- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.9K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#83
Part 5
Beberapa helai rambut Ratu Racun seketika terlepas, lalu meluncur cepat dalam keadaan meregang kuat ke arah tiga lelaki tadi. Naas bagi dua lelaki yang berlari ke arah utara. Kepala mereka langsung tertembus helai rambut Ratu Racun. Keduanya tak sempat menjerit, karena rambut Ratu Racun langsung menembus pusat wicara di otak. Beberapa saat mereka jatuh menggelepar-gelepar di tanah, setelah itu mati dengan seluruh otot di tubuh meregang kejang.
Nasib mujur masih dimiliki lelaki yang berlari ke arah selatan. Ketika rambut beracun hampir menembus batok kepalanya, kakinya terantuk akar pohon yang tersembul hingga jatuh tersuruk.
Srak! Dukl
Jep!
Sementara rambut beracun milik Ratu Racun menancap pada batang pohon di depannya. Sedangkan orang itu sendiri luput dari maut, meski harus jungkir balik di tanah. Sambil mendelik dengan wajah tanpa darah, dia segera bangkit kembali. Lalu secepat kilat dia buron tanpa ingin menoleh ke belakang.
Hutan Watuagung mendadak disergap kesunyian. Tak ada lagi jeritan kematian atau teriakan haus darah. Bahkan binatang melata pun seolah enggan memperdengarkan suaranya. Mungkin karena terkejut dengan keriuhan barusan. Ratu Racun masih berdiri tegak di tempatnya. Tak ada sedikit pun gerak yang dilakukan. Hanya sepasang bola matanya yang mengawasi puas pada mayat-mayat korbannya.
Tak jauh di belakang wanita itu, Andika dan Ki Patigeni masih mengawasi gerak-geriknya. Mereka ingin tahu, apa lagi yang hendak diperbuat wanita itu. Ternyata orang yang diawasi hanya bersiap untuk pergi dari tempat itu.
“Kita cegah, Andika. Tampaknya dia akan pergi...,” bisik Ki Patigeni seraya hendak bangkit dari semak-semak
“Tunggu, Ki,” tahan Andika. Dipegangnya bahu kurus Ki Patigeni.
Tentu saja tindakan Andika membuat lelaki tua itu heran. Belum lama tadi, justru Andika yang ingin segera turun tangan. Kini, setelah Ki Patigeni memutuskan untuk segera mengambil tindakan, anak muda itu malah menahannya.
“Kenapa?” tanya Ki Patigeni ingin mengetahui alas an Andika.
“Aku merasa ada suatu yang ganjil, Ki,” ungkap Andika.
“Di dunia ini memang banyak manusia yang ganjil....”
“Bukan itu, Ki”
“Lalu apa?”
“Entahlah. Aku juga belum bisa memastikannya....”
“Siapa itu?!”
Tiba-tiba Ratu Racun berseru lantang. Rupanya telinganya menangkap kasak-kusuk dibalik semak-semak di belakangnya. Kalau tadi perhatiannya terpusat pada lawan sehingga tak memperhatikan keadaan sekitar, kini pendengarannya bisa lebih dipusatkan pada suara-suara yang mencurigakan.
Ki Patigeni memandang Andika dengan senyum kecil. Bahunya dinaikkan sedikit, mengisyaratkan kalau akhirnya mereka mesti keluar juga. Tapi, Andika tak mau mengambil langkah pertama, kalau langkah kedua masih bisa diusahakan. Maka kembali Ki Patigeni ditahannya. Sementara Ki Patigeni bertanya-tanya sendiri dalam hati. Apa lagi yang ingin diperbuat anak muda ini?
Andika memberi isyarat pada Ki Patigeni dengan telunjuknya ke belakang. Orang tua itu pun menoleh ke arah yang ditunjuk Andika. Sekitar tiga tombak di belakangnya tampak seekor ular sanca belang sedang melilit di sebuah lubang pohon. Dengan cara yang cerdik, Andika menggosok-gosok kedua telapak tangannya di dekat ular sanca itu. Pengerahan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya, membuat hawa disekitar lubang menjadi panas. Beberapa saat kemudian, ular itu beringsut keluar sambil mendesis-desis.
Masih dengan hawa panas di kedua telapak tangannya, ular itu digiring sedikit demi sedikit ke arah Ratu Racun. Tak lama kemudian, ular itu telah terlihat oleh Ratu Racun yang masih memasang telinga, karena mendengar suara mencurigakan tadi. Namun melihat seekor ular sanca besar keluar dari semak-semak dekat persembunyian Andika dan Ki Patigeni, kecurigaan Ratu Racun lenyap begitu saja. Akhirnya disimpulkan, bisik-bisik yang didengarnya ternyata hanya desisan ular.
Dan seraya menghela napas panjang, Ratu Racun akhirnya melesat cepat bagai kilat pergi dari situ. Tubuhnya seketika ditelan kegelapan malam.
“Fhuih...!” Andika menghempas napas lega.
“Kau menghindari Ratu Racun bukan karena kapok dengan racunnya, kan?” ledek Ki Patigeni, bercanda.
“Aku memang kapok, Ki...,” jawab Andika acuh sambil melangkah keluar dari kerimbunan semak.
“Dasar kecoak pengecut!” goda Ki Patigeni lagi.
“Kecoak pengecut..., tapi ganteng tentunya. Ha ha ha...! balas Andika tanpa merasa harga dirinya direndahkan.
