- Beranda
- Stories from the Heart
Novel : Kisah Para Keturunan Bajak Laut
...
TS
sun81
Novel : Kisah Para Keturunan Bajak Laut

Sejak dulu suka sekali menulis......membayangkan berbagai petualangan mulai yang manis, dramatis hingga romantis. Ini adalah karya novel pertamaku tentang petualangan. Sudah pernah kutulis di forum Lounge tapi banyak yang pada protes n pembacanya kurang

semoga di forum ini lebih banyak peminatnya
Baiklah, selamat menikmati ya! En bantu doanya supaya bisa diterbitkan dalam bentuk fisik.
Spoiler for :
Bila Petualangan penyihir cilik di belahan dunia Eropa dan kisah romantis manusia dan vampir dari Amerika bisa menembus pasar dunia, maka kisah pirates cilik pun seharusnya bisa juga kan?
Untuk updatenya dipastikan sebulan sekali tapi tergantung kuota ya.......maklum penulis modal pas-pasan

Untuk updatenya dipastikan sebulan sekali tapi tergantung kuota ya.......maklum penulis modal pas-pasan
Spoiler for Prolog:
Selama berabad-abad yang lampau, laut merupakan tempat terkaya di muka bumi. Ketika Laut menjadi jalan untuk mencapai penjuru dunia, menukar sutra dan rempah, menjadikan setiap tetes anggur berubah ke setiap keping emas dan perak, laut adalah surga bagi para penguasanya.
Hingga lahirlah para penguasa yang lebih besar lagi. Para penguasa yang serakah yang ingin menguasai semua kekayaan laut dan mencicipi sedikit banyak kenikmatan daratan. Bajak Laut. Nama-nama mereka dibisikkan dengan ketakutan di setiap deburan ombak dan setiap mendekati pantai, diteriakkan dengan jeritan yang takkan pernah dilupakan oleh semua tempat yang pernah disinggahinya.
Mereka mengambil semua yang dapat disentuh, menenggak semua yang dapat dinikmati lidah dan menghancurkan semua yang dapat diratakan.
Lebih dari tiga abad laut dan darat mereka jadikan sarang. Dan ketika puncaknya dunia semakin terasa sempit, mereka, para bajak laut mulai merasa tidak puas. Mereka mulai melirik bagian dari para bajak laut lainnya. Mereka mulai berperang antar sesama mereka. Mulai saling menghancurkan. Tidak lagi menghormati peraturan yang dulu mereka tegakkan dan mencari kepuasan sendiri dengan lebih serakah lagi.
Hingga terbelahlah laut dan kekuasaannya. Kelompok-kelompok yang merasa ketakutan mencoba berlindung di kubu-kubu yang lebih kuat. Kubu-kubu yang masih memegang prinsip dengan bayaran yang setimpal.
Tapi itu tak berlangsung lama. Ketika bulan pernama datang, di tengah ketenangan laut, terjadilah perang besar memecahkan kesunyian lautan. Dua kubu yang berbeda prinsip, berbeda pemimpin, berbeda tujuan dengan bantuan sekutu masing-masing saling menghancurkan. Pertempuran yang terjadi tujuh belas hari tujuh belas malam itu merusak kehidupan banyak pihak, sehingga pemerintahan beberapa kerajaan memutuskan untuk terlibat.
Son of Sea, kubu penguasa Timur dan Barat, di tengah tekanan kematian dan kekalahan melakukan kesepakatan dengan Kerajaan Inggris yang memiliki armada laut terbesar. Dengan menyerahkan lebih dari seribu peta tempat penyimpanan harta kekayaan miliknya dan para sekutunya, Son Of Sea diselamatkan dan dipulihkan seluruh kekuasaannya sebagai rakyat.
Dark Seas, kubu Utara dan Selatan, yang memiliki armada dua kali lipat daripada Son of Sea, akhirnya takluk di hadapan armada Inggris dan para sekutunya. Lebih dari seribu pengikut Dark Seas dihukum mati, sedangkan ratusan lainnya berhasil melarikan diri dan lenyap di telan kegelapan malam. Yang tertinggal hanyalah kapal induk Dark Starship bersama lebih dari tiga ribu peta harta karun.
Selama berabad-abad lamanya kekayaan-kekayaan yang tersimpan mulai ditemukan. Ujung Utara Selatan, Barat ke Timur, semua tempat diaduk-aduk sekutu pemenang. Tapi, ternyata para sekutu hanya mampu memperoleh sebagian kecil dari seluruh peta yang ada. Dan di luar sana masih menanti kekayaan-kekayaan berlimpah untuk ditemukan. Berpacu dengan waktu dan para keturunan pengikut Dark Seas, Pemerintah, dan sekutunya membentuk kembali kubu Son of Sea.
