- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.7K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#84
Part 6
“Apa kau ada alasan khusus sampai menanyakan hal itu, Andika?” tanya sesepuh desa itu, belum puas dengan jawaban Andika yang tampak mengambang di telinganya.
“Ya,” jawab Andika singkat.
“Apa itu?” tanya Ki Manik Angkeran lagi, setengah mendesak.
Andika menarik napas, dan membuangnya perlahan. Kalau alasan menanyakan tentang peristiwa itu diceritakannya, maka mau tak mau harus pula diceritakan tentang tindakan Ratu Racun yang menghebohkan belakangan ini. Hal itu tentu akan memancing rasa ingin tahu Ki Manik Angkeran lebih dalam. Sesepuh desa itu pasti akan menanyakan, siapa diri Andika sebenarnya. Bahkan bisa jadi akan ikut campur dalam persoalan yang mengundang maut itu. Padahal, Andika tak mau jati diri sesungguhnya diketahui lelaki itu. Dia tak mau kedatangannya malah mengusik kegembiraan penduduk desa, kalau mereka tahu Pendekar Slebor yang menghebohkan belakangan ini ada di sini.
“Apa itu perlu, Ki?” tanya Andika kembali..
“Tampaknya begitu, Andika. Sebab aku tak mau lancang memberi keterangan kalau tidak benar-benar yakin tujuan baik orang yang bertanya,” lanjut Ki Manik Angkeran, tegas berwibawa.
Sekali lagi Andika menghela napas.
“Baiklah, Ki.... Kalau itu memang syarat yang harus kulaksanakan untuk dapat keterangan darimu,” desah Andika.
Andika pun mulai bercerita, kenapa dia menginginkan keterangan itu. Termasuk, bercerita singkat bagaimana keterlibatannya dalam perselisihan dengan Ratu Racun.
“Kalau begitu, kau tentu seorang pendekar?” tanya Ki Manik Angkeran, yakin. Belum juga Andika menjawab.....
“Kalau boleh kutahu, siapa julukanmu?”
Akhirnya yang dikhawatirkan Andika pun terjadi.
“Ah, hanya julukan kosong, Ki. Orang-orang sering meledekku dengan memanggil Pendekar Slebor...,” tutur Andika terpaksa merendah. Suaranya sengaja dibuat selemah mungkin, agar tidak ada orang lain yang mendengar.
Mendengar ucapan Andika, lelaki berwibawa itu tampak mengangkat alis putihnya tinggi-tinggi. Matanya seketika agak membesar, tanda keterkejutannya.
“Astaga! Jadi, kau ini yang berjuluk Pendekar Slebor!” seru laki-laki tua itu, agak keras. “Sungguh suatu kehormatan bagi desa ini, karena dikunjungi pendekar besar macam kau.”
Andika hanya bisa menunduk mendengar pujian sesepuh desa itu.
“Kalau begitu, biar kami membuat acara penyambutan untuk Tuan Pendekar,” kata Ki Manik Angkeran seraya berdiri.
“Tunggu, Ki!” cegah Andika.
“Tak perlu acara seperti itu. Lagi pula, aku tak ingin mengganggu kegembiraan penduduk. Aku akan senang, kalau kau menceritakan tentang kejadian delapan belas tahun lalu itu...”
Ki Manik Angkeran mengangguk-angguk, kagum pada kerendahan hati pendekar muda di hadapannya.
“Baiklah kalau begitu,” desah orang tua itu, lalu duduk kembali di kursinya.
“Delapan belas tahun lalu....”
Baru saja Ki Manik Angkeran memulai ceritanya, tiba-tiba....
“Aaa...!”
Terdengar pekikan panjang seperti hendak merobek gendang telinga. Asalnya dari keramaian di tengah alun-alun. Tentu saja jeritan itu mengejutkan Pendeekar Slebor dan Ki Manik Angkeran. Maka keduanya saling pandang sesaat, seakan tak yakin dengan pendengaran masing-masing.
“Aaakh...!”
Kembali terdengar pekikan lebih menyayat. Kali ini, Andika tak menunggu lebih lama. Seketika tubuhnya digenjot secepat mungkin, lalu melesat ke arah jeritan bagai anak panah lepas dari busur. Begitu pula Ki Manik Angkeran. Dengan ringan, sesepuh desa itu berlari di belakang Andika. Sebagai seorang yang dipercaya penduduk, sudah tentu Ki Manik Angkeran memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Namun sebelum benar-benar sampai di tempat kejadian....
“Manik Angkeran! Kalau kau tak segera keluar, akan kubunuh satu demi satu wargamu!”
Terdengar teriakan amarah dari seseorang, sehingga membuat Ki Manik Angkeran terkejut. Tapi, hal itu tidak membuatnya berhenti berlari. Disadari sepenuhnya kalau tanggung jawabnya Selaku seorang sesepuh Desa Wadaswetan akan diuji. Hal itu bisa dipastikan dari seruan yang baru saja didengarnya.
