Pemuda tanggung ini.
Jawaban itu membuat lelaki muda yang diajak bicara tertawa kembali lebih keras.
“Sinting kau, ya?” gurau pemuda yang pada bahunya tersampir kain bercorak papan catur itu.
“Kenal pun belum, tahu-tahu saja kau sewenang-wenang menjodohkan orang!”
“Tolonglah, Beli...” pintanya memelas.
Pemuda tampan dan gagah di depannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bibirnya memperlihatkan senyum, seperti seekor sapi tolol.
“Yaaa, aku sih mau saja. Siapa sih, yang sudi menolak gadis cantik seperti kakakmu. Tapi kenapa kau begitu ngotot menjodohkan aku dengan kakakmu? Apa...,” didekatinya pemuda tanggung itu
“Kakakmu kakinya berbulu ya? Jadi, tidak ada pemuda yang mendekatinya?”
Pemuda tanggung itu langsung membelalak sewot. Ingin rasanya menyemprot pemuda acuh yang membisikinya itu.
“Aaah! Jangan cepat naik darah! Aku hanya bergurau, kok!” kata pemuda acuh itu, sebelum pemuda tanggung di depannya berkata.
“Jadi Beli mau, bukan?” desak si Pemuda tanggung.
“Kalau mau, bagaimana?”
“Jangan nafsu dulu, Beli!”
Pemuda berambut gondrong di depannya mengumpat dalam hati.
“Bisa-bisanya anak ini menembakku dengan ucapan itu!”
“Ada syaratnya, Beli!” kata pemuda tanggung itu.
“Apa?”
“Nama Beli siapa?”
“Andika,” jawab pemuda berpakaian hijau yang ternyata Andika. Dialah pendekar muda yang begitu terkenal sebagai Pendekar Slebor.
“Beli Andika seorang pendekar?” lanjut si Pemuda tanggung.
“Ngg..., orang bilang begitu.”
“Pokoknya Beli harus seorang pendekar. Kalau tidak, ya tak jadi....”
Andika mengerutkan kening. Apa hubungannya kependekarannya dengan kakak perempuan si Pemuda tanggung ini? Keingintahuannya membuat Andika jadi bertanya-tanya.
“Memangnya kenapa?” tanya Andika.
Pemuda tanggung itu segera menarik Andika ke balik gapura. Matanya melirik takut-takut ke
beberapa arah, seakan takut ada orang mengawasi. Di balik gapura dibisikinya Andika dengan suara amat perlahan.
“I Made Raka, punya niat jahat sama Mbok...” jelas pemuda tanggung itu.
“Siapa I Made Raka?” tanya Andika sambil menautkan sepasang alisnya.
“Dia amat ditakuti di banyak Banjar*” jelas pemuda tanggung.
“Dia jatuh hati pada Mbok. Tapi, Mbok tidak mau karena tabiat dan prilakunya tidak senonoh dan kejam.”
“Rupanya dia jawara, ya?” tanya Andika.
“Lagi pula, I Made Raka suka mempermainkan wanita, Beli. Sudah dipermainkan, ditinggal begitu saja tanpa dinikahi. Banyak wanita yang bisulan gara-gara dia....”
“Bisulan?” Andika tak mengerti.
“Begini....”
Si Pemuda tanggung itu membusungkan perutnya sambil memberi isyarat dengan kedua tangan.
“Kini, Mbok-ku lah yang mulai diincarnya. Dan sebelum berangkat ke upacara tadi, sempat kudengar dia berbicara dengan dua kaki tangan I Made Raka. Kelihatannya, mereka berniat busuk pada Mbok Laksmi!” sambung si Pemuda tanggung.
“Beli mesti tolong dia!”
“Kenapa mesti aku?” tanya Andika.
“Apa tidak ada orang yang berani menghadapi kecoak-kecoak kudis macam mereka?”
Si Pemuda tanggung lebih mendekat ke telinga Andika. Sebentar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Sebab I Made Raka masih keluarga dekat Cokorde...”
Andika mengangguk-angguk. Rupanya, orang yang bernama I Made Raka tergolong manusia yang menerapkan aji mumpung, dengan memanfaatkan ke-kuasaan seorang keluarganya untuk berbuat semena-mena. Manusia macam begini mesti dibuat kerak bubur!