Tentu saja Andika mengerti kalau Ki Patigeni hanya berkelakar saja. Dan lelaki tua itu sendiri tentu mengerti, pasti ada alasan yang tepat bagi Andika untuk menghindari Ratu Racun tadi. Sementara Pendekar Slebor menghampiri tempat pertempuran yang dipenuhi mayat, Ki Patigeni mengawasinya dari kejauhan. Ingin diketahuinya, hasil apa yang didapat anak muda itu. Dari berita yang didengarnya, seringkah disebutkan kalau pendekar muda itu memiliki kecerdikan luar biasa.
Tak lama kemudian....
“Ki, cepat ke sini!” panggil Andika. Ki Patigeni cepat menghampiri.
“Ada apa?” tanya orang tua itu singkat.
Andika menunjukkan sesuatu di tangannya.
“Kau tahu, benda apa ini, Ki?” tanya Andika.
Ki Patigeni mengambil benda itu dari tangan Andika. Diamatinya benda sebesar anak kunci, berbentuk ukiran Bunga Wijayakusuma.
“Ini hanya kerajinan khas dari Desa Wadaswetan,” jelas Ki Patigeni.
“Biasanya warga desa itu mengenakan benda ini untuk kalung anak-anaknya....”
“Nah itu satu petunjuk, Ki...”
“Petunjuk apa? Aku belum menangkap maksudmu....”
Andika tak segera menjelaskan pertanyaan Ki Patigeni. Malah lelaki tua itu diajaknya untuk memperhatikan mayat-mayat korban Ratu Racun
“Apakah ada di antara mereka yang kau kenal, Ki?” tanya anak muda itu kemudian.
Beberapa saat Ki Patigeni mengamati mayat-mayat
“Ya! Aku kenal orang ini,” ujar Ki Patigeni, akhirnya.
“Sudah kuduga. Siapa dia, Ki?”
“Rawegenggong, seorang kaki tangan Begal Ireng yang cukup diandalkan,” sahut Ki Patigeni lagi.
Andika melangkah mondar-mandir seraya mengacung-acungkan jari telunjuknya di depan dada. Lagaknya sudah seperti kakek jompo sedang menghitung jumlah anak cucunya.
“Sekarang aku ada pertanyaan untukmu, Ki,” kata Pendekar Slebor kembali.
Sedang Ki Patigeni menunggu dengan sabar.
“Pernahkah Kranggaek dan Rawegenggong melakukan kejahatan di Desa Wadaswetan?” tanya Andika penuh keyakinan.
Baru saja Ki Patigeni hendak menggerakkan bibir, Andika sudah menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan di depan dada.
“A... a. Tak usah dijawab, Ki. Karena aku yakin, kau akan menjawab, iya,” cegah Andika, sok tahu.
Ki Patigeni hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak muda satu ini memang sering membuatnya gemas. Ingin rasanya kepala anak muda sok tahu itu ditinjunya. Tapi, kenyataannya memang benar. Dia memang ingin menjawab, iya.
“Sekarang aku ingin bertanya lagi padamu, Ki. Dengan siapa lagi kedua orang itu melakukan kejahatan di Desa Wadaswetan?”
Ki Patigeni tak segera menjawab. Dia berpikir, pasti Andika akan menyelaknya lagi.
“Ki?” tegur Andika.
“Apa kau sudah mengantuk?”
“Anak brengsek! Tentu saja tidak. Aku hanya mengira kalau jawabannya sudah kau ketahui...,” sangkal Ki Patigeni agak dongkol bercampur gemas.
Pendekar Konyol jadi tersenyum bodoh pada lelaki tua itu. Digerak-gerakkan sepasang alis yang melengkung bagai kepakan elang itu.
“Makanya jangan sok tahu!” gerutu Ki Patigeni.
“Mereka melakukan pembegalan di desa itu, bersama enam orang lain. Selain Kranggaek dan Rawegenggong, ada Bagaswara, Karangga, Nyi Rorokweni, Baturwedi, Sonagupta, dan Linggaraksa.”
“Terima kasih banyak, Ki,” ucap Andika seraya menjura konyol.
“Jadi kau ingin mengatakan, kalau mereka adalah sasaran dendam Ratu Racun?” tanya Ki Patigeni tanpa mempeduhkan tingkah Andika.
“Tepat! Pada saat mereka membegal, mungkin keluarga atau orang yang dicintai Ratu Racun telah dibunuh di Desa Wadaswetan. Kini, wanita itu kembali untuk menuntut balas,” urai Andika, memaparkan dugaannya.
“Dan kalung itu sebagai tanda kalau Ratu Racun adalah seorang penduduk desa itu.”
Ki Patigeni mengangguk-angguk pelan. Jadi, berarti kalung itu milik Ratu Racun yang terjatuh sewaktu bertarung tadi. Kini baru dipahami maksud Andika, sekaligus memuji kecerdasan otaknya. Namun saat Andika baru hendakmeneruskan ucapannya, tiba-tiba....
Zes! Zes! Zes...!
“Andika, awas!“seru Ki Patigeni, manakala matanya menangkap serangkum angin pukulan jarak jauh yang mengarah ke tubuh anak muda itu.