Hingga lahirlah para penguasa yang lebih besar lagi. Para penguasa yang serakah yang ingin menguasai semua kekayaan laut dan mencicipi sedikit banyak kenikmatan daratan. Bajak Laut. Nama-nama mereka dibisikkan dengan ketakutan di setiap deburan ombak dan setiap mendekati pantai, diteriakkan dengan jeritan yang takkan pernah dilupakan oleh semua tempat yang pernah disinggahinya.
Mereka mengambil semua yang dapat disentuh, menenggak semua yang dapat dinikmati lidah dan menghancurkan semua yang dapat diratakan.
Lebih dari tiga abad laut dan darat mereka jadikan sarang. Dan ketika puncaknya dunia semakin terasa sempit, mereka, para bajak laut mulai merasa tidak puas. Mereka mulai melirik bagian dari para bajak laut lainnya. Mereka mulai berperang antar sesama mereka. Mulai saling menghancurkan. Tidak lagi menghormati peraturan yang dulu mereka tegakkan dan mencari kepuasan sendiri dengan lebih serakah lagi.
Hingga terbelahlah laut dan kekuasaannya. Kelompok-kelompok yang merasa ketakutan mencoba berlindung di kubu-kubu yang lebih kuat. Kubu-kubu yang masih memegang prinsip dengan bayaran yang setimpal.
Tapi itu tak berlangsung lama. Ketika bulan pernama datang, di tengah ketenangan laut, terjadilah perang besar memecahkan kesunyian lautan. Dua kubu yang berbeda prinsip, berbeda pemimpin, berbeda tujuan dengan bantuan sekutu masing-masing saling menghancurkan. Pertempuran yang terjadi tujuh belas hari tujuh belas malam itu merusak kehidupan banyak pihak, sehingga pemerintahan beberapa kerajaan memutuskan untuk terlibat.
Son of Sea, kubu penguasa Timur dan Barat, di tengah tekanan kematian dan kekalahan melakukan kesepakatan dengan Kerajaan Inggris yang memiliki armada laut terbesar. Dengan menyerahkan lebih dari seribu peta tempat penyimpanan harta kekayaan miliknya dan para sekutunya, Son Of Sea diselamatkan dan dipulihkan seluruh kekuasaannya sebagai rakyat.
Dark Seas, kubu Utara dan Selatan, yang memiliki armada dua kali lipat daripada Son of Sea, akhirnya takluk di hadapan armada Inggris dan para sekutunya. Lebih dari seribu pengikut Dark Seas dihukum mati, sedangkan ratusan lainnya berhasil melarikan diri dan lenyap di telan kegelapan malam. Yang tertinggal hanyalah kapal induk Dark Starship bersama lebih dari tiga ribu peta harta karun.
Selama berabad-abad lamanya kekayaan-kekayaan yang tersimpan mulai ditemukan. Ujung Utara Selatan, Barat ke Timur, semua tempat diaduk-aduk sekutu pemenang. Tapi, ternyata para sekutu hanya mampu memperoleh sebagian kecil dari seluruh peta yang ada. Dan di luar sana masih menanti kekayaan-kekayaan berlimpah untuk ditemukan. Berpacu dengan waktu dan para keturunan pengikut Dark Seas, Pemerintah, dan sekutunya membentuk kembali kubu Son of Sea.

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Suka dengan petualangan Aramos dkk......silahkan preorder langsung dgn dm ig @littlesun81
**Beberapa bagian dan bab telah saya edit/blur ya.......Mohon maaf untuk yang baru mulai membaca dan belum selesai 🙏🙏
Silahkan hilangkan rasa penasaran dengan memesan bukunya👍👍GBUs
#winddoghss
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Bab 1 A - B
Bab 2 A - C
Bab 3 A - B
Bab 3 C
Bab 4 A - C
Bab 5 A - B
Bab 6
Bab 7 A - B
Bab 8 A - B
Bab 9 A - B
Bab 10 A - B
Bab 10 C - D
Bab 10 E - F
Bab 11 A - B
Bab 11 C - D
Bab 12 A - B
Bab 13 A - B
Bab 13 C
Bab 14 A - B
Bab 15 A
Bab 15 B
Bab 15 C
Bab 16 A - B
Bab 16 C
Bab 17
Bab 18 A - B
Bab 18 C
Bab 19 A
Bab 19 B
Bab 20 A - B
Bab 21 A - B
Bab 21 C - D
Bab 21 E - F
Bab 21 G
Ane mau nanya
(Mohon berkenan di jawab)
Bab 22 A - B
Bab 22 C
Bab 23 A
Bab 23 B
Bab 24 A
Bab 24 B
Bab 25 A
Bab 25 B (Tamat)
Spoiler for KaryaQu yang lain...... (mampir ya!):
Diubah oleh sun81 29-06-2025 00:18
2
33.7K
Kutip
216
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sun81
#22
Spoiler for Bab 10 A:
Hari Pertama kerja di Perpustakaan cukup merepotkan dan membingungkan bagi Aramos yang memang sudah sangat lama tidak bersentuhan dengan Perpustakaan. Tapi Aramos juga sangat bersemangat, selain ini adalah pekerjaan pertamanya yang mendapatkan bayaran, juga karena Julio yang menunjukkan dukungannya tadi pagi dengan mengatur agar dia, Aramos, Bill dan Andrea dapat tetap sarapan bersama seperti biasa hingga dia juga tidak akan terlambat ke Perpustakaan.