“Bagaimana, Beli!” pancing si Pemuda tanggung itu, memenggal kata hati Andika.
“Bagaimana apanya?”
“Mau kan, jadi kekasih Mbok-ku?”
“Mmm. Kalau menolong kakakmu dari manusia itu, aku mau. Tapi tidak untuk kekasihnya...,” tutur Andika.
“Huh, sombong!” maki si Pemuda tanggung itu, merasa tersinggung.
Andika menyeringai bodoh. Tak terasa dia jadi menggerutu sendiri.
“Memangnya aku ini apa? Kambing congek yang gampang diamprok-amprokkan?”
“Kenapa Beli?”
“Ah, tidaaak....”
Malam terus beranjak makin larut. Tengah malam terlewati tanpa terasa. Upacara Galungan telah selesai beberapa saat lalu. Sementara para pengunjung telah kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg, adiknya yang telah berbicara dengan Andika beberapa saat lalu.
Pendekar Slebor sendiri tidak terlihat bersama mereka. Pendekar muda Tanah Jawa Dwipa ini berada di sekitar lima belas kaki di belakang kedua kakak beradik itu. Dia mengintai sambil berjalan di antara semak yang tumbuh di sisi jalan setapak.
“Ada pemuda asing yang ingin berkenalan dengan Mbok Laksmi,” cetus I Ktut Regeg seraya tetap melangkah di sisi kakaknya.
“Waktu Mbok menari, kukatakan kalau Mbok kembang Buleleng. Eee, tampaknya dia tertarik sama Mbok.”
Idayu Wayan Laksmi di sampingnya membelalak-kan mata. Gadis ini amat tahu, siapa I Ktut Regeg. Seorang adik yang begitu membanggakan kecantikan kakaknya secara berlebihan. Sehingga, terkadang dia seperti seorang penjual patung yang sedang memuji-muji dagangannya sendiri pada pembeli.
“Dia yang bertanya padaku kok, Mbok, ” sergah I Ktut Regeg, berbohong. Sementara, kakaknya terus memelototi.
“Mbok pasti tidak akan melotot seperti itu, kalau sudah melihat orangnya. Dia tampan, lho. Biarpun yahhh..., penampilannya agak berantakan....”
Di semak-semak, kini giliran Andika melotot kesal.
“Setelah urusan ini selesai akan kusumpal mulut lancangmu dengan kotoran kerbau!” ancam Andika dalam hati.
Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg terus melanjutkan langkah sambil berbincang ringan. Dibelakang mereka, Andika tetap menguntit tanpa diketahui. Sepanjang perjalanan, berkali-kali matanya mengawasi wajah Idayu Wayan Laksmi ketika menengok ke belakang. Menurut Andika, wanita itu memang luar biasa. Kecantikannya yang terpancar di wajahnya begitu mempesona. Matanya bulat menggemaskan dengan bulu lentik bagai gapaian tangan bidadari. Apalagi dengan tanda hitam yang diletakkan pada kedua pangkal hidungnya di bawah dahi. Makin menggemaskan saja. Di atas mata itu, sepasang alis tipis namun hitam tumbuh memikat. Hidungnya amat pas dengan bentuk bibir yang tipis memerah. Sementara bagian bawah bibirnya, tampak bagai buah ranum menggoda.
Wanita itu mengenakan kain yang dibebatkan sebagai penutup tubuhnya. Pinggangnya dililit selendang ‘Tengkulang’. Sedang rambutnya digelung gaya khas Bali, dihiasi bebungaan. Berbeda dengan adiknya, yang bertubuh kurus dan agak hitam. Sedangkan Idayu Wayan Laksmi berkulit kuning langsat. Tubuhnya pun sintal. Tak heran kalau banyak pria yang jatuh hati padanya.
Tanpa terasa mereka telah berjalan cukup jauh. Rumah kedua kakak beradik itu mungkin sudah dekat. Namun sepanjang perjalanan belum ada tanda-tanda kalau I Made Raka muncul seperti cerita I Ktut Regeg. Andika pun mulai berpikir kalau dirinya telah dibodohi seorang pembual kecil bernama I Ktut Regeg.