Andika terkesiap. Saat itu dirinya benar-benar dalam keadaan tidak waspada penuh. Padahal, Ki Patigeni amat mengenali angin pukulan jarak jauh seperti itu. Itu adalah lontaran Racun Bara Neraka yang nyaris membunuh Andika beberapa waktu lalu!
Naluri kependekaran Andika memerintah untuk segera melompat. Maka tanpa diperintah otaknya lagi, tubuh Andika pun melenting ke belakang dengan putaran beberapa kali. Namun pada saat yang bersamaan, Ki Patigeni berusaha menyelamatkan Andika. Sebisa-bisa-nya tubuhnya digenjot untuk menyambar tubuh Andika. Dan akibatnya, kaki Andika malah menimpa dada Ki Patigeni tanpa disengaja.
Begkh!
Rasa sakit yang diderita lelaki tua itu akibat tendangan tak sengaja Andika memang tidak terlalu parah. Tapi gerakan tubuhnya malah jadi terhenti saat itu juga, di tempat Andika berdiri sebelumnya. Sehingga....
Desss!
“Aaakh...!”
Ki Patigeni Cumiik tertahan. Tanpa diduga sama sekali, pukulan beracun Bara Neraka langsung menghajar telak rusuknya. Tubuhnya kontan terseret tenaga dorongan pukulan itu sepuluh tombak ke samping kiri. Dan luncuran tubuhnya baru terhenti, saat sebuah pohon tertumbuk bahu kirinya.
“Ki Pati...!” teriak Andika dilanda kekhawatiran, begitu mendaratkan kakinya. Terlebih, ketika melihat pohon besar yang ditimpa tubuh Ki Patigeni menjadi menghitam dalam sekejap.
Tanpa mempedulikan serangan gelap yang mungkin akan menyusul, Andika segera memburu ke arah Ki Patigeni tergeletak tak berdaya. Andika membalik tubuh lelaki tua yang tertelungkup itu. Orang tua yang terasa sudah seperti kakeknya sendiri, meski belum begitu lama mengenalnya.
Tampak mulut Ki Patigeni mengeluarkan darah kental kehitam-hitaman. Demikian pula kedua telinga dan hidungnya. T ubuhnya terasa begitu panas, saat Andika menyentuhnya. Tapi sekali-kali tidak membuat Andika segera menjauh. Dialirinya tenaga sakti pada kedua telapak tangan, agar dapat menguasai hawa panas yang hendak menghanguskannya.
“Andika.... Jangan sentuh aku terlalu lama,” desak Ki Patigeni, terbata.
Andika menggeleng-gelengkan kepala tanpa tahu harus berucap apa.
“Aku telah terkena Racun Bara Neraka. Tubuhmu masih belum siap menerima serangan racun itu kembali. Menjauhlah cepat! Jangan sampai racun itu terserap ke dalam tubuhmu! Cepat!” bentak Ki Patigeni, setengah mendesis.
“Tapi..., bagaimana keadaanmu, Ki?”
“Cepat menjauh! Jangan pedulikan aku!”
“Aku tidak peduli, Ki! Kau harus diselamatkan!”
“Dengan apa kau akan menyelamatkanku? Aku pun belum sempat memberitahukan tentang kelemahan Racun Bara Neraka padamu. Cepat pergi! Kalau kita berdua mati, siapa yang akan membela kepentingan orang-orang lemah?!”
Dengan berat hati, Andika melepas juga tubuh Ki Patigeni.
“Baik aku lepaskan. Tapi, kau harus memberitahukan cara menundukkan racun ganas itu padaku agar aku bisa segera menyembuhkanmu, Ki...,” ujar Andika nyaris tercekat karena kesedihan yang tiba-tiba datang. Namun tak ada jawaban dari Ki Patigeni.
“Ki...,” panggil Andika kembali.
Tetap tak ada jawaban. Malah gerakan Ki Patigeni pun tak terlihat lagi, bahkan naik-turun dadanya sekalipun.
“Kiii...!” Andika menjerit sejadi-jadinya.
Semua kenangan Andika dengan Ki Sanca di Perguruan Trisula Kembar dahulu terbayang kembali. Sama seperti Ki Patigeni, Ki Sanca pun meninggal dalam keadaan menyedihkan di sisi Andika. Padahal, mereka sudah begitu dekat di hati anak muda ini. Keduanya sudah dianggap sebagai keluarga sendiri (Untuk mengetahui tentang Ki Sanca, silakan ikuti serial Pendekar Slebor dalam episode perdana, “Lembah Kutukan”).
Andika terduduk lemah di sisi mayat Ki Patigeni yang perlahan-lahan mengering bagai batang kayu yang terjemur berbulan-bulan. Itulah akibat kedahsyatan Racun Bara Neraka! Setelah itu tubuh orang tua ini mulai retak-retak, seakan tanah tandus!
“Oh, Tuhan...!” desah Andika lirih.
Pendekar Konyol merundukkan kepala dalam-dalam. Rasanya, saat itu seluruh air mata dikurasnya. Namun tempaan kependekaran selama ini, membuatnya tidak jadi cengeng. Tak ada setetes air mata pun yang menggenang di bawah kelopak matanya. Hanya desahan napas tersekat-sekat yang terdengar.
Kalau pada saat itu pukulan jarak jauh kedua diarahkan padanya, tak dapat disangkal Andika akan langsung terhajar. Bagaimana dia bisa mengelak, kalau jiwanya sendiri seperti melayang dari raga akibat rasa kehilangan yang demikian dalam.