Aramos masih ingat wajah marah, dan kesal Julio ketika dia dan Bill menginjakkan kaki kembali ke kamar mereka kemarin siang. Julio tidak berteriak, dia bahkan tidak bersuara apapun dan hanya memandang tv seakan-akan acara apapun yang disaksikannya jauh lebih menarik daripada dua makhluk yang baru saja memasuki kamar itu.
Aramos berdiri di samping tempat tidur Julio dan meletakkan buku-buku dan kantong kertas yang dibawanya di atas meja Julio. Gerakannya yang gugup sangat terlihat. Sedangkan Bill sudah duduk di tempat tidurnya dan memandang gelisah ke arah mereka. Sebisa mungkin dia tidak bersuara, bahkan dia juga mencoba untuk mengendalikan napasnya yang seperti biasa agak berat setelah menaiki tangga-tangga di Eightlyst State Ship.
“Aku tak mengenal moyangku, aku bahkan tidak mengenal kakekku sendiri. Sedangkan ibuku hanya kukenal tidak lebih dari empat tahun awal hidupku. Tapi dari ceritamu, aku setidaknya merasa mengenal mereka. Dan dari ceritamu juga aku sadar kenapa selama ini aku bertahan dari ibu tiriku……. Karena aku adalah keturunan Bombersfish, keturunan Kapten besar di masanya. Keturunan dari orang-orang yang tidak akan menyerah walau apapun yang terjadi. Dan terutama keturunan dari seorang Kapten yang memiliki Harkat dan Martabat yang dikagumi seluruh anak buahnya sehingga mereka bahkan akan menyerahkan nyawa mereka untuknya. Jadi kumohon padamu Julio, jangan biarkan keturunan satu-satunya Bombersfish ini menjadi benalu atau pengemis di masa ini.” Tatapan Julio yang langsung ke matanya membuatnya semakin yakin untuk melanjutkan kata-kata yang sudah dipikirkannya sepanjang hari ini apabila harus menghadapi kemarahan Julio. “Aku pasti akan memiliki saat-saat sangat membutuhkan bantuanmu, Bill dan Andrea, tapi ada saat aku juga ingin menjadi seseorang, yang suatu saat nanti dapat diandalkan oleh sahabat-sahabatnya. Bagiku kalian bertiga adalah anugrah terbaik yang diberikan padaku, bahkan melebihi keanggotaanku di SOS ini.”
Uluran tangan Julio yang kekar beberapa detik kemudian setelah kata-katanya berakhir, disambut oleh Aramos dengan semangat. Sedetik kemudian mereka sudah saling berpelukan. Tak perlu kata-kata untuk mengungkapkan bahwa Julio mengerti dan dapat menerima keputusannya saat ini maupun keputusan lainnya di saat-saat akan datang.
“Aku juga sayang kalian” Bill memeluk mereka berdua. Dan tak perlu di komando, mereka bertiga pun tertawa bersama-sama. Dan Aramos sadar dia menitikkan air mata, namun segera dihapusnya sebelum dilihat kedua sahabatnya.
Pukul tujuh malam adalah saat makan malam bersama mereka. Bagi kelompok Nytes lain yang melihat mereka, pasti tidak akan pernah tahu bahwa beberapa jam yang lalu hubungan kelompok mereka mengalami ketegangan tingkat tinggi. Bahkan mereka mungkin akan berpikir bahwa kelompok dari berbagai etnis ini terlihat sangat harmonis dengan melihat Andrea yang tak henti-hentinya tersenyum. Andrea bahkan tersenyum dan mengucapkan salam pada Aron, Nick dan Kevin saat mereka berpapasan di tangga yang membuat ketiga pemuda itu kebingungan.
Gadis Asia itu bahkan mentraktir Julio, Aramos dan Bill dengan dessert es krim. Yang agak sedikit mengganggu hanyalah kehadiran kelompok Crocodile Eyes di Cases Hotpan yang sekali lagi menatap meja mereka sambil berbisik-bisik. Untung saja saat itu mereka sudah akan meninggalkan Cases Hotpan.