Ketika kesabaran Andika sudah nyaris habis, mendadak tiga kelebat bayangan masuk ke jalan setapak dari semak-semak. Mereka langsung menghadang Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg.
“I Made Raka,” bisik Idayu Wayan Laksmi takut-takut, saat melihat siapa penghadangnya.
“Ya, aku. Kau terkejut, Geg*?” tegur I Made Raka dengan bibir mengumbar senyum nakal.
Lelaki itu berwajah cukup tampan. Tubuhnya agak kurus dan mengenakan bebatan kain batik sutera. Kepalanya yang berambut sepanjang bahu ditutup kain berujung lancip pada satu sisinya.
“Beli mau membiarkan aku lewat, bukan?” ucap Idayu Wayan Laksmi ragu-ragu.
“Aku membiarkanmu lewat?” I Made Raka tertawa berderai-derai, diikuti anak buahnya yang berdiri di belakang.
Tawa ketiga lelaki itu membuat Idayu Wayan Laksmi menjadi kian takut. Direngkuhnya tangan I Ktut Regeg kuat-kuat. Sementara, matanya menatap takut-takut pada I Made Raka. I Ktut Regeg yang direngkuh malah seperti tidak mempedulikan
kedatangan ketiga lelaki di depannya. Matanya sibuk melirik ke sana kemari, mencari Andika. Setelah matanya menemukan pendekar muda itu di satu semak, baru ditatapnya I Made Raka bengis-bengis.
“Kami akan pulang, Beli, ” kata I Ktut Regeg mantap.
“Jangan coba-coba mengganggu kami!”
Sekali lagi, tawa ketiga penghadang mereka meledak.
“Apa aku tak salah dengar? Cacing kecil ini berani mengancamku, ya?” kata I Made Raka, setelah tawanya terhenti.
Dengan gaya seorang ksatria, I Ktut Regeg maju ke depan tubuh Idayu Wayan Laksmi. Dadanya yang tipis dibusungkan dengan wajah terangkat menantang.
“Kau tak salah dengar, Beli, ” tukas I Ktut Regeg sok pahlawan, dengan suara lantang.
“Biar bagai-manapun, aku orang Bali sejati yang siap mengorban-kan jiwa demi keadilan dan kebenaran. ‘Sepi ing pamrih rame inggawe’!”
I Ktut Regeg seakan-akan benar-benar memiliki keberanian. Padahal kalau Andika tidak di dekat mereka, sudah pasti dia ikut merengkuh tubuh kakaknya kuat-kuat.
“Ha ha ha...!” I Made Raka tergelak nyaring.
“Kau cukup punya nyali untuk meminta dihajar.”
“Cobalah!” tantang I Ktut Regeg.
Kata-kata I Ktut Regeg bagai menginjak-injak kepala I Made Raka. Yang makin membuat jengkel, anak itu juga memukul dadanya sendiri seraya mengangkat wajah tinggi-tinggi.
“Regeg!” hardik Idayu Wayan Laksmi, memperingati.
“Biar, Mbok. Jangan dipisahkan!” seru I Ktut Regeg jumawa. Padahal, berkelahi pun belum pernah.
“Akan kucincang kau, Bocah!” bentak I Made Raka, tak bisa menahan kegusaran.
Didekatinya I Ktut Regeg dengan langkah terbanting keras. Tangannya siap menghajar wajah I Ktut Regeg. Baru saja tangan I Made Raka terangkat tinggi-tinggi, mendadak satu desiran halus terdengar.
Wesss...!
Prot!
Sesuatu yang lembek dan hangat tahu-tahu mampir di telapak tangan lelaki itu. Tak hanya lembek dan hangat. Begitu I Made Raka mengendus tangannya, ternyata benda lembek dan hangat itu juga bau...!
“Kotoran sapi sebagai hadiah perkenalan!” ucap seseorang tiba-tiba dari belakang Idayu Wayan
Laksmi dan I Ktut Regeg.
