- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#631
Update kali ini agak spesial. Karena ditulis langsung ulang oleh Elisa.
Saya tidak merubah apapun karena merasa tidak berhak untuk itu. Walaupun sedikit kesal dan cemburu, ini adalah persembahan langsung dari Elisa.
- Catatan dari Elisa –
Update kali ini terpaksa diketik ulang secara manual karena catatan aslinya sudah rusak karena lecek dan basah karena air mata (hehehehe…), lagipula catatan aslinya hanya berupa ungkapan keputus-asaan saja kok, tidak bisa kuceritakan dengan jelas, jadi aku akan menceritakan kejadian itu berdasarkan ingatanku, Ditambah dengan catatan sebelum kejadian yang yang tidak bisa di share di sini karena isinya terlalu pribadi.
-Salam-
Elisa
Ringkasan cerita sebelum tanggal 20 September 2011:
Aku dan Robert (dan Kiki) pergi ke kampungku lagi untuk bertemu dengan nenek Eli.
Kami bertemu nenek Eli dan diberikan informasi Identitas asli dari si ‘dewa jahat’ yang sebenarnya (Cukup mengejutkan juga).
Nenek Eli memberikan padaku lonceng yang diikat dengan bentuk segitiga. Katanya lonceng itu adalah lonceng pelindung.
Nenek Eli berhasil ‘menyucikan’ roh Kiki, Kiki naik ke surga dengan ‘dijemput’ oleh arwah kedua orang-tua Robert.
Robert menembakku, dan akhirnya kamipun jadian.
Robert beberapa kali mengatakan kalau ada sesuatu yang mengganggunya. Tidak termasuk ‘wanita’ dress putih yang memang beberapa kali mengganggu dia. Tapi ‘sesuatu’ yang lain.
Selama bersama Robert, setidaknya aku tidak begitu diganggu oleh ‘mereka’, sebagai gantinya Robert seakan memancing ‘mereka’ untuk datang kepadanya, menggantikan aku. Robert menjaga aku dengan baik.
Nenek Eli pernah mengatakan, kalau aura Robert sudah dikotori oleh aura lain yang sangat kuat, bahkan diluar kemampuan nenek Eli untuk bisa membersihkannya. Sebagai tambahan, Piyak sangat tidak mau berada di dekat-dekat Robert entah mengapa.
Kemarin (sebelum catatan yang akan di share ini) Robert pergi untuk mendaki gunung. Sebenarnya sebelumnya aku sudah melarangnya untuk pergi karena firasat buruk. Tapi dia tetap memaksa pergi. Dan baru saja kemarin sore aku mendengar kabar dari rekan satu team panjat gunung Robert kalau dia menghilang dengan dua orang seregunya.
20 September 2011
Yang kuingat pada hari ini adalah, seharian aku sangat khawatir dengan keberadaan Robert. Team pencari mengatakan kalau kabut sudah sangat tebal sehingga pencarian baru bisa dilakukan lagi setelah kabut agak turun.
Siang hari, kabut mulai agak turun, sehingga team pencari mulai mencari kembali keberadaan dari Robert dan kawan-kawannya.
Aku merasakan firasat burukku semakin menjadi ketika team pencari mengatakan menemukan jejak Robert dan kawan-kawannya di tengah hutan, bergerak menjauh dari titik keluar hutan.
Aku ingat kalau seharian aku tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Robert.
Akhirnya, Aku memutuskan untuk pergi menyusul Robert untuk ke gunung itu. Apapun yang terjadi.
Dengan mengikuti impuls keputusan itu, segera sore aku sudah bersiap di bandara untuk terbang ke kota itu.
Pada saat itu, team pencari mengatakan kalau mereka terpaksa menghentikan kembali pencarian karena kabut naik dengan sangat cepat lagi. Mereka menyatakan sudah melakukan penyisiran juga dengan menggunakan bantuan penduduk asli di sekitar hutan itu.
Akhirnya pada saat sore menjelang malam ketika aku mendarat di kota itu, aku kembali mendapatkan kabar kalau pencarian tidak akan dilanjutkan sampai esok paginya.
Aku segera menaiki kendaraan travel bersama dengan Cindy dan Andy, kakak dari Cindy yang menemaniku dalam perjalanan ini dan segera bertolak dari bandara menuju site pendakian gunung itu.