“Aramos, aku ingin kamu memasukkan data tiga puluh delapan buku yang baru tiba ini ke dalam Komputer. Pastikan kategori dan data-data kecil termasuk tahun penerbitan dan jumlah halamannya jangan sampai salah. Gunakan salah satu komputer di sudut timur perputakaan saja.” Madame Roda menyerahkan buku-buku yang masih terdapat dalam kardus, hanya bagian atasnya saja yang terbuka ke Aramos yang saat itu berada di gang tiga perpustakaan. “Setelah itu kamu letakkan ke raknya masing-masing sesuai dengan label yang tercantum di sampulnya”
Aramos baru saja mengembalikan lebih dari seratus buku ke masing-masing rak, namun entah kekuatan apa yang ada di dirinya, dia bahkan tidak merasa lelah sedikitpun. Dengan semangat Aramos membawa kardus besar itu melewati dua gang lainnya menuju komputer yang dimaksud oleh Madame roda.
Suasana Perpustakaan sangat sepi. Tidak ada satupun pengunjung. Selain Madame Roda, hanya ada dua Pemelihara yang sibuk memperbaiki beberapa buku yang agak rusak. Aramos sadar pekerjaan itu butuh ketelitian sangat tinggi sebab selain terlihat mereka sangat berkonsentrasi, mereka juga di pisahkan ke sebuah ruangan kaca yang didalamnya terdapat berbagai alat yang belum diketahui Aramos.
Tuan Lenter sendiri saat ini berada diruangannya, walaupun sejam yang lalu dia sempat melewati gang tiga belas, saat Aramos mengembalikan buku-buku di rak teratas gang tersebut.
Aramos kagum dengan wibawa Tuan Lenter. Walaupun Tuan Lenter yang pendek semakin terlihat pendek saja, ketika Aramos mengamatinya dari atas tangga perpustakaan, tapi dengan cara berjalan dan sikap tubuhnya terlihat sekali dia adalah pemimpin yang harus disegani. Dengan caranya sendiri Tuan Lenter terlihat sama pentingnya dengan Kapten Silverbond.
Buku terakhir berjudul Island in the Sky baru saja selesai diinput Aramos dan diletakkan di dalam kardus tadi ketika Julio, Bill dan Andrea datang.
“Ini sudah hampir pukul dua belas. Ayo kita makan” Kata Julio bersemangat. Sedangkan Bill baru saja memasukkan sepotong coklat ke mulutnya.
“Kau tidak boleh makan di sini, Bill!” Bisik Aramos “Buku-buku ini harus di jaga jangan sampai rusak atau kotor”
“Maaf, Bill tapi itu benar……” Sahut Andrea sambil mengamati buku-buku baru di dalam kardus.
Bill semakin mempercepat kunyahannya, sedangkan Julio terlihat tidak sabar. “Yah, sudah……ayo kita keluar dari sini. Aku juga sudah lapar”
Aramos masih ingat wajah marah, dan kesal Julio ketika dia dan Bill menginjakkan kaki kembali ke kamar mereka kemarin siang. Julio tidak berteriak, dia bahkan tidak bersuara apapun dan hanya memandang tv seakan-akan acara apapun yang disaksikannya jauh lebih menarik daripada dua makhluk yang baru saja memasuki kamar itu.
Aramos berdiri di samping tempat tidur Julio dan meletakkan buku-buku dan kantong kertas yang dibawanya di atas meja Julio. Gerakannya yang gugup sangat terlihat. Sedangkan Bill sudah duduk di tempat tidurnya dan memandang gelisah ke arah mereka. Sebisa mungkin dia tidak bersuara, bahkan dia juga mencoba untuk mengendalikan napasnya yang seperti biasa agak berat setelah menaiki tangga-tangga di Eightlyst State Ship.
“Aku tak mengenal moyangku, aku bahkan tidak mengenal kakekku sendiri. Sedangkan ibuku hanya kukenal tidak lebih dari empat tahun awal hidupku. Tapi dari ceritamu, aku setidaknya merasa mengenal mereka. Dan dari ceritamu juga aku sadar kenapa selama ini aku bertahan dari ibu tiriku……. Karena aku adalah keturunan Bombersfish, keturunan Kapten besar di masanya. Keturunan dari orang-orang yang tidak akan menyerah walau apapun yang terjadi. Dan terutama keturunan dari seorang Kapten yang memiliki Harkat dan Martabat yang dikagumi seluruh anak buahnya sehingga mereka bahkan akan menyerahkan nyawa mereka untuknya. Jadi kumohon padamu Julio, jangan biarkan keturunan satu-satunya Bombersfish ini menjadi benalu atau pengemis di masa ini.” Tatapan Julio yang langsung ke matanya membuatnya semakin yakin untuk melanjutkan kata-kata yang sudah dipikirkannya sepanjang hari ini apabila harus menghadapi kemarahan Julio. “Aku pasti akan memiliki saat-saat sangat membutuhkan bantuanmu, Bill dan Andrea, tapi ada saat aku juga ingin menjadi seseorang, yang suatu saat nanti dapat diandalkan oleh sahabat-sahabatnya. Bagiku kalian bertiga adalah anugrah terbaik yang diberikan padaku, bahkan melebihi keanggotaanku di SOS ini.”