Seketika I Made Raka melotot lebar-lebar. Diturun-kan tangannya cepat-cepat. Bodohnya, tangannya yang tertiban ampas binatang itu kembali diciumnya. Seolah hendak dibuktikan kalau itu benar-benar kotoran sapi. Maka, kontan saja wajahnya jadi memerah serta cuping hidung terangkat tinggi-tinggi. Sebentar kemudian....
“Khoeeek!”
“Siapa orang yang berani kurang ajar pada I Made Raka?!” bentak I Made Raka kalap sambil mengibas-ngibaskan tangan.
Andika melangkah ke depan. Dari kegelapan naungan pepohonan lebat, Pendekar Slebor muncul. Wajah dan penampilannya kini jelas terlihat karena siraman sinar purnama.
“Kau bicara padaku?” tanya Andika pura-pura bodoh.
I Made Raka mengawasi Andika tajam. Bola matanya yang nyaris membulat penuh seperti hendak menelan pemuda di depannya. Wajahnya tampak merah matang, seperti kepiting rebus.
“Siapa kau?!” tanya lelaki itu menghardik.
“Baru kali ini kulihat wajahmu!”
“Rasanya aku juga baru kali ini melihat tampang menjengkelkanmu itu,” balas Andika enteng.
“Siapa namamu?!” ulang I Made Raka lebih keras.
“Kenapa tanya-tanya segala? Naksir ya?”
“baik!”
“He he he...,” Andika malah terkekeh, seperti tak merasa bersalah secuil pun.
“He he he...,” timpal I Ktut Regeg mengikuti gaya Andika, membuat kemarahan I Made Raka makin menjadi.
Lelaki itu lalu uring-uringan tak karuan. Dia mencak-mencak seperti kakek peot kebakaran jenggot.
“Kalian telah mempermainkan keluarga Cokorde! Kalian tahu itu?! Kalau kalian tak segera bersujud minta maaf padaku, akan menyesal seumur hidup!” maki I Made Raka panjang pendek.
“Wah, gerakanmu nyatanya lebih bagus daripada tarian di upacara tadi,” cemooh Andika seraya
mengusap-usap dagu serta mengangkat satu alisnya.
“Cukup sudah! Hajar!” perintah I Made Raka pada kedua anak buahnya
Buleleng. Suatu daerah yang cukup indah di Pulau Dewata-Bali. Purnama mengambang diangkasa. Bisu dengan bias cahayanya yang lembut. Bintang-bintang yang bertaburan mengintip dari celah awan tipis yang bergerak lamban. Seakan, benda-benda langit itu mewarnai Hari Raya Galungan yang dirayakan hari ini.
Seluruh penduduk Buleleng pada hari keramat seperti ini selalu mempersembahkan sesaji untuk para dewa, diiringi tarian gadis-gadis cantik dan para pemuda tampan. Cokorde* Buleleng telah meninggalkan upacara. Sementara acara terus dijalin oleh pergantian pasangan tari.
Di antara puluhan orang yang meramaikan kemeriahan upacara, berdiri seorang pemuda tampan di sisi sebuah gapura. Pakaiannya sederhana, terdiri dari baju hijau dan celana hijau pula. Pada bahunya yang kekar tersampir sehelai kain bercorak catur. Sementara tubuhnya bersender di gapura, angin malam nan dingin menjamah wajah tampan serta rambut sepanjang bahu yang tak tertata itu. Matanya yang seperkasa elang, menikmati gelora tari yang sedang dipergelarkan.
Sesekali pemuda itu terlihat menarik napas dalam-dalam. Entah apa yang menyebabkannya begitu. Mungkin sekadar ungkapan keterpesonaannya pada keindahan tari. Atau mungkin hanya ingin menikmati hawa malam. Atau bisa jadi ada sebab lain. Karena, matanya saat itu sedang tertuju lekat pada dara penari di depan sana.
“Idayu Wayan Laksmi cantik bukan, Beli*?” usik seorang pemuda tanggung di sebelahnya.
“Apa?” pemuda berpakaian hijau itu malah balik bertanya, karena belum menangkap arah ucapan pemuda tanggung ini.
“Itu, penari itu. Dia begitu menawan, bukan?” tegas pemuda tanggung tadi.