Saat subuh, aku mendapatkan mimpi kalau Robert mengatakan padaku semuanya akan baik-baik saja. Dan dia akan kembali padaku dan tidak pernah akan pergi lagi dariku.
Aku terbangun dengan penuh keringat, perasaanku saat itu bagaikan sesuatu di rongga dadaku terasa kosong dan dingin. Seakan sesuatu yang ada di dalamnya diambil daripadaku.
Tapi waktu itu aku berpikir kalau hal itu adalah bentuk dari kekhawatiranku yang berlebihan saja.
Kami sampai di site itu sekitar jam 4 subuh.
Team pencari menyatakan kalau mereka sudah melanjutkan pencarian.
Sekitar jam 9, team pencari mengatakan kalau mereka menemukan jejak yang menuju ke tebing dan berakhir di tepian tebing.
Saat mendengar itu, hatiku mencelos… tidak mungkin…. Pikirku…. Jangan Robert… pikirku….
Menurut team pencari, mereka menemukan jejak lain, yaitu sisa-sisa kemah seadanya.
Mereka menemukan tiga sisa makanan kaleng yang telah dibuka. Salah satu dari tiga makanan kaleng itu masih penuh katanya. Tapi tidak diragukan kalau bekas makanan kaleng itu masih baru dan masih hangat. Begitu pula dengan bekas api yang sudah dimatikan.
Team pencari melanjutkan pencarian mereka, pada suatu laporan, aku mendengar kalau mereka mengatakan hanya ada dua jejak yang terdeteksi. Tapi hal itu bukan berarti apa-apa.
Aku terus menunggu dalam rasa khawatir dan keragu-raguan yang tidak tertahankan.
Akhirnya, pada sekitar jam 3 sore, terdengar suara teriakan sukacita dari anggota team pencari.
Mereka telah menemukan rombongan yang hilang dan segera menjemput mereka kembali ke titik keluar hutan.
Aku segera mengikuti rombongan team pencari yang menunggu diluar hutan untuk menyambut misi penyelamatan yang dikatakan berhasil itu.
Namun, aku melihat sedikit keanehan ketika melihat salah satu anggota rombongan itu meronta-ronta dari tuntunan anggota team pencari.
Aku segera mendekat untuk mendengar masalahnya.
“Lepas!! Kalian tega sekali meninggalkan Robert!! Dia ada bersama kami tadi!!” teriak salah satu anggota rombongan yang diselamatkan.
“Iya, dia bisa tersesat sendirian!!” teriak satunya lagi.
Aku langsung berlari menghambur ke arah kedua orang itu.
Salah satu dari mereka melihatku dan tampak mengenaliku “Lo pacarnya Robert kan?” tanyanya.
Aku lupa apakah aku mengenali orang itu atau tidak, yang pasti aku menanyakan perihal Robert padanya.
Dia bercerita “Robert ada bersama kami.. Dia yang memimpin kami kembali sampai bisa bertemu dengan team SAR ini, tapi mereka malah meninggalkan dia”
“Meninggalkan dia, apa maksud kamu?”
Dia menuding ke arah salah satu team penyelamat “Dia bilang kalau dia gak liat Robert, dia cuman nemuin kami berdua!! Padahal Robert ada sama-sama kami” kata orang itu marah.
Aku menatap ke salah seorang anggota team pencari itu untuk meminta penjelasan.
“Bu, kami akan ceritakan yang sebenarnya” kata team penyelamat itu “Sahabat ibu yang kami selamatkan itu, sepertinya sudah mengalami halusinasi karena kedinginan dan kelaparan di hutan, sehingga mengatakan kalau mereka bersama seseorang yang tidak ada”
“Enak aja, Robert sama-sama kami, bahkan mau berbagi sardencis punya dia buat dimakan” teriak salah seorang dari yang diselamatkan.
“Benar, Robert juga yang meminjamkan korek apinya untuk nyalain api, kalo enggak kita bertiga sudah mati di hutan dari kemarin” kata seorang lainnya.
Anggota team penyelamat itu bingung “Itu tidak mungkin pak” katanya pelan tapi tegas.
“Kenapa tidak mungkin pak?” tanyaku.
“Karena kami menemukan tas hijau tersangkut di pepohonan di samping tebing” kata team penyelamat itu “Di pinggiran tebing itu juga kami temukan bekas genggaman jari yang terlepas, ada bekas darahnya” lanjutnya.