Uluran tangan Julio yang kekar beberapa detik kemudian setelah kata-katanya berakhir, disambut oleh Aramos dengan semangat. Sedetik kemudian mereka sudah saling berpelukan. Tak perlu kata-kata untuk mengungkapkan bahwa Julio mengerti dan dapat menerima keputusannya saat ini maupun keputusan lainnya di saat-saat akan datang.
“Aku juga sayang kalian” Bill memeluk mereka berdua. Dan tak perlu di komando, mereka bertiga pun tertawa bersama-sama. Dan Aramos sadar dia menitikkan air mata, namun segera dihapusnya sebelum dilihat kedua sahabatnya.
Pukul tujuh malam adalah saat makan malam bersama mereka. Bagi kelompok Nytes lain yang melihat mereka, pasti tidak akan pernah tahu bahwa beberapa jam yang lalu hubungan kelompok mereka mengalami ketegangan tingkat tinggi. Bahkan mereka mungkin akan berpikir bahwa kelompok dari berbagai etnis ini terlihat sangat harmonis dengan melihat Andrea yang tak henti-hentinya tersenyum. Andrea bahkan tersenyum dan mengucapkan salam pada Aron, Nick dan Kevin saat mereka berpapasan di tangga yang membuat ketiga pemuda itu kebingungan.
Gadis Asia itu bahkan mentraktir Julio, Aramos dan Bill dengan dessert es krim. Yang agak sedikit mengganggu hanyalah kehadiran kelompok Crocodile Eyes di Cases Hotpan yang sekali lagi menatap meja mereka sambil berbisik-bisik. Untung saja saat itu mereka sudah akan meninggalkan Cases Hotpan.
“Aramos, aku ingin kamu memasukkan data tiga puluh delapan buku yang baru tiba ini ke dalam Komputer. Pastikan kategori dan data-data kecil termasuk tahun penerbitan dan jumlah halamannya jangan sampai salah. Gunakan salah satu komputer di sudut timur perputakaan saja.” Madame Roda menyerahkan buku-buku yang masih terdapat dalam kardus, hanya bagian atasnya saja yang terbuka ke Aramos yang saat itu berada di gang tiga perpustakaan. “Setelah itu kamu letakkan ke raknya masing-masing sesuai dengan label yang tercantum di sampulnya”
Aramos baru saja mengembalikan lebih dari seratus buku ke masing-masing rak, namun entah kekuatan apa yang ada di dirinya, dia bahkan tidak merasa lelah sedikitpun. Dengan semangat Aramos membawa kardus besar itu melewati dua gang lainnya menuju komputer yang dimaksud oleh Madame roda.
Suasana Perpustakaan sangat sepi. Tidak ada satupun pengunjung. Selain Madame Roda, hanya ada dua Pemelihara yang sibuk memperbaiki beberapa buku yang agak rusak. Aramos sadar pekerjaan itu butuh ketelitian sangat tinggi sebab selain terlihat mereka sangat berkonsentrasi, mereka juga di pisahkan ke sebuah ruangan kaca yang didalamnya terdapat berbagai alat yang belum diketahui Aramos.
Tuan Lenter sendiri saat ini berada diruangannya, walaupun sejam yang lalu dia sempat melewati gang tiga belas, saat Aramos mengembalikan buku-buku di rak teratas gang tersebut.
Aramos kagum dengan wibawa Tuan Lenter. Walaupun Tuan Lenter yang pendek semakin terlihat pendek saja, ketika Aramos mengamatinya dari atas tangga perpustakaan, tapi dengan cara berjalan dan sikap tubuhnya terlihat sekali dia adalah pemimpin yang harus disegani. Dengan caranya sendiri Tuan Lenter terlihat sama pentingnya dengan Kapten Silverbond.
Buku terakhir berjudul Island in the Sky baru saja selesai diinput Aramos dan diletakkan di dalam kardus tadi ketika Julio, Bill dan Andrea datang.
“Ini sudah hampir pukul dua belas. Ayo kita makan” Kata Julio bersemangat. Sedangkan Bill baru saja memasukkan sepotong coklat ke mulutnya.