Ancaman orang itu tampaknya bukan main-main. Dua teriakan tadi mungkin sebagai peringatan awal bagi Ki Manik Angkeran. Dia yakin, dua nyawa warganya telah terenggut. Kalau tidak segera tiba di tempat kejadian, nyawa ketiga mungkin akan segera melayang. Makanya larinya kian dipercepat.
Begitu tiba di tempat kericuhan, Andika dan Ki Manik Angkeran melihat seorang wanita berpakaian hitam-hitam sedang berdiri angkuh di tengah alun-alun. Sementara, dua mayat warga desa tergeletak tepat di sisi kakinya. Dan Andika mengenalnya sebagai Ratu Racun yang sempat bentrok dengannya beberapa waktu lalu. Sementara warga desa yang semula berkumpul gembira di alun-alun kini telah pergi dalam keadaan kalang-kabut. Meski begitu, masih banyak juga yang bernyali cukup besar. Mereka berkerumun di sekitar pinggiran alun-alun untuk menyaksikan kejadian selanjutnya.
“Ada apa ini?!” seru Ki Manik Angkeran lantang.
Sekitar lima belas tombak dari Ratu Racun, Ki Manik Angkeran berdiri gagah. Sementara, Andika tidak terlihat di dekatnya. Ke mana dia?
Di lain sudut, Kepala Desa Wadaswetan yang baru pun telah tiba pula. Namanya, Anom Wijaya. Perawakannya agak gemuk dan pendek. Usianya sekitar empat puluh delapan tahun Matanya besar, berhidung mancung, dan bibirnya dihiasi kumis tipis. Seperti juga K i Manik Angkeran, rambutnya ditutupi blangkon lurik. Pakaiannya pun kembang-kembang yang dipadu kain lurik sebatas betis. Segera saja Ki Anom Wijaya menghampiri Ki Manik Angkeran.
“Ada apa, Ki Manik?” tanya kepala desa yang baru ini.
“Aku pun baru saja menanyakan hal itu padanya. Tapi, tampaknya dia belum mau menjawab pertanyaanku,” jawab Ki Manik Angkeran seraya menoleh sesaat pada kepala desa ini.
Setelah itu mata laki-laki tua ini kembali tertuju pada wanita berpakaian hitam-hitam serta bercadar merah tembus panjang.
“Apa kepentinganmu sebenarnya, sehingga begitu tega membunuh warga kami, Nisanak?” tanya Ki Anom Wijaya dengan suara dibuat seramah mungkin. Padahal dalam dada amarahnya demikian meletup-letup.
“Kau tak ada urusan denganku, Kisanak!” sahut Ratu Racun sinis.
“Aku hanya ingin berurusan dengan Ki Manik Angkeran....”
Ki Anom Wijaya menoleh pada Ki Manik Angkeran, seperti ingin meminta pertimbangan sesepuh desa itu.
“Apa keperluanmu denganku, Nisanak?” tanya Ki Manik Angkeran.
“Tidak banyak.... Aku hanya ingin membunuhmu!”
Ki Anom Wijaya cukup terkesiap mendengar jawaban lancang wanita yang mengacau desanya itu. Tapi lain lagi bagi Ki Manik Angkeran. Seraya melangkah lebih dekat pada Ratu Racun, dia terus menatap penuh ketenangan.
“Kenapa kau hendak membunuhku? Apa aku pernah berbuat salah padamu?” tanya Ki Manik Angkeran.
“Tak perlu menanyakan kesalahanmu, Manik Angkeran. Coba diingat-ingat lagi. Maka, kau akan tahu kalau kau punya sangkutan dengan seseorang...,” sahut Ratu Racun.
Ki Manik Angkeran mengernyitkan dahi. Sama sekali tak dipahami maksud wanita di depannya.
“Apa kau bisa lebih jelas menerangkan padaku?” ungkit sesepuh desa ini, meminta kejelasan.
“Tak perlu! Yang pasti, kau harus menyerahkan nyawamu padaku malam ini juga!”
Tanpa perlu berucap lebih banyak lagi, Ratu Racun tiba-tiba melabrak Ki Manik Angkeran yang berdiri sepuluh tombak di depannya.
“Hiaaa...!”
Tampaknya pertempuran tak bisa dihindari lagi....
Tak ada seorang pun yang ingin mati cepat-cepat. Apalagi sampai terkena pukulan beracun milik Ratu Racun. Seperti juga Ki Manik Angkeran. Melihat serangan ganas wanita itu, Ki Manik Angkeran dengan sigap segera memasang pertahanannya. Ketika telapak Ratu Racun hendak menghantam dada, lelaki tua itu segera berkelit cepat ke samping kiri seraya melakukan serangan balasan. Tangan kirinya cepat menebas ke leher Ratu Racun dengan tak kalah cepat.
“Hih!”
Wut!
Tebasan tangan Ki Manik Angkeran luput, ketika Ratu Racun cepat merundukkan tubuhnya. Memang tak ada yang mudah untuk menjatuhkan tokoh setingkat Ratu Racun. Apalagi, jika melihat korban-korbannya yang rata-rata mati dalam keadaan mengerikan.