“Ooo, ya, ya. Betul,” kata pemuda berpakaian hijau-hijau membenarkan sambil mengangguk-angguk.
“Namanya Idayu Wayan Laksmi.”
“Apa?”
“Namanya Idayu Wayan Laskmi,” ulang si Pemuda tanggung.
“Ooo....” lagi-lagi pemuda berpakaian hijau-hijau membulatkan bibirnya,
“Dari mana kau tahu?”
Pemuda tanggung bertelanjang dada dan mengenakan penutup kain di pinggang hingga betis itu tersenyum bangga.
“Tentu saja aku kenal. Dia kan, Mbok* saya!” cetusnya.
Pemuda berpakaian hijau-hijau itu tertawa ringan.
“Kenapa Beli tertawa?”
“Rupanya kau punya tujuan tertentu membangga-banggakan kakakmu, ya?” ujar pemuda berpakaian hijau-hijau menggoda.
“Ah, kata siapa?” sangkal pemuda tanggung dengan wajah asam.
“Kataku.”
“Ah! Mbok-ku terlalu cantik untuk orang semacam Beli!” kilah pemuda tanggung itu lagi. Tanpa Sadar telah dilontarkan sendiri tujuannya membangga-banggakan kakak perempuannya.
Pemuda berpakaian hijau-hijau itu mengangkat bahu.
“Ya sudah, kalau kau tak memerlukan aku,” kata pemuda berpakaian hijau seraya melangkah hendak pergi dari tempat itu.
“Beli tunggu!” tahan si Pemuda tanggung.
“Nan, kan?” goda pemuda yang penampilannya aneh itu. Langkahnya dihentikan.
“Kenapa?”
“Beli jadi kekasih Mbok-ku, ya?” kata si Pemuda tanggung ini.
Jawaban itu membuat lelaki muda yang diajak bicara tertawa kembali lebih keras.
“Sinting kau, ya?” gurau pemuda yang pada bahunya tersampir kain bercorak papan catur itu.
“Kenal pun belum, tahu-tahu saja kau sewenang-wenang menjodohkan orang!”
“Tolonglah, Beli...” pintanya memelas.
Pemuda tampan dan gagah di depannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bibirnya memperlihatkan senyum, seperti seekor sapi tolol.
“Yaaa, aku sih mau saja. Siapa sih, yang sudi menolak gadis cantik seperti kakakmu. Tapi kenapa kau begitu ngotot menjodohkan aku dengan kakakmu? Apa...,” didekatinya pemuda tanggung itu
“Kakakmu kakinya berbulu ya? Jadi, tidak ada pemuda yang mendekatinya?”
Pemuda tanggung itu langsung membelalak sewot. Ingin rasanya menyemprot pemuda acuh yang membisikinya itu.
“Aaah! Jangan cepat naik darah! Aku hanya bergurau, kok!” kata pemuda acuh itu, sebelum pemuda tanggung di depannya berkata.
“Jadi Beli mau, bukan?” desak si Pemuda tanggung.
“Kalau mau, bagaimana?”
“Jangan nafsu dulu, Beli!”
Pemuda berambut gondrong di depannya mengumpat dalam hati.
“Bisa-bisanya anak ini menembakku dengan ucapan itu!”
“Ada syaratnya, Beli!” kata pemuda tanggung itu.
“Apa?”
“Nama Beli siapa?”
“Andika,” jawab pemuda berpakaian hijau yang ternyata Andika. Dialah pendekar muda yang begitu terkenal sebagai Pendekar Slebor.
“Beli Andika seorang pendekar?” lanjut si Pemuda tanggung.
“Ngg..., orang bilang begitu.”
“Pokoknya Beli harus seorang pendekar. Kalau tidak, ya tak jadi....”
Andika mengerutkan kening. Apa hubungannya kependekarannya dengan kakak perempuan si Pemuda tanggung ini? Keingintahuannya membuat Andika jadi bertanya-tanya.
“Memangnya kenapa?” tanya Andika.
Pemuda tanggung itu segera menarik Andika ke balik gapura. Matanya melirik takut-takut ke
beberapa arah, seakan takut ada orang mengawasi. Di balik gapura dibisikinya Andika dengan suara amat perlahan.