Lama Andika menunggu dalam sepi malam yang kian terpulas. Namun, serangan gelap itu tak juga muncul.
Malam di Desa Wadaswetan, namun keramaian masih menyemaraki sekitarnya. Andika saat ini baru tiba di desa itu. Saat itu di alun-alun desa memang sedang diadakan upacara adat untuk pengangkatan seorang kepala desa baru. Pantas saja, malam ini jadi ramai oleh warga desa yang berkumpul di alun-alun. Di salah satu sudut alun-alun, Andika melihat seorang wanita desa berpakaian sederhana. Dihampirinya wanita itu, disertai senyum manis di bibir.
“Nyi, apa bisa menolongku, menunjukkan sesepuh desa ini?” tanya Andika.
Wanita berwajah ayu itu me lirik malu-malu. Tampak bibirnya yang merah merekah melepas senyum manis.
“Mari, Kang. Kuantarkan....”
“Ah! Rejeki nomplok!” seru Andika, dalam hati.
“Kalau semua wanita cantik seramah dia, bisa-bisa aku berhenti jadi pendekar!”
“Mari, Kang. Kok jadi melamun?” tegur wanita itu
“Eh, iya... iya,” Andika kelimpungan.
Wanita itu lalu mengajak Pendekar Slebor kesebuah balai pertemuan di bagian barat alun-alun untuk menemui sesepuh desa yang dimaksud Andika. Kata wanita itu, namanya Ki Manik Angkeran. Dialah kepala desa lama yang kedudukannya kini digantikan kepala desa baru. Umurnya sekitar tujuh puluh tahun.
Sebentar saja, mereka telah tiba di balai pertemuan itu. Sebentar wanita itu mengarahkan telunjuknya pada laki-laki yang menjadi sesepuh desa ini. Sedangkan Andika manggut-manggut, tanda mengerti.
“Terima kasih atas bantuanmu, Nyi,” ucap Andika seraya tersenyum.
“Sama-sama.... Mari...,” balas wanita itu, lalu berbalik pergi.
Setelah wanita itu hilang ditelan banyaknya orang-orang yang lalu lalang, Andika menghampiri laki-laki bernama Ki Manik Angkeran, yang ditunjuk wanita tadi.
“Selamat malam, Ki..,” ujar Andika santun, seraya menjura hormat.
“Oh, selamat malam.... Ada perlu apa, Kisanak?” sambut Ki Manik Angkeran tak kalah santun.
Walaupun garis ketuaan tampak di wajahnya, namun orang tua itu terlihat berwibawa. Rambutnya yang hampir putih, merata ditutup blangkon lurik. Perawakannya tidak gemuk, tapi juga tidak kurus. Dari bentuk tubuhnya, akan terlihat kalau selagi muda dia adalah lelaki gagah. Apalagi dengan pakaian kembang-kembang yang dipadu oleh kain lurik sebatas betis.
“Aku ingin menanyakan sesuatu yang berkenaan dengan desa ini, Ki,” jawab Andika.
“Kalau begitu, silakan duduk dulu...,” ucap lelaki itu, mempersilakan Andika.
Pemuda itu pun duduk pada satu kursi kayu yang disusun berjajar memanjang di bawah tenda besar yang disanggah tonggak bambu tinggi. Di depan jajaran kursi, dibangun sebuah panggung kecil sederhana yang tampaknya digunakan untuk pemilihan kepala desa baru. Saat itu, suasana balai tampak sepi. Tampaknya pemilihan kepala desa baru telah selesai beberapa waktu lalu. Tadi ketika Andika sampai, Ki Manik Angkeran sedang berbincang-bincang dengan seorang warga. Namun warga itu segera mohon diri ketika tahu ada seseorang yang hendak menemui Ki Manik Angkeran. Maka kini tinggal Andika dan sesepuh desa itu di tempat ini.
“Apa yang bisa saya bantu, Kisanak? Oh, iya. Nama Kisanak siapa, ya?” tanya Ki Ki Manik Angkeran, setelah Andika duduk di salah satu kursi.
“Namaku Andika, Ki. Aku ingin menanyakan suatu hal yang mungkin diketahui olehmu, sebagai sesepuh desa,” tutur Andika.
“Hm.. Aku Manik Angkeran. Dan kau boleh memanggilku, Ki Manik. Ayo, silakan dimulai lagi,” ujar orang tua itu.
“Mungkin kau tahu tentang peristiwa perampokan beberapa tahun lalu yang dilakukan Kranggaek dan kawan-kawannya, Ki?”
Ki Manik Angkeran terdiam beberapa saat. Benaknya seketika berusaha menggali peristiwa perampokan yang dimaksud Andika. Cukup lama dia terdiam Sampai akhirnya dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghempaskannya penuh beban.
“Ya! Memang pernah terjadi perampokan oleh kawanan Kranggaek beberapa tahun lalu. Tepatnya, delapan belas tahun lalu,” ucap Ki Manik Angkeran bersama satu desahan.
“Bisa diceritakan kejadiannya padaku, Ki?”
Ki Manik Angkeran menatap Andika dengan sinar mata penuh tanda tanya.
“Aku tahu, pertanyaanku memang tampak mencurigakan. Tapi aku butuh keterangan itu, Ki,” kata Andika, seperti tahu isi pikiran Ki Manik Angkeran.
