- Beranda
- Stories from the Heart
PENDEKAR SLEBOR
...
TS
ucln
PENDEKAR SLEBOR

Penulis: Pijar El
Penerbit: Cintamedia, Jakarta
Sebenarnya ini adalah cerita silat pertama yang saya gandrungi semasa sekolah dahulu, ditengah boomingnya cerita silat Wiro Sableng karangan Bastian Tito yang terbit setiap bulan pada saat itu.
Jaman itu pun kayaknya Ken-Ken alias pemeran utama diserial Wiro Sableng juga masih dalam masa pencarian jati diri (masa-masa sekolah).
Sebenarnya saya adalah seorang yang hobi membaca sebuah cerita yang berbau non-fiksi dan yang terlebih lagi yang berupa fiksi. Pendekar slebor inilah yang awalnya membawa saya untuk menggemari dunia membaca, dilanjut dengan Wiro Sableng, Tikam Samurai, Pendekar Mabuk, Dewa arak, Pendekar Rajawali, Pendekar Pedang Buntung 131 dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu (makin dewasa) tentu saja selera membaca yang saya punya juga merambah keberbagai jenis novel, seperti karya2nya fredi s, zara zetira, tara zagita atau yang beberapa hari yang lalu baru saja saya tamatkan membaca yaitu sebuah novel karyanya Rhein Fathia yang berjudul CoupL(ov)e. Beberapa Fiksi & novel terjemahan pengarang luar juga tak lepas dari santapan sehari-hari. Seperti Lord of The ring, Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Harpot, Eragon, bahkan sejenis Enny arrow & Nick Carter pun tak lepas dari santapan
Beberapa bulan yang lalu saya diperkenalkan kepada forum tercinta ini oleh sebuah status diberanda FB yang membagikan cerita dengan judul "Dia Dia Dia Sempurna". Berawal dari sini, hobi membaca sebuah tulisan yang beberapa waktu belakangan sempat hilang tiba-tiba muncul kembali. Kisah2 legendaris yang berstatus tamat atau masih on going/kentang, ataupun cerita2 para sepuh yang masih tersimpan rapi di archive kaskus satu persatu saya lahap. 24 Jam sehari, & 7 hari seminggu dengan sedikit mengabaikan dunia nyata, semua karya2 tersebut saya tamatkan untuk membaca. Mulai kehilangan bacaan saya beralih kepada thread2 baru yang masih berjalan belasan part ataupun masih beberapa part.
Fix.., kira2 sebulan yang lalu mulai kehabisan bahan bacaan... Sifat iseng mulai muncul, mulai deh bikin komentar2 yang rada2 nyindir dibeberapa thread yang berbau mistis (entah kenapa saya kurang suka dengan thread2 mistis, padahal kalau baca novel horor sih saya suka). Cuma tahan berdebat Beberapa saat karena ujung2nya komentar saya cuma diabaikan & mulai tidak ada perlawanan, lagi2 kebosanan melanda..
Sambil bolak-balik kebeberapa thread on going yang saya bookmark, mulai kepikiran nih untuk bikin cerita sendiri. Tapi memang pada dasarnya saya tidak punya kisah perjalan hidup yang "njelimet" seperti para TS diforum ini untuk diangkat sebagai cerita, ya akhirnya pikiran untuk bikin Thread sendiri cuma jadi angan-angan belaka.
Setelah berhari-hari bermeditasi untuk mendapatkan ide, akhirnya sebuah idepun muncul. Kenapa tidak mencoba mengangkat kembali karya lama yang membuat saya jatuh cinta terhadap dunia membaca?? Dan pilihan itupun jatuh terhadap Cerita Silat lawas "Pendekar Slebor". Setelah dari tadi pagi bolak balik beberapa blog yang menyediakan versi pdf cerita ini, akhirnya didapatkanlah bahan untuk beberapa episode kedepan..
And Here We Go.....
I N D E K S
Spoiler for Indeks 1:
TSnya tidak usah dikasih yang ijo-ijo, cukup dilemparin bata saja
Jangan lupa rate & sharenya
GRAZIE..!!!
Diubah oleh ucln 04-01-2017 13:01
regmekujo dan anasabila memberi reputasi
0
99.8K
350
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ucln
#74
Part 6
Tak mampu lagi pemuda itu menatap apa yang tergambar di depan matanya. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Kepalanya menggeleng lemah, seakan tidak ingin mempercayai semua yang dilihatnya. Saat berikutnya, Andika kembali melesat lebih gila dari sebelumnya. Tak ingin lagi. Tak ingin lagi dia menyaksikan apa yang terjadi di perguruan mengenaskan itu. Bahkan sekadar untuk mengingat sekalipun!
Tak lama kemudian, tubuh Pendekar Slebor sudah melesat di luar Perguruan Elang Hitam. Dia berlari deras menuju tujuan berikut, Perguruan Tangan Wesi di wilayah barat. Sebuah jarak yang jauh, karena ditempuh dari satu ujung ke ujung lain. Tapi hal itu sama sekali tidak mengusik tekadnya untuk segera sampai di penguruan itu. Sementara, hati nuraninya terus berharap agar tidak menemukan lagi pemandangan seperti di Perguruan Elang Hitam.
Jauh dari harapan Andika, di Perguruan Tangan Wesi saat ini justru sedang terjadi pertempuran maut. Tiga puluh orang bertopeng datang menyerbu. Seperti maksud kedatangan mereka di Perguruan Elang Hitam dan Perguruan Naga Langit, pasukan bertopeng itu juga hendak merampas benda-benda pusaka milik Perguruan Tangan Wesi.
Kejadian yang menimpa dua perguruan besar di wilayah timur dan selatan, dialami Perguruan Tangan Wesi. Sebelum penyerbuan orang-orang bertopeng, beberapa murid perguruan juga tertimpa bencana aneh. Mereka mendadak menggelepar-gelepar sekarat. Dari mulut masing-masing, keluar muntahan darah bercampur puluhan batang jarum. Kemudian, kejadian serupa menimpa guru besar perguruan itu.
Belum sempat sisa murid Perguruan Tangan Wesi menguburkan jenazah rekan-rekan dan guru mereka, pasukan bertopeng datang dari berbagai penjuru, laksana serigala-serigala lapar memburu sekerat daging. Berikutnya, pertarungan hidup mati pun meletus dahsyat.