Tas gunung hijau? Itu tas kesayangan Robert…..
“Kalian ngomong apa sih? Tebing apaan? Mana ada kita ketemu tebing?” tanya seseorang yang diselamatkan itu.
Aku sebenarnya enggan menanyakan ini, tapi logikaku sudah mengatakan jawabannya. “Apa, apa pernah Robert terpisah dengan kalian?”
Si rombongan tersesat berpikir sejenak. “Ada!” jawab orang itu akhirnya “Kalau gak salah si Robert waktu itu jalan lurus kayak kesetanan, ke tengah-tengah kabut.”
“Ohhh, iya tuh, gak lama dari itu kita denger suara orang teriak kan” kata orang satunya.
“Iya, itu sebelum kita nyasar kayaknya” lanjut yang satunya kembali.
“Tapi abis tu gak lama si Robert balik” kata orang yang kedua “Katanya dia abis kencing bentar” jelasnya.
“Apa kalian melihat ada yang aneh dari dia waktu itu?” tanyaku.
“Enggak sih, kecuali dia jadi positif thinking banget padahal mukanya pucet banget udah”
Mendengar itu, tanpa tertahan air mataku jatuh bagaikan bendungan runtuh. Aku sangat ingat kalau aku menangis meraung-raung dengan sedih.
Robert sudah tiada… tapi dia bahkan masih menolong teman-temannya untuk bisa selamat walaupun sudah tiada…
Awalnya para rombongan Robert itu dan para anggota team penyelamat bingung dengan tingkahku itu.
Akhirnya setelah menangis hampir satu jam, dan ketika aku bisa kembali bicara dengan cukup lancar tanpa sesenggukan. Aku mengatakan alasanku menangis.
Aku mengatakan kesimpulanku kalau Robert sudah tiada, yang bersama-sama dengan kedua orang pendaki gunung itu hanyalah hantunya atau sesuatu seperti itu.
Pasukan team pencari mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyisir tebing tempat Robert diperkirakan jatuh.
Tapi tidak ada yang ketemu. Mayat Robert tidak ada dimanapun di sekitar tebing itu.
Karena itu sempat terbersit harapan kalau Robert masih hidup.
Tapi, ketika aku tertidur di tenda pada malam itu, kelelahan untuk mendapatkan kabar dari Robert.
Tiba-tiba kemahku yang dingin menjadi hangat.
Dan kemudian, terdengar bisikan lembut suara Robert dari belakangku.
“Kamu pulanglah… Aku menepati separuh janjiku… setidaknya aku tidak akan meninggalkan kamu lagi”
“Robert??”
“Iya… aku bersamamu”
Aku merasakan sentuhan, dan sesaat kemudian aku merasakan tubuhku bagaikan berada di dalam pelukan Robert.
Air mata kembali mengalir deras dari mataku. Aku berbalik dan mendapati sosok Robert terlihat sedikit transparan sedang berdiri dengan senyuman sejuk.
“Kamu dimana? Kamu kenapa?” tanyaku sambil terisak-isak.
“Aku… aku kena ditipu oleh penunggu hutan ini” bisik Robert.
“Kenapa?”
Robert menggeleng “Tidak tau.. tapi jasadku diambil olehnya. Kamu pulang sajalah, hentikan pencarian ini, Aku tidak akan ditemukan” katanya.
“Kamu… lalu mengapa kamu disini?”
“Aku kan udah janji akan kembali ke kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu”
Aku menggeleng “Tidak…” air mata mulai keluar lagi.. aku jadi malu mengingat cengengnya aku dulu.
“Tidak…” aku mengatakannya sekali lagi, dengan lebih mantap sekarang “Kiki dan orangtua kamu sudah menunggu kamu di tempat yang lebih baik”
“Pergilah…” kataku lagi pada Robert “Jaga saja aku dari atas sana, aku tidak apa-apa” lanjutku, yang jelas sekali tidak terdengar meyakinkan karena kulakukan sambil menangis terisak.
Robert menggeleng “Aku tidak bisa” katanya.
“Kenapa?”
“Jasadku disembunyikan, aku tidak bisa kemana-mana. Aku terjebak di sini” katanya. “Karena itu lebih baik aku menjaga kamu saja”
“Tidak-tidak-tidak, kamu harus pergi”
“Tidak bisa Lisa…”
Mendengar kata-kata Robert, yang kuingat saat itu adalah aku merasakan jantungku ini bagaikan diremas-remas. Rasanya benar-benar sakit dan menyesakkan….