Beberapa helai rambut Ratu Racun seketika terlepas, lalu meluncur cepat dalam keadaan meregang kuat ke arah tiga lelaki tadi. Naas bagi dua lelaki yang berlari ke arah utara. Kepala mereka langsung tertembus helai rambut Ratu Racun. Keduanya tak sempat menjerit, karena rambut Ratu Racun langsung menembus pusat wicara di otak. Beberapa saat mereka jatuh menggelepar-gelepar di tanah, setelah itu mati dengan seluruh otot di tubuh meregang kejang.
Nasib mujur masih dimiliki lelaki yang berlari ke arah selatan. Ketika rambut beracun hampir menembus batok kepalanya, kakinya terantuk akar pohon yang tersembul hingga jatuh tersuruk.
Srak! Dukl
Jep!
Sementara rambut beracun milik Ratu Racun menancap pada batang pohon di depannya. Sedangkan orang itu sendiri luput dari maut, meski harus jungkir balik di tanah. Sambil mendelik dengan wajah tanpa darah, dia segera bangkit kembali. Lalu secepat kilat dia buron tanpa ingin menoleh ke belakang.
Hutan Watuagung mendadak disergap kesunyian. Tak ada lagi jeritan kematian atau teriakan haus darah. Bahkan binatang melata pun seolah enggan memperdengarkan suaranya. Mungkin karena terkejut dengan keriuhan barusan. Ratu Racun masih berdiri tegak di tempatnya. Tak ada sedikit pun gerak yang dilakukan. Hanya sepasang bola matanya yang mengawasi puas pada mayat-mayat korbannya.
Tak jauh di belakang wanita itu, Andika dan Ki Patigeni masih mengawasi gerak-geriknya. Mereka ingin tahu, apa lagi yang hendak diperbuat wanita itu. Ternyata orang yang diawasi hanya bersiap untuk pergi dari tempat itu.
“Kita cegah, Andika. Tampaknya dia akan pergi...,” bisik Ki Patigeni seraya hendak bangkit dari semak-semak
“Tunggu, Ki,” tahan Andika. Dipegangnya bahu kurus Ki Patigeni.
Tentu saja tindakan Andika membuat lelaki tua itu heran. Belum lama tadi, justru Andika yang ingin segera turun tangan. Kini, setelah Ki Patigeni memutuskan untuk segera mengambil tindakan, anak muda itu malah menahannya.
“Kenapa?” tanya Ki Patigeni ingin mengetahui alas an Andika.
“Aku merasa ada suatu yang ganjil, Ki,” ungkap Andika.
“Di dunia ini memang banyak manusia yang ganjil....”
“Bukan itu, Ki”
“Lalu apa?”
“Entahlah. Aku juga belum bisa memastikannya....”
“Siapa itu?!”
Tiba-tiba Ratu Racun berseru lantang. Rupanya telinganya menangkap kasak-kusuk dibalik semak-semak di belakangnya. Kalau tadi perhatiannya terpusat pada lawan sehingga tak memperhatikan keadaan sekitar, kini pendengarannya bisa lebih dipusatkan pada suara-suara yang mencurigakan.
Ki Patigeni memandang Andika dengan senyum kecil. Bahunya dinaikkan sedikit, mengisyaratkan kalau akhirnya mereka mesti keluar juga. Tapi, Andika tak mau mengambil langkah pertama, kalau langkah kedua masih bisa diusahakan. Maka kembali Ki Patigeni ditahannya. Sementara Ki Patigeni bertanya-tanya sendiri dalam hati. Apa lagi yang ingin diperbuat anak muda ini?
Andika memberi isyarat pada Ki Patigeni dengan telunjuknya ke belakang. Orang tua itu pun menoleh ke arah yang ditunjuk Andika. Sekitar tiga tombak di belakangnya tampak seekor ular sanca belang sedang melilit di sebuah lubang pohon. Dengan cara yang cerdik, Andika menggosok-gosok kedua telapak tangannya di dekat ular sanca itu. Pengerahan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya, membuat hawa disekitar lubang menjadi panas. Beberapa saat kemudian, ular itu beringsut keluar sambil mendesis-desis.
Masih dengan hawa panas di kedua telapak tangannya, ular itu digiring sedikit demi sedikit ke arah Ratu Racun. Tak lama kemudian, ular itu telah terlihat oleh Ratu Racun yang masih memasang telinga, karena mendengar suara mencurigakan tadi. Namun melihat seekor ular sanca besar keluar dari semak-semak dekat persembunyian Andika dan Ki Patigeni, kecurigaan Ratu Racun lenyap begitu saja. Akhirnya disimpulkan, bisik-bisik yang didengarnya ternyata hanya desisan ular.
Dan seraya menghela napas panjang, Ratu Racun akhirnya melesat cepat bagai kilat pergi dari situ. Tubuhnya seketika ditelan kegelapan malam.
“Fhuih...!” Andika menghempas napas lega.
“Kau menghindari Ratu Racun bukan karena kapok dengan racunnya, kan?” ledek Ki Patigeni, bercanda.
“Aku memang kapok, Ki...,” jawab Andika acuh sambil melangkah keluar dari kerimbunan semak.
“Dasar kecoak pengecut!” goda Ki Patigeni lagi.
“Kecoak pengecut..., tapi ganteng tentunya. Ha ha ha...! balas Andika tanpa merasa harga dirinya direndahkan.