Orang-orang bertopeng itu yang bersenjatakan golok membabat setiap murid Perguruan Tangan Wesi yang lengah, karena kematian guru tercinta mereka. Sebagian murid yang masih sempat melakukan perlawanan, harus bersusah payah mempertahankan nyawa.
“Hiaaa!”
“Haih!”
Trang! Trang! Bret!
“Wuaaa!”
Orang kelima belas dari Perguruan Tangan Wesi menemui ajal, terbabat golok pada bagian wajahnya. Di lain pihak, lawan orang-orang bertopeng itu tetap dalam jumlah semula. Belum seorang pun mengalami luka. Apalagi sampai tewas. Jelas-jelas kalau orang-orang bertopeng itu tidak mau tanggung-tanggung menjalankan niat busuknya. Tampaknya, yang dikirim ke perguruan itu adalah orang-orang pilihan yang memang tangguh.
Pertempuran terus berlangsung di sekitar pelataran perguruan. Setiap jengkal tanah pelataran, menjadi kancah penentuan antara hidup dan mati. Terutama, bagi para murid Perguruan Tangan Wesi. Yang mati-matian membela diri dan nama perguruan. Lebih dari itu, mereka pun siap mati untuk menghadapi kebatilan.
Di beberapa sudut pelataran, satu lelaki bertopeng dikeroyok tiga murid perguruan. Keroyokan itu dilakukan tidak ksatria, tapi semata-mata mereka menyadari kalau ketangguhan orang-orang Bertopeng itu tidak bisa diremehkan.
Di sebelah timur kancah pertarungan, dua murid Perguruan Tangan Wesi harus melayani habis-habisan, golok seorang lelaki bertopeng yang bergerak begitu cepat mengejar keduanya. Padahal mereka sudah berusaha memperlebar jarak satu dengan yang lain, agar perhatian orang bertopeng itu dapat terpecah. Kedua murid perguruan yang tidak menggunakan senjata dalam pertempuran itu terpaksa tunggang langgang menghadapi sabetan golok orang bertopeng.
Sebagaimana namanya, murid-murid Perguruan Tangan Wesi memang hanya mengandalkan sepasang tangan sebagai senjata. Mereka dilatih sedemikian rupa, agar tangan mereka mampu menjebol karang. Namun begitu, bukan berarti tangan mereka kebal terhadap senjata tajam. Itu sebabnya, mereka hanya menghindari serangan tanpa mampu menangkis sambaran golok. Kalau kebetulan beruntung, mereka bisa menangkis tangan orang bertopeng yang memegang senjata.
“Hiah!”
Bet, bet!
“Hait!”
Pada suatu kesempatan, lelaki bertopeng yang terus menyabet-nyabetkan golok bertubi-tubi, tiba-tiba melepaskan tendangan menyapu dengan memutar tubuh terlebih dahulu. Gerakan yang tak terduga ini membuat seorang murid terkesiap kaget. Dia tak terburu lagi melangkah mundur untuk menghindari kepalanya dari ancaman tendangan. Terpaksa badan merunduk, sehingga luput dari tendangan ganas itu. Namun baru saja bisa bernapas lega. Lelaki bertopeng itu segera melancarkan serangan susulan. Goloknya langsung menggempur buas dari atas. Sehingga....
“Mampus kau! Hiaaah!”
Crak!
“Aaakh!”
Didahului satu suara benda tajam membelah batok kepala, terdengar jerit kematian dari murid Perguruan Tangan Wesi. Tengkorak murid naas itu nyaris terbelah hingga pelipis. Darah pun langsung menyembur deras, begitu golok itu dicabut dari kepalanya.
“Adi Karsa!” teriak murid Perguruan Tangan Wesi yang seorang lagi, melebihi kerasnya jerit kematian kawannya. Wajahnya memerah matang menyaksikan adik seperguruannya mengalami nasib memilukan di tangan orang bertopeng itu.
“Hua ha ha...! Kenapa?! Kaget melihat kawanmu mampus dengan mudah di tanganku?! Atau kau takut mendapat giliran berikutnya?” ejek lelaki bertopeng itu pongah.
Dengan mata berkobar-kobar amat gusar, murid Perguruan Tangan Wesi yang baru saja kehilangan seorang saudaranya, mendengus geram. Pangkal hidungnya terangkat sebagai tanda kegeramannya pada orang bertopeng itu.
“Iblis! Kau harus membayar nyawa saudara seperguruanku!” dengus murid itu, sambil mengangkat tangan di depan dada. Otot-otot tangannya kontan bersembulan dan menegang.
“Ah! Jangan anggap dirimu pedagang tempe. Pakai bayar-bayaran segala,” cemooh orang bertopeng itu kembali, kian mendidihkan darah murid Perguruan Tangan Wesi.
“baik! Hiyaaa...!”
Deb, deb, deb!
Tubuh murid Perguruan Tangan Wesi melenting tinggi ke arah orang bertopeng itu. Kedua tangannya memukul bergantian di udara, menimbulkan bunyi menggetarkan gendang telinga. Rupanya, dia berniat meremukkan kepala lawannya sebagai bayaran atas kematian adik seperguruannya yang bernama Karsa.
“Hih!”
Seketika orang bertopeng itu secepatnya menyergap tanah untuk menyelamatkan kepalanya. Usahanya berhasil. Tubuhnya langsung bergulingan, tepat di bawah kaki murid Perguruan Tangan Wesi yang tengah melayang. Dan dalam satu rangkaian gerak yang begitu cepat, golok di tangannya menebas ke atas, tepat diarahkan ke sepasang betis murid itu.
Crak!
“Waaa!”
Bruk!
Setelah kawannya mengalami nasib mengerikan, kali ini murid Perguruan Tangan Wesi itu mendapat giliran. Kedua kakinya terputus sebatas betis di udara. Potongannya langsung terpetal ke samping, diikuti semburan darah segar. Kemudian tubuhnya ambruk ke tanah, karena tidak bisa lagi berpijak.
“Sayang sekali! Sebenarnya aku masih suka main-main denganmu beberapa jurus lagi. Tapi, tampaknya kau tak bisa lagi menjadi lawan tandingku. Lebih menyesal lagi, pemimpinku menugaskan agar pekerjaanku harus diselesaikan secara tuntas. Jadi....”
“Kau ingin bunuh aku? Bunuhlah! Aku tak pernah gentar untuk mati di tanganmu, baik!”