Pada akhirnya, aku menyerah…
Mungkin aku akan bertanya lagi pada oma Eli apakah dia bisa membantu Robert untuk melanjutkan perjalanan juga? Atau entahlah…
Keesokan harinya team pencari memutuskan untuk menghentikan pencarian. Robert dikategorikan sebagai orang yang hilang di gunung. Beberapa Koran lokal memberitakan berita mengenai hilangnya Robert cukup besar-besaran.
Bahkan aku sempat melihat berita tentang hilangnya Robert masuk di Koran ibukota, walaupun hanya kolom kecil saja.
Tidak ada upacara pemakaman dengan undangan untuk Robert dari sanak saudaranya, hanya pemakaman terbatas yang dihadiri pihak keluarga saja.
Sepertinya Robert juga tidak terlalu dekat dengan familynya yang lain.
Pada akhirnya, Robert hanya menatap dengan tatapan kesepian dan sedih dari pintu masuk ruangan upacara kematiannya yang begitu sederhana. Dengan peti mati kosong yang berfungsi hanya sebagai simbol dan upacara pembakaran peti itu, tapi bedanya, tidak ada abu yang bisa dibawa pulang oleh sanak saudaranya.
Seakan-akan keberadaan Robert di dunia ini hilang begitu saja.
Sebelum kematiannya, atau hilangnya dia, orang yang terdekat dengannya hanyalah aku… dan Cindy. Dia benar-benar menjadi orang yang tidak bersosialisasi beberapa bulan belakangan itu. Jadi, hampir tidak ada orang yang benar-benar kehilangan dia, seperti aku.
Catatan asliku telah terlalu penuh dengan air mata dan lusuh karena beberapa kali kuremas. Jadi aku menceritakan ulang kisahku dengan kata-kataku sendiri.
Suatu saat aku pasti menemukan cara untuk mengantarmu pergi.
I’m writing this again for Robert. Sayang aku tidak akan menyebutkan nama aslimu disini.
With Memories,
Elisa
Saya tidak merubah apapun karena merasa tidak berhak untuk itu. Walaupun sedikit kesal dan cemburu, ini adalah persembahan langsung dari Elisa.
Spoiler for Part XXV (special Chapter):
- Catatan dari Elisa –
Update kali ini terpaksa diketik ulang secara manual karena catatan aslinya sudah rusak karena lecek dan basah karena air mata (hehehehe…), lagipula catatan aslinya hanya berupa ungkapan keputus-asaan saja kok, tidak bisa kuceritakan dengan jelas, jadi aku akan menceritakan kejadian itu berdasarkan ingatanku, Ditambah dengan catatan sebelum kejadian yang yang tidak bisa di share di sini karena isinya terlalu pribadi.
-Salam-
Elisa
Ringkasan cerita sebelum tanggal 20 September 2011:
Aku dan Robert (dan Kiki) pergi ke kampungku lagi untuk bertemu dengan nenek Eli.
Kami bertemu nenek Eli dan diberikan informasi Identitas asli dari si ‘dewa jahat’ yang sebenarnya (Cukup mengejutkan juga).
Nenek Eli memberikan padaku lonceng yang diikat dengan bentuk segitiga. Katanya lonceng itu adalah lonceng pelindung.
Nenek Eli berhasil ‘menyucikan’ roh Kiki, Kiki naik ke surga dengan ‘dijemput’ oleh arwah kedua orang-tua Robert.
Robert menembakku, dan akhirnya kamipun jadian.
Robert beberapa kali mengatakan kalau ada sesuatu yang mengganggunya. Tidak termasuk ‘wanita’ dress putih yang memang beberapa kali mengganggu dia. Tapi ‘sesuatu’ yang lain.
Selama bersama Robert, setidaknya aku tidak begitu diganggu oleh ‘mereka’, sebagai gantinya Robert seakan memancing ‘mereka’ untuk datang kepadanya, menggantikan aku. Robert menjaga aku dengan baik.
Nenek Eli pernah mengatakan, kalau aura Robert sudah dikotori oleh aura lain yang sangat kuat, bahkan diluar kemampuan nenek Eli untuk bisa membersihkannya. Sebagai tambahan, Piyak sangat tidak mau berada di dekat-dekat Robert entah mengapa.