Serangan susulan Ratu Racun mengarah pada kaki kanan Ki Manik Angkeran yang menjejak dalama keadaan mantap. Disapunya kaki orang tua itu dengan kaki kanannya. Namun, Ki Manik Angkeran sudah menduga datangnya serangan. Apalagi memang disadari kalau kaki kanannya adalah kunci pertahanan dirinya. Maka dengan tangkas pertahanannya dipindahkan ke kaki kiri. Sedangkan kaki kanannya segera diangkat tinggi-tinggi.
“Hap!”
Wesss!
Pasir alun-alun seketika bertebaran tersapu kaki kiri Ratu Racun setelah luput menyapu kaki lawan Sementara, Ki Manik Angkeran kembali memindahkan pertahanannya ke kaki yang lain. Namun di saat itu, Ratu Racun mencoba kembali mencecar tubuh sebelah kiri orang tua yang belum benar-benar siap itu.
Bet! Bet! Bet!
Tiga pukulan berantai mengarah pada leher, dada, dan kening Ki Manik Angkeran. Untunglah sesepuh desa itu memiliki pengalaman bertarung cukup matang. Sehingga, cecaran seperti itu tidak membuatnya menjadi kelimpungan. Maka dengan satu gerakan mantap, Ki Manik Angkeran bersalto ke belakang. Sengaja tubuhnya dilempar agar seluruh serangan lawan dapat kandas dalam satu gerakan menghindar.
“Hiaaa...!”
Ternyata, perhitungannya tepat. Seketika tiga pukulan berantai lawan sanggup dimentahkan sekaligus.
Tep!
Kini Ki Manik Angkeran mendaratkan kakinya mantap di tanah dengan napas memburu, tujuh tombak di depan Ratu Racun. Matanya mengawasi perempuan itu dengan sinar penuh kesiagaan.
“Ternyata kau cukup punya simpanan, Angkeran. Tak percuma kau dipercaya menjadi sesepuh desa ini. Tapi sayang, tenaga tuamu tak akan mengizinkan kau bertarung lebih dari lima puluh jurus. Cepat atau lambat, kau akan mati di tanganku...,” ujar Ratu Racun disertai ancaman.
“Benar katanya, Ki Manik. Kau memang sudah cukup tua untuk bermain-main dengan wanita nakal ini! Kenapa tak diserahkan saja pada orang yang lebih muda...?” ujar seseorang dibelakang Ratu Racun tenang.
Rupanya tahu-tahu Andika sudah berada di arena pertarungan tanpa diketahui Ratu Racun. Bahkan oleh Ki Manik Angkeran yang menghadap ke arahnya. Tanpa menoleh, Ratu Racun menggeram angkuh.
“Sebutkan namamu agar aku bisa menguburmu bersama si tua jompo dengan satu batu nisan.”
Namun tak ada jaban yang terdengar. Bahkan desah napas orang di belakangnya pun tak lagi tertangkap telinga Ratu Racun. Tiba-tiba saja wanita itu merasa telah dipermainkan. Dengan satu gerakan cepat, tubuhnya berbalik.
“baik! Apa kau pikir kau....”
Bentakan Ratu Racun terputus ketika matanya tidak menemukan orang yang meledeknya dibelakang barusan. Matanya bergerak liar ke sana kemari di balik cadar, mencari orang yang dimaksud.
“Aku di sini, Mbok! Mau menyuruhku beli terasi?!” kata Andika sembarangan. Kini, pemuda itu telah berdiri tepat di sisi Ki Manik Angkeran.
Ratu Racun berbalik kembali dengan kemarahan memuncak.
“Bedebah kau!” bentak wanita itu sambil berbalik
“Aha! Dia lagi...!” ledek Andika, saat matanya bertatapan dengan mata Ratu Racun yang terlihat samar di balik cadar merahnya.
Kalau tak bersembunyi di balik cadar itu, mungkin Andika dan Ki Manik Angkeran akan segera melihat bias keterkejutan pada wajah wanita itu. Bagaimana tidak terperanjat? Selama hari-hari belakangan ini, Ratu Racun begitu bangga pada kesaktian dirinya yang telah mampu membunuh Pendekar Slebor yang kesohor dengan racun andalannya. Dan dia yakin sekali akan kesaktiannya. Tapi, hari ini kenyataan mengatakan lain. Ternyata pendekar yang selalu menyebalkan bagi tokoh aliran sesat itu masih bisa tersenyum seperti cengiran kuda sableng!
“Tak usah terkejut.... Kalau orang sepertiku mati cepat-cepat, siapa nanti yang akan membuat hidung manusia sepertimu kembang-kempis karena jengkel. He he he...!” cerocos Andika kembali.
“Kali ini kau akan mati sungguh-sungguh!” hardik Ratu Racun jengkel.
“Memangnya ada mati bohongan? Ih! Seperti di lakon sandiwara saja...,” tambah Andika, makin membuat lawannya melotot geram.