“O-o-o! Itu sudah pasti kulakukan. Nah, terimalah ke.... Akh!”
Tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya, lelaki bertopeng keji itu mengejang. Matanya mendelik keatas. Sedangkan dadanya membusung ke depan tegang. Tak pernah diduga kalau ucapannya tadi justru menjadi sambutan bagi ajalnya sendiri.
“Ya! Terimalah kematianmu, Iblis Keparat,” ujar seseorang di belakangnya seraya membetot tangan kanannya dari tubuh lelaki bertopeng itu.
Orang yang membokong memang murid tertua Perguruan Tangan Wesi.
Bruk!
Tubuh lelaki bertopeng ambruk ke depan seperti sebatang pohon tumbang. Di bokongnya kini terlihat jelas lubang menganga, yang mengeluarkan darah segar.
“Menyingkirlah, Adi! Selamatkan dirimu bagaimanapun caranya!” perintah lelaki berperawakan pendek kekar dengan kumis melintang di bawah hidungnya. Sementara kepalanya dicukur gundul.
“Tapi, Kang Manggala....”
“Jangan pakai tetapi! Kau harus menjadi saksi mata atas kejadian ini, agar para tokoh aliran putih bisa menyelesaikannya. Sehingga, kejadian seperti ini tidak terulang pada perguruan lain!” hardik orang yang dipanggil Manggala, tanpa maksud memarahi adik seperguruannya.
“Baik, Kakang. Tapi bukan berarti aku takut mati. Kau harus tahu itu, Kakang,” ucap murid yang dua kakinya buntung itu.
“Aku tahu. Kita semua bukan orang-orang pengecut. Kita adalah ksatria yang tak gentar mati demi menghadapi kebatilan. Ayo, cepatlah Adi...,” pinta Manggala dengan suara bergetar.
Meski Manggala dikenal sebagai lelaki berjiwa tegar, tak urung perasaannya tersentuh melihat semangat juang adik seperguruannya.
Dalam kancah pertarungan yang kian mendebar bau anyir darah, seorang murid Perguruan Tangan Wesi terseok-seok menyeret tubuh untuk keluar dari medan kematian. Mata berairnya tak henti-henti menatapi mayat demi mayat saudaranya.
“Kalau kalian gugur semua hari ini, aku berjanji tidak akan menangisi. Karena kalian adalah ksatria. Ya, ksatria. Dan walau aku ditinggalkan sendiri di dunia busuk ini, yang penting kalian jangan memisahkan aku pada saat kita akan bertemu lagi nanti....”
Andika semula berharap, bencana yang menimpa dua perguruan yang dikunjungi sebelumnya, tidak menimpa Perguruan Tangan Wesi pula. Namun, Tuhan berkehendak lain. Apa yang diharapkannya ternyata melesat. Begitu pun keinginannya agar tidak terlambat tiba diperguruan itu.
Setibanya di Perguruan Tangan Wesi, matanya malah menyaksikan pembantaian. Manggala, murid tertua perguruan itu pun menemui ajal, tepat saat Andika menjejakkan kaki di pelataran perguruan.
Darah Pendekar Slebor mendidih sehebat-hebatnya. Kemurkaannya yang memang sudah menggelegak, kini tiba di puncak ubun-ubun. Dalam sekejap, rahangnya mengeras. Demikian pula seluruh otot di sekujur tubuhnya. Dadanya kini ibarat gunung berapi yang siap meletus.
“Kalian keparat semua! Akan kubantai kalian, seperti kalian bantai mereka!” bentak Andika menggelegar, seraya menunjuk pada serakan mayat para murid Perguruan Tangan Wesi.
Teriakan itu mengejutkan dua puluh orang bertopeng yang masih hidup. Serempak mereka menoleh kearah Andika, dengan tatapan siaga. Namun kesiagaan itu percuma, karena Pendekar Slebor telah bergerak sebelum mereka lebih lama melihatnya.
“Hiaaat!”
Wesss!
Bayangan hijau muda dari pakaian Pendekar Slebor bergerak dalam kecepatan luar biasa. Mata para lelaki bertopeng sampai-sampai begitu sulit menangkap bentuk tubuhnya, kecuali seberkas bayangan hijau muda.
Plak! Des!
Dan tiba-tiba saja, seorang bertopeng terpental tinggi ke udara. Dari mulutnya berceceran percikan darah. Entah apa yang hancur dari bagian tubuhnya, setelah menerima hantaman Pendekar Slebor. Yang pasti, begitu tubuhnya ambruk di tanah, sudah tak memiliki nyawa lagi. Andika terus berkelebat, lalu....
“Khaaah!”
Deb! Krak!
“Waaa!”
Menyusul dua lelaki bertopeng yang kontan ambruk terkena serangan Pendekar Slebor. Kedua orang itu pun terpental bagai batang pohon kering terhempas topan. Satu orang memuntahkan darah segar, setelah menerima jotosan telak yang langsung memecah ulu hatinya. Seorang lagi tak sempat berteriak. Kepalanya remuk begitu saja dari ubun-ubun hingga pangkal hidung.
Tujuh belas lelaki bertopeng lain terkesiap bukan alang kepalang. Seumur hidup, belum pernah mereka menyaksikan serangan yang begitu cepat. Bagi mereka, kecepatan itu sudah tidak mungkin dilakukan manusia. Tapi kenyataan yang terjadi di depan mata? Sungguh membuat mereka bertanya dalam hati masing-masing, apakah mereka telah diserang siluman sinting?
Untuk menjawab pertanyaan itu, mereka tidak punya waktu lagi. Langkah terbaik sisa pasukan bertopeng itu adalah bersiap menanti serangan datang. Seandainya melarikan diri pun tampaknya sia-sia belaka, karena dengan mudah sosok bayangan hijau itu akan dapat mengejar.
“Jangan lengah!” seru salah seorang yang tampaknya menjadi pemimpin pasukan, mempe-ingati bawahannya. Baru saja seruan itu selesai....
Plak!
“Aaa!”
Kembali terdengar pekikan, yang diawali suara tamparan keras. Tampak seorang laki-laki bertopeng terjengkang ke tanah. Melihat kenyataan ini, nyali sisa pasukan bertopeng makin menciut. Napas mereka tersengal tak beraturan, sebagai ungkapan kengerian yang terjadi. Orang-orang keji itu kini bisa merasakan, bagaimana keadaan bila maut siap menjemput seperti dialami murid-murid Tangan Wesi.