Kemarin (sebelum catatan yang akan di share ini) Robert pergi untuk mendaki gunung. Sebenarnya sebelumnya aku sudah melarangnya untuk pergi karena firasat buruk. Tapi dia tetap memaksa pergi. Dan baru saja kemarin sore aku mendengar kabar dari rekan satu team panjat gunung Robert kalau dia menghilang dengan dua orang seregunya.
20 September 2011
Yang kuingat pada hari ini adalah, seharian aku sangat khawatir dengan keberadaan Robert. Team pencari mengatakan kalau kabut sudah sangat tebal sehingga pencarian baru bisa dilakukan lagi setelah kabut agak turun.
Siang hari, kabut mulai agak turun, sehingga team pencari mulai mencari kembali keberadaan dari Robert dan kawan-kawannya.
Aku merasakan firasat burukku semakin menjadi ketika team pencari mengatakan menemukan jejak Robert dan kawan-kawannya di tengah hutan, bergerak menjauh dari titik keluar hutan.
Aku ingat kalau seharian aku tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Robert.
Akhirnya, Aku memutuskan untuk pergi menyusul Robert untuk ke gunung itu. Apapun yang terjadi.
Dengan mengikuti impuls keputusan itu, segera sore aku sudah bersiap di bandara untuk terbang ke kota itu.
Pada saat itu, team pencari mengatakan kalau mereka terpaksa menghentikan kembali pencarian karena kabut naik dengan sangat cepat lagi. Mereka menyatakan sudah melakukan penyisiran juga dengan menggunakan bantuan penduduk asli di sekitar hutan itu.
Akhirnya pada saat sore menjelang malam ketika aku mendarat di kota itu, aku kembali mendapatkan kabar kalau pencarian tidak akan dilanjutkan sampai esok paginya.
Aku segera menaiki kendaraan travel bersama dengan Cindy dan Andy, kakak dari Cindy yang menemaniku dalam perjalanan ini dan segera bertolak dari bandara menuju site pendakian gunung itu.
Saat subuh, aku mendapatkan mimpi kalau Robert mengatakan padaku semuanya akan baik-baik saja. Dan dia akan kembali padaku dan tidak pernah akan pergi lagi dariku.
Aku terbangun dengan penuh keringat, perasaanku saat itu bagaikan sesuatu di rongga dadaku terasa kosong dan dingin. Seakan sesuatu yang ada di dalamnya diambil daripadaku.
Tapi waktu itu aku berpikir kalau hal itu adalah bentuk dari kekhawatiranku yang berlebihan saja.
Kami sampai di site itu sekitar jam 4 subuh.
Team pencari menyatakan kalau mereka sudah melanjutkan pencarian.
Sekitar jam 9, team pencari mengatakan kalau mereka menemukan jejak yang menuju ke tebing dan berakhir di tepian tebing.
Saat mendengar itu, hatiku mencelos… tidak mungkin…. Pikirku…. Jangan Robert… pikirku….
Menurut team pencari, mereka menemukan jejak lain, yaitu sisa-sisa kemah seadanya.
Mereka menemukan tiga sisa makanan kaleng yang telah dibuka. Salah satu dari tiga makanan kaleng itu masih penuh katanya. Tapi tidak diragukan kalau bekas makanan kaleng itu masih baru dan masih hangat. Begitu pula dengan bekas api yang sudah dimatikan.
Team pencari melanjutkan pencarian mereka, pada suatu laporan, aku mendengar kalau mereka mengatakan hanya ada dua jejak yang terdeteksi. Tapi hal itu bukan berarti apa-apa.
Aku terus menunggu dalam rasa khawatir dan keragu-raguan yang tidak tertahankan.
Akhirnya, pada sekitar jam 3 sore, terdengar suara teriakan sukacita dari anggota team pencari.
Mereka telah menemukan rombongan yang hilang dan segera menjemput mereka kembali ke titik keluar hutan.
Aku segera mengikuti rombongan team pencari yang menunggu diluar hutan untuk menyambut misi penyelamatan yang dikatakan berhasil itu.
Namun, aku melihat sedikit keanehan ketika melihat salah satu anggota rombongan itu meronta-ronta dari tuntunan anggota team pencari.
Aku segera mendekat untuk mendengar masalahnya.
“Lepas!! Kalian tega sekali meninggalkan Robert!! Dia ada bersama kami tadi!!” teriak salah satu anggota rombongan yang diselamatkan.