“Bangsaaat...!” bentak Ratu Racun di batas kegusarannya.
“Ada di kasuuur...,” timpal Pendekar Slebor, semakin konyol.
“Hiaaat!”
Ratu Racun tak bisa menahan kemurkaannya lagi. Maka satu hentakan berisi tenaga dalam membawa tubuhnya meluncur deras ke arah Andika yang masih berdiri santai dengan bibir mengulum senyum.
“Ki Manik, silakan menyingkir,” ujar pemuda itu tenang pada Ki Manik Angkeran seraya membungkuk. Padahal, jarak antara dirinya dengan Ratu Racun nyaris habis. Tapi, justru itulah akal Pendekar Slebor. Dengan menundukkan kepala seperti itu, berarti sekaligus menghindari cengkeraman jari beracun lawan yang mengarah ke kepalanya.
Wut!
Cakaran jari Ratu Racun hanya membabat angin.
“Waduh! Untung aku sedang merunduk,” ocah Andika kebodoh-bodohan.
Sepasang tangan Pendekar Slebor lalu terangkat ke arah dada Ratu Racun. Serangan balasan seperti itu terlihat kurang ajar di mata siapa pun. Apalagi, bagi lawannya. Dengan mata mendelik gusar, Ratu Racun menghindar cepat ke belakang. Tapi tak dinyana sama sekali, serangan Pendekar Slebor ternyata hanya ledekan saja. Tangan anak muda itu ternyata hanya terangkat tanpa maksud menjamahnya.
“Wah! Tertipu, nih?”
Ratu Racun semakin marah tak terbendung. Diterjangnya kembali Andika dengan kaki kanannya yang ganas menyapu kepala.
“Haiiit...!”
Deb!
Dalam keadaan masih merunduk, sulit bagi Andika mengelakkan serangan. Maka itu tak ada pilihan lain baginya, kecuali menjatuhkan tubuh ke tanah. Pendekar Slebor langsung melakukan putaran ke depan, maka tendangan ganas Ratu Racun pun kandas. Kali ini Pendekar Slebor tak main-main lagi dalam melancarkan serangan balik. Dengan jurus ‘Petir Selaksa’, serangannya diawali dengan satu terjangan sepasang tangannya ke perut Ratu Racun yang memiliki pertahanan paling lemah.
“Haaat!”
Ratu Racun tentu saja tak membiarkan perutnya jadi sasaran. Sengaja dicobanya untuk memapak tangan Andika. Karena pertemuan tangannya dengan tangan Pendekar Slebor, racun yang terpusat di seluruh lengannya secara langsung akan merasuk ke dalam tubuh lawan.
Pendekar Slebor yang pernah bertemu Ratu Racun, tentunya tak mau mengulangi kesalahannya. Segera disadari kalau perempuan itu akan mengadu tangan. Maka secepatnya Andika menarik kembali terjangan-nya.
“Hup!”
Pendekar Slebor cepat menarik pulang tangannya ke depan dada. Lalu secepat kilat kedua tangannya dihempaskan kedepan, bagai seorang yang hendak menyergap kilatan petir. Kali ini, leher Ratu Racun yang terancam oleh sepuluh jemari Pendekar Slebor yang merentang tegang hendak menembus leher jenjangnya. Meski sempat terkesiap, Ratu Racun masih dapat mengegoskan tubuhnya ke kanan sepenuh tenaga. Meski begitu, satu jari Andika menggores kulit lehernya.
“Aih!” pekik Ratu Racun merasakan pedih yang tak terkira.
Sambil mendekap lehernya, Ratu Racun cepat melenting ke belakang beberapa putaran. Keadaannya yang tidak menguntungkan memaksanya melakukan tindakan itu. Pendekar Slebor tak ingin membiarkan Ratu Racun menarik napas lega. Diburunya kembali perempuan itu dengan jurusnya yang terlihat ganjil.
Untuk serangan kali ini, kepalanya menyeruduk liar ke perut Ratu Racun. Jurus-jurus yang diciptakannya selama di Lembah Kutukan memang terbentuk dari gerakan untuk menghindari sambaran petir. Sehingga kalau dilihat, jurus-jurusnya hanya berupa gerakan ngawur tak teratur. Namun bagi tokoh kelas atas seperti Ratu Racun sendiri, jurus Pendekar Slebor tergolong sulit dihadapi. Di samping aneh, jurusnya juga seringkah mengecohkan. Bila Ratu Racun mengira serangan akan tertuju pada satu bagian tubuh, maka yang akan dihajar justru bagian lain. Keganjilan itulah yang membuat gerakan pendekar muda ini sulit diterka.
Seperti juga saat ini. Tatkala Ratu Racun hendak meremukkan kepala Pendekar Slebor yang meluncur deras ke perutnya, namun pendekar muda itu tiba-tiba malah berguling di tanah. Saat berputar, sepasang kaki Pendekar Slebor langsung merangsek kedua perut perempuan itu.
Duk! Duk!
“Egh!”