“Kenapa kalian diam saja?! Apa iblis di diri kalian telah pergi, setelah puas membantai?!” Terdengar teriakan Andika dari sebelah selatan pelataran.
Secara berbarengan, keenam belas lelaki bertopeng itu menoleh. Kini mereka baru bisa melihat jelas sosok yang dihadapi. Dia adalah seorang pemuda yang ketampanannya kini diselimuti kobaran api kemurkaan.
“Sss..., siapa kau sebenarnya?!” tanya pemimpin pasukan bertopeng agak gentar.
“Aku? Aku siapa, ya?” cemooh Andika, mencibir,
“Barangkali orang sinting yang begitu berselera menghisap darah kalian hidup-hidup.”
Bibir Pendekar Slebor kali ini menyeringai penuh ancaman. Sementara dari balik topeng, mata Keenam belas lelaki bertopeng itu menyipit. Bisa jadi mereka menanggapi secara sungguh-sungguh ucapan Andika barusan.
“Kam... kami tidak ada urusan denganmu. Kenapa kau turut campur?” untuk yang kedua kalinya, sang Pemimpin pasukan bertopeng bertanya tersendat.
“Ada! Kenapa tidak?!” bentak Andika sangar.
“Kalian tahu apa hubunganku dengan orang-orang yang telah kalian bantai?!”
Para lelaki bertopeng itu saling melirik. Bagaimana pertanyaan terakhir Pendekar Slebor terjawab, kalau mereka sendiri tidak mengenalnya.
“Tidak tahu, kan? Aku juga tidak tahu!” cerocos Pendekar Slebor lagi.
Kata-kata Andika membuat keenam belas lelaki di sekitarnya makin yakin kalau orang yang dihadapi memang orang sinting tulen.
“Kau ingin tahu?!” bentak Andika pada pemimpin pasukan lawan.
Bentakan barusan disertai penyaluran tenaga dalam penuh, sehingga terdengar mengguntur. Pemimpin orang bertopeng yang memang sudah jatuh nyali tersentak bukan main. Sampai-sampai kepalanya tersentak ke atas seperti sedang mengangguk.
“Bagusss! Jadi kau ingin tahu?!” sambung Andika setelah melihat gerakan kepala lelaki itu. “Kalau kau dan anak buahmu benar-benar ingin tahu, maka kuizinkan pergi dari sini....”
Mereka amat lega mendengar keputusan terakhir Andika.
“Dan kalian harus ke suatu tempat, untuk mengetahui jawabannya!” terabas Andika lagi.
Keenam belas lelaki bertopeng itu menunggu kata Pendekar Slebor selanjutnya. Mereka berharap, pemuda sinting itu menyebutkan nama suatu tempat. Sehingga mereka bisa aman meninggalkan pelataran Perguruan Tangan Wesi. Sementara itu, Andika malah menggeram tak karuan.
“Grrrmmmhhh! Ya! Kalian harus pergi ke... ke neraka!”
Kelegaan sesaat mereka buyar seketika mendengar jawaban Pendekar Slebor. Jantung mereka saat itu juga terasa hendak berhenti berdenyut, dengan napas tersekat di tenggorokan. Bagaimana mereka tidak setakut itu kalau pemuda berbaju hijau ini memiliki kesaktian yang tak mungkin ditandingi, meski dikeroyok sekaligus.
“Ampun....”
Baru saja pemimpin pasukan bertopeng hendak memohon ampun, mulut Pendekar Slebor sudah memperdengarkan gelegar menggetarkan bangunan perguruan.
“Khhhuaaa...!”
Lalu....
Pendekar Slebor langsung berkelebat cepat, sambil melepaskan pukulan dan tendangan berturut-turut. Begitu cepat gerakannya, sehingga....
“Akh!”
“Waaakh...!.”
Dua lelaki bertopeng yang berdiri paling dekat terhempas ke belakang bagai tanpa bobot, begitu terhantam pukulan dan tendangan Andika. Tubuh keduanya baru berhenti terlempar, kala menghantam dinding bangunan perguruan. Dinding itu langsung remuk, seperti remuknya tubuh kedua lelaki yang termakan serangan Pendekar Slebor.
Saat berikutnya.... Pendekar Slebor kembali berkelebat, disertai tamparan khas. Dan....
Jbret! Prak! Prak!
“Aaakh...! Aaa...! Aaakh...!”
Tiga suara menggidikkan terdengar dalam waktu hampir bersamaan. Satu orang langsung melintir di udara terhajar tamparan sakti pada wajahnya. Dua orang lagi masih tetap tegak di tempat. Namun kepalanya sudah tidak utuh lagi, terkena babatan tangan pada leher. Lalu keduanya ambruk bersamaan, disertai semburan darah segar.
Pendekar Slebor tak puas sampai di situ. Baginya, mereka telah berhutang nyawa puluhan murid Perguruan Tangan Wesi. Suka tidak suka, hutang itu harus dibayar lunas dengan nyawa.
“Hiaaa!”
Kembali terdengar teriakan merobek angkasa dari Pendekar Slebor. Ketika teriakan itu terdengar, tubuhnya sudah tidak ada di tempat. Saat berikutnya, Pendekar Slebor sudah tiba di depan empat lawan yang tersurut ketakutan. Dan tanpa dapat ditangkap mata, tangannya bergerak membentuk kelebatan hijau muda.
Deb, deb, deb, deb!
Empat jotosan telak langsung menghajar ulu hati keempat lelaki bertopeng. Wajah mereka sulit
digambarkan dengan mata terbeliak. Tak terlontar jeritan sedikit pun dari mulut keempat lelaki bertopeng itu, karena nyawa lebih dahulu terlepas ketika ambruk di tanah.
Bruk, bruk, bruk, bruk!
Menyaksikan kematian mengerikan kawan-kawannya, sisa pasukan bertopeng itu putus harapan.
“Ampuni kami, Tuan! Ampuni kami....”
Seperti bocah kecil bodoh, mereka serempak berlutut sambil merengek-rengek. Pendekar Slebor sendiri sudah berdiri tepat di depan mereka dengan napas mendengus-dengus. Hanya napas banteng ngamuk yang bisa menandingi kekerasan Andika. Tak ada tanda-tanda kalau Andika telah puas atas kematian para lawannya tadi. Itu terlihat jelas dari warna matanya yang memerah matang. Namun entah kenapa, Pendekar Slebor menghentikan gerak menggilanya kala sisa pasukan bertopeng itu berlutut memelas. Seolah ada satu kekuatan dari relung batinnya yang mencegah serangannya.