Tentu saja Andika mengerti kalau Ki Patigeni hanya berkelakar saja. Dan lelaki tua itu sendiri tentu mengerti, pasti ada alasan yang tepat bagi Andika untuk menghindari Ratu Racun tadi. Sementara Pendekar Slebor menghampiri tempat pertempuran yang dipenuhi mayat, Ki Patigeni mengawasinya dari kejauhan. Ingin diketahuinya, hasil apa yang didapat anak muda itu. Dari berita yang didengarnya, seringkah disebutkan kalau pendekar muda itu memiliki kecerdikan luar biasa.
Tak lama kemudian....
“Ki, cepat ke sini!” panggil Andika. Ki Patigeni cepat menghampiri.
“Ada apa?” tanya orang tua itu singkat.
Andika menunjukkan sesuatu di tangannya.
“Kau tahu, benda apa ini, Ki?” tanya Andika.
Ki Patigeni mengambil benda itu dari tangan Andika. Diamatinya benda sebesar anak kunci, berbentuk ukiran Bunga Wijayakusuma.
“Ini hanya kerajinan khas dari Desa Wadaswetan,” jelas Ki Patigeni.
“Biasanya warga desa itu mengenakan benda ini untuk kalung anak-anaknya....”
“Nah itu satu petunjuk, Ki...”
“Petunjuk apa? Aku belum menangkap maksudmu....”
Andika tak segera menjelaskan pertanyaan Ki Patigeni. Malah lelaki tua itu diajaknya untuk memperhatikan mayat-mayat korban Ratu Racun
“Apakah ada di antara mereka yang kau kenal, Ki?” tanya anak muda itu kemudian.
Beberapa saat Ki Patigeni mengamati mayat-mayat
“Ya! Aku kenal orang ini,” ujar Ki Patigeni, akhirnya.
“Sudah kuduga. Siapa dia, Ki?”
“Rawegenggong, seorang kaki tangan Begal Ireng yang cukup diandalkan,” sahut Ki Patigeni lagi.
Andika melangkah mondar-mandir seraya mengacung-acungkan jari telunjuknya di depan dada. Lagaknya sudah seperti kakek jompo sedang menghitung jumlah anak cucunya.
“Sekarang aku ada pertanyaan untukmu, Ki,” kata Pendekar Slebor kembali.
Sedang Ki Patigeni menunggu dengan sabar.
“Pernahkah Kranggaek dan Rawegenggong melakukan kejahatan di Desa Wadaswetan?” tanya Andika penuh keyakinan.
Baru saja Ki Patigeni hendak menggerakkan bibir, Andika sudah menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan di depan dada.
“A... a. Tak usah dijawab, Ki. Karena aku yakin, kau akan menjawab, iya,” cegah Andika, sok tahu.
Ki Patigeni hanya menggeleng-gelengkan kepala. Anak muda satu ini memang sering membuatnya gemas. Ingin rasanya kepala anak muda sok tahu itu ditinjunya. Tapi, kenyataannya memang benar. Dia memang ingin menjawab, iya.
“Sekarang aku ingin bertanya lagi padamu, Ki. Dengan siapa lagi kedua orang itu melakukan kejahatan di Desa Wadaswetan?”
Ki Patigeni tak segera menjawab. Dia berpikir, pasti Andika akan menyelaknya lagi.
“Ki?” tegur Andika.
“Apa kau sudah mengantuk?”
“Anak brengsek! Tentu saja tidak. Aku hanya mengira kalau jawabannya sudah kau ketahui...,” sangkal Ki Patigeni agak dongkol bercampur gemas.
Pendekar Konyol jadi tersenyum bodoh pada lelaki tua itu. Digerak-gerakkan sepasang alis yang melengkung bagai kepakan elang itu.
“Makanya jangan sok tahu!” gerutu Ki Patigeni.
“Mereka melakukan pembegalan di desa itu, bersama enam orang lain. Selain Kranggaek dan Rawegenggong, ada Bagaswara, Karangga, Nyi Rorokweni, Baturwedi, Sonagupta, dan Linggaraksa.”
“Terima kasih banyak, Ki,” ucap Andika seraya menjura konyol.
“Jadi kau ingin mengatakan, kalau mereka adalah sasaran dendam Ratu Racun?” tanya Ki Patigeni tanpa mempeduhkan tingkah Andika.
“Tepat! Pada saat mereka membegal, mungkin keluarga atau orang yang dicintai Ratu Racun telah dibunuh di Desa Wadaswetan. Kini, wanita itu kembali untuk menuntut balas,” urai Andika, memaparkan dugaannya.
“Dan kalung itu sebagai tanda kalau Ratu Racun adalah seorang penduduk desa itu.”
Ki Patigeni mengangguk-angguk pelan. Jadi, berarti kalung itu milik Ratu Racun yang terjatuh sewaktu bertarung tadi. Kini baru dipahami maksud Andika, sekaligus memuji kecerdasan otaknya. Namun saat Andika baru hendakmeneruskan ucapannya, tiba-tiba....
Zes! Zes! Zes...!
“Andika, awas!“seru Ki Patigeni, manakala matanya menangkap serangkum angin pukulan jarak jauh yang mengarah ke tubuh anak muda itu.
Andika terkesiap. Saat itu dirinya benar-benar dalam keadaan tidak waspada penuh. Padahal, Ki Patigeni amat mengenali angin pukulan jarak jauh seperti itu. Itu adalah lontaran Racun Bara Neraka yang nyaris membunuh Andika beberapa waktu lalu!