“I Made Raka, punya niat jahat sama Mbok...” jelas pemuda tanggung itu.
“Siapa I Made Raka?” tanya Andika sambil menautkan sepasang alisnya.
“Dia amat ditakuti di banyak Banjar*” jelas pemuda tanggung.
“Dia jatuh hati pada Mbok. Tapi, Mbok tidak mau karena tabiat dan prilakunya tidak senonoh dan kejam.”
“Rupanya dia jawara, ya?” tanya Andika.
“Lagi pula, I Made Raka suka mempermainkan wanita, Beli. Sudah dipermainkan, ditinggal begitu saja tanpa dinikahi. Banyak wanita yang bisulan gara-gara dia....”
“Bisulan?” Andika tak mengerti.
“Begini....”
Si Pemuda tanggung itu membusungkan perutnya sambil memberi isyarat dengan kedua tangan.
“Kini, Mbok-ku lah yang mulai diincarnya. Dan sebelum berangkat ke upacara tadi, sempat kudengar dia berbicara dengan dua kaki tangan I Made Raka. Kelihatannya, mereka berniat busuk pada Mbok Laksmi!” sambung si Pemuda tanggung.
“Beli mesti tolong dia!”
“Kenapa mesti aku?” tanya Andika.
“Apa tidak ada orang yang berani menghadapi kecoak-kecoak kudis macam mereka?”
Si Pemuda tanggung lebih mendekat ke telinga Andika. Sebentar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Sebab I Made Raka masih keluarga dekat Cokorde...”
Andika mengangguk-angguk. Rupanya, orang yang bernama I Made Raka tergolong manusia yang menerapkan aji mumpung, dengan memanfaatkan ke-kuasaan seorang keluarganya untuk berbuat semena-mena. Manusia macam begini mesti dibuat kerak bubur!
“Bagaimana, Beli!” pancing si Pemuda tanggung itu, memenggal kata hati Andika.
“Bagaimana apanya?”
“Mau kan, jadi kekasih Mbok-ku?”
“Mmm. Kalau menolong kakakmu dari manusia itu, aku mau. Tapi tidak untuk kekasihnya...,” tutur Andika.
“Huh, sombong!” maki si Pemuda tanggung itu, merasa tersinggung.
Andika menyeringai bodoh. Tak terasa dia jadi menggerutu sendiri.
“Memangnya aku ini apa? Kambing congek yang gampang diamprok-amprokkan?”
“Kenapa Beli?”
“Ah, tidaaak....”
***
Malam terus beranjak makin larut. Tengah malam terlewati tanpa terasa. Upacara Galungan telah selesai beberapa saat lalu. Sementara para pengunjung telah kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg, adiknya yang telah berbicara dengan Andika beberapa saat lalu.
Pendekar Slebor sendiri tidak terlihat bersama mereka. Pendekar muda Tanah Jawa Dwipa ini berada di sekitar lima belas kaki di belakang kedua kakak beradik itu. Dia mengintai sambil berjalan di antara semak yang tumbuh di sisi jalan setapak.
“Ada pemuda asing yang ingin berkenalan dengan Mbok Laksmi,” cetus I Ktut Regeg seraya tetap melangkah di sisi kakaknya.
“Waktu Mbok menari, kukatakan kalau Mbok kembang Buleleng. Eee, tampaknya dia tertarik sama Mbok.”
Idayu Wayan Laksmi di sampingnya membelalak-kan mata. Gadis ini amat tahu, siapa I Ktut Regeg. Seorang adik yang begitu membanggakan kecantikan kakaknya secara berlebihan. Sehingga, terkadang dia seperti seorang penjual patung yang sedang memuji-muji dagangannya sendiri pada pembeli.
“Dia yang bertanya padaku kok, Mbok, ” sergah I Ktut Regeg, berbohong. Sementara, kakaknya terus memelototi.
“Mbok pasti tidak akan melotot seperti itu, kalau sudah melihat orangnya. Dia tampan, lho. Biarpun yahhh..., penampilannya agak berantakan....”