“Ka..., kami memang manusia busuk, Tuan. Kami mengaku bersalah. Kami juga mengaku, kalau kami semua pantas mendapat perlakuan seperti yang Tuan Pendekar lakukan. Tapi, tolong beri kesempatan hidup agar kami dapat menebus semua kesalahan,” pinta seorang dari mereka mengiba.
“Kalian bisa menebus kesalahan hanya dengan nyawa...,” tandas Andika bergetar dan terdengar dingin.
“Tapi, apakah di hadapan Tuhan kami tidak bisa bertobat, Tuan Pendekar? Kalau Tuan tidak bisa mengampuni kami, sudikah menyerahkan kami pada Tuhan Penguasa Alam. Biar Dia yang akan menentukan, hukuman apa yang pantas bagi kami...,” lanjut orang itu makin lirih. Kepalanya tertunduk dalam, seperti juga kawan-kawannya.
Seberkas kekuatan asing tiba-tiba menyeruak kembali dari relung batin Andika yang terdalam.
Seolah, dalam dirinya terdengar ucapan, “Tuhan Maha Pengampun....”
Lalu terjadi keganjilan. Seluruh daya kemurkaan yang bergolak dalam diri Andika surut bagai tersapu gelombang maha sejuk.
“Baiklah.... Kalian kumaafkan,” putus Andika perlahan.
“Namun, kuminta kalian membuka topeng itu. Di mataku, topeng itu adalah perlambang manusia tak bertanggung jawab. Bisanya hanya melakukan kebusukan dari belakang, namun tetap ingin dianggap orang baik....”
Mereka pun memenuhi permintaan Andika. Satu persatu mereka melepas kain hitam penutup kepala. Sampai pada orang terakhir yang membuat Andika mengerutkan dahi dalam-dalam.
“Kau.... Jiran?” ujar Andika setengah bertanya.
Tak mampu lagi pemuda itu menatap apa yang tergambar di depan matanya. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Kepalanya menggeleng lemah, seakan tidak ingin mempercayai semua yang dilihatnya. Saat berikutnya, Andika kembali melesat lebih gila dari sebelumnya. Tak ingin lagi. Tak ingin lagi dia menyaksikan apa yang terjadi di perguruan mengenaskan itu. Bahkan sekadar untuk mengingat sekalipun!
Tak lama kemudian, tubuh Pendekar Slebor sudah melesat di luar Perguruan Elang Hitam. Dia berlari deras menuju tujuan berikut, Perguruan Tangan Wesi di wilayah barat. Sebuah jarak yang jauh, karena ditempuh dari satu ujung ke ujung lain. Tapi hal itu sama sekali tidak mengusik tekadnya untuk segera sampai di penguruan itu. Sementara, hati nuraninya terus berharap agar tidak menemukan lagi pemandangan seperti di Perguruan Elang Hitam.
***
Jauh dari harapan Andika, di Perguruan Tangan Wesi saat ini justru sedang terjadi pertempuran maut. Tiga puluh orang bertopeng datang menyerbu. Seperti maksud kedatangan mereka di Perguruan Elang Hitam dan Perguruan Naga Langit, pasukan bertopeng itu juga hendak merampas benda-benda pusaka milik Perguruan Tangan Wesi.
Kejadian yang menimpa dua perguruan besar di wilayah timur dan selatan, dialami Perguruan Tangan Wesi. Sebelum penyerbuan orang-orang bertopeng, beberapa murid perguruan juga tertimpa bencana aneh. Mereka mendadak menggelepar-gelepar sekarat. Dari mulut masing-masing, keluar muntahan darah bercampur puluhan batang jarum. Kemudian, kejadian serupa menimpa guru besar perguruan itu.
Belum sempat sisa murid Perguruan Tangan Wesi menguburkan jenazah rekan-rekan dan guru mereka, pasukan bertopeng datang dari berbagai penjuru, laksana serigala-serigala lapar memburu sekerat daging. Berikutnya, pertarungan hidup mati pun meletus dahsyat.
Orang-orang bertopeng itu yang bersenjatakan golok membabat setiap murid Perguruan Tangan Wesi yang lengah, karena kematian guru tercinta mereka. Sebagian murid yang masih sempat melakukan perlawanan, harus bersusah payah mempertahankan nyawa.
“Hiaaa!”
“Haih!”
Trang! Trang! Bret!
“Wuaaa!”
Orang kelima belas dari Perguruan Tangan Wesi menemui ajal, terbabat golok pada bagian wajahnya. Di lain pihak, lawan orang-orang bertopeng itu tetap dalam jumlah semula. Belum seorang pun mengalami luka. Apalagi sampai tewas. Jelas-jelas kalau orang-orang bertopeng itu tidak mau tanggung-tanggung menjalankan niat busuknya. Tampaknya, yang dikirim ke perguruan itu adalah orang-orang pilihan yang memang tangguh.
Pertempuran terus berlangsung di sekitar pelataran perguruan. Setiap jengkal tanah pelataran, menjadi kancah penentuan antara hidup dan mati. Terutama, bagi para murid Perguruan Tangan Wesi. Yang mati-matian membela diri dan nama perguruan. Lebih dari itu, mereka pun siap mati untuk menghadapi kebatilan.
Di beberapa sudut pelataran, satu lelaki bertopeng dikeroyok tiga murid perguruan. Keroyokan itu dilakukan tidak ksatria, tapi semata-mata mereka menyadari kalau ketangguhan orang-orang Bertopeng itu tidak bisa diremehkan.
Di sebelah timur kancah pertarungan, dua murid Perguruan Tangan Wesi harus melayani habis-habisan, golok seorang lelaki bertopeng yang bergerak begitu cepat mengejar keduanya. Padahal mereka sudah berusaha memperlebar jarak satu dengan yang lain, agar perhatian orang bertopeng itu dapat terpecah. Kedua murid perguruan yang tidak menggunakan senjata dalam pertempuran itu terpaksa tunggang langgang menghadapi sabetan golok orang bertopeng.