“Apa kau ada alasan khusus sampai menanyakan hal itu, Andika?” tanya sesepuh desa itu, belum puas dengan jawaban Andika yang tampak mengambang di telinganya.
“Ya,” jawab Andika singkat.
“Apa itu?” tanya Ki Manik Angkeran lagi, setengah mendesak.
Andika menarik napas, dan membuangnya perlahan. Kalau alasan menanyakan tentang peristiwa itu diceritakannya, maka mau tak mau harus pula diceritakan tentang tindakan Ratu Racun yang menghebohkan belakangan ini. Hal itu tentu akan memancing rasa ingin tahu Ki Manik Angkeran lebih dalam. Sesepuh desa itu pasti akan menanyakan, siapa diri Andika sebenarnya. Bahkan bisa jadi akan ikut campur dalam persoalan yang mengundang maut itu. Padahal, Andika tak mau jati diri sesungguhnya diketahui lelaki itu. Dia tak mau kedatangannya malah mengusik kegembiraan penduduk desa, kalau mereka tahu Pendekar Slebor yang menghebohkan belakangan ini ada di sini.
“Apa itu perlu, Ki?” tanya Andika kembali..
“Tampaknya begitu, Andika. Sebab aku tak mau lancang memberi keterangan kalau tidak benar-benar yakin tujuan baik orang yang bertanya,” lanjut Ki Manik Angkeran, tegas berwibawa.
Sekali lagi Andika menghela napas.
“Baiklah, Ki.... Kalau itu memang syarat yang harus kulaksanakan untuk dapat keterangan darimu,” desah Andika.
Andika pun mulai bercerita, kenapa dia menginginkan keterangan itu. Termasuk, bercerita singkat bagaimana keterlibatannya dalam perselisihan dengan Ratu Racun.
“Kalau begitu, kau tentu seorang pendekar?” tanya Ki Manik Angkeran, yakin. Belum juga Andika menjawab.....
“Kalau boleh kutahu, siapa julukanmu?”
Akhirnya yang dikhawatirkan Andika pun terjadi.
“Ah, hanya julukan kosong, Ki. Orang-orang sering meledekku dengan memanggil Pendekar Slebor...,” tutur Andika terpaksa merendah. Suaranya sengaja dibuat selemah mungkin, agar tidak ada orang lain yang mendengar.
Mendengar ucapan Andika, lelaki berwibawa itu tampak mengangkat alis putihnya tinggi-tinggi. Matanya seketika agak membesar, tanda keterkejutannya.
“Astaga! Jadi, kau ini yang berjuluk Pendekar Slebor!” seru laki-laki tua itu, agak keras. “Sungguh suatu kehormatan bagi desa ini, karena dikunjungi pendekar besar macam kau.”
Andika hanya bisa menunduk mendengar pujian sesepuh desa itu.
“Kalau begitu, biar kami membuat acara penyambutan untuk Tuan Pendekar,” kata Ki Manik Angkeran seraya berdiri.
“Tunggu, Ki!” cegah Andika.
“Tak perlu acara seperti itu. Lagi pula, aku tak ingin mengganggu kegembiraan penduduk. Aku akan senang, kalau kau menceritakan tentang kejadian delapan belas tahun lalu itu...”
Ki Manik Angkeran mengangguk-angguk, kagum pada kerendahan hati pendekar muda di hadapannya.
“Baiklah kalau begitu,” desah orang tua itu, lalu duduk kembali di kursinya.
“Delapan belas tahun lalu....”
Baru saja Ki Manik Angkeran memulai ceritanya, tiba-tiba....
“Aaa...!”
Terdengar pekikan panjang seperti hendak merobek gendang telinga. Asalnya dari keramaian di tengah alun-alun. Tentu saja jeritan itu mengejutkan Pendeekar Slebor dan Ki Manik Angkeran. Maka keduanya saling pandang sesaat, seakan tak yakin dengan pendengaran masing-masing.
“Aaakh...!”
Kembali terdengar pekikan lebih menyayat. Kali ini, Andika tak menunggu lebih lama. Seketika tubuhnya digenjot secepat mungkin, lalu melesat ke arah jeritan bagai anak panah lepas dari busur. Begitu pula Ki Manik Angkeran. Dengan ringan, sesepuh desa itu berlari di belakang Andika. Sebagai seorang yang dipercaya penduduk, sudah tentu Ki Manik Angkeran memiliki kepandaian yang dapat diandalkan. Namun sebelum benar-benar sampai di tempat kejadian....
“Manik Angkeran! Kalau kau tak segera keluar, akan kubunuh satu demi satu wargamu!”
Terdengar teriakan amarah dari seseorang, sehingga membuat Ki Manik Angkeran terkejut. Tapi, hal itu tidak membuatnya berhenti berlari. Disadari sepenuhnya kalau tanggung jawabnya Selaku seorang sesepuh Desa Wadaswetan akan diuji. Hal itu bisa dipastikan dari seruan yang baru saja didengarnya.