Di semak-semak, kini giliran Andika melotot kesal.
“Setelah urusan ini selesai akan kusumpal mulut lancangmu dengan kotoran kerbau!” ancam Andika dalam hati.
Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg terus melanjutkan langkah sambil berbincang ringan. Dibelakang mereka, Andika tetap menguntit tanpa diketahui. Sepanjang perjalanan, berkali-kali matanya mengawasi wajah Idayu Wayan Laksmi ketika menengok ke belakang. Menurut Andika, wanita itu memang luar biasa. Kecantikannya yang terpancar di wajahnya begitu mempesona. Matanya bulat menggemaskan dengan bulu lentik bagai gapaian tangan bidadari. Apalagi dengan tanda hitam yang diletakkan pada kedua pangkal hidungnya di bawah dahi. Makin menggemaskan saja. Di atas mata itu, sepasang alis tipis namun hitam tumbuh memikat. Hidungnya amat pas dengan bentuk bibir yang tipis memerah. Sementara bagian bawah bibirnya, tampak bagai buah ranum menggoda.
Wanita itu mengenakan kain yang dibebatkan sebagai penutup tubuhnya. Pinggangnya dililit selendang ‘Tengkulang’. Sedang rambutnya digelung gaya khas Bali, dihiasi bebungaan. Berbeda dengan adiknya, yang bertubuh kurus dan agak hitam. Sedangkan Idayu Wayan Laksmi berkulit kuning langsat. Tubuhnya pun sintal. Tak heran kalau banyak pria yang jatuh hati padanya.
Tanpa terasa mereka telah berjalan cukup jauh. Rumah kedua kakak beradik itu mungkin sudah dekat. Namun sepanjang perjalanan belum ada tanda-tanda kalau I Made Raka muncul seperti cerita I Ktut Regeg. Andika pun mulai berpikir kalau dirinya telah dibodohi seorang pembual kecil bernama I Ktut Regeg.
Ketika kesabaran Andika sudah nyaris habis, mendadak tiga kelebat bayangan masuk ke jalan setapak dari semak-semak. Mereka langsung menghadang Idayu Wayan Laksmi dan I Ktut Regeg.
“I Made Raka,” bisik Idayu Wayan Laksmi takut-takut, saat melihat siapa penghadangnya.
“Ya, aku. Kau terkejut, Geg*?” tegur I Made Raka dengan bibir mengumbar senyum nakal.
Lelaki itu berwajah cukup tampan. Tubuhnya agak kurus dan mengenakan bebatan kain batik sutera. Kepalanya yang berambut sepanjang bahu ditutup kain berujung lancip pada satu sisinya.
“Beli mau membiarkan aku lewat, bukan?” ucap Idayu Wayan Laksmi ragu-ragu.
“Aku membiarkanmu lewat?” I Made Raka tertawa berderai-derai, diikuti anak buahnya yang berdiri di belakang.
Tawa ketiga lelaki itu membuat Idayu Wayan Laksmi menjadi kian takut. Direngkuhnya tangan I Ktut Regeg kuat-kuat. Sementara, matanya menatap takut-takut pada I Made Raka. I Ktut Regeg yang direngkuh malah seperti tidak mempedulikan
kedatangan ketiga lelaki di depannya. Matanya sibuk melirik ke sana kemari, mencari Andika. Setelah matanya menemukan pendekar muda itu di satu semak, baru ditatapnya I Made Raka bengis-bengis.
“Kami akan pulang, Beli, ” kata I Ktut Regeg mantap.
“Jangan coba-coba mengganggu kami!”
Sekali lagi, tawa ketiga penghadang mereka meledak.
“Apa aku tak salah dengar? Cacing kecil ini berani mengancamku, ya?” kata I Made Raka, setelah tawanya terhenti.
Dengan gaya seorang ksatria, I Ktut Regeg maju ke depan tubuh Idayu Wayan Laksmi. Dadanya yang tipis dibusungkan dengan wajah terangkat menantang.
“Kau tak salah dengar, Beli, ” tukas I Ktut Regeg sok pahlawan, dengan suara lantang.