Sebagaimana namanya, murid-murid Perguruan Tangan Wesi memang hanya mengandalkan sepasang tangan sebagai senjata. Mereka dilatih sedemikian rupa, agar tangan mereka mampu menjebol karang. Namun begitu, bukan berarti tangan mereka kebal terhadap senjata tajam. Itu sebabnya, mereka hanya menghindari serangan tanpa mampu menangkis sambaran golok. Kalau kebetulan beruntung, mereka bisa menangkis tangan orang bertopeng yang memegang senjata.
“Hiah!”
Bet, bet!
“Hait!”
Pada suatu kesempatan, lelaki bertopeng yang terus menyabet-nyabetkan golok bertubi-tubi, tiba-tiba melepaskan tendangan menyapu dengan memutar tubuh terlebih dahulu. Gerakan yang tak terduga ini membuat seorang murid terkesiap kaget. Dia tak terburu lagi melangkah mundur untuk menghindari kepalanya dari ancaman tendangan. Terpaksa badan merunduk, sehingga luput dari tendangan ganas itu. Namun baru saja bisa bernapas lega. Lelaki bertopeng itu segera melancarkan serangan susulan. Goloknya langsung menggempur buas dari atas. Sehingga....
“Mampus kau! Hiaaah!”
Crak!
“Aaakh!”
Didahului satu suara benda tajam membelah batok kepala, terdengar jerit kematian dari murid Perguruan Tangan Wesi. Tengkorak murid naas itu nyaris terbelah hingga pelipis. Darah pun langsung menyembur deras, begitu golok itu dicabut dari kepalanya.
“Adi Karsa!” teriak murid Perguruan Tangan Wesi yang seorang lagi, melebihi kerasnya jerit kematian kawannya. Wajahnya memerah matang menyaksikan adik seperguruannya mengalami nasib memilukan di tangan orang bertopeng itu.
“Hua ha ha...! Kenapa?! Kaget melihat kawanmu mampus dengan mudah di tanganku?! Atau kau takut mendapat giliran berikutnya?” ejek lelaki bertopeng itu pongah.
Dengan mata berkobar-kobar amat gusar, murid Perguruan Tangan Wesi yang baru saja kehilangan seorang saudaranya, mendengus geram. Pangkal hidungnya terangkat sebagai tanda kegeramannya pada orang bertopeng itu.
“Iblis! Kau harus membayar nyawa saudara seperguruanku!” dengus murid itu, sambil mengangkat tangan di depan dada. Otot-otot tangannya kontan bersembulan dan menegang.
“Ah! Jangan anggap dirimu pedagang tempe. Pakai bayar-bayaran segala,” cemooh orang bertopeng itu kembali, kian mendidihkan darah murid Perguruan Tangan Wesi.
“baik! Hiyaaa...!”
Deb, deb, deb!
Tubuh murid Perguruan Tangan Wesi melenting tinggi ke arah orang bertopeng itu. Kedua tangannya memukul bergantian di udara, menimbulkan bunyi menggetarkan gendang telinga. Rupanya, dia berniat meremukkan kepala lawannya sebagai bayaran atas kematian adik seperguruannya yang bernama Karsa.
“Hih!”
Seketika orang bertopeng itu secepatnya menyergap tanah untuk menyelamatkan kepalanya. Usahanya berhasil. Tubuhnya langsung bergulingan, tepat di bawah kaki murid Perguruan Tangan Wesi yang tengah melayang. Dan dalam satu rangkaian gerak yang begitu cepat, golok di tangannya menebas ke atas, tepat diarahkan ke sepasang betis murid itu.
Crak!
“Waaa!”
Bruk!
Setelah kawannya mengalami nasib mengerikan, kali ini murid Perguruan Tangan Wesi itu mendapat giliran. Kedua kakinya terputus sebatas betis di udara. Potongannya langsung terpetal ke samping, diikuti semburan darah segar. Kemudian tubuhnya ambruk ke tanah, karena tidak bisa lagi berpijak.
“Sayang sekali! Sebenarnya aku masih suka main-main denganmu beberapa jurus lagi. Tapi, tampaknya kau tak bisa lagi menjadi lawan tandingku. Lebih menyesal lagi, pemimpinku menugaskan agar pekerjaanku harus diselesaikan secara tuntas. Jadi....”
“Kau ingin bunuh aku? Bunuhlah! Aku tak pernah gentar untuk mati di tanganmu, baik!”
“O-o-o! Itu sudah pasti kulakukan. Nah, terimalah ke.... Akh!”
Tanpa sempat menyelesaikan kalimatnya, lelaki bertopeng keji itu mengejang. Matanya mendelik keatas. Sedangkan dadanya membusung ke depan tegang. Tak pernah diduga kalau ucapannya tadi justru menjadi sambutan bagi ajalnya sendiri.
“Ya! Terimalah kematianmu, Iblis Keparat,” ujar seseorang di belakangnya seraya membetot tangan kanannya dari tubuh lelaki bertopeng itu.
Orang yang membokong memang murid tertua Perguruan Tangan Wesi.
Bruk!
Tubuh lelaki bertopeng ambruk ke depan seperti sebatang pohon tumbang. Di bokongnya kini terlihat jelas lubang menganga, yang mengeluarkan darah segar.
“Menyingkirlah, Adi! Selamatkan dirimu bagaimanapun caranya!” perintah lelaki berperawakan pendek kekar dengan kumis melintang di bawah hidungnya. Sementara kepalanya dicukur gundul.
“Tapi, Kang Manggala....”
“Jangan pakai tetapi! Kau harus menjadi saksi mata atas kejadian ini, agar para tokoh aliran putih bisa menyelesaikannya. Sehingga, kejadian seperti ini tidak terulang pada perguruan lain!” hardik orang yang dipanggil Manggala, tanpa maksud memarahi adik seperguruannya.
“Baik, Kakang. Tapi bukan berarti aku takut mati. Kau harus tahu itu, Kakang,” ucap murid yang dua kakinya buntung itu.
“Aku tahu. Kita semua bukan orang-orang pengecut. Kita adalah ksatria yang tak gentar mati demi menghadapi kebatilan. Ayo, cepatlah Adi...,” pinta Manggala dengan suara bergetar.
Meski Manggala dikenal sebagai lelaki berjiwa tegar, tak urung perasaannya tersentuh melihat semangat juang adik seperguruannya.
Dalam kancah pertarungan yang kian mendebar bau anyir darah, seorang murid Perguruan Tangan Wesi terseok-seok menyeret tubuh untuk keluar dari medan kematian. Mata berairnya tak henti-henti menatapi mayat demi mayat saudaranya.