“Kau tidak boleh makan di sini, Bill!” Bisik Aramos “Buku-buku ini harus di jaga jangan sampai rusak atau kotor”
“Maaf, Bill tapi itu benar……” Sahut Andrea sambil mengamati buku-buku baru di dalam kardus.
Bill semakin mempercepat kunyahannya, sedangkan Julio terlihat tidak sabar. “Yah, sudah……ayo kita keluar dari sini. Aku juga sudah lapar”
Spoiler for Bab 10 B:
“Masih lima menit sebelum pukul dua belas, lagi pula aku harus mengatur buku-buku baru ini ke raknya masing-masing”
“Apa?” Suara Julio yang melengking langsung dihentikan oleh Bill dan Aramos. Untung saja Madame Roda sedang berada di ruangan kaca bersama dua pemelihara.
Tampaknya Bill juga sangat mengerti peraturan dasar dari Perpustakaan “Jangan Ribut” Bisiknya membuat Julio menatap jengkel.
“Perjanjiannya kamu bekerja dari pukul Sembilan hingga pukul Dua Belas siang kan? Nah, sekarang saatnya kamu ke nenek tua itu, minta gajimu dan kita pergi dari sini” Suara Julio yang pelan mendesis membuat Andrea mendesah kesal.
“Ini tidak lama. Hanya sepuluh hingga lima belas menit kok” Kata Aramos sambil mengangkat kardus itu, tapi dihentikan oleh Andrea.
“Kamu ingin Aramos cepat keluar dari sini kan? Nah, kita bagi-bagi buku-buku ini. Kita bantu Aramos meletakkannya di rak-rak”
Kata-kata Andrea walaupun hanya dibalas dengusan Julio dan kata-kata keberatan Aramos, tapi dia tidak perduli.
“Aramos, sekarang coba kamu jelaskan bagaimana membaca label-label buku ini.”
“Kalian tidak perlu…….”
“Aku setuju.” Kata Julio kesal “Semakin cepat kau jelaskan semakin cepat kita dapat mengatur buku-buku ini dan itu artinya semakin cepat kita pergi. Aku mengalami elergi hebat jika terlalu lama berdekatan dengan lebih dari tiga buku”
Anggukan semangat Bill, entah dia menyetujui kata-kata Andrea atau juga memiliki alergi aneh bin ajaib seperti Julio, akhirnya membuat Aramos menyerah. Dia mulai menjelaskan cara membaca label buku yang terdiri dari sembilan karakter kepada ketiga sahabatnya.
Setelah selesai mendengar penjelasan Aramos, Andrea langsung membagi buku-buku baru itu ke empat tumpukan. Dengan melihat sekilas, Aramos tahu, Andrea membagi buku-buku itu bukan hanya berdasarkan gang raknya tapi juga dari rak delapan yang merupakan rak paling atas hingga rak satu yang merupakan rak terbawah.
Bill mendapatkan delapan buku untuk tiga gang berbeda tapi semuanya untuk rak satu hingga tiga. Sedangkan sisanya dia bagi rata dan serahkan secara acak ke Julio, Aramos, dan dia sendiri. Setelah saling berpandangan sebentar, keempatnya langsung membubarkan diri menuju rak-rak tujuan mereka.
Tidak sampai lima menit mereka berempat sudah terkumpul di depan meja Madame Roda. Madame Roda yang pastinya tahu bahwa pada tugas terakhir Aramos dibantu oleh sahabat-sahabatnya tidak memberikan komentar apapun. Dia bahkan menyerahkan tiga keping koin hijau dengan sedikit senyum.
“Kutunggu kamu besok” katanya lembut, jauh berbeda dengan mimiknya yang kaku.
Mereka berempat serentak mengucapkan terima kasih dan keluar perpustakaan dengan tersenyum lebar.
Setelah sepuluh meter dari pintu perpustakaan, Aramos mengangkat tinggi-tinggi ke tiga keping koin hijau yang baru saja di terimanya ke arah salah satu lampu di gang tersebut.
“Gaji pertamaku” bisiknya kagum.
Tiba-tiba seberkas sinar menyadarkannya. Dengan sedikit kebingungan Aramos menatap ketiga sahabatnya yang sedang tersenyum lebar. Dan Aramos pun sadar dari mana datang kilatan sinar tadi.
Bill baru saja mengabadikan gayanya tadi dengan Handphonenya.
“Sekali lagi boleh, Bill?” Tanya Aramos malu-malu. Andaikan dia punya Handphone, pasti dia akan mengabadikan momen yang sangat berharga ini dengan handphonenya.
“Tentu saja. Ayo berdiri di samping papan perpustakaan itu” Kata Bill bersemangat sambil menunjuk sebuah papan petunjuk berukuran kecil.