Ancaman orang itu tampaknya bukan main-main. Dua teriakan tadi mungkin sebagai peringatan awal bagi Ki Manik Angkeran. Dia yakin, dua nyawa warganya telah terenggut. Kalau tidak segera tiba di tempat kejadian, nyawa ketiga mungkin akan segera melayang. Makanya larinya kian dipercepat.
Begitu tiba di tempat kericuhan, Andika dan Ki Manik Angkeran melihat seorang wanita berpakaian hitam-hitam sedang berdiri angkuh di tengah alun-alun. Sementara, dua mayat warga desa tergeletak tepat di sisi kakinya. Dan Andika mengenalnya sebagai Ratu Racun yang sempat bentrok dengannya beberapa waktu lalu. Sementara warga desa yang semula berkumpul gembira di alun-alun kini telah pergi dalam keadaan kalang-kabut. Meski begitu, masih banyak juga yang bernyali cukup besar. Mereka berkerumun di sekitar pinggiran alun-alun untuk menyaksikan kejadian selanjutnya.
“Ada apa ini?!” seru Ki Manik Angkeran lantang.
Sekitar lima belas tombak dari Ratu Racun, Ki Manik Angkeran berdiri gagah. Sementara, Andika tidak terlihat di dekatnya. Ke mana dia?
Di lain sudut, Kepala Desa Wadaswetan yang baru pun telah tiba pula. Namanya, Anom Wijaya. Perawakannya agak gemuk dan pendek. Usianya sekitar empat puluh delapan tahun Matanya besar, berhidung mancung, dan bibirnya dihiasi kumis tipis. Seperti juga K i Manik Angkeran, rambutnya ditutupi blangkon lurik. Pakaiannya pun kembang-kembang yang dipadu kain lurik sebatas betis. Segera saja Ki Anom Wijaya menghampiri Ki Manik Angkeran.
“Ada apa, Ki Manik?” tanya kepala desa yang baru ini.
“Aku pun baru saja menanyakan hal itu padanya. Tapi, tampaknya dia belum mau menjawab pertanyaanku,” jawab Ki Manik Angkeran seraya menoleh sesaat pada kepala desa ini.
Setelah itu mata laki-laki tua ini kembali tertuju pada wanita berpakaian hitam-hitam serta bercadar merah tembus panjang.
“Apa kepentinganmu sebenarnya, sehingga begitu tega membunuh warga kami, Nisanak?” tanya Ki Anom Wijaya dengan suara dibuat seramah mungkin. Padahal dalam dada amarahnya demikian meletup-letup.
“Kau tak ada urusan denganku, Kisanak!” sahut Ratu Racun sinis.
“Aku hanya ingin berurusan dengan Ki Manik Angkeran....”
Ki Anom Wijaya menoleh pada Ki Manik Angkeran, seperti ingin meminta pertimbangan sesepuh desa itu.
“Apa keperluanmu denganku, Nisanak?” tanya Ki Manik Angkeran.
“Tidak banyak.... Aku hanya ingin membunuhmu!”
Ki Anom Wijaya cukup terkesiap mendengar jawaban lancang wanita yang mengacau desanya itu. Tapi lain lagi bagi Ki Manik Angkeran. Seraya melangkah lebih dekat pada Ratu Racun, dia terus menatap penuh ketenangan.
“Kenapa kau hendak membunuhku? Apa aku pernah berbuat salah padamu?” tanya Ki Manik Angkeran.
“Tak perlu menanyakan kesalahanmu, Manik Angkeran. Coba diingat-ingat lagi. Maka, kau akan tahu kalau kau punya sangkutan dengan seseorang...,” sahut Ratu Racun.
Ki Manik Angkeran mengernyitkan dahi. Sama sekali tak dipahami maksud wanita di depannya.
“Apa kau bisa lebih jelas menerangkan padaku?” ungkit sesepuh desa ini, meminta kejelasan.
“Tak perlu! Yang pasti, kau harus menyerahkan nyawamu padaku malam ini juga!”
Tanpa perlu berucap lebih banyak lagi, Ratu Racun tiba-tiba melabrak Ki Manik Angkeran yang berdiri sepuluh tombak di depannya.
“Hiaaa...!”
Tampaknya pertempuran tak bisa dihindari lagi....
***
Tak ada seorang pun yang ingin mati cepat-cepat. Apalagi sampai terkena pukulan beracun milik Ratu Racun. Seperti juga Ki Manik Angkeran. Melihat serangan ganas wanita itu, Ki Manik Angkeran dengan sigap segera memasang pertahanannya. Ketika telapak Ratu Racun hendak menghantam dada, lelaki tua itu segera berkelit cepat ke samping kiri seraya melakukan serangan balasan. Tangan kirinya cepat menebas ke leher Ratu Racun dengan tak kalah cepat.
“Hih!”
Wut!
Tebasan tangan Ki Manik Angkeran luput, ketika Ratu Racun cepat merundukkan tubuhnya. Memang tak ada yang mudah untuk menjatuhkan tokoh setingkat Ratu Racun. Apalagi, jika melihat korban-korbannya yang rata-rata mati dalam keadaan mengerikan.