“Kalau kalian gugur semua hari ini, aku berjanji tidak akan menangisi. Karena kalian adalah ksatria. Ya, ksatria. Dan walau aku ditinggalkan sendiri di dunia busuk ini, yang penting kalian jangan memisahkan aku pada saat kita akan bertemu lagi nanti....”
***
Andika semula berharap, bencana yang menimpa dua perguruan yang dikunjungi sebelumnya, tidak menimpa Perguruan Tangan Wesi pula. Namun, Tuhan berkehendak lain. Apa yang diharapkannya ternyata melesat. Begitu pun keinginannya agar tidak terlambat tiba diperguruan itu.
Setibanya di Perguruan Tangan Wesi, matanya malah menyaksikan pembantaian. Manggala, murid tertua perguruan itu pun menemui ajal, tepat saat Andika menjejakkan kaki di pelataran perguruan.
Darah Pendekar Slebor mendidih sehebat-hebatnya. Kemurkaannya yang memang sudah menggelegak, kini tiba di puncak ubun-ubun. Dalam sekejap, rahangnya mengeras. Demikian pula seluruh otot di sekujur tubuhnya. Dadanya kini ibarat gunung berapi yang siap meletus.
“Kalian keparat semua! Akan kubantai kalian, seperti kalian bantai mereka!” bentak Andika menggelegar, seraya menunjuk pada serakan mayat para murid Perguruan Tangan Wesi.
Teriakan itu mengejutkan dua puluh orang bertopeng yang masih hidup. Serempak mereka menoleh kearah Andika, dengan tatapan siaga. Namun kesiagaan itu percuma, karena Pendekar Slebor telah bergerak sebelum mereka lebih lama melihatnya.
“Hiaaat!”
Wesss!
Bayangan hijau muda dari pakaian Pendekar Slebor bergerak dalam kecepatan luar biasa. Mata para lelaki bertopeng sampai-sampai begitu sulit menangkap bentuk tubuhnya, kecuali seberkas bayangan hijau muda.
Plak! Des!
Dan tiba-tiba saja, seorang bertopeng terpental tinggi ke udara. Dari mulutnya berceceran percikan darah. Entah apa yang hancur dari bagian tubuhnya, setelah menerima hantaman Pendekar Slebor. Yang pasti, begitu tubuhnya ambruk di tanah, sudah tak memiliki nyawa lagi. Andika terus berkelebat, lalu....
“Khaaah!”
Deb! Krak!
“Waaa!”
Menyusul dua lelaki bertopeng yang kontan ambruk terkena serangan Pendekar Slebor. Kedua orang itu pun terpental bagai batang pohon kering terhempas topan. Satu orang memuntahkan darah segar, setelah menerima jotosan telak yang langsung memecah ulu hatinya. Seorang lagi tak sempat berteriak. Kepalanya remuk begitu saja dari ubun-ubun hingga pangkal hidung.
Tujuh belas lelaki bertopeng lain terkesiap bukan alang kepalang. Seumur hidup, belum pernah mereka menyaksikan serangan yang begitu cepat. Bagi mereka, kecepatan itu sudah tidak mungkin dilakukan manusia. Tapi kenyataan yang terjadi di depan mata? Sungguh membuat mereka bertanya dalam hati masing-masing, apakah mereka telah diserang siluman sinting?
Untuk menjawab pertanyaan itu, mereka tidak punya waktu lagi. Langkah terbaik sisa pasukan bertopeng itu adalah bersiap menanti serangan datang. Seandainya melarikan diri pun tampaknya sia-sia belaka, karena dengan mudah sosok bayangan hijau itu akan dapat mengejar.
“Jangan lengah!” seru salah seorang yang tampaknya menjadi pemimpin pasukan, mempe-ingati bawahannya. Baru saja seruan itu selesai....
Plak!
“Aaa!”
Kembali terdengar pekikan, yang diawali suara tamparan keras. Tampak seorang laki-laki bertopeng terjengkang ke tanah. Melihat kenyataan ini, nyali sisa pasukan bertopeng makin menciut. Napas mereka tersengal tak beraturan, sebagai ungkapan kengerian yang terjadi. Orang-orang keji itu kini bisa merasakan, bagaimana keadaan bila maut siap menjemput seperti dialami murid-murid Tangan Wesi.
“Kenapa kalian diam saja?! Apa iblis di diri kalian telah pergi, setelah puas membantai?!” Terdengar teriakan Andika dari sebelah selatan pelataran.
Secara berbarengan, keenam belas lelaki bertopeng itu menoleh. Kini mereka baru bisa melihat jelas sosok yang dihadapi. Dia adalah seorang pemuda yang ketampanannya kini diselimuti kobaran api kemurkaan.
“Sss..., siapa kau sebenarnya?!” tanya pemimpin pasukan bertopeng agak gentar.
“Aku? Aku siapa, ya?” cemooh Andika, mencibir,
“Barangkali orang sinting yang begitu berselera menghisap darah kalian hidup-hidup.”
Bibir Pendekar Slebor kali ini menyeringai penuh ancaman. Sementara dari balik topeng, mata Keenam belas lelaki bertopeng itu menyipit. Bisa jadi mereka menanggapi secara sungguh-sungguh ucapan Andika barusan.
“Kam... kami tidak ada urusan denganmu. Kenapa kau turut campur?” untuk yang kedua kalinya, sang Pemimpin pasukan bertopeng bertanya tersendat.
“Ada! Kenapa tidak?!” bentak Andika sangar.
“Kalian tahu apa hubunganku dengan orang-orang yang telah kalian bantai?!”
Para lelaki bertopeng itu saling melirik. Bagaimana pertanyaan terakhir Pendekar Slebor terjawab, kalau mereka sendiri tidak mengenalnya.
“Tidak tahu, kan? Aku juga tidak tahu!” cerocos Pendekar Slebor lagi.
Kata-kata Andika membuat keenam belas lelaki di sekitarnya makin yakin kalau orang yang dihadapi memang orang sinting tulen.
“Kau ingin tahu?!” bentak Andika pada pemimpin pasukan lawan.
Bentakan barusan disertai penyaluran tenaga dalam penuh, sehingga terdengar mengguntur. Pemimpin orang bertopeng yang memang sudah jatuh nyali tersentak bukan main. Sampai-sampai kepalanya tersentak ke atas seperti sedang mengangguk.