“Iya, dia bisa tersesat sendirian!!” teriak satunya lagi.
Aku langsung berlari menghambur ke arah kedua orang itu.
Salah satu dari mereka melihatku dan tampak mengenaliku “Lo pacarnya Robert kan?” tanyanya.
Aku lupa apakah aku mengenali orang itu atau tidak, yang pasti aku menanyakan perihal Robert padanya.
Dia bercerita “Robert ada bersama kami.. Dia yang memimpin kami kembali sampai bisa bertemu dengan team SAR ini, tapi mereka malah meninggalkan dia”
“Meninggalkan dia, apa maksud kamu?”
Dia menuding ke arah salah satu team penyelamat “Dia bilang kalau dia gak liat Robert, dia cuman nemuin kami berdua!! Padahal Robert ada sama-sama kami” kata orang itu marah.
Aku menatap ke salah seorang anggota team pencari itu untuk meminta penjelasan.
“Bu, kami akan ceritakan yang sebenarnya” kata team penyelamat itu “Sahabat ibu yang kami selamatkan itu, sepertinya sudah mengalami halusinasi karena kedinginan dan kelaparan di hutan, sehingga mengatakan kalau mereka bersama seseorang yang tidak ada”
“Enak aja, Robert sama-sama kami, bahkan mau berbagi sardencis punya dia buat dimakan” teriak salah seorang dari yang diselamatkan.
“Benar, Robert juga yang meminjamkan korek apinya untuk nyalain api, kalo enggak kita bertiga sudah mati di hutan dari kemarin” kata seorang lainnya.
Anggota team penyelamat itu bingung “Itu tidak mungkin pak” katanya pelan tapi tegas.
“Kenapa tidak mungkin pak?” tanyaku.
“Karena kami menemukan tas hijau tersangkut di pepohonan di samping tebing” kata team penyelamat itu “Di pinggiran tebing itu juga kami temukan bekas genggaman jari yang terlepas, ada bekas darahnya” lanjutnya.
Tas gunung hijau? Itu tas kesayangan Robert…..
“Kalian ngomong apa sih? Tebing apaan? Mana ada kita ketemu tebing?” tanya seseorang yang diselamatkan itu.
Aku sebenarnya enggan menanyakan ini, tapi logikaku sudah mengatakan jawabannya. “Apa, apa pernah Robert terpisah dengan kalian?”
Si rombongan tersesat berpikir sejenak. “Ada!” jawab orang itu akhirnya “Kalau gak salah si Robert waktu itu jalan lurus kayak kesetanan, ke tengah-tengah kabut.”
“Ohhh, iya tuh, gak lama dari itu kita denger suara orang teriak kan” kata orang satunya.
“Iya, itu sebelum kita nyasar kayaknya” lanjut yang satunya kembali.
“Tapi abis tu gak lama si Robert balik” kata orang yang kedua “Katanya dia abis kencing bentar” jelasnya.
“Apa kalian melihat ada yang aneh dari dia waktu itu?” tanyaku.
“Enggak sih, kecuali dia jadi positif thinking banget padahal mukanya pucet banget udah”
Mendengar itu, tanpa tertahan air mataku jatuh bagaikan bendungan runtuh. Aku sangat ingat kalau aku menangis meraung-raung dengan sedih.
Robert sudah tiada… tapi dia bahkan masih menolong teman-temannya untuk bisa selamat walaupun sudah tiada…
Awalnya para rombongan Robert itu dan para anggota team penyelamat bingung dengan tingkahku itu.
Akhirnya setelah menangis hampir satu jam, dan ketika aku bisa kembali bicara dengan cukup lancar tanpa sesenggukan. Aku mengatakan alasanku menangis.
Aku mengatakan kesimpulanku kalau Robert sudah tiada, yang bersama-sama dengan kedua orang pendaki gunung itu hanyalah hantunya atau sesuatu seperti itu.
Pasukan team pencari mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyisir tebing tempat Robert diperkirakan jatuh.
Tapi tidak ada yang ketemu. Mayat Robert tidak ada dimanapun di sekitar tebing itu.
Karena itu sempat terbersit harapan kalau Robert masih hidup.
Tapi, ketika aku tertidur di tenda pada malam itu, kelelahan untuk mendapatkan kabar dari Robert.