Serangan susulan Ratu Racun mengarah pada kaki kanan Ki Manik Angkeran yang menjejak dalama keadaan mantap. Disapunya kaki orang tua itu dengan kaki kanannya. Namun, Ki Manik Angkeran sudah menduga datangnya serangan. Apalagi memang disadari kalau kaki kanannya adalah kunci pertahanan dirinya. Maka dengan tangkas pertahanannya dipindahkan ke kaki kiri. Sedangkan kaki kanannya segera diangkat tinggi-tinggi.
“Hap!”
Wesss!
Pasir alun-alun seketika bertebaran tersapu kaki kiri Ratu Racun setelah luput menyapu kaki lawan Sementara, Ki Manik Angkeran kembali memindahkan pertahanannya ke kaki yang lain. Namun di saat itu, Ratu Racun mencoba kembali mencecar tubuh sebelah kiri orang tua yang belum benar-benar siap itu.
Bet! Bet! Bet!
Tiga pukulan berantai mengarah pada leher, dada, dan kening Ki Manik Angkeran. Untunglah sesepuh desa itu memiliki pengalaman bertarung cukup matang. Sehingga, cecaran seperti itu tidak membuatnya menjadi kelimpungan. Maka dengan satu gerakan mantap, Ki Manik Angkeran bersalto ke belakang. Sengaja tubuhnya dilempar agar seluruh serangan lawan dapat kandas dalam satu gerakan menghindar.
“Hiaaa...!”
Ternyata, perhitungannya tepat. Seketika tiga pukulan berantai lawan sanggup dimentahkan sekaligus.
Tep!
Kini Ki Manik Angkeran mendaratkan kakinya mantap di tanah dengan napas memburu, tujuh tombak di depan Ratu Racun. Matanya mengawasi perempuan itu dengan sinar penuh kesiagaan.
“Ternyata kau cukup punya simpanan, Angkeran. Tak percuma kau dipercaya menjadi sesepuh desa ini. Tapi sayang, tenaga tuamu tak akan mengizinkan kau bertarung lebih dari lima puluh jurus. Cepat atau lambat, kau akan mati di tanganku...,” ujar Ratu Racun disertai ancaman.
“Benar katanya, Ki Manik. Kau memang sudah cukup tua untuk bermain-main dengan wanita nakal ini! Kenapa tak diserahkan saja pada orang yang lebih muda...?” ujar seseorang dibelakang Ratu Racun tenang.
Rupanya tahu-tahu Andika sudah berada di arena pertarungan tanpa diketahui Ratu Racun. Bahkan oleh Ki Manik Angkeran yang menghadap ke arahnya. Tanpa menoleh, Ratu Racun menggeram angkuh.
“Sebutkan namamu agar aku bisa menguburmu bersama si tua jompo dengan satu batu nisan.”
Namun tak ada jaban yang terdengar. Bahkan desah napas orang di belakangnya pun tak lagi tertangkap telinga Ratu Racun. Tiba-tiba saja wanita itu merasa telah dipermainkan. Dengan satu gerakan cepat, tubuhnya berbalik.
“baik! Apa kau pikir kau....”
Bentakan Ratu Racun terputus ketika matanya tidak menemukan orang yang meledeknya dibelakang barusan. Matanya bergerak liar ke sana kemari di balik cadar, mencari orang yang dimaksud.
“Aku di sini, Mbok! Mau menyuruhku beli terasi?!” kata Andika sembarangan. Kini, pemuda itu telah berdiri tepat di sisi Ki Manik Angkeran.
Ratu Racun berbalik kembali dengan kemarahan memuncak.
“Bedebah kau!” bentak wanita itu sambil berbalik
“Aha! Dia lagi...!” ledek Andika, saat matanya bertatapan dengan mata Ratu Racun yang terlihat samar di balik cadar merahnya.
Kalau tak bersembunyi di balik cadar itu, mungkin Andika dan Ki Manik Angkeran akan segera melihat bias keterkejutan pada wajah wanita itu. Bagaimana tidak terperanjat? Selama hari-hari belakangan ini, Ratu Racun begitu bangga pada kesaktian dirinya yang telah mampu membunuh Pendekar Slebor yang kesohor dengan racun andalannya. Dan dia yakin sekali akan kesaktiannya. Tapi, hari ini kenyataan mengatakan lain. Ternyata pendekar yang selalu menyebalkan bagi tokoh aliran sesat itu masih bisa tersenyum seperti cengiran kuda sableng!
“Tak usah terkejut.... Kalau orang sepertiku mati cepat-cepat, siapa nanti yang akan membuat hidung manusia sepertimu kembang-kempis karena jengkel. He he he...!” cerocos Andika kembali.
“Kali ini kau akan mati sungguh-sungguh!” hardik Ratu Racun jengkel.
“Memangnya ada mati bohongan? Ih! Seperti di lakon sandiwara saja...,” tambah Andika, makin membuat lawannya melotot geram.