“Bagusss! Jadi kau ingin tahu?!” sambung Andika setelah melihat gerakan kepala lelaki itu. “Kalau kau dan anak buahmu benar-benar ingin tahu, maka kuizinkan pergi dari sini....”
Mereka amat lega mendengar keputusan terakhir Andika.
“Dan kalian harus ke suatu tempat, untuk mengetahui jawabannya!” terabas Andika lagi.
Keenam belas lelaki bertopeng itu menunggu kata Pendekar Slebor selanjutnya. Mereka berharap, pemuda sinting itu menyebutkan nama suatu tempat. Sehingga mereka bisa aman meninggalkan pelataran Perguruan Tangan Wesi. Sementara itu, Andika malah menggeram tak karuan.
“Grrrmmmhhh! Ya! Kalian harus pergi ke... ke neraka!”
Kelegaan sesaat mereka buyar seketika mendengar jawaban Pendekar Slebor. Jantung mereka saat itu juga terasa hendak berhenti berdenyut, dengan napas tersekat di tenggorokan. Bagaimana mereka tidak setakut itu kalau pemuda berbaju hijau ini memiliki kesaktian yang tak mungkin ditandingi, meski dikeroyok sekaligus.
“Ampun....”
Baru saja pemimpin pasukan bertopeng hendak memohon ampun, mulut Pendekar Slebor sudah memperdengarkan gelegar menggetarkan bangunan perguruan.
“Khhhuaaa...!”
Lalu....
Pendekar Slebor langsung berkelebat cepat, sambil melepaskan pukulan dan tendangan berturut-turut. Begitu cepat gerakannya, sehingga....
“Akh!”
“Waaakh...!.”
Dua lelaki bertopeng yang berdiri paling dekat terhempas ke belakang bagai tanpa bobot, begitu terhantam pukulan dan tendangan Andika. Tubuh keduanya baru berhenti terlempar, kala menghantam dinding bangunan perguruan. Dinding itu langsung remuk, seperti remuknya tubuh kedua lelaki yang termakan serangan Pendekar Slebor.
Saat berikutnya.... Pendekar Slebor kembali berkelebat, disertai tamparan khas. Dan....
Jbret! Prak! Prak!
“Aaakh...! Aaa...! Aaakh...!”
Tiga suara menggidikkan terdengar dalam waktu hampir bersamaan. Satu orang langsung melintir di udara terhajar tamparan sakti pada wajahnya. Dua orang lagi masih tetap tegak di tempat. Namun kepalanya sudah tidak utuh lagi, terkena babatan tangan pada leher. Lalu keduanya ambruk bersamaan, disertai semburan darah segar.
Pendekar Slebor tak puas sampai di situ. Baginya, mereka telah berhutang nyawa puluhan murid Perguruan Tangan Wesi. Suka tidak suka, hutang itu harus dibayar lunas dengan nyawa.
“Hiaaa!”
Kembali terdengar teriakan merobek angkasa dari Pendekar Slebor. Ketika teriakan itu terdengar, tubuhnya sudah tidak ada di tempat. Saat berikutnya, Pendekar Slebor sudah tiba di depan empat lawan yang tersurut ketakutan. Dan tanpa dapat ditangkap mata, tangannya bergerak membentuk kelebatan hijau muda.
Deb, deb, deb, deb!
Empat jotosan telak langsung menghajar ulu hati keempat lelaki bertopeng. Wajah mereka sulit
digambarkan dengan mata terbeliak. Tak terlontar jeritan sedikit pun dari mulut keempat lelaki bertopeng itu, karena nyawa lebih dahulu terlepas ketika ambruk di tanah.
Bruk, bruk, bruk, bruk!
Menyaksikan kematian mengerikan kawan-kawannya, sisa pasukan bertopeng itu putus harapan.
“Ampuni kami, Tuan! Ampuni kami....”
Seperti bocah kecil bodoh, mereka serempak berlutut sambil merengek-rengek. Pendekar Slebor sendiri sudah berdiri tepat di depan mereka dengan napas mendengus-dengus. Hanya napas banteng ngamuk yang bisa menandingi kekerasan Andika. Tak ada tanda-tanda kalau Andika telah puas atas kematian para lawannya tadi. Itu terlihat jelas dari warna matanya yang memerah matang. Namun entah kenapa, Pendekar Slebor menghentikan gerak menggilanya kala sisa pasukan bertopeng itu berlutut memelas. Seolah ada satu kekuatan dari relung batinnya yang mencegah serangannya.
“Ka..., kami memang manusia busuk, Tuan. Kami mengaku bersalah. Kami juga mengaku, kalau kami semua pantas mendapat perlakuan seperti yang Tuan Pendekar lakukan. Tapi, tolong beri kesempatan hidup agar kami dapat menebus semua kesalahan,” pinta seorang dari mereka mengiba.
“Kalian bisa menebus kesalahan hanya dengan nyawa...,” tandas Andika bergetar dan terdengar dingin.
“Tapi, apakah di hadapan Tuhan kami tidak bisa bertobat, Tuan Pendekar? Kalau Tuan tidak bisa mengampuni kami, sudikah menyerahkan kami pada Tuhan Penguasa Alam. Biar Dia yang akan menentukan, hukuman apa yang pantas bagi kami...,” lanjut orang itu makin lirih. Kepalanya tertunduk dalam, seperti juga kawan-kawannya.
Seberkas kekuatan asing tiba-tiba menyeruak kembali dari relung batin Andika yang terdalam.
Seolah, dalam dirinya terdengar ucapan, “Tuhan Maha Pengampun....”
Lalu terjadi keganjilan. Seluruh daya kemurkaan yang bergolak dalam diri Andika surut bagai tersapu gelombang maha sejuk.
“Baiklah.... Kalian kumaafkan,” putus Andika perlahan.
“Namun, kuminta kalian membuka topeng itu. Di mataku, topeng itu adalah perlambang manusia tak bertanggung jawab. Bisanya hanya melakukan kebusukan dari belakang, namun tetap ingin dianggap orang baik....”
Mereka pun memenuhi permintaan Andika. Satu persatu mereka melepas kain hitam penutup kepala. Sampai pada orang terakhir yang membuat Andika mengerutkan dahi dalam-dalam.
“Kau.... Jiran?” ujar Andika setengah bertanya.
0