Tiba-tiba kemahku yang dingin menjadi hangat.
Dan kemudian, terdengar bisikan lembut suara Robert dari belakangku.
“Kamu pulanglah… Aku menepati separuh janjiku… setidaknya aku tidak akan meninggalkan kamu lagi”
“Robert??”
“Iya… aku bersamamu”
Aku merasakan sentuhan, dan sesaat kemudian aku merasakan tubuhku bagaikan berada di dalam pelukan Robert.
Air mata kembali mengalir deras dari mataku. Aku berbalik dan mendapati sosok Robert terlihat sedikit transparan sedang berdiri dengan senyuman sejuk.
“Kamu dimana? Kamu kenapa?” tanyaku sambil terisak-isak.
“Aku… aku kena ditipu oleh penunggu hutan ini” bisik Robert.
“Kenapa?”
Robert menggeleng “Tidak tau.. tapi jasadku diambil olehnya. Kamu pulang sajalah, hentikan pencarian ini, Aku tidak akan ditemukan” katanya.
“Kamu… lalu mengapa kamu disini?”
“Aku kan udah janji akan kembali ke kamu, aku tidak akan meninggalkan kamu”
Aku menggeleng “Tidak…” air mata mulai keluar lagi.. aku jadi malu mengingat cengengnya aku dulu.
“Tidak…” aku mengatakannya sekali lagi, dengan lebih mantap sekarang “Kiki dan orangtua kamu sudah menunggu kamu di tempat yang lebih baik”
“Pergilah…” kataku lagi pada Robert “Jaga saja aku dari atas sana, aku tidak apa-apa” lanjutku, yang jelas sekali tidak terdengar meyakinkan karena kulakukan sambil menangis terisak.
Robert menggeleng “Aku tidak bisa” katanya.
“Kenapa?”
“Jasadku disembunyikan, aku tidak bisa kemana-mana. Aku terjebak di sini” katanya. “Karena itu lebih baik aku menjaga kamu saja”
“Tidak-tidak-tidak, kamu harus pergi”
“Tidak bisa Lisa…”
Mendengar kata-kata Robert, yang kuingat saat itu adalah aku merasakan jantungku ini bagaikan diremas-remas. Rasanya benar-benar sakit dan menyesakkan….
Pada akhirnya, aku menyerah…
Mungkin aku akan bertanya lagi pada oma Eli apakah dia bisa membantu Robert untuk melanjutkan perjalanan juga? Atau entahlah…
Keesokan harinya team pencari memutuskan untuk menghentikan pencarian. Robert dikategorikan sebagai orang yang hilang di gunung. Beberapa Koran lokal memberitakan berita mengenai hilangnya Robert cukup besar-besaran.
Bahkan aku sempat melihat berita tentang hilangnya Robert masuk di Koran ibukota, walaupun hanya kolom kecil saja.
Tidak ada upacara pemakaman dengan undangan untuk Robert dari sanak saudaranya, hanya pemakaman terbatas yang dihadiri pihak keluarga saja.
Sepertinya Robert juga tidak terlalu dekat dengan familynya yang lain.
Pada akhirnya, Robert hanya menatap dengan tatapan kesepian dan sedih dari pintu masuk ruangan upacara kematiannya yang begitu sederhana. Dengan peti mati kosong yang berfungsi hanya sebagai simbol dan upacara pembakaran peti itu, tapi bedanya, tidak ada abu yang bisa dibawa pulang oleh sanak saudaranya.
Seakan-akan keberadaan Robert di dunia ini hilang begitu saja.
Sebelum kematiannya, atau hilangnya dia, orang yang terdekat dengannya hanyalah aku… dan Cindy. Dia benar-benar menjadi orang yang tidak bersosialisasi beberapa bulan belakangan itu. Jadi, hampir tidak ada orang yang benar-benar kehilangan dia, seperti aku.
Catatan asliku telah terlalu penuh dengan air mata dan lusuh karena beberapa kali kuremas. Jadi aku menceritakan ulang kisahku dengan kata-kataku sendiri.
Suatu saat aku pasti menemukan cara untuk mengantarmu pergi.
I’m writing this again for Robert. Sayang aku tidak akan menyebutkan nama aslimu disini.
With Memories,
Elisa
Diubah oleh ayanokouji 30-08-2016 08:08
jenggalasunyi dan johny251976 memberi reputasi
2
Kutip
Balas