“Bangsaaat...!” bentak Ratu Racun di batas kegusarannya.
“Ada di kasuuur...,” timpal Pendekar Slebor, semakin konyol.
“Hiaaat!”
Ratu Racun tak bisa menahan kemurkaannya lagi. Maka satu hentakan berisi tenaga dalam membawa tubuhnya meluncur deras ke arah Andika yang masih berdiri santai dengan bibir mengulum senyum.
“Ki Manik, silakan menyingkir,” ujar pemuda itu tenang pada Ki Manik Angkeran seraya membungkuk. Padahal, jarak antara dirinya dengan Ratu Racun nyaris habis. Tapi, justru itulah akal Pendekar Slebor. Dengan menundukkan kepala seperti itu, berarti sekaligus menghindari cengkeraman jari beracun lawan yang mengarah ke kepalanya.
Wut!
Cakaran jari Ratu Racun hanya membabat angin.
“Waduh! Untung aku sedang merunduk,” ocah Andika kebodoh-bodohan.
Sepasang tangan Pendekar Slebor lalu terangkat ke arah dada Ratu Racun. Serangan balasan seperti itu terlihat kurang ajar di mata siapa pun. Apalagi, bagi lawannya. Dengan mata mendelik gusar, Ratu Racun menghindar cepat ke belakang. Tapi tak dinyana sama sekali, serangan Pendekar Slebor ternyata hanya ledekan saja. Tangan anak muda itu ternyata hanya terangkat tanpa maksud menjamahnya.
“Wah! Tertipu, nih?”
Ratu Racun semakin marah tak terbendung. Diterjangnya kembali Andika dengan kaki kanannya yang ganas menyapu kepala.
“Haiiit...!”
Deb!
Dalam keadaan masih merunduk, sulit bagi Andika mengelakkan serangan. Maka itu tak ada pilihan lain baginya, kecuali menjatuhkan tubuh ke tanah. Pendekar Slebor langsung melakukan putaran ke depan, maka tendangan ganas Ratu Racun pun kandas. Kali ini Pendekar Slebor tak main-main lagi dalam melancarkan serangan balik. Dengan jurus ‘Petir Selaksa’, serangannya diawali dengan satu terjangan sepasang tangannya ke perut Ratu Racun yang memiliki pertahanan paling lemah.
“Haaat!”
Ratu Racun tentu saja tak membiarkan perutnya jadi sasaran. Sengaja dicobanya untuk memapak tangan Andika. Karena pertemuan tangannya dengan tangan Pendekar Slebor, racun yang terpusat di seluruh lengannya secara langsung akan merasuk ke dalam tubuh lawan.
Pendekar Slebor yang pernah bertemu Ratu Racun, tentunya tak mau mengulangi kesalahannya. Segera disadari kalau perempuan itu akan mengadu tangan. Maka secepatnya Andika menarik kembali terjangan-nya.
“Hup!”
Pendekar Slebor cepat menarik pulang tangannya ke depan dada. Lalu secepat kilat kedua tangannya dihempaskan kedepan, bagai seorang yang hendak menyergap kilatan petir. Kali ini, leher Ratu Racun yang terancam oleh sepuluh jemari Pendekar Slebor yang merentang tegang hendak menembus leher jenjangnya. Meski sempat terkesiap, Ratu Racun masih dapat mengegoskan tubuhnya ke kanan sepenuh tenaga. Meski begitu, satu jari Andika menggores kulit lehernya.
“Aih!” pekik Ratu Racun merasakan pedih yang tak terkira.
Sambil mendekap lehernya, Ratu Racun cepat melenting ke belakang beberapa putaran. Keadaannya yang tidak menguntungkan memaksanya melakukan tindakan itu. Pendekar Slebor tak ingin membiarkan Ratu Racun menarik napas lega. Diburunya kembali perempuan itu dengan jurusnya yang terlihat ganjil.
Untuk serangan kali ini, kepalanya menyeruduk liar ke perut Ratu Racun. Jurus-jurus yang diciptakannya selama di Lembah Kutukan memang terbentuk dari gerakan untuk menghindari sambaran petir. Sehingga kalau dilihat, jurus-jurusnya hanya berupa gerakan ngawur tak teratur. Namun bagi tokoh kelas atas seperti Ratu Racun sendiri, jurus Pendekar Slebor tergolong sulit dihadapi. Di samping aneh, jurusnya juga seringkah mengecohkan. Bila Ratu Racun mengira serangan akan tertuju pada satu bagian tubuh, maka yang akan dihajar justru bagian lain. Keganjilan itulah yang membuat gerakan pendekar muda ini sulit diterka.
Seperti juga saat ini. Tatkala Ratu Racun hendak meremukkan kepala Pendekar Slebor yang meluncur deras ke perutnya, namun pendekar muda itu tiba-tiba malah berguling di tanah. Saat berputar, sepasang kaki Pendekar Slebor langsung merangsek kedua perut perempuan itu.
Duk! Duk!
“Egh!”
0