***
Naluri kependekaran Andika memerintah untuk segera melompat. Maka tanpa diperintah otaknya lagi, tubuh Andika pun melenting ke belakang dengan putaran beberapa kali. Namun pada saat yang bersamaan, Ki Patigeni berusaha menyelamatkan Andika. Sebisa-bisa-nya tubuhnya digenjot untuk menyambar tubuh Andika. Dan akibatnya, kaki Andika malah menimpa dada Ki Patigeni tanpa disengaja.
Begkh!
Rasa sakit yang diderita lelaki tua itu akibat tendangan tak sengaja Andika memang tidak terlalu parah. Tapi gerakan tubuhnya malah jadi terhenti saat itu juga, di tempat Andika berdiri sebelumnya. Sehingga....
Desss!
“Aaakh...!”
Ki Patigeni Cumiik tertahan. Tanpa diduga sama sekali, pukulan beracun Bara Neraka langsung menghajar telak rusuknya. Tubuhnya kontan terseret tenaga dorongan pukulan itu sepuluh tombak ke samping kiri. Dan luncuran tubuhnya baru terhenti, saat sebuah pohon tertumbuk bahu kirinya.
“Ki Pati...!” teriak Andika dilanda kekhawatiran, begitu mendaratkan kakinya. Terlebih, ketika melihat pohon besar yang ditimpa tubuh Ki Patigeni menjadi menghitam dalam sekejap.
Tanpa mempedulikan serangan gelap yang mungkin akan menyusul, Andika segera memburu ke arah Ki Patigeni tergeletak tak berdaya. Andika membalik tubuh lelaki tua yang tertelungkup itu. Orang tua yang terasa sudah seperti kakeknya sendiri, meski belum begitu lama mengenalnya.
Tampak mulut Ki Patigeni mengeluarkan darah kental kehitam-hitaman. Demikian pula kedua telinga dan hidungnya. T ubuhnya terasa begitu panas, saat Andika menyentuhnya. Tapi sekali-kali tidak membuat Andika segera menjauh. Dialirinya tenaga sakti pada kedua telapak tangan, agar dapat menguasai hawa panas yang hendak menghanguskannya.
“Andika.... Jangan sentuh aku terlalu lama,” desak Ki Patigeni, terbata.
Andika menggeleng-gelengkan kepala tanpa tahu harus berucap apa.
“Aku telah terkena Racun Bara Neraka. Tubuhmu masih belum siap menerima serangan racun itu kembali. Menjauhlah cepat! Jangan sampai racun itu terserap ke dalam tubuhmu! Cepat!” bentak Ki Patigeni, setengah mendesis.
“Tapi..., bagaimana keadaanmu, Ki?”
“Cepat menjauh! Jangan pedulikan aku!”
“Aku tidak peduli, Ki! Kau harus diselamatkan!”
“Dengan apa kau akan menyelamatkanku? Aku pun belum sempat memberitahukan tentang kelemahan Racun Bara Neraka padamu. Cepat pergi! Kalau kita berdua mati, siapa yang akan membela kepentingan orang-orang lemah?!”
Dengan berat hati, Andika melepas juga tubuh Ki Patigeni.
“Baik aku lepaskan. Tapi, kau harus memberitahukan cara menundukkan racun ganas itu padaku agar aku bisa segera menyembuhkanmu, Ki...,” ujar Andika nyaris tercekat karena kesedihan yang tiba-tiba datang. Namun tak ada jawaban dari Ki Patigeni.
“Ki...,” panggil Andika kembali.
Tetap tak ada jawaban. Malah gerakan Ki Patigeni pun tak terlihat lagi, bahkan naik-turun dadanya sekalipun.
“Kiii...!” Andika menjerit sejadi-jadinya.
Semua kenangan Andika dengan Ki Sanca di Perguruan Trisula Kembar dahulu terbayang kembali. Sama seperti Ki Patigeni, Ki Sanca pun meninggal dalam keadaan menyedihkan di sisi Andika. Padahal, mereka sudah begitu dekat di hati anak muda ini. Keduanya sudah dianggap sebagai keluarga sendiri (Untuk mengetahui tentang Ki Sanca, silakan ikuti serial Pendekar Slebor dalam episode perdana, “Lembah Kutukan”).
Andika terduduk lemah di sisi mayat Ki Patigeni yang perlahan-lahan mengering bagai batang kayu yang terjemur berbulan-bulan. Itulah akibat kedahsyatan Racun Bara Neraka! Setelah itu tubuh orang tua ini mulai retak-retak, seakan tanah tandus!
“Oh, Tuhan...!” desah Andika lirih.
Pendekar Konyol merundukkan kepala dalam-dalam. Rasanya, saat itu seluruh air mata dikurasnya. Namun tempaan kependekaran selama ini, membuatnya tidak jadi cengeng. Tak ada setetes air mata pun yang menggenang di bawah kelopak matanya. Hanya desahan napas tersekat-sekat yang terdengar.
Kalau pada saat itu pukulan jarak jauh kedua diarahkan padanya, tak dapat disangkal Andika akan langsung terhajar. Bagaimana dia bisa mengelak, kalau jiwanya sendiri seperti melayang dari raga akibat rasa kehilangan yang demikian dalam.