Hanya dalam semenit, Bill telah mengabadikan sepuluh gaya Aramos yang berbeda-beda. Mulai dari gaya serius hingga gaya konyol.
Bahkan saat menuju Cases Hotpan, mereka berempat masih tertawa geli membahas gaya-gaya Aramos. Di salah satu sudut gang sebelum berbelok menuju Cases Hotpan, Aramos berlari memasuki sebuah cases yang menjual aksesori bajak laut. Ketiga sahabatnya justru yang kebingungan dan menyusul ragu-ragu ke dalam cases bernama Duyung tersebut.
“Ini untuk kalian……Bukan barang mahal, tapi semoga kalian mau menerimanya” Kata Aramos dengan semangat walaupun sedikit malu, dengan menyodorkan empat buah bendana kain berwarna merah bata dengan simbol SOS tertera setelah nama mereka masing-masing.
“Aramos, bagaimana bisa? Kapan?” Andrea terkejut dan menjulurkan tangannya mengambil bendana yang bertuliskan namanya.
“Aku melihat iklan promonya di Koran pagi beberapa hari yang lalu. Sebenarnya ini ditujukan untuk para pasangan” Kata Aramos memerah “Sepasang harganya hanya sekeping koin hitam, untuk minggu ini……..Jadi tadi pagi sebelum ke perpustakaan, kusempatkan beberapa menit ke cases Duyung dan memesannya untuk diambil siang ini”
Julio meninju lengan Aramos dengan gemas dan Bill dengan segera mengambil juga bendana bertuliskan namanya.
Mereka berempat mulai mengatur bendana tersebut dengan bantuan cermin di Cases Duyung. Andrea mengikatnya di leher, Bill mengikatnya di lengan kirinya dengan bantuan Andrea, sedangkan Julio dan Aramos mengikat bendana merah tersebut di kepala mereka. Tawa mereka kembali terdengar setelah dengan konyolnya mereka berempat bergaya di depan cermin.
“Kita harus mengabadikannya” kata Bill bersemangat sambil mengeluarkan hpnya. Dengan mengarahkan ke cermin mereka pun mengabadikan tiga gaya terkonyol mereka. Setelah itu, Julio dan Andrea pun mengeluarkan hp masing-masing untuk mengabadikan gaya-gaya konyol mereka lainnya.
Dan bahkan tanpa malu-malu, Bill meminta salah satu The Brown yang kebetulan lewat di depan cases Duyung untuk memotret mereka berempat.
Setelah mengucapkan terima kasih secara kompak, yang membuat gadis yang memotret mereka tersenyum geli, mereka segera mengecek hasil foto-foto tadi sambil menuju cases Hotpan.
“Apa?” Suara Julio yang melengking langsung dihentikan oleh Bill dan Aramos. Untung saja Madame Roda sedang berada di ruangan kaca bersama dua pemelihara.
Tampaknya Bill juga sangat mengerti peraturan dasar dari Perpustakaan “Jangan Ribut” Bisiknya membuat Julio menatap jengkel.
“Perjanjiannya kamu bekerja dari pukul Sembilan hingga pukul Dua Belas siang kan? Nah, sekarang saatnya kamu ke nenek tua itu, minta gajimu dan kita pergi dari sini” Suara Julio yang pelan mendesis membuat Andrea mendesah kesal.
“Ini tidak lama. Hanya sepuluh hingga lima belas menit kok” Kata Aramos sambil mengangkat kardus itu, tapi dihentikan oleh Andrea.
“Kamu ingin Aramos cepat keluar dari sini kan? Nah, kita bagi-bagi buku-buku ini. Kita bantu Aramos meletakkannya di rak-rak”
Kata-kata Andrea walaupun hanya dibalas dengusan Julio dan kata-kata keberatan Aramos, tapi dia tidak perduli.
“Aramos, sekarang coba kamu jelaskan bagaimana membaca label-label buku ini.”
“Kalian tidak perlu…….”
“Aku setuju.” Kata Julio kesal “Semakin cepat kau jelaskan semakin cepat kita dapat mengatur buku-buku ini dan itu artinya semakin cepat kita pergi. Aku mengalami elergi hebat jika terlalu lama berdekatan dengan lebih dari tiga buku”
Anggukan semangat Bill, entah dia menyetujui kata-kata Andrea atau juga memiliki alergi aneh bin ajaib seperti Julio, akhirnya membuat Aramos menyerah. Dia mulai menjelaskan cara membaca label buku yang terdiri dari sembilan karakter kepada ketiga sahabatnya.
Setelah selesai mendengar penjelasan Aramos, Andrea langsung membagi buku-buku baru itu ke empat tumpukan. Dengan melihat sekilas, Aramos tahu, Andrea membagi buku-buku itu bukan hanya berdasarkan gang raknya tapi juga dari rak delapan yang merupakan rak paling atas hingga rak satu yang merupakan rak terbawah.