“Biar bagai-manapun, aku orang Bali sejati yang siap mengorban-kan jiwa demi keadilan dan kebenaran. ‘Sepi ing pamrih rame inggawe’!”
I Ktut Regeg seakan-akan benar-benar memiliki keberanian. Padahal kalau Andika tidak di dekat mereka, sudah pasti dia ikut merengkuh tubuh kakaknya kuat-kuat.
“Ha ha ha...!” I Made Raka tergelak nyaring.
“Kau cukup punya nyali untuk meminta dihajar.”
“Cobalah!” tantang I Ktut Regeg.
Kata-kata I Ktut Regeg bagai menginjak-injak kepala I Made Raka. Yang makin membuat jengkel, anak itu juga memukul dadanya sendiri seraya mengangkat wajah tinggi-tinggi.
“Regeg!” hardik Idayu Wayan Laksmi, memperingati.
“Biar, Mbok. Jangan dipisahkan!” seru I Ktut Regeg jumawa. Padahal, berkelahi pun belum pernah.
“Akan kucincang kau, Bocah!” bentak I Made Raka, tak bisa menahan kegusaran.
Didekatinya I Ktut Regeg dengan langkah terbanting keras. Tangannya siap menghajar wajah I Ktut Regeg. Baru saja tangan I Made Raka terangkat tinggi-tinggi, mendadak satu desiran halus terdengar.
Wesss...!
Prot!
Sesuatu yang lembek dan hangat tahu-tahu mampir di telapak tangan lelaki itu. Tak hanya lembek dan hangat. Begitu I Made Raka mengendus tangannya, ternyata benda lembek dan hangat itu juga bau...!
“Kotoran sapi sebagai hadiah perkenalan!” ucap seseorang tiba-tiba dari belakang Idayu Wayan
Laksmi dan I Ktut Regeg.
Seketika I Made Raka melotot lebar-lebar. Diturun-kan tangannya cepat-cepat. Bodohnya, tangannya yang tertiban ampas binatang itu kembali diciumnya. Seolah hendak dibuktikan kalau itu benar-benar kotoran sapi. Maka, kontan saja wajahnya jadi memerah serta cuping hidung terangkat tinggi-tinggi. Sebentar kemudian....
“Khoeeek!”
***
“Siapa orang yang berani kurang ajar pada I Made Raka?!” bentak I Made Raka kalap sambil mengibas-ngibaskan tangan.
Andika melangkah ke depan. Dari kegelapan naungan pepohonan lebat, Pendekar Slebor muncul. Wajah dan penampilannya kini jelas terlihat karena siraman sinar purnama.
“Kau bicara padaku?” tanya Andika pura-pura bodoh.
I Made Raka mengawasi Andika tajam. Bola matanya yang nyaris membulat penuh seperti hendak menelan pemuda di depannya. Wajahnya tampak merah matang, seperti kepiting rebus.
“Siapa kau?!” tanya lelaki itu menghardik.
“Baru kali ini kulihat wajahmu!”
“Rasanya aku juga baru kali ini melihat tampang menjengkelkanmu itu,” balas Andika enteng.
“Siapa namamu?!” ulang I Made Raka lebih keras.
“Kenapa tanya-tanya segala? Naksir ya?”
“baik!”
“He he he...,” Andika malah terkekeh, seperti tak merasa bersalah secuil pun.
“He he he...,” timpal I Ktut Regeg mengikuti gaya Andika, membuat kemarahan I Made Raka makin menjadi.
Lelaki itu lalu uring-uringan tak karuan. Dia mencak-mencak seperti kakek peot kebakaran jenggot.
“Kalian telah mempermainkan keluarga Cokorde! Kalian tahu itu?! Kalau kalian tak segera bersujud minta maaf padaku, akan menyesal seumur hidup!” maki I Made Raka panjang pendek.
“Wah, gerakanmu nyatanya lebih bagus daripada tarian di upacara tadi,” cemooh Andika seraya
mengusap-usap dagu serta mengangkat satu alisnya.
“Cukup sudah! Hajar!” perintah I Made Raka pada kedua anak buahnya
Diubah oleh ucln 06-09-2016 02:52
summersterry memberi reputasi
-1