Lama Andika menunggu dalam sepi malam yang kian terpulas. Namun, serangan gelap itu tak juga muncul.
***
Malam di Desa Wadaswetan, namun keramaian masih menyemaraki sekitarnya. Andika saat ini baru tiba di desa itu. Saat itu di alun-alun desa memang sedang diadakan upacara adat untuk pengangkatan seorang kepala desa baru. Pantas saja, malam ini jadi ramai oleh warga desa yang berkumpul di alun-alun. Di salah satu sudut alun-alun, Andika melihat seorang wanita desa berpakaian sederhana. Dihampirinya wanita itu, disertai senyum manis di bibir.
“Nyi, apa bisa menolongku, menunjukkan sesepuh desa ini?” tanya Andika.
Wanita berwajah ayu itu me lirik malu-malu. Tampak bibirnya yang merah merekah melepas senyum manis.
“Mari, Kang. Kuantarkan....”
“Ah! Rejeki nomplok!” seru Andika, dalam hati.
“Kalau semua wanita cantik seramah dia, bisa-bisa aku berhenti jadi pendekar!”
“Mari, Kang. Kok jadi melamun?” tegur wanita itu
“Eh, iya... iya,” Andika kelimpungan.
Wanita itu lalu mengajak Pendekar Slebor kesebuah balai pertemuan di bagian barat alun-alun untuk menemui sesepuh desa yang dimaksud Andika. Kata wanita itu, namanya Ki Manik Angkeran. Dialah kepala desa lama yang kedudukannya kini digantikan kepala desa baru. Umurnya sekitar tujuh puluh tahun.
Sebentar saja, mereka telah tiba di balai pertemuan itu. Sebentar wanita itu mengarahkan telunjuknya pada laki-laki yang menjadi sesepuh desa ini. Sedangkan Andika manggut-manggut, tanda mengerti.
“Terima kasih atas bantuanmu, Nyi,” ucap Andika seraya tersenyum.
“Sama-sama.... Mari...,” balas wanita itu, lalu berbalik pergi.
Setelah wanita itu hilang ditelan banyaknya orang-orang yang lalu lalang, Andika menghampiri laki-laki bernama Ki Manik Angkeran, yang ditunjuk wanita tadi.
“Selamat malam, Ki..,” ujar Andika santun, seraya menjura hormat.
“Oh, selamat malam.... Ada perlu apa, Kisanak?” sambut Ki Manik Angkeran tak kalah santun.
Walaupun garis ketuaan tampak di wajahnya, namun orang tua itu terlihat berwibawa. Rambutnya yang hampir putih, merata ditutup blangkon lurik. Perawakannya tidak gemuk, tapi juga tidak kurus. Dari bentuk tubuhnya, akan terlihat kalau selagi muda dia adalah lelaki gagah. Apalagi dengan pakaian kembang-kembang yang dipadu oleh kain lurik sebatas betis.
“Aku ingin menanyakan sesuatu yang berkenaan dengan desa ini, Ki,” jawab Andika.
“Kalau begitu, silakan duduk dulu...,” ucap lelaki itu, mempersilakan Andika.
Pemuda itu pun duduk pada satu kursi kayu yang disusun berjajar memanjang di bawah tenda besar yang disanggah tonggak bambu tinggi. Di depan jajaran kursi, dibangun sebuah panggung kecil sederhana yang tampaknya digunakan untuk pemilihan kepala desa baru. Saat itu, suasana balai tampak sepi. Tampaknya pemilihan kepala desa baru telah selesai beberapa waktu lalu. Tadi ketika Andika sampai, Ki Manik Angkeran sedang berbincang-bincang dengan seorang warga. Namun warga itu segera mohon diri ketika tahu ada seseorang yang hendak menemui Ki Manik Angkeran. Maka kini tinggal Andika dan sesepuh desa itu di tempat ini.
“Apa yang bisa saya bantu, Kisanak? Oh, iya. Nama Kisanak siapa, ya?” tanya Ki Ki Manik Angkeran, setelah Andika duduk di salah satu kursi.
“Namaku Andika, Ki. Aku ingin menanyakan suatu hal yang mungkin diketahui olehmu, sebagai sesepuh desa,” tutur Andika.
“Hm.. Aku Manik Angkeran. Dan kau boleh memanggilku, Ki Manik. Ayo, silakan dimulai lagi,” ujar orang tua itu.
“Mungkin kau tahu tentang peristiwa perampokan beberapa tahun lalu yang dilakukan Kranggaek dan kawan-kawannya, Ki?”
Ki Manik Angkeran terdiam beberapa saat. Benaknya seketika berusaha menggali peristiwa perampokan yang dimaksud Andika. Cukup lama dia terdiam Sampai akhirnya dia menarik napas dalam-dalam, lalu menghempaskannya penuh beban.
“Ya! Memang pernah terjadi perampokan oleh kawanan Kranggaek beberapa tahun lalu. Tepatnya, delapan belas tahun lalu,” ucap Ki Manik Angkeran bersama satu desahan.
“Bisa diceritakan kejadiannya padaku, Ki?”
Ki Manik Angkeran menatap Andika dengan sinar mata penuh tanda tanya.
“Aku tahu, pertanyaanku memang tampak mencurigakan. Tapi aku butuh keterangan itu, Ki,” kata Andika, seperti tahu isi pikiran Ki Manik Angkeran.
0