Bill mendapatkan delapan buku untuk tiga gang berbeda tapi semuanya untuk rak satu hingga tiga. Sedangkan sisanya dia bagi rata dan serahkan secara acak ke Julio, Aramos, dan dia sendiri. Setelah saling berpandangan sebentar, keempatnya langsung membubarkan diri menuju rak-rak tujuan mereka.
Tidak sampai lima menit mereka berempat sudah terkumpul di depan meja Madame Roda. Madame Roda yang pastinya tahu bahwa pada tugas terakhir Aramos dibantu oleh sahabat-sahabatnya tidak memberikan komentar apapun. Dia bahkan menyerahkan tiga keping koin hijau dengan sedikit senyum.
“Kutunggu kamu besok” katanya lembut, jauh berbeda dengan mimiknya yang kaku.
Mereka berempat serentak mengucapkan terima kasih dan keluar perpustakaan dengan tersenyum lebar.
Setelah sepuluh meter dari pintu perpustakaan, Aramos mengangkat tinggi-tinggi ke tiga keping koin hijau yang baru saja di terimanya ke arah salah satu lampu di gang tersebut.
“Gaji pertamaku” bisiknya kagum.
Tiba-tiba seberkas sinar menyadarkannya. Dengan sedikit kebingungan Aramos menatap ketiga sahabatnya yang sedang tersenyum lebar. Dan Aramos pun sadar dari mana datang kilatan sinar tadi.
Bill baru saja mengabadikan gayanya tadi dengan Handphonenya.
“Sekali lagi boleh, Bill?” Tanya Aramos malu-malu. Andaikan dia punya Handphone, pasti dia akan mengabadikan momen yang sangat berharga ini dengan handphonenya.
“Tentu saja. Ayo berdiri di samping papan perpustakaan itu” Kata Bill bersemangat sambil menunjuk sebuah papan petunjuk berukuran kecil.
Hanya dalam semenit, Bill telah mengabadikan sepuluh gaya Aramos yang berbeda-beda. Mulai dari gaya serius hingga gaya konyol.
Bahkan saat menuju Cases Hotpan, mereka berempat masih tertawa geli membahas gaya-gaya Aramos. Di salah satu sudut gang sebelum berbelok menuju Cases Hotpan, Aramos berlari memasuki sebuah cases yang menjual aksesori bajak laut. Ketiga sahabatnya justru yang kebingungan dan menyusul ragu-ragu ke dalam cases bernama Duyung tersebut.
“Ini untuk kalian……Bukan barang mahal, tapi semoga kalian mau menerimanya” Kata Aramos dengan semangat walaupun sedikit malu, dengan menyodorkan empat buah bendana kain berwarna merah bata dengan simbol SOS tertera setelah nama mereka masing-masing.
“Aramos, bagaimana bisa? Kapan?” Andrea terkejut dan menjulurkan tangannya mengambil bendana yang bertuliskan namanya.
“Aku melihat iklan promonya di Koran pagi beberapa hari yang lalu. Sebenarnya ini ditujukan untuk para pasangan” Kata Aramos memerah “Sepasang harganya hanya sekeping koin hitam, untuk minggu ini……..Jadi tadi pagi sebelum ke perpustakaan, kusempatkan beberapa menit ke cases Duyung dan memesannya untuk diambil siang ini”
Julio meninju lengan Aramos dengan gemas dan Bill dengan segera mengambil juga bendana bertuliskan namanya.
Mereka berempat mulai mengatur bendana tersebut dengan bantuan cermin di Cases Duyung. Andrea mengikatnya di leher, Bill mengikatnya di lengan kirinya dengan bantuan Andrea, sedangkan Julio dan Aramos mengikat bendana merah tersebut di kepala mereka. Tawa mereka kembali terdengar setelah dengan konyolnya mereka berempat bergaya di depan cermin.
“Kita harus mengabadikannya” kata Bill bersemangat sambil mengeluarkan hpnya. Dengan mengarahkan ke cermin mereka pun mengabadikan tiga gaya terkonyol mereka. Setelah itu, Julio dan Andrea pun mengeluarkan hp masing-masing untuk mengabadikan gaya-gaya konyol mereka lainnya.
Dan bahkan tanpa malu-malu, Bill meminta salah satu The Brown yang kebetulan lewat di depan cases Duyung untuk memotret mereka berempat.
Setelah mengucapkan terima kasih secara kompak, yang membuat gadis yang memotret mereka tersenyum geli, mereka segera mengecek hasil foto-foto tadi sambil menuju cases Hotpan.
0
Kutip
Balas